Kamis, 08 Desember 2011

Hari Komunikasi Sedunia Ke 35, Surat Gembala Paus Yohanes Paulus II pada hari Komunikasi Sosial XXXV 27 MEI 2001: Wartakan dari atap rumah Injil di Zaman Komunikasi Global


1. Tema yang telah saya pilih untuk Hari Komunikasi Sosial sedunia 2001 menggemakan kata-kata Yesus sendiri. Tidak dapat lain, karena hanya Kristuslah yang kita wartakan. Kita ingat kata-kataNya kepada para murid pertama: "Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang; dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas atap rumah" (Matius 10:27). Pada kedalaman hati nurani kita, kita telah mendengar kebenaran tentang Yesus; sekarang kita harus mewartakan kebenaran itu dari atap rumah.
Dalam dunia sekarang, atap rumah sudah ditandai dengan hutan transmisi dan antena yang mengirimkan dan menerima pesan dari beraneka ragam ke dan dari empat penjuru dunia. Sungguh sangat mendasar untuk memperoleh jaminan bahwa diantara begitu banyak pesan itu sabda Allah didengarkan. Untuk mewartakan iman dari atap rumah berarti mengatakan kata Yesus dalam dan melalui dunia komunikasi yang dinamis.
2. Dalam semua budaya dan jaman - yakni di tengah transformasi global jaman ini - manusia menyampaikan pertanyaan mendasar tentang makna hidup: Siapakah aku? Dari mana dan ke manakah aku? Mengapa ada kejahatan? Apa yang terjadi sesudah hidup di dunia ini? (bdk. Fides et Ratio, 1). Dan di setiap jaman Gereja mempersembahkan satu jawaban yang sangat mendasar dan memuaskan atas pertanyaan-pertanyaan yang merasuki hati manusia - Yesus Kristus sendiri "yang sepenuhnya mewahyukan manusia kepada dirinya sendiri dan menerangi panggilannya" (Gaudium et Spes 22). Maka, suara umat Kristiani tak pernah dapat diredam, karena Tuhan telah mempercayakan kepada kita sabda keselamatan yang memenuhi kerinduan hati setiap insan. Injil memberikan mutiara berharga yang dicari oleh semua orang (bdk. Matius 13:45-46).
Gereja sendiri tak dapat mundur dari keterlibatan aktif dalam dunia komunikasi sosial yang menawarkan diri. Jaringan komunikasi global sedang meluas dan berkembang semakin kompleks semakin harinya, dan media sedang memiliki perkembangan pengaruh yang dapat dilihat terhadap budaya dan perkembangannya. Kalau dulu media melaporkan peristiwa-peristiwa, sekarang peristiwa-peristiwa seringkali dibentuk sesuai dengan tuntutan media. Maka, hubungan antara kenyataan dan media telah menjadi semakin ruwet, dan mewujud sebagai gejala yang mendua. Di satu pihak, perbedaan tegas antara kebenaran dan ilusi dikaburkan; tetapi di lain pihak, dibuka kesempatan yang belum pernah diramalkan untuk membuat kebenaran menjadi lebih luas diterima oleh semakin banyak orang. Tugas Gereja adalah menjamin bahwa yang terakhir itulah yang terjadi.
3. Dunia media kadangkala dapat nampak tidak jelas dan malah bersikap memusuhi iman dan moral Kristen. Sebabnya adalah antara lain karena budaya media begitu mendalam dipengaruhi oleh gaya hidup post-modernisme sehingga yang menjadi kebenaran mutlak adalah bahwa tidak ada kebenaran mutlak atau bahwa, kalau pun ada, kebenaran-kebenaran itu tak dapat dijangkau oleh akal manusia dan karena itu menjadi tidak relevan. Dalam pandangan sedemikian, masalahnya bukanlah kebenaran tetapi "pengolahannya"; kalau ada hal yang pas untuk diwartakan atau menyenangkan, godaan untuk menyingkirkan pertimbangan-pertimbangan kebenaran sangat besar kemungkinannya tak dapat dielakkan lagi. Hasilnya, dunia media seringkali dapat nampak sebagai suatu lingkungan yang tidak ramah bagi evangelisasi dibanding dengan dunia kafir pada jaman para rasul. Namun sebagaimana para saksi semula Kabar Gembira tidak mundur ketika menghadapi perlawanan, demikian juga hendaknya para pengikut Kristus jaman ini. Seruan Santo Paulus masih terus menggema di antara kita: "Celakalah aku jika aku tidak mewartakan Injil!" (1 Korintus 9:16).
Kendati banyak kali dunia media nampak bertentangan dengan warta Kristiani, dunia media juga memberi kesempatan unik untuk mewartakan kebenaran Kristus yang menyelamatkan kepada seluruh umat manusia. Lihatlah, misalnya, siaran satelit perayaan-perayaan liturgi yang seringkali menjangkau pemirsa dari seluruh dunia, atau kemampuan positif dari internet untuk menyalurkan informasi dan pengajaran rohani melampaui semua penghalang dan rintangan. Maka yang dibutuhkan pada jaman kita adalah penyerapan yang aktif dan imaginatif dari media oleh Gereja. Umat Katolik hendaknya tidak takut membuka pintu-pintu dunia komunikasi sosial untuk Kristus, sehingga Kabar GembiraNya dapat didengarkan dari atap-atap dunia.
4. Juga sangat penting bahwa pada awal milenium baru ini kita tetap melaksanakan missi kepada bangsa-bangsa yang telah dipercayakan Kristus kepada Gereja. Diperkirakan dua per tiga dari enam milyard manusia tidak mengenal Yesus Kristus dengan baik; dan banyak dari mereka hidup di negara-negara yang dulunya berakar Kristen, di mana keseluruhan kelompok-kelompok yang telah dibaptis itu telah kehilangan kepekaan yang hidup akan iman, atau tidak lagi memandang diri mereka anggota Gereja dan hidup terpisah dari Tuhan dan InjilNya (bdk. Redemptoris Missio, 33). Jelas, tanggapan yang berdayaguna terhadap situasi ini menuntut lebih banyak lagi daripada hanya media; namun dalam berusaha menghadapi tantangan umat Kristiani tak dapat mengabaikan dunia komunikasi sosial. Memang, media dari berbagai macam bentuk dapat memainkan peran mendasar dalam evangelisasi langsung dan dalam membawa manusia kepada kebenaran-kebenaran dan nilai-nilai yang mendukung dan meningkatkan martabat mausia. Kehadiran Gereja dalam media nyatanya menjadi segi penting dari inkulturasi Injil yang dituntut oleh evangelisasi baru yang dijiwai oleh Roh Kudus yang sedang berkotbah kepada Gereja di seluruh dunia.
Karena seluruh Gereja berusaha merindukan panggilan Roh, para komunikator kristiani memiliki "tugas kenabian, panggilan: untuk mewartakan melawan allah-allah dan berhala-berhala palsu jamannya - materialisme, hedonisme, konsumerisme, nationalisme sempit …." (Ethics in Communications, 31). Lebih dari semua itu, mereka memiliki kewajiban dan privilese untuk menerangkan kebenaran - kebenaran yang agung tentang hidup manusia dan tujuan hidupnya yang diwahyukan dalam Sabda yang menjadi daging. Semoga umat Katolik terlibat dalam dunia komunikasi sosial mewartakan kebenaran Yesus dengan lebih apa adanya dan sukacita dari atap rumah, sehingga semua manusia laki-laki dan perempuan dapat mendengarkan kasih yang merupakan inti dari komunikasi Allah sendiri dalam Yesus Kristus, yang sama sejak kemarin, hari ini, dan selama-lamanya (bdk. Hib 13:8).
Dari Vatikan, 24 Januari 2001
Peringatan Santo Fransiskus de Sales

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar