Senin, 26 September 2011

Wahyu:LANGIT YANG BARU DAN BUMI YANG BARU (21:1-22:2)

Bab ini merupakan  pewahyuan terakhir yang disampaikan dalam Alkitab, sebuah klimaks penuh kemuliaan dari segala yang telah diilhamkan Allah untuk ditulis bagi pembinaan umat-Nya sepanjang zaman. Di dalam teks ini terjadi perpindahan dari waktu ke kekekalan. Dosa, kematian. dan semua kekuatan yang menentang Allah, kini sudah disingkirkan untuk selama-lamanya. Sebagian besar orang yang mempelajari Kitab Suci yakin bahwa di dalam bagian yang terakhir ini terdapat sebuah gambaran tentang rumah abadi dari orang-orang yang ditebus dalam Kristus. Rumah ini jangan dulu disamakan dengan surga. Tetapi pasti tempat inilah yang seluruh Alkitab tunjukan sebagai kota Allah, Yerusalem Baru, Sion yang di atas. Di dalam hal ini kita tidak bisa bersifat tegas di dalam menentukan bagian mana saja yang harus ditafsirkan secara simbolik dan bagian mana pula yang harus ditafsirkan secara harfiah. Bagian ini lebih menunjuk pada perlambang dan menyatakan bahwa "alasan pemakaian lambang di sini mungkin disebabkan karena tidak ada cara lain dalam pikiran untuk melukiskan keadaan pada waktu itu." Dalam penglihatan ini Yerusalem yang baru dinyatakan sebagai kota suci, pusat dari ciptaan baru.
Penglihatan yang terakhir ini terjadi sesudah penghukuman takhta putih, dan juga sesudah kerajaan seribu tahun. Bumi dan langit yang lama sudah tidak ada lagi. Peralihan ini, antara kerajaan seribu tahun dan kerajaan yang kekal (dengan "langit yang baru dan bumi yang baru") juga diceritakan dalam 1 Korintus 15:24, yang berbunyi, "Kemudian tiba kesudahannya, yaitu bilamana Ia menyerahkan Kerajaan kepada Allah Bapa, sesudah Ia membinasakan segala pemerintahan, kekuasaan, dan kekuatan."

A. Konteks Teks
            Pasal 21-22 menggambarkan apa yang disebut sebagai keadaan kekal. Di sini Allah memberitahukan seperti apa kekekalan bersama-Nya. Kitab Wahyu[1] dapat dimengerti! Allah tidak akan memberikannya kalau artinya itu merupakan suatu misteri terus-menerus. Kunci untuk memahami kitab Wahyu adalah dengan berusaha menafsirkannya seharafiah mungkin. Kitab Wahyu mengatakan apa yang dimaksudkannya. Itu juga yang berlaku dalam Wahyu 21:1-27.
            Cerita tentang langit yang baru dan bumi yang baru sebetulnya merupakan pembahasaan atas kerajaan yang mencapai kesempurnaannya. Kisah ini dalam keseluruhan kitab Wahyu ditempatkan pada bagian ketiga yaitu tema tentang Tuhan Allah dan Kristus dalam konflik besar dengan iblis. Dalam pembagian kitab Wahyu[2] sendiri terdapat prolog, (1:1-8), isi (1:9-22:5), dan epilog (22:6-21). Dalam bagian isi dikemukakan tiga pokok besar, yaitu: I.  Tuhan yang diagungkan dan jemaat-jemaat-Nya (Why. 1:9-3:22),  mencakup: A. Penglihatan dari Tuhan yang diagungkan di antara kaki-kaki dian (Why. 1:9-20) B. Berita-Nya kepada tujuh temaat (Why. 2:1-3:22) II. Anak Domba yang layak dan peran-Nya pada akhir sejarah (Why. 4:1-11:19), mencakup: A. Penglihatan dari ruang pengadilan yang megah di surga (Why. 4:1-5:14) yang berisi: 1. Allah Pencipta atas takhta-Nya dalam kekudusan yang mempesona (Why. 4:1-11) 2. Gulungan Kitab yang dimeterai dan Anak Domba yang layak (Why. 5:1-14) B. Penglihatan dari Anak Domba dalam hubungan dengan tujuh meterai dan tujuh sangkakala (Why. 6:1-11:19) yang berisi 1. Pembukaan enam meterai yang pertama (Why. 6:1-17) SELINGAN PERTAMA: Dua kumpulan orang banyak  (Why. 7:1-17) 2. Pembukaan meterai yang ketujuh: Tujuh malaikat dengan tujuh
sangkakala (
Why. 8:1-6) 3. Enam sangkakala yang pertama (Why. 8:7-9:21) SELINGAN KEDUA: Gulungan Kitab kecil (Why. 10:1-11) Dua orang saksi (Why. 11:1-14) 4. Sangkakala yang ketujuh (Why. 11:15-19), III.Tuhan Allah dan Kristus dalam konflik besar dengan iblis (Why. 12:1-22:5), mencakup: A. Perspektif mengenai konflik Itu
(
Why. 12:1-15:8) yang berisi: 1. Dari pandangan musuh-musuh bumi (Why. 12:1-13:18): a. Naga besar (Why. 12:1-17) b. Binatang laut (Why. 13:1-10) c. Binatang bumi (Why. 13:11-18), dan 2. Dari pandangan surga (Why. 14:1-20) SELINGAN KETIGA: Tujuh malaikat dengan tujuh malapetaka (Why. 15:1-8) B. Perkembangan terakhir dari perjuangan Itu  (Why. 16:1-19:10), berisi 1. Tujuh cawan murka Allah (Why. 16:1-21), 2. Hukuman atas pelacur besar (Why. 17:1-18), 3. Jatuhnya Babel yang besar (Why. 18:1-24), 4. Sorak-sorai di surga (Why. 19:1-10) dan C. Puncak konflik Itu (Why. 19:11-20:10), yang terdiri atas 1. Kedatangan kembali dan kemenangan Kristus (Why. 19:11-18) 2. Kekalahan binatang itu dan sekutu-sekutunya (Why. 19:19-21) 3. Iblis diikat, dilepaskan kembali dan akhirnya dikalahkan (Why. 20:1-10), D. Sesudah konflik (Why. 20:11-22:5), mencakup 1. Penghakiman Takhta Putih yang besar (Why. 20:11-15) 2. Nasib orang-orang yang  tidak benar (Why. 20:14-15; 21:8), 3. Langit yang baru dan bumi yang Baru (Why. 21:1-22:5), dan ditutup dengan Epilog (Why. 22:6-21).[3]
            Pembagian[4] di atas menunjukkan bahwa cerita tentang langit yang baru dan bumi yang baru berada hampir di bagian akhir kitab mendahului epilog. Sebelum masuk dalam cerita ini, diceritakan sebelumnya dalam bab 20 tentang penglihatan keenam, yaitu dirantainya naga, penampakkan kerajaan seribu tahun, penghukuman iblis dan hukuman yang terakhir. Setelah itu baru masuk dalam inti cerita bab 21, yang diawali dengan suara dari tahta serta penglihatan Yerusalem surgawi. Akhir dari kisah ini langsung dilanjutkan dengan epilog.

B. Delimitasi Teks
            Kisah mengenai langit yang baru dan bumi yang baru (21:1-22:5) diawali dengan pernyataan Yohanes mengenai penglihatannnya akan langit yang baru dan bumi yang baru (21:1). Hal tersebut dilanjutkan dengan penyampaian juga mengenai Yerusalem yang baru, yaitu Yerusalem yang turun dari surga, kota suci, Yerusalem surgawi dalam mana mereka yang najis, keji dan pendusta seperti diungkapkan dalam akhir bab ke-21 (ay. 27) tidak bisa masuk di dalamnya.
            Bab 21 ini sebenarnya hanya sampai pada ay. 27. Akan tetapi pada bab 22 yang menyusul sampai ay. 5 sebenarnya masih merupakan bagian dari cerita tentang Yerusalem surgawi, yaitu suatu kerajaan yang mencapai kesempurnaannya. Karena itu penelusuran tema penting tentang langit yang baru dan bumi yang baru ini akan dilanjutkan sampai pada 22:5. 

C. Divisi Teks
Langit yang baru dan bumi yang baru (21:1-8)
21:1. Langit yang baru dan bumi yang baru
·         Berlalunya langit yang pertama dan bumi yang pertama
·         Laut pun tidak ada lagi
21:2.   Kota yang kudus, Yerusalem yang baru
·         Turun dari surga, dari Allah
·         Berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan bagi suaminya
21:3-4. Suara dari tahkta
·         Kemah Allah ada di tengah-tengah manusia
·         Allah akan diam bersama manusia
·         Mereka akan menjadi umat-Nya, dan Ia akan menjadi Allah mereka
·         Menghapus segala air mata
·         Melenyapkan maut
·         Melenyapkan kesedihan, ratap-tangis dan dukacita
21:5-7. Penegasan dari Ia yang duduk di atas takhta itu
·         Lihat, Aku menjadikan segala sesuatu baru
·         Tuliskanlah karena segala perkataan ini tepat dan benar
·         Aku adalah Alfa dan Omega
·         Orang yang haus akan diberikan minum
·         Hak para pemenang
·         Aku akan menjadi Allah-Nya dan ia akan menjadi anak-Ku
21:8. Konsekwensi bagi para pendosa
·         Ambil bagian dalam laut yang bernyala-nyala
·         Kematian yang kedua
Kota Allah (21:9-21)
21:9. Kedatangan malaikat
·         Marilah ke sini
·         Pengantin perempuan, mempelai Anak Domba
21:10. Penglihatan di atas gunung
·         Terjadi di dalam Roh
·         Yerusalem kota yang kudus
·         Turun dari surga
21:11-21.Gambaran tentang kota yang kudus
·         Penuh dengan kemuliaan Allah
·         Cahayanya sama seperti permata yang paling indah
·         Tembok yag besar dan tinggi
·         Dua belas pintu gerbang
·         Tembok kota
·         Berbentuk empat persegi
·         Ada tongkat pengukur
Taman Firdaus Allah (21:22-22:2)
·         Allah dan Anak Domba adalah Bait sucinya
·         Allah yang menerangi dan Anak Domba adalah lampunya
·         Bangsa-bangsa berjalan di dalam cahayanya
·         Raja-raja membawa upeti
·         Tidak ada lagi malam
·         Kitab kehidupan
·         Sungai air kehidupan
·         Pohon kehidupan Allah


D. Analisa Teks
Langit yang baru[5] dan Bumi yang baru (21:1-8)
21:1 Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu dan laut pun tidak ada lagi.
            Yohanes[6] dalam penglihatannya berbicara tentang langit yang baru dan bumi yang baru. Yang pertama telah berlalu sementara yang dilihatnya adalah baru. Penciptaan langit dan bumi yang baru sebenarnya sudah menggema dan diajarkan baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru.[7] Dalam teks Perjanjian Lama[8] beberapa petunjuk bisa ditelusuri. Pertama dalam Kitab Yesaya (65:17) disebutkan dengan jelas: “Sebab sesungguhnya, Aku menciptakan langit[9] yang baru dan bumi yang baru; hal-hal yang dahulu tidak akan diingat lagi, dan tidak akan timbul lagi dalam hati.” Gagasan ini menunjukkan bahwa Allah akan melakukan sesuatu secara radikal (bdk. juga Yes. 43:18-19). Akan tetapi penekanan di sini bahwa penciptaan baru sangat serupa dengan yang lama. Bagi Yesaya, hidup akan berlanjut di bumi, orang akan mati dan tidak ada janji kebangkitan atau ketidakmatian. Ini justru yang agak berlawanan dengan sastra apokaliptik dalam Wahyu. Penegasan Yesaya lebih menunjuk pada kebebasan dari penderitaan, dari kematian tiba-tiba, dari penindasan dan dari pengisapan[10] sementara Yohanes berbicara tentang kehidupan yang kekal (Taman Firdaus Allah). Gagasan Perjanjian Lama tentang langit dan bumi terungkap jelas dalam Mazmur 102:26-27. Yang ditekankan adalah langit dan bumi akan binasa, akan tetapi Allah tetap ada, dan Ia akan mengubah semua yang ada juga semua yang ada itu teristimewa manusia akan berubah.[11] Sementara itu gagasan tentang langit dan bumi yang baru dalam Perjanjian Baru diungkapkan dalam Mat. 5:18, Mrk. 13:31, Luk. 16:17 dan 1 Ptr. 3:12. Dalam Matius disebutkan: “Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.” Penekanan di sini terdapat pada hukum Taurat. Ungkapan ini mencerminkan keyakinan bangsa Yahudi bahwa Hukum dan semua bagiannya bersifat dan bernilai kekal. Keyakinan inilah yang mempertahankan iman bangsa Yahudi sampai sekarang. Ungkapan ini hampir searti dengan “sampai akhir zaman” atau “selama ada langit dan bumi.”[12] Penegasan Matius tersebut parallel juga dengan Lukas. Dikatakan: “Lebih mudah langit dan bumi lenyap daripada satu titik dari hukum Taurat batal (Luk. 16:17).” Sementara dalam Markus penegasan tentang langit yang baru dan bumi yang baru dihubungkan langsung dengan Yesus: “Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu (Mrk. 13:31).” Perkataan Yesus tersebut menyangkut langit dan bumi. Ia menubuatkan kesudahan sejarah dunia ini dan kedatangan kerajaan surga. Yesus menyatakan bahwa nilai perkataan-Nya tidak ditentukan oleh pandangan yang berlaku pada waktu hal tersebut diutarakan, melainkan memiliki nilai yag abadi. Dikatakan bahwa berlalunya generasi tidak berarti berlalunya lagit dan bumi.[13]
            Langit yang baru dan bumi yang baru dalam penglihatan Yohanes sebenarnya menunjuk pada dunia yang telah diperbaharui, dikuduskan, dibebaskan dari kutuk, dibebaskan dari iblis, demikian pula dari dosa, sengsara, dan maut. Nampak bahwa Allah sungguh-sungguh sedang menuntun manusia menuju dunia baru yang semakin hari menjadi makin nyata. Langit pertama dan bumi yang pertama adalah yang sekarang ini dialami, yaitu suatu dunia yang mulanya tidak mengenal kejahatan, dunia yang didambakan tetapi pada kenyataannya tidak ada (bdk. Kej. 1:2-2:4a). Berhadapan dengan dunia yang seperti itu ditampilkan dunia yang nyata, yang tidak sempurna, dunia sebagaimana dialami saat ini. Dalam dunia ini kejahatan menampakkan wajah dan kuasanya. Akan tetapi penyelamatan terus berlanjut. Dunia tanpa kejahatan akan menjadi kenyataan.[14] Itulah dunia yang dikehendaki Allah. Langit dan bumi yang pertama dengan kekuasaan dosa, kebinasaan dan keruntuhan karena kesalahan manusia, kini telah lenyap untuk selama-lamanya.[15] Hal itu tidak berarti bahwa alam yang ada saat ini dibuang seperti sampah. Allah tidak membuat kesalahan ketika Ia pertama kali menciptakan lagit dan bumi.[16] Langit yang baru dan bumi yang baru adalah penciptaan kembali dari rencana Allah yang mula-mula. Sejak semula Allah memang bermaksud melaksanakan semua yang Ia ingin lakukan sejak awal mulanya. Dengan demikian diterima bahwa bumi yang ada tetap ada, tetapi telah diperbaharui. Andaikata diciptakan suatu bola bumi yang sama sekali baru, maka ciptaan pertama Allah haruslah disebutkan gagal untuk selama-lamanya. Kitab Wahyu memang tidak membicarakan soal ini secara saksama. Yohanes lebih melihat bumi di mana berlangsung suatu keadaan yang sangat baru.[17] Allah menjadikan segala sesuatu baru. Dunia baru tanpa dosa itu yang ditunjukkan dengan lenyapnya laut sebagai lambang kekuatan jahat.
            Dalam Why. 21:1 diungkapkan: “…dan laut pun tidak ada lagi.” Penegasan ini berdasar pada pengertian laut selaku tempat dari segala sesuatu yang jahat; apa pun yang lain dimaksudkan di sini, pemikiran yang utama ialah pengucilan iblis dari orde kehidupan yang baru.[18] Laut dalam kitab Wahyu senantiasa dilihat sebagai hidup yang bergolak dari bangsa-bangsa yang memberontak di dunia (bdk. 13:1). Laut pemberontak tersebut kini tidak ada lagi. Laut ini juga menunjuk pada pemisahan tanah yang satu dari yang lainnya. Laut juga menjadi semacam bahaya dan ancaman bagi kehidupan. Dengan menyebut laut tidak ada lagi, Yohanes sebenarnya bermaksud untuk mengatakan bahwa dalam dunia yang baru itu tidak ada laut sama sekali. Dunia yang baru itu memang lebih sempurna apabila tidak ada laut karena dalam Alkitab laut memiliki konotasi negatif. Laut dilukiskan berbahaya dan tidak tenang.[19] Hal tersebut jelas dalam Ayub 38:8-11. “Siapa telah membendung laut dengan pintu, ketika membual ke luar dari dalam rahim ketika Aku membuat awan menjadi pakaiannya dan kekelaman menjadi kain bedungnya; ketika Aku menetapkan batasnya, dan memasang palang dan pintu; ketika Aku berfirman: Sampai di sini boleh engkau datang, jangan lewat, di sinilah gelombang-gelombangmu yang congkak akan dihentikan!”. Di sini laut mendapatkan pengertian yang jelek. Demikian juga dalam Mazmur dikatakan: “Engkaulah yang memerintah kecongkakkan laut, pada waktu naik gelombang-gelombangnya, Engkau juga yang meredakannya (Mzm. 89:10).” Nampak bahwa laut dilukiskan sebagai kekuatan yang congkak dan menakutkan. Yesaya bahkan mengidentikkan orang congkak seperti laut yang berombak, tidak tenang, dan arusnya menghasilkan sampah serta lumpur (bdk. Yes. 57:20). Iblis bahkan mau membunuh Yesus dan murid-murid-Nya dengan perantaraan laut (Mrk. 4:35-41). Para murid menjadi ketakutan. Akan tetapi Yesus kemudian memberi perintah kepada badai dan laut. Dia melakukan tindakan yang hanya dapat dilakukan oleh Allah, yakni memerintah ciptaan. Hardikan Yesus kepada badai dan laut sebenarnya merupakan perkenalan diri-Nya sebagai Allah. Hanya Allah yang dapat melakukannya. Ini menjadi petunjuk juga bahwa kekuatan alam semesta berada di bawa kekuasaan Allah. Beralasanlah kalau Yohanes berbicara tentang ketiadaan laut. Karena Allah memiliki otoritas untuk menyingkirkan kejahatan dan ancaman. Semua itu kini akan musnah. Tidak akan ada lagi ancaman bagi kehidupan.[20]

21:2 Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari sorga, dari Allah, yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya.
            Yohanes melihat bahwa di bumi yang baru itu ada Yerusalem yang baru. Yohanes melihat suatu kota yang baru. Ia mengajak umatnya untuk menyadari apa yang sedang dilakukan Allah bagi diri mereka. Ia menggeser perhatian terhadap dunia ke arah perhatian terhadap manusia. Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari sorga, dari Allah, yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya. Kota, lambang keseluruhan manusia itu suci, baru, turun dari langit, sempurna dalam segala hal. Kota itu adalah pengantin perempuan, yaitu yang dapat mencintai Kristus dengan cinta yang sama seperti ia dicintai oleh Kristus.[21] Kota[22] itu adalah Yerusalem.[23] Berkaitan dengan penyebutan kota ini, beberapa[24] hal bisa ditekankan, pertama, pembicaraan tentang bumi yang baru dalam Perjanjian Lama oleh para nabi serentak merupakan juga pembicaraan tentang Yerusalem yang baru. Kedua, bumi yang baru tanpa kota akan gampang memberi kesan tidak didiami. Ketiga, bagi orang-orang dari zaman dahulu kala di mana banyak ketidakamanan, kota dengan tembok-tembok sekitarnya adalah suatu simbol keamanan dan juga simbol persekutuan orang-orang satu sama lain.
            Istilah “kota” dalam bahasa Yunani menunjuk pada polis. Polis pertama-tama berarti orangnya, bukan gedungnya. Kota-kota Yunani umumnya memang kecil dan penduduknya saling mengenal satu sama lain. Polis menunjuk pada suatu persekutuan. Gagasan tentang kota sebagai persekutuan ini masih bertahan pada masa Yohanes. Ketika Yohanes mengacu pada sebuah “kota” maka kota itu menunjuk pada umat Allah. Kota itu sangatlah indah karena dihiasi sebagai pengantin perempuan. Hal ini merupakan kutipan dari Yesaya 61:10 di mana terdapat bahwa pada waktu keselamatan, umat Allah akan dihiasi seperti pengantin perempuan. Sementara tambahan “yang berdandan untuk suaminya” sepertinya bermaksud untuk menekankan bahwa umat Allah mempunyai suami yang sah yang dengannya ia memiliki relasi kasih. Relasi kasih antara Allah dan manusia. Penegasan ini bertentangan dengan “pelacur Roma” yang hanya mengenal hubungan-hubungan kedosaan saja[25] (lih. Bab 17). Penglihatan Yohanes ini secara jelas menujuk pada dua[26] hal, yaitu kota Allah adalah masa depan yang menjadi tujuan seluruh alam. Langit baru, bumi baru dan Yerusalem yang baru adalah masa depan dari bumi yang sekarang. Akan tetapi kota Allah itu juga menunjuk pada realitas saat ini. Ia sedang turun[27] dari surga, yaitu dari Allah. Umat Allah yang hidup di bumi sekarang sebenarnya sudah menjadi warga Yerusalem yang baru. Selain Yohanes, Paulus sebanarnya juga sudah menyebut bahwa orang Kristen merupakan anak-anak dari Yerusalem. Dalam Flp. 3;20 ia menyebut bahwa kewargaan kita ada di dalam surga. Gereja dilihat bukan sekedar pranata keagamaan, tetapi lebih pada persekutuan orang kudus, persekutuan orang yang setia, persekutuan umat Allah di langit dan di bumi. Tanah air persekutuan itu adalah surga. Dari sanalah ia turun dari Allah selama-lamanya.[28] Kota itu sebenarnya adalah Gereja yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya. Segi dari hubungan gereja ini dengan Kristus terungkap dalam Why. 19:7-9. Di situ disebut tentang pengantin dari Anak Domba. Anak Domba menunjuk pada Kritus. Pengantin dari Anak Domba adalah seluruh gereja, tidak hanya sebagian. Lambang perkawinan yang diterapkan terhadap Kristus dan Gereja mengungkapkan kesatuan yang erat dan yang tak dapat dipisahkan antara Kristus dengan umat tebusan-Nya. Perkawinan dikatakan telah tiba. Gereja telah siap. Segera setelah binatang dan tentara-tentaranya disembelih, berlangsunglah perkawinan dan pengantin wanita pun memulai hidup taraf tertingginya dalam zaman yang baru.[29] Gereja sebagai lambang pengantin wanita dari Kristus terungkap dalam Mat. 22:1-10. Singgungan tentang kumpulan semua orang, baik itu yang jahat maupun yang baik terkumpul dalam satu perjamuan. Itu untuk menggambarkan sikap Allah yang sesungguhnya. Hal tersebut menunjukkan juga kenyataan yang dihadapi oleh komunitas Kristen. Tidak semua orang dalam komunitas itu cukup suci. Gereja adalah kumpulan orang-orang suci dan pendosa, tetapi dicintai oleh Allah.[30]
            Dengan demikian, penyebutan Yohanes tentang kota yang kudus, Yerusalem yang baru yang turun dari surga sebenarnya hendak menegaskan kekudusan Yerusalem yang sungguh-sungguh diperbaharui sama sakali, yaitu sesuatu yang memang turun dari surga. Manusia tidak dapat mendirikannya. Itu merupakan buah pekerjaan Allah, bukan pekerjaan manusia dan bukan pekerjaan Gereja. Allahlah yang berprakarsa dan menjadi penyebab tata-laksana baru. Yerusalem baru, turun dari surga.[31] Suatu kota yang digambarkan sebagai pengantin perempuan yang dihiasi bagi suaminya. Kota inilah tempat persekutuan anak-anak Allah, kaum Allah, gereja Allah. Inilah yang kelak akan menjadi nyata dalam kemuliaan yang penuh dengan segala perhiasan kekudusan, kasih, damai, kegembiraan, yang diperoleh Kristus untuk-Nya dan yang dikenakan kepada-Nya dengan perantaraan Roh-Nya yang kudus.[32] Jadi di satu pihak, Yerusalem itu disebut negeri, yang menunjukkan keteguhan dan keamanan dan persekutuan antara orang-orang beriman, dan di lain pihak disebut pula pengantin perempuan yang menunjukan relasi mesra dengan Kristus.

21:3 Lalu aku mendengar suara yang nyaring dari tahkta itu berkata: “Lihatlah kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka.
Ayat ini didahului oleh pendengaran Yohanes akan suara yang nyaring dari takhta itu.  Suara itu berasal dari seorang malaikat tinggi yang berada di dekat tahkta Allah (suara Allah sendiri baru akan terdengar dalam ay. 5). Malaikat itu berbicara tentang ciri-ciri kehidupan di bumi yang baru tersebut. Kata-kata malaikat itu disebut sebagai sebuah nyanyian kecil.[33] Suatu nyanyian yang hampir seluruhnya merupakan kutipan perkataan para nabi Perjanjian Lama. Yeheskiel sebelumnya sempat menyebut: “Tempat kediaman-Ku pun akan ada pada mereka dan Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku (Yeh.37:27). Suara itu mengarahkan pandangan Yohanes untuk melihat kemah Allah. Kemah Allah inilah yang menonjol dalam ay. 3 ini. Kemah menunjuk pada tenda. Ini berasal dari bahasa Yunani skene.[34] Kata ini terutama menunjuk pada Kemah Suci yang menjadi tempat penyimpanan Tabut Perjanjian, dan yang menjadi tanda kehadiran Allah di antara umat-Nya sementara mereka tinggal di padang gurun (Im. 36-38).[35] Dengan demikian tempat tinggal Allah adalah bersama manusia. Ia ada di tengah-tengah umat-Nya, bahkan sekarang juga. Penglihatan Yohanes tentang langit yang baru dan bumi yang baru dengan sebuah Yerusalem yang baru tidak saja menjanjikan masa depan gemilang yang menjadi tujuan seluruh alam ini, melainkan juga memastikan bahwa saat ini semua orang dikelilingi oleh kasih Allah yang setia dan menopang. Paulus telah mengembangkan gagasan ini lebih lanjut ketika ia menulis bahwa Yerusalem yang ada di atas itu adalah ibu kita (Gal. 4:6). Begitu pula penglihatan Yohanes tentang perempuan dan naga (psl. 12) telah melukiskan orang-orang yang setia sebagai anak-anak dari perempuan yang melambangkan para pengikut sang Mesias. Di seluruh Alkitab Allah digambarkan sebagai Bapa pengasih, tetapi gambaran seorang ibu menekankan kelembutan kasih-Nya. Dalam agama-agama rakyat di sekitar Israel kuno, dewi-dewi melambangkan bumi yang subur dan gambaran itu tidak bisa digunakan oleh orang-orang percaya di Israel untuk Allah yang hidup. Karena itu mereka menggunakan gambaran tentang Bapa.[36] Hanya dalam kasus-kasus yang jarang seperti Yesaya 49:15 kasih Allah dibandingkan dengan seorang ibu, “Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau.” Demikian ditegaskan bahwa Allah akan selalu bersama manusia. Gambaran ini sebenarnya diambil dari perjalanan Israel melalui padang belantara, di mana dalam segala kekurangan di padang belantara itu Allah berada di tengah-tengah kaum-Nya dalam persekutuan yang sangat mesrah.  Kemah di mana Allah menampakkan diri-Nya ada di tengah-tengah kemah-kemah orang Israel. Maka kini di bumi baru itu Allah diam berdekatan dengan kaum-Nya. “…Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka.” Dan mereka akan menjadi kaum-Nya sepenuhnya yang dibebaskan oleh-Nya dan yang kini berbakti kepada-Nya dengan kebahagiaan.[37] Dalam Perjanjian Lama sering disebut bagaimana Allah berjanji bahwa Israel akan menjadi umat-Nya. Itu adalah sebuah janji yang teguh. Tetapi di sini janji itu diperluas kepada segala bangsa, Yahudi maupun bukan Yahudi. Istilah “umat” dalam kitab Wahyu memang bukan dalam bentuk tunggal. Kata tersebut menunjuk pada bentuk jamak. Hal tersebut untuk menunjukkan suatu unsur universalitas dalam kitab Wahyu. Itu berarti bahwa orang-orang dari berbagai bangsa akan diam di bumi yang baru tersebut.

21:4 Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu.”
            Penglihatan ini jelas memperlihatkan kelembutan kasih Allah. Ia akan menghapus segala air mata. Kata-kata ini mungkin menunjuk pada Yesaya 25:8: “Ia akan meniadakan maut untuk seterusnya dan Tuhan Allah akan menghapuskan air mata daripada segala muka,” tetapi juga mengingatkan kita pada Yesaya 66:13 di mana Allah berjanji: “Seperti seseorang yang dihibur ibunya, demikianlah Aku ini akan menghibur kamu; kamu akan dihibur di Yerusalem.” Dalam Why. 7:17 dikatakan bahwa “Allah akan menghapus air mata dari mata” mereka yang mati syahid pada masa kesengsaraan. Rupanya peristiwa ini lain karena terjadi setelah kerajaan seribu tahun. Siapa yang menangis pada masa kerajaan seribu tahun? Mungkinkah mereka yang percaya pada Tuhan Yesus sebagai Juru Selamat, tetapi tidak menang sehingga tidak dapat menikmati pahala-pahala yang dijanjikan dan diceritakan dalam kitab wahyu? Rasul Paulus menyebutkan keadaan orang itu dalam 1 Korintus 3:5. Apa yang dikatakan dalam 20:14 dikembangkan dalam ayat ini, sehingga kesusahan, seperti air mata, maut, perkabungan, ratap tangis atau dukacita ikut ditiadakan. Yang akan menghapus air mata adalah Allah sendiri. Air mata itu akan terhapus apabila ada relasi indah manusia dengan Tuhan. Kedekatan relasi yang  bisa dinyatakan sebagai berikut: Seperti seorang bapa atau ibu menaruh anak yang menangis di pangkuannya untuk menghapus air matanya dan menghiburnya, demikian juga Allah menghantar umat-Nya kepada-Nya.” Allahlah yang mengerjakan karya dasyat ini. Dengan mengangkat ungkapan Yesaya di atas, Yohanes membuat Gereja merasakan seberapa besar dan seberapa jauh Allah sungguh terlibat dalam kehidupan manusia: air mata, lambang penderitaan dan kesusahan manusia akan dikeringkan oleh Allah sendiri.[38]

21:5 Ia yang duduk di atas tahkta itu berkata: “Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru!” Dan firman-Nya: “Tuliskanlah, karena segala perkataan ini adalah tepat dan benar.”
            Aku menjadikan segala sesuatu baru! Itulah yang dilakukan Allah. Ia merencanakan suatu masa depan yang cerah kepada manusia. Suatu masa depan yang mendapatkan jaminan dari Allah sendiri. Masa depan yang akan terwujud dalam Gereja, yang akan dinyatakan dalam Gereja yang sedang beribadah dan menguatkan imannya: “Ia yang duduk di atas tahkta itu berkata: “Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru!” Dan firman-Nya: “Tuliskanlah, karena segala perkataan ini adalah tepat dan benar.” Segala sesuatu yang baru tersebut diterapkan secara jelas dalam 1 Kor. 5:17: “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” Ungkapan ini adalah ungkapan yang digemari Paulus untuk seorang Kristen. Ungkapan yang menunjuk pada kesatuan iman yang paling erat dengan Yesus.[39]  Umat,  dalam arti ini pengalaman yang dialami saat ini diterjemahkan ke dalam kerajaan Allah (Kol. 1:13) dan merasakan kekuasaan-kekuasaan dari zaman yang akan datang dalam segala sesuatu yang baru. Dengan menjadikan segala sesuatu baru hendak ditekankan bahwa Allah yang satu kali menciptakan dunia, Sang mahakuasa, sanggup juga untuk memperbaharui dunia. Ia kemudian memerintahkan Yohanes untuk menuliskan segala perkataan yang benar dan tepat tersebut. Perintah untuk menuliskan firman Allah tersebut adalah sebagai amanat untuk semua umat, tidak boleh ada keraguan karena kata-kata-Nya tepat dan benar.[40]




21:6 Firman-Nya lagi kepadaku: “Semuanya telah terjadi. Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Awal dan Yang akhir. Orang yang haus akan Kuberi minum dengan cuma-cuma dari mata air kehidupan.
            Yohanes sekali lagi mendengar suara Allah: “Semuanya telah terjadi. Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Awal dan Yang akhir. Orang yang haus akan Kuberi minum dengan cuma-cuma dari mata air kehidupan.” Semuanya telah terjadi, yaitu pembaharuan dunia sudah berlangsung. Demikianlah Yohanes dalam penglihatannya dipindahkan kepada waktu di mana pembaharuan itu sudah terwujud.[41] Allah kemudian memperkenalkan diri-Nya kembali kepada Yohanes sebagai Alfa dan Omega, Yang Awal dan Yang Akhir. Dengan perkataan ini Allah menyatakan bahwa Ia menguasai seluruh dunia dan sejarah dunia, dan oleh sebab itu sanggup untuk mendatangkan pembaharuan yang besar itu. Pengenalan diri tersebut sebelumnya sudah terjadi dalam Why. 1:8, dan akan diungkapkan lagi dalam Why. 22:13. Dua yang pertama adalah gelar Allah sedangkan yang ketiga (22:13) dikenakkan pada diri Yesus. Yang mengherankan adalah bahwa gelar Allah dikenakkan pada diri Yesus tanpa ragu-ragu. Bagi Yohanes apa yang menjadi hak Allah juga menjadi hak Yesus Kristus. Harus ditekankan bahwa gelar Alfa dan Omega, awal dan akhir adalah khas gelar Allah.[42] Alfa dan Omega merupakan huruf pertama dan terakhir abjad Yunani. Mungkin hal ini menerjemahkan idiom Ibrani bagi para pembaca Yunani di mana huruf pertama dan terakhir abjad Ibrani digunakan untuk mengungkapkan keseluruhan dari sesuatu. Misalnya dikatakan bahwa Adam melanggar hukum dari alef hingga tau. Abraham sebaliknya memelihara hukum dari alef hingga tau. Artinya sebenarnya adalah bahwa Allah itulah Tuhan dari sejarah, awalnya, akhirnya dan seluruh tenggang waktu antaranya. [43]
            Yang Awal dan Yang Akhir inilah yang secara Cuma-Cuma akan memberikan minuman kepada mereka yang haus dari mata air kehidupan. Allah menegaskan bahwa Ia yang adalah Sang Pencipta besar dan sangat mulia memiliki perhatian kepada setiap orang secara pribadi, dan kepada setiap orang yag haus akan diberikan air. Perkataan ini merupakan kutipan dari Yesaya 55:1 dan sekaligus juga sesuai dengan injil Yohanes 7:37. Dalam Yesaya dikatakan: “Ayo, hai semua orang yang haus, marilah dan minumlah air, dan hai orang yang tidak mempunyai uang, marilah! Terimalah gandum tanpa uang pembeli dan makanlah juga anggur dan susu tanpa bayaran (Yes. 55:1)!” Sementara dalam Injil Yohanes disebutkan: “Dan pada hari terakhir, yaitu pada puncak perayaan itu, Yesus berdiri dan berseru: Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum.” Air kehidupan berarti kehidupan kekal dan keselamatan.[44] Setelah sebelumnya ada janji, kini menjadi kenyataan yang tetap yaitu air kehidupan, keputeraan ilahi.

21:7 Barangsiapa menang, ia akan memperoleh semuanya ini, dan Aku akan menjadi Allahnya dan ia akan menjadi anak-Ku.
            Janji terakhir yang memberikan semangat bagi orang Kristen yang bertekun diberikan, yaitu pemberkatan dari kota yag kudus itu dalam kerajaan 1000 tahun dan dalam penciptaan yang baru adalah warisannya.[45] Janji tersebut diberikan oleh Allah kepada mereka yang menang, yaitu dia yang tidak memberi dirinya menyimpang dari jalan yang benar oleh karena penggodaan dan penganiayaan, tetapi tetap setia kepada Kristus. Ia akan memperoleh semuanya ini, yaitu dunia yang baru itu. Bagi dia yang menang, janji-janji Perjanjian Lama akan terwujud.[46] Allah akan menjadi Allahnya, sebagaimana dijanjikan kepada Israel dalam Kejadian 17:7 dan Yeremia 31:33, dan ia akan merupakan anak Allah,sebagaimana dijanjikan kepada Salomo dan Daud dalam 2 Samuel 7:14 dan Mazmur 89:27 dan 28. Istilah “anak-Ku” mengingatkan gelar “anak Allah” yang diberikan kepada Mesias sebagai pengganti Daud pada hari pelantikan-Nya (2 Sam. 7:14; Mzm. 2:7). Kristus dinyatakan sebagai Anak Allah oleh karena kebangkitan-Nya. Gelar itu juga diberikan-Nya kepada mereka yang percaya kepada-Nya.[47]

21:8 Tetapi orang-orang penakut, orang-orang yang tidak percaya, orang-orang keji, orang-orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta, mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang; inilah kematian yang kedua.”
            Berlawanan dengan penakluk-penakluk yang mewarisi kerajaan itu, berdirilah lawan yang merintangi mereka untuk kerajaan itu. Mereka ini adalah kumpulan orang yang menyerah kepada dosa.  Mereka ini tidak akan luput dari hukuman Allah. Ayat ini memberikan suatu daftar dosa-dosa. Daftar yang memuat dosa-dosa dan yang memuat sifat-sifat yang baik memang banyak digunakan dalam zaman Yohanes. Yang terutama adalah penakut yang karena takut akan manusia lantas menyangkal Kristus dan menyembah antikristus (bdk. 2 Tim. 1:7, Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan). Penakut adalah mereka yang berkompromi dengan dunia, entah karena takut penganiayaan atau takut diejek atau ditertawakan. Peringatan ini dimaksudkan sebagai seruan untuk bertobat. Mereka yang menyebut dirinya orang Kristen tetapi terlibat dalam dosa-dosa yang dirincikan diserukan agar mengubah jalan hidup mereka.[48] Dosa pertama yang disebutkan memang adalah ketakutan. Hal tersebut cocok dengan kitab Wahyu yang salah satu maksud utamanya adalah untuk membangkitkan gereja menjadi setia kepada Kristus di tengah-tengah penganiayaan.[49] Mengenai dosa-dosa yang disebutkan selanjutnya ada terdapat perbedaan pendapat. Ada ahli yang menyebutkan bahwa itulah dosa-dosa yang terdapat dalam masyarakat pada zaman Yohanes. Sementara yang lain mengatakan bahwa semua dosa itu adalah sebutan-sebutan agak tersembunyi untuk penyembahan kaisar Romawi sebagai dewa.
            Bersama dengan para penakut di atas bergabung orang-orang yang tidak percaya, termasuk orang Kristen yag murtad, yaitu yang menjadi tidak setia kepada kepercayaan mereka dalam penggodaan dan penganiayaan dan juga kafir-kafir (lih. Tit. 1:15), yaitu mereka yang tidak meu mempercayai Kristus. Sementara itu, orang-orang keji menjadi demikian oleh penyembahan mereka akan binatang itu. Makna ayat ini menggemakan ajaran Perjanjian Baru keseluruhannya[50] (Mis. Mat. 25:41-43; Luk. 13:28, dll). Boleh jadi bahwa orang keji di sini mengarah pada orang-orang yang memang hidup secara keji dan secara khusus orang-orang yang menyembah kaisar. Sedangkan para pembunuh menunjuk pada orang-orang yang melakukan kesalahan membunuh orang lain dan mereka yang ikut serta membunuh orang-orang Kristen. Ada juga orang-orang sundal, yaitu orang-orang yang hidup cabul dan pada khususnya orang-orang yang karena menyembah kaisar sebagai dewa menjadi kurang setia kepada Allah yang satu dan dengan demikian boleh disebut berzinah. Tukang sihir menunjuk pada sihir secara umum dan secara khusus menunjuk pada segala akal yang dipergunakan untuk membujuk orang-orang agar menyembah kaisar. Demikian juga para penyembah berhala berkenaan dengan dewa-dewa berhala pada umumnya dan secara khusus kaisar Roma yang diperilah. Sementara para pendusta menunjuk pada pendusta dan penipu pada umumnya, dan secara khusus mereka yang menyimpang dari kebenaran yang ada dalam Allah.[51]
            Daftar para pendosa di ataslah yang akan menjadi penghuni lautan api. Kejahatan tidak akan bisa lagi mengganggu karena mereka akan dibakar dalam lautan api. Itu berarti bahwa surga (Yerusalem Baru) tidak akan mereka alami tanpa suatu pertobatan. Sementara kematian yang kedua menunjuk pada kematian kekal yang diperlawankan dengan kematian badan.

Kota Allah (21:9-21)
21:9 Maka datanglah seorang dari ketujuh malaikat yang memegang ketuju cawan, yang penuh dengan ketuju malapetaka terakhir itu, lalu Ia berkata kepadaku, katanya: “Marilah ke sini, aku akan menunjukkan kepadamu pengantin perempuan, mempelai Anak Domba.”
            Bagian termasyur dari kitab Wahyu dimuai di sini. Pembahasaannya berbentuk metafora. Metafora untuk kota yang baru ini berarti bahwa umat Allah akan tinggal di dalamnya. Yohanes memakai bahasa simbolis untuk melukiskan kota yang kudus, yang kemuliaannya tidak dapat dipahami seluruhnya oleh pengertian manusia. Ia dalam suatu penglihatan boleh melihat Yerusalem yang baru itu di bumi yang baru. Memang Yohanes telah melihat Yerusalem baru turun dari langit, baru, kudus, terhias seperti pengantin perempuan (ay. 2). Akan tetapi dia belum dapat melihatnya dalam kemuliaannya dengan jelas. Oleh karena itulah kini datang seorang malaikat untuk memperlihatkan kepadanya semua hal tentang Yerusalem baru itu. Mula-mula diceritakan tentang kedatangan seorang dari malaikat, yaitu satu dari malaikat yang dalam bab 15 dan 16 menumpahkan cawan-cawan yang berisi ketuju malapetaka penghabisan ke atas bumi yang memperlihatkan Yerusalem yang baru kepada Yohanes. Itu tentunya bukan suatu kebetulan. Itu barangkali berarti bahwa Allah merusakkan dunia dalam bentuknya yang lama untuk membuka jalan kepada dunia yang baru. Malaikat yang sama yang barangkali juga memperlihatkan Yerusalem yag baru itu kepada Yohanes, juga menunjukkan Babel kepadanya dalam 17:1. Malaikat itu mau memperlihatkan kepada Yohanes perbedaan besar antara pelacur Babel dan pengantin perempuan Yerusalem. Agak mengherankan memang jika sebuah kota disebutkan pengantin perempuan Anak Domba[52] (Kristus). Alasannya itulah bahwa penduduk kota itu orang-orang percaya adalah pengantin-pengantin Kristus.[53] Penyingkapan pengantin wanita itu sudah disebut lebih awal dalam Why. 19:7-9 di mana dikatakan bahwa dia telah mempersiapkan dirinya bagi suaminya. Di sini janji itu digenapi tetapi bukan dengan kiasan mengenai pengantin melainkan kota.[54]

21:10 Lalu, di dalam Roh ia membawa aku ke atas sebuah gunung yang besar lagi tinggi dan ia menunjukkan kepadaku kota yang kudus itu, Yerusalem, turun dari sorga, dari Allah.
            Yerusalem[55] yang baru barulah dilihat oleh Yohanes dari atas sebuah gunung yang tinggi. Rohnya dibawa ke sana. Sebuah gunung yang tinggi adalah cara tradisional untuk melukiskan tempat tinggal Allah. Dalam agama Kanaan orang percaya bahwa dewa-dewa benar-benar hidup di puncak-puncak gunung, seperti halnya kepercayaan orang dalam banyak agama sekarang. Bangsa Israel sebenarnya tidak percaya bahwa Allah tinggal di gunung, namun mereka masih menggunakan gunung-gunung sebagai lambang tempat tinggal Allah. Dalam sejumlah perikop Perjanjian Lama, gunung Allah adalah tempat yang tidak dapat ditemukan pada peta mana pun, tetapi dalam perikop lain itu berarti gunung tempat Bait Allah di Yerusalem dibangun (lih. Mzm. 48:1; 74:2; Yes. 2:2). Di gunung juga terjadi pewahyuan kepada Yohanes. Apa yang ditunjukkan oleh malaikat kepadanya merupakan wahyu. Yerusalem yang kudus tersebut tidak dapat dilihat dengan mata duniawi. Yerusalem yang di bawa ini ialah negeri yang membunuh nabi-nabi. Juga Gereja sebagai Yerusalem Perjanjian Baru dilihat dengan mata duiawi tidak dapat dipandang sebagai negeri yang kudus.[56] Yerusalem yang kudus hanya dapat turun dari surga dari Allah. Kenyataan bahwa Yohanes mengacu dua kali kepada kota suci yang turun tidak berarti bahwa ia melihat kota itu turun dua kali pada dua kesempatan yang terpisah. Yohanes semata-mata mengulangi bahwa ia melihat kota itu terus-menerus turun, karena kota itu adalah pemberian Allah kepada umat-Nya dan juga tempat bertemu antara surga dan bumi. Dalam penglihatannya ia melihat kota itu dalam kemuliaan surgawinya, seperti yang kelak terjadi pada akhirnya, tetapi kota Allah ini sudah menjadi kenyataan di dalam gereja sebagaimana kita temukan di bumi.[57]

21:11 Kota itu penuh dengan kemuliaan Allah dan cahanyanya sama seperti permata yang paling indah, bagaikan permata yaspis, jerni seperti Kristal.
            Kota itu penuh dengan kemuliaan Allah. Yang dimaksud adalah kemuliaan yang kelihatan.  Kemuliaan Allah memenuhi Bait Allah (1 Raj. 8:11), tetapi Kota Allah itu seluruhnya terdiri dari Bait Allah (lih. Ay. 22). Selanjutnya disebut bahwa kota itu bercahaya seperti permata yaspis. Dengan itu agaknya tidaklah dimaksudkan bahan tambang yang pada zaman sekarang disebutkan yaspis yang warnanya merah atau kuning dan tidak tembus cahaya. Yohanes menyatakan bahwa yaspis yang dilihatnya itu jernih seperti kristal, yaitu tembus cahaya. Ia agaknya melihat cahaya dan kilauan keluar dari Yerusalem baru itu seperti sebuah permata.[58] Lambang cahaya menunjukkan bahwa kemuliaan Yerusalem bukanlah kemuliaannya sendiri. Segala yang indah pada Yerusalem itu berasal dari Allah. Karena itulah Yerusalem atau gereja Allah itu gemerlap seperti permata yag sangat berharga. Bukankah semua permata tidak mempunyai cahaya dari dirinya sendiri? Permata-permata itu kelam di dalam gelap. Tetapi jika cahaya matahari menyinarinya maka permata-permata itu gemerlapan dan bercahaya. Seperti itu juga dengan gereja dan orang-orang beriman. Mereka tidak memiliki cahaya dalam diri sendiri, tetapi gemerlapan dalam cahaya Tuhan. Cahaya terang dari Allah itu pula yang digambarkan dalam berbagai bentuk permata.[59] Hal itu untuk menunjukkan bahwa kota itu mempunyai kemuliaan seperti yang ada pada Sang Pencipta.[60]

21:12  Dan temboknya besar lagi tinggi dan pintu gerbangnya dua belas buah; dan di atas pintu-pintu gerbang itu ada dua belas malaikat dan di atasnya tertulis nama kedua belas suku Israel.
            Tembok kota itu besar dan tinggi. Tembok ini berfungsi ganda, yaitu untuk menahan di luar mereka yang tidak mempunyai bagian dalam berkat dan kurnia kota itu dan untuk menekankan keamanan yang kekal dari penghuni-penghuninya. Di atas pintu terdapat dua belas malaikat. Ini sebenarnya bersifat simbolis, tetapi toh digambarkan dengan amat persis dengan para penjaga pintu gerbang. Di atasnya tertulis nama kedua belas suku Israel, yakni Israel dari Allah; gereja. Dengan isyarat ini Yohanes menuntut bahwa melalui gereja-gereja di seluruh dunia ini terletak jalan masuk ke kota Allah itu.[61] Penyebutan tentang nama kedua belas suku Israel adalah untuk menyatakan bahwa umat Allah tidaklah berbeda dengan Israel, meskipun umat Allah terdiri atas  jauh lebih daripada Israel yang alami karena umat itu berasal dari segala bangsa.

21:13 Di sebelah Timur terdapat tiga pintu gerbang dan di sebelah utara tiga pintu gerbang dan di sebelah selatan tiga pintu gerbang dan di sebelah barat tiga pintu gerbang.
Di sebelah timur terdapat tiga pintu gerbang dan di sebelah utara tiga pintu gerbang dan di sebelah selatan tiga pintu gerbang dan di sebelah barat tiga pintu gerbang. Surga mempunyai dua belas pintu gerbang, sehingga pada setiap mata angin ada tiga pintu gerbang. Karangan itu menceritakan bagaimana bintang, angin, dan salju menerobos lewat pintu gerbang tersebut. Ternyata penjelasan yang diilhamkan melalui Rasul Yohanes bersifat lebih sederhana.[62]

21;14 Dan tembok kota itu mempunyai dua belas batu dasar dan di atasnya tertulis kedua belas nama kedua belas rasul Anak Domba itu.
Nama kedua belas rasul juga untuk menegaskan bahwa kota itu didirikan di atas injil yang diberitakan oleh para rasul[63] (lih. Mat 16:18). Kesempurnaan umat Allah yang baru secara menyeluruh mengganti kesempurnaan umat lama. Keduabelas rasul bersesuaian dengan keduabelas suku Israel, Why. 7:4-8; bdk Mat. 19:28 dsj; Mrk 3:14 dsj; Ef. 2:20. Semua angka dalam bagian yang menyusul, yang mengalikan angka 12, melambangkan kesempurnaan. Ada kesejajaran antara dua belas pintu gerbang yang bertuliskan nama dua belas suku Israel dan dua belas batu dasar yang bertuliskan nama kedua belas rasul Anak Domba itu. Pemakaian istilah batu dasar mengingatkan Surat Efesus 2:20, yang berkata bahwa jemaat Kristus "dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi". Dengan menyebut kedua belas suku Israel dan kedua belas rasul, sudah jelas bahwa Yerusalem Baru dimaksudkan untuk Israel dan juga untuk Jemaat Kristus. Dua belas batu dasar agaknya bukanlah yang dimaksudkan di atas setiap yang lain, tetapi membentuk suatu rantai yang terus-menerus dari beragam batu sekeliling tembok kota itu, terbagi dalam dua belas gerbang. Kedua belas rasul adalah sesuai dengan keduabelas suku dan seperti mereka berarti keseluruhan tubuh kolektif itu dan bukan anggota-anggota secara perseorangan.[64]

21:15 Dan, ia yang berkata-kata dengan aku mempunyai suatu tongkat pengukur dari emas untuk mengukur kota itu serta pintu-pintu gerbang dan temboknya.
Tongkat pengukur  pintu-pintu gerbangnya.  Dalam Yehezkiel 40-42 ada seorang malaikat yang mengukur Bait Allah dengan tongkat pengukur. Dalam Zakharia 2:1-2 tali pengukur dipakai untuk mengukur Yerusalem. Biasanya panjang tongkat pengukur pada zaman itu kira-kira sepuluh meter.[65] Pengukuran dilakukan untuk melestarikan seperti termuat dalam Why. 11:1, di situ Yohanes diperintahkan mengukur mezbah, tetapi bukan pelatarannya, karena tempat itu diserahkan kepada bangsa-bangsa lain. Di sini seluruh Kota itu akan diukur: tak ada satu bangsa pun yang tidak termasuk di dalamnya. Pengukuran tersebut berarti bahwa Kota Allah akan dilestarikan. Gereja berada dalam perlindungan Allah, dan di dalam dunia yang akan datang ia akan aman.[66]

21: 16 Kota itu bentuknya empat persegi, panjangnya sama dengan lebarnya. Dan ia mengukur kota itu dengan tongkat itu: dua belas ribu stadia; panjangnya dan lebarnya dan tingginya sama.
Empat persegi ini merupakan lambang kesempurnaan. Ukuran kota itu menandakan bahwa akan ada ruang yang cukup luas bagi semua orang percaya dari segala zaman. "1,200 stadia" adalah kira-kira 1.400 mil (kira-kira 2.240 kilometer). Kota itu dilukiskan berbentuk empat persegi. Dalam Perjanjian Lama, Tempat Mahakudus, di mana Allah berjumpa dengan wakil umat-Nya, merupakan sebuah ruangan yang benar-benar empat persegi. Seluruh kota itu akan dipenuhi dengan kemuliaan dan kekudusan Allah. Dua belas ribu stadia yaitu 1500 mil=2400 kilometer. Angka itu ialah: 12 (jumlah Israel baru) kali 1000 (=banyak). Dalam Yehezkiel 45:2 dikatakan bahwa Bait Allah yang akan didirikan berbentuk persegi empat, dan dalam Yehezkiel 48:20 dijelaskan bahwa Yerusalem juga akan berbentuk persegi empat, tetapi baru di dalam ayat ini disebutkan bahwa panjangnya dan lebarnya dan tingginya sama. Dengan demikian dipahami bahwa Yerusalem Baru berbentuk kubus. Dalam 1 Raja-raja 6:20 dicatat bahwa ruang dalam di Bait Allah, yaitu Ruangan Mahasuci tempat tabut perjanjian Tuhan ditaruh, berbentuk kubus, sama seperti Yerusalem Baru. Pada zaman Perjanjian Lama, Allah sendiri hadir di dalam ruang dalam itu. Pada masa kekekalan, Allah sendiri juga akan hadir di Yerusalem Baru (pasal 21:3), dan tidak ada Bait Suci di dalamnya (pasal 21:22). Pada zaman Perjanjian Lama hadirat Allah ada di dalam ruangan Mahasuci dalam Bait Suci. Ruangan ini hanya boleh dimasuki oleh Imam Besar, dan itu pun hanya sekali setahun, dengan membawa darah korban. Tetapi pada zaman yang akan datang, setiap penghuni Yerusalem Baru boleh mengalami hadirat yang sama, bahkan yang lebih mulia lagi.  Ukuran yang diukur oleh malaikat dan diamati oleh Yohanes adalah dua belas ribu stadia, atau kira-kira 2400 kilometer, dan bentuknya kubus. Ingatlah, pada zaman ini, jarak antara Danau Galilea dan Laut Mati kira-kira 110 kilometer. Maka penafsir-penafsir tertentu menganggap ukuran tersebut mustahil. Sebenarnya, kalau berbicara mengenai "kemustahilan" mana yang "lebih mustahil": Sebuah kota yang turun dari surga, atau sebuah kota yang berbentuk kubus dengan ukuran 2400 kilometer? Penulis menganggap bahwa Kitab Wahyu diilhamkan dan ditulis pada masa Kerajaan Domitianus di Roma. Pada saat para pembaca mula-mula membaca naskah  ini, Bait Allah di Yerusalem telah dihancurkan oleh Jenderal Titus, dan orang-orang Yahudi sudah mulai bertanya-tanya kapan pemulihan Yerusalem akan digenapi. Ada orang Yahudi yang mempercayai bahwa Yerusalem yang hendak dibangun Allah akan mencapai Damsyik dan Laut Tengah, dan tingginya sampai ke takhta Allah. Kitab Wahyu menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Tetapi apakah sebabnya sehingga Tuhan Allah memilih ukuran dua belas ribu stadia untuk Kota Yerusalem Baru? Dua belas adalah angka untuk umat Allah, seperti misalnya dalam pasal 7:4-8; 12:1: 14:1 (144.000=12x12); 21:12, dan 14. Juga dalam pasal 7:4-8 dan 14:1 angka dua belas (atau 12 kali 12) dikalikan seribu untuk menambah unsur keluasan. Dengan demikian ukuran dua belas ribu stadia menjadi pernyataan bahwa Kota Yerusalem Baru adalah kota yang sangat luas bagi umat Allah.[67] Satu ukuran yang memang hampir tidak pada tempatnya. Segi empat merupakan lambing kesempurnaan sehingga Kota itu memang menjadi tempat suci bagi Allah dan sekudus tempat yang Mahakudus.  Sementara arti bilangan yang sangat besar di atas diterangkan oleh peribahasa rabinia bahwa Yerusalem akan diperbesar hingga mencapai Damsyik dan dipertinggi setinggi langit hingga mencapai takhta Allah. Yerusalem surgawi itu memanjang dari bumi hingga surga dan menggabungkan mereka menjadi satu.[68]

21:17 Lalu ia mengukur temboknya; seratus empat puluh empat hasta, menurut ukuran manusia, yang adalah juga ukuran malaikat.
Menurut pasal 21:12, "temboknya besar lagi tinggi". Mengingat bahwa Kota Yerusalem Baru begitu besar, mungkin saja ukuran seratus empat puluh empat hasta[69] ini menunjuk pada lebar tembok bagian atas, dan bukan tinggi tembok tersebut. Mungkin yang pokok dalam ayat ini bukanlah rasio antara tembok dan kota, tetapi angka 144. Dengan angka ini pemikiran bisa kembali pada angka dua belas, yang merujuk kepada manusia. Ukuran Kota Yerusalem Baru menekankan unsur manusia, dan bukan unsur Allah.

21;18 Tembok itu terbuat dari permata yaspis; dan kota itu sendiri dari emas tulen, bagaikan kaca murni.
Batu permata yang dipakai untuk tembok itu juga disebutkan dalam pasal 4:3. Namun dalam ayat ini, batu permata dipakai untuk mengiaskan Dia yang duduk di atas takhta-Nya. Kota Yerusalem Baru begitu penuh dengan kemuliaan Allah, sehingga tembok itu pun menyatakan kemuliaan-Nya. Menurut 1 Raja-raja 6:20, Bait Allah yang dibangun oleh Salomo dilapisi dengan emas. Juga, bagian depan Bait Allah yang diperbaiki Herodes Agung dilapisi dengan emas. Oleh karena Bait Allah menghadap ke timur, maka pada saat matahari terbit, pantulan sinar bagian depan Bait Allah begitu menyilaukan sehingga manusia tidak dapat menatapnya, sama seperti ia tidak dapat menatap matahari. Tetapi seluruh Kota Yerusalem Baru dibuat dari emas tulen. Dalam pasal 21:21 emas itu "bagaikan kaca bening". Rupanya emas itu tembus cahaya, sehingga kemuliaan Allah lebih menonjol lagi.

21:19-20  Dan dasar-dasar tembok kota itu dihiasi dengan segala jenis permata. Dasar yang pertama batu yaspis, dasar yang kedua batu nilam, dasar yang ketiga batu mirah, dasar yang keempat batu zamrud, dasar yang kelima batu unam, dasar yang keenam batu sardis, dasar yang ketuju batu ratna cempaka, yang kedelapan batu beril, yang kesembilan batu krisolit, yang kesepuluh batu krisopras, yang kesebelas batu lazuardi dan yang kedua belas batu kecubung.
Permata-permata serta warnanya bermaksud memberi kesan menyeluruh tentang kekokohan dan semarak yang mencerminkan kemuliaan Allah (bdk 2Kor. 3:18;. Yes. 54:11-12; Yeh. 28:13) sekalipun permata-permata itu mengingatkan pakaian (dada) imam besar (Kel. 28:17-21; 39:10-14). Dalam Yesaya 54:11-12  dikatakan, "...Sesungguhnya, Aku akan meletakkan alasmu dari batu hitam dan dasar-dasarmu dari batu nilam. Aku akan membuat kemuncak-kemuncak tembokmu dari batu delima, pintu-pintu gerbangmu dari batu manikam merah dan segenap tembok perbatasanmu dari batu permata." Apa yang dinubuatkan oleh Nabi Yesaya dikembangkan dalam Kitab Wahyu pasal 21:19-20. Menurut seorang sarjana dari abad ketujuh belas,  batu permata yang diceritakan dalam daftar ini sama dengan batu permata yang melambangkan kedua belas rasi bintang, tetapi urutan yang dipakai dalam dua ayat ini berlawanan dengan urutan rasi bintang yang tradisional. Menurut Beasley-Murray,[70] urutan ini menandai bahwa kerinduan yang dirindukan oleh orang kafir dapat dipenuhi dalam Anak Domba dan dalam Allah. Ia mengamati kesejajaran tersebut, tetapi menurut dia, urutannya diputarbalikkan untuk menandai bahwa rasi bintang harus ditolak oleh umat Allah. Walaupun rinciannya sulit dipastikan, tetapi secara menyeluruh ada kesan bahwa keindahan dan kemewahan Kota Yerusalem Baru tak terkatakan.[71] Ungkapan segala jenis permata sebetulnya menunjuk  pada setiap permata yang dikenakkan oleh seorang pengantin perempuan untuk suaminya. Nama-nama kedua belas permata itu telah dikaitkan dengan berbagai batu permata pada penutup dada imam agung (Kel. 28:16-21) seperti disebut di atas, tetapi nama-nama permata itu berbeda dengan nama-nama yang disebutkan Yohanes, atau dengan permata-permata yang dikaitkan dengan kedua belas zodiac. Akan tetapi Yohanes barangkali semata-mata memikirkan keindahan perhiasan sang pengantin perempuan yang begitu berbeda dengan permata-permata palsu pada perempuan berwarna kirmizi itu (lih.17:4).[72] Nama modern batu-batu tersebut sulit dipastikan karena warna dan sebutannya sagat bervariasi.
·           Batu yaspis adalah batu yang seperti Kristal yang berwarna hijau dan agak tembus cahaya
·           Batu nilam adalah batu pertama yang berwarna biru tua dengan bintik-bintik berwarna emas. Masa kini batu permata itu disebut lapis lazui.
·           Batu merah adalah batu hijau yang dapat ditemukan di dekat Khalkedon di Turki
·           Batu zamrud seperti berlian yang berwarna hijau
·           Batu unum adalah batu yang berlapis merah
·           Batu sardis adalah batu yang berwarna merah dan sering dipakai untuk bahan ukir-ukiran
·           Batu ratna cempaka adalah batu yang berwarna keemasan atau kuning
·           Batu beril berwarna hijau
·           Batu krisolit berwarna hijau keemasan atau kuning
·           Batu krisopras adalah kwarsa yang hijau seperti sebuah apel
·           Batu lazuardi adalah batu yang berwarna biru keuangan, seperti batu nilam masa kini, tetapi ada kemungkinan batu ini berwarna merah
·           Batu kecabung adalah kwarsa yang berwarna ungu. Pada zaman itu orang berpikir bahwa batu kecubung dapat menjadi penawar kemabukan.[73]

21:21 Dan kedua belas pintu gerbang itu adalah dua belas mutiara: setiap pintu gerbang terdiri dari satu mutiara dan jalan-jalan kota itu dari emas murni bagaikan kaca bening.
Rabi-rabi Israel zaman itu juga berkata bahwa pintu gerbang Yerusalem akan dibuat dari sebuah mutiara. Mutiara seperti apa yang diungkapkan dalam ayat ini sulit dibayangkan. Demikian juga emas yang tembus cahaya seperti kaca bening. Pada zaman itu kaca biasanya gelap. Hanya orang kaya raya sajalah yang mempunyai kaca bening. Tetapi tidak ada orang di bumi ini yang mempunyai emas yang sungguh murni, apalagi yang bagaikan kaca bening! Menurut 1 Raja-raja 6:30 lantai Bait Allah dilapisi emas. Tetapi menurut ayat ini, jalannya dibuat dari emas murni!
Taman Firdaus[74] Allah (21:22:22:5)
21:22 Dan aku tidak melihat Bait Suci di dalamnya; sebab Allah, Tuhan yag mahakuasa, adalah Bait Sucinya, demikian juga Anak Domba itu.
Bait Allah, tempat kediaman-Nya di tengah Yerusalem dahulu, Why.  11:19; 14:15-17; 15:5-16:1, sekarang sudah hilang. Sebab tubuh Kristus yang dipersembahkan sebagai korban tetapi dibangkitkan menjadi tempat ibadah rohani yang baru (Yoh. 2:19-22; Yoh. 4:23-24; Rom. 12:1). Bait Suci, dengan segala lambang-lambangnya, tidak ada lagi karena kenyataan yang diceritakan lewat lambang-lambang itu kini sudah hadir, yaitu di dalam pribadi Yesus Kristus, yang terus dijuluki sebagai Anak Domba.[75] Bait suci dalam bagian-bagian sebelumnya memang menunjuk pada tempat suci. Akan tetapi hal tersebut tidak selalu harus berwujud bangunan (gedung). Kebanyakan tempat suci orang-orang Kanaan hanyalah sekadar tempat ibadah terbuka, yang biasanya berada di puncak bukit, di mana dewa-dewa konon tinggal, dan di seluruh dunia ada banyak tempat suci yang tidak mempunyai bangunan. Yohanes ingin mengatakan bahwa di kota yag suci itu seperti yang ia lihat dalam penglihatannya, tidak lagi dibutuhkan sebuah tempat yang dikhususkan untuk ibadah, karena seluruh kota itu dipenuhi dengan kehadiran Allah.[76]

21:23 Dan kota itu tidak memerlukan matahari dan bulan untuk menyinarinya, sebab kemuliaan Allah menyinarinya dan Anak Domba itu adalah lampunya.
Seperti yang sudah ditekankan dalam pasal 21:11, kemuliaan Allah nyata, bahkan bercahaya, di dalam Yerusalem Baru. Yesaya 60:19 menegaskan keadaan yang sama: "Bagimu matahari tidak lagi menjadi penerang pada siang hari dan cahaya bulan tidak lagi memberi terang pada malam hari, tetapi Tuhan akan menjadi penerang abadi bagimu dan Allahmu akan menjadi keagunganmu."[77] Setelah mengemukakan bahwa kota ini tidak ada bait sucinya, Yohanes kemudian menyebut bahwa kota itu diterangi secara cemerlang oleh kemuliaan Allah sehingga tidak memerlukan sinar matahari atau bulan, sekalipun keduanya masih tetap bersinar. Kehadiran Allah tidak perlu dicari lagi: kehadiran itu dikenali, dirasakan, universal dan merasuk segala sesuatu seperti terangnya siang. Dalam ayat ini tidak dikatakan  bahwa di dalam kekekalan tersebut tidak ada matahari atau bulan, tetapi bahwa orang  tidak memerlukan terang matahari dan bulan sebab kemuliaan Allah akan menerangi kota itu.[78] Sebagaimana  lilin diperlukan pada malam hari, demikian pula dibutuhkan terang dari matahari dan bulan dalam kehidupan saat ini. Akan tetapi hal itu  tidak akan diperlukan lagi di hadapan Allah yang adalah terang itu sendiri. Penjelasan ini sesuai juga dengan Yohanes 1:19:[79] “Terang sesungguhnya yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia.”

21:24, 26 Dan bangsa-bangsa akan berjalan di dalam cahayanya dan raja-raja di bumi membawa kekayaan mereka kepadanya; dan kekayaan dan hormat bangsa-bangsa akan dibawa kepadanya.
Dalam ayat ini (yang dilatarbelakangi Yesaya 60:3-11) tema kesejajaran antara Yerusalem Baru dan Babel diungkapkan lagi. Dalam pasal 17 dan 18 bangsa-bangsa dan raja-raja disesatkan dan dijadikan mabuk oleh Kota Babel (lihatlah misalnya pasal 17:2, 15, 18; 18:3, 9, dan 23). Tetapi pada zaman kekekalan, bangsa-bangsa dan raja-raja yang ada menyerahkan kekayaan mereka kepadanya. (Bandingkanlah nas ini dengan pasal 22:2.) Akhirnya Yerusalem Baru merebut kembali loyalitas mereka, dan Babel dikalahkan oleh Yerusalem Baru. Keadaan rohani mereka yang ada di luar Yerusalem Baru, yang membawa kekayaan mereka ke kota yang indah itu perlu dipikirkan. Kita sudah melihat bahwa mereka yang menang akan didudukkan di atas takhta Tuhan Yesus, dan akan memerintah atas bangsa-bangsa. Keadaan orang percaya yang tidak menang, yang tidak bertobat sesuai dengan tuntutan-tuntutan yang diungkapkan dalam pasal 2-3, tidak dibahas. Mungkinkah mereka seperti ini? Mereka selamat, sehingga tidak dilemparkan ke dalam lautan api, tetapi mereka tidak meraih mahkota dan takhta. Mereka menjadi warga dari kerajaan kekekalan, tetapi tanpa pahala. Mungkinkah ayat ini menjelaskan keadaan mereka? Mereka di luar Kota Yerusalem Baru, mereka menikmati cahayanya di sana, dan mereka membawa kekayaan mereka kepadanya, tetapi mereka tidak boleh tinggal di dalamnya.[80] Banyak orang yang bingung karena pernyataan bahwa bangsa-bangsa akan berjalan di dalam cahayanya dan raja-raja di bumi membawa kekayaan mereka kepadanya, dan bertanya-tanya apakah mungkin adalah orang lain yang tinggal di luar warga kota suci ini?
Siapakah gerangan bangsa-bangsa yang berjalan di dalam cahaya Kota Kudus dan siapa pula raja-raja di bumi yang membawa kekayaan mereka ini? Govett[81] mungkin benar ketika mengatakan. "Yang dimaksudkan dengan 'raja-raja di bumi adalah raja dari bangsa-bangsa. Karena bangsa-bangsa tersebut kini telah dialihkan ke dunia yang baru, demikian pula raja-raja mereka. Subordinasi kedudukan merupakan bagian dari skema abadi Allah untuk kekekalan. Mereka disebut 'raja-raja di bumi' untuk membedakan mereka dengan 'raja-raja dari kota itu.' Waktu itu terdapat dan kelompok raja: yaitu orang-orang yang dijadikan raja dan imam bagi Allah oleh darah Yesus, yang telah bangkit dari kematian dan tinggal bersama dengan Allah: dan orang-orang yang masih di dalam daging tinggal di antara bangsa-bangsa di luar kota tersebut. Hal ini disebabkan karena para anggota kota tersebut adalah raja dari raja dan mereka akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya' (22:6). Dengan demikian, raja-raja di bumi yang sadar akan kedudukan mereka yang lebih rendah,  dan yang ingin tampil di hadapan Allah beserta para hamba-Nya yang telah bangkit, datang membawa upeti." Penyebutan bangsa-bangsa sebetulnya dimaksudkan untuk dua hal, yaitu ia menulis tentang masa depan dari Gereja yang sama yang sedang bekerja di dunia pada waktu itu dan bahkan sampai sekarang, dan banyak dari apa yang ia tuliskan berkaitan dengan masa depan maupun masa kini. Jadi penglihatannya itu mengingatkan dia dan para pembacanya bahwa Gereja terbuka kepada segala bangsa. Di pihak lain, ini adalah penglihatan tentang masa depan, masa depan yang kekal, dan masuknya bangsa-bangsa dan raja-raja mereka adalah peringatan bahwa belas-kasihan Allah masih jauh lebih luas daripada yang dikira banyak orang. Rencana Allah meliputi keselamatan, bukan hanya bagi Gereja tetapi juga dunia. Yohanes tidak bermaksud bahwa pada akhirnya semua orang akan diselamatkan, malah ia sama sekali tidak mengajarkan doktrin apa pun.[82] Kepadanya semata-mata diperlihatkan dalam penglihatannya bahwa kasih karunia Allah lebih luas dari Gereja.  

21:25 dan pintu-pintu gerbangnya tidak akan ditutup pada siang hari sebab malam tidak akan ada lagi di sana;
Ini hanya menunjuk kepada Kota Kudus itu, karena Yohanes tidak mengatakan bahwa di bumi yang baru itu tidak akan ada lagi malam. Beberapa orang percaya bahwa di luar kota itu masih akan ada malam, karena Allah telah berjanji bahwa siang dan malam tidak akan pernah lenyap (Mzm. 148:3-6; Yes. 66:22-23; Yer. 33:20-21,25). Malam memang tidak akan ada lagi Sebab Kristus yang dibangkitkan (Why. 21:22+) memancarkan terang dan kesucian-Nya (Why. 21:27)  kepada semua bangsa yang berkumpul (Why. 22:5, bdk. Yoh. 8:12+; 2 Kor. 4:6).[83]
Para pembaca mula-mula di Smirna tidak menikmati apa yang disebut rasa aman. Harta dan jiwa mereka terancam. Keadaan mereka nanti di Yerusalem Baru begitu aman sehingga pintu-pintu gerbangnya tidak akan ditutup. Tidak ada lagi musuh yang mengancam mereka. Keadaan ini sudah dinubuatkan dalam Yesaya 60:11, yang berkata "Pintu-pintu gerbangmu akan terbuka senantiasa, baik siang maupun malam tidak akan tertutup, supaya orang dapat membawa kekayaan bangsa-bangsa kepadamu, sedang raja-raja mereka ikut digiring sebagai tawanan."  Zakharia 14:7 berkata: "Tetapi akan ada satu hari-hari itu diketahui oleh Tuhan dengan tidak ada pergantian siang dan malam, dan malam pun menjadi siang." Apa yang dikiaskan dalam Efesus 5:8-14 menjadi harfiah dalam Yerusalem Baru, saat malam tidak akan ada lagi. Ada penafsir yang berkata bahwa ini bertentangan dengan pasal 7:15, saat dikatakan bahwa mereka "melayani Dia siang malam". Tetapi hal ini tidak kontradiktif karena pasal 7:15 menceritakan janji yang akan digenapi pada masa Kerajaan Seribu Tahun, sedangkan pasal 21:25 menceritakan keadaan masa kekekalan.[84]

21:27 Tetapi tidak akan masuk ke dalamnya sesuatu yang najis, atau orang yang melakukan kekejian atau dusta, tetapi hanya mereka yang namanya tertulis di dalam kitab kehidupan Anak Domba itu.
Di dalam Surga Baru dan Bumi Baru sudah tidak ada lagi sesuatu yang najis, atau orang yang melakukan kekejian atau dusta. Ayat ini menegaskan kekudusan Yerusalem Baru. Demikian juga Yesaya 52:1, yang berkata: "...Kenakanlah pakaian kehormatanmu, hai Yerusalem, kota yang kudus! Sebab tidak seorang pun yang tak bersunat atau yang najis akan masuk lagi ke dalammu." Ayat ini termasuk yang paling meyakinkan, menghibur dan penuh harapan dalam Alkitab: mereka yang masuk ke dalam kota itu adalah mereka yang namanya tertulis di dalam kitab kehidupan Anak Domba itu. Dua faktor mengerikan yang tidak dapat dielakkan mencegah manusia untuk masuk ke dalam Kota Kudus itu; dosa dan maut. Adalah Anak Domba yang menghapus dosa dunia, dan adalah Anak Allah yang memberikan kehidupan sebaliknya dari maut. Tertulis di dalam Kitab Kehidupan Anak Domba berarti sudah ditebus oleh Anak Domba Allah.

22:1 Lalu ia menunjukkan kepadaku sungai air kehidupan, yang jernih bagaikan kristal, dan mengalir ke luar dari tahkta Allah dan tahkta Anak Domba itu.
            Sungai air kehidupan dapat dibandingkan dengan sungai di Firdaus (Kej. 2:10). Yohanes melukiskan sebuah gambaran tentang air yang jernih, segar, dan memberikan kehidupan. Baginya, seperti juga bagi semua orang, kisah Firdaus adalah sebuah kisa kuno. Tetapi baik orang-orang Yunani maupun Romawi menghargai air yang bersih di kota mereka, dan Yohanes tahu apa arti air di iklim yang panas.[85]

22:2 Di tengah-tengah jalan kota itu, yaitu di seberang-menyeberang sungai itu, ada pohon-pohon kehidupan yang berbuah dua belas kali, tiap-tiap bulan sekali; dan daun pohon-pohon itu dipakai untuk menyembuhkan bangsa-bangsa.
            Dengan pohon kehidupan biasanya diterjemahkan sepotong kayu, jarang sekali pohon yang hidup. Sejumlah penafsir berpendapat bahwa Yohanes menunjuk pada salib Kristus, karena kata yang sama pun digunakan dalam Galatia 3:13 dan 1 Petrus 2:24. Tetapi agaknya lebih mungkin bahwa Yohanes semata-mata mengutip dari versi Perjanjian Lama bahasa Yunani (bdk jg. Kej. 2:9). Dikatakan bahwa pohon-pohon kehidupan itu berbuah dua belas kali, sekali sebulan. Banyak bangsa percaya, bahkan sampai sekarang bahwa ada makanan untuk dewa-dewa, yang memungkinkan mereka menikmati kehidupan kekal, dan ada juga makanan kehidupan yang mungkin memberikan manusia kehidupan yang kekal, kalau saja mereka dapat memperolehnya. Yohanes jelas tidak ingin mengatakan bahwa Allah membutuhkan makanan apa pun, tetapi ia ingin menjelaskan bahwa di kota Allah akan tersedia apa pun yang diperlukan manusia. Untuk menyembuhkan bangsa-bangsa. Pohon pengetahuan tentang hal yang baik dan yang jahat ternyata adalah pohon beracun dan menyebabkan penderitaan-penderitaan dunia (Kej. 2:17; 3:1-9). Pohon kehidupan membawa penyembuhan.[86] Hal tersebut nyata lewat deskripsinya sebagai sebuah pertumbuhan yang berlimpah. Sesungguhnya kata-kata dalam ayat ini sebenarnya menunjuk seluruh kebun dan bukan hanya sebatang pohon belaka, sebuah Firdaus yang baru, amat kaya dan bermacam-macam warna dan jenisnya pada kedua sisi sungai air kehidupan. Keindahannya lebih diperoleh dari kesannya dan bukan dari pelukisannya, dan tekanannya adalah pada maksudnya: pohon kehidupan itu memberikan kesembuhan dari sakit-penyakit di masa lampau dan makanan bagi kehidupan kekal.
            Sungai air kehidupan dan pohon kehidupan adalah gagasan-gagasan umum dalam bahasa tradisional dan simbolis Israel dan dari banyak bangsa di berbagai bagian dunia. Makanan dan minuman amatlah penting untuk mempertahankan kehidupan, dan sewajarnyalah bila orang menganggap bahwa makanan dan minuman dibutuhkan untuk kehidupan kekal. Penglihatan Yohanes mengenai air kehidupan dan pohon kehidupan mengikuti bahasa tradisional ini, guna menjelaskan bahwa kota Allah mempunyai segala sesuatu yang dibutuhkan untuk kehidupan kekal.

E. Pesan Teologis
            Ada beberapa gagasan teologis yang mengemuka dalam penceritaan mengenai langit yang baru dan bumi yang baru. Hal ini berkaitan dengan Yerusalem baru, kota kudus yang turun dari Allah. Kerajaan yang mencapai kesempurnaannya:
·      Gambaran yang diberikan Yohanes mengenai firdaus merupakan cerminan yang pucat atas kenyataan yang sesungguhnya. Akan tetapi hal tersebut sungguh riil. Tidak seorang pun dapat mengungkapkan dengan tepat: “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata dan tidak pernah didengar oleh telingah, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia; semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.” (1 Kor. 2:9). Cara terbaik untuk berbicara tentang firdaus dan kekekalan adalah lewat kata-kata yang diketahui.
·      Firdaus sungguh ada. Jika firdaus ada, maka kebahagiaan itu bukan ilusi. Allah menjanjikan firdaus yang indah bagi mereka yang tercatat namanya dalam kitab kehidupan. Adam memang terlempar dari firdaus, akan tetapi Kristus Adam yang baru menjadi jaminan bahwa semua yang mengikuti Kristus sebagai jalan, kebenaran dan hidup bisa mengalami kebahagiaan firdaus.
·      Lenyaplah langit yang pertama dan bumi yang pertama bukan ancaman bagi manusia yang percaya. Hal tersebut justru membangkitkan asah, bahwa di tengah kegelapan dan keputusasahan orang harus tetap memiliki harapan.[87] Harapan itu perlu terarah kepada Kristus sendiri yang dengan diri-Nya sendiri sebagai Anak Domba Allah menjadi kurban sembelihan untuk menerangi manusia gelap yang terkurung dalam daftar dosa-dosa. Maut sirna akibat kemenangan Anak Domba.
·      Hidup dalam Tuhan berarti masuk dalam terang keselamatan. Kemuliaan Allah menyinari semua orang yang bersatu dengan-Nya. Dalam arti itu kegelapan sirna. Manusia dicahayai oleh Allah dan bisa mencahayai orang lain lewat terang diri sendiri bagaikan batu permata yang bersinar saat sadar akan kekuatan matahari yang membuatnya terang dan berkilauan. Satu sinar yang terungkap jelas dari kelekatan dengan Anak Domba. Anak Domba adalah lampu. Satu perkenalan dalam kitab wahyu yang mengingatkan identitas diri Yesus Kristus yang adalah Terang dunia. Terang telah terbit dan kita pun bersinar.
·      Yerusalem lama memang jahat. Kemanusiaan Anak Domba bahkan harus diseret dan di sembelih di kota ini. Akan tetapi kota inilah yang menjadi kota suci. Bukan karena masyarakatnya yang meluapkan sikap elok dan kudus, melainkan karena kemenangan Anak Domba atas maut yang membawa-Nya ke gunung penderitaan. Di balik salib ada kemenangan. Di balik penderitaan ada kebahagiaan.
·      Yerusalem yang baru sebenarnya menunjuk pada Gereja. Bukan keselamatan Israel saja. Bukan hanya Israel yang menjadi bangsa pilihan. Bukan bangsanya, melainkan warga dunia yang hidup dalam kebenaran. Mengedepankan kebenaran berarti menempatkan Tuhan di depan. Dalam arti itu Gereja disebut sebagai mempelai Anak Domba. Di situlah semua orang bersatu dengan Allah. Mereka akan menjadi umat-Ku dan Aku menjadi Allah mereka.
·      Perkenalan diri Allah sebagai Alfa dan Omega menunjukkan bahwa dunia ada dalam tangan Tuhan. Allah menguasai waktu. Ia menjadi asal dan tujuan hidup manusia. Ini menekankan kekekalan Allah. Ada bersama Allah memungkinkan dan memberikan jaminan kehidupan yang kekal.







DAFTAR PUSTAKA

David H. van Daalen, Pedoman ke dalam Kitab Wahyu Yohanes, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999
G. R. Beasley-Murray, Wahyu, dalam: Tafsran Alkitab Masa Kini, Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 1976
Drs. J. J. de Heer, Wahyu Yohanes II, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1983
John J. Collins, Yesaya, dalam: LBI: Tafsir Alikitab Perjanjian Lama, Yogyakarta: Kanisius, 2002
Richard J. Clifford, Mazmur, dalam: LBI: Tafsir Alikitab Perjanjian Lama, Yogyakarta: Kanisius, 2002
Stefan Leks, Tafsir Injil Matius, Yogyakarta: 2003
Jacob van Bruggen, Markus Injil Menurut Petrus, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006
I. Suharyo, Kitab Wahyu, Yogyakarta: Kanisius, 1993
Ds. A. Pos, Tafsiran Wahyu, Djakarta: badan Penerbit Kristen, 1955
Catatan kaki dalam: LAI, Kitab Suci Katolik, Ende: Percetakan Arnoldus, 2001
Norman Hillyer, 1dan 2 Korintus, dalam: Tafsran Alkitab Masa Kini 3 (Matius-Wahyu), Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 1976
LBI, Kitab Wahyu, Yogyakarta: Kanisius, 1983
H. Haag, Kamus Alkitab, Ende: Penerbit Nusa Indah, 1982, entri: Firdaus
Xavier Leon-Dufour, Ensiklopedi Perjanjian Baru, entri: Wahyu
Theological Dictionary of the New Testament, Vol. I, Edited by Gerhard Kittel, (Grand Rapids, Michigan: WM. B. Eerdmans Publishing Company, 1968)
Lembaga Biblika Indonesia, Kitab Suci Perjanjian Baru: dengan pengantar dan catatan – Wahyu kepada Yohanes.









[1] Dibandingkan dengan tulisan-tulisan Perjanjian Baru yang lain, Kitab Wahyu terasa istimewa. Keistimewaan itu segera terasa kalau kitab itu mulai dibaca. Gayanya, lambang-lambang yang dipakainya dan jalan pikirannya sulit dimengerti, bahkan membingungkan. Maka tidak mengherankan kalau ada begitu banyak ragam tafsiran atas Kitab Wahyu, termasuk penafsiran yang harus dikatakan aneh, dilihat dari sudut ilmu tafsir yang lazim.
A. Penafsiran yang menyimpang
Salah satu contoh penafsiran ekstrem dan menyimpang dilihat dari sudut ilmu tafsir yang lazim adalah yang dilakukan oleh seorang bernama Vernon Wayne Howell, pemimpin kelompok yang menamakan diri Ranting Daud. Mereka tinggal di suatu wilayah yang mereka sebut Ranch Apocalypse. Sejak tanggal 28 Februari 1993, penanggung jawab keamanan Amerika Serikat mengepung Ranch Apocalypse, karena penghuninya dianggap melanggar hukum, yaitu menumpuk senjata dan amunisi secara ilegal. Tetapi sekte yang menghuni Ranch itu  berpikir lain. Mereka dengan penuh keyakinan sedang mempersiapkan pertempuran terakhir antara kekuatan baik melawan kekuatan jahat, yang menurut Why. 16:6 akan terjadi di Harmagedon. Ketika dikepung, pimpinan Rach itu mengatakan baru bersedia menyerah kalau ia selesai menulis tafsiran mengenai tujuh meterai yang disebut dalam Why. 5:1. Why. 5:2 memuat pertanyaan, "siapakah yang layak membuka gulungan kitab itu dan membuka meterai-meterainya ?". Pertanyaan ini dijawab pada Why. 5:5 :"… sesungguhnya singa dari suku Yehuda, yaitu tunas Daud, telah menang, sehingga Ia dapat membuka gulungan kitab itu dan membuka ketujuh meterainya". Atas dasar teks ini, Vernon Wayne Howell berganti nama.  Ia mengidentifikasi diri dengan tokoh yang disebut dalam teks tersebut dan mengambil nama David Koresh. David adalah Daud yang disebut dalam ayat itu, sedang Koresh adalah Raja Persia yang digunakan oleh Allah untuk membebaskan umat-Nya dari pembuangan Babilonia (Yes4:5). Dengan demikian ia menyamakan diri dengan Mesias, keturunan Daud dan merasa dirinya sebagai mandataris untuk menuntun dunia ini ke perang terakhir yang menentukan yang akan terjadi di Harmagedon. Ini semua berakhir dengan bunuh diri massal yang terjadi pada hari Senin, tanggal 19 April 1993, ketika kamp mereka diserang oleh penanggungjawab keamanan. Tampaknya timbul dan tenggelamnya sekte-sekte yang menganut ajaran sejenis itu  tidak akan pernah berhenti.  Di samping alasan-alasan sosio-religius dan sosio-psikologis, salah satu pemicunya adalah penafsiran sewenang-wenang atas Kitab Wahyu. Diagkat juga tentang Harmegedon.  Harmagedon digambarkan sebagai padang fiktif. Nama ini adalah transliterasi ke dalam bahasa Yunani dari nama kota Megido, yang terletak pada celah pengunungan di wilayah Galilea. Karena tempatnya amat strategis, merupakan persimpangan jalan dari Afrika (Mesir), Eropa dan Asia, sejak jalan Perjanjian Lama kota itu selalu menjadi ajang pertempuran. Menurut pemikiran David Koresh - atau mungkin lebih tepat imaginasi  ilusifnya - , pertempuran terakhir ini seharusnya terjadi di Timur Tengah, yang sampai saat itu selalu berada dalam situasi politik yang panas. Situasi panas itu dibayangkan akan menyulut perang nuklir yang menghancurkan dunia. Tetapi ternyata sekitar tahun 1980, Timur Tengah menjadi relatif tenang. Oleh karena itu, masih menurut imaginasi David Koresh, padang kehancuran itu pindah ke Waco, Texas, Amerika Serikat. Ketika pasukan keamanan  benar-benar mengepung Ranch Apocalypse itu, yakinlah mereka bahwa yang mereka rekonstruksi benar-benar syah. Dan seperti sudah dikatakan, semuanya berakhir secara tragis. Ternyata ada orang yang menafsirkan Kitab Wahyu dengan cara seperti itu. Gaya penafsiran semacam ini, di lingkungan orang-orang yang berada dalam situasi psikologis tertentu (misalnya, merasa hidup tidak bermakna) menciptakan yang disebut "krisis mentalitas". Dengan penafsiran seperti itu, orang dibuat tidak berani melawan, takut, tunduk sampai disuruh apa pun mereka bersedia. Seolah-olah mereka terbius, dan dalam keadaan seperti itu David Koresh memasukkan ide tentang akhir jaman, perang antara yang baik dan yang jahat yang langsung melibatkan seluruh diri mereka dan mempersatukan mereka untuk melakukan suatu gerakan menghancurkan kejahatan. Di adas sudah dikatakan kelompok atau sekte Ranting Daud yang dipimpin oleh David Koresh ini bukanlah yang pertama dalam sejarah, dan juga bukan yang terakhir. Kelompok semacam ini biasanya muncul dalam lingkungan masyarakat "marginal", tertekan atau kalah dalam percaturan hidup di dunia ini. Beban-beban hidup terlalu berat untuk ditanggung. Daya tahan mereka yang biasa, tidak cukup untuk menghadapi tantangan-tantangan dunia ini. Oleh karena itu tidak jarang mereka menciptakan dunia lain. Di dunia lain itulah mereka dapat tampil, merasa terangkat dan mempunyai kuasa. Tidak mengherankan bahwa kelompok seperti itu bisa bertumbuh subur di negera-negara maju, seperti Amerika Serikat, Jepang dan Korea Selatan. Sebagian tidak kecil dari masyarakat maju mengalami krisis identitas, bukan hanya sebagai pribadi tetapi sebagai masyarakat. Mereka merasa resah, secara mental maupun spiritual. Mereka berusaha mencari makna kehidupan, tetapi tidak sabar menanti jawaban dalam perjuangan hidup yang nyata ini yang dianggap penuh dengan kejahatan. Kalau proses semacam ini berlanjut, tahap berikutnya ialah perasaan putus asa. Dan dalam keadaan seperti itu mereka mencari jalan pintas yang dirasionalisasi dengan kategori-kategori berpikir keagamaan. Dalam kombinasi itu mereka menemukan bentuk-bentuk kehidupan yang ekstrem, biasanya dengan ciri-ciri berikut ini : ajarannya  mudah, jelas, dramatis, memanipulasi kerinduan atau ketakutan psikologis tertentu (takut salah, sesal berlebihan, merasa berdosa). Salah satu ajaran yang menyelesaikan segala-galanya adalah kiamat atau akhir jaman. Kalau dunia kiamat, seluruh kesulitan dan kekacauan hidup ini akan berakhir. Dalam konstruksi berpikir semacam ini, Kitab Wahyu bisa dengan mudah disalahgunakan.
B. Penggalian pesan kitab Wahyu
Ternyata Kitab Wahyu dapat dengan mudah disalah-tafsirkan, bukan hanya dalam tingkatan paham melainkan sampai ke tingkatan tindakan yang melibatkan seluruh pribadi dan banyak orang. Sementara itu sebenarnya penulis Kitab Wahyu, seperti halnya penulis-penulis Kitab Suci yang lain, ingin mengembangkan iman para pembacanya agar mereka berani bertahan dan teguh berjuang dalam peziarahan hidup  nyata yang penuh dengan tantangan. Pesan seperti itu hanya dapat ditangkap, kalau Kitab Wahyu dimengerti dengan kaidah-kaidah penafsiran yang lazim, yaitu dengan memperhatikan jenis sastra. Meskipun disebut Kitab Wahyu, tulisan ini tidak memuat kebenaran-kebenaran yang samasekali baru dan berbeda disbandingkan dengan tulisan-tulisan PB yang lain. Yang baru ialah gaya dan pengungkapannya dalam cara berpikir umat kristiani yang sesuai dengan zamannya. Secara sederhana bisa dikatakan bahwa isi pokok warta Kitab Suci Perjanjian Baru adalah Kerajaan Allah. Perjanjian Lama merupakan persiapan pewartaan itu. Injil-injil berisi pewartaan Kerajaan Allah oleh Yesus dalam sabda dan karya-Nya. Kisah Para Rasul berisi pewartaan Kerajaan Allah oleh Gereja yang sedang berkembang. Adapun Surat-surat mengemukakan berbagai perwujudan Kerajaan Allah dalam kehidupan jemaat yang menghadapi berbagai macam tantangan dan keadaan yang berbeda-beda. Kitab Wahyu memusatkan perhatian pada kepenuhan Kerajaan Allah pada akhir jaman. Untuk pewartaan itu digunakan  jenis sastra apokaliptik. Sastra apokaliptik muncul setelah sastra kenabian berhenti. Ketika sastra apokaliptik tidak dipakai lagi, yang muncul menyusul adalah rabinisme.
1 Kenabian
Pada dasarnya yang dilakukan oleh para nabi ialah membaca situasi aktual dan mengartikannya dalam terang firman Allah. Para nabi bisa menjalankan peran itu dengan baik karena mereka  mempunyai karisma kenabian yang tidak dimiliki oleh orang lain. Karisma kenabian ini menjamin bahwa yang dipikirkan, dirasakan dan dikatakan oleh para nabi benar-benar sesuai dengan pikiran, perasaan dan rencana Allah. Kecuali itu mereka juga mempunyai "kemampuan analisis" yang tajam atas situasi politik, budaya, keagamaan serta realitas kehidupan pada umumnya yang seringkali amat kompleks. Atas dasar kemampuan itu para nabi melontarkan kritik-kritik kenabian mereka dari dalam, sebagai orang-orang yang sungguh terlibat dalam kehidupan bangsanya. Kata-kata nabi disebut nubuat, bukan karena yang mereka katakan adalah ramalan mengenai masa depan. Nubuat yang pasti  terlaksana adalah jaminan bahwa yang dikatakan oleh para nabi adalah benar-benar firman Allah. Lama kelamaan arus kenabian ini menjadi lemah dan akhirnya berhenti. Ada beberapa alasan yang dapat disebut. Pertama,  kenisah sudah hancur, sehingga penyalah-gunaannya (=ibadah palsu) yang merupakan sasaran kritik keras para nabi  juga sudah tidak perlu lagi. Kecua, politik dan agama menjadi satu, sehingga antitesis dialektis antara raja (=politik) dan nabi (=iman yang harus mewujud dalam hidup nyata) tidak ada lagi. Akhir arus kenabian membuka jalan bagi munculnya aliran dan sastra apokaliptik.
2. Apokaliptik
Kalau pewartaan kenabian memusatkan perhatian pada masa sekarang, apokaliptik mengarahkan perhatian ke masa depan, yaitu akhir sejarah. Akhir sejarah ini dilihat sebagai tumpuan kepastian harapan. Atas dasar kepastian itu orang dapat dan berani setia di jaman sekarang. Ada dua faktor yang mendorong munculnya pola pemikiran seperti ini. Pertama, hidup iman orang Yahudi sudah matang. Hidup iman ini dibangun atas dasar seluruh Perjanjian Lama, yang isi pokoknya adalah keyakinan bahwa Allah selalu setia dan menunjukkan belaskasihan-Nya. Kedua, situasi sosial-politik-religius yang mencengkam. Karena iman mereka, orang-orang beriman dianiaya secara besar-besaran . Dalam keadaan seperti itu mereka harus menemukan makna pengalaman hidup mereka ini. Makna ini ditemukan dalam keyakinan bahwa Allah yang sejak dulu setia, akan selalu setia juga selama-lamanya. Kesetiaan Allah ini adalah jaminan bagi akhir yang gilang gemilang, entah bagaimana dan entah kapan. Kalau para nabi berkeyakinan bahwa keadaan sekarang harus berubah dan dibangun kembali atas dasar sabda Tuhan, penulis apokaliptik mempunyai pandangan lain. Secara populer pola berpikir apokaliptik dapat disejajarkan dengan orang yang mau meloncat jauh. Seorang peloncat jauh akan mundur mengambil ancang-ancang. Dari titik ancang-ancang ia akan berlari cepat dan pada titik tertentu ia meloncat jauh ke depan. Pola berpikir apokaliptik menilai keadaan dunia sekarang ini benar-benar mengerikan, tidak dapat diperbaiki lagi. Untuk menilai kepada masa sekarang yang kacau ini, ia mundur, mengenangkan karya-karya Allah di masa lampau. Kesimpulannya ialah Allah selalu setia.  Atas dasar kayakinan ini diambil kesimpulan untuk masa depan : Allah yang telah terbukti setia, akan selalu setia pula selama-lamanya. Maka, entah bagaimana dan entah kapan, Allah yang setia itu akan memberikan kemuliaan serta kemenangan kepada orang-orang yang percaya dan setia kepada-Nya.  Keyakinan iman inilah yang menjadi landasan sekaligus kekuatan untuk berani dan setia berjuang dalam kehidupan nyata yang penuh dengan kesulitan dan tantangan.
3.  Rabinisme
Setelah arus apokaliptik mundur, muncullah arus baru yaitu rabinisme. Yang berkembang dalam arus ini adalah tafsiran atas teks-teks Perjanjian Lama dalam rangka usaha mengetrapkan dan mengartikannya secara aktual. Muncullah Targum dan Talmud.
4. Apokaliptik bukan satu-satunya jenis atau bentuk sastra yang dipakai dalam Kitab Wahyu. Why 2-3 berbentuk surat. Bahkan dapat dikatakan bahwa pada dasarnya Kitab Wahyu berciri kenabian. Selain itu ada yang melihat  Kitab Wahyu sebagai buku liturgi yang menggunakan model liturgi Yahudi untuk mengungkapkan pengharapan. Tema dominan yang terdapat dalam Kitab Wahyu ialah rahasia kesetiaan Allah. Kesetiaan Allah ini sudah dialami oleh umat sepanjang sejarah dan diyakini akan berlangsung terus sampai kepenuhan waktu. Kesetiaan Allah inilah yang  menjamin kemenangan gilang-gemilang, yang dijanjikan kepada umat yang juga setia dalam pengharapan. Rahasia ini begitu besar dan mendalam, sehingga amat sulit atau bahkan tidak mungkin dirumuskan.  Rahasia itu dapat ditangkap melalui berbagai cara. Yang dapat disebut adalah : campur tangan Roh (Why1:10 ; Why4:2), penglihatan (Why17:3 ; Why21:10 ; 54 x dalam Kitab Wahyu) dan perantaraan para malaikat (1:1; 67 x dalam Kitab Wahyu). Malaikat adalah utusan Allah yang mempunyai berbagai macam peranan dalam melaksanakan rencana penyelamatan Allah. Dalam banyak peristiwa malaikat-malaikat itu tampil sebagai "penafsir", yang memberikan penjelasan kepada para murid Yesus, mengenai peristiwa-peristiwa yang sulit ditangkap (bdk Mat28:1-10 dsj; Yoh20:11-18). Sejalan dengan itu, penerangan Roh dan penglihatan perlu dimengerti dengan kacamata yang sama, yaitu diletakkan dalam rangka karya penyelamatan Allah. Kalau demikian, penglihatan dapat dikatakan merupakan buah perenungan iman, penegasan dan pemahaman yang jernih berkat bantuan rahmat. Penglihatan itu terjadi di hadapan Tuhan, di tengah-tengah jemaat dan  keadaan aktual. Kesimpulan ini cukup jelas dalam teks-teks berikut . Pada Why. 1:10, dikatakan bahwa pada hari Tuhan, penulis dikuasai oleh Roh. Sebagai buahnya ia menulis surat kepada ketujuh jemaat. Kemudian pada Why. 4:1-2, sekali lagi penulis dikuasai oleh Roh. Karena itu ia mulai membaca tanda-tanda jaman dan sejarah dunia pada umumnya dalam terang iman. Rahasia Allah itu diungkapkan dalam lambang-lambang.  Berbicara dengan menggunakan lambang adalah hal yang sangat biasa dalam Kitab Suci. Dalam 1Raj. 11:30-32 diceritakan mengenai nabi Ahia yang memegang kain baru yang di badannya, lalu mengoyakkannya menjadi duabelas koyakan dan berkata kepada Yerobeam, "Ambillah bagimu sepuluh koyakan, sebab beginilah firman Tuhan, Allah Israel : sesungguhnya Aku akan mengoyakkan kerajaan itu dari tangan Salomo dan akan memberikan kepadamu sepuluh suku…". Kebanyakan lambang yang dipakai dalam  kitab Wahyu diambil dari tradisi kenabian. Ada lambang umum:  perempuan melambangkan jemaat (Why.12:1) atau kota (Why. 17:3); tanduk adalah lambang kekuasaan (Why. 5:6 ; Why. 12:3); terompet atau sangkakala adalah suara ilahi/surgawi yang menjadi tanda berlangsungnya karya Allah (Why1:10 ; Why8:2); jubah putih adalah lambang dunia kemuliaan (Why. 6:11 ; Why.7:913); laut adalah lambang kuasa yang merusak, sumber malapetaka (Why. 13:1 ; Why.21:1). Lambang itu juga dapat berupa warna : misalnya putih (Why.1:14 ; Why.2:17 ; Why.6:11) berarti kemenangan; merah (Why.6:4 ; Why.17:3) berarti kekerasan, tetapi juga darah para martir; hitam ( Why 6:5.12) berarti kematian. Lambang juga bisa berupa angka : tujuh (Why.1:11 ; Why.3:1 ; Why.8:1) berarti sempurna, utuh, penuh; enam (Why.13:18) berarti tidak sempurna, sementara; tiga setengah (Why.12:14) juga berarti tidak sempurna, waktu pencobaan, penganiayaan; angka tiga setengah ini bisa mengambil beberapa bentuk, misalnya satu masa tambah dua masa tambah setengah masa, yang sama dengan empat puluh dua bulan (Why.11:2 ; Why.13:5) atau 1260 hari (Why.11:3 ; Why.12:6); duabelas melambangkan Israel; seribu adalah jumlah yang tak dapat dihitung (Why.7:4-8 ; Why.14:1-5). Keyakinan iman pokok yang termuat dalam Kitab Wahyu dapat dirumuskan dengan kata lain sebagai berikut : sejarah, dalam segala perputarannya berada dalam rencana serta kuasa Allah yang selalu setia. Sejarah itu akan disempurnakan oleh Allah yang sama. Kesimpulan itu dapat dijelaskan atas dasar ayat-ayat kunci dalam Kitab Wahyu.  Allan berencana menyelamatkan manusia. Rencana penyelamatan Allah amat jelas terungkap dalam rangkaian teks-teks berikut ini. Menurut Why.4:2, dalam penglihatan Yohanes melihat "sebuah takhta berdiri di surga, dan di takhta itu duduk Seorang". Selanjutnya "di tangan kanan Dia yang duduk di atas takhta itu, sebuah gulungan kitab, yang ditulisi sebelah dalam dan sebelah luarnya dan dimeterai dengan tujuh meterai" (5:2). Kemudian pada Why.5:7 dikatakan, "Lalu datanglah Anak Domba itu dan menerima gulungan kitab itu dari tangan Dia yang duduk di atas takhta itu". Dialah "singa dari suku Yehuda, yaitu tunas Daud, telah menang, sehingga Ia dapat membuka gulungan kitab itu dan membuka ketujuh meterainya" (5:5). Rangkaian ayat-ayat ini amat jelas menunjukkan bahwa Allah yang Mahakuasa (=duduk di atas takhta) mempunyai rencana penyelamatan (=gulungan kitab). Rencana penyelamatan ini akan dinyatakan, dilaksanakan dan diselesaikan oleh Yesus, Sang Anak Domba (=Mesias, singa dari suku Yehuda, keturunan Daud). Namun keyakinan ini tampaknya tidak sejalan dengan kenyataan yang dihadapi oleh Gereja. Gereja Kristus yang memandang diri sebagai Israel baru, justru dimusuhi oleh agama Yahudi. Sementara itu malapetaka yang menimpa Yerusalem pada tahun 70 M juga masih terasa menggoncangkan. Dari sudut pandangan lain, Gereja harus berhadapan dengan kekuatan-kekuatan politik totaliter dan menderita di bawah pemerintahan itu (Why.12-20). Yang dimaksudkan dengan kekuatan politik totaliter adalah kekaisaran Romawi. Kendati keadaan seperti ini, ditunjukkan dengan jelas bahwa sejarah berada di bawah kuasa Allah. Ini tampak misalnya dalam munculnya kuda dengan berbagai macam warna dalam Why 6. Yang muncul pertama adalah kuda putih (ay 2). Mengenai kuda putih ini dikatakan, "… ada seekor kuda putih, dan orang yang menungganginya memegang sebuah panah dan kepadanya dikaruniakan sebuah mahkota. Lalu ia maju sebagai pemenang untuk merebut kemenangan". Kuda putih ini amat berbeda dibandingkan dengan kuda-kuda lain, kuda merah (ay 4), kuda hitam (ay 5), kuda hijau kuning (ay 8) yang dihubungkan dengan kekuatan jahat yang mengambil damai sejahtera (ay 4),  menyebarkan ketidakadilan (ay 6) dan mendatangkan maut (ay 8). Apalagi kalau dibaca bersama Why.19:11, lalu kelihatan bahwa penunggang kuda putih itu bernama "Yang Setia dan Yang Benar". Dengan kata lain, kuda-kuda yang lain boleh tampil baru sesudah kuda putih tampil dengan membawa kepastian kemenangan. Selain itu perlu diperhatikan pula bahwa kuda-kuda itu baru dapat tampil sesudah diberi kesempatan "mari" (ay 2, 3, 5, 7). Pelaksanaan rencana penyelamatan Allah tampak jelas dalam "rangkaian tujuh" yang terdiri dari tujuh meterai  (Why.6:1-17 ; Why.8:1-5), tujuh sangkakala yang ditiup setelah meterai ketujuh dibuka (Why.8:1-2 ; Why.8:6-9:21) dan tujuh cawan murka Allah (Why.15:5-8]). Pada waktu cawan ketujuh ditumpahkan (Why.16:17), terlaksanalah karya penyelamatan Allah itu : Bebel, lambang kuasa jahat jatuh (Why.17:1 ; Why.20:3).  Akhirnya jelas pula dinyatakan bahwa sejarah dunia ini akan disempurnakan dan dipenuhi oleh Allah. Kebahagiaan dan damai sejahtera abadi bukanlah hasil usaha manusia saja, melainkan pertama-tama adalah anugerah Allah. Akhir Kitab Wahyu mengatakan, "Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru!" (Why21:5). Di tempat lain dikatakan, "Lalu di dalam roh ia membawa aku ke atas sebuah gunung yang besar lagi tinggi dan ia menunjukkan kepadaku kota yang kudus itu, Yerusalem, turun dari surga, dari Allah" (Why21:10). Kedua teks ini dengan jelas menyatakan bahwa pelaku utama penyempurnaan sejarah ini adalah Allah sendiri.
Mgr Prof. Dr. I.  Suharyo Pr, Telaah tentang Kitab Wahyu, dalam: http://ekaristi.org/dokumen/wahyu.php?subaction=showfull&id=1140101698&archive=&start_from=&ucat=5&
[2] Wahyu berasal dari kata apokalipsys. Istilah Apokalipsys ini (Bahasa Yunani) dibentuk dari kata apo yang berarti jauh dari (sesuatu yang tersembunyi) dan kalypto berarti menyembunyikan “pernyataan” misalnya tentang penghakiman Allah, rahasia pribadi Yesus (Mat. 11: 25, 27;Luk. 10: 21-22; 16: 17, Luk. 17:30, Yoh. 12: 38, Rm. 1: 17-18; 2:5; 8: 18-19; 16: 25, Gal. 1:12, Ef. 1:17; 3:13, 1 Tes. 1:7; 2: 2), karunia adikodrati yang diberikan oleh Roh Kudus kepada orang-orang tertentu (1 Kor. 14: 26, 30, 2 Kor. 12:1,7, Gal. 2:2). Apokalipsis lalu umumnya di artikan sebagai “membuka selubung” atau menyingkapkan sesuatu yang tersembunyi. Xavier Leon-Dufour, Ensiklopedi Perjanjian Baru, entri: Wahyu
[3] http://alkitab.sabda.org/verse_commentary.php?book=66&chapter=21&verse=1
[4] Garis Besar
  1. Prolog
    (
    Why. 1:1-8)
  2. I. Tuhan yang Diagungkan dan Jemaat-Jemaat-Nya
    (
    Why. 1:9-3:22)
    1. A. Penglihatan dari Tuhan yang Diagungkan di Antara Kaki-Kaki Dian
      (
      Why. 1:9-20)
    2. B. Berita-Nya Kepada Tujuh Jemaat
      (
      Why. 2:1-3:22)
  3. II. Anak Domba yang Layak dan Peran-Nya pada Akhir Sejarah
    (
    Why. 4:1-11:19)
    1. A. Penglihatan dari Ruang Pengadilan yang Megah di Sorga
      (
      Why. 4:1-5:14)
      1. 1. Allah Pencipta atas Takhta-Nya Dalam Kekudusan yang Mempesona
        (
        Why. 4:1-11)
      2. 2. Gulungan Kitab yang Dimeterai dan Anak Domba yang Layak
        (
        Why. 5:1-14)
    2. B. Penglihatan dari Anak Domba Dalam Hubungan Dengan Tujuh Meterai
      dan Tujuh Sangkakala
      (
      Why. 6:1-11:19)
      1. 1. Pembukaan Enam Meterai yang Pertama
        (
        Why. 6:1-17)
        SELINGAN PERTAMA: Dua Kumpulan Orang Banyak
        (
        Why. 7:1-17)
      2. 2. Pembukaan Meterai yang Ketujuh: Tujuh Malaikat Dengan Tujuh
        Sangkakala
        (
        Why. 8:1-6)
      3. 3. Enam Sangkakala yang Pertama
        (
        Why. 8:7-9:21)
        SELINGAN KEDUA: Gulungan Kitab Kecil
        (
        Why. 10:1-11)
        Dua Orang Saksi
        (
        Why. 11:1-14)
      4. 4. Sangkakala yang Ketujuh
        (
        Why. 11:15-19)
  4. III.Tuhan Allah dan Kristus-Nya dalam Konflik Besar Dengan Iblis
    (
    Why. 12:1-22:5)
    1. A. Perspektif mengenai Konflik Itu
      (
      Why. 12:1-15:8)
      1. 1. Dari Pandangan Musuh-Musuh Bumi
        (
        Why. 12:1-13:18)
        1. a. Naga Besar
          (
          Why. 12:1-17)
        2. b. Binatang Laut
          (
          Why. 13:1-10)
        3. c. Binatang Bumi
          (
          Why. 13:11-18)
      2. 2. Dari Pandangan Sorga
        (
        Why. 14:1-20)
        SELINGAN KETIGA: Tujuh Malaikat dengan Tujuh Malapetaka
        (
        Why. 15:1-8)
    2. B. Perkembangan Terakhir dari Perjuangan Itu
      (
      Why. 16:1-19:10)
      1. 1. Tujuh Cawan Murka Allah
        (
        Why. 16:1-21)
      2. 2. Hukuman Atas Pelacur Besar
        (
        Why. 17:1-18)
      3. 3. Jatuhnya Babel yang Besar
        (
        Why. 18:1-24)
      4. 4. Sorak-Sorai di Sorga
        (
        Why. 19:1-10)
    3. C. Puncak Konflik Itu
      (
      Why. 19:11-20:10)
      1. 1. Kedatangan Kembali dan Kemenangan Kristus
        (
        Why. 19:11-18)
      2. 2. Kekalahan Binatang Itu dan Sekutu-Sekutunya
        (
        Why. 19:19-21)
      3. 3. Iblis Diikat, Dilepaskan Kembali dan Akhirnya Dikalahkan
        (
        Why. 20:1-10)
    4. D. Sesudah Konflik
      (
      Why. 20:11-22:5)
      1. 1. Penghakiman Takhta Putih yang Besar
        (
        Why. 20:11-15)
      2. 2. Nasib Orang-Orang yang Tidak Benar
        (
        Why. 20:14-15; 21:8)
      3. 3. Langit yang Baru dan Bumi yang Baru
        (
        Why. 21:1-22:5)
  5. Epilog
    (
    Why 22:6-21)

[5] Istilah “baru” dalam bahasa Yunani berarti kainos. Ini bukan menunjuk pada sesuatu yang lain sama sekali, melainkan lebih menunjuk pada sesuatu yang baru. Misalnya orang masuk yang menjadi Kristen disebut manusia baru. Pastinya ia adalah individu yang sama akan tetapi ia sama sekali telah diperbarui. Ia dilahirkan kemabali. Hal yang sama berlaku dalam ayat ini. Yohanes melihat langit dan bumi yang sama sekali diperbarui karena Allah menjadikan segala sesuatu baru. David H. van Daalen, Pedoman ke dalam Kitab Wahyu Yohanes, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999, hlm. 223
[6]Yohanes menunjuk pada pengarang kitab ini. Kitab Wahyu sendiri memberi suatu keterangan  mengenai pengarangnya. Pengarang menyebut namanya sebagai Yohanes 1:1, 4, 9 dan 22:8, yang menempatkan diri dalam kalangan para nabi (22:9) dan  menyebut diri dengan sebutan-sebutan umum seperti “hamba” Allah (1:1), “saudara dan sekutu dalam kesusahan” bagi yang dikirimi tulisan ini (1:9). Ia tinggal dan tempat menulisnya di Patmos (1:10). I Suharyo, Kitab Wahyu: Paham dan Maknanya Bagi Hidup Kekristenan, Yogyakarta: Kanisius, 1993, hlm. 12.
[7] G. R. Beasley-Murray, Wahyu, dalam: Tafsran Alkitab Masa Kini, Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 1976, hlm, 942
[8] Kitab Wahyu selalu memperlihatkan bahwa nubuat Perjanjian Lama selalu memperlihatkan bahwa nubuat Perjanjian Lama tidak kehilangan daya kekuatannya, tetapi pastilah dipenuhi. Drs. J. J. de Heer, Wahyu Yohanes II, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1983, hlm. 144
[9] Istilah ini memang diterjemahkan langit seperti pada Mat. 16:1-3, tetapi biasanya kata ini diterjemahkan “surge”, seperti dalam Mat. 16:17. Mungkin dalam kitab Wahyu, perbedaan antara surge dan langit tidak banyak dipertimbangkan. Misalnya dalam Why. 10:6: “…, demi Dia yang hidup sampai selama-lamanya, yang telah menciptakan langit dan segala isinya, dan bumi dan segala isinya, dan laut dan segala isinya.” Di sini kata langit bisa berarti “surge” atau “langit” karena dua-duanya diciptakan oleh Allah. Demikian juga pasal 9:1 yang berbunyi: “…aku melihat sebuah bintang yang jatuh dari langit ke atas bumi, dan kepadanya diberika anak kunci lubang jurang maut.” “Bintang” yang jatuh dari langit adalah seorang malaikat yang diam di surge. Dave Hagelberg, Wahyu dari bahasa Yunani, Jakarta: Penerbit Andi, Catatan kaki nmr. 311, hlm. 289
[10] John J. Collins, Yesaya, dalam: LBI: Tafsir Alikitab Perjanjian Lama, Yogyakarta: Kanisius, 2002, hlm. 549
[11] Richard J. Clifford, Mazmur, dalam: LBI: Tafsir Alikitab Perjanjian Lama, Yogyakarta: Kanisius, 2002, hlm.452
[12] Stefan Leks, Tafsir Injil Matius, Yogyakarta: 2003, hlm. 145-146
[13] Jacob van Bruggen, Markus Injil Menurut Petrus, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006, hlm. 498
[14] I. Suharyo, Kitab Wahyu, Yogyakarta: Kanisius, 1993, hlm. 110-111
[15] Ds. A. Pos, Tafsiran Wahyu, Djakarta: badan Penerbit Kristen, 1955, hlm. 196
[16] David H. van Daalen, Pedoman ke dalam Kitab Wahyu Yohanes, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999, hlm. 224
[17] Drs. J. J. de Heer, Wahyu Yohanes II, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1983, hlm. 145
[18] G. R. Beasley-Murray, Wahyu, dalam: Tafsran Alkitab Masa Kini, Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 1976, hlm, 942
[19] Drs. J. J. de Heer, Wahyu Yohanes II, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1983, hlm. 145
[20] Ds. A. Pos, Tafsiran Wahyu, Djakarta: badan Penerbit Kristen, 1955, hlm. 197
[21] I. Suharyo, Kitab Wahyu, Yogyakarta: Kanisius, 1993, hlm. 111
[22] Kota orang pilihan ini adalah kebalikan dari Babel (Bab 17). Kota suci itu adalah karunia Allah. Sama seperti halnya dalam Why. 7:15-17, semua ditempatkan di surge saja. Bagian pertama kota surgawi ini berlatar-belakang kitab nabi Yesaya, khususnya bab 51 dan 65. Catatan kaki dalam: LAI, Kitab Suci Katolik, Ende: Percetakan Arnoldus, 2001, hlm. 605
[23] Yerusalem dahulu adalah kota Daud, ibukota dan pusat keagamaan bangsa Israel (2 Sam. 5:9; 24:25; 1 Rj. 6:2. Yerusalem juga adalah kota Allah (Mzm. 46:5), dan ia disebut juga kota suci (Yes 52:1). Pusat kota itu ialah gunung (Mzm. 2:6) tempat bait Allah dibangun (Ul. 12:2-3). Oleh umat Israel, kota Yerusalem juga dianggap ibu kota umat di zaman Mesias kelak (Yer. 3: 17). Di kota itulah Roh Kudus mendirikan Gereja Kristus (Kis. 1:4,8: 2; 8:1,4). Dalam Wahyu, Yerusalem itu dilihat di surge, tempat rencana penyelamatan Allah terlaksana. Catatan kaki dalam: LAI, Kitab Suci Katolik, Ende: Percetakan Arnoldus, 2001, hlm. 605
[24] Drs. J. J. de Heer, Wahyu Yohanes II, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1983, hlm. 145
[25] Drs. J. J. de Heer, ibid,  hlm. 146
[26] David H. van Daalen, Pedoman ke dalam Kitab Wahyu Yohanes, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999, hlm. 224
[27] Ini tidak berarti bahwa Yohanes melihat kota itu turun, melainkan bahwa ia melihat sebuah kota yang sifatnya terus-menerus turun.
[28] David H. van Daalen, Pedoman ke dalam Kitab Wahyu Yohanes, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999, hlm. 224
[29] G. R. Beasley-Murray, Wahyu, dalam: Tafsran Alkitab Masa Kini 3 (Matius-Wahyu), Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 1976, hlm, 935
[30] Stefan Leks, Tafsir Injil Matius, Yogyakarta: 2003, hlm.454
[31] LBI, Kitab Wahyu, Yogyakarta: Kanisus, 1983, hlm.  148
[32] Ds. A. Pos, Tafsiran Wahyu, Djakarta: badan Penerbit Kristen, 1955, hlm.197
[33] Drs. J. J. de Heer, Wahyu Yohanes II, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1983, hlm.146
[34] Kata “kema” dalam bahasa Yunani disebut “skene.” Istilah  ini merupakan permainan kata dengan Syekina, yaitu kemuliaan Allah. Istilah Yunani skene hampir sama kedengarannya dengan shekina, dan yang terakhir menjadi biasa dipakai selaku istilah pengganti bagi nama Allah. G. R. Beasley-Murray, Wahyu, dalam: Tafsran Alkitab Masa Kini 3 (Matius-Wahyu), Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 1976, hlm,942
[35] David H. van Daalen, Pedoman ke dalam Kitab Wahyu Yohanes, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999, hlm. 224
[36] David H. van Daalen, ibid,  hlm. 226
[37] Ds. A. Pos, Tafsiran Wahyu, Djakarta: badan Penerbit Kristen, 1955, hlm.198
[38] I. Suharyo, Kitab Wahyu, Yogyakarta: Kanisius, 1993, hlm.112
[39] Norman Hillyer, 1dan 2 Korintus, dalam: Tafsran Alkitab Masa Kini 3 (Matius-Wahyu), Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 1976, hlm,529
[40] Drs. J. J. de Heer, Wahyu Yohanes II, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1983, hlm. 147
[41] Drs. J. J. de Heer, Ibid
[42] St. Darmawijaya, Gelar-gelar Yesus, Yogyakarta: Kanisius, 1987, hlm. 237
[43] G. R. Beasley-Murray, Wahyu, dalam: Tafsran Alkitab Masa Kini 3 (Matius-Wahyu), Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 1976, hlm, 896. Kata Ibrani kebenaran adalah emeth. Karena tulisan Ibrani tidak mengenal huruf hidup atau vocal, maka kata itu ditulis denga tiga huruf mati atau konsonan alef, mem dan thau. Para nabi menerangkan bahwa kata emeth itu merupakan symbol dan nama Allah, karena terdiri dari unsure-unsur ini: alef adalah huruf pertama, mem adalah huruf tengah dan thau adalah huruf terakhir. Kata itu mempunyai unsure awal, tengah, dan akhir. Maka tepat sebagai symbol Allah. Allah adalah awal, karena tidak ada asal mulanya; Ia tengah karena tak ada bandingnya; Ia akhir karena kerajaan abadi. Bagi orang Yahudi awal dan akhir adalah gelar Allah. Demikian juga dalam pemikiran Yunan, gagasan tentang Allah sebagai awal karena Ia asal segalanya, sebagai akhir karena Ia tujuan segalanya, sebagai tengah/pusat karena Ia hadir dalam segalanya, bukanlah gagasan yang asing. Yesus juga disebut sebagai Alfa dan Omega. Karena itu Ia disejajarkan dengan Allah. Alfa adalah wal alphabet dan Omega akhirnya. Dua alphabet itu menunjukkan kepenuhan, kelengkapan. Yesus dalam hal ini adalah lingkaran segala kekuasaan dan mempersatukan semuanya menjadi satu. Maka firman disebut alfa dan Omega. Pada Yesus Kristus tidak ada kekurangan, Ia lengkap, utuh. Yesus Kristus adalah paripurna. Alfa dan omega merupakan pula symbol kesinambungan. Di situ tidak ada pemotongan, perubahan, gangguan. Di sini ada dua unsure yang hendak ditekankan, yaitu hidup Yesus, karya dan kuasa-Nya adalah kesinambungan karya dan kuasa ilahi. Ia berkarya dulu, kini, dan selanjutnya (abadi), serta hidup Yesus dan pertolongan-Nya terus-menerus dalam hidup manusia. Tekanan ini lebih pribadi. Tidak ada momen hidup manusia yang terpisah dari-Nya. Pernyataan Alfa dan Omega dalam Why. 22:13 diperpanjang dengan keterangan yang berarti: “Aku adalah Alfa dan Omega, yang pertama dan yang kemudian, yang Awal dan yang Akhir.” Kata awal (arkhe) dan akhir (telos) bisa bermakna ganda. Awal bisa berarti mulai pada suatu saat dan akhir berarti selesai, habis. Semuanya menunjuk waktu. Ini tentu juga dimaksudkan dalam pernyataan itu. Itu berarti bahwa yesus mulai pada awal waktu, dan berakhir pada tutup waktu. Ia tanpa dikuasai waktu, abadi. Tetapi awal juga bisa berarti semula, asal, dan akhir berarti tujuan dan penyelesaian. Kalau Yesus disebut sebagai awal dan akhir dalam arti ini, lalu ia dipahami sebagai sumber dan asal kehidupan baru, kehidupan ilahi dan sekaligus tujuan dan akhir perjalanan hidup tersebut. Gelar Alfa dan Omega untuk Yesus bukan sekedar gelar terhormat bagi-Nya, melainkan juga mengandung dinamika hidup yang amat mendalam bagi manusia. Dengan demikian gelar itu bukan sekedar pemikiran teologi yang tinggi, melainkan juga mengembangkan sikap ibadah yang asasi.  Lih. St. darmawijaya, Gelar-gelar Yesus, Yogyakarta: Kanisius, 1987, hlm. 237-239
[44] Drs. J. J. de Heer, Wahyu Yohanes II, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1983, hlm.148
[45] G. R. Beasley-Murray, Wahyu, dalam: Tafsran Alkitab Masa Kini 3 (Matius-Wahyu), Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 1976, hlm, 896
[46] Drs. J. J. de Heer, Wahyu Yohanes II, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1983, hlm.148
[47] Catatan kaki dalam: LAI, Kitab Suci Katolik, Ende: Percetakan Arnoldus, 2001, hlm.606
[48] David H. van Daalen, Pedoman ke dalam Kitab Wahyu Yohanes, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999, hlm.224
[49] Drs. J. J. de Heer, Wahyu Yohanes II, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1983, hlm.148
[50] G. R. Beasley-Murray, Wahyu, dalam: Tafsran Alkitab Masa Kini 3 (Matius-Wahyu), Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 1976, hlm,946
[51] Drs. J. J. de Heer, Wahyu Yohanes II, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1983, hlm.149
[52] Anak Domba (άρνίον) mulanya adalah turunan dari dari kata άρήν yang berarti anak domba; tetapi arti itu tidak selamanya mempunyai kekuatan dalam Perjanjian Baru. Selain Yoh. 21:15, άρνίον hanya ditemukan dalam Wahyu, di mana itu terjadi 29 kali. Theological Dictionary of the New Testament, Vol. I, Edited by Gerhard Kittel, (Grand Rapids, Michigan: WM. B. Eerdmans Publishing Company, 1968), Bagi orang-orang Yahudi berbahasa Yunani, pemakaian kata-kata ini penting untuk Perjanjian Baru. Yang dimaksud domba-dombaKu, dalam Yoh. 21:15, adalah komunitas sebagai suatu obyek dari kasih dan perhatian Yesus. Ungkapan άρνίον juga dipakai untuk menggambarkan bagian integral dari kultus Yahudi dalam hal ini “materi kurban” Anak Domba, yang “telah disembelih” (Why. 5:6; bdk. 5:9, 12; 13:8). Hal ini menunjukkan bahwa pernyataan-pernyataan Why. Tidak dapat dipisahkan dari apa yang dikatakan dalam Perjanjian Baru tentang Yesus sebagai Anak Domba yang telah dikurbankan satu kali untuk selama-salamanya (Ibr. 7:27). Dalam Why. 5:6, 9, 12; 13:8 Yesus Kristus disebut “Anak Domba yang disembelih”. Dalam 5:6 digambarkan bahwa Anak Domba yang disembelih itu bertanduk tujuh dan bermata tujuh. Adalah menarik bahwa pada Anak Domba, yang dilihat oleh Yohanes itu, terdapatlah kelemahan dan kekuatan. Ia mempunyai tujuh tanduk, yang merupakan symbol kekuatan. Dalam PL, dan juga dalam tulisan-tulisan apokaliptis Yahudi sekitar abad pertama, tanduk adalah simbol yang seringkali dipergunakan untuk kekuatan (bdk. 1 Sam. 2:1; Mzm. 75:4-7) dan untuk martabat raja (bdk. Dan. 7:8; Za. 1:18-19). Jadi tujuh tanduk berarti suatu kepenuhan kekuatan, sebab tujuh adalah angka kesempurnaan. Anak domba yang disembelih dalam Why. 5:6 ini mengingatkan Yes. 53:7 (“sebagai domba sembelihan ia digiring ke pembantaian”) dan kepada domba-domba Paskah yang disembelih di waktu orang Israel berjalan keluar dari Mesir, dan kepada anak domba yang setiap pagi dan setiap petang disembelih dan dipersembahkan di bait suci Yerusalem. Anak-anak domba yang disembelih di waktu Paskah dan anak-anak domba yang setiap hari dipersembahkan di bait suci, berumur satu tahun (Kel. 12:5; Bil. 28:3); jadi bukan anak-anak domba yang kecil, tetapi domba-domba muda yang sudah cukup besar badannya. Domba semacam itulah tentu yang Yohanes lihat dalam penglihatannya; tanduk-tanduk yang di atas kepalanya itu telah juga menunjukkan bahwa di sini bukanlah mengenai seekor anak domba yang kecil Jadi Kristus dalam penglihatan ini menampakkan diri dalam kelemahan (disembelih) dan serentak juga dalam kekuatan (tujuh tanduknya). Inilah “paradoks Kristen”: Kristus menempuh penderitaan untuk sampai kepada kemuliaan. Suatu paradoks yang juga berlaku untuk seluruh gereja Kristen, yang melalui jalan penderitaan dan pelayanan untuk sampai kepada kemuliaan. Yohanes melihat bahwa anak domba itu mempunyai tujuh mata, yang bersamaan dengan tujuh roh Allah, yaitu Roh Kudus dalam kepenuhan-kuasaNya (bdk. Why. 1:4 dan 4:5). Dalam 1:4 dan 4:5 Roh Kudus diperbantukan kepada Allah. Roh Kudus dalam kepenuhan-kuasa-Nya diperbantukan kepada Anak Domba, yakni Kristus, sehingga nyatalah kesatuan Sang Bapa dengan Kristus. Yang merupakan latar belakang gambaran yang agak aneh tentang ketujuh mata itu tentulah Zakaria 4:10, di mana dibicarakan tentang ketujuh mata Allah yang memeriksa seluruh bumi. Lembaga Biblika Indonesia, Kitab Suci Perjanjian Baru: dengan pengantar dan catatan – Wahyu kepada Yohanes, pada catatan kaki 5:6.
[53] Drs. J. J. de Heer, Wahyu Yohanes II, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1983, hlm.150-151
[54] G. R. Beasley-Murray, Wahyu, dalam: Tafsran Alkitab Masa Kini 3 (Matius-Wahyu), Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 1976, hlm,943
[55] Kota ini disebut : Yerusalem baru, kota kudus, gunung Tuhan, gunung Sion dan kota Allah. Kota ini memiliki ciri :
  • Kota yang begitu indah, terbuat dari emas murni, jernih seperti batu permata yang paling indah (Why 21:11)
  • Temboknya tinggi dan dilindungi oleh api Tuhan (Zak 2:5)
  • Penuh sorak sorai dan kegirangan (Yes 65:18)
  • Dipenuhi kemuliaan Allah dan Anak Domba (Why 21:11, 23; 22:5)
  • Tidak ada malam (Zak 14:7), sebab sekalipun malam, kemuliaan Tuhan akan tetap menerangi seisi kota (diluar kota ini siang dan malam tetap berlaku).
Dari kota inilah seluruh kendali dan pemerintahan di muka bumi berpusat. "Sebab disanalah ditaruh kursi-kursi pengadilan, kursi-kursi milik keluarga raja Daud." (Mzm 122:5). Tidak semua orang bisa masuk ke kota Kudus ini, hanya umat pemenang, Israel sejati (israel jasmani dan Israel rohani, yaitu gereja Tuhan) dan orang-orang pilihan saja. Manusia daging, terutama mereka yang menyimpan kesalahan (Wahyu 21:27) tidak bisa masuk ke kota Kudus, hanya mereka yang tertulis namanya di kitab kehidupan boleh naik ke gunung Tuhan ini. Selain sebagai tempat memerintah, Yerusalem juga menjadi pusat beribadah bagi seluruh umat manusia kepada Tuhan. Wahyu 22:3-4 "...Takhta Allah dan takhta Anak Domba akan ada di dalamnya dan hamba-hamba-Nya akan beribadah kepada-Nya,...Yerusalem baru ini adalah pengantin perempuan mempelai Anak Domba (Wahyu 21:9), itu berarti bagi orang-orang kudus-Nya, Yerusalem menjadi tempat persekutuan paling intim antara mereka dengan Tuhan Yesus, tidak henti-hentinya mereka memuji, menyembah dan beribadah kepadaNya, pada saat ini umat-Nya dapat melihat langsung Tuhan Yesus (Wahyu 22:4), dan ini merupakan tujuan terakhir dari sejarah penebusan Allah terhadap manusia, yaitu untuk kembali bersekutu dengan manusia seperti pada waktu Ia bersekutu dengan Adam dan Hawa sebelum mereka jatuh ke dalam dosa, tidak ada tirai pemisah antara manusia dan Allah. Berbeda dengan orang-orang kudus-Nya, manusia jasmani tinggal di luar kota Kudus-Nya, mereka hidup menempati tanah-tanah yang  subur di seluruh penjuru dunia. Sekalipun mereka tinggal di luar bahkan jauh dari kota Kudus-Nya, namun dalam waktu-waktu tertentu mereka harus datang ke kota Kudus-Nya yaitu ke gunung Yerusalem. Kedatangan mereka sangat dinantikan Tuhan yang rindu untuk bertemu dengan umat-Nya, mereka datang untuk:
  • Menyembah Tuhan Allah
  • Memberikan persembahan atau kekayaan mereka (Why 21:24)
  • Memberi hormat
  • Beribadah dan merayakan hari-hari raya.
Sekalipun jauh, kedatangan mereka merupakan perjalanan rohani/perjalanan ziarah yang luar biasa, bagi sebagian orang (terutama bagi orang-orang yang dulu diselamatkan Tuhan melewati masa Antikris) saat-saat ibadah dan perayaan ini merupakan saat yang dinanti-nantikan, sebab mereka rindu untuk beribadah, mengucap syukur dan berterima kasih kepada Tuhan buat anugerah-Nya dan buat kehidupan sempurna yang Ia karuniakan kepada mereka di kerajaan milenium (Yes 35:10). Selama perjalanan rohani, yaitu dari tempat tinggal mereka sampai tiba di gunung Tuhan - mereka tidak henti-hentinya menyanyikan Mazmur 120-134. Mengingat Yerusalem menjulang tinggi, lima belas mazmur ini berjudul mazmur ziarah, yang dalam bahasa Inggris disebut "Songs of Ascents" yang berarti "Nyanyian pendakian". Dengan kerinduan untuk segera bertemu Tuhan, orang-orang ini berjalan dan mendaki ke gunung Sion sambil menyanyikan puji-pujian kepada Tuhan, berdoa bagi kesejahteraan Yerusalem dan perbuatan-perbuatan ajaib Tuhan ... "Mari kita pergi ke rumah Tuhan sekarang kaki kami berdiri di pintu gerbangmu, hai Yerusalem." (Mzm 122:1-2) . Yerusalem disebut pula sebagai pusat pengajaran. Yes 2:3 dan Mikha 4:2 berkata : Dan banyak suku bangsa akan pergi serta berkata : "Mari, kita naik ke gunung Tuhan, ke rumah Allah Yakub, supaya Ia mengajar kita tentang jalan-jalan_Nya, dan supaya kita berjalan menempuhnya; sebab dari Sion akan keluar pengajaran dan firman Tuhan dari Yerusalem." Selain untuk beribadah, orang-orang juga akan datang secara berkala untuk mengenal jalan-jalan Tuhan. Mereka akan menerima pengajaran dari Tuhan Yesus dan orang-orang kudus-Nya tentang hukum-hukum Tuhan. Orang-orang yang lolos pada waktu masa Tribulasi diantaranya adalah orang-orang yang baru menggabungkan diri dengan Yesus dan orang-orang Israel yang baru menyadari bahwa Yesus adalah Mesias, orang-orang ini tidak mengetahui tentang Injil dan hukum Tuhan, sehingga mereka akan mempelajarinya dari Tuhan sendiri dan dari orang-orang kudus-Nya yang telah penuh dengan pengertian (Kol 2:2 ; Kol 1:26) yang mereka terima pada waktu perjamuan Anak Domba. Selain itu, orang-orang yang lahir di masa kerajaan milenium juga tidak memiliki pengertian dan pengetahuan tentang Injil dan hukum Tuhan, apa lagi tentang karya keselamatan Tuhan terhadap manusia. Mereka ini jugalah yang akan datang ke kota Kudus untuk mendapatkan pengajaran dari Tuhan Yesus dan orang-orang kudus-Nya. Yerusalem adalah juga pusat kehidupan. Wahyu 22:1 "Lalu ia menunjukkan kepadaku sungai air kehidupan, yang jernih bagaikan kristal, dan mengalir ke luar dari takhta Allah dan takhta Anak Domba itu."  Yehezkiel 47:1-12 "...ada air keluar dari bawah ambang pintu Bait Suci itu dan mengalir menuju ke timur;...sepanjang tepi sungai itu ada amat banyak pohon, di sebelah sini dan di sebelah sana... sehingga ke mana saja sungai itu mengalir, segala makhluk hidup yang berkeriapan di sana akan hidup. Ikan-ikan akan menjadi sangat banyak, sebab ke mana saja air itu sampai, air laut disitu menjadi tawar dan kemana saja sungai itu mengalir, semuanya di sana hidup... di sungai itu ada berjenis-jenis ikan, seperti ikan-ikan di laut besar, sangat banyak. Tetapi rawa-rawanya dan paya-payanya tidak menjadi tawar, itu menjadi tempat mengambil garam...Pada kedua tepi sungai itu tumbuh bermacam-macam pohon buah-buahan, yang daunnya tidak layu dan buahnya tidak habis-habis; tiap bulan ada lagi buahnya yang baru, sebab pohon-pohon itu mendapat air dari tempat kudus itu. Buahnya menjadi makanan dan daunnya menjadi obat." Dari kota Kudus mengalir aliran air yang mengalir dari takhta Allah yang memberi hidup dan kesuburan pada segala sesuatu yang tersentuh olehnya (ay. 9-12) sebab berkat-berkat hidup mengalir dari airnya. Tujuan sungai ini ialah membawa hidup berkelimpahan dan kesembuhan dari Allah bagi penduduk sekitar kota Kudus. Sungai ini mirip dengan sungai yang mengalir dari Taman Eden (Kej 2:8-10). Sungai ini penggenapan Firman Tuhan yang berkata : "Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci : Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup" (Yoh 7:38). http://www.wacriswell-indo.org/wahyu%20119%20-%20kristus_dan_kota_allah.htm
[56] Ds. A. Pos, Tafsiran Wahyu, Djakarta: badan Penerbit Kristen, 1955, hlm. 202
[57] David H. van Daalen, Pedoman ke dalam Kitab Wahyu Yohanes, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999, hlm.229
[58] Drs. J. J. de Heer, Wahyu Yohanes II, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1983, hlm.151
[59] Ds. A. Pos, Tafsiran Wahyu, Djakarta: badan Penerbit Kristen, 1955, hlm. 202
[60] G. R. Beasley-Murray, Wahyu, dalam: Tafsran Alkitab Masa Kini 3 (Matius-Wahyu), Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 1976, hlm,943
[61] Ibid, hlm 943
[63] Ds. A. Pos, Tafsiran Wahyu, Djakarta: badan Penerbit Kristen, 1955, hlm. 230
[64] G. R. Beasley-Murray, Wahyu, dalam: Tafsran Alkitab Masa Kini 3 (Matius-Wahyu), Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 1976, hlm,943
[66] Ds. A. Pos, Tafsiran Wahyu, Djakarta: badan Penerbit Kristen, 1955, hlm. 230
[68] G. R. Beasley-Murray, Wahyu, dalam: Tafsran Alkitab Masa Kini 3 (Matius-Wahyu), Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 1976, hlm,943
[69] Satu hasta panjangnya sekitar setengah meter. Kata ini dipakai empat kali dalam Perjanjian Baru (Mat. 6:27; Luk. 12:25; Yoh. 4:4; Why. 21:17). Dave Hegelberg, Tafsiran Kitab Wahyu dari Bahasa Yunani, Yogyakarta: Penerbit Andi, 2005, hlm. 299
[70] G. R. Beasley-Murray, Wahyu, dalam: Tafsran Alkitab Masa Kini 3 (Matius-Wahyu), Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 1976, hlm,943
[72] David H. van Daalen, Pedoman ke dalam Kitab Wahyu Yohanes, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999, hlm.230-231
[73] Dave Hegelberg, Tafsiran Kitab Wahyu dari Bahasa Yunani, Yogyakarta: Penerbit Andi, 2005, hlm. 299-300
[74] Istilah “Firdaus” merupakan kata pinjaman dari bahasa Persia. Di dalam Perjanjian Lama kata Firdaus dipakai untuk mengartikan: taman, kebun pohon, taman kesenangan (Ki. 4:13; Pkh. 2:5). Oleh para LXX kata firdaus hanya dipakai untuk taman, di mana Tuhan menempatkan manusia pertama sebelum mereka jatuh dalam dosa (Kej. 2-3). Berita yahwis di dalam Kej. 2:4b-3:24 menempatkan manusia pertama di dalam sebuah taman yang kaya akan air. Di situ banyak pohon indah, di antaranya bertumbuhlah Pohon kehidupan yang membuat orang tidak akan mati. Soal firdaus disebutkan dalam Kej. 13;10; Yes. 51:3; Yeh. 31:8-9; Sir. 40:27 dll sebagai lambang tumbuh-tumbuhan yang hidup subur. Sebuah lukisan yang menyimpang dari pengertian di atas diungkapkan dalam  Yeh. 28:13-14. Tetapi pada Kej. 2-3 juga tidak semua elemen yang disebutkan itu cocok: Di situ ada pengulangan (2:8 dan 2:9; 3:17-19 dan 3:23-24). Air yang keluar dari bumi dicocokkan dengan sungai bercabang empat di Eden,yang dicari orang di daerah utara, sebab diberi nama Efrat dan Trigis (sindiran terhadap gunung illah dari Allah EL seperti nampak pada Yes 14:13; Msm 48:3?) Berbalikan dengan itu di dalam 3:24; 4:16 diandaikan, bahwa firdaus letaknya di daerah barat. Pohon kehidupan dan pohon Pengetahuan (2:9) yang disejajarkan itu bisa dinyatakan sebagai pengulangan motif. Semua itu(dan lain-lain) membangkitakan pandangan, bahwa di dalam Kej. 2-3 di persatukanlah pandangan berbeda soal firdaus : Motif soal kesuburan dunia yang memikat, yang kemudian hilang oleh  adanya dosa(2:5-6,9; 3:17 dst) dan motif lain tentang sebuah tempat kebahagiaan (bdk dengan tanah yang membahagiakan dalam Epos-Gilgames; pulau-pulau para Hesparid di dalam mitlogi klasik).  EDEN. Boleh jadi 2:10-14 menunjukkan sebuah pandangan dunia yang primitif. Menurut lukisan itu dunia ini diairi oleh 4 sungai, yang sesuai dengan keempat bagian dunia di dalam kosmologi di timur-tengah. Di sumber umum dari sungai-sungai itu ditaruhkan orang firdaus sebagai tempat pusat kesuburan. Pandangan itu nampaknya berkembang sampai abad 10(bdk: pemilihan kota Asyur sebagai titik orientasi). Sebagian besar  di dalam bahan-bahan itu mengungkapkan pandangan-pandangan masyarakat umum pada waktu itu, sehingga tidak bisa dipakai sebagai lukisan obyektif untuk lingkungan yang riil dari manusia yang pertama. Tetapi di dalam akhir zaman tidak lagi di temukan dosa dan dengan demikian tidak ada pula penderitaan maupun kematian. Di dalam harapan itulah terletak corak khas Kej: 2-3.  Soal firadus dari kahir zaman. Harapan keselematan Israel. Berulang kali  melukiskan kebahagiaan mendatang dalam warna-warni Firdausi(bdk.: Dengan menandai khasiat para raja: Kej. 49:10 dst.; Yes. 11:6 dst.: 51:3; Yeh. 36:35; “hidup yang panjang “ Yes. 65:17-25). Di dalam sastra apokrif maupun di dalam sastra  para Rabi sering diungkapkan tentang sebuah firdaus (1Hen 61:1 dst.: Test. Lev 18; 4Esr  7:123 dbtl.). Para saleh di bawa ketempat itu dalam hari-hari Mesias atau di dalam Eon/zaman yang akan datang, setelah diadakan penghakiman. Kebanyakan naskah menempatkan firdaus dalam zaman purba itu sama dengan firdaus di akhir zaman. Di dalam PB (Why. 2:7) Kristus menjanjikan sebatang pohon kehidupan yang ada di dalam firdaus Allahnya kepada pemenang. Oleh persatuannya dengan Kristus,  kebahagiaan itu sudah terjangkau sekarang bagi orang beriman (Eskatologi yang di dahulukan; bdk. Pula: Why. 22:1 dst.). Firdaus penantian. Penyamaan antara firdaus dalam zaman purba dengan firdaus di akhir zaman mengandaikan adanya firdaus itu tetap berlangsung. Ajaran tentang pembalasan bermaksud member perbedaan pada nasib orang mati. Para saleh, para Nenek-moyang dan para terpilih dipindahkan ke firdaus sebelum dibangkitkan (1hen 60:8;  Yub 4;23). Juga di dalam PB firdaus adlah tempat istirahat penantian para orang saleh  (luk 23:3).  Menurut pandangan yahudi, mereka beristirahat di situ dalam pengakuan Abraham (Luk 16:23), namun kini Yesuslah yang menjadi titik pusat persekutuan orang-orang mati(Fil 1:23). Dari Mark 13:27 dapat di tarik kesimpulan, bahwa pemikiran orang tentang firdaus yang di maksud adalah Surga (bdk.: Luk 16:26; 2kor 12:2 dst.). Lih. H. Haag, Kamus Alkitab, Ende: Penerbit Nusa Indah, 1982, entri: Firdaus
[76] David H. van Daalen, Pedoman ke dalam Kitab Wahyu Yohanes, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999, hlm.233-234
[77] Dave Hegelberg, Tafsiran Kitab Wahyu dari Bahasa Yunani, Yogyakarta: Penerbit Andi, 2005, hlm.302
[79] David H. van Daalen, Pedoman ke dalam Kitab Wahyu Yohanes, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999, hlm.234
[80] Dave Hegelberg, Tafsiran Kitab Wahyu dari Bahasa Yunani, Yogyakarta: Penerbit Andi, 2005, hlm.302
[82] David H. van Daalen, Pedoman ke dalam Kitab Wahyu Yohanes, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999, hlm.236
[84] Dave Hegelberg, Tafsiran Kitab Wahyu dari Bahasa Yunani, Yogyakarta: Penerbit Andi, 2005, hlm.302
[85] David H. van Daalen, Pedoman ke dalam Kitab Wahyu Yohanes, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999, hlm.234
[86] David H. van Daalen, Pedoman ke dalam Kitab Wahyu Yohanes, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999, hlm.236
[87] Kitab Wahyu dapat diajukan sebagai model perenungan komunitas kristiani, khususnya mengenai harapan. Kitab ini muncul ketika Gereja berhadapan dengan dunia dan pengalaman hidup yang suram, tampaknya tanpa masa depan. Tampaknya kekuatan jahat jauh lebih perkasa dibandingkan dengan kekuatan kebenaran dan kebaikan. Dalam keadaan seperti ini Gereja dipaksa untuk mencari dan menemukan makna pengalaman itu dan menentukan sikap. Mereka yakin bahwa Allah yang menunjukkan kesetiaan di masa lalu, akan menyatakan kesetiaan yang sama sepanjang sejarah, sampai akhir. Kesetiaan Allah itulah yang menjadi jaminan harapan akan akhir yang gilang-gemilang. Gereja hidup dalam tegangan antara janji dan pemenuhan janji. Itulah yang jelas terungkap dalam seluruh Kitab Suci : Kitab Suci dibuka dengan kisah penciptaan dan dosa manusia pertama (Kej. 1-3) serta ditutup dengan kepastian harapan akan masa depan yang gilang-gemilang, "langit baru bumi baru",  ciptaan yang dipulihkan kembali pada kepenuhan sejarah (Why. 21:1-4).  Kisah penciptaan menyatakan bahwa segala sesuatu adalah baik (Kej.1:4 ; Kej.1:10-12 ; Kej.1:17 ; Kej.1:21 ; Kej.1:25) bahkan amat baik adanya (Kej.1:31). Sementara itu visi mengenai penciptaan atau dunia baru dalam Kitab Wahyu meneguhkan harapan bahwa akhirnya kejahatan akan dikalahkan dan "keadilan dan samai sejahtera akan bercium-ciuman" (Mzm.85:11; bdk Yes.11:4-6 ; Yes.25:1-8). Gereja hidup di antara dua masa yang membentuk sejarah itu. Dalam sejarah itu, bersama dengan semua orang yang berkehendak baik, Gereja dipanggil untuk ikut membangun sejarah menurut rencana Allah.  Gereja hidup dalam tegangan antara harapan dan realisme. Dalam keadaan seperti itu Gereja perlu terus-menerus membaca tanda-tanda jaman, menganalisa kekuatan-kekuatan merusak yang mengasingkan dunia dan umat manusia dari kekuatan kasih Allah sambil menawarkan pemikiran, tindakan dan cara hidup alternatif sebagai representasi harapan. Harapan ini memberikan motivasi yang kuat dan landasan yang kokoh untuk berjuang dengan penuh semangat mengarungi kehidupan masa kini dan terlibat dalam perjuangan menegakkan Kerajaan Allah. Harapan bukanlah sekedar optimisme yang dilandaskan pada ideologi yang seringkali mengklaim mampu memecahkan segala macam masalah. Harapan dilandaskan pada keyakinan iman yang teguh bahwa "Ia yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus" (Flp.1:6); bahwa Tuhan mengarahkan umat manusia dan seluruh ciptaan menjadi "kerajaan yang berpedoman kebenaran dan kehidupan kerajaan yang memancarkan kesucian dan rahmat, kerajaan yang berlimpahkan keadilan, cinta kasih dan damai" . Harapan ini memberikan kekuatan dan dorongan kepada siapa pun yang berkehendak baik untuk bertindak : membaca tanda-tanda jaman dan melibatkan diri dalam usaha untuk membangun tata kehidupan bersama yang semakin adil dan bersaudara. Ini adalah perutusan bersama yang mengundang semua orang untuk berbicara bersama, berprakarsa dan berimaginasi. Perutusan ini juga menuntut iman yang kokoh dan kasih yang berani. Harapan inilah yang ada di balik nasihat St. Paulus, " Karena itu saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan ! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia" (1Kor.15:58). Mgr. Prof. Dr. I.  Suharyo Pr, Telaah tentang Kitab Wahyu, dalam:



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar