Senin, 03 Oktober 2011

POKOK ANGGUR YANG BENAR (Yoh 15:1-8)


Fr. Lucky Singal
Pengenalan diri Yesus dalam Injil Yohanes sering diawali dengan rumusan kata: “Akulah…” Akulah roti hidup, Akulah air hidup, Akulah terang dunia, Akulah gembala yang baik, Akulah kebangkitan, Akulah hidup, Akulah jalan dan kebenaran. Akulah pokok anggur yang benar. Identitas-Nya sebagai pokok anggur merupakan pengenalan diri-Nya yang terakhir dalam kaitan dengan kata: “Akulah.” Cara pengenalan seperti ini bukan petunjuk inkonsistensi, melainkan suatu kekayaan dalam simbol. Hal ini kurang lebih sesuai dengan banyak penegasan dalam Perjanjian Lama tentang pokok anggur.
A. Pembatasan teks
            Pokok anggur yang benar terdapat dalam Yoh. 15:1-8.[1] Teks ini ditandai dengan pengenalan diri Yesus sebagai Pokok Anggur: “Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya. Menyusul kemudian penjelasan Yesus tentang pokok anggur tersebut. Teks ini kemudian berakhir pada Yoh. 15:8. Akhir teks ini adalah penyimpulan tentang Yesus sebagai pokok anggur. Ada bersama-Nya berarti berbuah baik. Buah yang baik itu merupakan suatu kemuliaan bagi Bapa di surga: “Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku.”
B. Deskripsi Teks
            Pengungkapan Yesus sebagai pokok anggur sebenarnya mengangkat kembali gagasan tentang pokok anggur dalam kaitan dengan Israel masa lampau. Israel disebut sebagai kebun anggurnya Tuhan dan masyarakatnya adalah pokok anggur. Mengingat istilah anggur Perjanjian Lama berkaitan dengan teks yang dibahas, maka pertama-tama akan digambarkan lebih dulu arti pokok anggur dalam situasi masyarakat Israel zaman Perjanjian Lama. Ini dimaksudkan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih jelas mengenai gelar yang ada pada Yesus sebagai pokok anggur yang benar.
1. Israel sebagai pokok anggur yang mandul
Pokok anggur yang benar ini memang dibicarakan secara eksplisit dalam Yoh. 15:1-8. Dalam perikop ini Yesus menyatakan  diri sebagai "pokok anggur yang benar". Yang dimaksud dengan "pokok anggur" ialah bagian pohon yang dapat hidup terus bila yang di atas atau di bawahnya dipangkas. Bagian pohon itu dapat bersemi walau tampaknya mati. Para petani membuka kebun anggur baru dengan menanam pokok tadi di tanah yang baru[2]. Anggur ini sebenarnya sudah diungkapkan sejak  masa Perjanjian Lama. Ada beberapa petunjuk tentang hal,  misalnya Yer 2:21; Yeh 15:1-8; 17:1-10; 19:10.14; Hos 10:1; Mzm 80:9-20. Yeremia (2:21) menyebut bahwa Allah adalah pemilik kebun anggur sementara Israel adalah bangsa yang tidak setia dan menyerupai anggur yang tidak baik[3]. Sementara Yeheiskiel (15:1-8) menyebut bahwa penduduk Yerusalem di mata Allah menjadi tidak produktif dan tidak berharga seperti pohon anggur yang tidak berguna sehingga tidak lagi membuahkan hasil. Seperti kayu anggur yang tidak ada gunanya, tanah air akan dimasukkan ke dalam api. Ini kemudian dijelaskan lagi dalam Yeh 19:10-12, di mana pohon anggur dengan cabangnya yang paling kuat dipotong dan dibakar lalu dipindahkan ke padang gurun[4]. Dalam Yes 5: 1-7, hal ini terungkap jelas. Di sini diungkapkan bahwa pokok anggur itu menunjuk pada Israel.  Israel dikenal sebagai pokok anggur (bdk juga Maz. 80:8-13). Ia diharapkan menghasilkan buah yang baik tapi hasilnya[5] buruk. Artinya apa? Israel diharapkan jadi saksi anugerah Tuhan, namun kenyataannya tidak menghasilkan kebenaran, keadilan dan kekudusan. Kehidupan yang gagal untuk menghasilkan buah yang baik telah mengecewakan Tuhan. Mereka tidak menghasilkan buah yang baik karena ketidaktaatan kepada Tuhan. Yesaya mengatakan bahwa pemilik kebun anggur itu adalah Tuhan. Sementara Israel adalah pokok anggur-Nya. Kebun anggur[6] itu adalah sangat baik, letaknya terpilih, tanahnya subur dan pokok anggurnya pun adalah pilihan Tuhan. Tuhan akan memelihara dan menjaganya dengan sempurna. Ada bangunan menara di tengah kebun anggur itu yang dilengkapi dengan apitan anggur[7]. Tuhan juga membangun tembok untuk melindungi kebun itu terhadap binatang-binatang atau para penjahat. Yang jelas itulah bahwa si pemilik kebun anggur mempunyai rencana dan harapan besar mengenai hasil kebunnya, karena itu Ia mengatur segala sesuatunya secara sempurna. Tetapi di luar dugaan, hasil anggur tersebut sangat mengecewakan. Yang dihasilkan hanyalah buah-buah anggur hutan yang kecil dan asam. Hasilnya sama sekali tidak berharga. Itulah yang akhirnya membuat pemilik kebun anggur merasa sedih dan tidak puas. Konsekwensinya adalah penyingkiran pagar kebun anggur, dan pembongkaran temboknya. Itu berarti bahwa kebun anggur itu diserahkan kepada binatang-binatang di ladang dan margasatwa untuk dirusak dan dimakan habis. Kebun itu kini akan dibiarkan terlantar dan akan menjadi hutan belukar yang penuh duri dan semak. Pemilik kebun anggur bahkan akan memerintahkan awan supaya jangan menurunkan hujan sehingga pokok anggur itu menjadi kering, mati, dan dibakar. Itulah yang akan dilakukan Tuhan kepada Israel yang adalah kebun anggur-Nya. Israel telah terpilih dari segala bangsa, dipelihara, dididik, dan dibesarkan. Tuhan telah membangun bait-Nya dan meneguhkan kerajaan Daud, namun Israel hanya mengeluarkan buah-buah yang busuk (bdk. Yer 2:21b) dan melupakan Tuhan (bdk. Hos 2). Buah-buah busuk itu adalah kelaliman, pertumbahan darah dan pembunuhan. Dosa Israel adalah bahwa mereka menyia-nyiakan kasih Tuhan dan mengabaikan Tugas panggilan-Nya. Maka Tuhan juga akan menyerahkan Israel ke dalam tangan orang kafir yang akan menindas dan menginjak-injak mereka.[8] Yeheskiel menyayangkan bahwa pokok kesayangan itu tidak pantas, selain untuk dibakar (bdk. Yeh 15:1-8). Begitu juga Yeremia mengungkapkan penyesalan Allah terhadap Israel: “Namun Aku telah membuat engkau tumbuh sebagai pokok anggur pilihan, sebagai benih yang sungguh murni. Betapa engkau berubah menjadi pohon berbauh busuk, pohon anggur liar!” (2:21) Penegasannya sebenarnya adalah hanya di dalam Tuhan saja, Israel akan menghasilkan buah yang baik, seperti Yesus pernah berkata di luar Aku kamu tidak akan berbuah dan berguna kecuali seperti ranting yang dikumpulkan dan siap untuk di bakar dalam api (Yoh. 15:1-8). Dalam teks ini  Yesus menyatakan diri-Nya sebagai pokok anggur yang benar, yang buahnya yakni Israel sejati, tidak akan mengecewakan harapan Allah.
2. Yesus adalah pokok anggur yang benar[9]; Israel sejati
            Perbandingan dengan Perjanjian Lama di atas menunjukkan mengapa penginjil menyebut Yesus sebagai pokok anggur sejati. Itu pertama-tama disampaikan untuk mengatakan bahwa pokok anggur yang lama, yaitu Israel tidak lagi memiliki hubungan yang asli dengan Allah. Keaslian hubungan itu terungkap lagi dalam teks ini, bukan lagi Israel sebagai bangsa, melainkan Yesus sebagai Israel sejati. Yesus memberikan hidup-Nya agar manusia berubah, seperti pokok anggur yang mengolah sari-sari buah anggur. Yesus menghendaki persatuan yang intens dalam hidup. Tanpa pokok tidak ada sari pati hidup, tanpa tangkai tidak ada buah-buah. Yesus benar-benar adalah pohon anggur, dan ranting-rantingnya adalah orang-orang beriman harus tetap tinggal pada-Nya untuk dapat hidup dan menghasilkan buah. Bila tidak demikian, sama seperti ranting-ranting yang mandul, mereka menjadi kayu yang tidak berguna.[10] Kiasan tentang pokok anggur ini ditempatkan dalam suasana perjamuan, dan pada saat ketika murid-murid baru saja meminum darah Ekaristi yang dibuat dari anggur, buah dari pokok anggur. Yesus yang di Kana segan memberikan anggur sebelum tiba saat-Nya kini merupakan pokok anggur sejati. Darah-Nya dalam bentuk anggur akan merupakan salah satu dari saluran-saluran utama untuk meneruskan hidup dari pokok anggur ke ranting-rantingnya.[11] Yesus membutuhkan para murid untuk merealisasikan karya-Nya. Yang satu menabur dan yang lain menuai. Pesan ini perlu dipahami dalam konteks perpisahan Yesus, saat kematian dan peninggian-Nya. Ia tahu bahwa karya-Nya di dunia serta pewartaan-Nya tentang kebenaran dan cinta kini ada di tangan para murid yang terlihat belum sepenuhnya memahami. Apakah para rasul akan tetap tinggal bersama Yesus? Karena itulah Yesus kemudian menyampaikan amanat perpisahan-Nya.
Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya (15:1)
Jelas bahwa pokok anggur menunjuk pada Yesus. Dialah pokok anggur yang benar. Sementara pengusaha kebun anggur adalah Allah Bapa. Dalam Luk 6:43-44 dikatakan: “Karena tidak ada pohon yang baik yang menghasilkan buah yang tidak baik, dan juga tidak ada pohon yang tidak baik yang menghasilkan buah yang baik. Sebab setiap pohon dikenal pada buahnya. Karena dari semak duri orang tidak memetik buah ara dan dari duri-duri tidak memetik buah anggur.”[12]
Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah (15:2).
Ada dua macam ranting yang dibicarakan. Yang satu berbuah dan yang lain tidak. Cara terbaik untuk mendapatkan buah yang lebat dan banyak adalah memotong[13] ranting-ranting yang tidak berbuah dan membersihkan yang berbuah. Yang tidak berbuah pasti dipotong, sementara yang berbuah dibersihkan oleh Bapa sebagai pengusahanya. Bapa dengan perantaraan Roh Kudus melihat dalam diri semua orang hal-hal yang bisa menjadi penghalang untuk berbuah lebat dan Ia memotongnya.


Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu (15:3).
Firman Tuhan sangat penting bagi hidup. Firman memiliki kekuatan untuk membersihkan. Dalam Mazmur 119:9 dikatakan dengan jelas: "Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu."
Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku (15:4).
Kembali ke pertanyaan di atas. Bagaimana orang dapat berbuah? Yesus menjelaskan bahwa orang baru bisa berbuah jika ia tinggal dalam Kristus dan Kristus dalam dirinya. Tidak ada jalan lain untuk  dapat berbuah, selain  tinggal di dalam Kristus sebagai pokok anggur.
Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa (15:5).
Di sini Yesus kembali menegaskan bahwa ada bersama-Nya membuat orang akan berbuah banyak, sebab di luar Kristus orang memang  tidak dapat berbuat apa-apa. Tinggal di dalam Kristus adalah tinggal di dalam perkataan-Nya, tinggal di dalam FirmanNya. Harus selalu ada kehausan akan Firman-Nya agar dapat berbuah. Dalam Khotbah di bukit, Yesus menjelaskan bahwa berbahagialah orang yang haus akan Firman Tuhan karena mereka akan dipuaskan. Dalam Matius 5:6 disebutkan:  "Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan." Kebenaran adalah sama dengan  Firman Tuhan. Ini terungkap jelas dalam Yohanes 17:17: "Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran." Maka berbahagaialah orang yang lapar dan haus akan Firman Tuhan, karena mereka akan dipuaskan.  Firman Tuhan adalah kebenaran.
Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar (15:6).
Konsekwensi dari kehidupan di luar Allah adalah kering, dan jika ranting menjadi kering maka tidak ada gunanya lagi selain dicampakkan ke dalam api untuk dibakar.
Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya (15:7).
Doa dan permintaan dikabulkan hanya jika orang tetap mengingat dan merenungkan firman-Nya. Di situlah orang bisa menghasilkan banyak buah. Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku (15:8).


C. Teks ini berbicara apa tentang Yesus Kristus (Kristologi)
Ada beberapa petunjuk penting dalam Yoh 15:1-8 tentang Yesus Kristus. Sudah jelas bahwa Ia disebut sebagai pokok anggur. Akan tetapi ada juga beberapa pengenalan tentang Yesus Kristus dalam perikop ini, yaitu: sebagai Firman, Kehidupan, dan Hakim.
1. Yesus adalah pokok anggur
Kristus datang ke dalam dunia ini sebagai Israel yang sejati. Ia berkata: “Akulah pokok anggur yang benar(Yoh 15:1-2) dan pokok anggur yang tidak benar dan setia adalah bangsa Israel (Yesaya 5:4).[14] Mengapa Yesus digambarkan sebagai pokok anggur? Anggur sebenarnya bukanlah pohon yang megah dan indah. Anggur kerapkali ditanam sebagai pohon yang biasa saja dan ditopang oleh pokok-pokok penyangga atau menambat pohon-pohon pada tembok-tembok. Namun demikian anggur kerapkali dilihat sebagai pohon kesayangan dan sangat berharga. Tidak mengherankan kalau Israel kemudian disebut sebagai kebun anggur Tuhan, yaitu kebun anggur yang disayangi dan dijaga. Yesus juga menyebut diri-Nya sebagai pokok anggur. Akan tetapi pengenalan diri Yesus sebagai pokok anggur tidak sama dengan Israel zaman lampau. Yesuslah pokok anggur yang benar, Ia-lah Israel yang sejati. Kalau Israel dalam Perjanjian Lama disebut sebagai pokok anggur yang mundur mutunya[15], Israel makin lama semakin tidak bernilai buah-buahnya, liar tumbuhnya dan tidak memenuhi harapan penanam, tidak demikian dengan Yesus. Yesus disebut sebagai pokok anggur yang benar dan membuahkan anggur sejati dan murni. Maka orang yang bersekutu dengan-Nya menjadi tanaman anggur kebanggaan Allah. Dalam diri Yesus Kristus, Israel kehilangan peranan dan maknanya, dan Israel sejati tumbuh dari Yesus Kristus.[16] Hal ini untuk menunjukkan bahwa kehidupan hanya ada dalam Kristus. Siapa tidak tinggal dalam persekutuan dengan-Nya sudah tersingkir dari-Nya. Penyebutan tentang pokok anggur menunjuk pada pohonnya. Sementara ranting-ranting memperoleh hidupnya dari batang pohon tersebut. Kalau demikian tanpa kesatuan dengan pokoknya tersebut, maka ranting pasti mati, karena itu Yesus memberi penegasan agar ranting-ranting itu sadar bahwa sebenarnya ia bisa hidup dan menghasilkan buah lewat rahmat hidup yang menular dari inti kehidupan sebuah tanaman. Yesuslah yang menjadi inti, dan orang beriman baru bisa berbuah kalau menyadari ketergantungan penuh pada batang pohon tersebut. Pernyataan Yesus ini diteguhkan oleh Bapa-Nya karena mereka itu satu. Bapa dalam hal ini disebut sebagai pengusaha kebun anggur. Dialah yang memiliki kuasa untuk memotong dan menyingkirkan ranting kering yang tidak berbuah dan membersihkan ranting lain yang lebih produktif untuk menghasilkan buah berlimpah. Bagi Yesus  buah yang berlimpah akan terlihat kalau orang tinggal bersama-Nya.

2. Yesus adalah Firman
            Orang yang berbuah lebat adalah orang yang mendengarkan Sabda Tuhan, menyimpannya dalam hati dan terus memeliharanya. Itu berarti bahwa firman itu memberi kehidupan karena adanya rahmat pembersihan lewat firman-Nya itu. Firman Tuhan jelas memiliki kuasa untuk mengubah dan menghasilkan sesuatu. Ide tentang sabda menjadi manusia terungkap di sini. Teringat bagaimana penciptaan dunia itu terjadi lewat sabda. Allah bersabda maka semuanya dijadikan. Itu juga yang ditegaskan oleh Yesus: “Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu.” Bagi orang Yahudi, Firman bukan hanya sekedar suara di udara, melainkan suatu kekuatan dan memiliki daya kreatif yang sangat efektif. Firman bukan hanya menyatakan sesuatu, melainkan melaksanakan sesuatu. Ini  jelas terungkap dalam kisah penciptaan, yaitu ketika Allah berfirman dan ada jawaban atas firman-Nya, yaitu manusia tercipta serta ciptaan lain yang mendahului manusia menjadi ada. Gagasan tentang firman itu terungkap paling jelas dalam diri Yesus. Ia adalah firman yang menjadi manusia. Allah menjadi manusia dan tinggal di antara kita. sebutan firman menunjuk pada komunikasi, ada kata-kata. Itu berarti bahwa lewat Yesus terjadilah komunikasi antara Allah dan manusia untuk selama-lamanya. Yesus dalam arti ini menjadi pesan Allah bagi manusia. Namun bukan pesan Allah saja yang terungkap. Dengan peristiwa inkarnasi sabda, terjadilah pewahyuan. Yesus dalam hal ini adalah ungkapan pikiran, perasaan, dan kehendak Allah. Justru karena kasih Allah, maka Ia mengutus Putera-Nya yang tunggal. Konsekwensinya itulah bahwa orang datang kepada-Nya. Para murid berkata: “Tuhan kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal.” (Yoh 6: 68). Ada bersama-Nya berarti menyatu dalam kehidupan kekal bagaikan ranting yang menyatu dengan pokok anggurnya. Dalam arti itulah kehidupan kekal didapatkan. Itu terjadi jika orang mendengar dan menghayati sabda. Lewat penghayatan akan sabda dan firman-Nya maka orang bisa juga memiliki kuasa untuk menciptkan seperti penegasan bahwa firman itu mencipta. Karya penciptaan setiap orang terlihat dari buah yang dihasilkannya. Yang penting adalah tetap menyatu dengan Kristus sambil mendengarkan dan menghayati firman-Nya. Kalau begitu maka orang bisa berseru seperti Petrus: “Perkataan-Mu adalah hidup kekal.”

3. Yesus adalah kehidupan
Teks ini paling tidak sudah memperkenalkan Yesus sebagai pokok anggur dalam mana ia memberi hidup terhadap ranting-rantingnya. Orang dikatakan bersatu dengan Yesus sebagai pokok anggur kalau ia tinggal dalam firman-Nya. Dikatakan bahwa firman itu membersihkan untuk menghasilkan buah berlimpah. Karena tinggal dalam firman Allah itu menghasilkan buah berlimpah, maka boleh dikatakan bahwa firman itu pula memberi hidup. Yesus adalah pokok anggur. Ia juga adalah firman, dan Ia adalah kehidupan. Ranting-ranting mendapatkan kehidupan dari batang pohonnya. Tepatlah kalau dikatakan bahwa Yesus adalah kehidupan. Ia pernah mengatakan: “Akulah jalan, kebenaran dan hidup. Akulah kebangkitan dan hidup.” Ungkapan diri Yesus sebagai kehidupan menunjuk pada kehidupan ilahi, yaitu persatuan dan intensitas hubungan pribadi. Orang hidup kalau bersatu dengan Yesus karena Ia menawarkan kehidupan yang ilahi. Orang sampai kepada Allah melalui Yesus. Di dalam Dia ada hidup (Yoh 1:4), Ia datang agar manusia mendapatkan hidup yang berlimpah-limpah (10:16). Hidup itu ditemukan melalui pendengaran, yaitu dengan mendengarkan sabda-Nya. Sabda yang diserukan-Nya adalah roh dan hidup. Tidak ada orang yang mampu menemukan jalan kecuali dengan mendengarkan orang yang mengetahui jalannya. Sehingga dengan mendengarkan sabda Yesus orang memang bisa hidup. Yesuslah kehadiran hidup abadi. Sehingga dengan mendengar firman-Nya, orang dibersihkan dan menghasilkan buah hidup kekal. Orang menghasilkan buah dan tidak dibuang ke dalam api seperti ranting kering yang tidak lagi menyatu dengan pokok anggur.

4. Yesus adalah hakim
            “Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar.” (Yoh 15: 6). Penegasan Yesus  adalah peringatan kepada setiap orang yang hidup di luar diri-Nya. Ini sebenarnya adalah hukuman jika orang tidak menghasilkan buah yang diharapkan. Yesus dalam hal ini menyatakan diri sebagai hakim. Dalam Yoh 5:22 ditegaskan bahwa Allah menyerahkan tugas penghakiman kepada Yesus, walaupun jelas bahwa Allah juga adalah hakim. “Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah dibersihkan-Nya supaya ia lebih banyak berbuah.” Yesus memang menjadi hakim karena mendapatkan kuasa dari Bapa-Nya. Yang dilaksanakan adalah penghakiman Allah Bapa (Yoh 5:30). Justru karena itu maka Yesus menegaskan supaya orang menyatu dan tinggal bersama-Nya, agar firman-Nya bisa tinggal dalam semua orang. Seperti itu orang kemudian menghasilkan buah berlimpah dan tidak turut dihukum. Ajakan untuk menyatu dengan pokok anggur sebenarnya untuk membuat orang hidup dalam kasih-Nya dan menghindarkan orang dari hukuman yang akan datang.

D. Teks Ini berbicara apa tentang Gereja (Eklesiologi)
            Permenungan tentang pokok anggur yang benar sebenarnya diwarnai oleh situasi gerejani yang dialami oleh jemaat di bawa bimbingan Yohanes. Sabda Yesus berperan dalam hidup kekristenan. Sabda itulah yang membersihkan seperti pedang bermata dua yang memotong yang tidak berguna dan yang menentukan pilihan. Siapa yang menerima Yesus dan sabda-Nya menerima kebenaran Allah. Dengan pembersihan oleh Yesus, maka manusia dibebaskan dari pelbagai macam penghalang dan ia menghasilkan buah yang berlimpah. Maka orang yang tidak mau berbuah dengan sendirinya tidak lagi termasuk dalam persekutuan Kristen yang sesungguhnya. Di sini sebenarnya diletakkan dasar pengucilan berkat sabda Yesus. Dasar persekutuan orang Kristen adalah Yesus dalam hidup dan amal kasih. Bila orang tidak serius dan tidak menyatu dengan Yesus, maka ia pada dasarnya sudah tersisih dari persekutuan. Ini sangat beralasan, pertama karena Yesus sendiri satu dengan Bapa-Nya. Kehendak Bapa nyata dalam perjuangan Yesus. Dalam persatuan Yesus dan Bapalah iman Kristen berpijak dan berkembang dalam persatuan dengan semua orang beriman.[17]  Yesus mengajarkan kepada para murid, bahwa Dialah pokok anggur yang benar, Israel yang sejati yang memuaskan hati Allah. Kini para murid Yesus, yaitu cikal bakal gereja (bdk. Mat. 16:18) dipilih Allah untuk menghasilkan buah bagi kemuliaan-Nya, yaitu hidup yang menjadi berkat untuk sesama manusia. Untuk itu  gereja harus bergantung penuh kepada Yesus seperti ranting-ranting tinggal dalam Pokok Anggur yang benar (Yoh. 15:5). Gereja hanya mungkin berhasil kalau tetap melekat sebagai ranting kepada Pokok Anggur itu dan menerima kehidupan dari-Nya. Di luar Kristus, gereja tidak memiliki daya apa pun untuk bertumbuh dan tidak akan mampu menghasilkan buah, bahkan gereja akan mati sehingga tidak memiliki fungsi apa pun selain dibuang dan dibakar (ayat 5-6). Ibarat ranting-ranting yang melekat pada Pokok Anggur, gereja yang tinggal dalam persekutuan yang hidup dengan Kristus dan menjadikan-Nya sebagai pusat hidupnya pasti akan menghasilkan buah-buah yang berkenan di hadapan-Nya (ayat 1-2). Sebab Allah Bapalah yang memelihara pertumbuhannya dan membersihkan penghalang ranting-ranting ini berbuah.  Bagaimana caranya orang Kristen dapat tetap melekat pada sumber kehidupan, yaitu Kristus? Dengan membiarkan firman-Nya menjadi pusat hidupnya (ayat 7). Gereja yang  demikian akan menghasilkan buah-buah rohani dan perbuatan baik yang memuliakan Allah. Apa pun yang dilakukan gereja sesuai dengan janji Kristus, maka doa-doanya akan terkabul (ayat 7b). Karena itulah gereja berdoa dan memohon. Perikop ini mencuatkan ide Gereja sebagai pokok anggur yang baru. Pokok anggur yang lama telah hilang. Sementara Gereja menjadi kebun anggur yang lahir dari Yesus Kristus sebagai pokok anggur dan Israel sejati.

E. Kabar baik apa yang mau disampaikan
Yesus adalah Injil. Itu berarti bahwa Ia adalah kabar baik yang hidup bagi orang lain. Pengajaran-Nya tentang pokok anggur merupakan kabar baik bagi semua orang. Ia mengabarkan beberapa hal:
1. Allah senantiasa memperhatikan umat-Nya
            Pengenalan diri Yesus sebagai pokok anggur sebenarnya merupakan perhatian Tuhan pada manusia. Ia adalah pokok anggur dan semua ranting harus menyadari kesatuan dengan pokoknya. Kalau begitu maka mereka bisa hidup. Akan tetapi Yesus bukan hanya memperkenalkan diri-Nya, Ia juga memperkenalkan Allah Bapa yang sangat memperhatikan manusia. Bapa adalah pengelola kebun anggur. Ada Yesus sebagai anggur sejati. Yesuslah pokok anggur yang sesungguhnya. Ia bukan anggur asam seperti Israel masa lampau yang kemudian menjadi tanaman liar. Dalam diri Yesus Allah menyatakan bahwa kesatuan dengan Yesus membuat manusia menghasilkan buah yang enak dan lezat. Itulah yang menyenangkan Allah. Sementara itu Allah juga pasti memelihara dan memperhatikan ranting-ranting yang ada. Ia akan selalu membersihkan hati semua orang agar seperti ranting yang produktif, hidup manusia juga bisa produktif. Berbanding terbalik dengan ranting tanpa makna, kering dan mandul yang pasti dipotong dari pokoknya dan dibuang, diinjak lalu dibakar. Itu menunjukkan bahwa Allah bukan saja mahapengasih, tetapi ia juga mahaadil. Ia pasti menunjukkan keadilan-Nya kepada semua orang.

2. Yang percaya pada Yesus adalah ranting yang berbuah baik
Para murid ialah ranting yang berbuah baik. Ini titik tolaknya. Kalau tidak tentunya tidak menjadi murid. Boleh juga diterapkan pada orang yang percaya. Mereka itu ranting yang berbuah. Dan ranting yang seperti itu  tidak hanya bertaut pada pokok yang benar, tapi juga mendapat perhatian khusus dari Bapa-Nya. Inilah Kabar Gembira bagi para murid yang mendengarkan kata-kata Yesus. Mereka boleh merasa aman karena terus menerus didampingi Sang Pengelola sendiri. Ada Bapa yang memperhatikan orang yang percaya.

3. Mengingatkan akan kurban Yesus
Gelar-Nya ini dikaitkan dengan perjamuan akhir. Perjamuan dengan roti dan anggurlah yang mengantar gagasan akan pokok anggur dan anggur sejati yang memenuhi harapan Allah. Pokok anggur merupakan simbol kehidupan bangsa yang dibudidaya secara rapi dan teliti. Gambaran Yesus mengenai pembersihan dan pembakaran ranting-ranting kering merupakan simbol budidaya tersebut. Ranting kering itu memang tak bernilai sama sekali[18]. Sementara ranting yang berbuah dipelihara-Nya. Perjamuan malam sebelum wafat Kristus ditandai dengan perjamuan roti dan anggur. Itu sebenarnya merupakan symbol penyerahan diri Yesus untuk dijadikan kurban penebusan dosa manusia. Ia adalah pokok anggur dan dengan merayakan perjamuan sambil melihat persembahan pokok anggur, orang teringat akan Yesus sebagai pokok anggur yang menyerahkan diri-Nya untuk keselamatan semua orang.

Penutup
            Yesus adalah pokok anggur yang benar dan Bapa adalah pengusahanya. Pokok anggur memberikan hidup pada ranting-rantingnya. Itu berarti bahwa semua orang yang menyatu dengan Kristus memperoleh hidup. Kehidupan bersama Yesus itulah yang menghasilkan buah berlimpah. Lepas dari Kristus adalah hukuman, yaitu dipotong dan dilempar ke dalam api. Sementara ada dalam persekutuan dengan Yesus membuat manusia memperoleh banyak berkat. Seperti kata-kata Yesus: “Jika kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.” Nyata bahwa Allah memperlakukan secara istimewa semua orang yang menyatu dengan Yesus sebagai pokok anggur. Alasannya jelas yaitu persatuan dengan Yesus menghasilkan banyak buah. Buah yang banyak itu merupakan kemuliaan kepada Allah.




DAFTAR BACAAN

LBI, Injil dan Surat-surat Yohanes, Yogyakarta: Kanisius, 1981
Peter F. Ellis, Yeremia, dalam: LBI, Tafsir Alkitab Perjanjian Lama, Yogyakarta: Kanisius, 2002
Toni Craven, Yeheskiel, dalam: LBI, Tafsir Alkitab Perjanjian Lama, Yogyakarta: Kanisius, 2002
H. Renckens, Nabi Yesaya dan Kehadiran Allah, Yogyakarta: Kanisius, 1976
S.H. Widyapranawa, Tafsiran Jesaya (1-12), Djakarta: BPK Gunung Mulia, 1973
Stefan Leks, Tafsir Injil Lukas, Yogyakarta: Kanisius, 2003
St. Darmawijaya, Pesan Injil Yohanes, Yogyakarta: Kanisius, 1988
St. Darmawijaya, Gelar-gelar Yesus, Yogyakarta: Kanisius, 1987
Xavier Leon Dufour, Ensiklopedi Perjanjian Baru, Yogyakarta: Kanisius, 1990
http://alkitab.sabda.org/commentary.php?book=43&chapter15&verse=1












Renungan
            Ada satu keluarga yang hidup bahagia selama beratahun-tahun. Namun sekali peristiwa badai besar menerjang keluarga tersebut. Tiba-tiba saja bapak kelurga meninggalkan isteri dan anak-anaknya karena tergoda wanita lain. Hal ini mejadi pukulan yang sangat menyakitkan bagi si ibu dan anak-anaknya. Kekecewaan dan kesedihan kemudian mewarnai keluarga tersebut. Dalam kekecewaan dan kepedihan itu, dari lubuk hatinya yang terdalam si ibu kemudian merasa bahwa sikapnya sebanrnya kurang baik jika larut dalam masalah itu. Jika ia terus meratap, lantas apa yang akan terjadi pada anak-anak? Ia lalu teringat sabda Tuhan: “Jikalau kamu tinggal dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimannya.” Ingatan akan sabda Tuhan ini memberi inspirasi kepada si ibu untuk tetap tegar sambil bertanya dalam hatinya: “Apa yang harus kulakukan?” Berdoa! Itulah jawaban yang keluar dari dirinya. Si ibu lalu berdoa, bersyukur dan meminta agar suaminya bisa kembali ke dalam rumah. Begitulah ia kemudian berdoa dan ketika ada yang mengetuk pintu, ia membukakan pintu dan menyatakan terima kasih kepada Tuhan karena suaminya telah kembali. Kenyataannya yang mengetuk pintu bukan suaminya. Hal tersebut terjadi bukan saja sekali, seminggu atau sebulan, melainkan bertahun-tahun. Akan tetapi si ibu tetap percaya bahwa Tuhan pasti akan mengabulkan doa-doanya. Hingga suatu ketika seseorang mengetuk pintu. Saat pintu terbuka, pria yang mengetuk pintu itu langsung berlutut di depan si ibu sambil meminta maaf dan memohon ampun atas kesalahan dan dosanya. Si ibu dalam hatinya langsung mengucap syukur: “Tuhan terimakasih Engkau mengabulkan doa-doaku. Engkau mengambalikan suamiku ke rumah ini lagi.”
            Kisah ini sebenarnya untuk menegaskan bahwa ketika orang meminta kepada Tuhan dengan hati yang tulus, maka Tuhan pasti mendengarkan dan mengabulkan doa-doanya. Pengalaman si ibu yang menaru dan membawa seluruh keberadaan dirinya dalam doa menunjukkan manusia yang hidup dalam firman Tuhan. Seperti kata-kata Yesus sendiri bahwa jika firman-Ku tinggal dalam kamu, mintalah dan kamu akan menerimanya. Sudah pasti bahwa si ibu memang hidup menurut firman Tuhan. Karena itu harapannya mendapatkan peneguhan lewat pengabulan doa. Si ibu sadar benar bahwa sabda Tuhan memiliki daya untuk mengubah dan memberi hidup. Hal ini menyerupai pernyataan Yesus tentang ranting yang hidup bergantung pada pokoknya. Ada pokok anggur dan ada ranting-rantingnya. Ranting itu menghasilkan buah yang lebat kalau ia menyatu dengan pokok anggur. Yesus adalah pokok anggur. Kesatuan semua orang dengan Yesus berarti kemungkinan untuk menghasilkan buah yang lezat menjadi kepastian. Si ibu di atas menghasilkan buah yang enak, yang membahagiakan karena kesadaran akan kesatuannya dengan Yesus. Ia sadar bahwa kedatangan suaminya merupakan buah dari kehidupan intimnya bersama Tuhan. Tuhan memebrikan kekuatan kepadanya untuk bertumbuh dan hidup dalam iman. Ia menghasilkan buah pertobatan bagi suaminya, dan secara pribadi ia juga bahagia karena sebagai ranting, sebagai orang yang percaya pada Tuhan, ia boleh menyatakan kasih Tuhan kepada orang lain. Inilah yang namanya ranting yang baik. Ranting seperti inilah yang terus menerus mendapatkan perhatian dari Bapa di surge sebagai pengusaha kebun anggur. Bapa pasti selalu membersihkannya dan merawatnya dengan sangat baik. Perhatian dan kasih Bapa itulah yang membuat si ibu menghasilkan buah berlimpah. Buah berlimpah itu juga yang menjadi kemuliaan kepada-Nya. Terimakasih Tuhan, Engkau membuat hidupku jadi berarti. Aku bisa menyatakan kebaikan kasihmu lewat buah kasih yang melimpa bagi suamiku, bagi anakku, dan bagi semua orang yang ada di sekitarku. Engkaulah Bapa yang baik yang membersikan diriku jika ada hama yang coba merusak, menyiramkan air sejuk sebagai makananku dan tersenyum padaku saat buah yang enak keluar dari diriku. Itulah barangkali doa yang akan terus disampaikan oleh si ibu tadi.
            Berangkat dari pengalaman kebersamaan si ibu dengan Yesus sebagai pokok anggur, semua orang juga mendapatkan undangan untuk bersatu dalam pokok anggur yang benar. Yesus sendiri sudah memberi janji bahwa tinggal bersama-Nya dan hidup menurut firman-Nya akan memberikan kepastian kepada hidup. Mintalah dan kamu akan menerimanya. Hal ini merupakan konsekwensi dari orang yang sungguh hidup menurut firman Tuhan. Hidup dalam firman Tuhan itulah yang menunjuk kesatuan ranting dan pokok anggur. Orang tanpa pendengaran akan sabda Tuhan adalah kering seperti ranting anggur yang siap dipotong, namun dengan melekat dan hidup bergantung pada pokok anggurnya, maka kehidupan akan terus berlanjut. Inilah kabar baik bagi semua orang. Yesus tidak ingin ada orang yang harus dilenyapkan dan dibakar. Karena itu Ia mengingatkan lagi agar semua orang menyadari keterbatasan dirinya dan menaru pengharapan akan kebahagiaan hanya bersama Tuhan. Satu dengan Tuhan maka buah yang baik dan indah akan keluar dari kehidupan semua orang. Anda dan saya. Maukah kita berbuah? Berbuahlah karena itulah pujian terindah di mata Tuhan. Di situlah Bapa dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak. Amin!
           


[1] Teks ini merupakan bagian dari khotbah Yesus tentang akhir zaman. Khotbah tentang akhir zaman ini terdapat dalam bagian kedua pembagian Injil Yohanes (13:1-20:31). Dalam bagian kedua ini ada tiga pokok penting, yaitu: a. Perjamuan Akhir (13:1-17:26), b) Penderitaan dan kematian Kristus (18:1-19:42), c)Kebangkitan, kenaikan, dan penganugerahan Roh Kudus (20:1-31). Tentang pokok anggur yang benar ini ada pada point a, yaitu perjamuan terakhir yang terdiri atas pembasuhan kaki dan pengkhianatan (13:1-30), dan khotba Yesus tentang akhir zaman (13:31-17:26). Sementara untuk bagian pertama (1:19-12:50) terbagi atas: a) Tuju hari pernyataan diri Yesus secara bertahap (1:19-2:11), b) Tema-tema dalam 2:1-4:54, c) Tema-tema dalam 5:1-10:42, d) Tema Lazarus (11:1-12:36). Dua bagian besar ini didahului oleh pembukaan Injil (1:8-18), dan diakhiri dengan penutup (21:1-25), Bdk. LBI, Injil dan Surat-surat Yohanes, Yogyakarta: Kanisius, 1981, hlm. 19-20
[3] Peter F. Ellis, Yeremia, dalam: LBI, Tafsir Alkitab Perjanjian Lama, Yogyakarta: Kanisius, 2002, hlm. 557
[4] Toni Craven, Yeheskiel, dalam: LBI, Tafsir Alkitab Perjanjian Lama, Yogyakarta: Kanisius, 2002, hlm. 599, 601
[5] Dalam PB dikenal kegiatan berupa panen anggur (Luk 6:44), namun PB tidak menggambarkan sebagai waktu sukacita orang-orang beriman (Hak 21:19-21), melainkan justru sebagai lambing pengadilan Allah (Why 14:18-19). Xavier Leon Dufour, Ensiklopedi Perjanjian Baru, Yogyakarta: Kanisius, 1990, Entri: Panen Anggur
[6] Pada masa Yesaya, Yerusalem sudah lama bukan lagi suatu lingkungan pertanian. Ia berada di tengah-tengah masyarakat kota yang bobrok. Yang masih dipertahankan saat itu adalah pesta-pesta di Israel. Demikian juga dengan pesta anggur yang asli. Di sini pondok-pondok daun masih dipakai sebagai adat lahir peribadatan di halaman kenisah sebagai adat bangsa di atas rumah yang datar atapnya, tetapi tanpa penghayatan iman sejati. Yang diperpanyak hanyalah anggurnya. Sebutan tentang pondok daun sebenarnya mengingatkan pesta pondok daun dalam mana pada musim gugur sebagai tutup tahun, panen buah-buahan, antara lain penen anggur sebagai panen paling luas dan peling meriah. Dengan seluruh keluarga petani anggur berdiam di dalam suatu pondok yang dibuat dari daun-daunan di tengah-tengah pepohonan anggur, baik untuk menjaga panenan, maupun untuk meringankan jalannya panenan. Dari situlah sebutan pesta pondok daun, yaitu pesta paling popular dan paling meriah. Lih. H. Renckens, Nabi Yesaya dan Kehadiran Allah, Yogyakarta: Kanisius, 1976, hlm. 62-64.
[7] Apitan anggur adalah tong untuk memproduksi anggur atau tempat memeras anggur. Tempat ini terdiri atas dua bagian, yaitu bagian atas dan bagian bawa. 1) Semacam alat penutup yang dilapisi dengan pelat-pelat, di mana orang menginjak (dengan telapak kaki) buah anggur, diiringi lagu-lagu dan pekik sukacita, 2) Lubang dalam karang yang menampung air buah anggur itu. Ada pula apitan-apitan minyak. Apitan anggur melambangkan pencobaan yang sangat menekan. Allah diibaratkan dengan pemilik kebun anggur yang memeras buah-buah anggur, sedangkan apitan anggur melambangkan amarah Allah. Xavier Leon Dufour, Ensiklopedi Perjanjian Baru, Yogyakarta: Kanisius, 1990, Entri: Apitan anggur
[8] Bdk. S.H. Widyapranawa, Tafsiran Jesaya (1-12), Djakarta: BPK Gunung Mulia, 1973, hlm. 82-85
[9] Teks ini menggunakan gaya bahasa alegori. Itu karena gayanya sedikit berbeda dengan perumpamaan. Alegori lebih mendetail penerapannya sementara perumpamaan lebih umum. Perumpamaan menunjukkan hal-hal yang analog sementara alegori lebih logis. Alegori membandingkan detail-detai itu sejauh berhubungan. Bdk. St. Darmawijaya, Pesan Injil Yohanes, Yogyakarta: Kanisius, 1988, hlm. 105
[10] Xavier Leon Dufour, Ensiklopedi Perjanjian Baru, Yogyakarta: Kanisius, 1990, Entri: pohon anggur
[11]Bdk. LBI, Injil dan Surat-surat Yohanes, Yogyakarta: Kanisius, 1981, hlm. 116
[12] Ini pertama-tama bukan sebuah undangan untuk menghasilkan buah yang baik, melainkan sebuah patokan tentang cara membedakan manusia yang baik dari manusia yang jahat. Buah melambangkan tindakan/perbuatan manusiawi. Karena itu dapat disimpulkan bahwa Yesus menyampaikan ucapan ini bukan sehubungan dengan ajaran seorang guru melainkan sehubungan dengan perbuatan-perbuatan murid-murid-Nya. Seorang murid sejati Yesus dapat dikenal dari perbuatannya. Lih. Stefan Leks, Tafsir Injil Lukas, Yogyakarta: Kanisius, 2003, hlm. 195
[13] Brown menceritakan proses pemeliharaan tanaman anggur di Israel. Ranting-ranting yang tidak dapat berbuah dipangkas pada bulan Februari atau Maret. Pembersihan ini kadang menjadi begitu drastis sehingga hanya pokok anggur saja yang tinggal, dan semua ranting yang ada dibuang. Pada bulan Agustus, setelah daun-daun tanaman anggur muncul, tahap pembersihan yang kedua dilakukan: tunas-tunas kecil dipangkas, supaya getah tanaman lebih kuat mengalir pada ranting yang akan berbuah. Tanaman anggur dipangkas supaya getah tidak mengalir pada daun-daun dan ranting-ranting yang tidak berguna bagi pengusaha.
Lih. http://alkitab.sabda.org/commentary.php?book=43&chapter15&verse=1

[15] Barrett mencatat Yeremia 2:21; Yesaya 5:1-7; 27:2-6; Yehezkiel 15:1-8, 17:5-10; 19:10-14; dan Mazmur 80:9-16 sebagai teks Perjanjian Lama yang mengkiaskan Israel sebagai pokok anggur yang tidak berbuah baik. Carson mengamati bahwa setiap kali kiasan ini dipakai mengenai sikap hati bangsa Israel, kegagalan mereka dan ancaman hukuman Allah ditekankan. Tuhan Yesus menjadi pokok anggur yang benar. Dia tidak gagal seperti Israel gagal.
Lih. http://alkitab.sabda.org/commentary.php?book=43&chapter15&verse=1
[16] St. darmawijaya, Gelar-gelar Yesus, Yogyakarta: Kanisius, 1987, hlm. 175-176
[17] Bdk. St. Darmawijaya, Pesan Injil Yohanes, Yogyakarta: Kanisius, 1988, hlm. 106-107
[18] St. Darmawijaya, Gelar-gelar Yesus, Yogyakarta: Kanisius, 1987, hlm. 177

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar