Senin, 03 Oktober 2011

ARS CELEBRANDI


Fr. Lucky Singal
Ars Celebrandi adalah tugas menyeluruh kontemplasi seganap hidup Kristen. Satu petikan dari surat Paus Yohanes Paulus II yang dikirimkan kepada Kardinal Francis Arinze, ketua Kongregasi Ibadat dan tata teritib sakramen dalam kesempatan Pleno Kongregasi Ibadat dan tata Tertib Sakramen di Vatikan Roma, 1-4 Maret 2005. Ia mengatakan bahwa ars celebrandi tentulah mengungkapkan kemampuan para pelayan tertabis dan seluruh komunitas yang berkumpul untuk perayaan itu, untuk mewujudkan dan menghidupi setiap tindak liturgi. Menjadi suatu seni panggilan menyeluruh untuk kontemplasi dan padat makna kristiani. Lewat ritus dan doa-doa kita dibawa kepada kemesraan Misteri. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan ars celebrandi?
A. Pengertian Ars Celebrandi
Ars celebrandi adalah istilah yang relatif baru dalam konteks liturgi pada masa pasca KV II dan terutama dalam dua dekade terakhir ini. Istilah pertama yang muncul adalah ars. Ars atau seni dalam Kamus Inggris Oxford didefinisikan sebagai "ekspresi atau aplikasi dari keterampilan kreatif dan imajinasi", atau sebagai "berbagai cabang aktivitas kreatif" atau bahkan sebagai "keterampilan dalam melakukan hal tertentu". Istilah ars celebrandi berarti seni merayakan secara tepat.[1] Ars celebrandi ini telah dimunculkan dalam dokumen dari asosiasi para profesor liturgi di italia. Mereka berpendapat bahwa irama, tata, atau urutan perayaan dan cara atau gaya pembawaan merupakan tiga istilah yang masuk dalam pemahaman mengenai ars celebrandi. Irama menunjuk tata keindahan, tata atau urutan perayaan menunjuk pada ukuran atau hal manakah yang harus dilaksanakan dalam perayaan itu, dan cara atau gaya pembawaan menunjuk pada keutuhan bagaimana perayaan itu disadari dan dirayakan sepenuh hati. Sekilas pengartian terhadap ars celebrandi itu seola-olah melulu memahami kata ars celebrandi dalam tataran skill manusiawi atau tindakan manusiawi belaka. Bila istilah tersebut hanya dimengerti menurut tataran manusiawi belaka, maka makna ars celebrandi menjadi terlalu sempit dan bahkan kehilangan konteks makna teologisnya. Dalam hal ini Malcolm Ranjit yang sekarang menjabat sekretaris kongregasi ibadat mengungkapkan dengan baik catatannya: “Sesungguhnya apabila ars celebrandi dimengerti sebagai sesuatu yang didasarkan hanya pada kemampuan manusiawi, kita telah kehilangan maknanya sama sekali.“ Dengan demikian ars celebrandi harus dipahami secara lebih luas, bukan hanya menyangkut kemampuan pemimpin, petugas, atau bahkan umat yang merayakan liturgi, tetapi juga menyangkut makna misteri iman, yaitu perjumpaan dengan Tuhan yang hadir dalam perayaan liturgi. Beberapa pemahaman para tokoh pantas diungkap di sini:
  1. Kardinal Francis Arinze
            Kardinal Francis Arinze, mantan prefek kongregasi ibadat memahami ars celebrandi bukan hanya dari sisi pemimpin perayaan liturgi, yaitu imam saja, melainkan juga dari sisi seluruh pihak yang terlibat dalam perayaan liturgi, termasuk umat beriman. Baginya ars celebrandi didasarkan pada kebenaran teologis sebagaimana diajarkan oleh KV II yang menyebut: “Liturgi dipandang bagaikan pelaksanaan tugas imamat Yesus Kristus, di situ pengudusan manusia dilambangkan dengan tanda-tanda lahir serta dilaksanakan dengan cara yang khas bagi masing-masing, di situ juga dilaksanakan ibadat umum yang seutuhnya oleh Tubuh Mistik Yesus Kristus, yakni kepala beserta para anggotanya (SC. 7). Dengan meletakkan dalam konteks liturgi sebagai pelaksanaan tugas imamat Yesus Kristus ini, kardinal Arinze mau menarik pengertian ars celebrandi menurut dimensi liturgi sebagai perayaan yang dilaksanakan oleh Tubuh Mistik Yesus Kristus, yaitu Kristus dan Gereja-Nya. Kalau begitu ars celebrandi harus diletakkan dalam lingkup perayaan liturgi sebagai tindakan Kristus dan sekaligus tindakan Gereja.
  1. Paus benediktus XVI
Paus benediktus XVI sendiri melihat adanya beberapa dimensi dalam istilah ars celebrandi itu. Dimensi pertama ada pada makna perayaan sebagai doa, yaitu percakapan dengan Allah. Allah bersama kita dan kita bersama Allah. Bagi Sri Paus, perayaan liturgi pertama-tama adalah sebuah doa, yakni doa bersama seluruh Gereja dalam percakapan dengan Allah. Selanjutnya Sri Paus melihat pentingnya orang masuk ke dalam percakapan tersebut. Yang  menarik adalah Sri Paus mengutip asas pendarasan Masmur menurut peraturan St. Benediktus: 'Mens Corcodet Voci“ yang kurang lebih dapat diterjemakan akal budi selaras dengan suara dan kata-kata. Artinya pembaca Mazmur mesti menyelaraskan budi dan pikirannya dengan kata-kata Mazmur yang didarasnya. Kata-kata ada lebih dahulu yaitu sebagaimana tertera dalam teks doa sedangkan akal budi kita yang membaca mesti menyelaraskan atau masuk ke dalam isi dari kata-kata tersebut. Kita yang harus masuk ke dalam kata-kata itu sehingga menemukan keselarasan dengan realitas yang telah mendahului kita. Itulah sebabnya ars celebrandi bagi Paus Benediktus terutama merupakan cara menginteriorisasikan atau menginternalisasikan seluruh misteri iman yang dirayakan dalam tata perayaan liturgi sehingga pada akhirnya kita dan seluruh umat beriman dapat berpartisipasi dalam seluruh perayaan iman tersebut. Paus Benediktus tidak menghendaki pemahaman ars celebrandi berhenti pada persoalan bagaimana perayaan liturgi dapat menjadi suatu penampilan memukau laksana sebuah show atau teater, tetapi pada penghayatan misteri iman kesatuan dengan Allah yang hadir dalam perayaan liturgi itu dan bagaimana kita masuk ke dalam inti misteri ini. Dari sinilah keindahan perayaan liturgi mengalir dan dapat dipikirkan atau diungkapkan.

B. Dimensi Teologis Ars Celebrandi[2]
Dalam kaitan dengan sejarah keselamatan, ada tiga dimensi teologis ars celebrandi yang dapat diuraikan:
  1. Dimensi Kristosentris
            Di sini misteri Paskah Yesus Kristus menjadi pusat ars celebrandi. Apa yang dirayakan dalam perayaan liturgi adalah karya penebusan umat manusia dan pemuliaan Allah yang terlaksana dalam peristiwa Yesus Kristus dan berpuncak pada misteri Paska (SC.5). Perayaan liturgi bukan sekedar sebuah upacara ritual belaka. Dalam liturgi kita merayakan misteri Paskah yang merupakan puncak seluruh sejarah keselamatan Allah dan bahkan puncak seluruh sejarah umat manusia. Misteri Paskah juga menjadi pusat dan jantung hati seluruh tahun liturgi gereja (bdk SC.107).  Seluruh tahun liturgi menjabarkan sejarah keselamatan Allah yang terlakasana melalui peristiwa Yesus Kristus dengan puncaknya pada perayaan misteri paskah dalam Trihari Paskah. Dalam rangkah tahun liturgi tersebut, di satu pihak misteri paskah dirayakan secara khusus dan puncak selama Trihari paskah, di lain pihak misteri paskah ini juga dirayakan atau dihadirkan sepanjang tahun liturgi menurut penjabaran fokus segi-segi tertentu dari keseluruhan misteri Yesus Kristus. Peristiwa sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus sendiri sebagai inti misteri Paskah dapat disebut Triduum atau trihari suci. Hans Urs Von Balthasar menyebut tiga hari suci saat Yesus sengsara, wafat dan bangkit itu dengan Tiga macam Transitus Yesus, yaitu Jumat Agung sebagai jalan kepada Salib, Sabtu Suci sebagai jalan kepada orang-orang mati, dan Paskah sebagai jalan kepada Bapa. Adapun Kamis Putih mengenangkan saat Yesus mengadakan perjamuan malam terakhir bersama murid-murid-Nya, saat Dia menetapkan ekaristi, kenangan akan penyerahan diri-Nya dalam sengsara dan wafat-Nya sekaligus kenangan akan penerimaan Bapa atas penyerahan diri Yesus kepada Bapa bagi keselamatan umat manusia yang terjadi dalam misteri sengsara dan wafat Yesus itu merupakan sebuah interiorisasi sekaligus pelaksanaannya atas sabda dan kehendak penyelamatan dari Allah Bapa oleh Yesus Kristus. Seluruh isi Kitab Suci dilengkapi dan digenapi oleh Yesus Kristus. Yesus sendiri berkata kepada para murid: “Inilah perkataan-Ku yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur (Luk. 24:44). Pelaksanaan sebagai penggenapan seutuhnya seluruh isi Kitab Suci oleh Yesus Kristus tersebut dapat disebut sebagai bagian dari ars celebrandi yang dilaksanakan Kristus sebab Kristus memasuki, menghayati, serta melaksanakan sabda dan kehendak Bapa untuk menyelamatkan manusia. Hal memasuki dan menghayati sabda dan kehendak Bapa tersebut dapat disebut bagian ars celebrandi menurut penjelasan Paus Benediktus XVI di atas. Pengahadiran misteri Paskah dalam perayaan liturgi merupakan penghadiran tindakan ars celebrandi Yesus Kristus dalam melaksanakan sabda dan kehendak Bapa untuk menyelamatkan manusia sebagaimana berpuncak pada misteri paskah itu.
  1. Dimensi eklesiologis
            Dengan ini dimaksudkan untuk melestarikan karya keselamatan yang berpuncak pada misteri paskah dalam perayaan liturgi sebagai ars celebrandi Gereja. Misteri paskah sebagai puncak ars celebrandi itu dilestarikan oleh Gereja dalam perayaan  liturgi, terutama melalui korban dan sakramen-sakramen sebagai pusat seluruh hidup liturgis (SC.6). Kita memahami dan mengimani bahwa misteri Paskah tersebut merupakan suatu realitas keselamatan Allah yang terlaksana melalui wafat dan kebangkitan Kristus yang terjadi sekali untuk selamanya. Sebab dari surat ibrani kita meyakini bahwa Kristus memang hanya mengorbankan dirinya sekali saja tetapi untuk selamanya (Ibr. 7:27). Kata 'untuk selamanya' berarti berlaku untuk selamanya atau kena pada setiap orang untuk sepanjang zaman. Lalu penghadiran misteri Paskah yang terjadi sekali untuk selamanya itu terlaksana dalam perayaan liturgi Gereja. Konstitusi liturgi mengatakan: “Gereja tidak pernah lalai mengadakan pertemuan untuk merayakan misteri Paskah, di situ mereka membaca apa yang tercantum tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci (Luk. 24:27), mereka merayakan ekaristi, yang menghadirkan kemenangan dan kejayaannya atas maut dan sekaligus mengucap syukur kepada Allah atas kurnianya yang tak terkatakan dalam Kristus Yesus untuk memuji keagungan-Nya dengan kekuatan Roh Kudus (SC. 6). Tindakan Gereja yang melestarikan misteri Paskah tersebut dimungkinkan karena tindakan yang berciri anamnesis atau pengenangan berkat pencurahan Roh Kudus yang dimohon dalam eplikese. Berkat karunia Roh Kudus, Gereja dapat mengenangkan, yang berarti menghadirkan misteri Paskah tersebut dalam perayaan liturgi. Melalui tindakan pengenangan itu, misteri Paskah dihadirkan dalam Gereja yang sementara berliturgi itu dan sekaligus gereja dimasukkan ke dalam misteri Paskah. Ars celebrandi yang dilaksanakan Gereja terjadi saat misteri Paskah dihadirkan dalam gereja dan sekaligus saat Gereja dimasukkan ke dalam dinamika misteri Paskah yang merupakan tindakan pengudusan dari Allah bagi kita. Ars celebrandi juga dilaksanakan oleh Gereja saat Gereja menyatakan tanggapannya melalui pujian dan pemuliaan kepada Allah dalam perayaan liturgi itu.
  1. Dimensi Antroposentris
Dimensi antroposentris, yakni segi ritual dan simbolis dari perayaan liturgi sebagai bentuk ars celebrandi dalam liturgi. Perayaan penghadiran misteri Paskah oleh Gereja dalam liturgi selalu berlangsung dalam bentuk simbol dan diatur secara ritual. Simbolisasi dalam liturgi ini sesuai dengan hakekat manusia sebagai mahkluk simbolis sebagaimana dikatakan oleh Ernst Cassirer bahwa manusia adalah animal symbolicum. Seluruh tindakan manusia tidak dapat dilepaskan dari simbolisasi termasuk dalam tindakan ibadat atau liturginya. Simbol sendiri tidak pernah menunjuk pada dirinya sendiri tetapi senantiasa menunjuk pada realitas yang lain yang dalam perayaan liturgi adalah peristiwa perjumpaan umat beriman dengan Allah sendiri. Begitu pula segi ritual perayaan liturgi menunjuk tata cara bagaimana liturgi itu dirayakan yang seluruhnya dimaksudkan untuk melayani pertemuan umat beriman dengan Allah sendiri. Menurut Nathan Mitchell, hakekat simbol menunjuk pada segi tindakan yang mengundang kita masuk ke dalam realitas yang disimbolkan. Dalam keseluruhan tindak ibadat yang simbolis tersebut hadir misteri paskah yang menyelamatkan. Simbol-simbol dan tata ritual dalam perayaan liturgi pertama-tama berciri komunal atau lebih tepat lagi eklesial. Sebab simbol dan tata ritual selalu ada dalam konteks masyarakat atau komunitas. Artinya simbol dan tata ritual tersebut hanya mempunyai arti sejauh dimengerti dan diakui oleh komunitas. Lepas dari komunitas, simbol tidak memiliki arti apapun. Dalam konteks liturgi, seluruh tata ritual dan simbolisasi liturgi merupakan perayaan seluruh Gereja dan bukan tindakan perorangan (SC.26). Itulah sebabnya bentuk ars celebrandi yang terlaksana melalui penggunaan simbol dan tata ritual juga berciri komunal atau eklesial. Bentuk penghayatan pribadi dalam rangka ars celebrandi tentu dimungkinkan, namun mesti selaras dengan bentuk ars celebrandi yang diikuti oleh seluruh gereja sebagaimana tampak dalam norma-norma liturgi gereja.

C. Implikasi Bagi Pelayan dan seluruh Umat
            Pemahaman dan penghayatan ars celebrandi dalam liturgi tentu membawa implikasi bagi seluruh umat beriman yang merayakan liturgi. Manakah implikasi pemahaman dan penghayatan ars celebrandi ini dalam liturgi ini pada diri pelayan ekaristi, para petugas, dan bahkan seluruh umat beriman yang hadir.  Di sini disampaikan beberapa pokok:
  1. Kristus sebagai selebran utama
Pendekatan yang benar dalam ars celebrandi itulah bahwa imam dan umat beriman harus memastikan bahwa Kristuslah yang merupakan selebran utama, sementera imam adalah alter christi. Imam harus membiarkan Kristus mengambil-alih di altar, tangan-Nya dan suara-Nya.  Sacramentum Caritatis menegaskan dengan sangat jelas ketika menyatakan "Para imam harus sadar akan fakta bahwa dalam pelayanan mereka tidak pernah harus menempatkan diri mereka atau pendapat pribadi mereka di tempat pertama, tetapi harus menempatkan Kristus di tempat pertama. Setiap usaha untuk membuat diri mereka pusat tindakan Liturgi sangat bertentangan dengan identitas mereka sebagai imam. Imam harus rendah hati, dan hal itu terlihat terutama dalam kerendahan hatinya dalam memimpin perayaan liturgi, dalam ketaatan kepada ritus, menyatukan dirinya ke dalam pikiran dan hati dan menghindari apa pun yang mungkin memberikan kesan penekanan berlebihan pada kepribadian sendiri (Sacr. Carit. Carit. 23). Dalam segala yang dia lakukan di altar ia selalu harus membiarkan Tuhan mengambil kendali dari keberadaannya.
  1. Sense of Awe (rasa terpesona)
            Dalam rangkah ars celebrandi, adalah penting memelihara rasa terpesona atau kagum secara mendalam terhadap misteri iman yang dirayakan, yaitu kepada Tuhan sendiri. Malcolm Ranjith menyebut rasa terpesona dan kagum ini dengan sense of awe. Rasa kagum atau terpesona ini pertama-tama mesti diarahkan pada misteri iman yang dirayakan, yaitu Tuhan sendiri yang mahakudus dan sekaligus mahamurah kepada kita umatnya. Kami sungguh yakin apabila imam si pelayan ekaristi dan bahkan seluruh umat tetap memiliki rasa kekaguman yang mendalam, rasa terpesona penuh penghormatan di hadapan Allah yang begitu kudus dan penuh belaskasih, maka perayaan ekaristi akan dilaksanakan dengan khidmat, hormat dan berdaya buah. Kisah panggilan Simon Petrus dalam Luk 5,1-11 kiranya memeberikan inspirasi. Ketika Simon menyaksikan banyaknya ikan yang ia dan teman-temannya tangkap berkat sabda Yesus. Simon Petrus dipenuhi rasa terpesona dan kagum yang luar biasa sekaligus merasakan betapa dirinya kecil dan berdosa di hadapan Tuhan. Ketika Simon Petrus melihat hal itu, Ia pun tersungkur di depan Yesus dan berkata, Tuhan pergilah daripadaku sebab aku ini orang berdosa (Luk 5:8). Menyaksikan kebaikan dan kemurahan Tuhan yang begitu luar biasa, Simon Petrus menyadari bahwa dihadapannya hadir Dia yang mahakudus dan mahamurah. Gerakan tersungkur yang dibuat Simon Petrus merupakan ungkapan ketidakpantasan atau pengakuan diri sebagai pendosa di hadapan Tuhan yang mahakudus itu. Secara liturgis gerakan tersebut tampak melalui gerakan bertiarap atau bersemba-sujud yang terutama mau mengungkapkan ketidaklayakan, pengakuan diri kecil dan berdosa, serta penghormatan kepada Tuhan yang mahakudus. Gerakan tersungkur atau bersembah sujud di hadapan Tuhan ini dibarengi dengan ungkapan Simon yang eksplisit bahwa dirinya orang yang berdosa. Dengan demikian rasa terpesona dan kagum yang mesti dipelihara dalam diri orang yang merayakan ekaristi itu bukan hanya menyangkut perasaan sentimentil belaka, melainkan kekaguman yang muncul dari pengalaman iman yang mendalam karena menyaksikan karya agung Tuhan dalam hidup Gereja dan umat manusia termasuk dirinya sendiri. Hanya orang yang terus memelihara rasa kekaguman terhadap misteri iman inilah yang akan mampu melaksanakan ars celebrandi secara baik, hormat, dan berdaya makna. Maka tak henti-hentinya Gereja mengajak kita untuk memuji Tuhan saat Imam menyanyikan aklamasi anamnesis, Agunglah misteri iman kita... Syarat untuk tetap memiliki rasa kekaguman terhadap Tuhan tidak ada cara lain selain terus menghayati hidup doa secara lebih mendalam. Hidup doa yang mendalam bukan hanya menyangkut segi kualitas, yakni kedalaman dan intensitas doanya yang sungguh terarah kepada Tuhan, tetapi juga kuantitas yakni bahwa imam dan umat mengambil waktu yang sangat cukup untuk berdoa. Kurangnya hidup doa pribadi dari sisi pelayan ekaristi akan mengurangi rasa kekaguman pada misteri iman yakni Tuhan yang dirayakan dalam misa tersebut, dan akibatnya tidak terjadi ars celebrandi yang memadai sesuai tradisi Gereja.
  1. Katekese dan pendalaman liturgis
            Sangatlah penting memahami kekayaan misteri iman yang dirayakan melalui usaha katekese yang terus menerus. Para Bapa KV II sendiri telah mengingatkan pentingnya pembinaan atau katekese liturgi bagi umat beriman, dan tugas pembinaan itu terletak terutama pada para gembala, Hendaklah para gembala jiwa dengan tekun dan sabar mengusahakan pembinaan liturgi kaum beriman secara aktif, baik lahir maupun batin, sesuai dengan umur, situasi, corak hidup, dan taraf perkembangan religius mereka. Dengan demikian mereka menunaikan salah satu tugas utama pembagi misteri-misteri Allah yang setia. Dalam hal ini hendaklah mereka membimbing kawanan mereka bukan saja dengan kata-kata melainkan juga dengan teladan (SC. 19). Tetapi yang tidak boleh dilupakan sebelum para gembala mengupayakan pembinaan dan katekese liturgi kepada umat, para gembala sendiri mesti telah memahami dan menghidupi liturgi itu sendiri. Dalam Sacramentum Caritatis, Paus Benediktus menegaskan bahwa para uskup, imam dan diakon, yaitu mereka yang ditahbiskan sebagai penanggungjawab khusus agar ars celebrandi yang tepat dilaksanakan di tengah umat. Uskup misalnya harus memastikan bahwa para imam, diakon dan kaum awam semakin mendalam menangkap makna asli dari ritus dan teks-teks liturgi dan dari sana dibimbing pada suatu perayaan ekaristi yang aktif dan penuh buah. Usaha yang memungkinkan orang menangkap makna asli tidak lain adalah lewat katekese liturgi. Paus juga menegaskan bahwa perayaan ekaristi diperkaya kalau para imam dan pemimpin liturgis memiliki tekat yang kuat untuk memahami teks-teks dan kaidah-kaidah liturgis mutakhir (SC. 40). Kesulitan dalam melaksanakan ars celebrandi adalah ketidaktahuan. Karena itu perlulah pembinaan liturgis.
  1. Kesetiaan pada norma-norma (Obedience to Norms)
            Ketiga, perlunya melaksanakan tata perayaan liturgi sesuai dengan norma-norma liturgi gereja atau perlunya pengembangan semangat taat asas pada norma liturgi sebagai bentuk partisipasi yang utuh dan penuh dalam tata liturgi Gereja. Paus Benediktus XVI menegaskan makna ars celebrandi dalam hubungannya dengan masalah partisipasi umat beriman dalam liturgi sebagai berikut: Dalam perjalanan sinode sering muncul desakan tentang perlunya menghindari setiap antitesis antara ars celebrandi, seni merayakan secara tepat dan partisipasi penuh, aktif dan berbuah dari semua orang beriman. Cara utama untuk memacu partisipasi umat Allah dalam ritus kudus adalah dengan merayakan ritus itu sendiri secara tepat. Ars celebrandi adalah jalan terbaik untuk meyakinkan partisipasi aktif (partisipatio actuosa) mereka. Ars celebrandi adalah buah dari kepatuhan kaum beriman kepada kaidah-kaidah liturgis dalam segala kekayaannya. Sungguh selama 2000 tahun cara perayaan ini telah menopang kehidupan iman semua orang beriman yang dipanggil untuk ambil bagian dalam perayaan sebagai umat Allah, suatu imamat rajawi, bangsa yang kudus (Sacramentum Caritatis 38). Dengan sangat tepat para uskup mengharapkan agar ars celebrandi dan partisipasi penuh, aktif dan berbuah tidak perlu diperlawankan. Paus  Benediktus menegaskan bahwa justru melalui kepatuhan kita kepada kaida-kaida liturgis dengan segala kekayaannya sebagai bagian dari ars celebrandi ini justru terlaksana suatu partisipasi yang penuh dan aktif. Kami menggaris bawahi hal ini, justru saat ars celebrandi atau seni merayakan liturgi sesuai norma-norma liturgi dilaksanakan dengan baik, kita akan dapat berpartisipasi  dalam perayaan liturgi gereja secara aktif dan penuh.

D. Hal-hal Teknis berkaitan dengan Ars Celebrandi dalam liturgi
            Ada beberapa faktor penunjang juga dalam rangka ars celebrandi:
  1. Nyanyian
Ada banyak nyanyian dalam liturgi Gereja. Ini nyata dalam misa hari Minggu atau dalam ibadat sabda. Nyanyian ini terungkap dalam nyanyian umat, nyanyian kor khusus dan nyanyian pemimpin. Nyayian umat harus bagus dan indah. Keindahan itu terungkap jika terdengar semarak, seluruh umat ikut menyanyi dengan kompak dan sepenuh hati. Keindahan itu juga terungkap apabila selaras dengan jiwa nyanyian. Di sini peran dirigen juga sangat menentukan. Dalam memimpin nyanyian umat itulah kepiawaian dirigen dituntut dan diuji. Sementara untuk nyanyian kor pastinya juga harus indah. Kelompok kor menyanyi indah juga untuk memperindah nyanyian jemaat. Karena itu anggota kor juga tidak boleh mengabaikan umat. Kor bisa menopang nyanyian umat sehingga umat bisa menyanyi dengan semangat, stabil dan dinamis. Dan ada juga nyanyian pemimpin. Nyanyian pemimpin terdengar indah kalau ia bernyanyi dengan mantap, tidak ragu-ragu, apalagi salah-salah. Nyanyian pemimpin yang indah bisa memancing nyanyian umat yang indah pula.
  1. Organis
Organis mempunyai peran yang sangat kuat.  Dengan memberi intro yang tepat waktu, jelas nada dan iramanya, ia merangsang para penyanyi, entah imam, entah kor, entah umat, untuk membawakan nyanyian dengan irama yang ditawarkan oleh organis, dan pada saat berlangsungnya nyanyian, organis bisa terus menopang nyanyian dengan permainan iringan yang serasi, dan bisa memperindah dengan sisipan-sisipan melodi yang ia mainkan.
  1. Bacaan
Bagian ini meliputi pewartaan sabda Allah yang dibawakan oleh lektor dan imam atau prodiakon. Sabda Allah itu dayanya luar biasa, ibarat pedang bermata dua. Ini kalau sabda itu diwartakan dengan baik, dijiwai isi dan amanatnya. Kalau tidak, misalnya pembacaannya monoton, pemotongan kalimat tidak tepat, membacanya salah-salah, sabda Allah menjadi tumpul, tanpa daya, malah menjadi kendala. Karena itu dalam rangkah terciptanya liturgi sabda yang terdengar indah dan menyapa hati, maka seluruh liturgi sabda tidak boleh dilaksanakan secara terburu-buru, tetapi harus tenang, khidmat, dan ada jeda-jeda keheningan yang memberi kesempatan bagi umat untuk merenungkan dan meresapkan sabda. Sarana yang digunakan pun haruslah anggun dan berwibawa. Ini menyangkut buku bacaan yang memuat sabda Allah. Pemakaian kertas lembaran oleh lektor tidak menampakkan keagungan sabda Allah. Harus ada kesadaran bahwa mulut mereka sedang dipakai oleh Allah untuk berbicara kepada umat-Nya. Perlu juga keterampilan bicara, ucapan yang jelas, pemenggalan kalimat yang tepat dan penjiwaan sesuai yang dinyatakan dalam irama dan dinamika pembacaan, serta penekanan amanat inti dari sabda yang diwartakan.. alat bantu berupa sound system juga sangat memabntu karena ini memberi daya pada pewartaan.
  1. Doa
Unsur ini meliputi doa-doa yang dibawakan oleh imam dan diresapkan umat sebagai doa mereka sendiri. Doa yang indah mampu mengangkat hati ke hadirat Allah. Dalam membawakan doa diperlukan suasana khidmat, khusuk dan tenang. Terlebih lagi jika doanya panjang, seperti Doa Sykur Agung, sangat diperlukan adanya irama dan dinamika untuk menopang daya sapa doa tersebut. Tetapi yang paling penting di sini adalah penjiwaan si pendoa sendiri. Ia perlu sungguh menghayati kata-kata yang ia lafalkan.
  1. Homili, pengantar
Keindahan homili sangat terkait dengan isi dan cara membawakannya. Sedangkan pengantar bisa terasa kalau sungguh menyapa karena dibawakan dengan ramah dan komunikatif oleh komentator.
  1. Dekorasi
Dekorasi menentukan juga dalam ars celebrandi. Dalam liturgi, adanya dekorasi dimaksudkan untuk menambah unsur keindahan perayaan liturgis dan menarik kita ke dalam persatuan dengan Allah, Sang keindahan sejati. Kita mau mengungkapkan keindahan, kegembeiraan dan ras syukur lewat upaya kreatif manusiawi-duniawi, melalui bahan-bahan yang ada di sekitar kita. Menghiasi ruang liturgis berarti menegaskan dimensi sukacita perayaan liturgis itu. Beberapa hal perlu diperhatikan yaitu: dekorasi harus memperhatikan pemahaman tentang makna dan norma liturgis dari setiap perayaan, perlu ada prinsip kesederhanaan yang anggun, perlu juga memperhatikan keadaan ruangan atau tempat untuk perayaan liturgis, seperti keluasan, warna, tata cahaya, perabot dan hiasan lain yang sudah permanen atau biasanya ada (gambar, patung, tulisan), pilihan unsur dekoratif: bunga, daun, kain, lilin.










Bahan Bacaan
Archbishop Malcolm Ranjith, Towards An Ars Celebrandi in Liturgy, Gateway Conference,
Saint Louis, November 8, 2008
Emanuel Pranawa Dhatu Martasudjita, Gereja yang melayani dengan rendah hati, bersama Mgr, Ignasius Suharyo, Dalam: http://books.google.co.id/books?id=jnQgutISmXYC&pg=PA47&lpg=PA38&ots=WH3Bo8320t&dq=arti+ars+celebrandi
Paus Benediktus XVI, Ars Celebrandi:Seni merayakan Liturgi, dalam: Liturgi (Vol.17/2006/Nov-Des)
Pesan Paus Yohanes paulus II kepada Plenaria Komisi Liturgi Vatikan, dalam Liturgi (Vol. 16/no.3/2005/Mei-Juni)
Butir-butir Penting Pembaruan Liturgi, Sambutan Kardinal Arinze
pada Pertemuan Nasional Federasi Komisi Liturgi Keuskupan
se-Amerika Serikat, Chicago, 7-11 Oktober 2003. Alih bahasa: Ernest Mariyanto – Sanggar Bina Liturgi, Sumber : “Sumber dan Puncak Kehidupan, Buku Makalah”; Komisi Liturgi KWI.
F.X. Didik Bagiyowinadi,Pr, Merayakan Ekaristi dengan Khidmat, dalam: http://imancatholic.multiply.com/journal/item/6
Ch. Harimanto Suryanugraha, OSC, Dekorasi Liturgi Pekan Suci, dalam: Liturgi (Vol 10/no.2/2005/Maret-April)
Ernest Mariyanto, Liturgi Terdengar Indah dalam: Liturgi (Vol.16/no.1/2005/Jan-Feb)
Ernest Mariyanto, Musik Suci, Musik Liturgi, Musik Rohani, dalam: Liturgi (Vol 20/2009/Maret-April)


[1] Archbishop Malcolm Ranjith, Towards An Ars Celebrandi in Liturgy, Gateway Conference,
Saint Louis, November 8, 2008, pg. 3

[2] Emanuel Pranawa Dhatu Martasudjita, Gereja yang melayani dengan rendah hati, bersama Mgr, Ignasius Suharyo, Dalam:
http://books.google.co.id/books?id=jnQgutISmXYC&pg=PA47&lpg=PA38&ots=WH3Bo8320t&dq=arti+ars+celebrandi


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar