Kamis, 06 Oktober 2011

Yohanes Pembaptis (John the Baptist): Identitas dan isi pewartaan (Identity and preaching content)


BAB II
 IDENTITAS DAN PEWARTAAN YOHANES PEMBAPTIS

Pengantar     
Isi pokok dalam bab kedua ini adalah pengenalan identitas dan isi pewartaan Yohanes Pembaptis. Pengenalan tentang hidup dan karya tokoh ini ditelusuri dengan membuat penafsiran atas Mrk. 1:2-9 sebagai teks utama pengenalan tokoh ini dalam Mrk.  Penafsiran teks tersebut tentu saja dibuat dengan memperhatikan relasi teks yang dimaksud dengan teks-teks lain yang mendukung. Dengan kata lain, kendati yang menjadi obyek penafsiran adalah Mrk. 1:2-9, namun teks-teks lain tentang tokoh ini dikutip seperlunya dalam rangka memperjelas maksudnya. Penelusurannya dibuat dengan mengangkat beberapa hal: Siapa Yohanes Pembaptis, Isi pewartaan Yohanes Pembaptis, dan pemberitaannya tentang Mesias.

II.1. Siapa Yohanes Pembaptis?
            Pertanyaan: “Siapa?” dimaksudkan bukan untuk menjawab riwayat hidup Yohanes Pembaptis, tetapi lebih menyoroti ciri khas penampilan tokoh ini. Ini karena Mrk. 1:2-9 bukan merupakan penjelasan riwayat hidup Yohanes Pembaptis. Markus bahkan menampilkan tokoh ini langsung pada karya publiknya. Lalu apa sebenarnya kata Markus tentang Yohanes Pembaptis?

II.1.1.Yohanes Pembaptis adalah utusan
            Kehadiran Yesus didahului oleh seorang utusan. “Lihatlah Aku mengutus utusan-Ku mendahului Engkau, Ia akan mempersiapkan jalan bagi-Mu” (Mrk. 1:2). Kutipan tersebut memberi pengenalan pertama-tama mengenai Kristus, bahwa Kristus akan datang. Kedatangan-Nya akan didahului oleh seorang utusan, yaitu Yohanes Pembaptis.[1] Akan tetapi pertanyaan masih muncul: Apakah benar bahwa utusan yang dimaksud adalah Yohanes Pembaptis? Dalam rangka itu, maka penelusuran Yohanes Pembaptis sebagai utusan diruntut dari PL.

II.1.1.1. Arti Utusan dalam Perjanjian Lama
            Istilah “Utusan” (angelos) dalam Mrk. 1:2 mengacu pada Mal. 3:1 mengenai utusan yang akan tampak di hadapan pengadilan Tuhan.[2] Utusan tersebut bertugas untuk mempersiapkan jalan bagi Tuhan. Nubuat Mal. itu berlatar-belakang Kel. 23:20 mengenai malaikat yang diutus kepada umat Israel di gunung Sinai. Malaikat itu akan membawa Israel ke tempat yang disediakan Tuhan. Orang harus mendengarkan perkataan malaikat Allah ini sama seperti mereka mendengarkan Allah. Malaikat itu bersatu dengan Allah, tetapi juga berbeda dengan-Nya. Hal tersebut nyata dalam Kel. 14:19 yang menyebut tentang malaikat Tuhan yang berjalan di depan tentara Israel. Malaikat itu berjalan di depan umat dalam tiang awan dan api. Hal itu serupa dengan penyebutan dalam Kel. 13:21, bahwa Tuhan juga berjalan di depan Israel dalam tiang awan. Namun ada pula perbedaan hakiki antara Tuhan dan malaikat. Malaikat itu membuat umat Israel keluar dari Mesir, sementara malaikat Tuhan (Allah sendiri) menyelamatkan Israel (Yes. 63:9). Di dalam diri malaikat Tuhan itulah kelihatan gambaran Anak Allah. Disebut bahwa Dia yang menyertai Israel di padang gurun adalah sang Kristus (1 Kor. 10:4). Sementara ungkapan ”tiang awan” dipahami sebagai cara Kristus menyatakan diri dalam PL[3].
            Arti utusan dalam Mal. 3:1 berkaitan dengan tugas malaikat atau utusan Tuhan seperti disebut di atas. Namun kaitan tersebut tidak lagi diperhatikan karena Mal. 3:1a sudah dilihat sebagai acuan untuk seorang manusia yang akan datang sebagai perintis Mesias (Mrk. 1:2). Dalam ayat tersebut, Maleakhi sebetulnya berbicara juga tentang utusan sebagai malaikat Tuhan, bahwa malaikat Tuhan itu akan tampil kembali, bukan untuk berjalan di depan umat menuju tanah baru di bumi, melainkan untuk memulihkan hubungan antara umat yang berdosa dengan Allah yang kudus, serta menyingkirkan penghalang-penghalang dari jalan, memberitakan kedatangan seorang raja dunia, dan menyiapkan orang-orang untuk menjemput Tuhan.[4]
            Lepas dari pandangan PL di atas, kutipan dalam Mrk. 1:2 sudah mendapat warna PB. Karena itu, utusan yang dimaksud langsung menunjuk pada sosok manusia, yaitu Yohanes Pembaptis. Dialah utusan Allah yang dimaksudkan.

II.1.1.2. Yohanes Pembaptis sebagai utusan
            Dalam keseluruhan Mrk., istilah “utusan” (angelos) searti dengan “malaikat”. Hal tersebut sesuai dengan pandangan PL. Namun khusus dalam  Mrk. 1:2, “utusan” itu dialamatkan untuk manusia, yaitu Yohanes Pembaptis.[5] Dialah yang disebut sebagai utusan Allah. “...Aku menyuruh utusan-Ku....” Pernyataan ini asalnya dari Allah. Allah mengutus dan utusan itu mendapat wewenang serta tanggung-jawab untuk menyampaikan kehendak-Nya kepada manusia. Jadi ada relasi khusus antara yang mengutus dan yang diutus.[6] Sebagai utusan, Yohanes Pembaptis mempersiapkan serta meluruskan jalan bagi kedatangan “Dia yang lebih berkuasa” dari dirinya itu. Kalau dalam Mal. 3:1 disebut tentang tugas mempersiapkan jalan Allah, maka dalam Mrk. 1:2, tugas mempersiapkan jalan itu terarah pada kehadiran Yesus yang akan diutus Allah ke bumi.[7] Yohaneslah yang mendahului kedatangan Yesus.
            Yohanes Pembaptis adalah utusan dan utusan itu sejatinya mendahului dan mempersiapkan Yesus yang lebih besar dari dirinya. Markus sendiri langsung menceritakan karya publik Yohanes mendahului Yesus. Namun penting bahwa utusan yang mendahului sebetulnya merangkum juga masa sebelum karya publik Yesus. Itu berarti bahwa Yohanes juga mendahului kelahiran Yesus. Hal itu nyata dalam Luk. yang dengan lugas mengemukakan rentetan hidup Yohanes Pembaptis sejak pengandungan sampai karya publiknya yang ada lebih awal dari cerita Yesus.
            Yohanes dikandung secara istimewa (Luk. 1:5-25) disambung dengan warta dikandungnya Yesus (Luk. 1:26-38). Selanjutnya, Yohanes lahir dan diberi nama (Luk. 1:57-66), pujian Zakharia (Luk. 1:67-79) dan masa kanak-kanak Yohanes (Luk. 1:80). Kemudian diceritakan tentang kelahiran Yesus (Luk. 2:1-20). Pemberian nama dan diperkenalkan (Luk. 2:21-40) dan Yesus menginjak dewasa (Luk. 2:41-40). Jelas bahwa rentetan hidup Yohanes mendahului Yesus. Itulah arti utusan dalam diri Yohanes. Sama seperti Yohanes, Yesus juga adalah utusan (bdk. Mat. 15:24; Yoh. 5:30; 6:39; Gal. 4:4; 1 Yoh. 4:9, 14). Namun Yesus bukan utusan biasa. Ia bukan sembarang utusan Allah, karena dalam Dia-lah Allah menjumpai manusia secara unik dan tiada taranya yakni dengan cara yang mutlak dan penghabisan. Ia adalah Ilahi.[8]

II.1.2. Yohanes Pembaptis adalah suara orang yang berseru-seru di padang gurun
            Tugas Yohanes adalah menyuarakan kehendak Allah yang mengutusnya. Karena itu Markus mengutip nubuat Yesaya mengenai suara orang yang berseru-seru di padang gurun, sekaligus untuk menunjukkan kepenuhan kenabian, bahwa nubuat Yesaya menjadi jelas.[9] Suara yang berseru-seru ini merupakan satu gelar yang dialamatkan kepada Yohanes. “Suara” adalah bunyi yang dikeluarkan dari mulut manusia, binatang, barang, ucapan atau bunyi bahasa.[10] Sementara “suara” dalam Mrk. 1:3 ini disandingkan dengan kata “berseru-seru” sebagai suatu pengenalan akan Yohanes Pembaptis. Ia disebut sebagai “suara yang berseru-seru” bukan karena itu merupakan namanya, melainkan lebih merupakan petunjuk sifatnya.[11]
Mrk. 1:3 inilah yang sebenarnya merupakan kutipan dari Yes. 40:3. Istilah “suara” dalam Yes. ini dikaitkan dengan suara malaikat yang melaksanakan maklumat Ilahi, yaitu mempersiapkan dan meluruskan jalan bagi Tuhan. Namun “suara yang berseru-seru” dalam Mrk. 1:3 ini lebih dipahami sebagai pengenalan akan kekhasan Yohanes. Berbeda dengan “suara yang berseru-seru” dalam Yes., Markus menambahkan istilah “orang”. Hal itu untuk memberi tekanan manusiawi pada “suara yang berseru-seru”  tersebut. Yang diserukan itulah: “Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, dan luruskanlah jalan bagi-Nya.”

II.1.2.1. Persiapkanlah jalan bagi Tuhan
            Jalan untuk Tuhan adalah jalan yang akan dilalui oleh Tuhan. Itulah jalan bagi Yesus yang akan datang.[12] Jadi bukan jalan dalam arti fisik, yaitu jalan yang tahap demi tahap terbentuk karena orang melewati suatu tempat secara berulang, melainkan jalan yang menunjuk pada hati manusia. Maksudnya adalah mempersiapkan hati karena hati manusia kena-mengena dengan tingkah lakunya.[13] Kesiapan hati dan tingkah laku manusia itulah yang merupakan jalan tepat bagi kedatangan Tuhan.
            Dalam Mrk. sendiri, kata Tuhan muncul 18 kali dengan arti yang berbeda. Tuhan itu menunjuk pada Allah (5:19; 13:20; 11:9; 12:11,29-30,36-37; 12:37), Tuhan itu menunjuk pada Tuan (pemilik, 2:28; 11:3; 12:9; 13:35), Tuhan itu dalam bentuk sapaan, yaitu sebagai ekspresi hormat terhadap Yesus (7:28) dan Tuhan yang diterapkan pada Yesus sendiri (16:19-20). Kata “Tuhan” memang mendapat penekanan dalam Mrk. 1:3. Tuhan sendiri yang saat ini akan datang. Karena itu kutipan Yes. 40:3 terlihat dengan rapi menyambung Mal. 3:1. Yesus adalah Anak Allah (Mrk. 1:1). Jadi malaikat Tuhan (Mal. 3:1) yang pernah dijanjikan oleh para nabi (Mrk. 1:2a) sudah ada di depan pintu, yaitu Yesus yang kepada-Nya dipersiapkan jalan oleh Yohanes Pembaptis.[14]

II.1.2.2. Luruskanlah jalan-Nya
            Mempersiapkan jalan tidaklah cukup, karena itu penting jika jalan tersebut diluruskan. Pelurusan jalan itu dimaksudkan untuk mengusahakan agar jalan itu dapat ditempuh dengan lancar dan cepat. Itu supaya orang yang akan datang diterima secara pantas.[15] Jalan yang dimaksud adalah hati dan tingkah laku manusia, yaitu meluruskan sikap manusia. Pelurusan itu diperdengarkan oleh seorang utusan yang berseru-seru, yaitu Yohanes Pembaptis. Ia berseru tentang jalan yang lurus karena ia sendiri adalah pribadi yang lurus hatinya. Ia dikatakan sebagai orang yang saleh. Kesalehannya nampak misalnya ketika ia menegur Herodes berkaitan dengan peristiwa Herodias (Mrk. 6:17-20). Herodes sendiri mengakui dia sebagai orang yang benar dan suci, bahkan sempat melindungi dia untuk alasan itu.
            Alasan lain mengenai kesalehan Yohanes bisa dirujuk juga dari penceritaan Luk. mengenai tokoh ini. Dalam Luk. ditegaskan bahwa sejak pengandungannya saja, keberadaan Yohanes sudah diwarnai suasana kekudusan. Keluarganya termasuk orang-orang yang dikuduskan dalam masyarakat Yahudi. Zakharia ayahnya adalah imam dari rombongan Abia, dan ibunya Elizabeth berasal dari keturunan Harun. Yohanes lahir dari keluarga yang dikuduskan (Luk. 1:5-7). Karena itu ia juga menjadi pelayan Allah yang istimewa.[16] Hidupnya dikhususkan sepenuhnya bagi Allah dan seperti para nabi lainnya, ia akan dipenuhi oleh Roh Allah. Ia bahkan sudah dipanggil sejak dalam kandungan ibu.[17]
            Seruan “…luruskanlah jalan bagi-Nya” sepertinya menjadi tepat terucap dalam mulut Yohanes. Ia bisa berseru demikian karena kesalehan[18] dan kelurusan pribadinya, sementara orang lain menjadi tergerak untuk meluruskan diri.

II.1.3. Yohanes Pembaptis adalah nabi padang gurun
            Gelar Yohanes sebagai utusan yang berseru-seru itu berkaitan erat dengan suara kenabian. Yohanes adalah nabi (bdk. Mrk. 11:32).[19] Ia dilihat sebagai nabi terakhir sebelum zaman yang baru dalam Yesus Kristus.[20] Nabi dimengerti sebagai orang yang diutus dan diilhami oleh Allah untuk menyatakan sesuatu yang tersembunyi, mengungkapkan suatu nubuat, menyatakan pikiran dan kehendak Ilahi serta meramalkan masa depan.[21] Suara kenabiannya sendiri terjadi di padang gurun.

II.1.3.1. Yohanes sebagai nabi
            Identitas Yohanes Pembaptis sebagai seorang nabi bisa dilacak dengan memahami kesejajarannya dengan para nabi lainnya dan secara khusus identifikasi dirinya dengan Elia.

II.1.3.1.1. Kesejajaran dengan para nabi lain
            Banyak nabi yang tampil sebelum Yohanes, antara lain: Yeremia, Yeheskiel, Elia, Amos, Eliza, dll. Mereka tampil sambil membawa pesan. Pesan tersebut terutama lewat proklamasi atau seruan kata-kata yang tertuang dalam bentuk pengajaran, seruan kebijaksanaan serta nubuat.[22] Mereka menubuatkan masa depan, yaitu hadir sebagai orang-orang yang mampu menerka masa depan serta hal-hal yang tersembunyi.[23] Misalnya Samuel yang menemukan keledai yang hilang (1 Sam. 9:6-7:20) atau Elia yang menubuatkan kematian tiba-tiba raja Ahazia (1 Raj. 1:16-17). Ada juga yang tampil sebagai nabi ektatik, yaitu semacam orang-orang rohani yang seolah-olah kerasukan Roh Ilahi dengan gejala-gejala aneh (I Sam. 19:20-24). Yang lain disebut nabi karismatis, yaitu orang-orang percaya yang secara khusus dipanggil Tuhan untuk menyampaikan Firman-Nya kepada umat (mis. Hos. 9:7).[24]
            Yohanes Pembaptis hadir hampir-hampir sesuai dengan semua ciri yang disebut di atas. Seperti nabi yang mampu melihat hal-hal yang tersembunyi, ia menubuatkan kehadiran Allah yang sebentar lagi akan datang. Ia juga menyerupai nabi-nabi ektatik yang seakan-akan kerasukan Roh Ilahi, khususnya dari corak hidupnya yang agak aneh, seperti nampak pada pakaian luarnya yang tidak lazim. Nabi karismatis mengena juga pada dirinya. Hal itu terungkap saat banyak orang datang melihat, mendengar dan memberi diri dibaptis sebagai hasil dari pewartaannya yang karismatis. Namun kesejajaran mendasar dari Yohanes Pembaptis dengan para nabi lain adalah relasi khusus dan istimewa mereka dengan Allah.[25] Sementara kesejajaran khusus terungkap pada identifikasi dirinya dengan Elia.
           
II.1.3.1.2. Identifikasi dengan Elia
            Dalam Mrk. 9:11-13, para murid Yesus bertanya: “Mengapa ahli-ahli taurat berkata, bahwa Elia harus datang dahulu?” Jawab Yesus: “...memang Elia sudah datang dan orang memperlakukan dia menurut kehendak mereka, sesuai dengan apa yang tertulis tentang dia.” Yohaneslah yang sebenarnya dimaksudkan dengan Elia[26]. Hal itu sesuai dengan nubuat nabi Maleakhi: “Sesungguhnya Aku akan mengutus nabi Elia kepadamu menjelang datangnya hati Tuhan yang besar dan dasyat itu...” (Mal. 4:5). Karena itu sebelum tindakan Allah secara definitif bagi Israel dan dunia ini, orang berharap akan datangnya Elia. Ia datang sebelum Mesias. Yohanes Pembaptis kini hadir. Ia dikabarkan sebagai Elia. Dengan demikian, jelaslah bahwa ada identifikasi antara Yohanes dan Elia. Namun Yohanes bukanlah Elia. Ia hanyalah nabi yang menyerupai Elia dalam nubuat mengenai kedatangan Mesias dan warta pertobatan. Lebih dari Mrk., Mat. bahkan memberi tekanan bahwa Yohanes adalah Elia yang akan datang: “Jika kamu mau menerimanya, ialah Elia yang akan datang itu” (Mat. 11:14). Selanjutnya disebut: “Pada waktu itu mengertilah murid-murid Yesus bahwa Ia berbicara kepada mereka tentang Yohanes Pembaptis” (17:13). Jadi yang tidak secara langsung diberitakan dalam Mrk., menjadi pemberitaan langsung dalam Mat. Yohanes adalah Elia, yaitu perintis sang Mesias.[27]
            Identifikasi Yohanes dengan Elia terlihat lebih jelas dalam Mrk. 1:6. Pakaian dan makanan Yohanes adalah jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit. Jadi pakaiannya sama dengan Elia (2 Raj. 1:8). Namun persamaan ini sebenarnya bersifat tidak langsung. Yesus juga kelak tidak langsung menyatakan kesamaan pakaian Yohanes yang sederhana dan hidupnya yang bertirakat dengan tokoh Elia. Ia hanya menghubungkan pakaian dan cara hidup itu dengan penampilan Yohanes sebagai nabi pertobatan yang mengajak umat supaya menyesali dosa-dosanya (Mat. 11:18).
            Penginjil keempat bahkan langsung menyatakan bahwa Yohanes bukan Elia  (Yoh. 1:21a). Namun Ia datang dengan semangat Elia.[28] Seperti nabi Elia menegur raja Ahab: “Memang sekarang aku mendapatkan engkau, karena engkau sudah memperbudak diri dengan melakukan apa yang jahat di mata Tuhan. Siapa dari keluarga Ahab yang mati di kota akan dimakan anjing dan yang mati di padang akan dimakan burung di udara.” (I Raj. 21:20,24). Begitu juga Yohanes saat menegur Herodes: “Tidak halal engkau mengambil istri saudaramu!” (Mrk. 6:18).

II.1.3.2. Padang gurun
II.1.3.2.1. Arti padang gurun
            Satu tema penting dalam keseluruhan Mrk. adalah padang gurun. Hal tersebut diperkenalkan dalam Mrk. 1:2-3. Yohanes Pembaptis adalah suara yang berseru di padang gurun. Padang gurun merupakan tempat persiapan bagi pewahyuan rencana penyelamataan Allah. Di tempat inilah pelayanan Yohanes terjadi dan di situ pula terjadi perjumpaan antara Yohanes dengan Yesus.[29]
            Padang gurun bagi penduduk Palestina adalah realitas yang tidak asing. Tempat tersebut terbentang di perbatasan kota Yerusalem dan meliputi seluruh wilaya Selatan Palestina. Di situ hidup pelbagai suku Badui. Bangsa Israel melihat padang gurun sebagai tempat yang istimewa. Tempat di mana manusia bisa berhadapan dengan Allah, menemukan dirinya sendiri, dan menanggalkan semua kemunafikan hati. Di gurun juga berlangsung salah satu sejarah bangsa Israel yang sangat penting, yaitu menjadi bangsa yang terorganisir dan lahirlah Israel sebagai bangsa, serentak juga menjadi tempat Israel mengadakan perjanjian dengan Allah.[30] Dalam pandangan para nabi, tinggalnya Israel di padang gurun merupakan masa yang paling indah. Saat itu Israel menjadi pengantin Allah (Yer. 2:2) dan Allah berbicara dengan umat-Nya dari hati ke hati. Ia menarik umat-Nya dengan tali cinta kasih (Hos. 11:4).
            Kendati demikian, masa tinggalnya Israel di padang gurun adalah juga masa yang berat. Mereka mulanya sudah biasa hidup dengan kekayaan dan kesuburan di negeri Mesir, tiba-tiba harus hidup berkelana dan amat sederhana. Mereka bersungut-sungut, berontak dan putus asa. Tetapi di situlah iman orang Israel diuji, antara percaya pada Tuhan secara total atau tidak percaya sama sekali.[31] Mereka memilih percaya.
Nabi Elia juga pergi ke padang gurun untuk bertemu dengan Allah (1 Raj. 19). Nabi Hosea mau membawa ke situ seluruh rakyat (Hos. 2:16-17), supaya mereka menjadi setia seperti semula, dan Yohanes Pembaptis juga menjadi penghuni padang gurun. Karena itu ia disebut sebagai nabi padang gurun. Di tempat itulah ia mempersiapkan suatu seri keselamatan sebagai seorang bentara. Ia memaklumkan Yesus dalam taraf permulaan yang kelak akan meningkat dalam pewartaan Yesus sendiri.[32] Tak kurang padang gurun adalah juga tempat di mana Yesus yang dibaptis oleh Yohanes dikirim untuk melawan setan dan mempersiapkan karya serta pelayanan publik-Nya. Sebagaimana Yesus di padang gurun selama 40 hari mengingatkan kembali 40 tahun Israel di padang gurun. Dan bahkan pembaptisan Yesus membangkitkan juga penyeberangan dari laut mati.[33]



II.1.3.2.2. Nabi di padang gurun
            Karya pewartaan Yohanes Pembaptis di padang gurun memperkenalkan dia sebagai nabi padang gurun. “Yohanes memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit, dan makanannya belalang dan madu hutan” (Mrk. 1:6).

II.1.3.2.2.1. Pakaian Yohanes Pembaptis
            Pakaian Yohanes serupa dengan suku Badui di padang gurun. Ia memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit. Itulah yang memperkenalkannya sebagai penghuni gurun pasir seperti para Badui.[34] Penceritaan mengenai pakaian Yohanes merupakan penegasan bahwa ia benar-benar hidup sebagai orang gurun. Namun pakaiannya tersebut mengingatkan pula pakaian nabi Elia sebagai orang gurun (2 Raj 1:8). Elia ini dinantikan kedatangannya oleh bangsa Yahudi (Mal. 3:23).
            Jubah bulu unta adalah pakaian yang sangat sederhana, murah dan amat kasar. Itu membedakannya dengan orang-orang sezamannya, terutama dengan para pemimpin yang tinggal di Yerusalem. Pakaiannya tersebut sekaligus menjadi tanda pengenal dari kaum beriman bahwa ia adalah nabi benar lewat pakaian luarnya yang tidak lazim (bdk., Za 13:4; Yes 20:2). Karena itu, pakaiannya dapat dilihat sebagai tindakan simbolis yang mengiringi pemberitaannya akan tobat.[35]
            Ada sebutan juga tentang “ikat pinggang kulit” yang membedakan Yohanes dari orang-orang sezamannya. Orang-orang sezamannya pada umumnya mengenakkan ikan pinggang yang dibuat dari lenan. Ikat pinggang berfungsi untuk menahan pakaian luar, tetapi juga sebagai tempat penyimpanan bekal, uang dan benda-benda keperluan sehari-hari.[36] Namun arti paling mendasar dari ikat pinggang sebenarnya adalah pelayanan.[37] Saat Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya, Ia menyatakan diri sebagai pelayan dengan mengenakkan ikat pinggang (Yoh. 13:4). Dengan demikian pakaian Yohanes sebenarnya menegaskan keberadaannya sebagai pelayan.


II.1.3.2.2.2. Makanan Yohanes Pembaptis
II.1.3.2.2.2.1. Belalang
            Belalang dan madu hutan disebut sebagai makanan dari Yohanes Pembaptis. Inilah makanan kegemaran para Badui.[38] Belalang sering disebut dalam PL berkaitan dengan laporan musnahnya tanaman. Belalang masuk dalam golongan keluarga “orthoptera”, yaitu terdiri atas dua kelompok: “belalang pelari”(cursoria) yang dipandang najis menurut hukum Imamat dan “belalang pelompat” (saltutoria) yang mempunyai panah di atas kakinya untuk melompat. Ini merupakan binatang yang tidak najis (Im. 11:20-29).
            Belalang itu beraneka ragam. Mereka berpindah-pindah menurut arah angin, dan biasanya belalang-belalang tersebut menyusup ke Palistina melalui gurun Arab. Mereka biasa merusak tanaman, namun belalang ternyata dapat dimakan, bahkan termasuk makanan lezat.
            Belalang bisa juga membawa bencana. Bencana belalang kadang-kadang ditafsirkan sebagai datangnya murka Allah.[39] Salah satu contohnya adalah 10 tulah di Mesir. Di sini menarik bahwa belalang yang dulunya menjadi bencana bagi Firaun dan rakyatnya (bdk., Kel. 10:4-6) justru ditampilkan sebagai makanan lezat di padang gurun.

II.1.3.2.2.2.2 Madu hutan
            Madu hutan yang dimakan oleh Yohanes berasal dari lebah. Makanan ini dianggap halal dan merupakan salah satu makanan sederhana di padang gurun.[40] Makanan ini bukan makanan yang umum dimakan. Yang tercatat di dalam Kitab Suci, hanya Yonatan (bdk., 1 Sam. 14:26-27) dan Yohanes Pembaptis yang makan madu hutan. Madu hutan adalah makanan alami yang dihasilkan oleh alam secara murni. Jadi bukan hasil rekayasa genetika.[41] Sudah pasti bahwa madu hutan itu berkhasiat. Tidak heran bahwa dengan madu hutan tersebut, mata Yonatan menjadi terang dan ia bersama tentaranya memenangkan perang melawan orang Filistin.

II.2. Isi pewartaan Yohanes Pembaptis
            Mrk. 1:4 memperjelas eksistensi Yohanes Pembaptis. Ia tampil di padang gurun. “Demikianlah Yohanes Pembaptis tampil di padang gurun dan menyerukan: Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu.” Penampilannya tersebut menegaskan kembali peran kenabian yang selama lebih 300 tahun tidak lagi muncul. Hal itu sesuai dengan keyakinan Israel akan datangnya seorang nabi yang menyerupai Musa dan menjadi tanda bahwa zaman akhir sudah dekat serta perubahan mendasar dalam sejarah Israel (bdk., Ul. 18:15-19).[42] Kehadirannya diiringi dengan seruan lantang akan pertobatan, pembaptisan, serta penegasan bahwa Allah akan memberikan pengampunan dosa. Seruan pertobatan dari mulut Yohanes menekankan beberapa hal, yaitu kenyataan bahwa manusia itu berdosa, bahwa manusia itu perlu menyesal dan bertobat, pembaptisan sebagai tanda, dan pengampunan dosa dari Allah.

II.2.1. Realitas dosa
            Israel pada masa hidup Yohanes Pembaptis adalah satu bangsa yang penuh dengan dosa. Ia tampil dengan pesan yang sederhana bahwa Allah murka terhadap umat-Nya dan akan menghukum serta menghancurkan Israel. Kehancuran yang dinubuatkan oleh Yohanes terlihat jelas dalam pemberitaan Mat., seperti kebakaran hutan yang membuat ular berlari (3:8), yang membakar pepohonan dan sekam (3:10.12). Ada juga sebutan kapak dan alat penampi sebagai metafor yang nanti digunakan oleh “Dia yang lebih berkuasa” untuk mengadili Israel. Karena itu pertobatan adalah mutlak bagi Israel. Israel berdosa! Kenyataan itu mewujud pada sikap dan tingkah laku para Farisi dan Saduki juga sikap dari kelompok Zelot dan kaum Ezeni sebagai kelompok-kelompok religius dan politik bengkok.[43] Jadi gema pertobatan yang disuarakan oleh Yohanes Pembaptis sebetulnya dilatarbelakangi oleh realitas dosa. Dosa itulah yang perlu diluruskan agar kedatangan Mesias disambut secara pantas.

II.2.1.1. Dosa dalam Perjanjian Lama
            Dosa adalah kenyataan yang ada di sepanjang sejarah manusia. Ada beberapa istilah Ibrani yang biasa dipakai untuk menunjuk realitas dosa, yaitu het’ dan hatta’t, artinya: “meleset, tidak kena pada sasaran.” Arti tersebut menunjuk unsur penting dosa, yaitu “kegagalan.” “Kegagalan” ini bersandingan dengan unsur-unsur lainnya, yaitu: Awon (penyelewengan), pasa, marad, marah (pemberontakkan), seker (dusta).[44]
            Kejelasan pemahaman dosa dalam PL dinyatakan secara jelas pada Kej. 3 tentang dosa manusia pertama. Pertama, dosa merupakan ketidaktaatan manusia kepada Allah. Kedua, ketidaktaatan itu terjadi karena manusia menyerah pada bujukan setan, dan dengan itu menyalahgunakan kebebasannya.[45]  Ketiga, dosa menyebabkan rusaknya relasi-relasi (relasi dengan Allah, sesama, dan alam). Keempat, Allah memberikan hukuman kepada manusia yang berdosa.[46] Kisah kejatuhan manusia pertama dalam dosa diteruskan oleh generasi-generasi berikutnya. Pada Kej. 4-11 hal tersebut diuraikan. Misalnya Kain membunuh adiknya Habel.
            Dosa itu mengandung resiko, yaitu kerusakan relasi dengan Allah, dengan sesama dan dengan alam semesta. Manusia menjadi takut akan Allah, menyalahkan orang lain dan harus keluar dari Taman Eden. Begitu juga pembunuhan Kain terhadap Habel adiknya (Kej. 4) membuat dia gelisah dan harus menjadi pengembara. Ada juga pemusnahan massal dengan air bah pada zaman Nuh (Kej. 6-7) sebagai akibat dari dosa-dosa Israel. Allah juga memutus komunikasi para bangsa sebagai akibat kesombongan mereka[47]; peristiwa Babel (Kej. 11). Jadi dosa manusia pertama memiliki dampak kepada semua keturunan mereka. Daud pernah berseru ketika ia menyadari dosanya: “Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku” (Mzm. 51:7). Ada keyakinan bahwa dosa manusia pertama telah membuat hati semua keturunannya menjadi busuk.[48] Manusia berdosa dan akibat dosa tersebut bukan saja berorientasi pada manusia, tetapi juga pada Allah. Allah terluka karena dosa ciptaan-Nya dan Ia marah (bdk., Mzm. 21:9; Yes. 10:5; Kej. 4:14). Kemarahan Allah hanya bisa diselesaikan dengan pertobatan.

II.2.1.2. Dosa dalam Perjanjian Baru
            Kehidupan Yohanes berorientasi pada Yesus. Karena itu warta pertobatannya pun terarah kepada-Nya. Yesus sendiri menyerukan pertobatan dalam rangka Kerajaan Allah, yaitu bertobat dari dosa. Lalu apa sebetulnya paham PB tentang dosa? Dalam Mrk. 7:20-22 disebut bahwa dosa berakar dalam hati dan menimbulkan berbagai hal lahiriah yang buruk: “...dari hati orang timbul...percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan...” Semua hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang (Mrk. 7:21-23). Yesus menegaskan bahwa pada hakikatnya dosa manusia merupakan tindakan meninggalkan Allah, seperti anak durhaka yang meninggalkan ayah dan rumahnya (Luk. 15:11-32). Karena itu Yesus menuntut kebaikan hati. Dikatakan bahwa: “Jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tapi ia tidak melakukannya, ia berdosa” (Yak. 4:7). Selebihnya disebut tentang penyebab dan akibat dari dosa: “Tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuai, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut” (Yak. 1:14-15). Maut itu adalah akibat dari dosa. Orang jatuh dalam kegelapan. Karena itu dosa juga dilukiskan sebagai “suasana gelap”. Disebut bahwa: “Manusia lebih menyukai kegelapan daripada terang..... Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu” (Yoh. 3:19-20). Dalam keadaan itulah manusia menjadi hamba dosa. Namun terang kemudian muncul. Yesus Kristus adalah Terang karena Ia tidak berdosa. Ia berkata: “Siapakah di antaramu yang membuktikan bahwa Aku berbuat dosa?” (Yoh. 8:46).
            Di samping para penginjil, Paulus juga memberikan pemahamannya tentang dosa. Ia menyebut dosa sebagai kondisi buruk yang sudah ada sejak awal sejarah manusia, yakni sejak kejatuhan Adam dalam dosa.[49] Karena dosa Adam, semua keturunannya berada dalam kondisi yang buruk, yakni terpisah dari Allah. Kondisi ini sedemikian buruk sehingga dengan kekuatannya sendiri manusia tidak mungkin lepas darinya.[50] Hanya Allah sendiri, melalui Putera-Nya dapat menyelamatkan manusia (bdk., Rm. 7:1-25).
            Pemahaman dosa dalam PB kurang lebih bisa memberi arti pada ide pertobatan yang diserukan Yohanes Pembaptis. Ia mengajak orang untuk bertobat karena pada dasarnya itulah jalan yang tepat untuk menyambut kehadiran Yesus. Ia sendiri memang tidak memberikan pemahaman lebih tentang dosa. Namun nubuatnya tentang hukuman Allah yang kelak datang (Mat. 3:8-12) merupakan suatu peringatan agar manusia bertobat dari dosa. Ia hadir mendahului karya publik Yesus. Yasus kelak berbicara tentang dosa, dan kalau Yesus mengerti dosa sebagai tindakan yang keluar dari hati dan menajiskan, maka Yohanes sepertinya memaksudkan hal itu juga.

II.2.2. Pertobatan
            Pewartaan pertama Yohanes Pembaptis adalah pertobatan. Orang perlu bertobat untuk menyambut kedatangan Mesias yang sedang menyusul. Manusia itu berdosa, sementara kehadiran Tuhan hanya bisa disambut dengan meluruskan hati yang sudah tercemar tersebut. Dengan bertobat dimaksudkan dua hal, yaitu penyesalan dan pertobatan.[51]

II.2.2.1. Penyesalan
            Penyesalan berasal dari kata dasar: “sesal” yang berarti rasa sedih sampai ke hati atas dosa-dosa yang telah dilakukan, disertai kehendak untuk bertobat.[52] Sementara penyesalan menunjuk pada tindakan atau sikap hati untuk melakukan pertobatan tersebut. Orang menyesal dan bertobat karena ia telah berdosa, yaitu ketidaktaatan kepada kehendak Allah secara sadar lewat pikiran, perkataan dan tindakannya, atau juga penolakan terhadap kebaikan dan cinta Ilahi.[53] Ketidaktaatan itu terjadi karena manusia menyerah pada bujukan setan dan menyalahgunakan kebebasannya.[54] Jadi penyesalan itu terjadi karena situasi manusia yang berdosa.
            Dengan penyesalan, manusia menjadi sadar bahwa hati yang bengkok perlu diluruskan kembali. Pelurusan kehendak untuk taat dan membangun kembali relasi yang telah putus dengan Allah serta sesama itulah syarat utama pertobatan. Tetapi penyesalan berbeda dengan pertobatan. Menyesal hanya berarti bahwa orang menolak dosanya, merasa sedih dan kecewa karena dosa yang diperbuat.[55] Karena itu perlulah orang bertobat.

II.2.2.2. Ajakan untuk bertobat
            Seruan Yohanes mengenai pertobatan lebih menunjuk pada ajakan untuk bertobat. Tobat berarti berpaling dari jalan yang salah dan kembali ke jalan yang benar, khususnya berpaling dari berbuat dosa. Hal itu menyangkut seluruh diri seseorang serta pikiran dan tindakannya.[56] Dengan demikian, tobat sebetulnya adalah suatu revolusi batin agar orang hidup menurut kehendak Allah.
            Konsep pertobatan bisa dirujuk dari PL. Misalnya ketika Nabi Natan menegur raja Daud agar ia bertobat setelah merebut Batsyeba secara licik dari suaminya (bdk., 2 Sam. 12), juga bagaimana orang Israel bertobat secara lahiria (1 Raj. 21;Yun. 3), tetapi juga pemahaman tobat dalam arti perubahan hati, yakni dengan berpaling kembali kepada Allah (mis. nampak pada penegasan nabi Amos, Hosea, Yeremia, dan Yehezkiel).[57]
            Dalam keseluruhan Kitab Suci, pertobatan itu sangat dekat dengan konteks gurun, yaitu upaya untuk kembali pada relasi asli dengan Tuhan seperti sejarah awal Israel, bahwa sejarah itu bermula di padang gurun dengan status Israel sebagai anak-anak Allah. Pemahaman tersebut dimengerti dan dikenal oleh bangsa Yahudi semasa Yohanes Pembaptis. Karena itu seruannya untuk datang ke gurun dipahami dengan tepat oleh masyarakat. Ia ingin agar orang-orang sebangsanya mengambil keputusan radikal untuk membiarkan diri mereka dikuasai oleh Allah, dan bukan hanya perubahan tingkah laku secara lahiria saja.[58] Pertobatan itulah yang merupakan inti pewartaan Yohanes Pembaptis. Bahwa manusia harus kembali kepada Allah dengan meninggalkan dosa dan pola hidup serta mentalitas yang salah. Pertobatan itu harus tulen dan menyeluruh, bukan saja bagi orang yang jelas berdosa dan kafir, tetapi juga untuk mereka yang saleh dan berpikir bahwa pertobatan itu tidak lagi perlu.[59]
            Dalam Mat., seruan bertobat dari Yohanes mendapat tambahan: “ Bertobatlah sebab kerajaan sorga sudah dekat…. Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan. Janganlah kamu berkata dalam hatimu: Abraham adalah bapa kami…” (bdk., Mat. 3:2, 8-9). Ini dialamatkan bagi kaum Farisi dan Saduki yang melihat diri sebagai orang-orang saleh dan tidak berpikir untuk berubah haluan. Dengan bangga mereka menyebut diri sebagai anak Abraham. Namun menurut Yohanes, Allah tidak mempunyai anak hanya karena keturunan saja, tetapi Ia justru menerima manusia yang menantikan dan mau ikut serta dengan-Nya. Ia menyerang kesucian manusiawi dan segala julukan muluk yang tak berisi. Ia mendesak supaya orang bertobat dan percaya pada belaskasihan Allah, serta tidak membanggakan kedudukan dan tingkatnya. Jadi dalam pewartaan Yohanes, pertobatan (metanoia) bukan saja pernyataan takut kepada Allah, bukan pula hanya tindakan sesal yang mendorong untuk berbuat sesuatu demi pemulihan dosa, melainkan suatu pertobatan yang bertumpu pada pemahaman jelas tentang kecilnya manusia di hadapan Allah lewat hatinya dan berlaku dengan prinsip cinta-kasih.[60] Dengan pertobatan orang terhindar dari penghakiman yang akan datang.[61]

II.2.3. Allah akan mengampuni dosamu
            Yohanes menyerukan bahwa dengan bertobat dan dibaptis, Allah akan memberikan pengampunan dosa (Mrk. 1:4). Mengapa? Ini karena Allah adalah pribadi yang berbelaskasih dan orang yang bertobat serta dipermandikan mendapatkan kerahiman Allah.

II.2.3.1. Allah yang berbelaskasihan
            Pengampunan dosa terjadi jika orang menyesal dan bertobat. Namun pengampunan itu tidak diberikan oleh Yohanes, melainkan oleh Allah. Itu terjadi karena belaskasihan Allah. Belaskasihan itu memberi hidup, membawa kegembiraan, membuka hati, membuat lawan menjadi kawan, pendosa menjadi saleh, atau  bahkan menjadi kudus. Karena belaskasihan itulah orang berdosa tidak langsung disiksa.[62] Tuhan sabar terhadap orang yang berdosa sebab Ia tidak ingin kebinasaan. Ia inginkan pertobatan (bdk., 2 Pet. 3:9). “Aku tidak berkenan kepada kematian si jahat, melainkan supaya si jahat berbalik dari jalannya dan lalu hidup terus” (Yeh. 33:11). Tuhan selalu memberikan kesempatan untuk bertobat serta menegaskan bahwa setiap saat Ia tetap menantikan kedatangan para pendosa.[63] Pengampunan Tuhan itu bersifat radikal dan total. Ia tidak lagi melihat kedosaannya. Bagi orang lain mungkin ada pandangan bahwa yang bertobat itu tetap berdosa, tetapi bagi Tuhan tidak. “Sekalipun dosamu merah seperti kermizi, akan menjadi putih seperti salju, sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba” (Yes. 1:18). “Aku akan mengampuni mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka (Yer. 31:33).
            Alasan pengampunan dosa sebetulnya terjadi karena Allah itu berbelaskasih dan pengampunan bagi para petobat yang datang kepada-Nya adalah bukti bahwa keselamatan ciptaan merupakan kehendak-Nya. Ide tentang Allah yang berbelaskasih atau maharahim itulah yang mendatangkan pengampunan bagi manusia. Ia sudi mengampuni dosa penduduk Sodom dan Gomora (Kej. 18:16-33) yang dikenal berdosa berat (bdk., Kej. 13:13; Ul. 32:32; Yes. 1:10). Ia mengampuni penduduk Niniwe yang telah berbuat kejahatan (Yun. 3:1-10), dan pengampunan itu selalu datang pada bangsa Israel meskipun mereka selalu berbuat dosa (Neh. 9:16-31). Belaskasihan dan kerahiman Allah itu juga yang diwartakan oleh para nabi.[64] Mereka menyuarakan pengampunan dosa kepada Israel (Yes. 6:7; Yer. 31:34; 33:8; 50:20). Suara kenabian mengenai kerahiman dan belaskasih Allah itu kemudian diteruskan oleh Yohanes Pembaptis. Ia menyerukan pertobatan dan pembaptisan demi pengampunan dosa (Mrk. 1:4). Orientasi pertobatan itu jelas, yaitu supaya orang layak menyambut Yesus yang akan datang. Yesus juga  memberi penegasan tentang kerahiman Allah[65] bahwa: “Segala dosa dan hujat manusia akan diampuni, kecuali hujat terhadap Roh Kudus” (Mrk. 3:28-29).

II.2.3.2. Allah mengampuni manusia yang bertobat
            Kendati Allah itu berbelaskasih, namun Ia juga memerlukan kerjasama. Kerjasama itu mewujud pada kesadaran manusia untuk berbalik kepada-Nya. Kembalinya manusia untuk pemulihan relasi dengan Allah itulah yang mendatangkan pengampunan. Hal itulah yang ditunjukkan oleh orang-orang dari seluruh daerah Yudea dan semua penduduk Yerusalem. Mereka mengaku dosa dan dibaptis di sungai Yordan.

II.2.3.2.1. Orang-orang yang datang kepada Yohanes Pembaptis
            Sebutan “Orang-orang dari seluruh daerah Yudea dan semua penduduk Yerusalem” (Mrk. 1:5) yang datang kepada Yohanes adalah petunjuk bahwa pewartaannya mendapatkan respon yang luar biasa. Pewartaannya bahkan bisa menarik jumlah massa yang luar biasa besarnya. Di sini menarik bahwa istilah Yudea dipadankan dengan Yerusalem. Markus juga menyebutnya di bagian lain, yaitu saat Yesus dan murid-murid-Nya menyingkir ke danau, lalu Ia diikuti oleh orang-orang dari Yudea, Yerusalem, Galilea, Idumea, Tirus, dan Sidon (Mrk. 3:7-8). Juga dalam Yoh. 11:55, negeri Yahudi[66] dan kota Yerusalem disebut bersama-sama. Maksud Markus tentang orang-orang dari seluruh daerah Yudea sebetulnya adalah seluruh tanah yang dihuni orang Yahudi dengan ibukota Yerusalem.[67] Dalam Katekismus Gereja Katolik disebut: “Banyak pendosa: pemungut cukai dan serdadu, orang Farisi dan Saduki serta pelacur membiarkan diri dibaptis olehnya”.[68] Mereka bisa dikelompokkan dalam beberapa bagian:

II.2.3.2.1.1. Masyarakat biasa
            Markus hanya memberikan penyimpulan umum tentang orang yang datang kepada Yohanes Pembaptis. Boleh disebut bahwa sebagian besar yang datang adalah masyarakat biasa yang mendiami kota Yerusalem dan yang tinggal di pelosok-pelosok desa. Hal tersebut menandakan bahwa karya Yohanes menimbulkan kesan mendalam dalam hati banyak orang yang tinggal di kota maupun di desa-desa.[69] Masyarakat biasa inilah yang datang dengan jumlah besar. Mereka adalah orang-orang yang kurang menonjol karena tidak memiliki posisi penting dalam masyarakat, bukan pemimpin partai-partai, bukan pula penguasa dan bukan elit agama.[70] Namun mereka adalah orang-orang yang sadar dan punya tekat untuk membaharui diri. Orang-orang sedemikian barangkali bisa disejajarkan dengan orang-orang kecil yang mendapat perhatian Yesus kelak dengan istilah yang berbeda-beda, yaitu: orang miskin, buta, lumpuh, pendosa, pelacur, teraniaya, terinjak, berbeban berat, orang banyak, atau kelompok yang tak tahu hukum (Mrk. 1:23.32-33.40; 2:3.15.17; 3:1; 9:17-18.42).



II.2.3.2.1.2. Pemungut Cukai
            Para pemungut cukai pasti termasuk dalam kelompok orang yang datang mendengar Yohanes Pembaptis. Hal itu memang tidak disebut dalam Mrk. 1:5. Hanya dalam Mrk. 2:14-15 pemungut cukai itu disebut saat Yesus makan di rumah Lewi. Namun dalam perbandingan dengan Injil lain, khususnya Luk., kelompok pemungut cukai disebut (bdk., Luk. 3:12). Pemungut cukai ini oleh orang Yahudi dilihat sebagai “orang luar”. Mereka tidak disukai karena mereka itu adalah penagih pajak. Mereka menuntut lebih banyak daripada apa yang sudah ditetapkan agar cepat menjadi orang kaya (Luk. 19:2,8). Yohanes menegaskan kepada mereka untuk memegang peraturan tanpa memeras orang-orang (Luk. 3:12-13)[71].
            Dalam PB, pemungut cukai ini tidak termasuk dalam pejabat tinggi yang memiliki kuasa menetapkan pajak. Mereka itu adalah orang Yahudi dan bekerja pada majikan sebagai pegawai rendahan, tetapi oleh masyarakat, mereka dianggap orang berdosa, serta mendapatkan penghinaan karena relasi dengan para penjajah, juga karena pemerasan yang mereka lakukan. Mereka dilihat najis oleh para pelaksana hukum Yahudi yang setia.[72] Namun Yesus tidak membenarkan pandangan sedemikian (Mrk. 2:17). Kedatangan kelompok ini kepada Yohanes adalah indikasi bahwa reformasi diri akibat pewartaan Yohanes bahkan menyentuh masyarakat pinggiran yang dilihat sebagai sampah masyarakat.

II.2.3.2.1.3. Prajurit-prajurit
            Prajurit-prajurit dapat dihubungkan dengan penangkapan Yohanes (Mrk. 1:14). Herodes Antipas menyuruh hamba-hambanya untuk menangkap Yohanes (Mrk. 6:17). Hal itu terjadi karena protes Yohanes terhadap perkawinan Herodes dengan Herodias bahwa perkawinan itu berlawanan dengan kehendak Allah (6:18). Herodes ternyata segan menangkapnya, tetapi atas desakan Herodias yang sangat membenci Yohanes, ia akhirnya ditangkap. Penangkapan itu terjadi di Perea, di seberang sungai Yordan. Di situ Yohanes sering bekerja (bdk., Yoh. 1:28; 3:26). [73]
            Sebutan “hamba-hamba” dari Herodes dapat dikaitkan dengan prajurit-prajurit yang datang ke padang gurun. Dalam Mrk. kelompok ini memang tidak disebut tetapi dalam Luk. mereka dihadirkan (3:14). Mereka bahkan bertanya pada Yohanes: “Dan kami, apakah yang harus kami perbuat?” Kehadiran para prajurit di padang gurun sepertinya merupakan rencana pribadi Herodes untuk memata-matai Yohanes yang popularitasnya bahkan telah membangkitkan seluruh bangsa untuk datang menengoknya. Mereka ini bukan orang-orang Yahudi dan dosa mereka lebih pada dosa jabatan dalam lingkungan militer,[74] yaitu penyalahgunaan kekuasaan mereka untuk merampas dan memeras orang-orang. Yohanes menyarankan mereka untuk mencukupkan diri dengan gaji yang didapat.

II.2.3.2.1.4. Farisi
            Sebutan Farisi baru muncul pada Mrk. 2:16. Jadi kelompok ini baru disebut saat Yesus berkarya. Kendati demikian, kelompok ini barangkali masuk juga dalam jumlah besar orang yang datang mendengar Yohanes di padang gurun. Yohanes bahkan seperti dikemukakan dalam Mat., menegur keras mereka: “Hai kamu keturunan ular beludak....” (Mat. 3:7-10). Para Farisi memang dikenal angkuh, munafik, dan terlalu menekankan kesucian lahiria. Boleh jadi kehadiran mereka di tengah seluruh penduduk yang bergerak ke padang gurun hanya untuk memeriksa siapa yang berseru-seru itu, sehingga menarik banyak orang kepadanya. Diakah mesias yang dinantikan?
            Kaum Farisi memang diidentikkan dengan keangkuhan dan kemunafikan. Akan tetapi merekalah sebetulnya yang tetap berjaga-jaga, sehingga api pengharapan akan Mesias tetap bernyala. Agak berat sebelah sebenarnya jika ada generalisasi umum bahwa semua Farisi bengkok. Ada juga anggotanya yang berhati lurus dan bercita-cita lurus.[75] Karena itu beralasan kalau mereka datang di padang gurun untuk dibaptis  (Mat. 3:7). Itu berarti bahwa gema pertobatan juga menyentuh kelompok elit keagaamaan ini.



II.2.3.2.1.5. Saduki
            Markus tidak menyebut kelompok Saduki dalam massa rakyat yang secara tiba-tiba berarak ke padang gurun. Kelompok ini bahkan baru muncul dalam perdebatan mengenai kebangkitan (bdk., Mrk. 12:18). Namun kemungkinan besar kelompok ini juga termasuk dalam kerumunan rakyat yang diuraikan sebagai gerakan massa peziarah. Mereka tergerak oleh situasi kebangunan rohani sebagai akibat pemberitaan Yohanes. Hal itu dipertegas dalam Mat. Pada Mat. 3:7, kelompok Saduki ini disebut bersamaan dengan seterunya Farisi.[76] Tetapi yang ditekankan bukan pada kelompok, melainkan pribadi, sehingga pertobatan kaum saduki dan Farisi itu tentu bukan dalam arti institusi komunal. Sebutan Saduki sepertinya mencuat untuk mendeskripsikan bahwa seruan di padang gurun telah menarik segala lapisan masyarakat, entah yang terkecil, maupun dari kalangan elit politik dan agama.

II.2.3.2.2. Kiblat ke padang gurun
            Padang gurun disebut sebagai tempat terasing dari keramaian dunia. Orang yang berseru di tempat ini biasanya tidak didengar.[77] Namun suara Yohanes Pembaptis ternyata membangkitkan minat masyarakat banyak untuk berarak ke tempat itu. Perarakan massa ke padang gurun tersebut dibahasakan secara luar biasa oleh Markus: “Lalu datanglah kepadanya orang-orang dari seluruh daerah Yudea dan semua penduduk Yerusalem....” Apakah penduduk Galilea tidak ada yang datang?
            Markus barangkali memiliki maksud lain. Pertama, yang dianggap orang Israel sepenuhnya adalah keturunan Abraham yang asli, dan ia sepertinya memikirkan pandangan umum saat itu bahwa hanya dari keturunan asli Abraham yang dapat mengenyam hak-hak yang berasal dari jasa Abraham dan mendapat bagian dalam penyelamatan Mesias.[78] Sementara orang-orang Yahudi di Galilea sudah tidak termasuk serta mendapat penghinaan karena perkawinan campuran dengan orang-orang kafir. Itu berlaku juga bagi orang Samaria karena asal-usul Yahudi-kafir mereka.
            Kedua, gerak masyarakat Yudea dan Yerusalem berkiblat ke padang gurun sepertinya untuk memberikan peringatan khusus pada mereka bahwa saatnya untuk bertobat. Mengapa? Ini karena Mesias sudah akan datang. Tidak ada peringatan keras dalam versi Mrk., tetapi dalam Mat., hal tersebut nampak (bdk., Mat. 3:7-10), bahwa akan ada penghancuran jika mereka tidak bertobat. Garis pemikiran Markus sepertinya untuk menekankan bahwa Yudea dan Yerusalem perlu dikhususkan karena merekalah yang kelak akan menolak Yesus. Yesus kelak akan ditolak di dua tempat tersebut, sementara Yohanes Pembaptis justru berhasil dalam pelayanannya kepada orang-orang ini.[79]
            Dalam Mrk. 1:9 disebut tentang pembaptisan Yesus. Pembaptisan itu adalah petunjuk bahwa Ia menerima nubuat Yohanes.[80] Kalau begitu, Yesus juga setuju dengan pemberitaan Yohanes mengenai penghukuman yang nanti datang jika Israel tidak bertobat. Kenyataannya Israel tidak bertobat. Yesus mati di Yerusalem oleh bangsa-Nya sendiri. Dan nubuat Yohanes yang kemudian dipertajam oleh Yesus mengenai kehancuran Yerusalem[81] (bdk., Mrk. 13:2; Luk. 19:43-44; 21:20-23; 23:28) pada akhirnya terjadi.
            Ketiga, memang orang-orang datang untuk mendengarkan Yohanes Pembaptis. Namun penting diperhatikan bahwa gema pengharapan akan Mesias saat itu dipegang secara berapi-api oleh masyarakat Yudea dan Yerusalem. Karena itu kedatangan mereka kepada Yohanes sepertinya untuk melihat Mesias yang dinantikan. Hanya saja Yohanes Pembaptis bukan Mesias. Sehingga kedatangan banyak orang kepadanya justru dialihkannya pada Mesias yang jelas merupakan isi pokok pemberitaannya. Dengan cara itu Yohanes Pembaptis sebenarnya telah menjadi motor pergerakan kelompok masyarakat untuk memahami bahwa Mesias sudah di ambang pintu.


II.2.4. Pembaptisan sebagai lambang pertobatan
Baptis merupakan tanda penyesalan dan pertobatan. Seruan pembaptisan dari Yohanes merupakan meterai akan pertobatan. Baptisan tersebut adalah perwujudan tobat yang berlangsung di hati orang yang minta dibaptis.[82] Dengan baptisan tersebut, orang disiapkan untuk dapat masuk ke dalam jemaat keselamatan pada akhir zaman, sekaligus lewat pembaptisan itu, kehendak Allah agar manusia bertobat dinyatakan, dan Allah memberikan peneguhan agar pertobatan yang terlaksana lewat pembaptisan berkembang menjadi sikap hidup yang tetap dan berkenan kepada-Nya.[83]

II.2.4.1. Baptisan dalam Perjanjian Lama
            Dalam PL terdapat istilah “Baptein” yang berarti: mencelupkan kakinya ke dalam air (Yos. 3:15), mencelupkan jari ke dalam darah (Im. 4:6,17), dimasukkan ke dalam air (Im.11:32), dan membenamkan diri ke sungai Yordan (2 Raj. 5:14). Air itu merupakan materi untuk pembaptisan dan lambang pengudusan. Hal itu dilaksanakan dalam satu ritus, yaitu ritus penyucian atau pengudusan dengan cara membasuh. Basuhan itu bukan lambang melainkan alat pengudusan itu sendiri. Jadi air untuk pembasuhan dianggap mempunyai kekuatan magis untuk penyucian.[84]
            Baptisan dalam PL memang memiliki kaitan dengan air. Tuhan Allah sering menggunakan air untuk menyelamatkan orang-orang pilihan-Nya.[85] Nuh dan keluarganya diselamatkan oleh Tuhan melalui peristiwa air bah (Kej. 7:1-24; 9:1-17). Begitu juga penyelamatan bangsa Israel dari kejaran pasukan berkuda Mesir dengan menggunakan air laut (Kel. 14:15-31). Juga penyeberangan bangsa Israel di sungai Yordan untuk memasuki tanah terjanji (Yos. 3:1-17), dan bagaimana nabi Eliza memberkati air dengan garam atas nama Tuhan sehingga air tersebut menjadi sehat (2 Raj. 2:19-22). Secara khusus dikisahkan bagaimana penyakit kusta Naaman, seorang panglima tentara Aram disembuhkan setelah ia mandi tuju kali di sungai Yordan (2 Raj. 5:4). Semua itu menegaskan bahwa dalam PL air dipahami sebagai sarana pengudusan, yaitu suatu sarana dalam mana orang dikuduskan lewat pembasuhan dengan air.

II.2.4.2. Baptisan Yohanes Pembaptis
            Kitab Suci PB mengisahkan pembaptisan[86] Yohanes di sungai Yordan. Baptisan tersebut adalah tanda pertobatan dan pengampunan dosa (Mrk. 1:4). Ritus itu penting, sehingga Yesus bahkan memberi diri untuk dibaptis oleh Yohanes (Mrk. 1:9). Baptisan Yohanes (Mrk.1:4) tersebut sebetulnya menunjukkan penerusan adat basuhan PL tetapi dengan pengertian baru,[87] yaitu bukan basuhan atau airnya tetapi makna yang dilambangkan oleh baptisan itu. Latar belakang baptisan yang dilakukan oleh Yohanes di sungai Yordan berakar dari baptisan proselit yang ada dalam tradisi Yahudi yang terdiri dari ritus sunatan dan baptisan. Baptisan proselit merupakan persyaratan untuk masuk ke dalam masyarakat Yahudi khusus bagi orang-orang yang bukan keturunan bangsa Yahudi. Tentang baptisan Yohanes, Oscar Cullman menyebut:
Intisari daripada ritus baptisan tersebut bukanlah penerimaan seseorang masuk menjadi bangsa Yahudi namun penerimaan masuknya orang tersebut ke dalam perjanjian sebagai umat Allah yang mewarisi baik janji-janji maupun tanggungjawab-tanggungjawab sehubungan dengan perjanjian tersebut.
Baptisan yang dilakukan oleh Yohanes diberikan makna baru sebagai wujud pertobatan dan pengampunan dosa sebagai persiapan bagi kedatangan Tuhan.
[88]
Syarat baptisannya jelas, yaitu: “Hasilkan buah-buah yang sesuai dengan pertobatan … seperti berbagi pakaian dan makanan, tidak melakukan pungli maupun merampas hak orang lain” (Luk. 3:8-14). Jadi baptisan Yohanes, di samping melambangkan penyucian dari dosa seperti dalam PL, juga harus disertai buah, sebab jika tidak, maka telah tersedia kapak untuk menebang yang tidak berbuah dan membuangnya ke dalam api (Luk.3:9; Mat. 7:15-23). Istilah lengkapnya adalah baptisan pertobatan (Mrk. 1:4). Bila adat basuhan PL lebih mempunyai arti sebagai penyucian pada dirinya sendiri, baptisan Yohanes justru bersifat eskatologis menuju kepada Kristus yang akan membaptis dengan Roh Kudus (Mrk.1:7-8). Ringkasnya, baptisan Yohanes memiliki beberapa unsur[89], antara lain:
Ø  Baptisan itu merupakan tanda dan bukti pertobatan. Jadi bukan upacara biasa saja. Orang yang bersedia dibaptis merupakan bukti kelihatan dari tobat, dan pengakuan dosa adalah bukti kedengaran dari tobat
Ø  Baptisan itu tidak diulang, dan hanya diberikan sekali seumur hidup
Ø  Yohanes atau seorang muridnya-lah yang membaptis orang. Itu dibuat di hadapan umum. Jadi tidak dibuat secara pribadi
Ø  Baptisan tersebut terbuka untuk semua orang. Jadi bukan bagi kelompok tertentu saja
Ø  Tujuan baptisan tersebut bukan saja untuk menyucikan orang dari dosa-dosa, tetapi juga untuk mempersiapkan umat akan kedatangan Mesias
Dapat dikatakan bahwa baptisan yang dilakukan Yohanes begitu khas dan merupakan ciptaan Yohanes[90] sendiri. Ia disebut Pembaptis karena upacara pembaptisan yang ia terimakan.[91]

II.3. Pemberitaan Yohanes Pembaptis tentang “Dia yang lebih Besar” dari dirinya
            “Sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa dari padaku; membungkuk dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus”(Mrk. 1:7-8). Dua ayat tersebut menggambarkan dan memperjelas apa yang ada pada ay. 4 mengenai pemberian baptisan pertobatan demi pengampunan dosa. Bahwa baptisan Yohanes menunjuk ke depan, ke perkara lain yaitu pengampunan. Pokok harapan itu dipertegas dalam ay. 7-8, akan datang seorang tokoh yang kuat. Ia datang sesudah Yohanes dan kekuasaan-Nya lebih dibanding Yohanes.

II.3.1. Ia akan datang mengikuti Yohanes Pembaptis
Harapan akan kedatangan seorang tokoh yang melebihi Yohanes Pembaptis dikumandangkan sendiri oleh Yohanes. Yohanes memang tampil menyerupai seorang bentara. Bentara itu menyatakan bahwa sebentar lagi raja akan datang.[92] Dalam Luk. hal tersebut dipertegas dengan mengutip kata malaikat Gabriel: “Ia akan berjalan mendahului Tuhan dalam roh dan kuasa Elia untuk menyiapkan bagi Tuhan suatu umat yang layak bagi-Nya” (Luk. 1:17).
            Pemberitaan Yohanes tidak lain untuk memaklumkan bahwa akan segera terjadi pergantian dan itu akan langsung terjadi. Bahwa “Yang lebih berkuasa” sudah di depan mata. Siapa Dia? Yohanes tidak menyebut nama-Nya dan tidak memastikan apakah Dia itu Allah atau manusia. Namun ungkapan “lebih berkuasa” memberi petunjuk bahwa Dia itu memiliki kekuatan Ilahi.[93]

II.3.2. Lebih berkuasa dari Yohanes Pembaptis
             Orang Kristen awal menyimpulkan bahwa yang dimaksud Yohanes tentang “Dia yang lebih berkuasa” adalah Yesus.[94] Markus bahkan memberikan kiasan yang begitu agung mengenai kedatangan orang besar tersebut. Disebut bahwa Yohanes bahkan tidak layak membungkuk dan membuka tali kasut-Nya. Saking besarnya orang itu, Yohanes bahkan merasa diri tidak layak untuk melakukan pekerjaan sebagai seorang hamba.Yang akan datang itu dilukiskan dengan ciri-ciri manusiawi, yaitu mengenakkan kasut atau sepatu. Akan tetapi Ia lebih agung daripada manusia karena Yohanes orang yang besar saja merasakan ketidakpantasan berhadapan dengan-Nya. Yang dimaksud sebenarnya adalah Yesus. Ia mengenakkan sepatu sandal. Namun ciri kemanusiaan Yesus ini tidak lantas meniadakan kenyataan bahwa Dia juga layak disembah sebagai Allah.[95] Memang Yohanes tidak langsung menyebut nama Yesus, namun ia sebenarnya sudah menyinggung kemuliaan pribadi Yesus, bahwa pengakuannya sebenarnya merupakan pujian kepada tokoh yang akan datang itu.[96]
            Kalimat pujian dari mulut Yohanes mencuatkan ide kemesiasan Yesus. Ini terungkap lewat lukisan kehambaan Yohanes yang bahkan tidak cukup untuk tokoh yang melebihinya itu. Ungkapan membungkuk dan membuka tali kasut biasanya diarahkan pada seorang raja atau seorang penguasa. Karena itu kemesiasan Yesus sebenarnya sudah tersirat dalam kata-kata Yohanes. Yesus adalah Mesias. Itulah yang dimaksudkan oleh Yohanes. Philip Van Linden[97] menyebut:
Yohanes Pembaptis hanya mempunyai satu fungsi dalam Mrk. Ia adalah seorang yang menunjuk Yesus sebagai Mesias. Ia menyerukan pertobatan kepada Allah melalui baptisan dan pengampunan dosa, pakaian dan makanannya membuat ia seperti Elia baru yung diutus Allah untuk mempersiapkan jalan Tuhan.
Bahwa nubuat Yohanes terarah pada Yesus sebagai Mesias terungkap kemudian dalam pelaporan Mrk. mengenai kemesiasan Yesus. Namun sebelum meneliti ulasan Mrk. tentang Yesus sebagai Mesias, adalah baik jika dilihat lebih awal paham Yahudi mengenai Mesias.

II.3.2.1. Paham Yahudi mengenai Mesias
            Orang-orang Yahudi yakin bahwa mereka adalah umat pilihan Allah. Mereka berpikir bahwa kehidupan mereka harus lebih istimewa dari bangsa-bangsa lain; mereka harus selalu diberkati. Namun dalam perjalanan hidup, mereka terjebak pada situasi kekacauan negerinya,  korupsi para pemimpin, pemberontakan, serta perasaan  tidak aman. Situasi semacam ini membuat mereka mulai mengharapkan campur-tangan Tuhan atas umat pilihan-Nya itu. Dengan demikian mulai hidup dan berkembang gagasan tentang datangnya Mesias. Alur pemikiran mereka tentang Mesias terungkap dalam beberapa pernyataan berikut[98]: Pertama, sebelum Mesias datang, akan ada masa penganiayaan yang hebat; dunia akan bergoncang dan di mana-mana akan ada kelaparan dan kekacauan. Muncul gejolak sosial yang berawal dari sikap mementingkan diri sendiri; lalu lahirlah pemimpin-pemimpin korup dan otoriter serta rakyat yang tak bersolider. Kedua, Elia akan datang di tengah situasi yang kacau tersebut. Dia datang sebagai perintis jalan dan pembawa kabar tentang Mesias. Elia inilah yang menyiapkan jalan bagi datangnya Mesias. Dia dihormati sekaligus dirindukan karena tanpa kehadiran Elia terlebih dahulu, Sang Mesias itu tidak akan datang. Ketiga, kalau semua itu sudah terjadi, maka datanglah Sang Mesias, yakni “orang yang diurapi”. Dalam kuasa Mesias inilah bangsa-bangsa bisa bersatu padu, kota suci Yerusalem dipulihkan lagi dan akan ada kedamaian serta kesejahteraan bagi seluruh negeri.
            Gambaran mereka akan Mesias lebih terang dalam pernyataan-pernyataan berikut[99]:
·         Mesias Yahudi pada dasarnya bersifat nasionalis. Bangsa Yahudi adalah pusat perhatian dan perjuangan dilihat di Yerusalem. Sementara bangsa-bangsa lain tetap di bawah struktur bangsa Yahudi. Jadi Mesias Yahudi itu tertutup hanya pada satu bangsa
·         Mesias Yahudi digambarkan juga secara materialistis, yaitu akan mensejahterakan dan memakmurkan bangsa Israel
·         Mesias dalam pemahaman Yahudi akan ditandai oleh perubahan kosmis dan kehancuran total
·         Mesias Yahudi dilukiskan pula sebagai sosok yang akan menghajar para pendosa untuk menghapus kejahatan
·         Mesias tersebut penuh dengan kemuliaan, kemegahan dan kekuasaan

II.3.2.2. Mesias menunjuk pada Yesus
            Mesias itu bersifat nasionalis, materialistis, eksklusif, penghukum, serta penuh dengan kuasa dan kemegahan. Itulah pandangan Yahudi tentang Mesias. Dengan semua harapan tersebut, apakah kehadiran Yesus sudah mencerminkan dan mempresentasikan harapan bangsa-Nya itu? Yesus jelas adalah Mesias. Namun kemesiasan-Nya berbeda dengan pandangan sezaman. Markus bahkan menempatkan pengakuan Yesus sebagai Mesias sebagai pusat Injilnya (Mrk. 8:29) [100]. Pengakuan tersebut berasal dari Petrus dan itu terjadi pada zaman  yang ditandai oleh penampilan nabi besar Yohanes Pembaptis. Yohanes Pembaptis dan masyarakat saat itu menantikan kedatangan Mesias, kedatangan Anak Allah yang terurapi (bdk., Mzm. 2:2;Yes. 61:1). Yohanes sendiri sebetulnya sudah menunjuk pada Mesias ketika ia menubuatkan tentang “Dia yang lebih berkuasa” dari dirinya. Begitu juga masyarakat bertolak dari nubuat tersebut mengharapkan kedatangan Mesias yang sudah dekat. Namun menurut masyarakat banyak, Yesus bukan Mesias.[101] Pandangan orang banyak tersebut berbeda dengan para murid yang diwakili oleh Petrus. Lewat Petrus diakui bahwa Yesus adalah Mesias. Bagi Petrus, Yesuslah yang dimaksudkan oleh Yohanes.[102] Kemesiasan Yesus terungkap pula pada waktu persidangan-Nya. Imam besar mengajukan pertanyaan: “Apakah Engkau Mesias? Anak dari yang terpuji?” Yesus menjawab: “Akulah Dia” (Mrk. 14:61). Begitu juga dengan kesaksian kepala pasukan ketika Yesus di atas kayu salib: “Sungguh, orang ini adalah Anak Allah” (Mrk. 15:39).
            Pengakuan-pengakuan terhadap Yesus tersebut merupakan petunjuk jelas bahwa Ia adalah Mesias. Ia hidup dan wafat sebagai Mesias. Namun Yesus melarang untuk memberitahukan hal tersebut kepada banyak orang (Mrk. 8:29-33) karena situasi-Nya sebagai Mesias berbeda dengan harapan masyarakat. Ia sebetulnya lebih menekankan hubungan dengan Allah dari pada dengan Mesias politik yang dinanti-nanti.[103] Lalu apa sebetulnya gambaran Yesus sebagai Mesias?

II.3.2.3. Gambaran Yesus sebagai Mesias
            Gambaran Yesus sebagai Mesias dapat disarikan sebagai berikut[104]:
·         Berbeda dengan paham Yahudi mengenai Mesias yang nasionalis, Yesus justru menempatkan sifat nasionalis sebagai unsur terkecil. Ia memang menempatkan keselamatan Israel sebagai perhatian utama, namun disadari bahwa karya-Nya adalah untuk semua manusia. Hal itu jelas pada perhatian-Nya terhadap orang kafir, perlakuan-Nya terhadap orang Samaria, atau juga kelembutan-Nya terhadap putri Syro-Fenisia (Mrk. 7:24-30).
·         Arah pewartaan Yesus adalah Allah yang meraja. Ia mengajarkan doa: “Jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga”. Ini membedakan-Nya dari harapan Yahudi akan Mesias yang materialistis.
·         Yesus menolong dan menyelamatkan para pendosa. Ia bergaul dengan para pendosa. Hal ini sulit diterima kaum Yahudi yang memandang bahwa Mesias itu akan menghukum kejahatan
·         Yesus tampil sebagai hamba Yahwe, dan ini berbeda juga dengan harapan Yahudi akan kedatangan Mesias yang mulia dan penuh kuat kuasa
Jadi Mesias Yesus berbeda dengan harapan Yahudi. Ia bahkan menyembunyikan identitas-Nya tersebut dengan perintah “diam” kepada para murid-Nya karena dua alasan, pertama, Yesus memang memikirkan diri-Nya sebagai Mesias, dan kedua, mesianitas-Nya harus dirahasiakan karena jika diketahui banyak orang, maka orang akan melihatnya secara nasionalistis.
Perintah Yesus kepada para murid untuk merahasiakan bahwa Dia adalah Mesias pada akhirnya dapat dikaitkan dengan pernyataan Yohanes Pembaptis tentang “Dia yang lebih berkuasa” (Mrk. 1:7). Boleh jadi bahwa bahasa kiasan yang digunakan oleh Markus dalam kata-kata Yohanes adalah untuk tidak menunjukkan identitas Mesias secara terang-terangan. Namun tersirat dalam pengungkapan Yohanes bahwa Yesus adalah mesias. Mesias itu bahkan nampak nyata dengan baptisan-Nya, yaitu akan membaptis dengan Roh Kudus (Mrk. 1:8).

II.3.3. Ia akan membaptis dengan Roh Kudus
Yohanes Pembaptis membuat perbandingan antara baptisannya dengan baptisan sosok yang akan datang itu. “Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus” (Mrk. 1:8). Baptisan Yohanes adalah untuk situasi khusus dan kritis sebagai baptisan untuk pengampunan dosa (Mrk. 1:4): “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu.” Peristiwa ini mencerminkan tingkat keseriusan yang mutlak mengenai eskatologis, seperti jelas dalam perkataan Yohanes yang keras kepada orang-orang Farisi: “Hai kamu keturunan ular beludak. Siapakah yang mengatakan kepada kamu, bahwa kamu dapat melarikan diri dari murka yang akan datang? Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan” (Mat. 3:7-8).
Maksud dari baptisan Yohanes adalah untuk menggemakan perubahan yang radikal, pertobatan yang radikal, transformasi hidup dari dalam diri dan pengakuan dosa dalam terang Kerajaan yang akan datang. Jalan di mana Yohanes harus merintis untuk kedatangan Mesias adalah jalan melalui padang gurun; suatu jalan pertobatan. Semua karya Yohanes menunjuk kepada kedatangan Raja, seorang Raja yang berdiri di pusat dari kegiatan baptisan Yohanes. Kotbah dan baptisan Yohanes ditujukan dan dipersiapkan bagi Mesias yang akan datang.
Yesus sendiri sebetulnya tidak membaptis selama masa pelayanan-Nya.[105] Dikatakan bahwa murid-murid-Nya-lah yang membaptis. Ia mengutus murid-murid-Nya untuk membaptis dalam nama-Nya dan dalam nama Bapa dan Roh Kudus (Mat. 28:19). Lalu mengapa Yesus tidak membaptis dan apa yang dimaksudkan oleh Yohanes Pembaptis bahwa ia membaptis dengan air tetapi “Ia yang akan datang”  akan membaptis dengan Roh Kudus? Alasan mengapa Yesus sendiri tidak membaptis adalah karena Yesus menunggu untuk menyatakan makna baptisan yang sesungguhnya di dalam pengorbanan kematian-Nya di kayu salib untuk menanggung dosa dunia dan kebangkitan-Nya atas kuasa maut untuk memberikan kehidupan baru bagi orang-orang yang percaya kepada-Nya.[106]
Baptisan dengan Roh Kudus yang dikemukakan Yohanes sebenarnya dipengaruhi oleh konsep Roh Kudus di padang gurun. Ini bisa diruntut dari perjalanan Israel di padang gurun. Perjalanan Israel di gurun dipahami sebagai perjalanan di bawah pimpinan Roh Allah (Yes. 63:11). Roh-lah yang memberi istirahat kepada umat-Nya di gurun (Yes. 63:14). Yesaya bernubuat bahwa pencurahan Roh juga akan menandai Keluaran kedua nanti (Yes. 32:15;44:3). Konsep inilah yang sepertinya diangkat oleh Yohanes sehingga Ia mengajak Israel ke gurun untuk mengantisipasi penggenapan nubuat Yesaya, dan bahwa baptisan yang dilaksanakannya sebenarnya merupakan langkah persiapan bagi baptisan mesianis yang akan datang[107] di mana baptisan dengan Roh Kudus secara definitif akan melengkapi pembaruan yang telah dimulai oleh baptisan Yohanes dengan air. Baptisan dengan Roh Kudus itu sebetulnya dihubungkan dengan peristiwa Pentakosta, yaitu suatu baptisan yang semata-mata pneumatis, tanpa penggunaan air.[108]

II.4. Yohanes Pembaptis membaptis Yesus
            “Pada waktu itu datanglah Yesus dari Nazaret di tanah Galilea dan Ia dibaptis di sungai Yordan oleh Yohanes” (Mrk. 1:9). Ungkapan “pada waktu itu datanglah” mengandaikan suatu peristiwa yang sebelumnya telah terjadi dan mendapat kelanjutannya sampai saat ini. Jadi boleh disebut bahwa suatu peristiwa terjadi sesuai nubuat terdahulu. Yang terdahulu itulah pembaptisan Yohanes sebagai tanda pertobatan, dan pembaptisan itu berlangsung juga ketika Yesus tampil. Yesus[109] dibaptis oleh Yohanes.

II.4.1. Yesus datang dari Nazaret di tanah Galilea
            Cerita pembaptisan Yesus diawali dengan penyebutan kedatangan-Nya dari Nazaret di tanah Galilea. Galilea harus disebut karena Nazaret memang kurang dikenal.[110] Markus juga hanya menyebut Nazaret dalam ayat ini.[111]Yesus berangkat dari tempat asal-Nya, yaitu Nazaret untuk datang kepada Yohanes. Yang penting di sini adalah Yesus meninggalkan daerah asal-Nya. Ia memang hidup dan besar di Nazaret. Di tempat itu Ia melewati masa remaja-Nya dalam didikkan orang tua-Nya.[112] Masa tinggalnya Yesus di Nazaret (satu kota yang kurang mempunyai nama) adalah untuk menggenapkan Firman yang disampaikan oleh para nabi bahwa Ia akan disebut: Orang Nazaret (bdk., Mat. 2:23). Nazaret ini disebut bersamaan dengan Galilea.[113] Hal itu disebut barangkali untuk menyatakan bahwa di daerah inilah pusat karya Yesus. Yesus mengawali misi-Nya bersama para murid-Nya di tempat tersebut, yaitu ketika berhadapan dengan orang-orang kafir (Mrk. 3:22; 7:1).

II.4.2. Yesus dibaptis oleh Yohanes Pembaptis
            Pembaptisan Yesus oleh Yohanes mengangkat tiga hal penting, yaitu[114] pembaptisan tersebut bersifat historis, sikap Yesus terhadap pewartaan Yohanes, dan pembaptisan Yesus sebagai petunjuk kenabian-Nya.

II.4.2.1. Pembaptisan ini bersifat historis
            Yesus dari Nazaret menjalani baptisan Yohanes. Itu adalah satu fakta yang jelas dan nyata (Mrk. 1:9; bdk., Mat. 3:13-15; Luk. 3:21a). Baptisan Yesus tersebut terkesan sebagai penaklukkan diri Yesus kepada Yohanes. Namun itu tentu tak dapat diterima. Markus memang langsung mempresentasikan pembaptisan Yesus tanpa suatu uraian panjang lebar. Akan tetapi dari penginjil lain dapat disimpulkan bahwa Yohanes ternyata merasa sungkan untuk membaptis Yesus. Dalam Mat. 3:14-15 kelihatan bahwa Yohanes sesungguhnya tidak mau membaptis Yesus karena merasakan ketidaklayakkan (bdk., Luk. 3:16). Hanya saja ia disuruh oleh Yesus sendiri. Bahwa karya Yohanes sesuai dengan kehendak Allah, maka Yesus menjalaninya untuk pemenuhan kehendak Allah yang terungkap dalam karya Yohanes.[115] Hal tersebut berbeda dengan Yoh., di mana pembaptisan Yesus disingkirkan sama sekali (Yoh 1:29; 32-34).

II.4.2.2. Sikap Yesus terhadap pewartaan Yohanes Pembaptis
            Ada dua segi dalam pewartaan Yohanes, yaitu hukuman Allah bagi orang berdosa sudah dekat dan di lain pihak, pertobatan memungkinkan orang terhindar dari hukuman. Itulah pilihan yang diberikan oleh Yohanes. Ia mengajak orang untuk menengok bahwa penghakiman Allah itu adalah pasti. Karena itu ia menyerukan agar orang hidup sesuai kehendak Allah. Baginya hukuman Allah hanya bisa diantisipasi lewat pembaptisan sebagai tanda tobat. Dengan pembaptisan itu, orang ditempatkan dalam golongan yang akan luput dari murka Allah, serta diselamatkan. Pewartaan Yohanes tersebut diterima oleh Yesus, bahwa yang paling penting adalah relasi baik dan benar dengan Allah, juga sesama. Karena itu, Yesus juga menjalani baptisannya dalam rangka menggenapkan kehendak Allah. Dengan cara itu Yesus memasukkan diri-Nya ke dalam umat akhir zaman yang diciptakan oleh baptisan Yohanes.

II.4.2.3. Pemberian diri Yesus untuk dibaptis adalah tindakan kenabian
            Para penginjil menempatkan berita pembaptisan Yesus sebagai awal penampilan-Nya di hadapan umum. Pemberian diri-Nya untuk dibaptis adalah tindakan kenabian pertama-Nya di depan umum. Dengan pembaptisan-Nya di sungai Yordan, Ia menunjukkan suatu tindakan simbolis bahwa Israel telah murtad dan pertobatan adalah penting untuk keselamatan yang datang dari Tuhan. Yesus adalah salah satu dari banyak orang yang datang meminta baptisan Yohanes. Hal itu sekaligus merupakan petunjuk kesatuan antara Penyelamat dengan orang-orang yang harus diselamatkan-Nya. Namun Ia jelas berbeda dengan orang banyak yang dibaptis.
            Dalam Luk. dikemukakan bahwa Yesus dibaptis seorang diri. Pembaptisan-Nya dipisahkan dari orang lain dan dilakukan setelah orang lain dibaptis (Luk. 3:21). Itu terjadi karena Yesus memang tidak membutuhkan pertobatan. Baptisan Yesus lewat tindakan kenabian-Nya sebetulnya hendak menegaskan bahwa untuk pertama kalinya Allah mewahyukan diri sebagai “Allah keselamatan dalam Yesus”. Karena itu sungguh beralasan jika Markus memulai Injilnya langsung dengan pemberitaan mengenai pembaptisan Yesus di sungai Yordan.
            Singkatnya, baptisan Yesus oleh Yohanes menunjuk pada dua hal[116], yaitu:1) Yesus juga menempatkan diri sebagai pribadi yang ikut menantikan kedatangan Kerajaan Allah pada akhir zaman, dan 2) Yesus mau menunjukkan solidaritas pada bangsa-Nya yang membutuhkan penyelamatan dari Allah.



II.5. Kesimpulan
            Pembahasan mengenai identitas dan pewartaan Yohanes Pembaptis dalam Mrk. 1:2-9 seperti telah diuraikan di atas kurang lebih dapat disimpulkan dengan beberapa hal berikut:[117] Pertama, Yohanes Pembaptis dengan segala atribut yang dikenakkan kepadanya, entah sebagai utusan, suara yang berseru-seru, atau sebagai nabi pada prinsipnya membawa suatu rahmat yang baru, yaitu mempersiapkan kedatangan Tuhan. Allah betul-betul datang. Jadi kabar pewartaannya bukan hanya kenangan akan pengalaman pembebasan umat Israel di masa lampau, melainkan suatu rahmat baru yang menghantar orang pada keselamatan. Kedua, Ia memberi penekanan bahwa Allah hanya bisa dialami lewat pertobatan. Baginya, orang perlu meluruskan dirinya, yaitu mempersiapkan suatu jalan batin dalam hati manusia, yang dinamakan tobat. Pertobatan itulah yang diseruhkan oleh Yohanes, yaitu ber-metanoia. Bertobat artinya merubah jalan pikiran atau berganti haluan secara mental. Ketiga, baptisan Yohanes adalah baptisan pertobatan. Baptisan ini merupakan antisipasi akan baptisan yang akan datang, yaitu baptisan Yesus, dalam mana Ia akan mencurahkan Roh Kudus. Jadi baptisan Yohanes lebih merupakan keterbukaan hati bagi apa yang akan datang. Keempat, Yesus juga menjalani baptisan Yohanes. Hal itu tidak berarti bahwa Yesus berdosa, tetapi dengan pembaptisan-Nya, Ia justru menggenapi kehendak Allah dan menunjukkan solidaritas-Nya dengan kaum pendosa.
            Secara singkat, Yohanes Pembaptis dengan segala keberadaannya hadir sebagai tokoh penting yang mempersiapkan kedatangan Tuhan dengan mengajak orang untuk bertobat dan dibaptis. Dengan cara itu, Allah akan memberikan pengampunan dosa. Manusia menjadi bebas dari dosa dan siap menyambut kedatangan Tuhan sebagai Penyelamat. Kedatangan Penyelamat itulah yang dipersiapkan oleh Yohanes Pembaptis, sehingga ia sejatinya memiliki peran penting dalam rencana penyelamatan Allah. Posisi penting Yohanes Pembaptis dalam rencana penyelamatan akan digali secara memadai dalam bab ketiga.



[1] Bdk. Jakob van Bruggen, Markus: Injil menurut Petrus, hlm. 45.
[2] Bdk. Margareth Pazdan, ”Maleakhi”, dalam LBI, Tafsir Alkitab Perjanjian Lama (Yogyakarta: Kanisius, 2001), hlm. 735.
[3] Bdk. F. L. Bakker, Sedjarah Keradjaan Allah (Jakarta: Badan Penerbit Kristen, 1965), hlm. 40.
[4] Bdk. D. Gutrie, dkk., Tafsir Alkitab Masa Kini: Ayub-Maleakhi (Jakarta: YKBK/OMF, 1999),  hlm. 759.
[5] Bdk. Stefan Leks, Tafsir Injil Markus (Yogyakarta: Kanisius, 2003), hlm. 29.
[6] Xavier Leon-Dufour, ”Utusan” Ensiklopedi Perjanjian Baru.
[7] Bdk. Stefen Leks, Tafsir Injil Markus, hlm. 29.
[8] Bdk. Nico Syukur Dister, Teologi Sistematika 1 (Yogyakarta: Kanisius, 2004), hlm. 184.
[9] Bdk. Robert P. Rousseau,John The Baptist: Jesus’ Forerunner in Mark’s Christology”, dalam The Bible Today (March 1975), hlm. 317.
[10] W. J. S. Poewardaminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka)
[11] Suara yang berseru-seru ini berkaitan erat dengan lambang Mrk., yaitu singa. Singa itu menjadi simbol Mrk. karena Injil ini pertama-tama menampilkan seseorang yang berseru-seru di padang gurun. Singa itu adalah raja padang gurun. Lambang singa ini didasarkan atas Kitab Wahyu (4:6-8) yang menyebut mengenai empat mahkluk yang ajaib, yaitu: yang pertama sama seperti singa, yang kedua sama seperti anak lembu, yang ketiga mempunyai muka seperti muka manusia, dan yang keempat sama seperti burung nasar yang sedang terbang. Keempat mahkluk tersebut oleh St. Agustinus dan Hironimus dianggap sebagai lambang keempat Kitab Injil. Bdk. Ant. Subekty, “Markus, Anakku”, Utusan (April1983), hlm. 94-95.
[12] Bdk. Stefan Leks, Tafsir Injil Markus, hlm. 30.
[13] Xavier Leon-Dufour, “Jalan” Ensiklopedi Perjanjian Baru.
[14] Bdk. Jakob van Bruggen, Markus: Injil menurut Petrus, hlm. 45.
[15] Bdk. Stefan Leks, Tafsir Injil Markus, hlm. 29.
[16] Bdk. St. Darmawijaya, Masa Kanak-Kanak Yesus (Yogyakarta: Kanisius, 1990), hlm. 34.
[17] Bdk. Ibid., hlm. 35.
[18] Ada juga penegasan sejarah yang menyentuh kesalehan Yohanes Pembaptis. Sejarawan Yahudi, Flavius Yosephus mengemukakan hal ini: “Tetapi ada sementara orang Yahudi yang percaya bahwa tentara Herodes dimusnahkan oleh Allah, sebab Allah menghukum dia secara tepat  karena Yohanes yang bergelar Pembaptis telah dibunuh oleh Herodes.  Yohanes memang seorang yang saleh dan ia mengajak orang-orang Yahudi untuk melaksanakan keutamaan dan kebenaran seorang kepada yang lain dan takwa kepada Allah agar berkumpul demi baptisan. Sebab menurut pendapatnya, dengan jalan itulah baptisan dan pembasuhan dapat berkenan demi menghilangkan dosa yang dilakukan sebelumnya,  guna penyucian badan setelah sebelumnya jiwa sudah dibersikan oleh kelakuan yang benar. Dan waktu sekalian orang menuruti Yohanes, sebab hati mereka memang sangat tergerak oleh apa yang dikatakan maka Herodes takut jangan-jangan pengaruh Yohanes yang begitu luas pada rakyat akan menimbulkan kekacauan (sebab rakyat sepertinya akan berbuat segala apa yang dinasihatkan Yohanes). Maka dalam keadaan itu Herodes menganggab lebih baik menyingkirkan Yohanes, sebelum suatu pemberontakkan meledak, daripada dia sendiri menemukan kesulitan dan menyesal tidak bertindak, setelah pemberontakkan sudah meledak. Karena rasa curiga, Yohanes sebagai tahanan dikirim ke Makherus, sebuah benteng dan di sana ia dibunuh. Tetapi orang-orang Yahudi percaya bahwa pemusnahan yang menimpa tentara itu merupakan sebuah hukuman atas Herodes oleh karena Allah ingin merugikannya.” Flavius Josephus in Jewish Antiquities book 18, chapter 5, paragraph 2, diambil dari:
[19] Dalam Luk. disebut bahwa Hukum Taurat dan kitab para nabi berlaku sampai kepada Zaman Yohanes (Luk. 16:16); begitu juga dalam Mat. disebut tentang hal tersebut (Mat. 11:12).
[20] Bdk. Rudolf Schanackenburg, The Gospel According To St. Mark (London: Sheed and Word, 1971), hlm. 4.
[21] Xavier Leon-Dufour, ”Nabi” Ensiklopedi Perjanjian Baru.
[22] Bdk. St. Darmawijaya, Warisan Para Nabi (Yogyakarta: Kanisius, 1992), hlm. 15.
[23] Ibid., hlm. 17.
[24] Bdk. C. Groenen, Pengantar Ke Dalam Perjanjian Lama, hlm. 231-234.
[25] Ibid, hlm. 231.
[26] Bdk. B. E. Drewes, Satu Injil Tiga Pekabar, hlm. 125.
[27] Ibid, hlm. 213.
[28] Bdk. Dede Godjaly, Aku Bukan Elia, diambil dari:
[29] Bdk. Robert P Rousseau,John The Baptist: Jesus’ Forerunner in Mark’s Christology”, hlm. 318.
[30] Bdk. Stefan Leks, Menuju Tanah Terjanji (Flores: Percetakan Arnoldus Ende, 1978), hlm.56.
[31] Ibid, hlm. 56
[32] Bdk. J. Sutopo, Mysterium Christy, hlm. 49.
[33] Robert P Rousseau,John The Baptist: Jesus’ Forerunner in Mark’s Christology”, hlm. 318.
[34] Bdk. Jakob van Bruggen, Markus: Injil menurut Petrus, hlm. 48.
[35] Bdk. Stefan Leks, Tafsir Injil Markus, hlm. 36-37.
[36] Ibid, hlm. 37.
[37] Bdk. Handoyo Santoso, Yohanes pembaptis, diambil dari:
[38] Stefan Leks, Ibid, hlm. 37.
[39] Bdk. F. F. Bruce, dkk., ”Belalang” Ensiklopedi Alkitab masa Kini (Jakarta: YKBK/OMF, 2001).
[40] Bdk. Stefan Leks, Tafsir Injil Markus, hlm. 37
[41] Handoyo Santoso, Yohanes Pembaptis, diambil dari:
[42] Bdk., Stefan Leks, Tafsir Injil Markus, hlm. 31.
[43] Bdk., Albert Nolan, Yesus Sebelum Agama Kristen (Yogyakarta: Kanisius, 1991), hlm. 20-25.
[44] Bdk. Al Purwa Hadiwardoyo, Pertobatan Dalam Tradisi Katolik (Yogyakarta: Kanisius, 2007), hlm. 14.
[45] Konsili Vatikan II, Konstitusi Pastoral tentang Gereja Dalam Dunia Dewasa Ini “Gaudium et Spes”, (18 November 1965), Dokpen KWI (1993), art. 13,hlm. 522.
[46] Bdk. Al Purwa Hadiwardoyo, Catatan-catatan Singkat tentang Kitab Suci (Yogyakarta: Kanisius, 200), hlm.112.
[47] Bdk. Al Purwa Hadiwardoyo, Pertobatan Dalam Tradisi Katolik, hlm. 16.
[48] Ibid, hlm. 16.
[49] Bdk. Al Purwa Hadiwardoyo, Ibid, hlm. 21.
[50] Ibid, hlm. 22.
[51] Bdk. Jakob van Bruggen, Markus: Injil menurut Petrus, hlm. 48.
[52] Gerald O’Collins dan Edward G. Farrugia, ”Sesal”, Kamus Teologi, (Yogyakarta: Kanisius, 1996).
[53] Ibid.
[54] Bdk. Al Purwa Hadiwardoyo, Catatan-catatan Singkat tentang Kitab Suci, hlm.112.
[55] Bdk. C. Groenen, Panggilan Kristen (Yogyakarta: Kanisius, 1979), hlm. 44.
[56] A. Heuken, ”Tobat” Ensiklopedi Gereja (Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka, 2005).
[57] Bdk. Al Purwa Hadiwardoyo, Catatan-catatan Singkat tentang Kitab Suci, hlm.114.
[58] Bdk. Stefan Leks, Tafsir Injil Markus, hlm. 33.
[59] Ibid.
[60] Bdk., Lembaga Biblika SS.D., Kuliah Tertulis Mengenai Ajaran Kitab Suci (Djakarta Raya: Sekolah Grafika-Serengseng Sawah, 1967), hlm. 333-334.
[61] Howard Clark Kee, Understanding The New Testament (Quezon City: Claretian Publication, 1983), hlm. 101.
[62] Bdk. H. Embuiru, Aku percaya (Ende: Penerbit Nusa Indah, 1985), hlm. 22.
[63] Ibid.
[64] Hendrik Njiolah, Syahadat Para Rasul Dalam Perspektif Kitab Suci (Yogyakarta: Yayasan Pustaka Nusatama, 2002), hlm. 44.
[65] Ibid
[66] Istilah “Yahudi” merupakan sebutan baru bagi orang-orang Israel setelah kembali ke Palestina dari pembuangan di Babel. Mereka dibuang ke Babel setelah Kerajaan Yehuda (Selatan) yang beribukota Yerusalem direbut oleh Kerajaan Babel dengan pimpinan seorang panglima yang berbakat, yaitu Nebukadnezar. Saat perebutan itu, Yerusalem hancur, Bait Suci dirubuhkan, dan Israel dibuang ke Babel. Peristiwa ini dipandang sebagai malapetaka yang besar. Israel kemudian mulai sadar dan membaharui diri. Mereka mulai rajin beribadah, serta kembali ke tradisi suci mereka. Dan berkat kemurahan hati Raja Koresy, mereka kemudian mendapat izin untuk kembali ke Palestina dan membangun kembali Bait Sucinya. Sejak saat itulah mereka disebut Yahudi, dan agama serta ideology mereka disebut Yudaisme. Bdk. Stefan Leks, Kitab Suci: Dalam 33 Pelajaran (Jakarta: Penerbit Celesty Hieronika, 2002), hlm. 29. Istilah “Yahudi” berkaitan dengan istilah “Yudea”. Yudea menunjuk pada nama tempat, yaitu diterapkan pada bagian selatan Palestina, bekas kerajaan Yehuda yang beribukota Yerusalem. Di sinilah daerah kelahiran Yohanes Pembaptis dan Yesus. Di samping itu, istilah “Yudea” juga dapat berarti keseluruhan Palestina (Bdk., Kis 10:37). Xavier Leon-Dufour, Yudea” Ensiklopedi Perjanjian Baru. Sementara itu, istilah “Palestina” sebetulnya merupakan pemberian dari bangsa Roma kepada Israel sebagai suatu hinaan. Jadi Palestina sebenarnya bukan nama sebenarnya dari negeri orang Israel. Ini diberikan oleh bangsa Roma karena mereka kesulitan mengeja nama Filistin, musuh Israel. Bangsa Filistin yang memang menjadi ancaman bagi negeri Israel. Bdk. Stefan Leks, Kitab Suci: Dalam 33 Pelajaran, hlm. 27.
[67] Bdk. Jakob van Bruggen, Markus: Injil menurut Petrus, hlm. 48.
[68] Bdk. Herman Embuiru, Katekismus Gereja Katolik (Ende: Percetakan Arnoldus, 1995), hlm. 342.
[69] Bdk. Stefan Leks, Tafsir Injil Markus, hlm. 35.
[70] Bdk. J. Sidlow Baxter, Menggali Isi Alkitab, hlm. 86.
[71] Bdk. B. J. Boland dan P.S. Naipospos, Tafsiran Alkitab Lukas (Jakarta: PT BPK Gunung Mulia, 1999), hlm. 83.
[72] Xavier Leon-Dufour, ”Pemungut Cukai” Ensiklopedi Perjanjian Baru.
[73] Bdk. Jakob van Bruggen, Markus: Injil menurut Petrus, hlm. 209.
[74] Bdk. B.J. Boland dan P.S. Naipospos, Tafsiran Alkitab Lukas, hlm. 83.
[75] Bdk. J. Sidlow Baxter, Menggali Isi Alkitab, hlm.  70.
[76] Kaum Saduki secara prinsipil berbeda dengan kaum Farisi. Mereka tidak percaya akan kebangkitan kembali orang bariman secara badani dan tidak percaya akan adanya malaikat maupun roh. Sebagai golongan, mereka pakar dalam hal-hal duniawi, seperti politik dan tidak percaya akan kedatangan Mesias. Sebaliknya, orang Farisi begitu merindukan kedatangan Mesias, percaya akan kebangkitan badan dan para malaikat. Perbedaan-perbedaan itu mendatangkan pertentangan. Di mana ciri-ciri khas dari satu golongan menonjol, di situ secara otomatis timbul reaksi yang berlawanan dari kelompok yang lain (Mat. 22:23; Kis 23:8). Bdk. Ibid, hlm 73.
[77] Bdk. J. Sutopo, Mysterium Christy, hlm. 49.
[78] Bdk. KWI, Iman Katolik (Yogyakarta: Kanisius, 1996), hlm. 253.
[79] Bdk. J. Sutopo, Mysterium Christy, hlm. 50.
[80] Bdk. Albert Nolan, Yesus Sebelum Agama Kristen, hlm. 30.
[81] Yerusalem hancur akibat perang melawan Roma. Di sini terjadi pembunuhan yang mengerikan oleh tentara Romawi sebagai akibat dari dosa Israel. Mereka mendapatkan penghakiman Ilahi. Itu terjadi pada tahun 70. Bdk. Albert Nolan, Yesus Sebelum Agama Kristen, hlm. 30.
[82] A. Heuken, ”Baptisan Yohanes”, Ensiklopedi Gereja.
[83] Bdk. Lembaga Biblika SS.D., Kuliah Tertulis Mengenai Ajaran Kitab Suci, hlm. 334.
[84] Bdk. Herlianto, Baptisan: Percik atau Selam, diambil dari:
[85] Bdk. Hendrik Njiolah, Baptis, Krisma, Ekaristi (Yogyakarta: Yayasan Pustaka Nusatama, 2004), hlm, 7-8.
[86] Tentang pembaptisan ini, Michael Keene menyebut: “Tidak seorang pun tahu benar asal muasal pembaptisan. Namun, kita memang tahu bahwa orang-orang Yahudi menggunakan pembaptisan itu untuk menerima orang yang baru masuk agama Yahudi jauh sebelum Yohanes Pembaptis memanggil orang-orang untuk dibaptis di tepi sungai Yordan. Michael Keene, Kristianitas (Yogyakarta: Kanisius, 2006), hlm. 12.
[87] Bdk. Herlianto, Baptisan: Percik atau Selam, diambil dari:
[88] Baptisan kemudian dimaknai oleh jemaat Kristen mula-mula sebagai wujud pertobatan dan tanda percaya kepada Yesus, sehingga memperoleh pengampunan dosa, mendapat bagian dalam apa yang ditentukan bagi orang-orang dikuduskan dan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sesuai dengan pertobatan itu (Kis. 13:24; 19:4; 26:18,20). Sebab itulah ketika sida-sida orang Etiopia selesai mendengar pemberitaan Injil yang disampaikan oleh Filipus dan percaya, ia segera meminta agar dirinya dibaptis ketika melewati tempat yang berisi air (Kis. 8:35-38). Terkutip dalam Made Gunaraksawati Mastra, Sakramen baptisan, diambil dari: 
[89] Bdk. Stefan Leks, Tafsir Injil Markus, hlm. 35-36.
[90] Yohanes berarti “Allah adalah rahmat”. Kemunculannya terjadi pada tahun ke-15 pemerintahan Kaisar Romawi, Tiberius, yaitu antara bulan Oktober tahun 27 dan bulan September tahun 28. Nico Syukur Dister, Teologi Sistematika 1 (Yogyakarta: Kanisius, 1987), hlm. 39. Yohanes dihubungkan dengan sekte Qumran. Dikatakan bahwa sebelumnya cara hidup Yohanes sesuai dengan cita-cita rahib-rahib Qumran, tapi kemudian ia menjauhkan diri. Waktu Yesus tampil, ia sudah nyata menempuh jalannya sendiri. Pembaptisannya berbeda dari makna pembaptisan kumpulan rahib di Qumran. Para rahib sendiri melaksanakan praktek pembaptisan. Hal itu nyata dari biara Qumran yang di dalamnya terdapat waduk. Waduk itu memiliki anak tangga di mana orang bisa masuk ke luar di dalamnya dan menurut anggaran dasar komunitas Qumran turun masuk air itu memiliki pengertian keagamaan, yaitu suatu sikap rohani yang melambangkan pembersihan jiwa. Air menghapus dosa dan orang tidak lagi bersalah lewat air pentahiran tersebut. Jiwa menjadi bersi, tetapi harus diawali  dengan bertobat. Bahkan jika tidak bertobat lebih dulu, mereka tidak boleh mendekati air itu. Ini bisa dilakukan berulang kali dan berbeda dengan baptisan Yohanes yang hanya diberikan sekali. Bdk. V. de Leeuw, Membalik-balik Kitab Suci II (Flores: Penerbit Nusa Indah, 1967), hlm. 40-43.
[91] Bdk. Daniel-Rops, Yesus And His Time (New York: A division of doublay and Company, 1958), hlm. 74.
[92] Bdk. Jakob van Bruggen, Markus: Injil menurut Petrus, hlm. 49.
[93] Bdk. Stefan Leks, Tafsir Injil Markus, hlm.37-38.
[94] Ibid, hlm.38.
[95] Bdk. Jakob van Bruggen, Markus: Injil menurut Petrus, hlm. 50.
[96] Dalam Mat., kelihatan jelas bahwa Yesus juga kelak akan  memuji Yohanes Pembaptis. Bagi Yesus, di antara mereka yang dilahirkan oleh seorang perempuan, tidak perna tampil seorang yang lebih besar daripada Yohanes (Mat. 11:11). Pujian Yesus ini mengungkapkan kebesaran Yohanes yang sebenarnya, bahwa dia adalah tokoh yang melebihi nabi. Tak seorang pun dalam sejarah Israel yang melebihi Yohanes. Namun Yesus menegaskan bahwa Yohanes merupakan tokoh keselamatan lama di mana hukum Musa dan nubuat PL masih menantikan penggenapannya dalam diri Mesias. LBI, Injil Matius (Yogyakarta: Kanisius, 1981), hlm. 88-89. Pengungkapan dalam Mat.11:11 sebenarnya sama dengan Luk. 7:28, bahwa di kalangan manusia di dunia ini tidak ada seorang pun yang lebih besar daripada Yohanes (ungkapan “yang lahir dari perempuan” tidak usah dianggap sebagai lawan dari “lahir dari Roh” atau “lahir kembali”, tetapi itulah ungkapan biasa dalam bahasa Ibrani untuk manusia yang lemah dan fana, bdk., Ayb. 14:1; 15:14). Perlu dicatat pula bahwa Yohanes masih tergolong kepada zaman “Taurat dan nabi-nabi”, belum kepada zaman Kerajaan Allah seperti pemberitaan Kristus. B. J.Boland dan P. S. Naipospos, Tafsiran Alkitab: Lukas (Jakarta: PT BPK Gunung Mulia, 1999), hlm. 174.
[97] Philip Van Linden, “Markus”, dalam  LBI, Tafsir Alkitab Perjanjian Baru (Yogyakarta: Kanisius, 2002), hlm. 81
[98] Gregorius Kaha, SVD, Sang Mesias, diambil dari:
[99] Bdk. St. Darmawijaya, Gelar-Gelar Yesus (Yogyakarta: Kanisius, 1987), hlm. 98-99.
[100] Bdk. I Suharyo, Pengantar Injil Sinoptik, hlm. 59.
[101] Yohanes ternyata juga sempat meragukan bahwa Yesus adalah Mesias. Itu nyata pada Mat. 11:2-6 ketika ia menyuruh murid-muridnya bertanya pada Yesus: “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?” Di sisi lain, Yohanes sempat pula dikira Mesias, sehingga orang Yahudi dari Yerusalem harus mengirim imam dan orang-orang Lewi kepadanya untuk bertanya: ”Siapakah engkau?” Ia mengaku dan tidak berdusta, katanya: “Aku bukan Mesias.”(Yoh.1:19-20). Ia memang bukan Mesias, tetapi dialah orang yang membuka dan merintis jalan bagi Yang Diurapi itu. Yohanes menikmati statusnya sebagai pembuka jalan bagi Mesias; dia tidak perlu mengaku sebagai Yang Diurapi dan yang telah ditunggu-tunggu oleh umat Yahudi selama ribuan tahun. Dede Godjali, Aku Bukan Mesias, diambil dari:
[102] Bdk. Jakob van Bruggen, Markus: Injil menurut Petrus, hlm. 50.
[103] Bdk. Tom Jacobs, Imanuel (Yogyakarta: Kanisius, 2000), hlm. 76-77.
[104] Bdk. St. Darmawijaya, Gelar-Gelar Yesus, hlm. 98-99.

[105] Tak ada laporan dalam Injil Sinoptik bahwa Yesus melakukan pembaptisan selama masa tugas-Nya. Hanya dinyatakan bahwa pembaptisan terus dilaksanakan di lingkungan Yesus. Baptisan-baptisan Yesus (entah dilaksanakan sendiri entah atas perintah-Nya dilaksanakan oleh murid-murid-Nya yang kian bertambah banyak jumlahnya) tak dapat diragukan lagi mulai menekankan sifat mesianis yang lebih sesuai dengan pelayanan-Nya sendiri, dan berbeda dengan pelayanan Yohanes. Satu-satunya teks yang menyebut bahwa Yesus membaptis adalah Yoh. (3:26), namun hal tersebut kemudian disangkal dalam Yoh. 4:1-2. Aiden Kavanagh, Tatacara Pembaptisan (Yogyakarta: Kanisius, 1991), hlm. 29.
[106] Bdk. Made Gunaraksawati Mastra, Sakramen Baptisan, diambil dari: http://forumteologi.com/blog/2007/04/30/kade/, (22 Juli 2008).
[107] Bdk. Stefan Leks, Tafsir Injil Markus, hlm.40.
[108] Aiden Kavanagh,  Tatacara Pembaptisan, hlm. 29.
[109] Sebutan nama Yesus sebetulnya mewakili tiga nama terkenal dalam PL, yaitu: Yoshua (Kel. 17:10), Yehoshua (Za. 3:1), dan Yesua (Neh. 7:7). Nama Yesus berarti: “Yahwe adalah pertolonganku”, atau “Yahwe adalah penyelamat.”, atau “pertolongan Yahwe”. St. Darmawijaya, Gelar-Gelar Yesus, hlm. 13-14.
[110] Bdk.  J. Sutopo, Mysterium Christy, hlm. 51.
[111] Sementara Nazaret ini oleh penginjil lain disebut beberapa kali. Mat.: 3x, Luk.: 5x. dan Yoh.: 2x
[112] Bdk. H. Embuiru, Aku Percaya, hlm. 69.
[113] Raja Herodes I memerintah di Galilea pada masa kelahiran Yesus (37-4 sM). Raja itu kemudian diganti oleh puteranya, Herodes Antipas yang memerintah di Galilea dan Perea. Saat itu Galilea sejahtera dan di Galilea juga berkembang gerakan para Zelot yang melawan penjajahan Roma. Galilea kemudian menjadi pusat Yudaisme setelah runtuhnya Yerusalem (thn. 70 M). Stefan Leks, Tafsir Injil Markus, hlm. 40.
[114] Bdk. Nico Syukur Dister, Kristologi (Yogyakarta: Kanisius, 1987), hlm. 45-48.
[115] C. Groenen, Peristiwa Yesus (Yogyakarta: Kanisius, 1979), hlm.  23.
[116] E. Martasudjita, Sakramen-Sakramen Gereja (Yogyakarta: Kanisius, 2003), hlm. 219.
[117] Bdk. Nico Syukur Dister, Kristologi, hlm. 42-44.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar