Kamis, 06 Oktober 2011

Yohanes Pembaptis; Markus 1:2-9 (John the Baptist)


PENUTUP

            Mrk. 1:2-9 merupakan pemberitaan tentang hidup dan karya Yohanes Pembaptis. Ia hadir sebagai perintis kedatangan Tuhan. Ia mempersiapkan kedatangan Tuhan yang sudah di ambang pintu. Persiapan yang dilakukannya mencakup pewartaan tentang tobat dan pemberitaan tentang kedatangan Tuhan. Pewartaannya tentang tobat ditandai dengan seruannya kepada orang banyak untuk bertobat dan memberikan diri dibaptis. Dengan cara itu, Allah akan mengampuni dosa mereka. Hal itu penting karena Tuhan akan datang sebagai manusia. Kedatangan-Nya tersebut harus disambut secara layak dan pantas. Tidak mengherankan jika Yohanes Pembaptis melihat dirinya sangat rendah dibandingkan dengan “Yang lebih berkuasa” itu. Ia bahkan menyatakan bahwa membungkuk dan membuka tali kasut-Nya pun ia tidak layak. Kalau begitu tepatlah kata-kata Yohanes Pembaptis ini: “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil”.
            Yohanes Pembaptis memang tampil sebagai utusan Allah, sehingga sikap kerendahan hati di hadapan Allah memang menjadi spiritualitas hidupnya. Ia hadir agar orang lain bisa mengenal Allah. Kehadirannya sebagai utusan yang menyuarakan kebesaran Allah menandai kehadiran Allah sebagai manusia di bumi. Ia menggerakkan hati umat untuk bertobat dan menantikan kedatangan Tuhan dengan cara membelokkan pandangan orang banyak yang datang kepadanya kepada sosok yang melebihinya. Dengan cara itu ia sebetulnya telah memberi penegasan bahwa orientasi hidupnya mengarah pada Yesus sebagai Mesias yang nanti hadir sebagai Penyelamat dunia. Yesus kelak hadir sebagai Mesias yang menderita. Ia tampil sebagai hamba yang melayani. Karena itu cara hidup yang tercermin dari Yohanes Pembaptis sebagai pendahulu Mesias menunjukkan pula semangat kehambaan, yaitu tampil untuk melayani Tuhan yang akan datang.
            Selain dalam Mrk., Yohanes Pembaptis sebenarnya dibicarakan pula dalam Injil lainnya. Semua penginjil menyebut Yohanes Pembaptis sebagai perintis kedatangan Tuhan. Namun ada pula perbedaan penekanan mengenai tokoh tersebut. Dalam Mat., Yohanes diperkenalkan sebagai Elia. Matiuslah yang memuat sabda Yesus tentang Yohanes Pembaptis yang berbunyi: “Jika kamu mau menerimanya, ialah Elia yang akan datang itu” (Mat. 11:14). Dikatakan juga bahwa: “Pada waktu itu mengertilah murid-murid Yesus bahwa Ia berbicara kepada mereka tentang Yohanes Pembaptis” (Mat. 17:13). Jadi dalam Mat. ditekankan secara kuat bahwa Yohanes adalah Elia, yaitu perintis sang Mesias. Matius menekankan pula secara kuat kesejajaran antara Yohanes Pembaptis dan Yesus. Dalam Mat. baik Yohanes maupun Yesus menyatakan kesamaan ini: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat” (3:1; 4:17). Persamaan lain nampak dalam Mat. 3:7b: “Hai kamu keturunan ular beludak. Siapakah yang mengatakan kepada kamu, bahwa kamu dapat melarikan diri dari murka yang akan datang?” Perkataan yang sama keluar dari mulut Yesus: “Hai kamu ular-ular, hai kamu keturanan ular beludak! Bagaimanakah mungkin kamu dapat meluputkan diri dari hukuman neraka?” (Mat. 23:33). Ada pula persamaan lain yang nyata dalam perbandingan ayat-ayat berikut, yaitu Mat. 3:1 dengan Mat. 7:19. Baik Yohanes maupun Yesus juga melakukan kebenaran dan keadilan, yaitu melakukan kehendak Allah dan hidup dalam ketaatan kepada pemerintahan Allah (bdk. Mat. 3:14,15 dan 21:32). Dua-duanya juga berbicara secara tegas dan keras kepada orang Farisi dan Saduki (Mat. 3:7; 16:1-12), dan keduanya dianggap nabi oleh banyak orang (Mat. 14:5: 21:46). Dalam Mat. pula pengancaman dan bahaya terhadap Yohanes berhubungan langsung dengan reaksi Yesus atas peristiwa tersebut, semacam ancaman juga terhadap Yesus (bdk. Mat. 4:12 dan 14:13). Matius memahami bahwa kehadiran Yohanes merupakan permulaan periode penggenapan (Mat. 11:13). Dan kegenapan yang sepenuhnya akan datang saat Yesus tampil. Yesus lebih besar dari Yohanes karena Dia akan membaptis dengan Roh Kudus dan dengan api (Mat. 3:11), dan Ia berkuasa untuk mengampuni dosa di dunia (Mat 9:6). Dengan demikain dapat dikatakan bahwa dalam Mat. penekanan Yohanes Pembaptis sebagai Elia sangat jelas, begitu juga dengan kesejajaran karya dan hidup Yohanes dengan Yesus mendapat tekanan yang kuat. Namun jelas pula bahwa Yesus lebih tinggi dari Yohanes Pembaptis.
            Kalau dalam Mat. terdapat identifikasi yang kuat antara Yohanes Pembaptis dan Elia, maka dalam Luk. tidak demikian. Pakaian Yohanes dalam Mat. 3:4 tidak ada dalam Luk. Demikian juga perkataan Yesus dalam Mat. 17:12,13 bahwa Elia sudah datang tidak terdapat dalam Luk. Memang Lukas menekankan pula bahwa ada persamaan antara Yohanes Pembaptis dengan Elia (Luk. 1:17), namun Yohanes tidak langsung dilihat sebagai Elia. Ini karena beberapa alasan, yaitu Lukas tidak menitikberatkan peranan Yohanes sebagai Elia sebab peranannya sebagai Elia dapat dimengerti seakan-akan dalam diri Yesus hari Tuhan telah sampai, sedangkan Lukas sadar bahwa sesudah Yesus masih ada periode sejarah keselamatan. Selain itu, dipahami bahwa jemaat Lukas menghadapi murid-murid Yohanes yang percaya bahwa Yohaneslah tokoh utama dalam sejarah keselamatan Allah (Kis. 19:1-7). Untuk meyakinkan mereka bahwa dalam Yesuslah sang Mesias datang, digambarkan kemudian peranan Yohanes, bahwa ia merupakan tokoh yang hanya menyiapkan jalan bagi Mesias. Jadi Lukas berupaya menetralisir persamaan antara Yohanes Pembaptis dengan Yesus. Karena alasan itu juga, ia tidak menceritakan tentang pembunuhan Yohanes pembaptis. Dengan demikian, dalam Luk. ditemukan bahwa penyamaan Yohanes Pembaptis dengan Elia, serta identifikasi Yohanes Pembaptis dengan Yesus tidak mendapat tekanan. Yang mendapat  penekanan justru pada perbedaannya. Namun hanya dalam Luk. pengandungan, masa kanak-kanak, dan pertumbuhan Yohanes Pembaptis diuraikan. Hal itu sekaligus menunjukkan kekhasan Luk. Sementara itu, di luar para sinoptisi, Yohanes Penginjil dengan jelas menyatakan bahwa Yohanes Pembaptis bukanlah Elia. Dalam Yoh. Yohanes Pembaptis memang lebih dilihat sebagai saksi. Ia adalah saksi yang diutus oleh Allah untuk memberikan kesaksian tentang Sabda yang menjadi manusia. Ia menyatakan bahwa Mesias, Anak domba Allah yang menghapus dosa dunia sudah datang.  Ia menyatakan bahwa ia bukan Mesias, melainkan ialah suara orang yang berseru-seru di padang gurun dan memberikan kesaksian tentang Yesus (Yoh. 3:22-36).
            Penguraian tentang kekhasan penceritaan Yohanes Pembaptis oleh para penginjil lain pada akhirnya menempatkan Mrk. pula sebagai sesuatu yang unik dan khas dalam pemaparan tentang Yohanes Pembaptis. Markus langsung menghadirkan Yohanes Pembaptis pada permulaan Injilnya. Yohanes langsung tampil dengan karyanya tanpa penceritaan terlebih dahulu tentang riwayat hidupnya, baik pengandungan maupun masa kecilnya. Kendati demikian, Markus tentu saja memiliki alasannya. Ia menekankan bahwa Yesus Kristus sebagai tokoh utama ditampilkan sebagai Mesias hamba. Kehambaan itu mensyaratkan bahwa riwayat hidup-Nya tidak diceritakan. Orang jarang menceritakan riwayat hidup seorang hamba. Demikian juga dengan Yohanes Pembaptis sebagai hamba Tuhan mengartikan bahwa sama seperti Tuhan yang dipersiapkan olehnya, riwayat hidupnya juga tidak diceritakan. Selain itu, sama seperti dalam Mat. Markus sebetulnya melihat pula persamaan antara Yohanes Pembaptis dengan Elia. Pakaiannya sama dengan pakaian Elia, dan dialah Elia yang akan datang ((Mrk. 9:11-13). Namun penyamaan itu bersifat tidak langsung. Hal itu berbeda dengan Matius yang mengabarkan penyamaan itu secara langsung dan kuat. Boleh dikatakan bahwa dalam Mrk. ada banyak hal yang ditampilkan secara samar-samar, semacam suasana rahasia dan ketersembunyian. Itu menjadi kekhasan dalam Mrk., sehingga tidak mengherankan kalau persamaan antara Yohanes dengan Elia tidak disebut secara langsung. Hal yang sama terungkap dalam pembunuhan Yohanes Pembaptis. Disebut dalam Mat. bahwa keinginginan untuk membunuh Yohanes Pembaptis berasal dari Herodes (Mat. 14:5), sementara Markus menyatakan bahwa keinginan pembunuhan itu berasal dari Herodias (Mrk. 6:19, 20). Jadi kalau dalam Mat. Herodes menjadi musuh Yohanes secara terang-terangan, tidak demikian dalam Mrk.  Selebihnya boleh dikatakan bahwa kehadiran Yesus di dunia setelah persiapan oleh Yohanes Pembaptis seakan-akan mengefektifkan kembali apa yang telah dilakukan oleh Yohanes Pembaptis. Ia mewartakan tobat, dan pewartaannya pun menimbulkan tanggapan yang luar biasa. Demikian juga dengan seluruh perjalanan hidup Yesus seperti mengingatkan orang akan Yohanes Pembaptis yang mendahului-Nya. Sama seperti Yohanes Pembaptis, Yesus ditangkap kendati tidak bersalah, dihukum secara tak adil, mati, dan dikuburkan. Karena itu dapat ditegaskan bahwa Yohanes Pembaptis sebetulnya merupakan satu paradigma untuk mengenal Yesus Kristus. Yesus sendiri menegaskan hal tersebut ketika imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat dan tua-tua bertanya kepada-Nya: “Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu?” Yesus menjawab, “Aku akan mengajukan suatu pertanyaan kepadamu. Berikanlah Aku jawabnya, maka aku akan mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu. Baptisan dari Yohanes itu dari sorga atau dari manusia? Berikan Aku jawabnya!” (Mrk. 11:29-30). Kutipan terakhir ini menegaskan bahwa ternyata pendirian terhadap Yohanes Pembaptis mempengaruhi dan menentukan pandangan orang terhadap Yesus dan sebaliknya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Yohanes Pembaptis sungguh tampil sebagai pendahulu Mesias.
            Posisi Yohanes Pembaptis sebagai pendahulu Yesus merupakan realisasi wahyu Allah yang pernah digemakan oleh nabi Yesaya, bahwa Yohanes Pembaptis akan mendahului kedatangan Tuhan sebagai manusia di dunia. Karena itu, Yohanes Pembaptis sungguh hadir untuk menyatakan bahwa wahyu Allah adalah kebenaran. Ia tampil sebagai tanda janji bahwa Allah itu selalu menepati janji-Nya. Dengan demikian tidaklah salah kalau dikatakan bahwa penyelamatan secara baru dalam diri Yesus Kristus diawali dan dipersiapkan oleh seorang utusan yang tampil dan berseru seru di padang gurun sebagai seorang nabi: “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu.” Selebihnya ia menyatakan: “Sesudah aku akan datang Dia yang lebih berkuasa; membungkuk dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus.” Utusan itulah Yohanes Pembaptis.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar