Senin, 03 Oktober 2011

PEMBANGUNAN JEMAAT KRISTIANI


Fr. Lucky Singal
            Pembangunan jemaat kadang kala dimengerti dalam arti sempit. Sementara orang melihat pembangunan jemaat sejajar dengan pembentukan bangunan gereja. Yang lain mengatakan bahwa pembangunan jemaat itu menunjuk pada struktur paroki, yaitu mengadakan dan memperbaiki dewan paroki dan kelompok kerja, memperbaiki komunikasi antar anggota dewan paroki sendiri, atau juga relasi dan komunikasi dengan kelompok lain di luar struktur kepengurusan paroki. Ada juga yang memahami pembangunan jemaat sebagai sejumlah kegiatan serentak untuk menunjukkan bahwa paroki itu hidup. Dari pernyataan-pernyataan tersebut terlihat jelas bahwa umat beriman ternyata sungguh menyadari kebutuhan dan keharusan pengembangan dan pembangunan jemaat dalam kadar pemahaman yang berbeda-beda. Akan tetapi sekarang bisa ditanyakan: Apa sebenarnya arti pembangunan jemaat? Apa yang menjadi inti pembangunan jemaat? Bagaimana cara kerjanya dan hasil apa yang diharapkan? P. Van Hooijdonk mengatakan bahwa pembangunan jemaat menolong orang beriman Kristen lokal yang berhimpun dalam tanggung jawabnya sendiri, hidup ke arah paguyuban iman yang baru yang lebih sesuai dengan kepengikutan Yesus dan terbuka bagi pertanyaan-pertanyaan zaman sekarang.
Tulisan ini menyoroti paham dan praktek pembangunan jemaat kristiani. Telaah ini didasarkan pada tiga buku rujukan, yaitu:
·         Piet van Hooijdonk, “Batu-batu yang hidup.” Pengantar ke dalam pembangunan jemaat. Yogyakarta: Kanisius, 1996
·         Rob van Kessel, “Enam Tempayan Air.” Pokok-pokok pembangunan jemaat. Yogyakarta: Kanisius, 1997
·         Gerben Heitink, “Teologi Praktis.” Pastoral dalam era modernitas-postmodernitas. Yogyakarta: Kanisius, 1999.
Sementara pengalaman penulis selama Tahun Orientasi Pastoral menjadi locus theologicus pastoralis. Ulasannya sebagai berikut:


                                             
A. Bagaimana mengarahkan proses transformasi dalam kegiatan menggereja?
            Proses transformasi dalam kegiatan menggereja terarah pada upaya pembangunan Gereja menjadi jemaat yang vital. Jemaat yang vital dimaksudkan sebagai jemaat yang hidup dalam mana persekutuan iman itu mencuat, serta kasih dan keadilan menyentuh umat beriman yang ada. Gereja vital itulah yang merupakan tujuan pembangunan jemaat sehingga proses transformasi memang harus terarah pada usaha untuk menghidupkan gereja menjadi persekutuan yang hidup. Kata transformasi sendiri berasal dari dua kata dasar, ‘trans dan form.’ Trans berarti melintasi dari satu sisi ke sisi lainnya (across), atau melampaui (beyond); dan kata form berarti bentuk. Transformasi mengandung makna, perubahan bentuk yang lebih dari, atau melampaui perubahan bungkus luar saja. Transformasi sering diartikan perubahan atau perpindahan bentuk yang jelas, pemakaian kata transformasi menjelaskan perubahan yang bertahap dan terarah tetapi tidak radikal. Transformasi dalam arti ini terarah pada penciptaan jemaat vital. Untuk mencapai tujuan tersebut ada beberapa hal yang pantas diperhatikan sebagai cara pengarahan proses transformasi dalam kegiatan menggereja, antara lain:
Beberapa pegangan pengarahan transformasi jemaat gerejani
1. Pembangunan jemaat pastinya berangkat dari pandangan politis-teologis atas Gereja di dunia masa kini. Ada sekularisasi yang menggejala dan mewabah yang lalu mengikis peradaban dan menggoyakan iman. Karena itu pentinglah menata kembali kehidupan umat. Cara penataan tersebut bukan menolak atau menentang sekularisasi yang ada, melainkan menolongnya untuk semakin maju melalui berbagai macam kegagalan dan kekurangan. Seperti itu boleh disebut bahwa proses transformasi dalam kegiatan gereja, khususnya berkaitan dengan pembangunan jemaat perlu menjalankan dan memprogramkan tindakan-tindakan yang sistematis dan metodis untuk mengubah situasi. Pembangunan jemaat harus terarah  pada struktur, perubahan struktur dan perwujudannya melalui proses. Struktur sekularisasi yang mewarnai dunia perlu diseriusi dan pantas untuk mengambil sikap teologis dan etis berhadapan dengan situasi ini, yaitu memperjuangkan dialog, demokrasi, hak bersuara, hak sosial, kesederajatan, dan kebebasan.
2. Kegiatan menggereja yang terarah pada gereja vital, yaitu gereja yang hidup perlu pula menekankan pelayanan pemeliharaan, perjuangan, dan pengampunan. Ketiga hal ini merupakan suatu proses transformasi. Ini sekaligus merupakan jawaban terhadap Sabda, sebagai penghayatan terhadap Yang Tersalib dan sebagai perayaan kehadiran-Nya. Analisis tentang vitalitas pelayanan-pelayanan itu dalam hidup gerejawi menjadi tugas awal bagi pembangunan jemaat. Yang bisa membantu dalam hal ini adalah analisis mengenai bagaimana anggota jemaat beriman berorientasi kepada ketiga dimensi kebebasan dan pembebasan. Baik pemeliharaan, perjuangan, maupun pengampunan merupakan usaha yang memperoleh makna fungsinya bagi proses pembebasan.
3. Dalam kaitan dengan pembangunan jemaat, Kessel juga berbicara tentang doa. Dalam gereja, yang menjadi masalah sebenarnya bukannya pada orang berdoa dan harus berdoa, melainkan pada bagaimana orang dapat dan harus berdoa. Dalam doa orang berbicara kepada Allah. Itulah yang penting dalam transformasi kegiatan gerejawi. Intinya membentuk kultur doa merupakan kejadian yang menyeluruh dalam semua aktivitas gerejawi, baik itu lewat liturgi, maupun metode-metode baru lewat workshop, doa dan training, sambil juga memberikan pertolongan kepada anggota gereja yang bertanya bagaimana mereka dapat berdoa dalam lingkup hidup mereka bersama relasi dan keluarga. Di situ terungkap bahwa relasi dengan Allah sebenarnya nyata melalui relasi doa dengan manusia lain.
4. Transformasi hidup gerejawi menjadi tindak-tanduk komunikatif dalam iman melalui pengembangan kultur kesungguhan dan spiritualitas perjumpaan. Itulah vitalisasi gereja menurut karya Roh Kudus dalam tanda-tanda zaman. Ini berarti bahwa gereja mulai berada di mana orang dari dirinya sendiri mengakui dan menceritakan kisah perjumpaannnya dengan Tuhan dan bersama-sama mengungkapkan diri dalam doa. Tanpa doa tidak akan ada gereja yang vital dan tak akan pernah ada transformasi ke arah yang baik. Orang berdoa karena ia memiliki iman, sementara iman diberikan melalui pewahyuan. Allah hadir ketika manusia sungguh-sungguh saling memberikan nama mereka dan dalam kesungguhan peduli dan hadir satu bagi yang lain. Harus ada ekspresi diri dan kultur kejujuran agar orang bisa saling membagi iman.
5. Arah transformasi kegiatan menggereja terungkap pula dalam keberadaaannya di tengah dunia. Gereja dalam arti ini masuk dan dengan caranya mengubah dunia dari dalam. Gereja tidak menutup mata terhadap dunia, melainkan menjadikan dunia sebagai locus teologicus. Ada usaha untuk membebaskan dunia dari penindasan, sekularisasi, mengangkat derajat kaum marginal dan miskin serta menjadikan Gereja sebagai gereja orang miskin.

Konkritisasi transformasi jemaat gerejani dalam proses
            Cara pengarahan transformasi jemaat gerejawi secara konkrit antara lain terwujud dalam proses berikut:
1. Tahap orientasi
  • Inisiatif
  • Kontak
  • Menciptakan kesediaan membantu
  • Apakah permasalahannya?
  • Mungkinkah menangani problem?
-          Sistem klien dan sistem pemberi jasa
-          Waktu dan uang
  • Pilihlah strategi
  • Perjanjian
2. Tahap penelitian
·         Perspektif actor dan perspektif sistem
·         Diagnosis
·         Prognosis
·         Petunjuk yang membantu prognosis
3. Tahap perencanaan
  • Faktor penghambat dan pelancar dalam proses pembangunan
  • Metode kerja
  • Membuat program
  • Proses pengambilan keputusan
  • Catatan tambahan: managemen proyek
4. Tahap pelaksanaan
5. Tahap pemantapan
            Pembangunan jemaat jelas terjadi dalam proses. Proses tersebut melalui beberapa tahap yang disebut di atas. Setelah itu dibuat analisis yang didasarkan pada pemilihan bidang kerja, konkritisasi tujuan dan kelompok sasaran pada tahap perencanaan, dan mengevaluasi pelaksanaan di tengah dan pada akhir proses pengembangan. Hal ini kemudian dilanjutkan dengan perealisasian tujuan secara sistematis. Realisasi tujuan secara sistematis terdiri atas beberapa pemikiran:
1. Pembangunan jemaat ialah bertindak terarah pada tujuan
2. Tujuan dan nilai
3. Rasionalitas konkrit
4. Tujuan yang memberi inspirasi dan tugas yang menarik
5. Tujuan sebagai proses
  • Tujuan membawa ke situasi yang diinginkan
  • Sadar akan masa depan
  • Langkah-langkah dalam tujuan
  • Pembatasan
  • Berpikir dalam perspektif hasil
  • Indikator/ tolok ukur
  • Proses
  • Konsep dalam tujuan
6. Pembaruan
  • Pemulihan kembali
  • Reorganisasi
  • Reorientasi
  • Penciptaan kembali
7. Tujuan dan aksi
            Hal-hal di atas memberikan kerangka kerja bagi pengarahan transformasi jemaat. Itu berarti bahwa penekanan tentang transformasi jemaat pertama-tama perlu memperhatikan tujuan perubahan dan pembaharuannya, memiliki cara kerja yang memadai dan berorientasi pada tujuan.

B. Implementasi Konsep P. Van Hooijdonk tentang Pembangunan Jemaat
            Konsep P. van Hooijdonk mengenai pembangunan jemaat sebenarnya merupakan sintesis dari istilah “pembangunan” dan “jemaat.” Sebelum sampai pada penyimpulan mengenai definisi pembangunan jemaat, ia mula-mula menerangkan arti “jemaat” dan “pembangunan”. Baginya jemaat adalah persekutuan orang beriman setempat. Orang beriman setempat itu menunjuk pada persekutuan orang beriman dalam suatu paroki teritorial. Sementara dengan “pembangunan” dimaksudkan sebagai campur tangan aktif atau intervensi dalam tindak-tanduk jemaat setempat, yaitu paroki. Hooijdonk kemudian menyimpulkan kosep pembangunan jemaat itu sebagai “Intervensi sistematis dan metodis dalam tindak-tanduk jemaat setempat.  Baginya pembangunan jemaat menolong jemaat beriman lokal untuk dengan bertanggung jawab penuh berkembang menuju persekutuan (paguyuban) iman, yang mengantarai keadilan dan kasih Allah dan yang terbuka terhadap masalah manusia di masa kini.”
            Konsep di atas mengarah pada satu tujuan, yaitu persekutuan atau paguyuban iman yang lebih sesuai dengan kepengikutan Yesus, yaitu mengantarai keadilan dan kasih Allah, serta keterbukaan terhadap pertanyaan-pertanyaan zaman kini menyangkut masalah-masalah manusia. Upaya untuk sampai ke arah paguyuban iman yang baru tersebut terjadi dalam proses. Karena itu dalam definisi di atas terdapat istilah “berkembang” yang menunjuk pada proses. Hal ini dipertegas pula oleh pernyataan awal: “Intervensi sistematis dan metodis dalam tindak-tanduk jemaat setempat. Pernyataan ini mengandaikan bahwa proses perubahan jemaat menuju suatu persekutuan iman yang baru memerlukan pula suatu campur-tangan teoritis yang sistematis dan metodis.
            Konsep pembangunan jemaat itu mengejawanta paling konkrit dalam jemaat lokal yang oleh Hooijdonk disebut paroki teritorial di mana gereja ada, hidup dan berkembang. Jemaat lokal dalam hal ini menjadi subyek maupun obyek. Akan tetapi perlu diperhatikan bahwa Allah tetap menjadi subyek utama pembangunan jemaat. Arti pertama pembangunan jemaat bukanlah bahwa jemaat dibangun oleh manusia, melainkan oleh Roh Kudus. Bersamaan dengan Roh Kudus juga, Kristus disebut sebagai batu penjuru. Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapi tersusun menjadi bait Allah yang kudus di dalam Tuhan. Di dalam Dia kamu juga turut dibangun menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh. Allah-lah yang asal dari pembangunan jemaat.
            Serentak dengan mengakui berkaryanya Allah dalam pembangunan jemaat harus diakui pula karya manusia dalam pembangunan jemaat. Tidak mungkin mengakui berkaryanya Allah tanpa mengaitkannya dengan karya manusia. Manusia dengan segala kesetaraannya, kesadaran, dan rasa tanggung-jawab menjadi subyek pembangunan jemaat. Sesama subyek itu tersusun secara hirarkis. Uskup dan imam harus menciptakan iklim positif di mana warga jemaat biasa dipandang sebagai subyek, yakni sebagai manusia yang dipanggil untuk memikul tanggung-jawab dengan bebas, dan mengusahakan kepemimpinan yang inspiratif, kooperatif dan suportif terhadap umat. Manusia sebagai subyek pembangun jemaat perlu mengerti juga bahwa Allah-lah yang membangun Gereja, bahwa Roh Allah secara spiritual bekerja bersama para anggota umat dan pejabat gereja. Jemaat dalam arti ini bukan saja menjadi subyek melainkan obyek pembangunan. “Aku akan memulihkan keadaan Yehuda dan Israel dan akan membangun mereka seperti dulu.” (Yer 33:7). Bukan Yehuda dan Israel saja, melainkan semua orang. Semuanya menjadi subyek maupun obyek pembangunan, sambil memperhatikan apa sebenarnya yang menjadi tujuan pembangunan jemaat. Tujuan pembangunan jemaat adalah kedatangan kerajaan Allah. Kedatangan kerajaan Allah adalah kehadiran keselamatan. Pembangunan jemaat terarah ke situ. Itulah yang dimaksudkan dengan persekutuan (paguyuban) iman, yang mengantarai keadilan dan kasih Allah yang mengejawanta secara konkrit dalam jemaat local dalam bentuk paroki, dan yang memberi ruang bagi semua orang untuk pertumbuhan yang terarah pada penyempurnaan.
            Penulis sendiri pernah mengalami masa pastoral selama setahun. Dalam jenjang waktu setahun tersebut tugas utama diarahkan pada reksa pastoral paroki. Ada beberapa program yang dibuat dan dilaksanakan. Semua program itu memiliki satu tujuan mulia yaitu persatuan atau paguyuban umat. Ini makin terasa karena umat di mana penulis (petugas pastoral) bertugas agak retak. Sehingga reksa pastoral memang terarah sungguh-sungguh pada usaha untuk menyatukan umat. Menyatukan umat dalam pengertian penulis selaras pula dengan pernyataan Hooijdonk yaitu mengantarai kasih dan keadilan Allah. Umat akan mengerti tentang kasih dan keadilan Allah jika mereka merasakan kasih dan keadilan secara riil. Kasih yang kongkrit itu bisa ditularkan oleh pemimpin umat.. itulah yang dilakukan oleh penulis. Hal ini juga terinspirasi dari kata-kata Paulus: “Kenakanlah kasih sebagai perekat yang mempersatukan dan menyempurnakan.” Satu dalam kasih dan terarah pada kesempurnaan. Kasih juga yang mengandaikan keadilan. Adanya kasih pasti menciptakan situasi yang adil. Dalam arti itu umat beriman marasa dirangkul, diperlakukan secara sama dan tidak ada yang terpinggirkan. Hadir, tinggal dan merasakan kehidupan nyata umat sambil mempersatukan diri mereka dalam keterikatan parochial dalam mana Allah terus berkarya dan umat beriman juga tetap melaksanakan tanggung-jawab masing-masing sesuai keahlian dan tugas yang dipercayakan.
            Di atas disebut bahwa upaya menolong dan mengarahkan umat terjadi dalam proses. Tujuannya adalah agar umat bertumbuh dalam persekutuan iman yang baru. Proses ke arah persekutuan tersebut akan terlaksana dengan baik jika ada dasar teoretis yang bisa dijadikan kerangka acuan untuk berproses. Berkaitan dengan itu Hooijdonk memberikan aspek dasar pembangunan jemaat, yaitu:
1. Bertindak imani dan rasional
            Dalam bertindak imani senantiasa terjadi kombinasi antara bertindak imani dan bertindak rasional. Antara bertindak yang mengimani karya Roh Kudus dalam Gereja dan yang merasa diteguhkan oleh tradisi yang diwariskan kepada kita serta bertindak yang secara rasional mengatur sumbangan jemaat serta mengarahkannya kepada tujuan yang dapat terjangkau dan di samping itu merancang dan menguji metode serta sarana untuk mencapai hasil yang sebaik mungkin. Di sini diandaikan bahwa pembangunan jemaat itu tidak boleh berat sebelah. Misalnya penekanan pada usaha beriman saja. Harus ada kombinasi antara keduanya. Berhadapan dengan hal ini maka menjadi tugas seorang pemimpin untuk memberikan pengarahan. Iman memang yang utama. Akan tetapi penanaman iman sampai menuju persekutuan iman yang baru memerlukan pula sarana teoretis yang perlu bagi pengembangan, seperti penyediaan sarana pastoral dalam bentuk kebijakan dan kemampuan kritis seorang pemimpin. Pengalaman penulis selama masa pastoral memang penting memadukan tindakan imani dan rasionalitas. Penekanan berlebihan pada iman tanpa pertimbangan rasional justru akan mengakibatkan kepicikan dan kebodohan. Pemimpin harus bisa mengembangkan daya nalar dan kritis terhadap apa yang diimani sambil juga mengajak umat untuk mampu mempertanggung-jawabkan iman mereka. Itu yang penulis laksanakan selama masa pastoral.

2. Bertindak fungsional, terarah kepada tujuan dan hasil
            Berpikir dengan kategori fungsional, tujuan dan hasil rupanya belum biasa bagi mereka yang menjalankan pastoral. Namun ada juga pakar teologi praktis yang berpendapat bahwa fungsionalitas merupakan kategori teologis sejauh di dalamnya tersirat realisasi kerajaan Allah.

Fungsional
            Adanya ilmu sosial memberikan sumbangan kepada gereja untuk berpikir secara instrumental atau fungsional. Kualitas manusiawi dapat pula dituntut di bidang kepemimpinan dan managemen. Intinya setiap tugas dan peran memang harus efektif dan fungsional. Masing-masing pihak yang terkait perlu kesadaran akan tugas dan fungsi kehadirannya dalam pembangunan jemaat.
Terarah pada tujuan dan hasil
            Harus ada tujuan dan hasil yang hendak dicapai. Ada tujuan jangka panjang dan ada tujuan jangka pendek. Tujuan jangka panjang  dalam hal pembangunan jemaat adalah paguyuban iman yang baru yang memberi tempat utama pada kasih dan keadilan Allah. Dalam rangka pencapaian tujuan akhir tersebut perlu pula ada tujuan-tujuan antara yang mengarah ke sana. Tujuan jangka panjang menunjuk pada kepemimpinan yang memiliki visi, sementara untuk sampai ke situ ada tapakan-tapakan kegiatan yang diatur secara managerial untuk memperoleh hasil maksimal lewat kerja keras dan pemberdayaan umat.
3. Bertindak menurut tata waktu atau secara proses
            Proses pembangunan jemaat dapat dipandang dari dua proses, yaitu:
·         Peninjauan kembali sejarah dan melihat pembangunan jemaat sebagai proses historis yang berlangsung sampai hari ini
·         Melihat keadaan sekarang dan hari depan serta memandang pembangunan jemaat sebagai tindakan intervensi untuk mempersiapkan, melaksanakan dan menstabilkan
Secara sederhana proses pembangunan jemaat ini berlangsung lewat tiga tahap, yaitu:
·         Membuka orang akan perubahan/start (unfreezing)
·         Orang mulai bekerja/pelaksanaan (moving)
·         Menciptakan kondisi agar hasil yang tercapai dilestarikan, dimantapkan, atau diselesaikan.
Tahap-tahap ini berproses secara spiral. Itu berarti bahwa ada hilir mudik. Kesalahan dalam fase tertentu kadangkala baru menjadi jelas dalam fase berikutnya, sehingga harus ada perbaikan untuk melanjutkan suatu kegiatan gereja atau kebijakan bersama lewat program-program yang ada.


4. Bertindak menurut tata ruang atau pengembangan organisasi
            Dalam kaitan dengan pembangunan jemaat, istilah organisasi jemaat dianggap sangat penting. Fungsi ini perlu ada. Perlawanan terhadap hal ini dapat dibandingkan dengan perlawanan terhadap rasionalitas serta bertindak fungsional dan terarah pada hasil. Yang penting sebenarnya adalah memanfaatkan ilmu sosial untuk mencapai hasil. Bagi banyak orang, adanya organisasi dianggap sebagai penciptaan struktur, seperti menciptakan dewan paroki atau dewan pengurus. Organisasi sebetulnya bukan pertama-tama penciptaan struktur, melainkan penciptaan relasi yang baik antarmanusia, menciptakan komunikasi terbuka yang memberi kemungkinan perkembangan pribadi-pribadi di dalamnya. Ini menjadi syarat agar organisasi gereja dapat terarah kepada tujuan dan tugas.
5. Mengaktifkan partisipasi
            Untuk mencapai suatu paguyuban iman yang baru, maka penting kiranya agar semua elemen umat terlibat di dalamnya, baik pemimpin maupun semua anggota. Pengaktifan umat bukanlah hal yang mudah. Namun penciptaan vitalisasi umat beriman bukan juga hal yang mustahil. Pembangunan jemaat harus dan mau bekerjasama dengan semua manusia yang beriman tanpa paksaan atau penekanan, melainkan mau mengadakan relasi kerja sama yang fungsional untuk mencapai persekutuan yang didambakan. Perlu ada kerjasama sebagai rekan, ada empati terhadap orang lain dan sekaligus perhatian terhadap perasaan sendiri. Dalam arti itu harapan akan keaktifan umat dalam pembangunan jemaat boleh terwujud.
            Aspek-aspek dasar pembangunan jemaat sebagaimana diungkapkan oleh Hooijdonk di atas menjadi kerangka acuan untuk pencapaian hasil. Ia berbicara tentang definisi pembangunan jemaat, dan memberikan pula beberapa pemikiran dasar yang membantu jemaat untuk sampai pada tujuan yang semestinya, yaitu paguyuban iman yang baru yang lebih sesuai dengan kepengikutan Yesus dan terbuka bagi semua manusia zaman sekarang.

C. Bagaimana fungsi-fungsi pastoral, yaitu: a) menyembuhkan (healing), b) meneguhkan (sustaining), c) mendampingi (guiding), d) mendamaikan (reconciling), bisa dioperasionalkan dalam reksa pastoral?
            Secara sederhana dapat dikatakan bahwa reksa pastoral ialah : “Penghadiran Gereja dengan perhatian dan bantuan khusus” atau segala kegiatan pelayanan kegembalaan/pastoral pendidikan yang diberikan kepada umat/kelompok umat agar mereka menjadi semakin kristiani dan mampu menciptakan tatanan hidup yang dijiwai oleh nilai-nilai kristiani. Adanya fungsi pastoral merupakan sumbangan bagi pelaksanaan reksa pastoral yang mengena, tepat sasaran, dan menciptakan iklim yang kondusif bagi pembangunan jemaat.  Heitink menyebut fungsi-fungsi pastoral ini dalam bukunya Teologi Praktis. Ia menyebut hal ini ketika mempertegas pengertian tentang  poimenik yang mengarah pada pembentukkan teori di bidang pastoral individu dan pastoral kelompok. Bagaimana sebenarnya operasionalisasi fungsi-fungsi pastoral ini dalam reksa pastoral?
1. Menyembuhkan (Healing)
Suatu fungsi Pastoral yang terarah untuk mengatasi kerusakan yang dialami orang dengan memperbaiki orang itu dengan menuju keutuhan dan membimbingnya ke arah kemajuan di luar kondisinya terdahulu. Fungsi yang pertama ini sangat penting dan selalu urgen dalam kehidupan parokial. Pengalaman penulis selama Tahun Orientasi Pastoral bersentuhan langsung dengan fungsi yang pertama ini. Ini tentu saja dikemas lewat pendampingan pastoral yang terarah pada semua umat dalam kondisi “sakit”. Sakit bisa mengarah pada kesakitan dan penderitaan fisik maupun rohani. Orientasi terbesar tentu saja pada peyembuhan rohani. Dalam fungsi yang pertama tentu saja hal pertama yang dilakukan oleh penulis dalam medan pastoral adalah mendiagnosa penyakit yang diderita. Tanda-tanda apa yang mencuat dalam situasi kerusakan individu dan kelompok umat. Diagnosis itu terlaksana lewat pengamatan dan kehadiran langsung sambil bertanya dan mencari informasi mengenai situasi yang terlihat rusak dan sakit. Lewat pengamatan, pencarian informasi dan tanda-tanda yang mengemuka akan muncul kesimpulan sementara yang bisa membantu untuk mengobati kerusakan atau kesakitan umat atau pribadi-pribadi. Dari situlah pastoral terlaksana, yaitu ketika penulis paper ini menjadi “dokter” yang menyembuhkan. Dasarnya tentu saja penyembuhan umat dan penciptaan kondisi baru yang sehat berbanding terbalik dengan situasi sebelumnya. Sama seperti kehadiran Yesus dengan pernyataan kedatangan-Nya pertama-tama bukan untuk mereka yang sehat tetapi untuk mereka yang sakit. Bukan orang sehat yang membutuhkan tabib. Operasionalisasi kegiatan ini mengejawantah saat TOP dalam doa bersama untuk orang sakit, kunjungan bagi para penderita, ibadat dan sharing iman di penjara, komuni orang sakit.
2. Meneguhkan (Sustaining)
Terutama mengarah pada usaha untuk mengatasi krisis dan mengintegrasikan kehilangan. Menolong orang yang sakit (terluka) agar dapat bertahan dan mengatasi suatu kejadian yang terjadi pada waktu yang lampau, dimana perbaikan atau penyembuhan atas penyakitnya tidak mungkin lagi diusahakan atau kemungkinannya sangat tipis sehingga tidak mungkin lagi diharapkan.
Fungsi kedua ini juga penulis alami secara nyata dalam medan pastoral. Umat sebetulnya membutuhkan peneguhan dari petugas-petugas pastoral. Ada begitu banyak pengalaman iman umat yang diceritakan, sementara kesadaran pemimpin adalah meneguhkan pengalaman iman mereka. Peneguhan itu terlaksana lewat kehadiran dan keberadaan langsung bersama mereka. Ada umat yang sakit dan mendambahkan kehadiran seorang petugas pastoral yang dirasakan sangat penting untuk datang, mengunjungi dan memberikan penghiburan kepada mereka.
3. Mendampingi (Guiding)
Fungsi yang ketiga ini ingin menolong manusia untuk sampai pada keutuhan dan pilihan yang bertanggung-jawab atas dasar keyakinan hidup mereka. Membantu orang yang berada dalam kebingungan dalam mengambil pilihan yang pasti (meyakinkan diantara berbagai pikiran dan tindakan alternatif/pilihan), pilihan yang dipandang mempengaruhi keadaan jiwa mereka sekarang dan pada waktu yang akan datang. Proses-proses penyadaran dan proses-proses belajar memainkan peranan yang besar di sini dan menunjuk pada sifat emansipatoris dalam tindakan pastoral.
Operasionalisasi fungsi ketiga ini dalam bidang pastoral sebenarnya terungkap dalam cara mana seorang pemimpin menunjukkan teladan hidupnya yang baik. Keteladanannya bisa menjadi pemicu bagi umat untuk melakukan hal yang sama. Seorang petugas pastoral pertama-tama harus mampu memimpin dirinya sendiri, mampu menghantar segala cita-citanya pada koridor yang semestinya untuk bisa memberikan kepastian kebenaran kepada umat di mana ia bertugas. Itu juga yang penulis lakukan selama masa pastoral. Pendampingan berjalan lancar jika pelaksanan pastoral juga memiliki kepastian dan keyakinan diri akan nilai-nilai kebaikan sebagai pegangan. Dalam arti itu ia bisa menolong manusia lainnya (umat) untuk sampai pada keutuhan hidup. Hal ini terlaksana lewat pendampingan pribadi. Ada umat yang datang dengan kebimbangan. Di situ pemimpin tidak bisa menambah kebimbangan mereka, melainkan berusaha agar perjumpaan tersebut bisa memberikan pencerahan, yaitu kesadaran bahwa mereka memilih sesuatu yang indah dan baik serta bisa dipertanggungjawabkan. Menjadi tugas petugas pastoral untuk memberi keyakinan dan memberi saran apabila pilihan mereka salah. Syaratnya tentu saja pemimpin harus memiliki kebijaksanaan dan mampu mengerti situasi yang ada. Fungsi ini terungkap jelas saat penulis mendampingi para siswa SD, SMP, SMA, umat yang datang berkonsultasi di pastoran, kunjungan ke rumah umat, dan juga penyadaran dalam katekese sambut baru, krisma, atau juga perkawinan.

4. Memulihkan (Reconciling)
Kenyataan yang muncul itulah bahwa manusia sering terasing satu sama lain, terasing dari diri sendiri, dan juga terasing dari Allah. Ada relasi-relasi yang terganggu atau terputus serta konflik-konflik yang menghalangi pergaulan manusia secara baik. Yang penting di sini adalah usaha membangun hubungan-hubungan yang rusak kembali di antara manusia dan sesama manusia dan di antara manusia dengan Allah. Secara historis, memulihkan telah dipakai dua model: Pengampunan dan disiplin Gereja. Yang digunakan di sini bukan saja model harmoni, melainkan juga perdamaian melalui konflik.
Dalam kaitan dengan pengoperasian fungsi ini untuk reksa pastoral umat, maka petugas pastoral pertama-tama mengupayakan terciptanya budaya kasih. Kasihlah yang menjadi elemen penting untuk memperdamaikan semua. Terjadinya gesekan dan pertengkaran telah mengarahkan orang pada keterpisahan dan konflik antar sesame yang dengan sendirinya telah mempengaruhi relasi kasih dengan Allah. Dalam situasi itu pemimpin memiliki tugas untuk mengikat dan mempersatukan orang dalam kasih lewat penanaman budaya memaafkan satu sama lain, kerelaan untuk berkonflik dengan diri sendiri dan orang lain untuk menciptakan situasi damai. Konflik dengan diri sendiri maksudnya melawan diri sendiri atas nafsu-nafsu pribadi yang merusak diri dan kebersamaan, sementara penciptaan perdamaian lewat konflik terhadap orang lain terungkap dalam keberanian untuk menegur kesalahan. Ada ungkapan bahwa teman yang baik bukan dia yang terus mengatakan “ya” atas semua tindakan kita, tetapi dia yang mengatakan tidak apabila tindakan dan sikap kita mulai bengkok, miring, dan membuka keterputusan relasi antar sesama.
Pantas pula ditanamkan dalam diri umat yang dilayani kesadaran untuk mengikuti cara perdamaian yang begitu mulia yang ditawarkan oleh gereja yaitu sakramen pengakuan dosa. Ini adalah sarana yang paling penting untuk rekonsiliasi dan penghadiran kedamaian. Dan seperti pengalaman penulis, baik juga jika semua yang terlibat konflik duduk bersama dan saling memaafkan dengan kehadiran petugas pastoral yang memiliki panggilan untuk dengan lemah-lembut mengajak semua umat beriman saling memaafkan.
5. Memelihara atau mengasuh (Nurturing).
Ada juga sebenarnya fungsi kelima dari pengembalaan, fungsi yang juga bersifat mendasar dan merupakan suatu motif yang langgeng dalam sejarah gereja, yaitu: Memelihara atau mengasuh (Nurturing). Tujuan dari memelihara adalah memampukan orang untuk mengembangkan potensi-potensi yang diberikan Allah kepada mereka, di sepanjang perjalanan hidup mereka dengan segala lembah-lembah, puncak-puncak dan dataraan-datarannya.
D. Bagaimana corak pendekatan teologi praktis-antropologis bisa mengembangkan kristianitas individual dalam relasi manusia dan agama? Dalam credo terdapat ungkapan Gereja yang kudus.
            Corak pendekatan teologi praktis antropologis mengarah pada tindakan komunikatif dalam relasi dengan individu. Konsep inti pada bagian ini adalah manusia dan religi. Di dalamnya termasuk poimenik (teologi dan psikologi pastoral), pedagogi agama dan spiritualitas. Kristianitas individu terungkap dalam pengalaman religius. Pengalaman religius ini tentu saja mengandaikan kerangka reference religius. Pengalaman tersebut terbentuk melalui momen kognitif dan momen afektif. Di situ manusia ketemu dengan Tuhan.  Dalam rangkah pengalaman religius individual, manusia dan religi, ada beberapa bidang yang membantu mengungkap pengalaman religius tersebut:
1. Poimenik
Pembentukan teori dalam poimenik berpusat pada manusia individu;  Poimenik (pastoral) dapat dikarakteristikkan sebagai keperihatinan terhadap seseorang atau terhadap kelompok. Orang membutuhkan perhatian dari pihak jemaat beriman tidak hanya kalau ada problem melainkan juga dalam hidup sehari-hari. Yang paling dikenal adalah penggembalaan atau pastoral care, atau juga bimbingan rohani.  Penggembalaan dijalankan dalam hubungan timbal balik dengan “guidance “ dan “counceling”. Ini lebih dikenal di kalangan Protestan, sementara dalam agama Katolik dikenal bimbingan rohani. Banyak orang ditolong dalam masalah rohaninya atau dibimbing untuk mengembangkan hidup rohani yang teratur dan mendalam. Orang misalnya memilih karisma yang menjadi inspirasi dan dasar bagi pengembangan hidup rohaninya dengan mengambil spiritualitas hidup St. Fransiskus. Sekarang dikenal juga spiritualitas hidup awam dalam mana di tengah-tengah situasi dunia Tuhan memberi inspirasi kepada mereka untuk ikut mendatangkan kerajaan Allah di dunia ini. Ada juga spiritualitas hidup jemaat yang mengembangkan inspirasi rohani bagi jemaat sebagai keseluruhan dalam mana masing-masing anggota umat berbagi pengalaman mereka sebagai umat dan saling menginspirasikan untuk membangun komunitas mereka. Ada kelompok janda, ME, Choice,dll. Mereka berusaha saling menolong satu sama lain dalam rangka pencapaian kehidupan religius. Ini sekaligus menjadi indikator bagi vitalitas paroki. Kehidupan paroki dialami secara jelas dalam kelompok umat dengan siatuasi yang sama yang menyatu dalam kelompok. Merekalah yang sebetulnya menjadi promoter kehidupan paroki. Ada kelompok-kelompok umat, persekutuan doa, kelompok berteman dalam setiap gereja local. Kelompok-kelompok ini memiliki anggota-anggota yang bukan saja tumbuh bersama dalam iman, melainkan juga lebih memberi keyakinan pada vitalitas pengalaman religius individu yang mencirikhaskan kehidupan gereja sebagai yang kudus karena para anggotanya juga hidup dalam kekudusan.
2. Spiritualitas
Spiritualitas berpusat pada pengalaman iman orang yang aktual dan bagaimana pengalaman itu dapat dipengaruhi. Spiritualitas ini merupakan prinsip struktural dalam gereja dan teologi. Spiritualitas adalah orientasi hidup yang yang religius, yang fundamental, pribadi, bersama dan berkelanjutan. Orientasi hidup yang fundamental tidak dapat terjadi tanpa tindakan-tindakan yang diarahkan ke penyadaran, penjelasan dan penguatan orientasi hidup itu jika kita memberi wujud pada hidup yang keluar daripadanya. Dalam hal ini pentinglah apa yang namanya berdoa, bermeditasi, dan berpartisipasi dalam perayaan. Dalam kaitan dengan spiritualitas ini beberapa faktor  perlu diperhatikan:
·         Suasana zaman, yang dimaksudkan adalah setiap budaya mempunyai suasana sendiri, iklimnya atau perasaan hidup tersendiri
·         Inspirasi dasar yang merupakan penjiwaan fundamental atau garis kekuatan yang dalam periode tertentu memotivasikan orang dan kelompok
·         Diri manusia, yaitu pribadi sendiri dan identitasnya sendiri dan riwayat hidupnya
·         Latihan praktek yang menunjuk ke arah proses interiorisasi, di mana manusia membuat pengalaman menjadi miliknya sendiri,
·         Mistik, sebagai sumber spiritualitas, misteri hubungan dengan karya Roh
Dengan demikian dapa dikatakan bahwa pengalaman religius manusia sebagai bagian dari relasi dan kontribusi agama bagi usaha menghidupi spiritualitas itu sangatlah penting dalam mengembangkan kristianitan individual dalam relasinya dengan agama. Manusia dan ikatannya dengan agamanya dalam hal ini gereja. Menjadi bagian dari gereja yang kudus dengan mengambil inspirasi dari spiritualitas yang dihidupi bersama dengan umat lainnya. Dari situlah terjadi relasi dengan Allah, yaitu saat pengalaman mistik dialami sebagai akibat misteri relasi dengan karya Roh yang menggerakkan pengembangan kristianitasnya menjadi kudus dalam gereja yang kudus.
3. Pedagogi agama
Pedagogi agama berpusat pada pendidikan iman dan pengajaran kepada kaum muda. Ini juga penting untuk menempatkan pengalaman religius individu pada pemahaman yang benar tentang iman yang terlaksana lewat pendidikan iman dan pengajaran.
E. Bagaimana corak pendekatan teologi praktis ekklesiologis bisa mengembangkan kristianitas gerejawi dalam aras Gereja dan iman? Dalam credo terdapat ungkapan “Gereja yang Katolik.”
            Corak pendekatan teologi praktis ekklesiologis mengarah ke tindakan komunikatif dalam dan berdasarkan ikatan sosial persekutuan iman kristiani. Konsep inti di sini adalah Gereja dan iman. Secara berpasangan, bidang ini adalah homiletik dan liturgik, kateketik dan pembangunan jemaat. Pendekatan ini sebetulnya mengandung keterbatasan. Itu karena perhatian terarah pada berfungsinya gereja dalam jemaat lokal yang merupakan bagian dari gereja nasional dan regional. Titik tolaknya adalah otonomi yang besar dalam gereja lokal. Otonomi ini secara formal bisa lebih besar dalam Gereja yang satu daripada dalam gereja lainnya bergantung pada kuasa yang di dalam organisasi gerejawi diberikan kepada badan-badan yang lebih tinggi atau persidangan-persidangan yang lebih besar. Karena itulah kadar otonomi tidak sama dalam struktur gereja yang kongregasionalistis lain daripada dalam struktur gereja yang sinodal-presbiteral dan daripada dalam struktur gereja yang hirarkis.
            Eklesiologi teologis perlu memberikan perhatian yang sistematis pada berfungsinya gereja. Karena itu pendapat Firet mengenai eklesiastik sebagai istilah yang dikaitkan erat dengan fungsi gereja pantas dikedepankan, yaitu teori teologis tentang wujud sosial iman Kristiani, sebagai aktualisasi dari kemungkinan yang dijanjikan, dan sebagai pemenuhan penugasan yang diterima, di dalam situasi sosial dan kultural tertentu. Perhatian di sini terarah pada organisasi, pimpinan dan hidup gereja. Pendekatan teologis eklesiologis inilah yang mambantu mengambangkan kristianitas dalam gereja dan iman. Inti teologisnya adalah kemungkinan yang dijanjikan serta penugasan yang diterima menunjuk pada karya Roh. Gereja dalam arti ini mendapatkan wujud sosial iman kristiani. Dalam arti itu pula kita bisa berbicara tentang koinonia.
1. Koinonia
            Koinonia sebenarnya merupakan salah satu arah dari pembangunan jemaat di samping sibernetika (ilmu pengendalian). Koinonia sebagai persekutuan yang hidup, terarah pada keselamatan manusia dan dunia. Koinonia ingin menumbuhkan kedekatan, kebersamaan, dan dukungan satu sama lain. Contoh koinonia dapat dijumpai dalam Injil, yaitu dalam penggilan murid-murid yang pertama, dalam undangan dan tantangan pertama untuk mengikuti Yesus. Secara mendalam dan unik, koinonia dialami dalam keluarga. Keluarga merupakan dasar untuk perkembangan hidup manusia, baik secara teologis maupun secara sosiologis, dan koinonia dapat juga diwujudkan dalam bentuk sosial manusiawi yang ditentukan secara sosiologis.
·         Koinonia dalam kelompok sosial
Kelompok sosial merupakan bentuk pertama koinonia untuk kedekatan dan keakraban. Di situ ada rumusan tujuan bersama dan pembagian tugas yang disepakati. Kelompok ini menjadi kelompok yang esensial dalam pembentukan paroki. Tentu tidak mungkin ada koinonia tanpa lebih dulu membentuk kelompok. Kelompok-kelompok sosial inilah yang banyak terdapat dalam paroki-paroki dalam mana terwujud pelayanan yang sejati antara sahabat, tetangga, anggota suku, anggota senasib, orang seprofesi atau kelompok berteman.
·         Koinonia lewat partisipasi dalam hidup paroki
Koinonia berarti bahwa warga paroki merasa semakin akrab dan dekat sebagai warga paroki. Ini terungkap jelas lewat partisipasi jemaat dalam kegiatan-kegiatan paroki, baik yang interen maupun yang eksteren, baik sebagai kader maupu sebagai orang beriman yang merasa diteguhkan oleh hidup berparoki. Usaha untuk melibatkan semakin banyak jemaat dalam hidup paroki dapat merupakan kebijakan paroki sehingga partisipasi jemaat itu menjadi tujuan. Hal ini akan makin mengena dalam perjumpaan di kring, wilayah rohani, kelompok basis, atau kelompok kategorial. Keakraban akan lebih mudah dialami dalam skala yang lebih kecil dalam paroki. Tentu saja dengan tidak mengisolir diri dari paroki.
            Koinonia dalam paroki inilah yang sebenarnya menjadi elemen paling hidup dalam gereja. Gereja berkembang dalam basis-basis. Perkembangan tersebut secara otomatis membantu pengembangan rohani umat beriman. Dalam kaitan dengan teologi praktis eklesial dalam mengembangankan gereja yang Katolik, persekutuan dalam kelompok-kelompok basis yang bernanung dalam paroki pastinya mengembangkan kehidupan iman dan milatansi iman sebagai orang Katolik. Hal ini secara rutin lewat pengalaman pastoral terungkap sangat jelas dalam kelompok kategorial, kelompok pertemanan, dan wilayah rohani. Di sini umat bukan saja bersekutu, tetapi juga menegaskan kekatolikan dan kebanggaan diri sebagai orang Katolik.
·         Koinonia sebagai organisasi paroki
Paroki adalah organisasi hidup gerejawi dalam skala yang lebih besar. Kehidupan paroki dapat berlangsung  relatif  independen dari anggotanya. Kelangsungan itu diperkuat oleh institusionalisasi dan birokrasi. Selama paroki memiliki sarana finansial yang cukup dan pemimpin yang baik, hal itu dapat berlangsung terus walaupun anggota hampir tidak ada lagi. Pembangunan jemaat selalu mencoba mendobrak bahaya ketegaran tersebut dan mendinamiskan institut  gerejawi dengan bertolak pada warga paroki. Yang penting adalah membangun struktur paroki dalam mana relasi formal dan relasi koinonial dijaga dan dilestarikan secara bersamaan. Di sini paroki hendaknya tidak menyerupai lembaga birokrasi yang sulit ditembus akibat formalitas relasi, melainkan sungguh menjadi dan menampakkan relasi koinonia yang member tempat bagi semua warga paroki untuk terlibat secara aktif dan memberi diri untuk tugas keumatan yang dijalankan dengan penuh tanggung-jawab. Struktur paroki hendaknya tidak menutup diri terhadap seluruh umat, melainkan membuka diri untuk peran serta aktif dan hidup.
            Di atas sudah dikatakan bahwa koinonia merupakan satu segi pembangunan jemaat di samping sibernetika. Sibernetika adalah ilmu pengendalian. Dalam paroki dibedakan:
·         Struktur kerja
·         Struktur pengendalian/kepengurusan
Dalam struktur kerja ada tiga unsure yang diolah:
·         Pembagian tugas
·         Pembagian wewenang
·         Penyesuaian pelaksanaan tugas
Dalam struktur pengendalian yang dianggab paling penting: pengambilan keputusan. Pengambilan keputusan perlu memperhatikan beberapa hal:
·         Realisasi tujuan paroki
·         Mengatur relasi antara orang dan badan
·         Mengatur prosedur-prosedur
Dalam struktur pengambilan keputusan diatur dua hal:
·         Terarahnya kegiatan paroki pada tujuan paroki; dan terarahnya pembagian fasilitas dan sarana pada tujuan paroki pula
·         Hak warga paroki untuk ikut mengambil keputusan.
Umumnya dalam kehidupan paroki yang lebih diperhatikan adalah struktur pengambilan keputusan daripada struktur kerja, atau orang lebih memperhatikan pengambilan keputusan daripada bagaimana keputusan itu dilaksanakan. Sibernetika ini penting karena segala program dan kegiatan paroki tentu saja harus melalu pengambilan keputusan dan kerja keras untuk pelksanaan kegiatannya. Pembagian tugas dan wewenang memang harus jelas dan semua reksa pastoral paroki harus terarah pada kepentingan umat secara umum. Ini penting untuk menjaga ketertiban dan keselarasan dalam gereja local, dan member peluang serta kesempatan keterlibatan umat dam kepengurusan sambil menumbuhkan kehidupan iman mereka.
2. Homiletic dan liturgik
Homiletic dan liturgik berpusat pada pemberitaan dan perayaan jemaat kristiani. Dalam liturgy saat ini terlihat perubahan yang fundamental. Dulu semuanya adalah pastor sentries. Sekarang awam mendahului liturgy lewat doa-doa, menjadi lector, memberi bahan meditasi, atau juga pembagi komuni. Berkembang juga kreativitas kelompok liturgy.
Lewat liturgy dan homily sebagai bagian dari teologi praktis eklesiologis, kemungkinan pengembangan kristianitas dalam gereja dan iman terus dikembangkan dan diwartakan, yaitu melalui pewartaan sabda dan liturgy resmi gereja. Hal ini sudah dan akan terus dilaksanakan oleh penulis. Penulis adalah calon imam dan bidang homiletic serta liturgy juga menjadi bagian hidup yang perlu dilaksanakan. Pengalaman pastoral mengatakan bahwa pengembangan kehidupan gerejani dan pertumbuhan iman memang terlaksana secara nyata dalam liturgy, yaitu memimpin ibadat sabda, tapi juga dengan homily-homili di mana Kitab Suci dijelaskan dan umat diarahkan untuk mengerti kabar baik, kabar keselamatan. Di situlah iman umat diteguhkan dan dicerahi.
3. Kateketik
            Katekese memiliki berbagai bentuk, antara lain: katekese sekolah, katekese paroki atau umat, katekese anak, muda-mudi dan dewasa. Katekese umat makin berperan oleh karena umat semakin dipandang sebagai pembawa utama katekese itu. Karena itu baik untuk melibatkan warga paroki dalam katekese, misalnya lewat Sekolah Minggu. Katekese biasa dilaksanakan oleh para pemimpin gereja maupun umat awam. Ada katekis-katekis dan guru agama sehingga tidak ada ketergantungan pada pastor paroki. Ini agak berbeda dengan liturgy di mana ketergantungan pada pastor paroki masih sangat nyata.
            Penulis juga menjadi katekis selama masa pastoral. Hal ini terlaksana dalam katekese sekolah, katekese sakramen, dan katekese pernikahan. Pelaksanaan katekese ini dilaksanakan untuk membentuk kehidupan katolik yang militant dan kaya dalam iman. Penting di sini bahwa para katekumen bisa mempertanggung-jawabkan apa yang diimani lewat katekese yang mengena dan menyentuh kehidupan nyata mereka.

F. Bagaiamana corak pendekatan teologi praktis diakonologis bisa mengembangkan kristianitas publik dalam aras agama dan masyarakat? Dalam credo terdapat ungkapan “Gereja yang apostolik.”
            Corak pendekatan teologi praktis diakonologis mengarah ke tindakan komunikatif, bertolak pada tradisi kristiani dalam grup-grup yang berlainan dalam masyarakat. Konsep inti di sini adalah gereja dan masyarakat. Bidang-bidang itu adalah diakonik, evangelistic, dan vak-vak laical. Diakonik ialah pembentukan teori berhubungan dengan pelayanan belaskasihan dan keadilan kepada manusia dan masyarakat. Evangelistic itu mengenai teori komunikasi Injil antara jemaat dengan lingkungannya yang sebagian besar terdiri dari orang yang terasing dari tradisi kristiani, sementara vak-vak laical mengembangkan teori mengenai bagaimana manusia melaksanakan norma-norma kristiani dalam kehidupan sehari-hari. Jelas bahwa pendekatan teologi praktis diakonologis bisa mengembangkan kristiani public dalam aras agama dan masyarakat. Ini terungkap dalam pernyataan prinsip gereja mengenai sikap dasar gereja sebagai keseluruhan, yaitu gereja bagi orang-orang lain maupun sikap dasar setiap orang beriman. Diakonologis sebetulnya mendapat sentuhan ilmia sebagai teologi praktis untuk menjelaskan tugas gereja dalam hal diakonia. Diakonia adalah pelayanan Gereja kepada dunia atau realisasi kerajaan Allah di dunia. Fungsinya adalah mewujudkan Injil dalam hidup bermasyarakat di segala bidang, baik itu pendidikan, kesehatan, politik, kebudayaan, social, kenegaraan, dll.
Pelayanan diaconal terhadap masyarakat terjadi dengan intensitas dan resiko yang berbeda. Ada partisipasi sebaik mungkin dalam pembangunan Negara ke perjuangan keadilan lewat kritik dan kegiatan terbuka. Dalam KV ini tentang kerasulan awam, fungsi ini menjadi kegiatan khas kaum awam. Di sinilah terungkap identitas gereya yang apostolic, yaitu gereja yang melakukan karya kerasulan dalam masyarakat. Masuk dalam kehidupan dunia dan menggaraminya dari dalam. Walaupun ini menjadi tugas khusus kaum awam, peranan imam tentu tak bisa disingkirkan. Perlu ada kerjasama antara umat dan imam. Perlua ada pendampingan imam bagi umat yang terlibat aktif dalam hal ini sambil juga memberikan inspirasi dan masukan yang berguna untuk penataan dunia menjadi lebih baik dan bersahaja.
Dalam hal diakonia ini, penting diperhatikan semangat Injil, khususnya preferencial option for the poor. Ini penting! Yang paling pokok dalam kerajaan Allah adalah orang miskin, orang yang tidak berarti, disingkirkan, mereka yang marginal. Gereja harus solider dengan kaum miskin, terlantar dan diperlakukan secara tidak adil. Gereja harus menjadi gereja untuk dunia, yaitu memberikan pelayanan kasih secara optimal. Tak sebatas itu saja, perhatian terhadap bidang-bidang lain perlu juga mendapatkan penekanan, baik itu kesehatan, penataan struktur pemerintahan yang menyengsarakan serta kepekaan untuk memberikan suara kritis atas kebijakan-kebijakan yang menyengsarakan. Gereja perlu menyuarakan kebenaran kepada dunia. Dengan demikian gereja menjadi sungguh vital dan tidak perna buta terhadap kenyataan ekternal. Schegget misalnya berbicara tentang teologi politik yang menciptakan etika revolusi dengan konsekwensi bagi gereja. Gereja dalam arti ini menjadi sekutunya orang-orang miskin. Umat tidak menjalankan politik partai namun memihak secara politis pada orang miskin, orang yang direndahkan dan yang diinjak-injak. Gereja adalah sekutu orang miskin dan kawan dari yang ditinggalkan. Karena itu diakonia memang jelas tidak netral secara politis karena ada keberpihakkan. Model ini terinspirasi oleh teologi dialektis dan teologi pembebasan.
Penjelasan di atas menjelaskan bahwa orang dapat mengisih relasi antara kristianitas dan masyarakat dari berbagai gambarab masyarakat yang teologis. Ini berkaitan erat dengan gambaran gereja. Gereja bagi orang lain yang dalam situasi baru antara relasi agama dan masyarakat pada umumnya tidak berjalan melalui gereja sebagai institute melainkan melalui masukan orang Kristiani sebagai individu.
Dalam kaitan dengan diakonal ini, penulis juga memiliki pengalaman yang cukup berkesan. Reksa pastoral selama orientasi pastoral sebagian terarah pula pada penataan kehidupan dunia. Kehadiran dalam dunia pemerintahan, mengamini undangan pemerintah, menghadiri diskusi-diskusi dalam rangka nasionalisme, bekerjasama dengan agama-agama yang ada, kepedulian terhadap bencana, menyurakan suara moral gereja dalam hal pendidikan dan kehidupan bermasyarakat.
Sementara itu, evangelistic sebagai perwujudan teologi praktis diakonologis terlaksana dalan kesaksian Injil kepada masyarakat. Di atas dikatakan bahwa evangelistic adalah teori komunikasi Injil antara jemaat dengan lingkungannya yang sebagian besar terdiri dari orang yang terasing dari tradisi kristiani. Yang penting di sini adalah proses evangelisasi, bukan pertama-tama untuk menarik dunia dan orang-orangnya masuk dalam kritianitas tetapi lebih utama adalah bagaimana memperkenalkan kristianitas sebagai persekutuan iman baru yang berkisar pada kasih dan kebaikan, kasih sebenarnya yang harus diwartakan kepada dunia. Ketika evangelisasi terlaksana, maka yang diperdengarkan dan dipertontonkan adalah kasih dan keadilan. Berangkat dari konsep Hooijdonk tentang pembangunan jemaat yang terarah pada paguyuban iman yang baru yang lebih sesuai dengan kepengikutan Kristus, isi evangelisasi perlu juga menjadi pewartaan Yesus. Bisa secara eksplisit, namun bisa dan lebih mengena adalah evangelistic implicit dalam mana pewartaan itu adalah Yesus yang dikemas dalam kasih. Kasih kepada sesame dan dengan kasih itu kita menjadi subyek pewartaan. Allah adalah kasih. Demikian juga Yesus itu adalah kasih. Kalau demikian, evangelisasi adalah penyebarluasan kasih Allah pada sesame yang memungkinkan juga meluapnya keadilan bagi semua orang dan dunia.

Penutup
            Andai saja ketiga buku yang dibaca ini sudah didalami oleh penulis paper ini  dengan begitu baik sebelum menjalani masa pastoral, maka sudah pasti reksa pastoral yang dijalani di medan pastoral akan memiliki arah yang jelas dengan kerangka kerja yang teratur dan berorientasi pada hasil serta daya dampak yang luar biasa. Di akhir tulisan ini pantas ditegaskan lagi konsep pembangunan jemaat sebagai “Intervensi sistematis dan metodis dalam tindak-tanduk jemaat setempat.  Pembangunan jemaat menolong jemaat beriman lokal untuk dengan bertanggung jawab penuh berkembang menuju persekutuan (paguyuban) iman, yang mengantarai keadilan dan kasih Allah dan yang terbuka terhadap masalah manusia di masa kini.” Tujuan utama pembangunan jemaat adalah terciptanya paguyuban atau persekutuan kasih yang berdasarkan kepengikutan Kristus, yaitu memberi tempat utama pada kasih dan keadilan.
            Penulis belum bisa menciptakan dan menghantar umat beriman pada tujuan akhir pembangunan jemaat, akan tetapi tugas yurisdiksi pastoral ini dirasakan sungguh sangat membantu dalam hal penataan pastoral pribadi dan pastoral umat serta masyarakat. Terimakasih Pastor!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar