Senin, 03 Oktober 2011

KOMPARASI REKSA PASTORAL


Fr. Lucky Singal
“Tuhan yang mahabaik, Engkau mengetahui kalau aku duduk atau berdiri, dan ketika saya berjalan seluruh perjalananku diserahkan kepada-Mu. Tangan-Mu telah membimbingku. Dan Engkau memegang tangan kananku erat-erat. Dalam kitab-Mu semuanya tertulis,…” (Mzm. 139)
Doa pemazmur di atas mengawali sharing Pst. Cor van Bavel dalam Jejak Sang Misionaris. Buku ini menceritakan sepak-terjang seorang imam yang rendah hati, bersemangat, pekerja keras dan kreatif. Tidak sedikit karya pastoral yang dirintis dan dikembangkannya. Kehadiranya telah membawa sukacita bagi banyak orang. Ini sungguh beralasan karena spiritualitas hidupnya yang memang mengedepankan Tuhan dalam segala karya dan tindakannya. Suatu karya pastoral yang menguras energinya selama 55 tahun dengan perkembangan umat yang cukup signifikan. Ulasannya dalam buku ini sudah pasti memberikan inspirasi bagi semua petugas pastoral untuk serius dan bahagia dalam pelayanan. Lebih dari itu buku ini memberikan petunjuk bagaimana seharusnya menjadi pelaku pastoral yang memiliki visi, berani dan mau bekerja keras. Jejak Sang Misionaris inilah yang saat ini coba diangkat dalam perbandingan dengan penulis paper ini sebagai penerus karya mereka yang telah berjasa mengembangkan Gereja, khususnya di keuskupan Manado.
Komparasi reksa pastoral ini akan menyoroti persamaan dan perbedaan mengenai: Penyusunan rencana kerja pastoral, penentuan prioritas kebijakan dan program kerja, mengatur jadwal kegiatan harian, mengadakan evaluasi terhadap hasil kerja, dan berfleksi kritis mengenai perkembangan keperibadian pelayan pastoral.
A. Menyusun rencana kerja pastoral
            Penyusunan rencana kerja pastoral dimaksudkan untuk memberi arah pada kegiatan yang akan dilaksanakan. Dalam perencanaan ini perlu dipertanyakan apa tujuan perencanaan itu, bagaimana tujuan itu akan dilaksanakan, dengan tenaga yang mana, dengan metode yang mana, sarana apa yang akan digunakan. Secara khusus perlu diperhatikan dalam penyusunan rencana kerja adalah fakctor penghambat dan pelancar dalam proses pengembangan, metode kerja yang akan digunakan, program apa yang akan dilaksanakan dan bagaimana pengambilan keputusan untuk dilaksanakan.
            Dalam buku jejak sang misionaris terungkap beberapa rencana pastoral yang dibuat oleh Pst. Cor van Bavel. Perencanaan kerja pastoral tersebut tertuang paling nyata dalam penceritaannya tentang persekolahan Katolik. Ia menjadi pemimpin dalam persekolahan Katolik pada tahun 1956-1966. Saat ini persekolahan Katolik mulai berkembang dan bertumbuh subur karena kesadaran umat dan umat juga yang membangunnya. Sekolah-sekolah itu disebut sekolah pastor dan kemudian disebut sekolah paroki. Rencana kerja Pst. Cor tercermin dalam beberapa hal:
·         Pewartaan sabda dan katekese agama Katolik di sekolah-sekolah
·         Mengunjungi sekolah-sekolah secara rutin
·         Mencari dan mengangkat guru dan pegawai
·         Mengurus, menghitung dan mempertanggungjawabkan gaji  guru
·         menyediakan pelbagai perlengkapan sekolah
·         Mengurus dan mempertanggungjawabkan pembagian bantuan ke sekolah-sekolah
·         Mencari subsidi bagi sekolah-sekolah
·         Memperhatikan kesejahteraan fisik dan rohani para guru dan pegawai
·         Metode mengajar: cara mengajar dengan menggambar dengan kapur di papan tulis, banyak belajar tentang kependidikan.
Atau juga perencanaan lainnya:
·         Mendirikan sekolah pertanian
·         Menyekolahkan beberapa orang untuk menjadi mentor pertanian
·         Mendirikan sekolah-sekolah
Selain penyusunan rencana kerja pastoral di sekolah, Pst. Cor juga banyak membuat perencanaan pastoral di tempat-tempat di mana ia bertugas. Saat ia bertugas di paroki St. Yosep Kleak, ia merencanakan pembangunan sekolah, begitu juga saat ia bertugas di Luwuk dan di Kalimantan. Ia merencanakan dan pembangunan persekolahan di tempat-tempat tersebut. Ia juga merencanakan pembangunan gedung gereja di beberapa tempat, kunjungan peribadatan di stasi-stasi secara rutin, dan kunjungan keluarga. Semua direncanakan dengan begitu baik. Pst. Cor memang tidak mengungkap detail perencanaan kerja pastoralnya. Akan tetapi lewat pemaparan dalam buku tersebut terlihat jelas bahwa suatu karya besar dalam bidang pastoral senantiasa diawali dengan perencanaan yang baik. Perencanaan itu juga yang menjadi salah satu langka dari penulis paper ini dalam tugas pastoral. Semua kegiatan diawali dengan perencanaan.
            Sedikit berbeda dengan Pst. Cor, penulis dalam perencanaan pastoral senantiasa memperhatikan beberapa hal penting seperti terungkap di atas. Pertama, pembuatan rencana kerja itu diawali dengan pengamatan atas situasi. Dalam arti ini pentinglah menganalisa situasi lewat SWOT, yaitu dengan memahami apa yang menjadi kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman untuk melaksanakan sesuatu. Dalam arti itu bisa diketahui dan diantisipasi faktor-faktor apa saja yang bisa menjadi penghambat pelaksaan program, dan apa saja yang bisa menjadi penunjang dalam melaksanakan sesuatu. Pengalaman selama masa pastoral menegaskan hal tersebut. Semua rencana pastoral diawali dengan pengamatan akan situasi. Penulis sendiri berpastoral di paroki Kristus Raja Tolitoli. Selama masa pastoral tersebut ada beberepa hal yang perna direncanakan dan dilaksanakan, antara lain:
·         Katekese umat
·         Katekese sakramen-sakramen
·         Katekese di sekolah
·         Kunjungan keluarga
·         Kunjungan ke stasi-stasi
·         Penyadaran kehidupan masyarakat lewat media
·         Pendampingan OMK, dll
Perencanaan ini dibuat dengan memperhatikan tujuan setiap program, kelompok sasaran, waktu pelaksanaan, dana yang dibutuhkan, dan sumber dana. Semua itu dilaksanakan agar perencanaan itu jelas dan bisa diterima. Pst. Cor barangkali melakukan juga hal yang sama akan tetapi dalam bukunya ia tidak membuat rincian dan penjabaran secara terstruktur atas rencana kerja pastoralnya. Ia misalnya berbicara tentang pendanaan suatu kegiatan atau proyek, namun pendanaan tersebut lebih bersifat spontan, seperti pembangunan gereja dengan dana yang minim akhirnya bisa selesai karena rahmat dan bantuan Allah katanya.
            Intinya dalam hal perencanaan penulis sama dengan Pst. Cor senantiasa memahami konteks umat sebagai titik berangkat. Itu berarti bahwa situasi umat harus menjadi terminum a quo untuk kemudian sampai pada terminum ad quem. Sebagaimana dikatakan dalam bagian pendahuluan di atas, pelayan pastoral harus memiliki visi. Pelayan pastoral memang menunjuk pada seorang pemimpin. Pastor dan frater sebagai calon pastor jelas adalah para pemimpin. Pemimpin itulah yang harus memiliki visi yang baik dalam arti bahwa ia harus memiliki daya visualisasi, membangun persepsi dan menuangkannya dalam perencanaan untuk kemudian diaplikasikan dalam hidup konkrit umat.
            Kehidupan  konkrit umat di Tolitoli ditandai oleh kebutuhan akan figure seorang gembala umat yang baik. Gembala umat yang diharapkan bisa menghantar umat pada pencapaian kehidupan iman yang mapan. Satu cita-cita yang terlaksana ketika pelayan pastoral mengerti akan situasi dan harapan tersebut lalu kemudian membuat aksi pembangunan umat.
            Perencanaan pembangunan umat dalam menuju pencapaian iman yang baru itulah yang penulis tanggapi dengan perencanaan yang sungguh mengumat dan menyentuh kehidupan nyata mereka. Pst. Cor telah melakukan itu. Ia merencenakan pengembangan kehidupan mengumat yang jelas, merencanakan kesejahteraan umat, merencanakan kecerdasan umat lewat sekolah-sekolah, dan ia bekerja keras untuk itu. Penulis juga mengawali semua kegiatan pastoral di tengah masyarakat Gereja Katolik Tolitoli dengan planning sebagai tindakan awal. Itu berarti bahwa kesamaan paling mendasar antara Pst. Cor dan penulis adalah sama-sama memiliki mimpi pengembangan, mampu menginterpretasikannya dalam konsep dan berani melakukan tindakan nyata.
            Secara konkrit dalam hal perencanaan ini, penulis melakukan beberapa langkah berikut ketika berpastoral di Tolitoli:
  • Memahami apa dan bagaimana situasi dan kebutuhan umat. Ini dilaksanakan dengan pengamatan dan pertanyaan terhadap umat. Dalam hal ini umat paroki Kristus Raja Tolitoli sangat kooperatif, yaitu mau bekerjasama dengan berbagi sikap dan pendapat tentang situasi paroki. Mereka menyampaikan permasalahan-permasalahan dalam bidang liturgy, pendidikan, dan keberadaan gereja di tengah masyarakat
  • Membuat perencanaan strategis, yaitu bermimpi dan berpikir tentang apa yang seharusnya dilakukan untuk bisa menjawab kebutuhan umat dan mengarahkan pandangan umat ke depan. Beberapa pertanyaan sangat membantu dalam hal ini: Paroki Kristus Raja Tolitoli kira-kira akan seperti apa dua atau tiga tahun ke depan? Apa yang menghalangi tujuan yang dicita-citakan? Bagaimana mewujudkan cita-cita bersama? Apa langkah awal konkrit yang perlu dibuat?
  • Menentukan tujuan dan rencana kegiatan yang kreatif dan realistis
Langkah-langkah ini dikonkritkan lewat beberapa perencanaan di atas. Perencanaan yang tersimpul dari kebutuhan dan harapan umat berikut:
  • Liturgy gereja jangan menjadi tempat untuk meluapkan kemarahan. Liturgy itu harus indah dan menyenangkan. Pemimpin hendaknya jangan asal-asalan dalam memimpin liturgy
  • Sekolah paroki harus maju. Prestise sekolah harus diperjuangkan. Jangan hanya menjadi sekolah nomor dua atau tiga. Sekolah harus menjadi komunitas kasih. Guru-guru harus harmonis. Hubungan kasih antar siswa, guru, orang tua harus hidup dalam lingkup persekolahan. Kedisiplinan harus jadi pegangan
  • Kerinduan kami akan pengetahuan Katolik, akan sumber iman, akan pengertian iman. Akan apa arti Katolik. Umat masi miskin dengan pemahaman utuh iman Katolik karena itu kurang bangga menjadi orang Katolik
  • Harus ada tanggung-jawab umat paroki atas beban keuangan paroki, kerelaan untuk member dan berbagi, secara khusus memperhatikan umat dan masyarakat yang berkekurangan
  • Gereja harus bergaul, harus membuka jendela untuk semua orang. Tidak boleh menutup mata untuk dunia. Itulah yang penting. Harus ada toleransi dan dialog hidup dengan agama lain, secara khusus karena gereja memang minoritas di tempat ini.
Harapan-harapan umat inilah yang penulis rumuskan dalam rencana kerja di atas.

B. Menentukan prioritas kebijakan dan program kerja
            Dalam reksa pastoral tentu saja perlu adanya penentuan prioritas. Adanya prioritas mengandaikan bahwa tidak semua kebijakan dan program kerja sama derajatnya. Kesalahan sering terjadi dalam situasi di mana orang beranggapan bahwa semua pekerjaan memiliki derajat yang sama. Ada yang penting dan ada yang mendesak. Yang dipilih tentu saja adalah yang penting bukan yang mendesak. Beda halnya kalau suatu program dirasa penting dan mendesak untuk secepatnya dibuat. Dalam rangkah menentukan prioritas kerja ada beberapa langkah yang perlu dilakukan, yaitu:
·         Menginventaris semua aktivitas yang akan dilakukan per hari/pekan/bulan/tahun
·         Menentukan aktivitas mana yang perlu dilakukan terlebih dahulu; urutkan menurut prioritas
·         Membagi waktu menurut tingkat prioritas aktivitas
·         Keberanian menunda yang di luar daftar prioritas
Sementara itu berkaitan dengan program kerja, ada beberapa hal yang penting diperhatikan, yaitu: merumuskan bidang dalam mana aksi bergerak, tujuan yang mau dicapai dan langkah yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut. Program mengkonkritkan strategi yang diikuti, sarana yang digunakan, orang yang dilibatkan, material dan keuangan yang diperlukan. Program yang baik merupakan buah pikiran yang konkret dan berlandaskan pada pengalaman. Karena itu dalam program kerja tersebut perlu pula ditanyakan beberapa hal:
·         Apakah program konsisten dengan konteks atau situasi?
·         Apakah program sejalan dengan pedoman interen jemaat, gaya managemennya, pandangan jemaat mengenai tugas dan misinya?
·         Apakah proyek sesuai dengan sumber dana dan daya yang tersedia?
·         Apakah resiko yang terkait dengan program dapat diterima?
·         Apakah waktunya tepat?
Dengan demikian berhadapan dengan penentuan prioritas dan rencana kerja hal-hal di atas kiranya harus diperhatikan.
            Pst. Cor dalam bukunya menunjukkan pula rencana kerja dan prioritas kerja yang akan dilaksanakan. Ketika bertugas di Delsos misalnya ia membuat program kerja yang begitu mengena. Program yang dibuat dengan pertama-tama mempertanyakan beberapa hal berikut:
·         Bagaimana masyarakat dapat disejahterakan lewat kegiatan-kegiatan di bidang pengembangan sosial ekonomi
·         Apa yang dapat dilakukan untuk mensejahterahkan masyarakat/terutama keluarga
·         Daerah minahasa dan umumnya Sulawesi Utara dan Tengah adalah daerah agraris, apa yg dapat kita buat untuk meningkatkan usaha pertanian rakyat?
·         Usaha-usaha khusus apa yang bisa kita buat untuk meningkatkan usaha pertanian rakyat?
Ia kemudian membuat program kerjanya:
·         Membuat tim kerja CU
·         Membuat kursus CU
·         Membimbing orang untuk menatap masa depan dengan memperbaiki mental masyarakat dalam hal keuangan (hemat)
·         Mendekati masyarakat kecil bahkan para pelacur
·         Membuat penyuluhan dan pendidikan seks
·         Memberikan kursus kerajinan kepada para petani dengan mendirikan sekolah pertanian
·         Mengutus orang untuk sekolah pertanian
Program-program kerja di atas jelas menyentuh keberadaan umat dan sesuai tuntutan situasi. Umat dalam hal ini banyak yang masih berada dalam kemelaratan, yang lain tidak memperhatikan masa depan mereka. Situasi seperti itu menuntut kreativitas orang-orang tertentu untuk mengangkat orang dari keterpurukan. Pst. Cor membuktikannya lewat program kerja yang tepat sasaran, penting dan mendesak untuk dilaksanakan.  Adalah penting juga untuk mendapatkan mitra kerja dalam hal pengembangan sosial ekonomi. Tidak mengherankan kalau ia kemudian memprioritaskan mitra kerja sebagai prioritas utama yang kemudian membuka cakrawala berpikirnya tentang pengembangan sosial ekonomi. Program kerja lalu disusun dengan tingkat prioritas yang jelas. Hal ini terungkap juga ketika Pst. Cor bertugas di Luwuk. Ia melihat kemunduran umat dalam hal kwantitas. Banyak yang dibaptis tetapi hasilnya tidak tampak. Berhadapan dengan situasi tersebut ia kemudian mencari akar masalah dan menemukan bahwa kebodohan menjadi pemicunya. Umat terkesan bodoh dalam hal agama dan iman karena tidak adanya persekolahan Katolik. Karena itulah ia memprioritaskan pendirian lembaga pendidikan untuk mengubah mentalitas dan paradigma berpikir umatnya.
            Pengalaman pastoral Pst. Cor dan penentuan prioritas kerjanya serta program kerja menyentuh pula penulis paper ini untuk kembali melihat pengalaman penentuan prioritas kerja dalam masa pastoral yang sudah dialami. Penulis memang masih minim dalam khasana hidup pastoral. Akan tetapi berangkat dari pengalaman singkat boleh disebut beberapa hal:
            Di bagian atas sudah disinggung tentang perencanaan kerja. Dalam penjelasannya juga sudah diangkat beberapa program yang penulis laksanakan. Program kerja yang dibuat tentu saja sesuai dengan konteks dan kebutuhan umat. Umat misalnya menginginkan informasi dan pengetahuan yang mendalam tentang iman Katolik. Jawaban akan kebutuhan tersebut terungkap dalam katekese umat. Penulis memang lebih berkonsentrasi pada pembangunan rohani umat. Pengalaman mengatakan bahwa orientasi pada pembangunan fisik seperti yang banyak dilakukan oleh Pst. Cor belum sempat tersentuh. Kendati demikian ada persamaan dengan Pst, cor dalam program kerjanya yang lebih pada pengembangan kehidupan rohani umat, penulis juga melakukan hal yang sama. Ia membuat program kunjungan umat, seperti itu juga yang penulis lakukan. Dalam kunjungan tersebut kehidupan konkrit umat, permasalahan dan suka duka hidup mereka bisa terungkap secara nyata. Dalam perjumpaan itu pula kedekatan dan keakraban umat dengan pemimpin dipertegu dan dipererat.
            Kalau Pst. Cor sudah mapan dalam menentukan prioritas kerja, penulis sendiri masi merasa kurang memperhatikan mana yang seharusnya diutamakan dan mana yang tidak. Program-program dibuat dengan menyertakan tujuan, orang yang terlibat, pendanaan, sumber dananya, akan tetapi prioritas pekerjaannya yang belum diteliti dan ditingkatkan secara benar. Ini tentu saja menjadi catatan penting penulis untuk kembali belajar dan berusaha menyusun suatu program berdasarkan prioritas.
            Kendati demikian, penulis sebenarnya mersa berhasil dalam masa pastoral. Keberhasilan itu pertama terungkap lewat usaha penulis untuk menyatukan umat di paroki Kristus Raja Tolitoli. Sempat beberapa umat mengeluarkan pernyataan: “Apakah tidak lebih baik kalau frater saja yang menjadi pemimpin di sini?” Buktinya saat Pastor pergi dan frater yang selama tiga bulan bertanggung-jawab di paroki, kehidupan umat terkesen baik!” Itu sebenarnya ungkapan spontan umat. Bukan maksud untuk menyudutkan pastor paroki. Tapi dari situ penulis boleh bicara tentang prioritas pekerjaan. Intinya segala sesuatu dapat berjalan lancer kalau umat diikat bersama dalam kasih. Itulah yang menjadi prioritas utama. Di tengah situasi umat yang kurang kondusif. Ada masalah yang terjadi paska penerimaan Krisma di Tolitoli serta kepergian pastor paroki untuk menjalan masa cuti, penulis bisa saja membuat program kerja lainnya yang lebih keluar, lebih-lebih karena umat Katolik Toli-toli sebenarnya memperjuangkan perhatian pemerintah bagi eksistensi Gereja di sana. Akan tetapi penuli memang lebih focus pada pagutuban umat sebagai prioritas utama. Karena itulah pastor paroki merasa senang ketika mendengar kabar bahwa umat bersatu bersama dalam program pesta paroki dengan pendalaman iman, lomba kesenian, dan acara-acara rekreatif yang mempersatukan. Pastor merasa bahagia ketika balik dari masa cuti dan kembali ke Tolitoli sebagai pastor paroki dengan kondisi umat yang berangsur-angsur pulih dari keretakan. Keretakan yang terjadi sebagai akibat pernyataan-pernyataan yang sebenarnya baik, tetapi dibahasakan secara kasar.

C. Mengatur jadwal kegiatan harian
            Pengaturan jadwal kegiatan harian berkaitan erat dengan pemanfaatan waktu. Semua orang dianugerahi jumlah waktu yang sama. Perbedaannya adalah cara masing-masing orang untuk menggunakan waktu tersebut. Pengelolaan waktu yang buruk mengakibatkan aktivitas menjadi kontraproduktif.
            Pencermatan terhadap buku “Jejak Sang Misionaris” memberikan petunjuk bahwa Pst. Cor juga mengatur dengan baik jadwal kegiatan hariannya. Paling kurang pengalamannya di paroki St. Yosef  Pekerja Kleak dan di paroki St. Ignasius menunjukkan dengan jelas bahwa setiap jam empat sore ia melakukan kunjungan umat. Karena itu sangat beralasan jika ia mengatakan bahwa dalam setahun ia bisa mengunjungi semua umat. Ia juga menyebut bahwa waktu malamnya banyak dihabiskan untuk mempersiapkan bahan katekese. Lebih lagi penjelasannya akan kunjungan ke stasi-stasi setiap hari Senin sampai Jumat ketika ia bertugas di Luwuk sudah diatur dengan baik. Lima hari di stasi dan dua hari di paroki. Tak kurang juga ketika ia menjadi superior MSC, ia harus membagi waktunya secara bijak untuk urusan tarekat dan pribadi. Semua fakta itu menunjukkan bahwa Pastor yang baik tersebut menata jadwal hariannya dengan baik.
            Ada ungkapan yang sangat bagus: “Don’t put off until tomorrow what you can do today.” Ungkapan ini bagus diarahkan kepada penulis paper ini. Kebiasaan menunda pekerjaan sebagai akibat dari ketidakjelasan jadwal harian. Penulis memang membuat jadwal kerja dan kegiatan harian. Hal itu paling nyata saat menjalani Tahun Orientasi Pastoral. Akan tetapi sekarang ini penataan waktu lewat jadwal kegiatan harian kurang diindahkan. Jadwalnya memang dibuat tapi lemah dalam pelaksanaan. Ini sebenarnya terlaksana juga sebagai akibat dari pemanjaan kegiatan harian di Seminari yang sudah terjadwal sehingga tinggal mengikuti apa yang ada. Dengan demikian sangatlah penting dan mendesak kalau mulai saat ini penulis kembali mengatur, menjadwalkan kegiatan harian agar waktu yang ada sungguh bisa dimanfaatkan secara maksimal, secara efektif dan efisien.
            Lepas dari situasi sekarang, pengalaman selama tahun pastoral sebenarnya menunjukkan dengan baik tindakan dan aktivitas kerja secara teratur. Ada jadwal kerja mingguan yang penulis susun. Penyusunan jadwal kerja tersebut dibuat dengan system proposional. Ada kegiatan yang membutuhkan durasi waktu yang cukup lama, misalnya kunjungan umat di stasi setiap hari Minggu secara tetap. Akan tetapi dalam program kerja sudah ada kunjungan ke stasi untuk kegiatan pengembangan yang dengan sendirinya meminggirkan jadwal kerja mingguan. Dalam jadwal mingguan tersebut penulis banyak memberi waktu untuk katekese sekolah. Hal itu juga dikarenakan oleh pengunduran diri dari guru agama Katolik sebelumnya untuk urusan studi lanjut. Penulis sebagai petugas pastoral mendapat mandate dari pastor paroki untuk memegang pengajaran Agama di sekolah.
            Kesamaan dengan Pst. Cor adalah penentuan jadwal kerja mingguan. Ia membuat jadwal sehingga kegiatan pastoralnya memang terencana, penulis juga membuat jadwal mingguan, bulanan, dan semester dalam rangka pengaturan kegiatan yang lebih terarah. Memang begitu banyak waktu yang penulis curahkan untuk sekolah, akan tetapi hal tersebut termaklumi karena control terhadap persekolahan jelas harus ada. Di samping mengajar penulis memang bekerja juga di yayasan. Sistem kerjanya, baik SD, SMP, dan SMA memang terpusat di yayasan. Karena itu harus selalu mengontrol dan memberi bantuan terhadap para karyawan di persekolahan tersebut supaya pelaporan, khususnya keuangan benar-benar transparan, obyektif dan credible. Ini dilakukan untuk menjaga pengalaman pengelolaan keuangan sebelumnya yang simpang siur dan banyak penyimpangan karena adanya laporan fiktif. Durasi waktu untuk persekolahan selama masa pastoral memang menyita waktu.
            Secara umum, ketika menjalani pastoral, waktu yang ada didistribusikan untuk beberapa bidang:
·         Persekolahan (yayasan)
·         Katekese (mengajar di sekolah)
·         Liturgy (pimpin ibadat di paroki dan stasi)
·         Kunjungan keluarga
·         Administrasi paroki
·         Kegiatan kemasyarakatan (situasional)
·         Penataan tempat tinggal
·         Tugas pribadi
·         Doa
·         Waktu istirahat
Persekolahan, katekese, dan liturgy adalah tiga bidang yang memang menyita begitu banyak waktu. Dalam persekolahan harus ada control akhir keuangan setiap harinya, korespondensi, rapat karyawan, dan pelaporan rutin kepada perwakilan yayasan setempat. Belum lagi ditambah dengan pengajaran di kelas, baik di SMP maupun di SMA. Ada juga pendekatan personal terhadap para siswa yang bermasalah dan urasan mencari beberapa keluarga yang bisa membantu membiayai beberapa anak yang tidak mampu mempayar SPP karena situasi keluarga mereka yang miskin. Sementara dalam hal katekese, waktu memang banyak juga yang tercurah di situ. Pertama untuk mempersiapkan komuni pertama, kedua untuk persiapan penerimaan sakramen krisma, dan ketiga untuk menjawab kerinduan umat yang mau memperkaya pemahaman iman mereka. Dan waktu untuk kegiatan liturgy juga menyita banyak waktu. Waktunya memang terpusat pada hari Sabtu dan Minggu saat kunjungan-kunjungan rutin ke stasi, akan tetapi tidak jarang permintaan umat untuk membuat ibadat di rumah-rumah mereka perlu pula ditanggapi secara serius. Ini menyangkut ibadat sabda mingguan, asistensi misa, asistensi pemakaman, ibadat pemakaman, ibadat Rosario, dan ibadat syukuran keluarga. Tugas pribadi memperoleh durasi waktu paling kecil, sehingga pengembangan diri untuk kekayaan pribadi memang agak kurang seperti membaca atau refleksi pribadi. Lebih khusus karena penulis berpastoral di daerah diaspora yang bukan saja menyita banyak waktu, tetapi juga menguras energy yang cukup besar. Justru karena itu maka perlu pula ada waktu untuk istirahat siang setiap harinya. Penulis mengkhususkan satu setengah jam untuk istirahat setiap hari.
            Pst. Cor pastinya memiliki pengaturan waktu yang baik. Hal tersebut terungkap dalam pengalaman hidupnya. Ia memberikan waktu untuk dirinya sendiri, dalam hal ini belajar, seperti ketika ia mulai mempelajari bahasa Indonesia, ia juga berdoa dan memberikan banyak waktu untuk pelayanan. Memang ia tidak menguraikan dan melampirkan jadwal waktu hariannya. Akan tetapi penataan waktunya jelas terungkap dari seluruh keberhasilan kerjanya. Penataan jadwal kerja dalam arti pengaturan waktu memang sangat baik. Akan tetapi menentukan waktu yang ideal sebenarnya sulit. Itulah yang juga dialami oleh penulis. Masing-masing orang berbeda baik dalam tingkatan semangat, kesehatan, stamina dan tugas pribadi. Karena itu perlu ada waktu prioritas, waktu khusus yang tidak bisa diganggu dan ada pemanfaatan waktu lainnya untuk kegiatan-kegiatan yang bersifat situasional.
            Dalam kaitan dengan distribusi waktu ini, ada beberapa pokok yang menunjukkan cara pendistribusian waktu dari penulis:
·         Ada kurang lebih 60 jam waktu untuk tugas wajib, seperti mengajar, administrasi paroki dan yayasan persekolahan.
·         Ibadat sabda rutin dua jam setiap hari minggu
·         Ibadat tambahan/permintaan umat rata-rata dua kali dalam seminggu
·         Istirahat dalam seminggu ada sekitar sepulu jam
·         Rekreasi dua jam
·         Tugas pribadi 10 jam

D. Mengadakan evaluasi terhadap hasil kerja
            Evaluasi hasil kerja adalah untuk melihat apakah perkerjaan itu sesuai rencana dan target. Apakah hasil kerja itu sesuai dengan keinginan?
            Ketika mengakhiri masa tugas di paroki St. Yosep, Pst. Cor meninggalkan kesedihan di tengah umat. Umat ingin agar beliau masi tetap tinggal di tengah umat ini. Hal tersebut berbanding terbailk saat ia pertama kali bertugas di paroki itu. Ia mengatakan bahwa kehadirannya mulanya langsung mendapatkan penolakan dari umat. Ada umat yang bahkan langsung menghadap uskup untuk menarik kembali beliau dari paroki tersebut. Akan tetapi semua sepak terjang dan karya-karyanya di paroki ini, pendirian gereja, kunjungan umat, keakraban dengan umat, keseriusan memberikan katekese setiap hari Rabu, keseriusan mempersiapkan bahan untuk mengajar ternyata telah tertanam di hati umat. Ia membuktikan bahwa pekerjaannya memiliki hasil yang pantas dibanggakan dan sesuai dengan harapan umat. Dalam arti ini boleh dikatakan bahwa program kerjanya terlaksana dengan baik. Itu bisa terlaksana karena ia sendiri selalu mengevaluasi diri dan pekerjaannya. Evaluasi atas hasil kerja memang sangat perlu agar bisa dibuat perbaikan dan tetap mempertahankan kebaikan yang sudah tercipta. Hal yang sama juga sudah dialami oleh penulis.
            Masa orientasi selama setahun berbuah manis dengan terlaksananya program kerja. Ini diindikasikan oleh kepuasan umat atas hasil kerja yang penulis laksanakan. Masa TOP sebetulnya baru meruapakan awal perencanaan tugas dan penyusunan program keumatan. Akan tetapi pengalaman kebersamaan dengan umat tetap memberi pelajaran bahwa semua gerak dan tindakan tak perna lepas dari pengamatan dan evaluasi diri serta orang lain.
            Buku Jejak Sang Misionaris sebenarnya merupakan evaluasi diri dan pastoral seorang imam yang handal dalam pelayanan. Buku ini menjadi semacam evaluasi tertuli pastor yang baik tersebut. Seperti Pastor ini, penulis juga selalu mengungkapkan evaluasi kehidupan pastoral secara tertulis. Hal tersebut dibuktikan dengan pemasukkan laporan TOP bulanan dan evaluasi akhir kepada moderator pastoral dan para staf Pembina. Adanya evaluasi adalah untuk melihat sejauh mana program kerja itu terlaksana atau tidak, daya dampaknya, dan keutamaan serta keterampilan apa yang meneguhkan citarasa dan kehebatan pastoral seorang pelayan.

E. Berefleksi kritis mengenai perkembangan keperibadian pelayan pastoral
            Pst. Cor tampil sebagai pelayan pastoral yang baik. Ia tampil sebagai pemimpin umat yang bersahaja. Dalam kaitan dengan kepemimpinan dapat dikatakan bahwa ia sepertinya masuk dalam tipe pemimpin sebagai people oriented leader, yaitu pemimpin yang sangat efektif dan efisien untuk kepentingan banyak orang. Ia senantiasa memperjuangkan kepentingan umum umat secara keseluruhan dan menginginkan yang terbaik bagi semua. Ia adalah pemimpin yang berani. Hal tersebut terlihat pada semangatnya untuk dating bermisi di Indonesia. Sebagai pemimpin yang berani, ia juga mau terus belajar. Tidak mudah mempelajari bahasa Indonesia untuk menginjili masyarakatnya. Akan tetapi ia memiliki tekat dan nekat melakukannya.
Berbeda dengan Pst. Cor, penulis sendiri menempatkan diri sebagai seorang petugas pastoral yang dalam hal kepemimpinan lebih cenderung pada democratic leader, yaitu orang yang suka mendengar, berkonsultasi dan memiliki tim kerja, mampu memotivasi dan berusaha meminimalisir resistensi. Berbicara tentang perkembangan keperibadian pelayan pastoral bagi penulis menunjuk pada perkembangan keperibadian seorang pemimpin. Dalam kepemimpinan untuk pelayanan pastoral perlu kiranya pemimpin pastoral menyadari watak dan karakter dirinya, mampu mengerti keperibadiannya secara seimbang baik menyangkut intelektual dan emosi, serta seperti Pst. Cor, memiliki kerendahan hati, kebijaksanaan, rela berkorban, setia, memiliki komitment, dan mampu menjadi teladan yang baik. Petugas pastoral perlu memiliki pikiran yang jerni atas semua hal yang dihadapi dan mampu menentukan sikap. Konkritnya, pelayan pastoral itu harus selalu menjaga sinergitas semua orang yang dipimpin agar tetap terpelihara dalam visi dan tujuan yang sama. Pelayan pastoral yang baik adalah dia yang mampu mengendalikan emosi, mampu mengelola waktu dengan baik, dan mampu menetapkan visi atau sasaran pribadi.
Secara pribadi penulis menyadari bahwa pelayanan pastoral sebenarnya bukan saja terarah pada reksa pastoral umat, pemeliharaan jiwa-jiwa, tetapi juga usaha untuk terus belajar menjadi pelayan pastoral yang handal. Kehandalan dalam keterampilan dan tindakan. Pelayan pastoral yang tampan dalam sikap dan elok dalam tindakan. Itulah pemimpin yang sejati, yaitu seorang pemimpin yang menjadi cermin kehadiran Kristus di tengah umat dan dunia. Penulis memang memiliki semangat tinggi dalam pelayanan pastoral, akan tetapi masi perlu banyak belajar dan berefleksi agar berbagai potensi diri sungguh terungkap dan bisa menyentuh hati umat beriman.

F. Pertimbangan-pertimbangan kritis mengenal kebijakan dan pola reksa pastoral yang sudah dilaksanakan
            Hal pembangunan jemaat dalam tugas pertama lebih menyeroti kerangka teoritisnya. Pembangunan jemaat dipahami sebagai: “Intervensi sistematis dan metodis dalam tindak-tanduk jemaat setempat.  Pembangunan jemaat menolong jemaat beriman lokal untuk dengan bertanggung jawab penuh berkembang menuju persekutuan (paguyuban) iman, yang mengantarai keadilan dan kasih Allah dan yang terbuka terhadap masalah manusia di masa kini.” Pada bagian ini penekanan lebih pada hal pembangunan jemaat itu seperti apa? Sementara dalam tugas kedua ini sorotan terarah pada pelayan pastoral. Reksa pastoral yang dirancang memerlukan pula keterampilan pelayan pastoral untuk mengarahkan, menetapkan visi, membuat program, menentukan prioritas dan membuat evaluasi.
            Kendati tugas bagian kedua lebih melihat reksa pastoral dalam perbandingan dengan Pst. Cor van Bavel, namun acuan teoritis teologi praktis dalam hal pembangunan jemaat tetap bisa memberikan pertimbangan-pertimbangan yang mengena. Beberapa hal pantas diutarakan:
·         Reksa pastoral para pelayan pastoral hendaknya terarah pada penciptaan umat baru yang memungkinkan kasih dan keadilan mendapatkan tempat utama
·         Memperhatikan bahwa pelayan pastoral dalam menjalankan reksa pastoralnya harus tertuju pada usaha menghadirkan kerajaan Allah di dunia
·         Pelayan pastoral harus pula mengupayakan penghayatan dan pengalaman religius anggota umat
·         Usaha untuk meneguhkan, membimbing, dan memperdamaikan perlu pula diimplementasikan oleh para pelayan pastoral dalam tugas kegembalaannya
·         Peningkatan iman dalam kehidupan Gereja harus dikedepankan oleh para pelayan pastoral
·         Keterarahan juga reksa pastoral terhadap dunia, yaitu menghadirkan kasih Allah pada semua orang, secara khusus terhadap kemiskinan, mereka yang disigkirkan dan diinjak-injak


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar