Senin, 31 Oktober 2011

Ellen

Lima tahun usia pernikahanku dengan Ellen sungguh masa yang sulit.
Semakin hari semakin tidak ada kecocokan diantara kami. Kami
bertengkar karena hal-hal kecil. Karena Ellen lambat membukakan pagar
saat aku pulang kantor. Karena meja sudut di ruang keluarga yang ia
beli tanpa membicarakannya denganku, bagiku itu hanya membuang uang
saja.

Hari ini, 27 Agustus adalah ulang tahun Ellen. Kami bertengkar pagi
ini karena Ellen kesiangan membangunkanku. Aku kesal dan tak
mengucapkan selamat ulang tahun padanya, kecupan di keningnya yang
biasa kulakukan di hari ulang tahunnya tak mau kulakukan. Malam
sekitar pukul 7, Ellen sudah 3 kali menghubungiku untuk memintaku
segera pulang dan makan malam bersamanya, tentu saja permintaannya
tidak kuhiraukan.

Jam menunjukkan pukul 10 malam, aku merapikan meja kerjaku dan
beranjak pulang. Hujan turun sangat deras, sudah larut malam tapi
jalan di tengah kota Jakarta masih saja macet, aku benar-benar dibuat
kesal oleh keadaan. Membayangkan pulang dan bertemu dengan Ellen
membuatku semakin kesal!
Akhirnya aku sampai juga di rumah pukul 12 malam, dua jam perjalanan
kutempuh yang biasanya aku hanya membutuhkan waktu 1 jam untuk sampai
di rumah.

Kulihat Ellen tertidur di sofa ruang keluarga. Sempat aku berhenti di
hadapannya dan memandang wajahnya. “Ia sungguh cantik” kataku dalam
hati, “Wanita yang menjalin hubungan denganku selama 7 tahun sejak
duduk di bangku SMA yang kini telah kunikahi selama 5 tahun, tetap
saja cantik”. Aku menghela nafas dan meninggalkannya pergi, aku ingat
kalau aku sedang kesal sekali dengannya.

Aku langsung masuk ke kamar. Di meja rias istriku kulihat buku itu,
buku coklat tebal yang dimiliki oleh istriku. Bertahun-tahun Ellen
menulis cerita hidupnya pada buku coklat itu. Sejak sebelum menikah,
tak pernah ia ijinkan aku membukanya. Inilah saatnya! Aku tak
mempedulikan Ellen, kuraih buku coklat itu dan kubuka halaman demi
halaman secara acak.

14 Februari 1996. Terima kasih Tuhan atas pemberianMu yang berarti
bagiku, Vincent, pacar pertamaku yang akan menjadi pacar terakhirku.

Hmm… aku tersenyum, Ellen yakin sekali kalau aku yang akan menjadi suaminya.

6 September 2001, Tak sengaja kulihat Vincent makan malam dengan
wanita lain sambil tertawa mesra. Tuhan, aku mohon agar Vincent tidak
pindah ke lain hati.

Jantungku serasa mau berhenti…

23 Oktober 2001, Aku menemukan surat ucapan terima kasih untuk
Vincent, atas candle light dinner di hari ulang tahun seorang wanita
dengan nama Melly. Siapakah dia Tuhan? Bukakanlah mataku untuk apa
yang Kau kehendaki agar aku ketahui…

Jantungku benar-benar mau berhenti. Melly, wanita yang sempat dekat
denganku disaat usia hubunganku dengan Ellen telah mencapai 5 tahun.
Melly, yang karenanya aku hampir saja mau memutuskan hubunganku dengan
Ellen karena kejenuhanku. Aku telah memutuskan untuk tidak bertemu
dengan Melly lagi setelah dekat dengannya selama 4 bulan, dan
memutuskan untuk tetap setia kepada Ellen. Aku sungguh tak menduga
kalau Ellen mengetahui hubunganku dengan Melly.

4 Januari 2002, Aku dihampiri wanita bernama Melly, Ia menghinaku dan
mengatakan Vincent telah selingkuh dengannya. Tuhan, beri aku kekuatan
yang berasal daripadaMu.

Bagaimana mungkin Ellen sekuat itu, ia tak pernah mengatakan apapun
atau menangis di hadapanku setelah mengetahui aku telah
menghianatinya. Aku tahu Melly, dia pasti telah membuat hati Ellen
sangat terluka dengan kata-kata tajam yang keluar dari mulutnya.
Nafasku sesak, tak mampu kubayangkan apa yang Ellen rasakan saat itu.

14 Februari 2002, Vincent melamarku di hari jadi kami yang ke-6. Tuhan
apa yang harus kulakukan? Berikan aku tanda untuk keputusan yang harus
kuambil.

14 Februari 2003, Hari minggu yang luar biasa, aku telah menjadi
Nyonya Alexander Vincent Winoto. Terima kasih Tuhan!

18 Juli 2005, Pertengkaran pertama kami sebagai keluarga. Aku harap
aku tak kemanisan lagi membuatkan teh untuknya. Tuhan, bantu aku agar
lebih berhati-hati membuatkan teh untuk suamiku.

7 April 2006, Vincent marah padaku, aku tertidur pulas saat ia pulang
kantor sehingga ia menunggu di depan rumah agak lama. Seharian aku
berada mall mencari jam idaman Vincent, aku ingin membelikan jam itu
di hari ulang tahunnya yang tinggal 2 hari lagi. Tuhan, beri kedamaian
di hati Vincent agar ia tidak marah lagi padaku, aku tak akan tidur di
sore hari lagi kalau Vincent belum pulang walaupun aku lelah.

Aku mulai menangis, Ellen mencoba membahagiakanku tapi aku malah
memarahinya tanpa mau mendengarkan penjelasannya. Jam itu adalah jam
kesayanganku yang kupakai sampai hari ini, tak kusadari ia
membelikannya dengan susah payah.

15 November 2007, Vincent butuh meja untuk menaruh kopi di ruang
keluarga, dia sangat suka membaca di sudut ruang itu. Tuhan, bantu aku
menabung agar aku dapat membelikan sebuah meja, hadiah Natal untuk
Vincent.

Aku tak dapat lagi menahan tangisanku, Ellen tak pernah mengatakan
meja itu adalah hadiah Natal untukku. Ya, ia memang membelinya di
malam Natal dan menaruhnya hari itu juga di ruang keluarga.

Aku sudah tak sanggup lagi membuka halaman berikutnya. Ellen sungguh
diberi kekuatan dari Tuhan untuk mencintaiku tanpa syarat. Aku berlari
keluar kamar, kukecup kening Ellen dan ia terbangun… “Maafkan aku
Ellen, Aku mencintaimu, Selamat ulang tahun…”

Kamis, 27 Oktober 2011

Cinta itu Indah (Kisah cinta suami isteri yang sangat menyentuh)

Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.

Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.

Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.

Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.

Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.

Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.

Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.

Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.

Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.

“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.

Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”

“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.

Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.

Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi, ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.

Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.

Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.

Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.

Saat pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.

Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.

Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.

Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.

Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.

Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.

Istriku Liliana tersayang,

Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.

Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.

Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.

Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!

Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.

Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.

Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.

Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”

Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”

Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”

Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”

Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.

Human trafficking / Closer than you think

Modern Day Slavery: Slaves Among Us

Human Rights Violation

Human Trafficking Commercial

Children or Slaves: Child Labor in Asia

Trafficking Indonesia Story

Selasa, 25 Oktober 2011

Meity Mamahit Ministry: Jika "Perdebatan" tak dapat di hindari

Meity Mamahit Ministry: Jika "Perdebatan" tak dapat di hindari: : Sinonim "Bersilat Lidah" :berdebat , berlik , bersilat kata , pokrol-pokrolan , Orang yang bersilat lidah sangat pandai menyembunyi...

Senin, 24 Oktober 2011

Selasa, 18 Oktober 2011

ADORASI EKARISTI

Jumat, 14 Oktober 2011

Selasa, 11 Oktober 2011

Teman Sejati

Cinta Itu Tak Terlihat

Jika Aku Jatuh Cinta

Kasih Orang Tua

Hormati Ibu

Dasyatnya Kasih Ibu

Senin, 10 Oktober 2011

Kisah Ini Sungguh Indah, Cobalah Jangan Menangis

Suara Hati Ayah

Ayah, Maafkan Aku

Yakinlah pada dirimu

Sepucuk Surat dari Ayah dan Ibu

Maafkan aku Ibu

Buatmu Ibu

Siapa Diri Kita?

Renungan untuk Ibu

Bagkit dari Kegagalan

About A Girl

Life is beautifull (La Vita e Bella)

Te Amo

Palu 2

 


Palu


Usang tapi Bernilai


Kumpulan Lagu PDKK

Ave Maria

Berdoalah!!!

Lilin Harapan

Peace


G.G. Manupassa

Minggu, 09 Oktober 2011

Taize: Lagu (adorasi)

Makna Misi

Karya Kepausan Indonesia

Spiritualitas Animator-Animatris

SEKAMI

SEKAMI; Games

SEKAMI: Pembinaan iman anak dan remaja misioner

SEKAMI: Missio Dei

SEKAMI: Kumpulan Lagu

SEKAMI (maksud dan tujuan lagu, gerak dan musik)

Animator-Animatris Pendamping

Kamis, 06 Oktober 2011

AC Milan 2011


Thiago Silva, AC MILAN


Antonio Cassano, Cristian Abbiati


Kevin Prince Boateng, Mathieu Flamini


Alessandro Nesta, Gennaro Gattuso


Yohanes Pembaptis; Markus 1:2-9 (John the Baptist)


PENUTUP

            Mrk. 1:2-9 merupakan pemberitaan tentang hidup dan karya Yohanes Pembaptis. Ia hadir sebagai perintis kedatangan Tuhan. Ia mempersiapkan kedatangan Tuhan yang sudah di ambang pintu. Persiapan yang dilakukannya mencakup pewartaan tentang tobat dan pemberitaan tentang kedatangan Tuhan. Pewartaannya tentang tobat ditandai dengan seruannya kepada orang banyak untuk bertobat dan memberikan diri dibaptis. Dengan cara itu, Allah akan mengampuni dosa mereka. Hal itu penting karena Tuhan akan datang sebagai manusia. Kedatangan-Nya tersebut harus disambut secara layak dan pantas. Tidak mengherankan jika Yohanes Pembaptis melihat dirinya sangat rendah dibandingkan dengan “Yang lebih berkuasa” itu. Ia bahkan menyatakan bahwa membungkuk dan membuka tali kasut-Nya pun ia tidak layak. Kalau begitu tepatlah kata-kata Yohanes Pembaptis ini: “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil”.
            Yohanes Pembaptis memang tampil sebagai utusan Allah, sehingga sikap kerendahan hati di hadapan Allah memang menjadi spiritualitas hidupnya. Ia hadir agar orang lain bisa mengenal Allah. Kehadirannya sebagai utusan yang menyuarakan kebesaran Allah menandai kehadiran Allah sebagai manusia di bumi. Ia menggerakkan hati umat untuk bertobat dan menantikan kedatangan Tuhan dengan cara membelokkan pandangan orang banyak yang datang kepadanya kepada sosok yang melebihinya. Dengan cara itu ia sebetulnya telah memberi penegasan bahwa orientasi hidupnya mengarah pada Yesus sebagai Mesias yang nanti hadir sebagai Penyelamat dunia. Yesus kelak hadir sebagai Mesias yang menderita. Ia tampil sebagai hamba yang melayani. Karena itu cara hidup yang tercermin dari Yohanes Pembaptis sebagai pendahulu Mesias menunjukkan pula semangat kehambaan, yaitu tampil untuk melayani Tuhan yang akan datang.
            Selain dalam Mrk., Yohanes Pembaptis sebenarnya dibicarakan pula dalam Injil lainnya. Semua penginjil menyebut Yohanes Pembaptis sebagai perintis kedatangan Tuhan. Namun ada pula perbedaan penekanan mengenai tokoh tersebut. Dalam Mat., Yohanes diperkenalkan sebagai Elia. Matiuslah yang memuat sabda Yesus tentang Yohanes Pembaptis yang berbunyi: “Jika kamu mau menerimanya, ialah Elia yang akan datang itu” (Mat. 11:14). Dikatakan juga bahwa: “Pada waktu itu mengertilah murid-murid Yesus bahwa Ia berbicara kepada mereka tentang Yohanes Pembaptis” (Mat. 17:13). Jadi dalam Mat. ditekankan secara kuat bahwa Yohanes adalah Elia, yaitu perintis sang Mesias. Matius menekankan pula secara kuat kesejajaran antara Yohanes Pembaptis dan Yesus. Dalam Mat. baik Yohanes maupun Yesus menyatakan kesamaan ini: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat” (3:1; 4:17). Persamaan lain nampak dalam Mat. 3:7b: “Hai kamu keturunan ular beludak. Siapakah yang mengatakan kepada kamu, bahwa kamu dapat melarikan diri dari murka yang akan datang?” Perkataan yang sama keluar dari mulut Yesus: “Hai kamu ular-ular, hai kamu keturanan ular beludak! Bagaimanakah mungkin kamu dapat meluputkan diri dari hukuman neraka?” (Mat. 23:33). Ada pula persamaan lain yang nyata dalam perbandingan ayat-ayat berikut, yaitu Mat. 3:1 dengan Mat. 7:19. Baik Yohanes maupun Yesus juga melakukan kebenaran dan keadilan, yaitu melakukan kehendak Allah dan hidup dalam ketaatan kepada pemerintahan Allah (bdk. Mat. 3:14,15 dan 21:32). Dua-duanya juga berbicara secara tegas dan keras kepada orang Farisi dan Saduki (Mat. 3:7; 16:1-12), dan keduanya dianggap nabi oleh banyak orang (Mat. 14:5: 21:46). Dalam Mat. pula pengancaman dan bahaya terhadap Yohanes berhubungan langsung dengan reaksi Yesus atas peristiwa tersebut, semacam ancaman juga terhadap Yesus (bdk. Mat. 4:12 dan 14:13). Matius memahami bahwa kehadiran Yohanes merupakan permulaan periode penggenapan (Mat. 11:13). Dan kegenapan yang sepenuhnya akan datang saat Yesus tampil. Yesus lebih besar dari Yohanes karena Dia akan membaptis dengan Roh Kudus dan dengan api (Mat. 3:11), dan Ia berkuasa untuk mengampuni dosa di dunia (Mat 9:6). Dengan demikain dapat dikatakan bahwa dalam Mat. penekanan Yohanes Pembaptis sebagai Elia sangat jelas, begitu juga dengan kesejajaran karya dan hidup Yohanes dengan Yesus mendapat tekanan yang kuat. Namun jelas pula bahwa Yesus lebih tinggi dari Yohanes Pembaptis.
            Kalau dalam Mat. terdapat identifikasi yang kuat antara Yohanes Pembaptis dan Elia, maka dalam Luk. tidak demikian. Pakaian Yohanes dalam Mat. 3:4 tidak ada dalam Luk. Demikian juga perkataan Yesus dalam Mat. 17:12,13 bahwa Elia sudah datang tidak terdapat dalam Luk. Memang Lukas menekankan pula bahwa ada persamaan antara Yohanes Pembaptis dengan Elia (Luk. 1:17), namun Yohanes tidak langsung dilihat sebagai Elia. Ini karena beberapa alasan, yaitu Lukas tidak menitikberatkan peranan Yohanes sebagai Elia sebab peranannya sebagai Elia dapat dimengerti seakan-akan dalam diri Yesus hari Tuhan telah sampai, sedangkan Lukas sadar bahwa sesudah Yesus masih ada periode sejarah keselamatan. Selain itu, dipahami bahwa jemaat Lukas menghadapi murid-murid Yohanes yang percaya bahwa Yohaneslah tokoh utama dalam sejarah keselamatan Allah (Kis. 19:1-7). Untuk meyakinkan mereka bahwa dalam Yesuslah sang Mesias datang, digambarkan kemudian peranan Yohanes, bahwa ia merupakan tokoh yang hanya menyiapkan jalan bagi Mesias. Jadi Lukas berupaya menetralisir persamaan antara Yohanes Pembaptis dengan Yesus. Karena alasan itu juga, ia tidak menceritakan tentang pembunuhan Yohanes pembaptis. Dengan demikian, dalam Luk. ditemukan bahwa penyamaan Yohanes Pembaptis dengan Elia, serta identifikasi Yohanes Pembaptis dengan Yesus tidak mendapat tekanan. Yang mendapat  penekanan justru pada perbedaannya. Namun hanya dalam Luk. pengandungan, masa kanak-kanak, dan pertumbuhan Yohanes Pembaptis diuraikan. Hal itu sekaligus menunjukkan kekhasan Luk. Sementara itu, di luar para sinoptisi, Yohanes Penginjil dengan jelas menyatakan bahwa Yohanes Pembaptis bukanlah Elia. Dalam Yoh. Yohanes Pembaptis memang lebih dilihat sebagai saksi. Ia adalah saksi yang diutus oleh Allah untuk memberikan kesaksian tentang Sabda yang menjadi manusia. Ia menyatakan bahwa Mesias, Anak domba Allah yang menghapus dosa dunia sudah datang.  Ia menyatakan bahwa ia bukan Mesias, melainkan ialah suara orang yang berseru-seru di padang gurun dan memberikan kesaksian tentang Yesus (Yoh. 3:22-36).
            Penguraian tentang kekhasan penceritaan Yohanes Pembaptis oleh para penginjil lain pada akhirnya menempatkan Mrk. pula sebagai sesuatu yang unik dan khas dalam pemaparan tentang Yohanes Pembaptis. Markus langsung menghadirkan Yohanes Pembaptis pada permulaan Injilnya. Yohanes langsung tampil dengan karyanya tanpa penceritaan terlebih dahulu tentang riwayat hidupnya, baik pengandungan maupun masa kecilnya. Kendati demikian, Markus tentu saja memiliki alasannya. Ia menekankan bahwa Yesus Kristus sebagai tokoh utama ditampilkan sebagai Mesias hamba. Kehambaan itu mensyaratkan bahwa riwayat hidup-Nya tidak diceritakan. Orang jarang menceritakan riwayat hidup seorang hamba. Demikian juga dengan Yohanes Pembaptis sebagai hamba Tuhan mengartikan bahwa sama seperti Tuhan yang dipersiapkan olehnya, riwayat hidupnya juga tidak diceritakan. Selain itu, sama seperti dalam Mat. Markus sebetulnya melihat pula persamaan antara Yohanes Pembaptis dengan Elia. Pakaiannya sama dengan pakaian Elia, dan dialah Elia yang akan datang ((Mrk. 9:11-13). Namun penyamaan itu bersifat tidak langsung. Hal itu berbeda dengan Matius yang mengabarkan penyamaan itu secara langsung dan kuat. Boleh dikatakan bahwa dalam Mrk. ada banyak hal yang ditampilkan secara samar-samar, semacam suasana rahasia dan ketersembunyian. Itu menjadi kekhasan dalam Mrk., sehingga tidak mengherankan kalau persamaan antara Yohanes dengan Elia tidak disebut secara langsung. Hal yang sama terungkap dalam pembunuhan Yohanes Pembaptis. Disebut dalam Mat. bahwa keinginginan untuk membunuh Yohanes Pembaptis berasal dari Herodes (Mat. 14:5), sementara Markus menyatakan bahwa keinginan pembunuhan itu berasal dari Herodias (Mrk. 6:19, 20). Jadi kalau dalam Mat. Herodes menjadi musuh Yohanes secara terang-terangan, tidak demikian dalam Mrk.  Selebihnya boleh dikatakan bahwa kehadiran Yesus di dunia setelah persiapan oleh Yohanes Pembaptis seakan-akan mengefektifkan kembali apa yang telah dilakukan oleh Yohanes Pembaptis. Ia mewartakan tobat, dan pewartaannya pun menimbulkan tanggapan yang luar biasa. Demikian juga dengan seluruh perjalanan hidup Yesus seperti mengingatkan orang akan Yohanes Pembaptis yang mendahului-Nya. Sama seperti Yohanes Pembaptis, Yesus ditangkap kendati tidak bersalah, dihukum secara tak adil, mati, dan dikuburkan. Karena itu dapat ditegaskan bahwa Yohanes Pembaptis sebetulnya merupakan satu paradigma untuk mengenal Yesus Kristus. Yesus sendiri menegaskan hal tersebut ketika imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat dan tua-tua bertanya kepada-Nya: “Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu?” Yesus menjawab, “Aku akan mengajukan suatu pertanyaan kepadamu. Berikanlah Aku jawabnya, maka aku akan mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu. Baptisan dari Yohanes itu dari sorga atau dari manusia? Berikan Aku jawabnya!” (Mrk. 11:29-30). Kutipan terakhir ini menegaskan bahwa ternyata pendirian terhadap Yohanes Pembaptis mempengaruhi dan menentukan pandangan orang terhadap Yesus dan sebaliknya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Yohanes Pembaptis sungguh tampil sebagai pendahulu Mesias.
            Posisi Yohanes Pembaptis sebagai pendahulu Yesus merupakan realisasi wahyu Allah yang pernah digemakan oleh nabi Yesaya, bahwa Yohanes Pembaptis akan mendahului kedatangan Tuhan sebagai manusia di dunia. Karena itu, Yohanes Pembaptis sungguh hadir untuk menyatakan bahwa wahyu Allah adalah kebenaran. Ia tampil sebagai tanda janji bahwa Allah itu selalu menepati janji-Nya. Dengan demikian tidaklah salah kalau dikatakan bahwa penyelamatan secara baru dalam diri Yesus Kristus diawali dan dipersiapkan oleh seorang utusan yang tampil dan berseru seru di padang gurun sebagai seorang nabi: “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu.” Selebihnya ia menyatakan: “Sesudah aku akan datang Dia yang lebih berkuasa; membungkuk dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus.” Utusan itulah Yohanes Pembaptis.


Yohanes Pembaptis (John the baptist); Pemenuhan janji Allah


BAB III
YOHANES PEMBAPTIS DAN PEMENUHAN JANJI ALLAH

Pengantar
 Allah menyelamatkan manusia dengan banyak cara. Ia bersabda maka segala hal tercipta menjadi ada. Hal-hal tercipta itu memperkenalkan Allah sebagai Allah Pencipta. Namun dipahami bahwa penciptaan Allah itu merupakan juga pencetusan awal keselamatan. Ia mencipta dalam rangka keselamatan. Keselamatan itulah yang terus terungkap dalam sejarah hidup manusia. Allah menginginkan keselamatan manusia, sehingga dengan pelbagai cara Ia datang menjumpai manusia. Ia berbicara lewat para nabi agar manusia selamat dan terakhir Ia hadir sendiri di bumi. Kehadiran-Nya di bumi dalam rangka keselamatan manusia didahului oleh persiapan dan persiapan itu dilaksanakan oleh Yohanes Pembaptis sebagai utusan-Nya.
Yohanes Pembaptis dikaitkan dengan karya penyelamatan karena tokoh inilah yang mula-mula menyatakan bahwa Mesias sudah di ambang pintu. Ia mewartakan pertobatan agar Mesias disambut secara pantas. Pewartaannya itu merupakan pemakluman diri Yesus Kristus, Anak Allah dalam taraf permulaan. Karena itu posisi Yohanes Pembaptis sejatinya sangat berarti dalam kerangka penyelamatan Allah. Ia hadir sebagai sosok yang penting dalam rencana Allah.
Posisi Yohanes Pembaptis dalam kerangka penyelamatan Allah inilah yang akan menjadi konsentrasi pembahasan bab ketiga ini. Artinya bab ketiga ini akan melihat posisi teologis dari kehadiran Yohanes Pembaptis sebagai utusan Allah, bahwa kehadirannya kena-mengena dengan gema penyelamatan yang dicetuskan Allah. Hal itu ditelusuri dengan mengangkat beberapa pokok, yaitu: Yohanes Pembaptis sebagai pendahulu Tuhan, Yohanes Pembaptis sebagai proklamator pertobatan dan pembaptisan, Yohanes Pembaptis sebagai bentara Mesias, dan Yohanes Pembaptis dalam kaitan dengan pemenuhan janji Allah.



III.1. Yohanes Pembaptis sebagai pendahulu Tuhan
            Kehadiran Tuhan adalah kehadiran keselamatan. Keselamatan adalah relasi bahagia bersama dengan Tuhan. Kebahagiaan bersama Tuhan terwujud bila manusia sebagai ciptaan sadar bahwa seluruh hidupnya merupakan karunia dari Pencipta. Namun, kenyataannya manusia justru berbelok arah. Manusia memutuskan relasi dengan Allah. Konsekuensinya, manusia menjadi berdosa karena terpisah dari Allah.
            Dalam keterputusan relasi Allah dan manusia tersebut, Allah tetap menghendaki keselamatan ciptaan. Karena itu, Ia turun ke dunia lewat Putera-Nya agar manusia berdamai kembali dengan-Nya. Hal itu terungkap pada kedatangan Yesus Kristus sebagai penyelamat. Kedatangan Kristus ini bukan merupakan suatu dongeng. Ia tidak jatuh dari langit. Tetapi Ia datang setelah jalan untuk Dia sudah dipersiapkan. Persiapan itu digemakan oleh para nabi sampai pada nabi terakhir, yaitu Yohanes Pembaptis. Dalam Luk. disebut: “Hukum Taurat dan kitab para nabi berlaku sampai kepada zaman Yohanes” (Luk. 16:16b). Tidak mengherankan, Markus bahkan mengawali Injilnya dengan suatu maklumat pemenuhan, bahwa janji Allah yang diproklamasikan oleh para nabi terpenuhi dengan kehadiran Yohanes Pembaptis sebagai utusan.[1]
            Penyebutan “utusan” dalam Mrk. 1:2 sebagai perintis kedatangan Tuhan yang dialamatkan kepada Yohanes Pembaptis memberikan penegasan lain tentang tokoh tersebut. Dialah tokoh satu-satunya yang pernah hadir dalam Sabda Allah. Ia dihadirkan bersamaan dengan penegasan akan kedatangan Tuhan. Ia akan tampil sebagai perintis. Namun, ia juga disebut sebagai Elia yang akan datang (Mrk. 1:6). Sebagai utusan, ia memiliki relasi akrab dengan Allah yang mengutusnya. Ia juga adalah tokoh dalam komunikasi antara Allah Bapa dan Putera, dan ia juga yang mengulang kembali apa yang disabdakan Allah.

III.1.1. Yohanes Pembaptis dalam Komunikasi Ilahi
            Mrk. 1:2 mencuatkan pemahaman bahwa Allah adalah relasi. Relasi itu mengemuka pada pemberitaan tentang “utusan” yang akan mendahului “Dia” yang disapa “Engkau”. Kata “Engkau” menunjuk pada Yesus, Anak Allah (bdk. Mrk. 1:1), sementara “utusan” menunjuk pada Yohanes Pembaptis (Mrk. 1:4). Dengan demikian kehadiran Yohanes Pembaptis sudah didahului oleh komunikasi antara Allah sebagai Bapa, dan Anak-Nya, yaitu Yesus Kristus. Yesus Kristus sudah ada sebelum tampilnya Yohanes Pembaptis. Hal ini dipahami sebagai pra-eksistensi Yesus Kristus.[2] Hanya dalam rangka memberi penekanan pada segi kemanusiaan Yesus dalam sejarah, maka Yohanes sebagai utusan yang mendahului kehadiran Tuhan sebagai manusia tersebut mendapat tekanan.
            Pernyataan dari Allah: “Aku menyuru utusan-Ku mendahului Engkau” merupakan petunjuk jelas relasi antara Bapa dan Anak-Nya. Relasi itu dimungkinkan karena Yesus Kristus sebagai Anak Allah memang sudah ada sejak semula. Ia sudah ada sejak kekal,[3] walaupun wujud-Nya sebagai manusia baru nampak dalam perjalanan sejarah hidup-Nya lewat pengandungan dalam rahim Maria dan karya hidup-Nya sebagai Anak Manusia. Dalam Yoh. disebutkan dengan jelas: “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah” (Yoh. 1:1-2). Jadi Yesus Kristus sudah ada sejak kekal. Karena itu kehadiran Yohanes sejak awal memang sudah diketahui oleh Yesus. Ia sudah ada dalam komunikasi langsung antara Allah Bapa dan Anak-Nya.
            Maksud Markus dalam menempatkan kembali nubuat nabi Yesaya salah satunya sebenarnya untuk menegaskan keistimewaan Yohanes Pembaptis sebagai utusan yang dimaksud. Ia adalah tokoh yang istimewa dalam relasi Allah Bapa dan Putera. Keistimewaannya bahkan mencuat lewat tindakan Allah yang mengutus malaikat-Nya untuk mengabarkan kepada Zakharia dan Elisabeth bahwa mereka akan memiliki anak yang harus diberi nama Yohanes. Yohanes akan menjadi orang yang besar di hadapan Tuhan. Zakharia, ayahnya sempat menjadi bisu karena keraguan akan kehadiran Yohanes yang sulit dipahami akal sehat (bdk. Luk. 1:5-25). Namun, kehadiran Yohanes ternyata menggembirakan banyak orang. Zakharia langsung sembuh dari kebisuannya dan memuji Allah saat si utusan itu lahir (Luk. 1:64). Dengan demikian, keberadaan Yohanes Pembaptis atas salah satu cara telah membuka pemahaman bahwa Allah itu adalah suatu komunikasi. Kehadirannya merupakan bukti dari komunikasi langsung Allah. Ia hadir sebagai penggenapan janji Allah Bapa kepada Anak-Nya bahwa kehadiran-Nya akan didahului oleh Yohanes sebagai utusan. Janji Allah kepada Yesus Kristus, Anak-Nya disuarakan kembali oleh malaikat kepada orang tua Yohanes Pembaptis, sehingga Yohanes Pembaptis boleh dipahami sebagai tanda janji. Hal itu juga mengingatkan janji Allah kepada Abraham bahwa Sarah istrinya akan mengandung juga pada saat-saat yang serupa dengan Elizabeth (bdk. Kej. 15:1-6). Karena itu posisi Yohanes sebagai pendahulu Yesus Kristus sebenarnya memiliki landasan yang kuat. Ia tampil dengan membawa otoritas Allah yang menempatkannya sebagai pendahulu kedatangan Tuhan di dunia. Ia tampil sebagai bukti bahwa janji Allah adalah kebenaran.

III.1.2. Yohanes Pembaptis mereartikulasi Sabda Allah
            Gelar utusan yang diberikan kepada Yohanes Pembaptis memiliki konsekuensi lain. Ia tidak saja mewartakan pertobatan dan pemberitaan tentang kehadiran Mesias, tetapi lewat pemberitaannya itu, ia sebetulnya mengulang kembali Sabda Allah. Apa yang dikatakan oleh Allah tentang kedatangan Anak-Nya (Mrk. 1:2-3) diulang kembali oleh Yohanes Pembaptis (Mrk. 1:7). Pada mulanya Allah-lah yang berbicara. Allah dengan cara itu keluar dari keadaan-Nya yang tersembunyi dan menyatakan diri secara aktif. Ia memberikan kesaksian tentang kehendak-Nya dan membuat diri-Nya dikenal dan diakui.[4] Sabda Allah itu yang kembali disuarakan oleh Yohanes. Ia memberitakan bahwa akan datang “Ia yang lebih berkuasa” dari dirinya sendiri, yaitu Yesus Kristus. Pernyataan Yohanes tersebut merupakan hasil refleksi atas perjumpaannya dengan Allah. Karena itu ia mampu memberikan kesaksian tentang relasi yang terjalin tersebut. Tidak disebut bagaimana relasi itu secara jelas. Namun nubuatnya tentang “Yang lebih berkuasa” merupakan reartikulasi dari Sabda Allah sendiri. Allah menggerakkan dia untuk berbicara. Hal itu serupa dengan pengakuan Petrus bahwa Yesus adalah Mesias. Yesus berkata kepada Petrus: “Berbahagialah engkau, Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang mengatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di surga” (Mat. 16:17). Demikian pula apa yang ke luar dari mulut Yohanes sebenarnya merupakan Sabda Allah sendiri. Jadi ketika orang banyak berbondong-bondong datang kepadanya, ia memalingkan pandangan mereka kepada sosok Mesias yang akan menyusul.    Dengan mengulang kembali Sabda Allah, Yohanes sebenarnya mengarahkan pandangan orang kepada Kristus, bahwa kemudian Allah tidak akan lagi berbicara lewat para nabi, tetapi Ia akan hadir dan menyampaikan Sabda-Nya secara langsung. Allah sendirilah yang kemudian akan tampil ke dalam dunia dengan sabda dan karya-Nya.[5] “Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan para nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya (Ibr. 1:1-21).
            Allah menyingkapkan diri-Nya agar dikenal oleh manusia lewat Sabda-Nya. Kini Ia tidak lagi hadir hanya sebagai Sabda, tetapi hadir sebagai manusia. Namun pada titik ini peranan Yohanes begitu signifikan. Ia memperkenalkan kembali Allah dengan karya dan pewartaannya sehingga kehadiran tokoh ini merupakan ingatan akan karya Allah yang berbicara lewat utusan-Nya. Yohanes sungguh memiliki posisi strategis dalam rangka pelaksanaan karya penyelamatan Allah di dunia yang terwujud secara penuh dalam diri Kristus.

III.1.3. Yohanes Pembaptis memasukkan Yesus dalam lingkup sosial budaya
            Yesus adalah Tuhan. Itulah sebenarnya inti pewartaan Yohanes. Namun masih muncul pertanyaan: “Kalau Yesus adalah Tuhan, mengapa Ia sendiri harus hadir ke dalam dunia lewat suatu persiapan oleh Yohanes Pembaptis. Sebagai Anak Allah, Yesus itu sebenarnya bisa melakukan apa saja, termasuk langsung memperkenalkan diri-Nya sendiri. Akan tetapi mengapa Allah harus mengawali kedatangan Yesus ke dunia lewat persiapan oleh orang lain?
            Persiapan yang dilakukan oleh Yohanes Pembaptis dalam rangka kedatangan Tuhan ke dunia sebenarnya memiliki maksud, yaitu memasukkan Yesus dalam lingkup sosial dan budaya masyarakat. Ia membaptis Yesus. Pembaptisan tersebut merupakan tanda bahwa Yesus juga menyatukan diri dengan masyarakat yang menerima baptisan oleh Yohanes Pembaptis. Jadi dengan membaptis Yesus, Yohanes Pembaptis sebenarnya telah memasukkan Yesus di kalangan masyarakat dengan rupa-rupa persoalan dan kebiasaan mereka. Dan dengan cara itu pula, Yohanes Pembaptis membawa orang lain, yaitu masyarakat yang ada pada perjumpaan baru dengan Yesus Kristus.

III.2. Yohanes Pembaptis sebagai proklamator pertobatan dan pembaptisan
            Peran Yohanes Pembaptis dalam sejarah keselamatan terungkap lewat pewartaan dan pemberitaannya. Orientasi pewartaan Yohanes adalah pertobatan. Wartanya tentang tobat dan baptis didukung oleh penampilan lahirianya. Ia mengenakkan pakaian yang tak lazim, seperti memakai jubah bulu untah dan ikat pinggang kulit. Penampilannya tersebut dipahami sebagai tanda tobat. Pertobatan yang diwartakannya dimaksudkan sebagai jalan untuk menyambut Mesias yang akan datang. Sebagai bukti dari pertobatan itu, orang harus memberi diri dibaptis, dan akan ada pengampunan dari Allah.

III.2.1. Pertobatan untuk menyambut Tuhan
            Gerakan orang-orang dari seluruh daerah Yudea dan semua penduduk Yerusalem ke padang gurun untuk mendengar pewartaan Yohanes (Mrk. 1:5) merupakan gerakan pertobatan. Mereka bertobat dan dibaptis. Pertobatan itu memiliki dua maksud sekaligus, yaitu mendapatkan pengampunan dari Allah dan kesiapan untuk menyambut Mesias. Jadi tobat itu memiliki alasannya. Kalau dahulu kala para nabi mewartakan tobat agar orang berbalik dari penyelewengan dan dosa, lalu kembali kepada Allah sambil meluruskan jalan hidup seperti tertulis dalam Hukum Allah (Taurat), maka Yohanes Pembaptis tidak demikian. Ia tidak mengajak orang untuk kembali ke Taurat (bdk. Luk. 3:8, 10-14), tetapi ia mewartakan bahwa tobat itu penting karena penghakiman Allah sudah dekat (bdk. Luk. 3:7). Dengan bertobat orang memperoleh pengampunan atas dosa-dosanya, terluput dari murka Allah, dan selamat. Terkesan bahwa pertobatan itu terjadi karena ketakutan orang akan hukuman.[6] Namun, pada intinya dapat dikatakan bahwa konsekuensi dari tobat adalah pengampunan dosa dari Allah (Mrk. 1:4).
            Warta pertobatan dari Yohanes sekaligus menyingkapkan kerahiman Allah, bahwa Allah itu maharahim. Kerahiman Allah mewujud pada belaskasih-Nya kepada orang yang menyesal dan bertobat. Hal itu secara nyata nampak pada Yesus Kristus Putera-Nya. Yesus menyatakan: “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percaya kepada Injil” (Mrk. 1:15). Ayat ini merupakan pernyataan awal Yesus saat memulai karya publik-Nya setelah penangkapan Yohanes Pembaptis. Dengan mewartakan pertobatan itu, Yesus sebenarnya menyatakan pula bahwa Allah tetap mengampuni manusia yang bertobat. Kalau pada zaman Yohanes, pengampunan adalah kemungkinan masa depan yang tergantung pada baptis, pada zaman Yesus pengampunan itu merupakan realitas yang sudah ada sekarang dan baptisan di sungai Yordan tidak diperlukan lagi.[7] Ia mewartakan pertobatan agar orang percaya kepada Injil Kerajaan Allah yang diberitakan-Nya.
            Secara singkat bisa dikatakan bahwa warta pertobatan dari Yohanes Pembaptis mengarah ke perkara lain, yaitu pengampunan dosa. Namun kalau pertobatan dalam pemberitaan Yohanes lebih dipahami sebagai upaya untuk menghindari hukuman yang akan datang, tidak demikian dalam pemberitaan Yesus kemudian. Yesus lebih meluruskan arti pertobatan itu sebagai kemungkinan untuk menjadi warga dalam Kerajaan Allah, sebab Allah adalah maharahim dan mahapengasih. Nampak jelas bahwa pertobatan itu memperoleh warna baru dalam Yesus Kristus, walaupun berita Yohanes tentang pertobatan juga tetap sesuai dengan situasi semasa. Yohanes menyerukan agar orang bersedia dibaptis sebagai tanda tobat. Pewartaan Yohanes tersebut digenapi dalam diri Kristus, karena dalam Dia kepenuhan keselamatan telah tiba. Yesus menyatakan hal penting tentang diri-Nya: “Di dunia ini Anak Manusia mempunyai kuasa mengampuni dosa (Mrk. 2:16). Ia melaksanakan kuasa Ilahi: “Dosamu telah diampuni” (Mrk. 2:5).

III.2.2. Baptisan Yohanes Pembaptis dan maknanya
            Baptisan Yohanes merupakan tanda pertobatan. Orang bertobat dan memberi diri dibaptis sebagai meterainya. Namun baptisan Yohanes juga terarah pada perkara lain, yaitu kesiapan untuk menyambut Mesias. Baptisan tersebut pasti sangat penting, sehingga gerakan yang dimotori oleh Yohanes ini membangkitkan kebangunan rohani umat lewat perziarahan ke padang gurun dan pemberian diri untuk dibaptis. Ada kerumunan masyarakat banyak yang tergerak untuk pembaptisan itu. Hal tersebut sebenarnya mengingatkan kembali bangsa ini akan karya Allah dalam sejarah keselamatan, bahwa Allah menyelamatkan bangsa-Nya salah satunya lewat pemanfaatan air sebagai ciptaan.[8] Tapi juga baptisan yang diadakan oleh Yohanes ini mengarahkan pandangan orang ke depan bahwa akan ada pembaptisan dalam Roh Kudus oleh Mesias.

III.2.2.1. Ingatan akan karya Allah dalam sejarah keselamatan
            Air yang digunakan dalam pembaptisan oleh Yohanes merupakan ingatan akan karya Allah dalam sejarah penyelamatan. Air sudah ada mendahului ciptaan-ciptaan lainnya. Dalam Kej. dikisahkan bagaimana Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air (Kej. 1:2). Nampak bahwa air seakan-akan dinaungi oleh Roh Kudus.[9] Dengan air juga Allah menghukum kejahatan manusia. Manusia tidak mau bertobat. Mereka berkeras hati dan makin lama makin banyak berbuat dosa. Allah bahkan menyesal karena telah menciptakan manusia (Kej. 6:6). Ia berdukacita karena dosa manusia dan karena manusia tidak mau bertobat, sehingga Ia menghukum manusia dengan air bah.[10] Hujan lebat turun selama 40 hari dan 40 malam, sehingga mengakibatkan banjir besar. Banjir tersebut berlangsung selama 150 hari, dan yang selamat hanya Nuh dan keluarganya karena merekalah orang yang benar serta tak bercela di antara orang-orang sezaman. Kepada Nuh dan keluarganya Allah berjanji bahwa setelah peristiwa tersebut tidak akan ada lagi air bah. Allah menyatakan bahwa tidak ada lagi yang hidup akan dilenyapkan oleh air bah, dan tidak ada lagi air bah untuk memusnahkan bumi (bdk. Kej. 9:11).
            Kendati demikian, Allah menggunakan air pula untuk pembebasan bangsa Israel dari perbudakan Mesir. Pembebasan di bawah pimpinan Musa tersebut mendatangkan perlawanan dan pengejaran dari Firaun serta para tentaranya. Namun, Allah ada di pihak Israel. Ia membebaskan mereka dengan perintah kepada Musa untuk mengulurkan tangan di atas laut yang mengakibatkan air laut terbelah menjadi dua (Kel. 14:16). Israel berjalan di tengah-tengah laut di tempat yang kering, dan tiang awan,[11] yakni malaikat Tuhan yang biasanya ada di depan barisan Israel, sekarang pindah ke belakang barisan sehingga ada di antara bangsa Israel dan tentara Mesir. Tiang awan itulah yang menerangi orang Israel di malam hari sehingga mereka dapat melihat jalan, sementara orang Mesir mati di laut.
            Peristiwa penyeberangan laut Teberau ini menempatkan Allah sebagai Penyelamat bagi Israel bangsa-Nya. Dengan banyak cara Allah menghendaki agar Israel benar-benar menjadi bangsa yang kudus. Dengan demikian penyeberangan Israel di laut merah ini merupakan tanda keterlibatan Allah dalam sejarah Israel. Peristiwa itu dimengerti sebagai pernyataan pembebasan Allah kepada Israel lewat pembaptisan.[12] Sementara itu, sungai Yordan yang merupakan tempat pembaptisan Yohanes mengingatkan juga penyeberangan Israel melalui sungai Yordan di mana lewat penyeberangan tersebut umat Allah menerima hadiah tanah yang dijanjikan kepada keturunan Abraham. Hal itu merupakan pratanda kehidupan abadi yang mendatangkan kebahagiaan dan yang akan terpenuhi dalam diri Yesus Kristus.

III.2.2.2. Inspirasi bagi baptisan Kristen
            Yesus Kristus menyempurnakan semua pratanda PL. Ia mengawali penampilan-Nya di depan umum setelah pembaptisan di sungai Yordan oleh Yohanes Pembaptis. Baptisan Yesus oleh Yohanes itu berkaitan erat dengan baptisan Kristen karena baptisan Yohanes merupakan pra-figurasi baptisan Kristiani.[13]
            Penelusuran tentang inspirasi baptisan Yohanes bagi baptisan Kristen disoroti dengan mengangkat beberapa hal: Mengapa Yesus memberi diri untuk dibaptis oleh Yohanes dan apa maknanya? Apakah Yesus memerintahkan para murid untuk membaptis orang? Apa hubungan antara baptisan Kristiani dengan baptisan Yohanes?  Bagaimana cara pembaptisan?


III.2.2.2.1. Baptisan Yesus oleh Yohanes Pembaptis sebagai dasar
            Markus tidak memberikan penjelasan apa pun tentang baptisan Yesus oleh Yohanes. Ia langsung menyebut bahwa Yesus dibaptis oleh Yohanes. Namun dipahami bahwa kerelaan Yesus untuk dibaptis sebetulnya untuk menggenapkan seluruh kehendak Allah. Ia dengan sukarela menerima baptisan oleh Yohanes, suatu baptisan yang sebenarnya diperuntukkan bagi para pendosa (baptisan pertobatan). Tindakan Yesus ini sebenarnya mengangkat ide tentang pengosongan diri (kenosis). Lewat tindakan-Nya itu, Yesus seakan-akan mengangkat kembali ide penciptaan akan Roh Kudus yang melayang-layang di atas air (Kej. 1:2), turun ke atas Kristus dalam rangka penciptaan baru. Hal itu diteguhkan oleh suara dari Sorga: “Engkaulah Anak-Ku yang Ku-kasihi, kepada-Mulah Aku berkenan (Mrk. 1:11).
            Pemberian diri Yesus untuk dibaptis oleh Yohanes merupakan juga pertanda akan kematian dan kebangkitan-Nya. Dengan masuk ke dalam air, Ia membebaskan manusia dari dosa. Dengan kebangkitan-Nya, Ia membuka sumber-sumber pembaptisan bagi semua manusia. Kesengsaraan-Nya adalah suatu pembaptisan di mana Ia dibaptis dengan cara demikian (Mrk. 10:38). Sementara darah dan air yang mengalir dari lambung-Nya merupakan gambaran asli pembaptisan yang memungkinkan manusia untuk dilahirkan dari air dan Roh agar masuk dalam kebahagiaan Kerajaan Allah.[14]
            Baptisan Yesus oleh Yohanes itulah yang sebenarnya dilanjutkan oleh umat Kristen. Dalam arti ini baptisan Yohanes diinterpretasi kembali, yaitu baptisan tersebut diciptakan kembali oleh peristiwa wafat dan kebangkitan Yesus. Dalam Kis. 19:2-4 ditemukan pemahaman bahwa baptisan Yohanes mengritualkan penghakiman Allah yang nanti membuka zaman keselamatan. Yang menjalani ritus ini secara antisipatif dimasukkan ke dalam jemaat keselamatan nanti. Namun menurut keyakinan Kristen, dengan peristiwa Yesus, zaman keselamatan sudah dimulai. Konsekuensinya, orang-orang yang masuk dalam jemaat keselamatan Yohanes sudah dimasukkan dalam Yesus. Dengan demikian ritus yang sama bukan saja mengritualkan penghakiman, melainkan juga keselamatan, yaitu suatu kehidupan eskatologis yang sudah ditempuh dan dinikmati oleh mereka yang menjalaninya. Artinya bahwa zaman kehidupan baru tersebut telah dibuka oleh kebangkitan Yesus sebagai wujud kedatangan zaman keselamatan dan kehidupan.[15] Di sini orang dibaptis dengan Roh Kudus, seperti nubuat Yohanes bahwa akan datang Ia yang lebih berkuasa dan akan membaptis dengan Roh Kudus (Mrk. 1:7-8).

III.2.2.2.2. Perintah Yesus untuk membaptis
            Apakah Yesus dahulu membaptis orang atau apakah Yesus memerintahkan kepada kita untuk membaptis orang?
            Yohanes Pembaptis dengan jelas menyatakan bahwa Yesus akan membaptis dengan Roh Kudus (Mrk. 1:8). Hal itu tentu saja berbeda dengan baptisan dengan air yang diberikan oleh Yohanes sebagai lambang bagi baptisan yang akan dilakukan Yesus, yaitu suatu baptisan yang menentukan dalam Roh Kudus.[16] Kalau benar bahwa Yesus akan membaptis dengan Roh Kudus, lalu kenapa tidak ada teks Kitab Suci yang berbicara tentang praksis pembaptisan-Nya? Satu-satunya hanya ada dalam Yoh. 3:22, tetapi teks itu pun disangkal, khususnya dengan membandingkan pada teks yang menyusul, yaitu Yoh. 4:2, bahwa yang membaptis sebenarnya bukan Yesus, melainkan murid-murid-Nya. Disebutkan bahwa pernyataan praksis pembaptisan oleh Yesus dalam Yoh. 3:22 sebetulnya dikembangkan dan diuraikan Yohanes Penginjil dari kata-kata dan karya Yesus dan juga dari terang kebangkitan Tuhan.[17] Jadi seruan pembaptisan Yesus sebetulnya terjadi setelah kebangkitan-Nya. Saat itulah ia memerintahkan para murid untuk membaptis.
            Mrk. 16:15-16 dengan jelas menyebutkan bahwa setelah kebangkitan-Nya, Yesus memerintahkan para rasul-Nya untuk membaptis: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum”. Teks itu menunjukkan bahwa ada perintah dari Yesus untuk membaptis orang setelah kebangkitan-Nya, walaupun Ia sendiri memang tidak membaptis.
            Pembaptisan Kristen sebetulnya bukan berdasar pada Yesus yang membaptis, melainkan berakar pada seluruh pengalaman iman Kristiani akan Tuhan Yesus Kristus. Baptisan Kristen sebenarnya dilaksanakan dengan berpegang pada tindakan Yesus sendiri, yaitu membiarkan diri-Nya dibaptis oleh Yohanes. Itulah yang menjadi dasar seluruh baptisan Kristiani. Lalu apa sebenarnya baptisan Kristen itu?

III.2.2.2.3. Baptisan Kristen
            Baptisan Yesus oleh Yohanes merupakan dasar bagi baptisan Kristen. Baptisan Kristen adalah baptisan yang dilaksanakan atas dasar iman kepercayaan kepada Yesus Kristus. Iman kepercayaan bahwa Allah dalam Yesus Kristus menyelamatkan orang yang dibaptis. Di satu pihak, dengan dibaptis orang masuk dalam persekutuan keselamatan, dan lewat pembaptisan itu, Allah dalam Yesus membebaskan manusia dari situasi malang akibat dosa manusia yang menolak kasih Allah. Manusia dibebaskan dari dosa asal dan dari tindakan pribadi dosa. Di lain pihak, lewat pembaptisan manusia menjadi peserta dalam kekudusan Allah, yaitu hidup Ilahi dan kekal.[18] Dengan demikian baptisan Kristen sebenarnya adalah perkembangan kemudian yang berdasar pada pembaptisan Yesus oleh Yohanes. Jelaslah bahwa baptisan Kristen berbeda dan bahkan lebih tinggi dari baptisan Yohanes karena rumusan pengakuan iman yang menggunakan nama Yesus Kristus.[19]
            Pengungkapan tentang baptisan Kristen ini menimbulkan masalah baru. Apakah ada beberapa baptisan yang dipakai umat? Kis. 1:5 secara jelas berbicara tentang: “Baptisan dengan Roh Kudus”. Dengan cara itu dipahami bahwa itulah yang dinubuatkan oleh Yohanes mengenai Ia yang akan membaptis dengan Roh Kudus (Mrk. 1:8). Namun baptisan Yesus seperti disebut oleh Yohanes sebagai baptisan dengan Roh Kudus sebenarnya menunjuk pada penghakiman Allah menjelang akhir zaman. Di sini kata “Roh Kudus” dikaitkan dengan lambang penghakiman (=angin ribut, taufan). Terdapat pula sebutan baptisan dengan air dan Roh Kudus (Yoh. 3:5). Namun, pada prinsipnya hanya ada satu baptisan saja (Ef. 4:4), yaitu baptisan yang dilakukan dalam nama Yesus Kristus (Kis. 8:16).
            Apabila baptisan Yohanes terarah pada pertobatan demi pengampunan dosa, maka baptisan Kristen seperti terungkap dalam PB memiliki makna teologis berikut[20]
  1. Baptisan sebagai tanda iman. Artinya di samping baptisan itu mengandaikan iman orang yang dibaptis, baptisan itu pula harus dihidupi dan dikembangkan dalam seluruh hidupnya (Mrk. 16:16; Mat. 28:19).
  2. Baptisan sebagai penyerupaan pada Yesus Kristus. Artinya orang menjadi serupa dengan Yesus Kristus, yaitu dalam seluruh hidup-Nya. Orang masuk dalam misteri hidup-Nya dan berpartisipasi dalam wafat dan kebangkitan-Nya. Disebut baptisan dalam nama Yesus (Kis. 2:38;10:48; Rm. 6:1-14).
  3. Baptisan sebagai pengampunan dosa. St. Petrus menyebut: “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu” (Kis. 2:38)
  4. Baptisan mengaruniakan Roh Kudus (Kis. 2:38) dan memungkinkan orang mengalami Tuhan yang bangkit, serta memampukan para rasul berbicara dengan macam-macam bahasa, dan membuat orang-orang bisa mengerti Injil, memberi diri dibaptis, mendapat pengampunan dosa, dan mendapat karunia Roh Kudus.
  5. Baptisan mempersatukan kita ke dalam satu tubuh, di mana Gereja dibangun dan tumbuh atas dasar suatu relasi orang-orang kristiani yang dipersatukan, dan memiliki solidaritas serta martabat yang sama ( Kis. 2:41-47;1 Kor. 12:13).
  6. Baptisan sebagai karunia hidup baru. Artinya seseorang  dilahirkan kembali dalam Roh lewat pembaptisan (Yoh. 3:5.7), dan perwujudannya dalam hidup konkrit harian.

III.2.2.2.4. Cara pembaptisan
            Mrk. 1:5 menyebut tentang baptisan. Baptisan tersebut terjadi di sungai Yordan (Mrk. 1:9). Artinya orang pergi ke sungai Yordan untuk dibaptis. Di situ ada dua hal yang terjadi, yaitu orang turun ke dalam sungai Yordan dan Yohanes bertindak sebagai penyelenggara baptisan.[21] Namun, tidak dijelaskan secara detail bagaimana caranya orang dibaptis: Apakah orang ditenggelamkan, disiram, atau hanya dipercik dengan air? Tidak jelas. Akan tetapi satu hal yang jelas adalah orang dibaptis dengan air dan dilakukan oleh Yohanes (atau murid-muridnya). Yesus juga memerintahkan para murid untuk membaptis, tetapi Ia tidak menunjukkan caranya (Mrk. 16:15-16).
            Kendati demikian, dari ungkapan Yesus bisa dipikirkan satu hal, yaitu jika orang menanggapi Injil dengan kepercayaan, lalu memberi diri dibaptis, maka ia selamat. Pernyataan Yesus tersebut merupakan dasar pengakuan iman dalam pembaptisan. Menanggapi Injil sama artinya dengan menanggapi Yesus Kristus karena Ia disebut sebagai Injil. Jelaslah bahwa orang yang dibaptis ternyata hanya terlaksana secara sederhana. Mula-mula ada pewartaan Injil mengenai Yesus Kristus. Pewartaan itu kemudian ditanggapi dengan iman[22], disusul pengakuan iman (Yesus Kristus adalah Anak Allah), lalu orang segera dibaptis oleh orang lain dengan air.[23] Caranya adalah dengan membenamkan orang ke dalam air hidup atau juga dengan menuangkan air hidup itu.
            Dalam Mat. 28:19 dikatakan bahwa orang harus dibaptis menuju nama Bapa. Putera, dan Roh Kudus. Ini merupakan rumusan pengakuan iman jemaat dan orang yang dibaptis dalam rangka keselamatan. Keselamatan itu bersifat dinamis. Disebut dinamis karena berpangkal, dipercayakan dan ditempatkan di bawa naungan dinamis Bapa, Putera, dan Roh Kudus. Dengan demikian sudah sejak awal baptisan itu dilaksanakan dengan menggunakan air. Bahwa orang bisa saja dibaptis dengan cara dibenamkan, atau pun dituangi air. Serentak dengan itu diungkapkan rumusan pengakuan yang terarah pada Bapa, Putera, dan Roh Kudus.

III.3. Yohanes Pembaptis sebagai bentara Yesus Kristus
            Seperti seorang bentara yang menyiapkan kedatangan raja, demikian pun Yohanes melaksanakan tugasnya sebagai bentara Mesias. Ia mempersiapkan hati rakyat untuk menerima pemerintahan Allah dalam Yesus dengan mengajak orang untuk bertobat, membalikkan pendirian hati, dan memperbaiki segala perbuatan mereka. Sesudah itu ia menunjuk pada Yesus dengan pelukisan sosok perkasa yang akan datang. Pemberitaannya itu merupakan pengenalan awal akan Yesus sebagai Mesias. Pengenalannya mengenai Mesias disertai dengan sikap pengabdian sebagai hamba, bahwa di hadapan Yesus ia memberikan seluruh diri dan karyanya kepada-Nya, sehingga seluruh hidup dan misinya memang menunjuk pada Yesus. Karena itu dengan mengerti pemberitaan Yohanes, orang sebenarnya sudah bisa mendapatkan pemahaman siapa Yesus itu.

III.3.1. Sebutan Yesus sebagai Mesias secara tersembunyi
            Pengenalan awal tentang Yesus sebagai Mesias sebenarnya bermula dari Yohanes Pembaptis. Ia memang tidak menyebut langsung gelar Yesus tersebut. Namun dengan menyatakan kedatangan “Dia yang lebih berkuasa”, Yohanes sebetulnya telah memproklamasikan bahwa yang akan datang itu adalah Mesias. Kedatangan Mesias yang sudah dekat itulah yang merupakan pokok penting dan utama dari kotbahnya.[24] Ia secara rendah hati mengakui kekuasaan-Nya. Sebutan “lebih berkuasa” mengaitkan Yesus dengan Mesias yang meraja. Ia adalah Raja dalam Kerajaan Allah.[25] Sebagai Raja, Yesus memiliki kekuasaan, sehingga konsep Allah Mahakuasa[26] sebenarnya diwujudkan dalam diri Yesus. Yesus adalah Anak Allah (Mrk. 1:11) seperti terungkap dalam pelantikan-Nya, serta penegasan dalam Mrk 1:1, bahwa Yesus adalah Kristus, Anak Allah. Karena itu kekuasaan Allah juga ada pada-Nya. Hal itu sekaligus menjadi alasan mengapa Yohanes menempatkan diri sangat rendah di hadapan Mesias. Namun kerendahan hati Yohanes dalam mengungkap superioritas kekuasaan Yesus sebenarnya mengarah pada Yesus sendiri seperti ditampilkan Markus bahwa Yesus tampil sebagai Mesias yang melayani. Dalam arti ini Yesus juga akan tampil sebagai hamba.[27]
            Yang menjadi pertanyaan adalah kalau Yesus adalah Tuhan seperti terungkap dalam Mrk. 1:3, kalau Yesus adalah Mesias, lalu mengapa Yohanes Pembaptis tidak menyebutnya secara terang-terangan? Ia justru hanya memberikan pelukisan bahwa yang akan datang itu lebih besar dan akan membaptis dengan Roh Kudus?
            Memang benar bahwa Yohanes Pembaptis tidak langsung menyebut bahwa yang akan datang itu adalah Tuhan, bahwa yang akan datang itu adalah Mesias. Namun dengan tidak langsung menyebut nama Tuhan, Yohanes Pembaptis sebenarnya mengangkat kembali gagasan penyebutan Tuhan secara tidak langsung. Hal ini berkaitan dengan cara orang Yahudi yang takut menyebut nama Tuhan secara langsung karena nama tersebut dianggab suci dan tidak bisa disebut secara sembarangan. Ini bisa dirujuk dari PL, khususnya penggunaan nama Tuhan sebagai Yahwe. Istilah “Yahwe” sebagai penyebutan nama Tuhan didasarkan pada keempat huruf suci yang menunjuk pada Allah, yaitu “YHWH”. Nama Yahwe pertama kali dinyatakan kepada Musa (Kel. 6:1). Allah menyatakan diri diri kepada Musa dalam nyala api yang keluar dari semak duri, dan Allah mengutusnya menghadap kepada Firaun untuk membawa umat Israel ke luar dari Mesir. Saat itu Musa bertanya: “Bagaimana tentang-Nya? Apakah yang harus kujawab kepada mereka? (Kel. 3:13). Allah kemudian menjawab dalam bahasa Ibrani: Ehyeh asyer ehyeh (Aku adalah Aku=Kel. 3:14). Secara gramatikal, apabila Allah sendiri yang menucapkan nama-Nya, maka yang dijumpai adalah bentuk kata ehyeh (Aku Ada), sedangkan apabila umat Allah yang mengucapkan, maka yang digunakan adalah kata ganti bentuk ketiga, yaitu Yahwe (Dia Ada). PB lebih mengacu kepada kepada makna Teologi dibalik nama tersebut, yaitu kuasa-Nya yang hidup dan bukan mempertahankan secara harafiah huruf-huruf mati tersebut.[28] Dalam arti inilah bisa dipahami bahwa Yohanes lebih menunjuk pada segi teologis dari Tuhan yang akan datang setelah dia, sehingga ia hanya memberikan pelukisan tentang Tuhan sebagai sosok yang lebih berkuasa tanpa menyebut langsung nama-Nya. Seperti terungkap di atas, “Dia” yang akan datang itu adalah Mesias, yaitu Mesias yang melayani dan menderita karena pelayanan-Nya tersebut. Itulah yang merupakan tekanan dalam Mrk.

III.3.1.1.Yesus Mesias yang menderita
            Konsep Mesias sepertinya tidak cocok dipadankan dengan penderitaan. Alasannya Mesias selalu berkaitan dengan kemegahan, kemakmuran, dan kemuliaan. Namun, Yesus ternyata tampil dalam pengertian yang berbeda. Ia justru tampil sebagai Mesias yang menderita. Pengakuan-Nya di hadapan imam agung bahwa Ia adalah Mesias (Mrk. 14:61-62) mengakibatkan pembunuhan terhadap diri-Nya. Ia wafat sebagai Mesias dan semua peristiwa sebelumnya menjurus ke situ.[29] Namun dengan pengakuan-Nya tersebut Ia sebenarnya memberi arti baru pada pemahaman orang tentang Mesias. Ini sudah nampak pada Mrk. 8:29-33. Petrus mengakui Yesus sebagai Mesias. Tetapi Yesus melarangnya untuk tidak memberitahukan hal tersebut kepada siapa pun. Alasannya Mesias Yesus adalah Mesias yang menderita. Ia bahkan menegur Petrus karena alasan itu. Petrus tidak memahami bahwa Mesias memang harus menderita. Penderitaan-Nya tersebut berkaitan dengan tugas-Nya sebagai Mesias, yakni dengan jalan penghambaan sampai mati.[30]
            Salah satu tanda yang menunjuk pada penderitaan Mesias sebenarnya sudah tersirat pada Yohanes Pembaptis. Yohanes ditangkap dan dipenjarakan karena tegurannya atas kehidupan moral penghuni istana, yaitu Herodes yang memperistri Herodias sebagai tindakan haram. Namun, penangkapan Yohanes karena alasan tersebut barangkali hanya merupakan alasan yang menyusul, karena Yohanes sendiri adalah orang besar. Ia disebut Herodes sebagai orang yang benar dan saleh. Tidak mengherankan jika pewartaannya mendapat respon positif dari rakyat. Banyak mata mengarah ke tokoh ini dan berarak menuju kepadanya. Arakan ke padang gurun dalam rangka mendekati suara yang berseru-seru tersebut sepertinya membangkitkan juga kerisauan pemerintah di bawah pimpinan Herodes. Tidak mengherankan kalau kemudian muncul prasangka akan terjadinya pemberontakan. Bahkan ada para serdadu yang menyaksikan dan menjadi sasaran pewartaan Yohanes. Lebih lagi kebangkitan rohani umat yang datang ke Yohanes kemudian diarahkan ke hal lain, yaitu nubuat Yohanes bahwa Mesias sudah diambang pintu. Yohanes kemudian ditangkap (Mrk. 1:14). Namun hal yang agak ganjil adalah alasan penangkapannya justru nanti jelas pada Mrk. 6:14-27. Keganjilan ini menimbulkan spekulasi bahwa penangkapannya sebetulnya bukan pertama-tama karena teguran kepada Herodes, tetapi karena pemberitaan-Nya tentang Mesias. Ia mati secara tidak adil di tangan Herodes. Kematiannya itu menjadi pertanda bahwa Yesus yang dipersiapkan jalan-Nya oleh Yohanes akan mengalami hal yang sama. Sama seperti Yesus yang mati sebagai hamba yang menderita, demikian juga Yohanes dengan kata-katanya menunjuk pada keberadaannya sebagai hamba di hadapan Mesias.

III.3.1.2. Sikap sebagai hamba
            Yesus mati di kayu salib sebagai Mesias yang menderita. Penderitaan-Nya tersebut mengangkat kembali pengungkapan Yohanes bahwa di hadapan Ia yang berkuasa tersebut, Yohanes sepantasnya menunjukkan sikap subordinat. Berlaku sebagai hamba saja ia merasa tidak layak. Mengapa? Penderitaan Yesus memperjelas sikap Yohanes tersebut. Yesus sebagai Mesias yaitu Raja dalam Kerajaan Allah saja menampilkan diri sebagai hamba yang menderita, apalagi Yohanes. Yohanes hanyalah hamba sebagaimana tersirat dalam kata-katanya sendiri (Mrk. 1:7-8). Ia adalah hamba dari Hamba Tuhan yang sengsara (Yes. 52:13-53:12). Hal ini mempertegas kekecilannya di hadapan Allah yang kedatangan-Nya dipersiapkannya sendiri. Kata-kata Yohanes Pembaptis dalam Yoh. 3:30 mendapatkan maknanya: “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil”.
            Dengan menempatkan diri sebagai hamba: “...membungkuk dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak” (Mrk. 1:7), Yohanes Pembaptis sebenarnya membuka pemahaman tentang Mesias yang akan datang, yaitu Mesias akan datang sebagai Hamba yang akan melayani, bahkan sampai menderita. Dengan kehadiran-Nya sebagai hamba juga, Yesus mengarahkan pandangan orang pada pelayanan, bahwa orang perlu menjalani penderitaan (Mrk. 8:31-10:45). Semua yang menderita dengan kepercayaan dalam mengikuti Kristus juga meletakkan harapan pada kedatangan-Nya yang diharapkan (Mrk. 13:1-37).

III.3.2. Orientasi hidup dan misi Yohanes Pembaptis kepada Yesus
            Keseluruhan penginjil menempatkan Yesus sebagai tokoh utama. Begitu juga dengan Markus. Ia menempatkan Yesus sebagai pusat Injilnya, sementara para tokoh lain tampil dalam rangka penonjolan Yesus sebagai pribadi yang mewartakan kabar keselamatan. Yohanes Pembaptis juga tampil dalam rangka penonjolan Yesus sebagai Mesias. Ia hadir mendahului tampilnya Yesus di muka bumi untuk menyatakan bahwa keselamatan sudah dekat, bertobatlah, berilah dirimu dibaptis, dan Allah akan memberikan pengampunan dosa.
            Markus menghadirkan Yohanes Pembaptis pada introduksi Injilnya, mengikuti judul Injil: “Inilah permulaan….” Sebutan Injil Yesus Kristus mengartikan bahwa Yohanes Pembaptis yang dipresentasikan pada permulaan Injil tidak lepas dari perhatian Kristologis Markus. Jadi adanya Yohanes ini memungkinkan penulurusan konteks teologis yang berorientasi pada Yesus Kristus. Ia dalam hal ini menjadi satu horizon untuk mengenal Yesus Kristus. Hal ini sudah terungkap pada pemberitaannya bahwa Mesias akan datang (Mrk. 1:7). Dengan cara itu ia telah memperkenalkan Yesus. Namun, pengenalannya akan Yesus sebagai Mesias sebetulnya lebih nyata pada seluruh hidup dan misinya yang terarah pada Yesus. Seluruh hidupnya berkisar pada Yesus. Ini mewujud dalam beberapa hal:[31]
  1. Seperti Yohanes yang berkotbah, demikian juga Yesus berkotbah. Obyek dari khotbah Yohanes dan Yesus jelas. Sementara Yohanes menyatakan suatu baptisan pertobatan yang menghantar pada pengampunan dosa (Mrk. 1:4), demikian juga Yesus menyatakan “Kabar Baik dari Allah” (Mrk. 1:14;1:7-8,15).
  2. Proklamasi Yohanes mendapatkan tanggapan yang luar biasa: “Lalu datanglah orang-orang dari seluruh daerah Yudea dan semua penduduk Yerusalem....” demikian juga kotbah-kotbah dan mukjizat-mukjizat Yesus mendapatkan tanggapan luar biasa: “Lalu tersebarlah dengan cepat kabar tentang Dia ke segala penjuru di seluruh Galilea” (Mrk. 1:28). “Maka berkumpullah seluruh penduduk kota di depan pintu” (Mrk. 1:33). “...Yesus tinggal di luar di tempat-tempat yang sepi; namun orang terus juga datang kepada-Nya dari segala penjuru” (Mrk. 1:45). Jelaslah bahwa terdapat kemiripan antara reputasi Yohanes dengan Yesus. Respon masyarakat terhadap pewartaan Yohanes terarah pada Yesus. Artinya pewartaan Yesus juga menghasilkan tanggapan banyak orang.
  3. Reputasi Yohanes terungkap juga saat pengenalan tentang Yesus. Dalam Mrk. 6:14-19 disebutkan bagaimana Herodes menanggapi Yesus yang reputasi-Nya sudah tersebar. Pengenalan Herodes akan Yesus tersebut memperkenalkan kembali Yohanes Pembaptis. Yesus dipahami oleh penduduk sebagai Yohanes yang telah bangkit dari antara orang mati. Jadi ada identifikasi antara Yesus dan Yohanes. Namun dimengerti bahwa bahasa kebangkitan yang digunakan, khususnya isu kebangkitan Yohanes sebenarnya merupakan penegasan bahwa Yohanes adalah figur kebangkitan Yesus. Apa yang tidak dinyatakan dalam Yohanes akan diefektifkan dalam Yesus.
  4. Sebagaimana Yohanes akan ditangkap, demikian juga dengan Yesus (Mrk. 1:14; 6:17). Sebagaimana Yohanes dieksekusi kendati tidak bersalah (6:25-29), seperti itu juga Yesus akan mati sebagai orang yang tidak bersalah. Sebagaimana murid-murid Yohanes datang dan membawa tubuhnya yang sudah mati dan menempatkannya dalam kuburan (6:29), demikian juga Yesus akan diletakkan di makam.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa seluruh hidup dan misi Yohanes memang terarah pada Yesus. Yohanes Pembaptis dalam arti ini menjadi bentara Yesus bukan hanya dalam pewartaannya, tetapi juga dalam keterbukaan hidupnya. Dan dalam arti tertentu bisa dipahami bahwa Yohanes hidup kembali ketika Yesus menjalankan pelayanan publik-Nya. Hal itu yang barangkali mengakibatkan keluarnya pendapat aneh Herodes bahwa Yesus adalah Yohanes yang telah bangkit. Namun hal ini tentu saja tidak tepat dan tidak mendasar. Yesus bukan Yohanes. Karya publik mereka saja dipisahkan. Yesus baru memulai karya-Nya setelah penangkapan Yohanes (1:14) dan bahwa Yohaneslah yang mempersiapkan kedatangan Yesus sebelum Ia memulai karya publik-Nya.
Adanya penyamaan dan karya yang paralel antara Yohanes dan Yesus sebetulnya meneguhkan Yohanes sebagai bentara bagi Yesus sebagai Mesias. Ia mendahului Yesus, dan seluruh hidupnya terarah pada Yesus. Dengan memahami Yohanes Pembaptis sebagai pendahulu Mesias, kita sebenarnya mendapatkan penegasan bahwa Yohanes Pembaptis merupakan paradigma untuk memahami Yesus sebagai Mesias.
           
III. 4. Yohanes Pembaptis dan pemenuhan janji Allah
            Markus mengawali Injil tentang Yesus Kristus Anak Allah dengan suatu permulaan. Permulaan itu menghadirkan Yohanes sebagai tokoh yang mempersiapkan kedatangan Tuhan. Persiapan yang dilakukan oleh Yohanes merupakan pemenuhan janji Allah kepada Putera-Nya, yaitu Yesus. Dalam Mrk 1:2 hal tersebut terlihat jelas. Allah yang disapa “Aku” menyatakan kepada Anak-Nya yang disapa sebagai “Engkau”, bahwa akan ada pendahulu yang mengawali kehadiran Anak-Nya tersebut. Dalam konteks inilah Yohanes disebut sebagai utusan.
            Utusan tersebut sungguh hadir sebagai perintis Tuhan. Ia memproklamasikan pertobatan sebagai jalan untuk menyambut Tuhan yang kedatangan-Nya sudah dekat. Tindakannya itu membangkitkan kebangunan rohani umat yang berbondong-bondong datang untuk menyaksikan pewartaannya dan bertindak melakukan apa yang diwartakan. Namun Yohanes tidak membatasi misinya sampai di situ. Ia memalingkan perhatian orang banyak yang datang kepadanya pada sosok yang lebih besar darinya, yaitu Mesias. Kedatangan masyarakat dalam jumlah besar tersebut sekaligus merupakan tanda janji, yaitu melalui pewartaan Yohanes Pembaptis di padang gurun, Allah mengumpulkan orang dalam mana pewartaan Yesus kemudian mengenai kabar keselamatan terarah kepada mereka dan dari mereka juga komunitas-Nya terbentuk.[32] Seruan Yohanes tersebut otomatis menegaskan dirinya sebagai bentara Mesias. Lebih dari itu tindakannya sebagai hamba kaisar dirasa belum cukup untuk menyentuh pakaian luar dari Dia yang lebih berkuasa itu.
            Kenyataan tampilnya Yohanes Pembaptis sekaligus merupakan pemenuhan janji Allah kepada Anak-Nya. Kenyataan itu menghantar pada pra-eksistensi Yesus bahwa Ia sejak kekal sudah ada dan bahwa relasi Ilahi mendapat penonjolan. Keselamatan merupakan kehendak Allah yang secara historis mewujud pada kehadiran Yesus historis di muka bumi. Hal tersebut diawali dengan persiapan-Nya oleh Yohanes, bahwa dengan pencetusan penyelamatan secara baru dalam Yesus Kristus, Allah juga melibatkan manusia yang dengannya Allah menyelamatkan. Yohanes tampil sebagai orang-Nya Allah untuk menyatakan kepada dunia bahwa Allah yang mahatinggi rela turun ke dunia. Ia mendahului Tuhan dan mempersiapkan jalan-Nya. Persiapan itu mencakup penyiapan umat dengan tobat dan baptis. Yesus kemudian tampil dan diurapi sebagai Anak Allah setelah menjalani baptisan yang sejatinya diperuntukkan bagi para pendosa. Ini menjadi tanda bahwa kedatangan-Nya berorientasi pada para pendosa. Ia bergaul dengan para pendosa untuk mengangkat mereka kepada keilahian. Dan benarlah bahwa keselamatan manusia terlaksana dengan penampilan Allah secara manusiawi dalam diri Yesus, Penyelamat dunia yang dihantar masuk oleh Yohanes Pembaptis.
            Dengan demikian lewat Yohanes Pembaptis, janji Allah kepada Anak-Nya mendapatkan pemenuhan. Yohanes sungguh tampil sebagai utusan. Apa yang diwahyukan Allah kini terlaksana. Utusan tersebut hadir dan menyiapkan umat untuk menyambut kepenuhan keselamatan dalam diri Yesus Kristus. Kendati kepenuhan keselamatan terwujud dalam diri Yesus, namun kehadiran Yohanes merupakan juga pemenuhan janji Allah kepada Anak-Nya bahwa Yohanes akan tampil sebagai perintis kehadiran-Nya tersebut. Hal itu sekaligus mengangkat pemahaman tentang Allah sebagai Allah Perjanjian,[33] dan kehadiran Yohanes merupakan perwujudan janji Allah itu. Sama seperti janji Allah kepada Abraham akan tanah yang menghasilkan susu dan madu, demikian juga kehadiran Yohanes Pembaptis merupakan realisasi janji Allah akan bentara yang mendahului Mesias.

 III.5. Kesimpulan
            Dengan berbagai cara Allah berusaha menjumpai manusia. Ia menghendaki keselamatan manusia sebagai ciptaan termulia. Perjumpaan-Nya dengan manusia antara lain terjadi dengan menyatakan Sabda-Nya lewat para nabi. Yohanes adalah nabi. Sebagai nabi, ia mewartakan dan memberitakan kehendak Allah kepada manusia. Karena itu tidak keliru jika dikatakan bahwa Yohanes Pembaptis turut ambil bagian dalam sejarah penyelamatan Allah. Ia bukan saja hadir sebagai tokoh historis dalam persiapan kedatangan Mesias, tetapi kehadirannya memang sejak kekal sudah dikehendaki oleh Allah.
            Kehendak Allah akan hadirnya Yohanes sebagai utusan terungkap dalam komunikasi-Nya dengan Anak-Nya. Ia memberitahukan kepada Anak-Nya bahwa Yohanes Pembaptis akan mendahului-Nya (Mrk.1:2). Dengan cara itu Allah sebenarnya menunjukkan posisi istimewa Yohanes. Ia bahkan sudah sejak awal ada dalam komunikasi Allah dan Anak-Nya. Keistimewaan tokoh ini selanjutnya terlihat dari pewartaannya akan tobat dan baptisan. Pewartaannya tersebut membangkitkan respon yang positif. Banyak orang datang kepadanya karena kebesarannya. Namun ia tidak bermegah diri. Dengan penuh kerendahan hati ia memberitakan bahwa “yang lebih berkuasa” akan datang. Pemberitaannya menjadi jelas ketika “yang berkuasa” itu, yaitu Yesus Kristus sungguh hadir. Karena itu bisa dikatakan bahwa orientasi karya dan hidup Yohanes memang terarah kepada Allah. Ia datang dari Allah sebagai utusan, dan sebagai utusan ia juga mempersiapkan kedatangan Allah secara historis dengan kehadiran Yesus Kristus.
            Pewartaannya tentang tobat merupakan kontinuitas maklumat kenabian yang berulangkali terungkap. Ini sama dengan pewartaan para nabi yang mendahuluinya. Baginya tobat adalah jalan masuk pada keilahian. Tobat itu perlu ditanamkan dalam hati umat karena ternyata bahwa kehadiran Allah di dunia adalah juga untuk menyatakan pesan pertobatan. Tobat itulah yang memasukkan orang pada keselamatan dalam Yesus. Bahwa orang yang bertobat sebenarnya sudah masuk dalam jemaat eskatologis. Ini ditandai dengan pemberian diri mereka untuk dibaptis. Dengan dibaptis orang mendapat meterai sebagai anggota dari jemaat keselamatan. Jemaat keselamatan itu terungkap secara jelas dalam Yesus Kristus. Kehadiran-Nya adalah kehadiran Kerajaan Allah. Allah meraja dalam diri Yesus dan orang yang telah bertobat dalam pewartaan Yohanes dimasukkan ke dalam Kerajaan Allah yang merupakan inti pewartaan Yesus.
            Pewartaan dan karya Yesus kemudian seakan-akan mengefektifkan kembali apa yang telah diperdengarkan Yohanes Pembaptis, bukan saja dari pewartaan, tetapi juga dalam hidup-Nya. Kehadiran Yesus seakan-akan memperkenalkan kembali Yohanes. Tidak heran kalau Herodes kemudian menyatakan bahwa Yesus adalah Yohanes yang telah bangkit. Mengapa? Hal itu terjadi karena keseluruhan hidup dan misi Yohanes Pembaptis memang terarah kepada Yesus. Ia mewartakan Yesus sebagai Mesias, tetapi juga penceritaan tentang lika-liku hidupnya merupakan pertanda awal apa yang akan terjadi pada Yesus. Karena itu, lewat tokoh Yohanes Pembaptis, kita sebenarnya bisa mengenal Allah, mengenal Yesus Kristus, Anak Allah dengan lebih baik. Yohanes Pembaptis sungguh merupakan satu paradigma untuk memahami Yesus.


[1] Howard Clark Kee, Understanding The New Testament, hlm. 100.
[2] Bdk. Oscar Cullmann, The Christology of  The New Testament (London: SCM Press LTD, 1955), hlm. 28.
[3] Dalam Yoh. ada kesaksian dari Yohanes Pembaptis tentang Yesus: “Inilah Dia yang kumaksudkan ketika aku berkata: Kemudian dari padaku akan datang Dia yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku” (Yoh. 1:15).
[4] Bdk. Nico Syukur Dister, Teologi Sistematika 1, hlm. 41.
[5] I Suharyo, Pengantar Injil Sinoptik, hlm. 63
[6] Bdk. C. Groenen, Panggilan Kristen, hlm. 44.
[7]  Bdk. Albert Nolan, Yesus Sebelum Agama Kristen, hlm. 108.
[8] Bdk. St. Darmawijaya, Pengantar Ke Dalam Misteri Yesus Kristus (Yogyakarta: Kanisius, 1991), hlm. 109.
[9] Bdk. Herman Embuiru, Katekismus Gereja Katolik, hlm. 342.
[10] Bdk. F. L. Bakker, Sedjarah Keradjaan Allah, hlm. 41-42.
[11] Dengan tiang awan, Allah hendak menyatakan bahwa Allah sendiri yang membawa umatnya ke luar dari Mesir. Ia berjalan di depan umat-Nya. Tiang awan itu juga disebut sebagai malaikat Tuhan (Kel. 14:19), yaitu cara Tuhan Yesus menyatakan diri pada masa PL.  Bdk. Ibid, hlm. 177.
[12] Herman Embuiru, Katekismus Gereja Katolik, hlm. 343.
[13] Bdk. Rudolf Schanackenburg, The Gospel According To St. Mark, hlm. 5.
[14] Bdk. Herman Embuiru, Katekismus Gereja Katolik, hlm. 344.
[15] Bdk. J. B. Banawiratma, Baptis, Krisma, Ekaristi (Yogyakarta: Kanisius, 1989), hlm. 82.
[16] Bdk. St. Darmawijaya, Pengantar Ke Dalam Misteri Yesus Kristus (Yogyakarta: Kanisius, 1991), hlm. 109.
[17] Bdk. E. Martasudjita, Sakramen-Sakramen Gereja, hlm. 219-220.
[18] Bdk. J. B. Banawiratma, Baptis, Krisma, Ekaristi, hlm. 89.
[19] Louis F. Hartman, “Baptism”, EncyclopedicDictionary of The Bible, (New York: McGraw-Hill Book Company, inc., 1963), hlm. 200.
[20] Bdk. E. Martasudjita, Sakramen-Sakramen Gereja, hlm. 221-223
[21] Stefan Leks, Tafsir Injil Markus, hlm. 35.
[22] Iman sebagaimana diilustrasikan dalam Mrk. bisa didefinisikan sebagai usaha yang sungguh-sungguh dan terarah untuk mendapatkan berkat baik secara materil maupun spirituil bagi seseorang atau orang lain, diinspirasikan oleh kepercayaan penuh bahwa Allah dalam Yesus dapat menyediakan semua kebutuhan manusia.  Christopher D.  Marshall, Faith As A Theme In Mark’s Narrative,  hlm. 236.
[23] Bdk. J. B. Banawiratma, Baptis, Krisma, Ekaristi, hlm. 82.
[24] Louis F. Hartman, “John The Baptist”, Encyclopedic Dictionary of The Bible, hlm. 1180.
[25] Kerajaan Allah merupakan inti pewartaan Yesus. Ini sama dengan para penginjil lain. “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil” (Mrk. 1:15). Yang terpenting dalam Kerajaan Allah adalah pengakuan akan kuasa dan pemerintahan Allah. Kerajaan Allah itu sudah tampil dalam diri Yesus. Hal itu merupakan karunia yang diterima oleh orang-orang kecil dan rendah hati (Mrk. 10:5), tetapi sekaligus suatu tantangan bahwa orang harus meninggalkan semuanya demi Kerajaan itu (Mrk. 9:47; 10:23-25.28-31). Markus menyebut bahwa Kerajaan Allah itu adalah Injil Allah (Mrk. 1:14) atau Injil Yesus Kristus (1:1). Hal itu terungkap jelas dalam Mrk. 8:35 dan 10:29 di mana terdapat semacam kesamaan antara Kristus dan Injil: “Barangsiapa mau kehilangan nyawanya karena Aku dan Injil, ia akan menyelamatkannya”. Jadi kehadiran Yesus sebenarnya adalah kehadiran Kerajaan Allah. Yesus mewartakan Injil berarti Ia mewartakan Kerajaan Allah yang sudah dekat dalam diri-Nya. Semua tuntutan yang diajukan agar orang masuk dalam Kerajaan Allah merupakan juga tuntutan bagi mereka yang ingin mengikuti Yesus. Bdk. I Suharyo, Pengantar Injil Sinoptik, hlm. 61-63.
[26] Sebutan Allah mahakuasa sebenarnya menegaskan supremasi Allah. Ia menciptakan langit dan bumi beserta segala isinya termasuk manusia. Ia mahakuasa atas segala sesuatu (Kel 6:2), tetap sekaligus Ia mahapengasih sehingga Ia mengasihi semua ciptaan-Nya, teristimewa manusia. Ia menciptakan manusia seturut gambar dan citra-Nya (Kej. 1:26-27) agar dapat menjalin hubungan baik dengan manusia (Kej 6:9; 18:17). Kasih Allah itu terwujud dalam pengungkapan diri Allah sebagai Bapa (Mrk. 14:36). Jadi kendati pun Allah adalah mahakuasa, namun Ia tetap dekat dengan manusia karena kasih-Nya. Bdk. Hendrik Njiolah, Syahadat Para Rasul Dalam Perspektif Kitab Suci, hlm.13.
[27] Bdk. Sidlow Baxter, Mengenali Isi Alkitab, 3 hlm. 153.
[28]  Bdk. Bambang Noorseno, Nama Yahwe: Harus dipertahankan atau boleh diterjemahkan dalam bahasa lain? Diambil dari:
   http://www,Iscs,id/do/index.php?option=com-content&task=view&id=47&itemid=2
[29] Bdk. Tom Jakobs, Imanuel, hlm. 76.
[30] Nico Syukur Dister, Kristologi, hlm. 186.
[31] Robert P. Rousseau,John The Baptist: Jesus’ Forerunner in Mark’s Christology”, hlm. 318-321.
[32] Rudolf Schanackenburg, The Gospel According To St. Mark, hlm. 5.
[33] Bdk. Jurgen Moltmann, The Experience of Hope (London: SCM Press LTD, 1975), hlm. 46-48.