Rabu, 07 Desember 2011

Hari Kemunikasi Sedunia Ke 13, 1979, PESAN BAPA SUCI PADA HARI KOMUNIKASI SE-DUNIA XIII: KOMUNIKASI SOSIAL MELINDUNGI ANAK-ANAK DAN MENDUKUNG KEPENTINGAN TERBAIKNYA DALAM KELUARGA DAN MASYARAKAT


Saudara-saudari dan Anak-anak dari Gereja Kudus,
Dengan kepercayaan dan pengharapan yang hidup seutuhnya yang menandai pelayanan penggembalaan saya di Takhta Santo Petrus, sejak awal saya datang kepadamu, khususnya kepada mereka yang terlibat dalam komunikasi sosial, pada hari yang disucikan untuk hal yang penting ini menurut keinginan dari Konsili Vatikan II (bdk. Dekrit Inter Mirifica, 18).
Tema yang ingin saya tawarkan untuk mendapat perhatianmu berisi satu undangan tak langsung kepada iman dan pengharapan karena berkaitan dengan anak-anak, dan saya membicarakan semuanya dengan lebih lega karena sebelumnya telah dipilih oleh yang terkasih pendahuluku Paus Paulus VI. Sungguh sangat menguntungkan untuk direnungkan, pada tahun yang dinyatakan oleh Persekutuan Bangsa-bangsa ini sebagai Tahun Anak, sehubungan dengan kebutuhan khusus dari para penerima yang khas – anak-anak – dan sehubungan dengan tanggungjawab yang mengikutinya dari orang dewasa, khususnya bagi mereka yang berkarya dalam dunia komunikasi dan yang dapat dan mengalami pengaruh yang besar yang membangun – atau merusak – bagi kelompok kaum muda. Di sinilah terdapat masalah serius dan kompleksnya: “Komunikasi sosial” melindungi anak dan mendukung kebutuhan paling baik dalam keluarga dan masyarakat.”
Tanpa banyak praduga dalam meneliti masalah ini, atau lebih kurang, mendalami banyak segi daripadanya, saya menghendaki dengan sederhana secara singkat mengingatkan pada hak anak untuk mengharapkan dan memperoleh sesuatu dari media komunikasi. Dikuasai oleh alat-alat komunikasi sosial dan tanpa perlindungan menghadapi dunia dan orang-orang dewasa, mereka secara alamiah siap untuk menerima apa pun yang diberikan kepada mereka, baik atau jahat. Anda, para profesional di bidang komunikasi, dan khususnya anda yang berkarya dengan media audiovisual, sungguh sadar akan hal ini. Mereka terpesona oleh “layar kecil” dan oleh “layar lebar”, mereka mengikuti setiap tingkahlaku yang ditampilkan, dan mereka meresapkan, lebih cepat dan lebih baik dari siapa pun, emosi-emosi dan perasaan-perasaan yang diakibatkannya.

Sebagaimana lilin yang lunak dan sedikit ditekan saja sudah meninggalkan bekas, demikian juga anak sangat peka terhadap setiap rangsangan yang masuk dalam imaginasi, emosi, insting, dan pikirannya. Memang kesan yang diterima pada usia anak-anak adalah pesan yang diarahkan untuk masuk secara mendalam pada kejiwaan manusia dan sebagai jalan terakhir dalam berkomunikasi dengan dirinya sendiri, dengan sesamanya dan dengan lingkungannya. Kerawanan tentang kepekaan, yang sangat mutlak dari usia kehidupan anak ini, yang memunculkan kebijaksanaan kafir, menawarkan petunjuk pendidikan yang terkenal, mengarahkan bahwa “maxima debetur puero reverentia”; dan dengan cahaya yang sama kita harus memperhatikan peringatan Kristus, dengan alasannya yang tegas: “Tetapi barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya kepadaKu, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut.” (Matius 18:6). Dan memang di antara “anak-anak kecil” yang dimaksudkan oleh Injil, anak-anak secara khusus termasuk di dalamnya.
Yang dimaksud umat beriman ialah orang yang mendasarkan hidupnya pada Injil, teladan Kristus harus menjadi normanya. Jadi, sebagai Yang dengan kasih menyambut anak kecillah, Kristus menghadirkan Diri (bdk. Markus 10:16), sebagai Yang membela mereka dalam keinginan spontan untuk datang kepadaNya (bdk. Markus 10:14), Yang memuji kesederhanaan mereka yang khas dan terpercaya, yang layak bagi kerajaan (bdk. Matius 18:3-4), dan Yang menarik perhatian kita kepada keterbukaan batin yang membuat mereka siap untuk dengan mudah mengalami Allah (bdk. Matius 18:10). Ia tidak ragu-ragu dalam membuat persamaan yang mengagumkan: “Siapapun orang yang menerima anak-anak ini dalam NamaKu, Ia menerima Aku” (Matius 18:5). Demikian saya pernah menulis, “Tuhan menyamakan DiriNya sendiri dengan dunia anak-anak … Yesus tidak menolak anak-anak, Ia tidak menyalahgunakan anak-anak. Ia memanggil mereka, membawa mereka ke dalam rencana penyelamatan bagi dunia” (bdk. Pesan kepada Presiden dari Masyarakat Kepausan untuk Misi bagi anak-anak, dalam L’Osservatore Romano, April 21, 1979).
Dengan demikian apa yang merupakan sikap tanggungjawab umat kristiani, khususnya dari orangtua dan para pekerja media massa yang menyadari kewajiban mereka terhadap anak-anak? Mereka harus memperhatikan perkembangan manusiawi anak-anak. Setiap langkah ditujukan untuk mengutamakan kedudukan ‘netral’ dalam menilai dan membiarkan anak bertumbuh sepenuhnya dengan caranya sendiri menyembunyikan kekurangan perhatian yang membahayakan yang ditampilkan seolah-olah menghormati kepribadian anak-anak.
Ada kepedulian dalam hubungan dengan anak-anak yang bisa diterima, karena anak-anak memang membutuhkan pertolongan dalam perkembangannya menuju kedewasaan. Pertolongan tersebut agar anak yakin, bahwa di dalam dirinya ada kekayaan dan semangat besar, tetapi ia belum mampu, dalam segala hal yang ada dalam dari dirinya sendiri dalam menyingkap misteri-misteri dan kerinduan-kerinduan beranekaragam yang menyerangnya dari dalam hati. Pada kaum dewasalah kewajiban itu terletak – pada orang tua, para pendidik, para pekerja komunikasi – dan mereka jugalah yang mempunyai kemampuan untuk membuat anak-anak mampu menentukan pilihan dan menemukan jati dirinya. Apakah setiap anak dengan cara tertentu menggemakan Samuel, yang diceriterakan dalam kitab suci? Tak mampu menafsirkan panggilan Allah, ia mencari pertolongan dari gurunya, yang pada awalnya menjawab: “Tidak, aku tidak memanggilmu; kembalilah tidur” (1Samuel 3:5-6). Kini, akankah kita mengambil sikap serupa dan melembutkan inspirasi-inspirasi yang menempatkan anak-anak lebih tinggi dari sekedar barang saja? Ataukah kita akan lebih membantunya untuk mengerti dan menanggapi, sebagaimana imam Eli melakukannya kepada Samuel: “Kalau Ia memanggilmu lagi, engkau harus menjawab: Bersabdalah Tuhan, hambaMu mendengarkan” (ibid 3:9).
Ada kemungkinan dan merupakan sarana yang sangat besar pada keinginan anda sebagai orang dewasa dalam hubungan ini. Anda berada dalam posisi menghidupkan semangat anak-anak sehingga mereka akan mendengarkan, atau mengabaikannya dan – Allah melarang – meracuninya tanpa dapat diobati lagi. Yang dituntut adalah bahwa Anda akan bertindak agar anak-anak itu dapat mengambil manfaat dari kemungkinan terbaik bagi perwujudan pribadi dan dengan demikian menyisipkan dirinya sendiri secara kreatif dalam arus kehidupan di dunia. Dalam hal ini terima kasih kepada Anda atas rasa sakit yang Anda berikan dalam mendidik yang tidak menumpulkan satupun dari harapan atau bakatnya tetapi menampilkan yang terbaik dalam dirinya. Anda, khususnya yang terlibat dalam media massa, berdiri di sampingnya dan membantunya dalam pencaharian pengetahuan, memberinya program-program budaya dan rekreasi yang di dalamnya anak-anak dapat menemukan jawaban atas pertanyaan tentang jatidiri dan dapat secara bertahap masuk dalam masyarakat manusia. Jadi, dalam program-program Anda, pentinglah bahwa para aktor anak-anak tidak melulu tampil dalam proses suatu hiburan untuk menyegarkan mata yang lelah atau pendengaran yang mempesona bagi para penonton dan pendengar yang apatis, tetapi program-program Anda harus menghadirkan hal-hal yang dapat melayani sebagai pola-pola yang sah bagi kelompok kaum muda.
Saya sungguh sadar bahwa dalam meminta Saudara untuk melakukan usaha secara manusiawi dan indah ini saya menggunakan ‘puisi’ dalam maknanya yang sejati sebagai kemampuan kreatif untuk menghasilkan seni. Saya secara tidak langsung meminta Anda untuk melepaskan sejauh mungkin keterikatan Anda kepada program-program yang direncanakan untuk menghasilkan sukses langsung dan begitu terikat pada ‘rating’ tertinggi dari para pendengar. Bukankah karya seni yang sejati, dilahirkan bukan dari ambisi untuk sukses, tetapi dari kemampuan sejati dan, tentu, kedewasaan profesional ? Jangan mengesampingkan karya-karya Anda. Saya berharap Anda sebagai seorang saudara berkesempatan untuk melayani hati anak-anak dengan undangan rohani dan keagamaan; dan Anda dapat membuatnya sebagai seruan yang terpercaya dalam kerjasama Anda dalam tugas rohani Gereja.
Demikian saya datang kepada Anda, para orang tua dan para pendidik, dan kepada Anda, para katekis dan pengurus dari aneka paguyuban Gerejani, dan saya mendesak Anda untuk memikirkan dengan serius masalah penggunaan media komunikasi sosial oleh dan untuk anak-anak, sebagai satu masalah yang sangat penting, bukan hanya untuk pelatihan mereka yang terang yang, memperkembangkan kepekaan kritis dan mengajar mereka – sebagaimana Anda katakan – disiplin pribadi dalam memilih program-program mereka, membantu mereka pada taraf manusiawi, tetapi juga untuk perubahan keseluruhan masyarakat menurut jalur kebaikan, kebenaran dan persaudaraan.
Saudara-saudari dan anak-anak terkasih, masa kanak-kanak bukanlah sekedar salah satu masa dari kehidupan manusia, yang dapat diasingkan kepada kepalsuan; karena sebagaimana anak adalah daging dari daging orangtuanya, demikian juga semua anak tinggal sebagai bagian dari masyarakat. Karena alasan inilah apa yang terjadi pada masa kanak-kanak adalah dasar bagi seluruh hidup, kehidupan anak-anak dan kehidupan kita, dan dengan demikian, kehidupan semua orang. Karena itu marilah melayani dunia anak-anak, untuk menilai kehidupan dan memilih kehidupan, dan marilah menolong masa kanak-kanak, menghadirkan di hadapanNya dan kepada hati si kecil yang rapuh dan sangat peka itu hal-hal yang paling luhur dan mulia dalam kehidupan.
Menimbang cita-cita ini, nampak terlihat bagi saya Bunda Yesus yang termanis yang dengan seutuhnya melayani Putera Ilahinya, “menyimpan segala sesuatu dalam hatinya” (Lukas 2:51). Dalam cahaya teladannya, saya menaruh hormat pada tugas mengajar yang ada pada diri Anda semua dan dalam kepercayaan bahwa Anda akan melaksanakannya dengan kasih yang bermartabat, saya memberkati Anda dari lubuk hati saya.
Dari Vatikan, 23 Mei 1979
Yohanes Paulus II

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar