Kamis, 08 Desember 2011

Hari Komunikasi Sedunia ke 29, 1995, Amanat Bapa Suci Yohanes Paulus II PADA HARI KOMUNIKASI SEDUNIA KE 29 8 MEI 1995


Saudara-saudari yang terkasih,
Pada kesempatan hari komunikasi sedunia tahun ini, saya ingin mengajak Anda merenungkan film sebagai "komunikator kebudayaan dan nilai-nilai". Sebagaimana pasti Anda ketahui, sepanjang tahun ini akan diadakan perayaan di seluruh dunia memperingati seratus tahun pertama medium penyampaian yang khas dan tersebar luas ini, yang dewasa ini begitu mudah mendatangi semua orang.
Sudah seringkali Gereja menunjukkan pentingnya media komunikasi dalam hal menyiarkan dan mempromosikan nilai-nilai manusiawi dan keagamaan (bdk. Pius XII, Miranda Prosus, 1957) dan berikut tanggungjawab khusus bagi mereka yang berkarya di bidang ini. Sebenarnya, dengan memikirkan kemajuan dan perkembangan yang telah terjadi dalam bidang komunikasi sosial selama beberapa dasawarsa terakhir ini, Gereja menyadari benar, baik daya kekuasaan berbahaya yang dikandung oleh media massa maupun kemungkinannya, jikalau dipakai secara bijaksana, demi manfaat berevangelisasi.
Seperti saya tulis dalam pesan yang diterbitkan pada kesempatan hari komunikasi sedunia tahun 1989, masalah yang menantang Gereja dewasa ini bukan lagi masalah apakah orang sederhana dapat memahami pesan keagamaan, tetapi bagaimana memakai media komunikasi sedemikian sehingga ia memperoleh seluruh pengaruh injil (Yohanes Paulus II, pesan untuk hari komunikasi sedunia 1989).
Diantara media komunikasi sosial, film telah menjadi medium umum dan dihargai, yang seringkali menyebarkan pesan-pesan yang dapat saja mempengaruhi dan menyiapkan pilihan khalayak ramai, khususnya kaum muda, dalam bentuk komunikasi yang berdasarkan bukan hanya atas kata-kata, melainkan peristiwa-peristiwa konkrit yang diungkapkan dalam gambar-gambar yang sangat mempengaruhi para penonton dan lubuk hati bawah sadar mereka.
Sejak penemuannya kadang-kadang film memberikan alasan bagi Gereja untuk mengkritik atau bahkan mencelanya. Hal ini disebabkan tidak hanya produksinya yang menyebar luas, tetapi juga sering merugikan tema-tema yang bermakna dan bernilai besar kalau dilihat dari sudut etis dan spiritual.
Saya sekarang suka ingat misalnya, akan banyak presentasi film mengenai hidup dan sengsara Yesus, serta riwayat orang-orang suci, yang masih terdapat dalam banyak perpustakaan film, dan terutama berguna untuk menyemarakkan banyak kegiatan di bidang kebudayaan, rekreasi dan katekese, yang dijalankan oleh banyak keuskupan, paroki, serta lembaga religius. Sejak dari awal mula sejumlah karya film keagamaan telah diproduksikan yang telah mempengaruhi banyak orang secara berarti, walaupun dengan batas-batas yang tak dapat dihindarkan dengan alasan peredaran waktu.
Nilai manusiawi dan agama yang patut diperhatikan serta dipuji sering hadir dalam karya film, bukan hanya dalam film yang berlangsung berhubungan dengan tradisi ke-Kristen-an, melainkan juga dalam film kebudayaan dan agama-agama lain. Hal ini menegaskan pentingnya film sebagai sarana pertukaran kebudayaan dan sebagai undangan membuka diri dan berefleksi kalau berkaitan dengan kenyataan-kenyataan yang berbeda dengan pengalaman dan mentalitas kita sendiri. Dalam arti ini, film membantu supaya kita mengatasi jarak dan memperoleh martabat khas budaya, yang merupakan segi istimewa hidup dan kemanusiaan. Di tengah manusia dalam setiap masyarakat ia menciptakan kumpulan ikatan yang menentukan sifat interpersonal dan sosial hidup manusia" (Johanes Paulus II, Pesan untuk hari komunikasi sedunia 1984).
Mereka yang berkarya di bidang perfilman ingin saya undang dengan sepenuh hati, agar jangan sampai mereka melepaskan unsur kebudayaan yang penting ini, sebab tidaklah sesuai dengan tuntutan dan harapan pribadi manusia yang paling otentik dan mendalam. Ini terjadi bilamana produksi film sama sekali tanpa isi dan dimaksudkan melulu sebagai hiburan kosong, atau hanya mau menambah jumlah penonton mereka.
Sebagaimana halnya semua media komunikasi sosial, juga film memiliki daya kuasa dan manfaat besar untuk memberikan sumbangannya kepada pertumbuhan di bidang kemanusiaan dan kebudayaan setiap orang perorangan, tetapi juga dapat menindas kemerdekaan -khususnya kemerdekaan orang paling lemah- kalau ia menyimpang dari kebenaran (bdk. Pius XII, Miranda prorsus, 1957) dan kalau ia menunjukkan diri sebagai cermin contoh perilaku buruk, karena memakai adegan kekerasan dan seks yang menyerang martabat manusia, lalu "cenderung membangkitkan emosi kekerasan untuk merangsang perhatian" penonton (Johanes Paulus II, Pesan untuk hari komunikasi sedunia 1981). Sikap mereka yang secara tidak bertanggungjawab menghasilkan perilaku yang menurunkan martabat, sering suka ditiru dan yang dampak bahayanya dapat dibaca setiap hari di halaman-halaman surat kabar. Ini semua tidak dapat disebut sebagai ungkapan karya seni yang bebas sebagaimana diingatkan kepada kita oleh injil, hanya dalam kebenaran kita dijadikan bebas-merdeka (bdk. Yoh. 8:32).
Kemendesakkan masalah sedemikian dalam masyarakat kita, yang kelihatannya terlalu sering menarik contoh negatif dari dorongan yang ditawarkan oleh film, seperti juga oleh televisi dan surat-surat kabar, mendesak saya untuk menyampaikan sekali lagi seruan mendesak baik kepada mereka yang bertanggungjawab atas industri -agar mereka melibatkan diri secara profesional dan bertanggung jawab- maupun kepada para penonton, agar mereka mengetahui bagaimana harus mengambil sikap secara kritis menghadapi pesan-pesan yang ditawarkan oleh dunia media, termasuk film, dan agar waspada terhadap kemungkinan-kemungkinan menuju perkembangan atau sebaliknya pengrusakan.
Kalau perfilman mengikuti salah satu tujuan utamanya: mempertunjukkan kepada kita gambar tentang bagaimana kita sebagai manusia, ia harus (dari dasar kenyataan) menyediakan kesempatan-kesempatan yang bermanfaat untuk memikirkan keadaan hidup kita yang konkrit. Dengan demikian harus menawarkan bahan refleksi tentang masalah-masalah seperti keterlibatan sosial dan penolakan kekerasan, segala bentuk pengucilan, peperangan dan ketidakadilan. Keprihatinan-keprihatinan ini, yang oelh perfilman sering dipersoalkan selama sejarahnya yang seratus tahun ini, mustahil bersikap acuh tak acuh terhadap semua mereka yang cemas mengenai nasib umat manusia. Dan ini berarti memajukan nilai-nilai itu, yang menjadi keprihatinan Gereja dan secara langsung memberikan sumbangan nilai-nilai ini disebarluaskan melalui medium yang begitu mudah dan efektif sampai kepada khalayak ramai. (bdk. Pius XII Film ideal, 1995).
Terutama pada hari ini, di ambang millenium ketiga, sangatlah penting mengajukan pertanyaan-pertanyaan tertentu kepada diri kita sendiri, tanpa menghindari masalah-masalah melainkan mencari jawaban dan penyelesaian. Dalam konteks ini tentu saja perfilman diberi tempat dan nilai yang menjadi haknya. Namun, saya mau memohon orang-orang yang bertanggung jawab pada setiap tingkat, agar mereka menyadari pengaruh besar yang mereka jalankan dewasa ini, yang memerlukan tuntutan universal perdamaian dan toleransi yang begitu mendesak. Artinya benar-benar ingat akan nilai-nilai itu, yang menjadi inti martabat yang oleh Allah Sang Pencipta dianugerahkan kepada masing-masing kita. Mereka yang berkarya di bidang perfilman yang peka itu, sebagai komunikator harus tetap membuka diri terhadap dialog dan kenyataan lingkungan mereka berada. Mereka harus berusaha menyoroti kenyataan-kenyataan paling penting dengan film-film yang memancing refleksi, sambil menyadari bahwa pendekatan ini, yang memungkinkan penyatuan kebudayaan-kebudayaan yang berbeda bersama dengan orang-orang yang hidup dalamnya, akan menghasilkan karya-karya positif untuk mereka semua.
Demi menjaga agar pesan-pesan yang mungkin ditawarkan perfilman untuk perkembangan manusiawi dan rohani mereka yang menggunakannya, dimengerti sedalam-dalamnya, maka juga penting orang berusaha agar para penonton diberi pendidikan tentang bahasa film yang seringkali menyimpang dari penggambaran kenyataan langsung demi penggunaan sistem-sistem simbol, yang tidak selalu mudah dimengerti. Maka sangatlah berguna kalau, juga di sekolah, para guru mencurahkan perhatian kepada masalah ini, menjadikan para siswa peka terhadap gambar-gambar dan mengembangkan secara bertahap sikap kritis mereka terhadap bahasa yang dewasa ini telah menjadi bagian integral kebudayaan kita; sebab "penerapan teknologi komunikasi merupakan suatu berkat campuran, dan penggunaannya untuk maksud-maksud yang baik menuntut penilaian yang sehat dan pilihan yang bijaksana dari pihak individu-individu, sektor swasta, pemerintah dan masyarakat sebagai pihak keseluruhan" (Aetatis Novae, 1992).
Sementara peringatan akan pernyataan dan refleksi yang menyertai perayaan tahun keluarga yang baru lewat masih ada pada kita, saya merasa adalah sangat penting mengingatkan keluarga-keluarga, bahwa kepadanya dipercayakan juga tugas mendidik anak-anak mereka agar membaca secara teliti dan mengerti film-film, yang setiap hari masuk rumah-rumah mereka, karena televisi dan video, rupanya telah dinikmati anak-anak, yang paling muda sekalipun.
Dalam rangka pembinaan penonton yang sangat penting ini, komponen sosial perfilman tidak boleh dilupakan. Ini rasanya dapat memberikan kesempatan-kesempatan bagus untuk berdialog antara pemakai medium ini, melalui tukar pendapat mengenai masalah yang dibicarakan. Juga sangat berguna -terutama untuk muda-mudi- menyelenggarakan perkumpulan-perkumpulan film, agar disana dengan dibimbing orang-orang ahli, mereka dapat belajar mengungkapkan diri mereka sendiri dan mendengarkan orang lain, dalam pertukaran pendapat yang membangun dan menjernihkan.

Sebelum menutup pesan ini, saya harus menarik perhatian kepada tugas khusus yang dituntut oleh masalah perfilman dari siapa saja yang mengakui diri orang Kristen, yang menyadari tugas khusus mereka sendiri di dunia ini dan sungguh-sungguh tahu bahwa tugas mereka adalah pewartaan injil, kabar baik Yesus, "Juru Selamat semua orang", kepada manusia zaman mereka.
Perfilman ini dengan kemungkinan-kemungkinan yang luas, dapat saja menjadi sarana evangelisasi yang sangat kuat. Gereja mendesak para sutradara, produser dan semua saja yang terlibat dan mengakui diri mereka orang Kristen dan yang berkarya di dunia perfilman yang canggih dan khas, agar mau bertindak dalam kemantapan sempurna dengan iman mereka sendiri dan mengambil inisiatif berani -juga di bidang produksi- agar melalui profesionalisme mereka pesan Kristen yang merupakan kabar baik penyelamatan untuk setiap pria dan wanita, lebih terasa kehadirannya di dunia ini.
Gereja merasa wajib menawarkan, khususnya kepada kaum muda, bantuan spiritual dan moral itu, yang tanpa kehadirannya mustahil bertindak dengan cara yang berguna. Dimana saja perlu, Gereja harus mengambil langkah-langkah konkrit, dengan inisiatif bantuan dan dorongan yang cocok.
Sambil berharap, agar kata-kata ini semua dapat menjadi alasan refleksi dan kesempatan keterlibatan baru, dari dalam hati saya mengirimkan berkat khusus kepada mereka semua yang dengan tugas-tugas berbeda-beda, berkarya dalam industri perfilman dan juga kepada mereka yang berusaha menggunakan film sebagai sarana otentik kebudayaan untuk perkembangan integral setiap orang dan masyarakat sebagai keseluruhan.
Dari Vatikan, 6 Januari 1995,
Hari Raya Penampakan Tuhan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar