Selasa, 01 Februari 2011

HIKAYAT RATAHAN PASAN/PONOSAKAN DAN TOMBATU/TOUNSAWANG

Kaum Taranak yang dipimpin oleh Tonaas Wuntu, menuju ke Bentenan. Sebagian lagi mendirikan pemukiman di Ratan. Mereka disebut Ratahan. Yang menuju ke Towuntu (Liwutung), mereka disebut tou Pasan. Beberapa di antara tou Pasan mengadakan tumani dan bermukim di Tawawu (Tababo), Belang dan Watuliney, membaur dengan penduduk dari Taranak Ponosakan, yaitu keluarga Butiti, Wumbunan dan Tubelan yang datang dari Wulur Mahatus (Pontak). Mereka disebut tou Ponosakan.

Kaum Taranak yang dipimpin oleh Tonaas Kamboyan, menuju ke dataran sekitar Danau Bulilin, tempat asal mereka semula dan mendiami pemukiman di Bukit Batu, Kali dan Abur. Mereka disebut Toundanouw, artinya orang yang tinggal di sekitar air. Kemudian bangsa Belanda menamakan mereka Tonsawang, artinya orang yang suka menolong.



Ratahan, Pasan, Ponosakan

Bahan data utama dari tulisan ini diambil dari buku terbitan tahun 1871. Pada awal abad 16 wilayah Ratahan ramai dengan perdagangan dengan Ternate dan Tidore, pelabuhannya disebut Mandolang yang sekarang bernama Belang. Pelabuhan ini pada waktu itu lebih ramai dari pelabuhan Manado. Terbentuknya Ratahan dan Pasan dikisahkan sebagai berikut; pada jaman raja Mongondouw bernama Mokodompis menduduki wilayah Tompakewa, lalu Lengsangalu dari negeri Pontak membawa taranaknya pindah ke wilayah “Pikot” di selatan Mandolang-Bentenan (Belang). Lengsangalu punya dua anak lelaki yakni Raliu yang kemudian mendirikan negeri Pelolongan yang kemudian jadi Ratahan, dan Potangkuman menikah dengan gadis Towuntu lalu mendirikan negri Pasan. Negeri Toulumawak dipimpin oleh kepala negeri seorang wanita bersuami orang Kema Tonsea bernama Londok yang tidak lagi dapat kembali ke Kema karena dihadang armada perahu orang Tolour. Karena orang Ratahan bersahabat dengan Portugis maka wilayah itu diserang bajak laut “Kerang” (Philipina Selatan) dan bajak laut Tobelo.

Kepala Walak pada waktu itu bernama Soputan mendapatkan bantuan tentara 800 orang dari Tombulu dipimpin Makaware dan anak lelakinya bernama Watulumanap. Selesai peperangan pasukan Tombulu kembali ke Pakasa’annya tapi Watulunanap menikah dengan gadis Ratahan dan menjadi kepala Walak menggantikan Soputan yang telah menjadi buta. Antara Minahasa dengan Ternate ada dua pulau kecil bernama Mayu dan Tafure. Kemudian kedua pulau tadi dijadikan pelabuhan transit oleh pelaut Minahasa. Waktu itu terjadi persaingan Portugis dan Spanyol dimana Spanyol merebut kedua pulau tersebut. Pandey asal Tombulu yang menjadi raja di pulau itu lari dengan armada perahunya kembali ke Minahasa, tapi karena musim angin barat lalu terdampar di Gorontalo. Anak lelaki Pandey bernama Potangka melanjutkan perjalanan dan tiba di Ratahan. Di Ratahan, dia diangkat menjadi panglima perang karena dia ahli menembak meriam dan senapan Portugis untuk melawan penyerang dari Mongondouw di wilayah itu. Tahun 1563 diwilayah Ratahan dikenal orang Ternate dengan nama “Watasina” karena ketika diserang armada Kora-kora Ternate untuk menhalau Spanyol dari wilayah itu (buku “De Katholieken en hare Missie” tulisan A.J. Van Aernsbergen). Tahun 1570 Portugis dan Spanyol bersekongkol membunuh raja Ternate sehinga membuat keributan besar di Ternate. Ketika itu banyak pedagang Islam Ternate dan Tidore lari ke Ratahan. Serangan bajak laut meningkat di Ratahan melalui Bentengan, bajak laut menggunakan budak-budak sebagai pendayung. Para budak tawanan bajak laut lari ke Ratahan ketika malam hari armada perahu bajak laut dirusak prajurit Ratahan – Pasan.

Kesimpulan sementara yang dapat kita ambil dari kumpulan cerita ini adalah

Penduduk asli wilayah ini adalah Touwuntu di wilayah dataran rendah sampai tepi pantai Toulumawak di pegunungan, mereka adalah keturunan Opok Soputan abad ke-tujuh.
Nama Opok Soputan ini muncul lagi sebagai kepala walak wilayah itu abad 16 dengan kepala walak kakak beradik Raliu dan Potangkuman
.
Penduduk wilayah ini abad 16 berasal dari penduduk asli dan para pendatang dari Tombulu, Tompakewa (Tontemboan), Tonsea, Ternate dan tawanan bajak laut mungkin dari Sangihe.
Peperangan besar yang melanda wilayah ini menghancurkan Pakasa’an Touwuntu yang terpecah menjadi walak–walak kecil yang saling berbeda bahasa dan adat kebiasaan yakni Ratahan, Pasan, Ponosakan. Masyarakat Kawanua Jakarta mengusulkan agar wilayah ini dikembalikan lagi menjadi Pakasa’an dengan satu nama Toratan (Tou Ratahan-Pasan-Ponosakan). Karena negeri-negeri orang Ratahan, Pasan, Ponosakan saling silang, berdekatan seperti butir padi, kadele dan jagung giling yang diaduk menjadi satu. Penduduk wilayah ini memang sudah kawin-mawin sejak pemerintahan dotu Maringka akhir abad 18.




ASAL MULA DOTU KAWULUSAN


Dotu Kawulusan berasal dan tinggal disuatu tempat yang bernama KUU’ di Negeri Ratahan yang sekarang LOWU. Kawulusan kawin dengan seorang perempuan bernama Kapunsuan. Keduanyan dikaruniai 4 (empat) orang anak yaitu Sokou, Maneke,, Sosimbanan dan Konda.
Kawulusan mempunyai seorang ipar yang bernama Sengek. Pada suatu waktu Kawulusan meminjam sebuah pancing/kail (hohati) kepada iparnya dan pergi ke laut untuk mengail. Sementara mengail mata pancingnya dimakan oleh seekor ikan,maka dengan daya upaya Kawulusan menarik kail itu, tapi malang baginya kail itu putus. Maka Kawulusan memutuskan untuk kembali ke kampung dan menceritakan kepada iparnya Sengek bahwa kail itu putus dimakan oleh ikan yang besar.
Maklumlah pada waktu itu kail sangat sukar didapat karena cara membuatnya sangat rumit, dan itu adalah kail satu-satunya yang ada pada mereka. Maka si Sengek marah pada Kawulusan dan menyuruh Kawulusan untuk mencari kail itu karena apabila kail itu tidak didapatkan kembali maka Kawulusan diancam untuk dibunuh. Pada saat itu juga Kawulusan kembali ke tempat dimana kail itu putus sambil menyelam kedalam laut untuk mencarinya.
Di dalam laut Kawulusan melihat tali kail itu ditarik oleh seekor ikan, Kawulusan mengikuti ikan tersebut sampai ke dasar laut hingga pada as bumi masuk kedalam Pakong. Setibanya disitu Kawulusan melihat ikan itu telah berubah menjadi manusia. Adapun ikan tersebut namanya Mahoni yang dalam bahasa Ratahan (Pasan) Hahonei yang mempunyai 3 (tiga) baris (strep). Kawulusan tinggal beberapa saat di Pakong, beberapa hari kemudian ia melihat banyak orang berlari-lari menuju ke suatu tempat yang tidak jauh dari tempat dimana ia berada. Maka ia memutuskan untuk bertanya pada seeorang yang kebetulan melintas didekatnya “apa sebabnya kamu berlari-lari?” jawab orang itu “ada seorang puteri raja yang hampir mati, lehernya telah bengkak” lalu ia pergi untuk melihatnya apa yang sebenarnya terjadi.
Setelah dilihatnya, maka Kawulusan bermohon kepada raja ayah dari puteri itu untuk mengobatinya dan apabila sembuh iabersedia menikahi puteri itu. Dan permintaan tersebut dikabulkan oleh raja. Sebelum Kawulusan mengobatinya ia menyuruh orang-orang yang ada dalam kamar tersebut untuk keluar dan tingal mereka berdua dalam kamar tersebut, kemudian Kawulusan bertanya pada sang puteri itu “cobalah kau buka mulutmu”. Lalu sang puteri membuka mulutnya dan Kawulusan melihat di dalam mulutnya ada pancing, lalu Kawulusan mengambil pancing tersebut dan mengamat-ngamatinya. Ternyata itu pancingnya yang putus tadi, maka pancing itu disimpan kembali oleh Kawulusan. Kemudian Kawulusan memijit-mijit leher puteri itu sampai bengkaknya hilang, maka sembuhlah puteri itu.
Raja mengetahui bahwa puterinya telah sembuh maka dilangsungkan pernikahan antara Kawulusan dan sang puteri. Keduanya hidup rukun dan damai dan dikaruniai seorang anak yang diberi nama Ponosapon.
Pada suatu waktu Kawulusan merindukan tanah airnya (kampung halaman) maka ia dan sitrinya bermufakat untuk pergi bersama anak mereka. Dan dalam perjalanan ini keanehan terjadi, karena apabila mereka bertiga sampai ke suatu tempat yang berair maka istri dan anaknya berubah wujud; istrinya berubah menjadi Ikan dan anaknya berubah menjadi Udang, hal ini terjadi terus menerus dalam perjalanan mereka sehingga Kawulusan berkata kepada istri dan anaknya “kalau selalu begini lebih baik kalian berdua kembali saja ke tempat asal kalian” Alhasil keduanya langsung mengikuti perintah dari Kawulusan. Dan Kawulusan berjalan sendirian dan tersesat tidak tau jalan yang sebenarnya.
Di tengah perjalanan ia berhenti melepaskan lelahnya dan melihat-lihat ke langit, dilihatnya sang bulan yang begitu indah dan menarik, lalu ia berkata pada bulan “bolehkan engkau mengantarkan saya ke tempat asalku?” lalu jawab bulan “jangan kau ikut aku, karena aku jalan malam, dingin, dan bau busuk, engkau tidak akan tahan nanti, lebih baik kau minta pertolongan saja pada matahari”. Lalu Kawulusan pergi kepada matahari dan meminta pertolongan, dan permintaannya dikabulkan oleh matahari tetapi dengan syarat-syarat sebagai berikut :
Kawulusan, kau harus sediakan kulit Pisang Udang dan Pisang Goroho (Pisang Lombo) untuk membungkus badanmu supaya tidak hangus karena saya sangat panas. Kawulusan melaksanakan syarat-syarat itu dan mengikuti matahari. Di tengah perjalanan matahari makin hari makin tinggi dan badan Kawulusan makin lama makin panas, Kawulusan tidak dapat menahannya maka ia meminta kepada matahari untuk diturunkan saja di atas bumi ini. Maka matahari pun menurunkan Kawulusan dengan tali-tali yang berupa emas dan matahari berpesan kepada Kawulusan bahwa apabila sudah tiba di bumi, maka goyanglah tali itu sebagai pertanda bahwa Kawulusan sudah tiba.
Setelah Kawulusan tiba di tanah, dilihatnya tali itu menyerupai emas dan tali tersebut ditariknya terus menerus. Matahari merasakan bahwa tali itu terus ditarik oleh Kawulusan maka matahari menarik kembali tali itu. Kawulusan merasa tali itu sudah mulai terangkat, maka dengan secepat kilat Kawulusan mengambil Kowi’ (pedang) lalu dipotonglah tali itu.
Tempat dimana Kawulusan diturunkan adalah kampung Pineleng sekarang, dan tali emas yang digunakan pada waktu turun, dapat digunakan sebagai obat yang biasanya dibuat kalung (manyi-manyi), dan manyi-manyi ini digunakan untuk Mengapei (orang kehilangan mukur atau takanal disuatu tempat). Di Pineleng Kawulusan beristri kembali dan mendapat 4 (empat) orang anak dan keturunannya ada hingga sekarang di Pineleng.
Kemudian karena sudah beberapa lama di Pineleng, teringatlah Kawulusan kepada keempat anaknya yang ditinggalkannya di Kuu. Maka ia langsung pulang, dan setibanya di Kuu ia membagi-bagikan tali-tali emas itu kepada anak-anaknya. Di kampung Kuu Kawulusan hidup bertani. Di sana Kawulusan mengembalikan tali pancing yang dipinjamnya kepada iparnya Sengek. Pada suatu waktu ketia ia berada di kebun, ia ingin minum Saguer, maka dimintanya kepada sebuah tiang yang besar (tiang raja) pada sebuah pondok/sabua agar tiang raja tersebut mengeluarkan Mayang untuk membuat Saguer , maka permintaan tersebut dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa.
Di kampung Kawulusan hidup bertani dan menanam pisang. Pada suatu saat Sngk memotong daun pisang milik Kawulusan untuk dijadikan pelindung/payung pada waktu hujan. Perbuatan engek inikemudian diketahui oleh Kawulusan dan ia kemudian marah kepada iparnya Sengek dan menyuruh Sengek untuk mengembalikan daun pisang tersebut seperti sedia kala dibatangnya dengan ancaman apabila tidak Sengek akan dibunuhnya.
Sengek kemudian mencoba mengembalikan daun pisang tersebut ke batangnya, tetapi selalu jatuh. Kemudian Kawulusan mengambil daun pisang tersebut dan menaruh kembali ke batang pisang dan melekat seperti biasa tanpa ada tanda potongan sedikitpun.
Karena takut akan dibunuh, kemudian Sengek melarikan diri ke suatu tempat yang bernama Touluaan (Tonsawang/Tombatu dan Desa-desa yang ada di kecamatan Touluaan sekarang) dan menurunkan keturunannya di Toundanou (Tombatu dan sekitarnya sekarang).
Kemudian Kawulusan kembali ke Pineleng dan meninggal dan dikuburkan disana.

Adalah suatu kenyataan yang tak dapat dipungkiri sampai sekarang, percaya atau tidak :
• Ada sebahagian dari keturunan Kawulusan tidak boleh makan ikan Mahoni dan Udang (Ponosapon) karena lehernya akan menjadi bengkak.
• Ada pula yang tidak boleh memakan Pisang Udang dan Pisang Goroho (Pisang Lombo) karena kepalanya akan luka-luka (gatal). Dan sebagai obatnya adalah daun pisang udang kering dibakar dan abunya digosokka pada luka-luka tersebut.
• Keturunan kawulusan dipineleng ada 4 (empat) orang, seorang diantaranya adalah tukang emas dan selalu menjual (berdagang) emas di negeri Tondano dan kemudian tingal dan mempunyai keturunan di sana hinga sekarang.
• Keturunan Kawulusan juga ada yang mengembara sampai ke negeri Moyag di Mongondow dan mempunyai banyak keturunan disana hingga saat ini.

Cerita ini disadur dan ditulis ulang oleh Ryan brian Kawulusan, S.Sos yang merupakan tulisan asli yang ditulis pada tahun 1979, tanpa di kurangi atau di lebih-lebihkan agar tidak mengurangi kesan yang sebenarnya. Dan apabila ada kesalah mohon sebagai keturunan langsung dari Kawulusan kita diperbaiki bersama.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar