Minggu, 05 Mei 2013

PESAN BUNDA MARIA TENTANG ABORSI

Yulia:

Aku melihat Bunda Maria, yang dipaku pada Salib, menderita sakit yang luar biasa. Aku ikut ambil bagian dalam sengsaranya. Penderitaan itu sungguh hebat tak terperi. Sementara Bunda Maria berbicara dari atas Salib, aku mengulangi perkataannya dengan tepat kata per kata tanpa aku sendiri menyadarinya. Beberapa relawan menuliskan apa yang mereka dengar.

Bunda Maria:
Adakah seseorang yang mau menurunkan aku dari Salib? Dari waktu ke waktu, semakin banyak saja orang yang menyalibkan aku. Aku menderita di atas Salib bersama Putraku Yesus.
Tolonglah aku. Aku tak dapat meredakan murka Allah Bapa tanpa bantuan kalian.
Maukah kalian ambil bagian dalam sengsaraku? …

Karena alat-alat pencegah kehamilan dan aborsi, aku merasakan sakit yang hebat di rahimku. Jiwa-jiwa kecil berkeliaran di dunia orang mati setelah dicampakkan dari martabat manusia mereka dan diperlakukan hanya sebagai seonggok daging berdarah, yang adalah akibat dari kekejian manusia, kebiadaban serta kegagalan manusia dalam mengenali martabat hidup manusia. Berdoalah dan ringankanlah luka-luka mereka, serta persembahkanlah silih atas dosa-dosa yang dilakukan malam hari.


Tidakkah kalian melihat darah mengalir dari tenggorokanku? Murka keadilan Allah Bapa telah meluap. Karena aku mengasihi kalian semua, aku bertahan demi kalian semua bahkan hingga muntah darah… agar dapat menyelamatkan meskipun hanya satu jiwa yang berdosa.

Aku akan tinggal dalam kalian, jika kalian menyangkal diri dan datang kepadaku. Bersatulah kalian satu sama lain dalam kasih. Jika kalian bersatu dalam kasih, setan akan lari. Jadilah rasul-rasul Hatiku Yang Tak Bernoda. Hiburlah hatiku dengan melaksanakan pesanku ini.



Pesan pada 12 Mei 1987

Bunda Maria meneteskan airmata sejak tengah malam hingga pukul 8 pagi. Aku melihat genangan airmata memenuhi matanya.



Yulia:
Bunda, mengapa engkau menangis?

Sejenak kemudian, aku roboh dan melihat banyak jiwa-jiwa. Sebagian dari mereka berjalan dengan tongkat; sebagian tidak mempunyai kaki; sebagian tanpa lengan; sebagian tidak mempunyai mata atau telinga; sebagian memiliki hidung atau mulut yang tidak sempurna. Mereka pergi ke suatu tempat, saling dorong-mendorong satu sama lain, saling berkelahi dengan gaduh dan liar, dan mereka jatuh dan jatuh lagi. Aku sangat ngeri dan menjerit. Aku pikir mereka adalah jiwa-jiwa di api penyucian.


Bunda Maria:
… Lihat! Banyak jiwa-jiwa berjalan menuju neraka karena aborsi. Aku harus memohon dengan sangat dengan bersimbah airmata seperti ini demi menyelamatkan banyak jiwa-jiwa itu. Aku hendak menyelamatkan mereka melalui engkau - melalui kurban-kurban dan silihmu. Bagaimana mungkin aku tidak memahami sengsara yang engkau derita? Sekarang, maukah engkau ambil bagian dalam penderitaan bayi-bayi kecil yang dibuang oleh orangtua mereka yang masa bodoh dan keji?


Yulia:
Ya, Bunda. Aku melakukan apa saja, jika engkau bersamaku.

Pada saat itu, postur tubuhku menjadi serupa dengan bayi dalam rahim - dengan lengan dan kaki yang meringkuk. Mukaku menjadi merah seperti darah. Aku menderita sakit selama empat setengah jam. Ketika sakit hebat itu berakhir, sakit bersalin pun dimulai. Mukaku membengkak bagai labu dan aku tak dapat bergerak. Aku menanggung sakit sepanjang hari. Sakit rohani ini lebih hebat daripada sakit fisik.


Pesan pada 29 Juli 1988


Aku menderita sakit bersalin dan sakit hebat yang diderita bayi-bayi dalam rahim yang berjuang sambil berteriak-teriak berusaha menghindarkan diri dari pembunuhan.


Hari itu hari Jumat, hari istirahat, tetapi, pagi hari ada tigabelas tamu yang menderita kusta. Meskipun sakit, aku keluar dengan dibopong yang lain dan menjabat serta mencium tangan mereka. Aku berdoa dengan sungguh-sungguh bagi mereka.


Sementara aku berjuang menanggung sakit seorang diri dalam kamar, Mark dan Martha datang berpamitan sebelum pulang ke rumah setelah melewatkan hari-hari kerja yang melelahkan. Waktu itu pukul 3.40 sore. Perutku mulai membuncit dan mulailah rasa sakit bersalin dan sakit bayi-bayi yang tidak dilahirkan. Aku mengalami ekstasi dan mendengar Bunda Maria berbicara.

Bunda Maria:

Puteriku terkasih! Maukah engkau menanggung lebih banyak sakit?


Yulia:
Ya, Bunda! Aku akan menanggung segala sakit, jika itu dapat membantu menyelamatkan mereka.


Bunda Maria:
Terima kasih, puteriku! Pada hari ini lima ribu jiwa akan bertobat dan dipersembahkan kepada Tuhan, terima kasih atas penderitaanmu. Kita harus memberitakan kepada banyak orang bahwa kita menderita bagi mereka. Banyak jiwa-jiwa juga akan menerima rahmat pertobatan dengan mengetahui gambaran akan bayi-bayi yang diaborsi.


Manusia berjalan di jalan menuju neraka, karena mereka melakukan pembunuhan-pembunuhan keji, namun demikian, mereka tidak menyadari bahwa mereka telah menjadi pembunuh. Jiwa-jiwa kecil ini dicampakkan dari martabat manusia mereka dan menerima siksa mengerikan yang layak bagi orangtua mereka. Tidakkah segala siksa ini terlalu kejam bagi mereka?


Aku larut dalam kesedihan, karena jiwa-jiwa tak berdosa ini, hidup yang berharga yang dikaruniakan oleh Tuhan, diinjak-injak dengan keji, diremukkan dengan brutal, dihancurkan, dikoyak-koyak dan dibunuh oleh para orangtua yang masa bodoh dan acuh tak acuh.


Sebab itu, aku hendak menunjukkan kepadamu bagaimana bayi-bayi kecil ini mohon agar dibiarkan hidup, dengan demikian banyak orang berdosa akan bertobat dan kembali kepadaku. Katakanlah kepada semua orang bahwa janin kecil bukanlah seonggok daging berdarah, melainkan memiliki hidup di dalamnya sejak dari saat pembuahan dalam rahim ibu.


Yulia:
Ya, Bunda! Biarlah segala kehendakmu terjadi.


Sakit hebat pun dimulai, sementara posturku menjadi serupa dengan bayi dalam rahim - dengan kedua lengan bersilang, kedua tangan memeluk lutut, dan kaki-kaki meringkuk.


“Tidak! Tidak! Jangan!” - terdengar jeritan-jeritan memekik karena sakit yang diakibatkan oleh alat-alat logam yang dipergunakan untuk membunuh bayi-bayi itu. Sungguh sulit menggambarkan jeritan-jeritan para bayi itu.


“Mama! Mama! Mama!” Jiwa-jiwa kecil berjuang menghindari alat-alat logam sambil tak henti-hentinya memanggil ibu mereka.


Sungguh tak ubahnya seperti neraka.


Dengan postur seorang bayi, aku meloncat dan berguling-guling sekeliling kamar sambil menggeliat kesakitan. Mark dan Martha tak dapat menguasaiku, jadi mereka memanggil beberapa relawan untuk datang menolong. Mereka semua kehabisan tenaga.


Seorang bayi dalam rahim yang ingin dibiarkan hidup memohon dengan sangat kepada ibunya.


Bayi:
Tidak, Mama! Tidak, Mama! Jangan, Mama! Aku ingin hidup, Mama! Biarkan aku hidup! Mama, biarkan aku hidup! Mama! Mama! Mama!!! …


Sambil tak henti-hentinya mengulangi jeritan yang sama, si bayi lari berputar-putar berjuang hidup. Sesungguhnya, aku tidak makan sama sekali hari itu dan letih sepenuhnya. Jika bukan karena misteri adikodrati, tak mungkin aku meloncat berputar-putar demikian hebat selama tiga jam. Aku menderita sakit dibunuh setelah berjuang empat kali….


Mereka semua yang ada di kamar menangis begitu hebat hingga mereka bahkan tak mampu berdoa.


Yulia:
Segala pujian dan kemuliaan bagi Tuhan…!


Pesan pada 25 Maret 1991


Patung Bunda Maria meneteskan airmata sejak tanggal 18 Februari dan pagi ini, meneteskan begitu banyak darah dari mata dan hidungnya. Pipi, pakaian dan taplak di bawah patung menjadi sangat basah. Suara Bunda Maria datang melalui patung, yang kedengaran sangat sedih.


Bunda Maria:
Puteri! Berdoalah lebih banyak. Jangan biarkan dunia ini dihancurbinasakan karena kejahatan yang dilakukan setan, musuh utama Salib, seperti Sodom dan Gomora dihancurbinasakan walau Abraham telah memohon dengan sangat, karena tak terdapat bahkan sepuluh saja orang benar. Terlalu banyak anak yang menolak permohonanku yang sungguh, yang aku sampaikan dengan mencucurkan darah, malahan mereka bersekutu dengan si Naga Merah, yang membangkitkan dalam diri mereka kesesatan serta kemerosotan moral, dan membuat mereka hidup dalam dosa. Dengan demikian, mereka menghancurkan martabat manusia dengan membujuk manusia untuk melakukan pembunuhan melalui begitu banyak aborsi. Aku mohon dengan sangat kepada kalian, sebab aku tak tahan melihat atau mendengarkan hal ini lagi.


Sambutlah aku dengan hangat, dengan doa-doa, kurban dan silih, serta persembahkanlah hati yang kudus dan penderitaan-penderitaan. Dengan demikian, kalian menghapus airmata dan airmata darahku yang kucurahkan bagi kalian, yaitu dengan mengijinkan aku ada di tengah kehidupan kalian sehari-hari. Dengan berbuat demikian, kalian mempersiapkan suatu tempat di mana Yesus, yang akan datang dalam kemuliaan, dapat tinggal.


Patutlah kalian ingat bahwa, sementara saat kelahiran semakin dekat, semakin hebatlah rasa sakit. Karena penguasa-penguasa, bangsa-bangsa dan orang-orang menolak Allah yang Mahaadil, mereka diliputi suatu kegelapan yang dahsyat. Karena mereka tidak membuka pintu lebar-lebar bagi Kristus, yang akan segera datang, berbagai macam penderitaan serta kemalangan terjadi.


Sebab itu, segenap anak-anak di dunia! Jadilah jiwa-jiwa yang lebih rendah hati dan taatilah aku dengan kepercayaan penuh. Sementara pencobaan semakin hebat, aku akan tinggal lebih dekat pada jiwa-jiwa kecilku dan menjadi kekuatan mereka. Apabila segenap anak-anak menerimaku dengan baik serta melaksanakan pesan-pesan kasih, kegelapan akibat kekacauan akan dikalahkan melalui terang belas kasihan Allah yang besar. Aku berharap agar permohonanku yang mendesak ini sampai ke ujung-ujung dunia melalui kalian.


Bunda Maria kemudian menangis lagi dengan pilu.




 “Mary's Touch By Mail”;
“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar