Jumat, 12 November 2010

Kita dan Mereka yang Meninggal Dunia



Setiap 2 November orang-orang Katolik secara khusus memperingati arwah orang-orang beriman yang telah meninggal dunia. Tentang mereka yang meninggal saya punya pengalaman yang berkesan.
Dua tahun lalu waktu pulang cuti ke rumah, beberapa hari saya gunakan untuk mengunjungi sanak keluarga papa di kampung, kira-kira 70 km dari kota kecil tempat saya tinggal. Keluarga terakhir yang saya kunjungi sehari sebelum saya harus kembali ke rumah adalah kakak papa yang saat itu lagi sakit keras. Keadaannya sangat parah dan memprihatinkan. Semua keluarga sudah pasrah. Meski tidak bisa berbicara dan tidak jelas lagi melihat kehadiran saya, paman saya itu tersenyum ketika saya merangkul dan menciumnya…Lalu saya balik ke rumah saudara tempat saya menginap. Malam hari saat bercengkerama dengan keluarga tersebut, saya memutuskan untuk kembali lagi ke rumah paman yang sakit tadi untuk berdoa. Lalu saya pergi. Ketika masuk rumah, saya cukup kesal melihat tingkah beberapa sanak keluarga yang main kartu menunggu pagi. Saya kesal karena tingkah mereka itu seolah-olah ‘menunggu’ sekaligus membiarkan paman saya ‘meninggal’. Saya langsung menuju kamarnya lalu mengajak beberapa saudara yang mengelilingi tempat tidurnya berdoa.
Tanpa banyak pertimbangan saya mengajak mereka berdoa dua peristiwa rosario, dengan ujud supaya paman saya ini bisa bertahan sampai besok pagi agar bisa dibawa dan dirujuk ke rumah sakit terdekat (usul rujukan ini sebenarnya inisiatif saya). Saya memegang tangannya dan dalam keyakinan yang sungguh kami menyelesaikan dua puluh untaian doa Salam Maria. Yang sungguh mengejutkan saya adalah ketika hendak menutup doa, persis pada saat itu paman saya meninggal dunia. Saya masih ingat betul bagaimana nafas terakhirnya dihembuskan…Dia pergi untuk selamanya. Ini pengalaman pertama melihat orang yang menghadapi sakrat maut.
Maut, kematian adalah kata-kata yang sering membuat bulu kuduk kita merinding. Manifestasi-manifestasinya seperti dalam cerita-cerita horor, tempat-tempat yang angker seperti kuburan melengkapi rasa takut itu. Waktu kecil saya termasuk orang yang hampir (maaf..) pipis di celana kalau mendengar kisah horor, apalagi di suruh melewati kuburan. Itu mungkin proses alamiah yang umumnya setiap kita alami. Pelan-pelan perasaan seperti itu hilang dengan sendirinya. Justru pengertian-pengertian baru sekaligus pengalaman-pengalaman konkret sehubungan dengan kematian membuka mata saya untuk memahami dengan arif realitas yang bernama kematian itu.
Ingatan akan detik-detik terakhir hidup paman saya tadi sungguh menguatkan iman saya. Kematian adalah horizon dan batas yang membuat hidup kita bermakna. Sebuah titik di mana kita betul-betul berhenti untuk memandang Dia yang sedang menunggu dan menyongsong kita, dan mau merangkul kita hamba yang setia, yang sudah merawat dengan baik harta yang Ia percayakan pada ktia. Saya percaya, saat-saat itu, yakni saat-saat yang akan semua kita lalui, adalah saat di mana kita sungguh-sungguh menjumpai Dia yang kita imani, Dia yang sudah banyak kita dengar dan kita wartakan. Maka tidak ada alasan untuk takut. Sebaliknya kita pantas berharap. Apalagi Dia sudah mendahului kita, mengalahkan maut dengan memberi diri seutuhnya dan dibangkitkan Allah.
Saya mengajak saudara/I semua untuk berdoa bagi semua sanak keluarga kita yang telah meninggal. Kita percaya mereka yang sekarang sedang bersama Allah mendoakan kita agar sanggup memiliki iman yang sama seperti mereka: iman yang setia dan gembira untuk siap menyongsong Allah yang dengan gembira berlari mendapati dan merangkul kita hamba yang setia.
http://renungan-inspirasi.blogspot.com/2007/11/kita-dan-mereka-yang-meninggal-dunia.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar