Selasa, 14 Agustus 2012

WISATA KULINER (Yohanes 6:51-58)


Renungan, Minggu Biasa XX, Thn. B
Men sana in corpore sano. Didalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat. Untuk tubuh yang sehat orang mengkunsumsi makanan sehat. Makanan sehat adalah kandungan unsur keseimbangan gizi sempurna yang dibutuhkan tubuh sehingga vitalitas dan kesehatan tubuh tetap terjaga dan prima. Dengan kesehatan tubuh yang baik maka manfaat makanan sehat pun terasa, aktivitas menjadi lancar dan penyakit menjauh pergi. Akan tetapi yang namanya makan akhir-akhir ini bukan saja sekadar mengunyah makanan dan membuat perut kenyang dengan kandungan gizi yang ada. Makan kini sudah menjadi bagian dari seni dan gaya hidup tersendiri. Dulunya ada kebahagiaan ketika pulang rumah dan menikmati masakan istri atau orang tua. Saat ini tidak cukup di rumah saja, tidak cukup nongkrong di satu warung langganan. Makan saat ini sudah dimasukkan dalam paket jalan-jalan dan wisata menikmati keindahan alam. Masyarakat mengeksplorasi beragam jenis makanan dan cita rasa. Wisata kuliner menjadi life syle masyarakat terutama di kota-kota besar. Hampir setiap malam kawasan Mega Mas dan Hyper Mart penuh dengan penjaja makanan. Yang lain lagi mencari sea food di pantai Kalasei atau sate kolombi di boulevard Tondano. Tidak mengherankan bahwa banyak orang saat ini kelebihan karbohidrat, kalori, protein, atau lemak dan melahirkan  masyarakat kolesterol, diabetes, atau juga asam urat. Tubuh tak sehat lagi sehingga jiwa juga terganggu. Orang dibodohi oleh makanan dan segala perkembangan cita-rasanya. Citarasa terbaik menjadi sasaran banyak orang. Orang menghamburkan uang hanya untuk makanan. Muncullah generasi golojo! Sampai sesama manusia bahkan mau dimakan.
Yang namanya wisata kuliner ternyata bukan hal yang baru lagi. Dalam Perjanjian Lama ternyata hal makan minum itu sudah terdengar. Orang ke sana kemari mencari makanan. Ada Israel yang konsumtif dan ada Sang Hikmat yang menyediakan menu terbaik. Masyarakat bahkan tidak harus menghamburkan rupia untuk menikmatinya. “Marilah, makanlah rotiku dan minumlah anggur yang telah kucampur.” Satu petunjuk tentang kebaikan hati Tuhan. Allah bahkan menyediakan pelayan perempuan yang memanggil mampir masyarakat tak berakal budi. Orang berotak yang tak bisa berpikir dan mengusahakan tumbuhnya gandum dan roti untuk kelangsungan hidup. Mereka yang hanya hidup untuk mengurus perut. Sang Hikmat telah memotong ternak sembelihan dan mencampur anggurnya. Hidangan sudah tersedia. Nikmatilah agar hidup itu bisa dimaknai dan ikutlah jalan pengertian. Perlu datang pada Sang Hikmat agar bisa berhikmat. Semacam sindirin untuk Israel yang bodoh karena makanan. Hidup bukan hanya soal makan dan minum. Yang paling penting sebenarnya adalah Sabda. Yesus sendiri perna mengatakan bahwa manusia hidup bukan dari roti saja tetapi dari setiap sabda yang keluar dari mulut Allah. Ia memperkenalkan diri sebagai roti surgawi. Roti yang diberikan-Nya adalah daging-Nya sendiri. Sebutan “daging” menunjuk pada “sabda”. Ingat peristiwa inkarnasi. Sabda yang menjadi daging. Daging itulah yang perlu “dikunya” sebanyak mungkin sebagai nutrisi pengembangan hidup rohani. Daging tersebut dikemas satu paket dengan darah sebagai minuman. Darah adalah tanda kehidupan. Manusia bisa hidup tanpa kaki, tetapi jika darahnya habis, maka ia pasti mati. Dengan memakan tubuh-Nya dan meminum darah-Nya kehidupan kekal telah menanti. Kasih dan pengurbanan Yesus sampai diri-Nya yang dibagi-bagi berbanding terbalik dengan mentalitas Israel yang tak perna kenyang. Terus menggerutu seperti pengalaman padang gurun dan bahkan terheran-heran bingung mirip kaum Yahudi yang mendengar pernyataan Yesus di Kapernaum. “Apakah kita masyarakat kanibal atau bangsa vampire yang menghisap darah manusia?
Menanyakan dan meragukan kebenaran Roti Surgawi sebagai makanan rohani telah menjadikan banyak orang zaman ini juga telah menjadi bodoh. Bodoh seperti sebagian masyarakat Yahudi zaman Yesus yang hanya menanti makanan gratis atau mencari uang untuk belanja kebutuhan perut. Orang hanya melihat manna di padang gurun sebagai pengenyang atau pelipatgandaan roti untuk menghilangkan rasa lapar tanpa melihat karya Allah sebagai “koki” kreatif yang menyediakan makanan dengan kualitas terbaik. Tak ada makanan yang abadi di dunia selain Yesus Roti Surgawi. Tutuplah mata inderawi yang selalu tertarik dan terpesona dengan kfc, pizza hut, spaghetti, spring onion pancakes, tinutuan, dll. dan kembalilah ke hati, membuka mata hati untuk melihat karya Allah yang luar biasa. Yesus yang memberikan diri-Nya sebagai kurban keselamatan dan kebahagiaan dunia dan manusia. Wisata kuliner akan bermakna jika kita tidak perna lupa untuk setiap hari dan setiap minggu berwisata ke gereja, melihat keindahan karya keselamatan Tuhan dan menikmati santapan surgawi, tubuh dan darah Kristus. Gereja sebagai komunitas orang beriman percaya bahwa Yesus itu ada di tengah-tengah mereka dan menghayatinya dalam bentuk ekaristi. Yesus itu pemberian dari surga yang membawakan hidup ke dunia. Pemberian ini lebih luas dari kehidupan biasa yang beriramakan lapar, kenyang, dan lapar lagi, melainkan yang membawa ke kehidupan yang tak lagi berorientasi pada perputaran tersebut. Iman akan ekaristi menjadi cara Gereja menerima kebenaran warta Yesus itu. Sikap orang beriman berkebalikan dengan sikap mereka yang mempertanyakan bagaimana itu mungkin? Fr. Lucky

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar