Selasa, 30 April 2013

BLESSING IN DISGUESE Minggu biasa V (Luk. 5:1-11)




                Saat ditertawakan oleh orang-orang Spanyol karena kesasar, Christopher Colombus berkata: “Kalau saya tidak pernah tersasar, kalian tidak akan pernah menemukan jalan baru.” Ia melakukan kesalahan. Namun ia masih bisa tersenyum ketika banyak orang memandangnya sebagai manusia bodoh dan gagal. Misi untuk menemukan India justru hanya berakhir di Amerika. Orang-orang pulau tersebut bahkan dipaksakan namanya untuk disebut Indian. Pastinya tidak akan ada orang Indian di Amerika jika perjalanan lautnya langsung mencapai tujuan: daratan India. Amerika sekarang adalah Negara besar, maju, dan disegani dalam politik internasional. Mereka bahkan menyebut diri sebagai polisi dunia. Kebesaran Negara ini bagai magnet yang menyedot manusia dari berbagai penjuru dunia untuk datang melebur bersama. Berkat di balik kegagalan. Ada keberuntungan di balik kesialan. Adalah lebih baik gagal atau melakukan kesalahan daripada terlihat sukses atau terlihat benar tanpa melakukan apa-apa. Lao Tze mengatakan: “Ada keberuntungan dalam setiap bencana; ada kemalangan dari setiap nasib baik.” Mengkontraskan kegagalan dan kesuksesan, nasib baik dan kesialan justru hanya akan menyisahkan tangisan, rasa sedih, keputusasahan dan yang ekstrim adalah bunuh diri. Bijak untuk meyakini bahwa kegagalan itu penting untuk sukses yang indah.
                Simon mewakili masyarakat optimis dalam memandang hidup dan kerja. Hidupnya mengungkapkan jatuh bangun kehidupan manusia. Kesialan dan keberuntungan membentuk dirinya menjadi pribadi handal.  Ia tampil sebagai nelayan berpengalaman, hidup, tumbuh dan berkembang di kawasan pesisir. Ia menangkap ikan dan mungkin juga tahu caranya budi daya perikanan. Ia pasti menguasai semua teknik kelautan, menakhodai perahu, melemparkan jala, memancing ikan, menumbak ikan. Ia tahu juga bahwa ikan tangkapan bergantung pada peruntungan, kondisi cuaca dan musim. Akan tetapi pengalamannya sebagai nelayan ternyata tidak selalu memberikan jaminan datangnya rejeki yang besar. Ia menghadirkan fakta bahwa kesialan dan nasib kurang beruntung ternyata merupakan bagian penting dari kehidupan. Tidak selamanya orang itu akan sukses. Banyak kali kegagalan itu harus ada untuk mendapatkan kesuksesan dan keuntungan yang luar biasa. Perlu ada keyakinan bahwa di balik kegagalan pasti ada kesuksesan yang tertunda; ada berkat dalam kesialan. Yang paling utama adalah keyakinan bahwa ada Tuhan yang selalu menemani dan menawarkan cara terbaik untuk berhasil. Tuhan juga ternyata mau mengajar dalam segala situasi hidup manusia. Tuhan tidak saja terbatas dalam lingkup liturgis di gereja, namun ia juga menyertai dan hadir dalam dunia kerja manusia. Menarik sekali, ketika Yesus menaiki perahu Simon dan di atas perahu itu Yesus mengajar. Entah apa yang Dia ajarkan saat itu. Yang jelas dunia pekerjaan digunakan-Nya sebagai mimbar di mana orang bisa mengenal kebenaran. Tetapi semuanya bisa terjadi karena respon Simon yang tepat. Simon terpesona dengan pengajaran Yesus. Karena itu ia menurut saja (walau terkesan agak terpaksa) ketika Yesus menyurunya bertolak ke tempat yang dalam dan kembali menebarkan jala. Ia bisa saja menolak perintah Yesus dengan beberapa alasan: Pertama, Yesus adalah tukang kayu, bukan nelayan. Bagaimana ia sebagai nelayan harus menuruti nasihat dari tukang kayu dalam hal menangkap ikan? Agak rancu mungkin kalau para pemilik tokoh bangunan di kawasan Calaca mengajarkan cara melaut kepada orang Talaud (misalnya).  Kedua, sepanjang malam itu mereka tidak mendapat ikan, padahal malam adalah waktu yang terbaik untuk menangkap ikan. Mereka tahu bahwa ikan naik ke permukaan pada malam hari untuk makan. Tetapi sekarang Yesus menyuruh mereka menjala ikan pagi/siang hari. Siang hari ikan biasanya mencari tempat yang dalam dan lebih sejuk. Agak aneh! Ketiga, tempat yang dalam bukanlah tempat yang baik untuk menjala ikan, kecuali mereka mempunyai jala yang sangat besar, yang jelas mungkin tidak dipunyai oleh nelayan pada jaman itu. Perahu Simon mungkin juga kecil. Akan tetapi Simon memilih untuk mengikuti sapaan Yesus. Akibatnya adalah ikan yang banyak berhasil ditangkap. Dalam injil Yohanes (21:11) disebutkan bahwa jumlah ikan tersebut 153 ekor. Selalu ada berkat dalam kemalangan hidup. Ada kesuksesan di balik kegagalan.
                Simon yang mengalami kegagalan ternyata tidak putus asah. Ia sabar menantikan waktu Tuhan untuk memberkati pekerjaannya dan ia juga menghadirkan Tuhan dalam dunia kerjanya (naik di perahu miliknya). Ia juga begitu murah hati ketika mendapatkan berkat. Tidak lupa ia juga membagikan berkat-berkat itu kepada perahu yang lain, sekaligus dengan cara tersebut perahunya tidak tenggelam. Dengan cara itu, Simon bukan saja dapat berkat yang besar tetapi juga berkat yang luar biasa. Ia tahu dan sadar akan keberadaan dirinya (saya adalah orang berdosa) sehingga tidak perlu ada yang disombongkan. Ia menjadi rendah hati. Karena itu Tuhan kemudian memanggilnya. Satu panggilan untuk menegaskan bahwa ketika banyak berkat diterima, ketika orang mengalami kesuksesan, maka bagus untuk mengikuti Dia yang memberi berkat. Ini untuk mengingatkan agar orang tidak menjadi budak harta dan kepemilikan. Mengikuti si pemberi berkat jauh lebih berharga daripada berkat itu sendiri. Semua orang pastinya memiliki pengalaman jatuh bangun, pengalaman kesialan dan kesuksesan. Dunia usaha yang mengalami penurunan, investasi yang gagal, sakit  yang mencemaskan, kegagalan dalam hidup perkawinan, gagal mendidik anak-anak, gagal dalam pendidikan, kekecewaan karena dihina dan disudutkan. Dalam situasi demikian, lihatlah pengalaman Petrus. Ia mempersilahkan Tuhan masuk dalam perahu hatinya. Tuhan mungkin mau mengatakan jangan cemas jangan takut dengan masalahmu. Ada aku yang menyertai. Bertolaklah ke tempat yang dalam, masuklah ke hatimu, ada Aku di sana. Ada berkat melimpah yang tersedia. (Fr. Lucky)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar