Jumat, 03 Februari 2012

Kilat (Mrk. 9:2-9)


Istilah “kilat” dalam benyak peristiwa menjadi momok yang menakutkan. Kilat menunjuk pada gejala alam yang biasanya muncul saat musim hujan. Saat itu di langit muncul kilatan cahaya sesaat yang menyilaukan. Sering disebut pula petir atau halilintar. Satu gejala alam yang  selalu disusul dengan suara menggelegar dan membuat para penghuni bumi cemas lalu mencari tempat perlindungan di ruang-ruang tertutup. Gejala alam yang memang dimengerti sebagai pembawa petaka dalam bentuk kematian. Karena itulah saat kilat muncul, orang-orang  akan lari, bersembunyi  dan mencari posisi aman sebagai upaya mengatasi bahaya yang mengancam. Kilatan seperti itu yang mungkin nampak saat Petrus dan dua temannya mengikuti Yesus ke gunung yang tinggi. Kepergian mereka ke gunung menyerupai dekatnya manusia dengan awan. Kalau kilat itu muncul di awan maka alamat bahaya pastinya mengancam hidup mereka. Akan tetapi bukan kilat akibat gejala alam yang terjadi. Yang nampak adalah perubahan rupa Yesus  yang ditandai oleh pakaian-Nya yang sangat putih berkilat-kilat.
            Kilat selalu menyilaukan mata. Mata Petrus, Yakobus, dan Yohanes pastinya juga menjadi silau ketika peristiwa itu terjadi. Justru karena kilatan tersebut maka mereka juga ketakuatan. Dalam Injil lain dikatakan bahwa wajah Yesus bercahaya seperti matahari (lih. Mat. 17:2). Hal ini sepertinya untuk menunjuk kehidupan Yesus yang nantinya akan berubah menjadi cahaya keabadian. Ini wajar karena sebelumnya Yesus memang telah mulai berbicara tentang kematian. Kematian untuk satu kehidupan kekal dan ilahi. Kehidupan yang menyilaukan dan menakutkan jika dilihat lewat mata inderawi. Satu pemandangan luar biasa yang melampaui penglihatan dan pengalaman manusia dialami oleh ketiga murid tersebut. Kesan yang  muncul adalah Yesus memang bukan manusia biasa. Kepada-Nya bahkan disebutkan bahwa Musa dan Elia sebagai penghuni surga datang berbicara kepada-Nya. Sungguh suatu pengalaman iman yang istimewa. Peristiwa yang terjadi ketika manusia mengikuti ajakan Tuhan untuk pergi ke tempat yang tinggi. Di tempat yang tinggi itulah pengalaman iman didapatkan. Ada kebahagiaan yang dialami sebagaimana perkataan Petrus: “Rabi, betapa bahagianya kami berada di tempat ini.” Bahagia karena mereka berada bersama Yesus yang mulia.   
            Kemuliaan Yesus itulah yang hendak ditunjukkan kepada para murid-Nya: “Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia.” Penegasan yang diperdengarkan di balik awan yang menaungi mereka. Suara yang mengikuti pengalaman mengesankan para murid dalam perubahan rupa Yesus. Sama seperti kilat yang muncul selalu diikuti dengan suara yang menggelegar demikian pula setelah penglihatan pakaian Yesus yang sangat putih berkilat-kilat terdengar pula suara ilahi di balik awan. Dengarkanlah Dia! Murid memang harus mendengarkan Sang Guru sehingga hidupnya bisa berkembang dalam cahaya kebenaran sebagaimana cahaya dalam bentuk kilatan yang meluap dari diri Yesus. Akan tetapi Yesus tidak menginginkan para murid-Nya untuk menceritakan pengalaman unik dan istimewa tersebut kepada orang lain. Ada pesan untuk merahasiakan kejadian ilahi yang dialami sebelum Anak Manusia bangkit dari antara orang mati. Pesan yang tentunya harus didengar. Dengarkanlah Dia!
            Larangan untuk tidak menceritakan peristiwa di atas gunung sebenarnya untuk mengingatkan para murid bahwa penceritaan mengenai diri Yesus tidak perlu harus menyilaukan pandangan banyak orang tentang diri-Nya. Biarlah pengalaman kehadiran Tuhan dialami melalui peristiwa konkrit harian. Murid memang harus realistis dalam mewartakan kebaikan Sang Guru. Kebaikan yang harus dialami dan dirasakan secara inderawi, bisa ditangkap oleh panca-indra dan tidak harus menakutkan banyak orang seperti halilintar yang menakutkan dan membuat orang-orang menutup diri mancari tempat yang aman. Para rasul perlu mewartakan Yesus yang konkrit, dekat, baik, dan tidak menakutkan. Yesus memang sungguh sangat baik. Dengarkanlah Dia, dengarkanlah firman-Nya. Seperti itu maka pengalaman ilahi pasti juga akan dialami. (Fr. Lucky)







Tidak ada komentar:

Poskan Komentar