Rabu, 08 Februari 2012

JEJARING SOSIAL FACEBOOK DAN PENGARUHNYA BAGI PEWARTAAN INJIL


(Resume, Pra-Tesis)
Lucky Singal
Istilah “facebook” saat ini telah mewabah hampir di seluruh dunia. Ada keragaman pendapat tentang jejaring social ini. Ada yang mengatakan bahwa yang namanya facebook tidak lebih dari pembuangan waktu. Yang lain mengatakan belum ada kebutuhan tentang hal ini. Ada juga yang dengan malu-malu menyebut bahwa mereka memiliki akun namun membatasi diri sebagai pengguna pasif. Yang lain menyatakan penolakan karena facebook dianggap pendangkalan hidup di kampung global. Pandangan lain mengetengahkan pengaruh penting facebook untuk jalinan relasi, komunikasi dan bahkan penguatan kekompakkan kelompok, institusi dan agama. Data statistik per Novomber 2001 menunjukkan fakta berikut:[1] Lebih dari 800 juta pengguna aktif, lebih dari 50% User Active login setiap harinya, rata-rata pengguna memiliki lebih dari 130 teman, User berinteraksi lebih dari 900 juta object yang ada (pages, groups, games, events dan community pages), rata-rata User terhubung ke lebih dari 80 community pages, groups, event dan lainnya, rata-rata 250 juta foto dan video di Upload ke Facebook, lebih dari 70 Bahasa berinteraksi di FB, rata-rata pengguna FB memainkan atau menjalankan lebih dari 20 Juta aplikasi dan games setiap harinya, setiap bulan, lebih dari 500 juta pengguna menggunakan aplikasi di facebook atau di situs luar, lebih dari 7 Juta aplikasi dan situs yang terintegrasi dengan facebook, lebih dari 350 Juta pengguna aktif mengakses FB dari gadget atau handphone, lebih dari 475 operator selular berinteraksi dan mempromosikan Facebook sebagai bagian dari produk layanan mereka.
Fakta di atas menunjukkan bahwa facebook saat ini telah menjadi website handal yang hampir menguasai pasaran situs dunia. Facebook dimengerti sebagai sebuah layanan jejaring sosial dan situs web yang diluncurkan pada Februari 2004 yang dioperasikan dan dimiliki oleh Facebook, Inc. dengan slogan "Membantu Anda terhubung dan berbagi dengan orang-orang dalam kehidupan Anda". Pendirinya adalah Mark Elliot Zuckerberg. Facebook menjadi sarana sosial yang membantu orang berkomunikasi secara lebih efisien dengan teman, keluarga, dan rekan kerja. Perusahaan ini mengembangkan teknologi yang memudahkan berbagi informasi melalui grafik sosial, pemetaan digital hubungan sosial orang di dunia nyata. Siapa pun boleh mendaftar ke Facebook dan berinteraksi dengan orang yang mereka kenal dalam lingkungan yang terpercaya.[2] Facebook adalah bagian dari hidup jutaan orang di seluruh dunia. Justru karena efek social facebook ini begitu signifikan, maka situs ini dimanfaatkan oleh berbagai pihak untuk aneka macam kepentingan. Ada sementara pihak yang menjadi user negative, terror lewat media, pembuatan group bengkok dalam bentuk pemasaran seksual, PSK on line, penipuan, dll. Tidak sedikit juga perusahaan seperti Coca-cola, Yamaha, dan perusahaan swasta yang mempromosikan produk lewat media ini. Hal yang diingat orang sampai saat ini adalah terpilihnya Barrack Obama sebagai presiden salah satunya lewat pemanfaatan facebook untuk penggabungan massa pendukung. Di sisi lain terungkap  pemanfaatan jejaring social ini untuk menghimpun dan menunjukkan eksistensi lembaga, seperti persekolahan, universitas, LSM, serta institusi Gereja. Hampir-hampir media social ini telah menjadi lifestyle penduduk bumi, terutama masyarakat muda. Justru karena fenomena facebook yang terus mendunia, menyebar ke sagala pelosok dan sudut-sudut bumi, maka penting juga bagi Gereja untuk masuk dan mewartakan imannya. Paus Yohanes XXIII ketika bermaksud mengundang Konsili Vatikan II pada tahun 1959, mencanangkan "aggiornamento" atau pembaruan Gereja. Gereja menyesuaikan diri dalam zaman baru, agar dapat memberi sumbangan yang efektif bagi pemecahan masalah-masalah modern. Saatnya pula bagi Gereja untuk menyesuaikan diri dengan jejaring social mutakhir, facebook. Paus Yohanes Paulus II menyebut bahwa wajah Kristus perlu pula tampil dalam dunia ciyberspace. Ia menyebut:[3] “Internet menampilkan bermilyar-milyar gambar di jutaan monitor komputer di seluruh jagad. Dari galaksi gambar dan suara akan tampilkah wajah Kristus dan terdengarkankah suara-Nya? Karena hanya kalau wajahnya terlihat dan suaranya terdengarkan dunia akan mengetahui kabar gembira dari penebusan kita. Inilah tujuan pewartaan Injil. Dan inilah yang akan menjadikan Internet sebuah ruang kemanusiaan yang sejati, karena kalau tidak tersedia ruang untuk Kristus, tidak akan ada ruang untuk manusia. Oleh karena itu, saya dengan tegas memutuskan untuk mengundang seluruh Gereja untuk dengan berani melintasi ambang pintu yang baru ini, untuk mengayuh ke kedalaman Jaringan (Net) ini, sehingga sekarang sebagaimana dulu interaksi antara Injil dan budaya dapat memperlihatkan kepada dunia "kemuliaan Allah di wajah Kristus" (2 Kor 4:6). Semoga Tuhan memberkati semua yang berkerja demi tujuan ini.” Dalam pesan hari komunikasi sedunia ke-45[4], Paus Benediktus XVI juga memberikan penegasan: Saya ingin mengajak orang-orang kristiani dengan percaya diri, dan dengan kreatifitas yang terbina dan bertanggungjawab bergabung dalam jejaring hubungan yang dimungkinkan oleh jaman digital. Hal ini bukan saja untuk memuaskan keinginan untuk hadir, tetapi karena jejaring ini merupakan bagian utuh dari hidup manusia. Internet memberikan sumbangsih bagi perkembangan cakrawala intelektual dan spiritual yang lebih kompleks, bentuk-bentuk baru kesadaran berbagi. Di dalam wilayah ini juga kita dipanggil untuk memaklumkan iman kita bahwa Kristus adalah Allah, Penyelamat umat manusia dan Penyelamat sejarah,yang di dalam-Nya segala sesuatu memperoleh kepenuhannya (Bdk. Ef. 1:10).”
            Pewartaan Injil lewat facebook sangat relevan saat ini. Tujuannya adalah untuk memperkenalkan Kristus, kebenaran dan kasih-Nya. Paulus menyebut dengan jelas: “Celakalah aku jika tidak memberitakan Injil.” (1 Kor. 9:16). Ia juga memanfaatkan cara-cara yang baik untuk pewartaan tersebut: “Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat. Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku tidak hidup di luar hukum Allah, karena aku hidup di bawah hukum Kristus, supaya aku dapat memenangkan mereka yang tidak hidup di bawah hukum Taurat.” (1Kor 9:20-21). Paulus barangkali juga akan memanfaatkan facebook apabila jejaring social ini sudah ada pada zamannya. Bahwa pewartaan lewat media ini sangat relevan, hal tersebut dikondisikan oleh beberapa factor:
            Pertama, populasi pengguna facebook yang terus meningkat. Makin banyaknya pengguna facebook di dunia merupakan alasan mengapa facebook penting dalam pelaksanaan evangelisasi. Data terakhir menunjukkan bahwa sudah sekitar 800 juta penduduk dunia yang menjadi konsumen situs ini. Jika jumlah tersebut dibandingkan dengan jumlah penduduk dunia saat ini yang berjumlah 6.868.638.152 jiwa[5], maka jumlah pengguna facebook dalam lima tahun sejak dirilisnya media social tersebut sudah mencapai 11,6 % penduduk dunia. Indonesia sendiri menempati urutan kedua jumlah user terbesar, yaitu 35 juta orang. Itu berarti bahwa pengguna facebook Indonesia sudah mencapai 13,5 % jika melihat keseluruhan jumlah penduduk Indonesia saat ini, yaitu 259.940.857. Pengguna terbesar masih AS di atas 152 juta pengguna. Sementara Inggris telah dilampaui Indonesia turun ke urutan ketiga mendekati 29 juta pengguna.[6] Dengan jumlah user yang demikian besar sambil memperkirakan bertambahnya jumlah pengguna pada waktu-waktu yang akan datang, maka facebook jelas menjadi sarana alternative untuk melengkapi komunikasi iman Gereja. Fakta yang muncul adalah bahwa setiap tahun pengguna facebook itu bertambah ratusan juta orang.
            Kedua, biaya akses yang murah dengan jangkauan yang luas. Akses facebook memang tergolong ekonomis. Di samping murah, biaya operasional melalui media tersebut juga berisiko kecil. Ini bisa dibandingkan dengan pewartaan Injil secara langsung dari kampung ke kampung dengan kebutuhan energi, biaya, dan risiko yang besar. Hal ini tentu saja bukan untuk menggantikan pewartaan langsung. Akan tetapi karena fenomena facebook memang mulai mewaba dalam segala lapisan masyarakat, maka sangatlah wajar jika pewartaan digital melalui tool ini dilaksanakan. Dengan kemudahan dan biaya yang relative kecil, para pelaku pastoral pun mendapatkan kemudahan dan fasilitas dalam cara pewartaan.
            Ketiga, ketersediaan fitur yang memungkinkan pewartaan yang baik. Beberapa hal yang menonjol dan telah digunakan sebagai sarana pewartaan dalam facebook adalah facebook group, facebook fun page, facebook share, serta status update/upload photo. Facebook group diperuntukkan sebagai “tempat berkumpul” user facebook dengan kesamaan minat tertentu. Tujuannya untuk gathering.  Menjadi bagian dari komunitas groups. Grup inilah yang menjadi sarana utama dalam facebook yang digunakan untuk pewartaan. Ada beberapa grup religious di facebook, khususnya di Indonesia yang saat ini mendapatkan banyak kunjungan, yaitu: Mempertanggung-jawabkan Iman Katolik, Pendalaman Iman, Persahabatan Katolik, Bunda Maria, dan Bangga Menjadi Katolik. Sementara facebook fun page merupakan fitur yang penting dalam facebook yang menarik dimanfaatkan sebagai media pewartaan. Tujuannya adalah untuk promosi. Status hubungan di page adalah fan. Artinya kedudukan page dan member seperti antara artist dan penggemar. Fitur halaman inilah yang juga banyak dimanfaatkan untuk pendidikan iman. Ada beberapa halaman yang berkaitan dengan kehidupan Gereja: Katolik Roma, Misa Tradisional Katolik Roma di Jakarta (SSPX), 100% katolik roma, Gereja Katolik Roma, Roma Katolik, Tradisi Katolik, Berita Katolik, Konsili Vatikan II, Vatikan, Yohanes Paulus II, Paus Benediktus XVI, dll. Fitur lain yang baik untuk pewartaan adalah facebook share. Share Bookmarklet adalah tools yang memungkinkan untuk berbagi halaman web yang menarik kepada teman-teman di friendlist. Yang dibagikan biasanya adalah artkel, gambar, foto, atau hal-hal menarik dari website lain ke dalam facebook. Ketika sudah masuk dalam facebook, maka halaman web tersebut bisa pula dibagikan dengan tools facebook yang ada di bagian bawa postingan. Fitur ini banyak dimanfaatkan untuk berbagi pengetahuan iman, berbagi berita Katolik, atau juga artikel menarik untuk dinikmati user facebook.. Cara ini efektif dan efisien. Indikasinya adalah banyaknya jumlah tamu yang mampir ke blog atau situs yang dishare. Fitur lainnya adalah status update, yaitu yang memudahkan dan memungkinkan untuk mengetahui keadaan teman-teman tanpa harus bertemu/berkomunikasi langsung dengannya. Dengan facebook, kondisi dari banyak teman-teman bisa diketahui dalam waktu yang sama, kapan saja. Di sini pula bisa diketahui berita-berita terbaru dan terhangat. Pembaharuan status dalam kaitan dengan pewartaan berisi ayat-ayat Kitab Suci, ungkapan-ungkapan rohani, ucapan selamat merayakan pesta, ucapan ulang tahun ke dinding teman, dan bisa juga dengan menambahkan foto rohani, seperti gambar santo/a, gambar Yesus, Maria, dan gambar rohani lain yang berguna bagi perkembangan iman kristiani.

            Dengan demikian, pewartaan lewat facebook sebenarnya bukan lagi barang baru. Hanya saja realitas yang ada menunjukkan ketidaktertiban pewartaan. Orang memposting artikel-artikel dan juga kutipan-kutipan ajaran Gereja tanpa kejelasan informasi dan penjelasan memadai, ada juga postingan yang secara jelas bertentangan dengan ajaran Gereja. Tidak jarang bahwa postingan religious justru mendapatkan reaksi negative, orang berdebat dan menyudutkan orang lain. Justru karena itu maka perlulah satu cara pewartaan yang santun dan etis. Dalam rangkah pelurusan pewartaan di facebook, maka yang paling penting adalah cara pewartaan tersebut bisa menjawab kebutuhan dan sesuai keinginan masyarakat facebook. Sekarang dikenal istilah “marketing church”, semacam cara Gereja untuk menjual produk imannya. Hal ini mengena dengan ungkapan di atas bahwa facebook telah menjadi lifestyle sebagian besar masyarakat. Itu berarti bahwa lifestyle tersebut telah menunjuk pada segmentasi pasar secara psykografi, yaitu gaya hidup dunia. Dalam arti itu Gereja juga bisa masuk dan memasarkan produk imannya. Cara pemasaran yang dimaksud bukan menunjuk pada penjualan iman, melainkan pada cara Gereja mewartakan iman dalam dunia internet. Kalau istilah pemasaran itu dipinjam, maka yang paling nyata adalah produk, produsen, dan konsumen.
            Pertama adalah produsen/pemasar (pewarta). Ini menunjuk pada pelayan pastoral. Saat ini bermunculan begitu banyak penulis religious dalam bentuk renungan, ajaran iman, atau juga perumusan modul katekese untuk anak-anak, keluarga, dan Gereja secara umum. Hasil karya mereka merupakan tanda nyata dari mimpi untuk mengajarkan kebenaran kepada dunia berdasarkan iman kristiani. Hasil produksi tersebut pantas untuk mendapatkan penghargaan. Penghargaan itu tidak akan ada jika tulisan dan karya-karya yang dibuat tidak dibagikan dan diajarkan kepada orang lain. Facebook menjadi sarana alternative untuk menjual produk tersebut. Cara penjualan lewat facebook adalah dengan masuk dan menjadi pemasar dalam situs tersebut. Dalam facebooklah produk iman yang tercipta bisa dijual untuk kepuasan para konsumen. Di sinilah penulis itu menjadi seorang pemasar. Sebagai pemasar, maka perlulah pembentukan citra diri yang baik, yaitu untuk menunjukkan bahwa ia adalah seorang pakar religious dan sekaligus seorang pewarta. Kenyataan yang muncul adalah banyaknya user facebook yang tidak bisa menjaga reputasi dan citra diri sehingga tidak ada kepercayaan publik kepadanya. Yang penting adalah selalu belajar dan mengkomunikasikan diri sebagai pewarta, dan sebagai  pakar dalam dunia religius. Tingkatkan kualitas pelayanan serta melatih diri dan orang-orang yang ada di sekitar agar bisa bersikap ramah dan melayani pengunjung akun facebook yang dimiliki dengan baik. Prinsipnya adalah ramah, sopan, dan memuaskan. Hal-hal teknis berkaitan dengan pemasar iman yang baik adalah tampil sebagai pewarta kabar gembira. Dengan demikian perlu ada foto profil sebagai marketer religious. Frater dengan busana rohaninya, begitu juga pastor dengan kasulanya. perlu terlihat baik dan kudus. Itulah identitas sebagai marketer religious. Dengan demikian user facebook langsung bisa membedakan dengan foto awam atau anak ABG yang lebih santai atau casual. Hal lain yang perlu dilakukan adalah menanggapi secara pribadi setiap komentar dan pesan yang masuk dalam akun. Ini adalah cara berhubungan dengan orang di facebook. Isi semua yang ada di halaman biografi dan halaman informasi. Buatlah mudah bagi orang lain untuk menghubungi dan melihat siapa saya sebenarnya. Selengkapnya, untuk menjadi pemasar religious yang baik dalam pasaran facebook, perlulah membangun beberapa fondasi keperibadian berikut:[7] 1) Fondasi spiritual, yaitu: a. Pertobatan: Paulus dapat mewartakan Tuhan dengan luar biasa setelah pertobatannya (lih. Kis 9:1-22). Diperlukan pertobatan secara terus menerus agar dapat mewartakan iman di facebook dalam kondisi rahmat. Hubungan yang baik dengan Tuhan memungkinkan penyampaian kebaikan Tuhan dengan lebih benar dan indah. b. Kasih kepada Tuhan dan kasih kepada sesama: Dua perintah utama ini harus menjadi dasar dari karya kerasulan. Karya kerasulan bukan merupakan tujuan. Semua karya kerasulan hanyalah cara untuk mengasihi Kristus dan Gereja-Nya, yang diwujudkan dengan mengasihi sesama. Kecintaan kepada Kristus dan Gereja-Nya merupakan perwujudan kasih kepada Kristus secara keseluruhan. Kristus sebagai Mempelai Pria mengasihi Mempelai wanita-Nya, yaitu Gereja, hal yang sama juga penting dilaksanakan, yaitu mengasihi Gereja-Nya, Gereja Katolik dan seluruh umat Allah. c. Berakar dalam Sakramen, Sabda Allah dan doa, d. Mohon rahmat kerendahan hati dan kebijaksanaan: Karya kerasulan lewat facebook perlu didasari dengan kerendahan hati. Kerendahan hati memungkinkan untuk menempatkan kebenaran yang diajarkan oleh Magisterium Gereja Katolik di atas pengertian pribadi; dan pada saat yang bersamaan mencoba dengan segala kekuatan untuk menerima kebenaran tersebut dengan sukacita dan menjalankannya dalam hidup harian. Mengetahui kebenaran adalah satu hal, namun menyampaikan kebenaran adalah hal yang berbeda. Perlu rahmat kebijaksanaan, sehingga kebenaran dapat disampaikan dengan tepat, hormat dan lemah lembut, tanpa mengorbankan kebenaran, namun justru memperkuat kebenaran yang disampaikan. 2) Fondasi intelektual, yaitu: a. Mempelajari iman Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci, dan Magisterium Gereja: Kesadaran bahwa karya kerasulan dalam dunia digital adalah untuk mewartakan Kristus dan Gereja-Nya, maka karya merasul harus digali dari sumber-sumber yang menjadi pilar kebenaran, baik Kitab Suci, Tradisi Suci maupun Magisterium Gereja. Dengan menggali dasar kebenaran tersebut secara terus-menerus, warta kebenaran akan sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Gereja, b. Mengikuti keputusan Magisterium: tahu benar apa yang sebenarnya diajarkan oleh Magisterium Gereja. Apa yang telah diputuskan oleh Magisterium Gereja merupakan kebenaran yang harus diikuti.
            Kedua, menentukan produk yang akan dijual. Ada begitu banyak produk yang beredar di facebook. Ada yang dishare lewat wall, ada juga lewat undangan acara, dan ada melalui iklan facebook. Kualitas produk yang dirasakan pelanggan akan menentukan persepsi pelanggan terhadap kinerja yang otomatis akan berdampak pada kepuasan pelanggan. Kepuasan pelanggan berkaitan erat dengan mutu. Mutu mempunyai dampak langsung pada prestasi produk dan dengan demikian kepuasan pelanggan. Bila produk jauh lebih rendah dari harapan pelanggan, pelanggan tidak puas. Bila prestasi sesuai dengan harapan. pembeli jasa merasa puas. Bila prestasi melebihi harapan, pembeli jasa merasa amat gembira. Pelanggan yang merasa puas akan membeli ulang dan mereka memberi tahu orang lain mengenai pengalaman baik dengan produk itu. Kuncinya adalah memenuhi harapan pelanggan. Pemasaran produk iman dalam facebook akan efektif dan efisien jika produk pewartaannya berkualitas. Kualitas produk iman ditentukan oleh kemampuan intelektual pewarta untuk menulis dan membuat produk yang kreatif. Pertama-tama pemasar produk perlu banyak belajar agar produk imannya bisa laku di pasaran. Tidak semua segi iman bisa dipasarkan sekaligus. Karena itu dalam share di facebook, perlu pula melihat jenis pewartaan apa yang akan dilakukan. Apakah renungan, ajaran Gereja, Dogma, riwayat hidup santo/santa, litugi, pastoral, apologetic, Maria, dll. Memilih satu konsentrasi pewartaan lebih efektif daripada memasarkan semua produk dengan kualitas seadanya. Pilih satu bagian dari pewartaan dan berkonsentrasi. Dengan cara itu pelanggan facebook akan tahu ke mana mau cari apa dari siapa. Konsentrasi pada pewartaan riwayat hidup santo dan santa misalnya akan memungkinkan pelanggan mengetahui bahwa untuk bisa mengetahui siapa sebenarnya Fransiskus Xaverius maka mereka akan masuk ke halaman atau group tersebut. Sambil menata pewartaan dalam satu group, maka untuk lebih mempercantik dan meluaskan jangkauan produk perlu pula memasukkan fitur lain dalam bidang produk yang dipilih, seperti memasukkan foto santo-santa atau membuat acara group produk yang bersangkutan. Tidak cukup hanya dengan mengandalkan kualitas produk utama namun pelayanan yang memuaskan juga perlu mendapat perhatian. Seperti halnya operator seluler bukan hanya menjual pulsa, tapi juga ringtone, sampai info ramalan nasib.
            Ketiga, konsumen.  Ketika facebook dilihat sebagai suatu perkampungan global, maka di kampung tersebut terdapatlah 800 juta calon konsumen. Semuanya bisa menjadi konsumen dalam market religious. Akan tetapi penjualan produk iman perlu realistis. 800 juta user facebook menyebar di lebih dari 70 negara. Karena itu pemasaran bisa dilakukan dengan membuat pasar kecil sendiri dalam bentuk group atau halaman, bisa juga penjualan dari rumah sendiri (akun pribadi) lewat dinding pribadi atau menjual ke pasaran orang lain dengan produk iman yang sama. Intinya adalah agar para konsumen bisa merasakan kepuasan atas produk iman yang diungkapkan. Pewarta sebagai marketer perlu datang ke rumah hati orang lain sambil menawarkan kebaikan dan kebenaran. Dalam rangka menjamin penerimaan para customer, maka penting bagi pewarta sebagai marketer untuk mengenal perilaku konsumen, dan menentukan strategi untuk kepuasan konsumen. Strategi tersebut menunjuk pada strategi menyerang, yaitu bersikap agresif dalam menjerat pelanggan, agresif dalam arti memiliki persiapan menyerang yang matang dan cukup kuat untuk menyerang. Produk iman misalnya sudah bagus tetapi strateginya kurang baik justru tidak akan mempengaruhi pasar. Caranya adalah: a. Melakukan promosi atau advertisement yang menerangkan bahwa pewartaan yang dilakukan memiliki fasilitas pelayanan lebih baik dibanding sebelumnya. Banyak jalan untuk mempromosikan produk iman dalam facebook, misalnya lewat promosi group, halaman atau website, b. Memberikan hadiah kepada pelanggan lama yang dapat membawa beberapa pelanggan baru. Produk iman di facebook pasti akan mendatangkan pelanggan. Produk yang dikelola dalam pasaran-pasaran yang disegmentasi dalam halaman, group atau dinding pribadi. Menariknya produk iman otomatis akan memuaskan kebutuhan pelanggan. Prinsip bahwa pembeli adalah raja perlu mendapatkan penekanan. Jika produk iman itu bagus dan mempengaruhi konsumen, maka bisa dipastikan bahwa pelanggan tersebut akan menambahkan konsumen baru dalam jumlah besar ke dalam group iman yang telah dibuat, atau mempromosikan halaman religious yang mereka rasakan sangat baik melalui dinding profil mereka. Dengan cara itu banyak orang akan masuk dalam jaringan pertemanan dan menjadi member dalam rumah pemasaran yag telah dibuat. Kepada pelanggan seperti itulah perlu dijaga relasi baik. Hadianya bukan dalam bentuk materi, melainkan lewat kerendahan hati untuk memberikan jempol pada status mereka, atau memberikan komentar untuk tetap menjaga kedekatan dengan pelanggan setia. Di samping bersikap agresif, perlu pula strategi defensif atau bertahan. Strategi mempertahankan yang sudah ada, dilakukan untuk meningkatkan fasilitas pelayanan yang dimiliki. Seperti: Menyediakan beberapa fasilitas yang dapat memberikan kenyamanan pelanggan. Misalnya memberikan tag gambar rohani kepada teman user facebook yang telah menjadi pelanggan, menandai mereka dalam artikel atau renungan baru yang dipasarkan. Dengan begitu mereka akan merasa diperhatikan, Mengirimkan ucapan selamat pada hari ulang tahun dan hari-hari besar keagamanan bagi pelanggan setia dan pelanggan baru yang menjadi sasaran pemasaran produk iman. Bagus pula untuk mengetahui sejauh mana produk iman itu telah menjawab kebutuhan dan kepuasan konsumen dengan memakaisSistem keluhan dan saran dalam aku facebook, membuat survei kepuasan pelanggan, dan membuat analisis pelanggan yang hilang.
            Penegasan terakhir, facebook saat ini memang telah mendunia. Akan tetapi tanpa facebook, kerya kerasulan Gereja akan tetap terlaksana. Facebook hanya sarana. Itu berarti bahwa facebook lebih ke pelengkap pewartaan. Yang lebih penting adalah pertemuan dan pewartaan langsung. Akan tetapi sebagaimana seruan Gereja untuk memanfaatkan teknologi dan penemuan terbaru dalam pewartaan, maka facebook juga menjadi alternatif pewartaan. Cara terbaik pewartaan lewat facebook adalah persiapan pribadi, yaitu landasan spiritual dan landasan intelektual yang mendukung untuk itu. Jadilah pelayan pastoral yang bertanggung-jawab, sopan, dan etis.


[1] http://www.facebook.com/press/info.php?statistics
[3] Paus Yohanes Paulus II, Pesan Hari Komunikasi Sedunia ke-36: Internet: Forum Baru bagi Pewartaan Injil, Vatikan: 24 Januari 2002, Pesta Santo Fransiskus dari Sales

[4] BenedictusPP XVI, Pesan Hari Komunikasi Sedunia ke-45, Kebenaran,Pemakluman dan Kesejatian Hidup di Jaman Digital, Vatikan 24 Januari 2011 pada Pesta St,Fransiskus de Sales
[5] Jumlah penduduk dunia (13 September 2010) menurut IDB (International Data Base) Biro Sensus Amerika Serikat, divisi populasi adalah : 6.868.638.152 jiwa (www.un.org)
[6] Tri Wahono, Rata-rata Pengguna Facebook Indonesia Paling Muda di Dunia (Kompas, Kamis, 7 April 2011)
[7] http://katolisitas.org/2011/10/23/pewartaan-kristus-di-zaman-digital-dengan-semangat-rasul-paulus/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar