Minggu, 20 November 2011

Jangan Tunda Bilang: "I Love You."

Cerita ini ditulis dari Audiobook Ceramah yang berjudul “Jangan Menunda Bilang I Love U” yang dibawakan oleh Bhante Kheminda

Kisah ini terjadi pada sepasang suami istri yang telah menikah selama 10 tahun lamanya. Dari hasil pernikahan mereka telah dikaruniai seorang anak yang masih berusia 8 tahun. Namun, akhir bulan-bulan setelah 10 tahun pernikahan mereka, hubungan mereka mengalami suatu kemunduran yang tidak mereka harapkan.

Pada suatu malam, sewaktu mereka sedang menikmati santap malam bersama di rumah. Sang suami berkata kepada sang istri, “Malam ini aku ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting kepada kamu”. Kemudian sang istri menduga bahwa hal yang sangat penting yang akan dikatakan suami kepada dirinya pasti adalah sesuatu yang sangat negatif untuk perkawinan mereka. Lalu sang istri mencoba untuk bereaksi secara tenang, dia memejamkan mata untuk menahan kepedihan sendiri dan berkata. “Apa itu?”

Lalu sang suami menjawab sambil menikmati makan malamnya, “Saya ingin menceraikan kamu” Lalu sang istri mencoba untuk tetap kuat bertahan dan tidak bereaksi secara negatif. Dia terus menerus memejamkan mata dan tidak mampu untuk melanjutkan makam malamnya. Kemudian sang istri menanyakan balik ke suaminya. “Kenapa? Alasannya apa?”. Sang suami tetap diam dan tidak memberikan alasan apapun kepada istrinya, kemudian dia cepat-cepat menyelesaikan makan malamnya dan langsung masuk ke kamar tidur,

Sang suami berpikir, “Bagiamna mungkin saya memberikan alasan saya kepada istri saya, saya tidak tega memberitahunya bahwa saya mempunyai wanita lain di luar sana, biarlah alasan ini saya pendam”

Keesokan harinya, sang suami memberikan satu draft rancangan penceraian kepada istrinya, Di dalam draft rancangan tersebtut ditulis bahwa sang istri boleh menguasai 30% saham perusahaannya, memperoleh rumah dan mobil. Kemudian sang istri membaca sebentar rancangan tersebut dan merobek-robeknya.

“Saya tidak membutuhkan semua ini”, ujar sang istri kepada suaminya.

Sang suami kaget dan berpikir bahwa pasti sang istri sudah shock. Dia menyadari bahwa kejadian ini pasti sangat berat untuk diterima oleh istrinya. Untuk menghindari pertengkaran yang lebih lanjut sang suami kemudian langsung pergi meninggalkan istrinya dan menuju ke kantor.

Malam harinya, sang suami tidak makan malam di rumah karena dia sudah kecapekan setelah seharian menghabiskan waktunya dengan pacar barunya. Sewaktu menuju kamar tidur, dia mendapatkan sang istri sedang duduk di atas meja sambil menulis sesuatu, kemudian dia langsung masuk ke kamar tidurnya dan tidak menghiraukan apa yang dilakukan oleh istrinya.

Keesokan paginya, sang istri menyodorkan sepucuk kertas hasil tulisannya semalaman kepada suaminya. Kemudian sang suami membacanya. Di dalam surat tersebut disebutkan bahwa sang istri akan menerima perceraiannya ini dengan dua syarat.

Syarat pertama menyebutkan bahwa perceraian ini akan terjadi setelah satu bulan kemudian karena anak mereka satu-satunya sedang ujian sehingga sang istri tidak ingin perceraian ini menggangu proses belajar anaknya. Dan syarat kedua adalah selama sebulan ini setiap hari sewaktu bangun tidur sang istri meminta kepada suaminya untuk mengandeng sang istri keluar dari kamar tidur menuju ke ruang tamu dengan cara yang sama persis pada waktu malam pertama pernikahan mereka.

Sang suami merasa sangat aneh dengan permintaan sang istri. Namun, sang suami tidak peduli apa yang dipikirkan oleh istrinya, dia merasa yang terpenting istrinya mau diceraikan, dia juga berpikir sangat beruntung sekali sang istri tidak mau 30% saham, rumah, dan mobilnya karena nantinya bisa diberikan kepada pacarnya.

Pada hariitu juga sang suami memamerkan surat rancangan sang istrinya kepada pacar barunya. dan pacar barunya tertawa genit melihat permintaan istrinya yang aneh itu.

Kemudain setelah permintaan sang istri disepakati oleh sang suami, di pagi harinya sewaktu mereka bangun tidur sang suami mengandeng sang istrinya keluar dari kamar tidur menuju ruang tamu dengan mesra sekali seperti pada hari pertama pernikahan mereka, sewaktu dia mengandeng istrinya masuk ke kamar tidur.

Di hari pertama itu, ada kecanggungan di antara mereka berdua. Anaknya kaget melihat hal yang luar biasa yang tidak pernah dilihat sebelumnya dari arah belakang anaknya berteriak girang, “Aaa horee papa papa gandeng mama!!”. Kemudian secara spontan sang istri bilang kepada suaminya sambil memejamkan mata, “Jangan hiraukan dia, teruslah melangkah dan jangan katakan kepada dia bahwa kita akan bercerai” Sang suami sempat melirik kepada istrinya dan melihat ada butir-butir air mata yang menetes di kedua mata sang istrinya.

Pada hari kedua, rasa canggung di antara mereka mulai hilang. Sang suami sudah bisa mereasakan harumnya parfum sang istri dan dia menoleh ke istrinya dan dia terkejut melihat wajah istrinya yang terdapat keriput-keriputnya dan terlihat tua. Dia tersadar bahwa selama ini dia tidak pernah memperhatikan istrinya.

Pada hari ketiga, keduanya sudah merasa biasa dan rasa canggung di antara mereka sudah mulai hilang. Sewaktu sang suami mengandeng sang istri menuju ruang tamu, sang istri memberikan kepalanya bersandar di pundak sang suami dengan mesranya.

Pada suatu hari, sewaktu sang istri sibuk memilih gaun apa yang akan dipakai untuk keluar dari kamar, sang istri berkata. “Oh Semua gaunku sudah menjadi semakin besar” tiba-tiba suaminya menjadi tersentak dan menyadari bahwa sang istrinya kini menjadi semakin kurus dan melihat wajahnya menunjukkan seperti seseorang yang menderita hidupnya. Kemudian sang anak tiba-tiba masuk ke kamar mereka dan berkata “ Papa papa!! Ini waktunya papa gandeng mama lagi, ayo gandeng mama papa….” Kemudian sang istri memanggil sang anak dan mendekap sang anak dengan penuh rasa cinta kasih. Sang suami sempat melihat bahwa sang istri sempat meneteskan air mata lagi. Sang suami berpikir bahwa ini merupakan peristiwa terbeart bagi istrinya dan dia tidak sanggup menghadapi apa yang akan terjadi setelah 1 bulan ini.

Pada hari terakhir, sang suami menyadari bahwa sebenarnya dia masih cinta kepada istrinya. Permasalahan ini sebenarnya terjadi karena selama ini dia telah meninggalkan kebiasan-kebiasan bagus yang telah mereka bangun sebelumnya. Sehingga rasa cinta mereka terpendam oleh kebiasan baru yang lain di luar hidup mereka berdua.

Menyadari bahwa dia masih cinta kepada istrinya, setelah dia terakhir kali mengandeng istrinya keluar dari kamar menuju ruang tamu. Sang suami langsung menuju ke rumah pacarnya dan mengatakan secara tegas kepada pacarnya.

“Kita tidak jadi menikah, saya menyadari bahwa saya masih mencintai istri saya. Saya ingin tetap mempertahankan rumah tangga kami”

Mendengar ucapan sang suami tersebut, pacarnya yang genit itu marah dan ditamparnya. Akan tetapi tamparan itu tidak menghentikan niat dirinya untuk tetap mempertahan pernikahannya.

Kemudian dia bergegas meninggalkan pacarnya dan langsung menuju ke toko bunga untuk membeli bunga anggrek yang termahal untuk sang istri. Sewaktu membeli bunga tersebut, penjaga toko menyodorkan selembar kartu ucapan kepadanya. Lalu sang suami menulis di kartu tersebut.

Istriku tersayang,

Maafkan kesalah saya sayang…

Seharusnya sejak hari pertama pernikahan kita, saya harus mengandeng kamu keluar dari kamar kita sampai maut memisahkan kita,

Mulai hari ini, saya berjanji setiap pagi saya akan mengandeng kamu, istriku tericnta, keluar dari kamar sampai maut memisahkan kita.

I LOVE U

Kemudian dia cepat-cepat pulang menuju ke rumahnya dengan hati yang bahagia. Dia masuk rumah, membuka pintu, naik ke loteng dan membuka kamar mereka.

Dan…

Betapa terkejutnya dia ketika mendapatkan tubuh istrinya sudah terbujur kaku meninggal dunia di ranjang. Belakangan dia mengetahui dari dokter bahwa istrinya sedang mengalami kanker stadium terakhir dan istrinya sudah mengetahui bahwa sebulan lagi dia akan meninggal dunia. Kemudian sang suami menyadari itulah alasannya kenapa sang istri tidak mau harta kekayaanya.

Dia pun menagis atas kepedihan hatinya dan menyadari betapa mulianya hati sang istri, sang istri sudah tahu bahwa satu bulan lagi dia akan meninggal dan memberikan syarat perceraian dengan cara satu bulan penuh sang suami harus mengandeng dia keluar dari kamar tidurnya seperti pada waktu malam pertama pernikahan mereka supaya memberikan citra yang postif bagi sang suami kepada anaknya.

Coba anda bayangkan kalau perceraian itu terjadi dan sang anak ikut mamanya, dan mendapatkan mamanya meninggal dunia. Apa yang akan sang anak pikirkan kepada ayahnya? Sang anak ini akan berpikir bahwa ayahnya adalah orang yang paling jahat di seluruh dunia. Sehingga sang suami menyadari dan menyesal bahwa kesempatan dia untuk mengatakan cinta kepada istrinya hilang sama sekali.

OLeh karena itu, selama kita masih memiliki kesempatan dan peluang untuk berbuat baik marilah kita untuk melakukan suatu kebaikan ataupun mengungkapkan rasa cinta kita kepada orang yang kita cintai, sebelum kesempatan tersebut hilang dari diri kita

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar