Rabu, 15 September 2010
Senin, 13 September 2010
GERAK SENTRIFUGAL
[Hari Raya Kenaikan Tuhan]
(Kis 1:1-11; Ef 1:17-23; Luk 24:46-53)
Andai ada orang melempar batu ke air, maka akan muncul gerakan sentrifugal, yaitu lingkaran membesar yang menyebar dari titik pusat jatuhnya batu tersebut (lawan dari sentripetal). Makin besar batu yang dilemparkan akan makin besar pula lingkaran yang tercipta. Batu itu semacam memiliki kekuatan dan kuasa untuk mempengaruhi air. Kalau air itu menerima rangsangan, maka ia pasti akan bereaksi, yaitu dengan menunjukkan gerak melebar yang membentuk lingkaran dari titik pusat. Demikian halnya dengan manusia. Manusia memang bukan batu, tetapi kalau mengambil pengandaian dari batu yang dilempar di tengah air, maka akan ada reaksi yang luas kalau manusia menunjukkan kuasanya. Kuasanya itu tentu saja harus dinampakkan kepada orang lain. Namun kuasa yang dimaksudkan tentu saja lain. Yesus mengatakan bahwa para murid-Nya akan menerima kuasa kalau Roh Kudus turun atas mereka. dasarnya manusia memang sudah punya kuasa (bdk. kej.2:19-20). Namun dengan menjanjikan Roh Kudus, Yesus mau melengkapi para murid agar pengaruh mereka sungguh terasa.
Dengan kuasa yang dijanjikan, Yesus sebetulnya mau agar para murid menjadi saksi-Nya. Mereka menjadi saksi, bukan saja dalam lingkup sempit, Yerusalem dan Yudea, tetapi juga Samaria dan bahkan sampai ke ujung bumi. Itu berarti bahwa kuasa Roh Kudus yang akan menaungi mereka sungguh memiliki daya pengaruh yang luar biasa dari Yerusalem sampai ke ujung dunia. Mau dikatakan bahwa pewartaan Yesus harus menyentuh seluruh lapisan bangsa dan budaya. Bukan saja di Israel, melainkan bagi semua umat manusia. Tidak mengherankan kalau Yesus langsung memberi penegasan kepada para murid untuk tidak perlu mengetahui masa dan waktu yang ditetapkan Bapa sendiri karena mulanya para murid berpikiran sempit, yaitu pemikiran untuk pemulihan Israel sebagai satu bangsa. Bagi Yesus gema kuasa Roh Kudus yang akan deberikan-Nya tidak hanya untuk Israel, melainkan untuk semua bangsa. Itulah yang ditekankan Yesus sebelum kenaikan-Nya ke surga.
Perayaan kenaikan Yesus ke surga mau mengingatkan setiap orang Kristen untuk menjadi saksi Kristus. Itu berarti bahwa orang tidak boleh hanya berpikiran sempit dan dangkal, memikirkan sesuatu yang kosong, melainkan ia harus menunjukkan jati diri kekristenannya di tengah umat dan masyarakat. Setiap orang harus menunjukkan daya pengaruh dirinya sebagai orang baik di tengah-tengah lingkungannya. Pengalaman saat para murid terheran-heran sambil menatap langit ketika melihat Yesus terangkat ke surga justru mendapat teguran dari dua orang yang berpakaian putih agar mereka tidak terus-menerus melihat ke langit. Dengan melihat terus ke atas, mereka hanya melihat bayangan kosong, mengawan, dan tak berguna. Hal tersebut untuk menyebut juga bahwa orang seharusnya membuka mata bagi dunia sekeliling mereka. Harus ada keseimbangan antara penglihatan ke atas dan pengarahan pandangan ke sekeliling. Bahwa penglihatan akan Allah di surga harus mewujud dalam tindakan konkrit sehari-hari. Tindakan konkrit itulah yang akan mengakibatkan gerakan sentrifugal, yaitu pengaruh kebaikan diri sendiri melebar bagi orang-orang di sekitar. Kebaikan diri harus terungkap dan dialami oleh orang lain. Dalam arti itu gema kenaikan Yesus mendapatkan maknanya. Tidak sia-sialah berkat Yesus kepada para murid dan kepada semua yang percaya kepada-Nya. Seperti para murid yang pulang dengan sukacita setelah menerima berkat Yesus saat Ia terangkat ke surga, demikian saat ini semua orang juga mendapatkan berkat sukacita lewat kenaikan-Nya sekaligus ajakan untuk menjadi seperti para murid: senantiasa berada di rumah Tuhan dan memuliakan Allah.
SPICA
Benda langit yang memancarkan cahaya. Ada yang semu dan ada yang nyata. Namanya bintang. Mereka kemudian dinamai Spica, Rigel, Sirius, Matahari, Procyon, Arctarus, Betugeuese, dll. Nama-nama ini hanya sebagian dari jutaan bintang penghias angkasa. Hebatnya, deretan benda angkasa yang bercahaya ini bisa membuat kagum para penghuni bumi yang berotak dan berperasaan. Ada senyuman cinta yang seakan-akan memancar kala ia bersinar dan banyak pasang mata yang melihat keindahan yang dipertontonkannya menyatakan rasa cintanya. Cinta dan bintang! Manusia mencinta dan bintang menyampaikan salamnya. Di depan bintang manusia memang hanya bisa menyatakan kekagumannya. Ia tak bisa mencintai bintang dan tak bisa menjadi bintang dalam arti yang sesungguhnya. Akan tetapi kalau bintang diberi sentuhan cinta, maka muncul pilihan: “Mana bintang terbaik dan paling menyentuh?” Sementara orang memilih Rigel, Sirius, atau matahari. Yang lain memilih Archtarus atau Procyon. Satu yang terpilih kemudian dipersonifikasi menjadi satu pribadi yang dekat dan sehati dengan dirinya. Demikianlah saat ia memilih Spica, maka lewat bintang tersebut, ia bisa melihat kekasih hatinya tersenyum bahagia dan mencahayai hatinya. Mau pilih yang mana?
Ada yang memilih bintang semu yang tak menghasilkan cahaya sendiri dan hanya bisa memantulkan cahaya yang diterima dari bintang lain. Sementara sebagian memilih bintang nyata yang bersinar dari dirinya sendiri.
Kalau harus memilih, maka Spica pasti berada di urutan teratas. Pertama kerena Spica memang Aneh dan tak ada yang seunik dirinya. Kedua itulah bahwa ketika memandang cahaya indahnya, namanya selalu muncul. Ia seakan-akan hadir, menyinari dan mempercantik hidup. Kadang ia jauh tapi tetap ada. Jauh tapi tetap bercahaya. Saat ketika ia tak tampak, saat itu ia sebenarnya lagi memberikan cahayanya kepada orang lain di belahan bumi lain. Kendati demikian bias cahayanya masi bisa terasa. Mengingatkan kembali akan bintang yang menjadi petunjuk perjumpaan Allah dan manusia. Seperti para majus menemukan Allah lewat petunjuk bintang, begitu juga dalam dirinya terlihat Allah yang mencinta dan menerangi. Disebut Spica karena dialah yang paling dominan mempengaruhi hidup, mengajarkan cara mencinta, berharap, dan marah. Saat memandangnya dan dia menatap balik, tampaklah bahwa ia sungguh sangat cantik. Itulah dia! Ku bahkan tak tau caranya memuji sebelum ketemu dia. Cuman aku dan dia! Hebatnya lagi, dia mengakhiri semuanya dengan indah. Happy ending!!!!!! You are my super star…..
KaNgeN
BLESSING IN DISGUESE
BLESSING IN DISGUESE
(Kis 4:1-12; Yoh 21:1-14)
Kepala Pak Anto lecet ketika sepeda motornya masuk lubang kecil di depan rumahnya. Ia kemudian memeriksakan dirinya ke rumah sakit. Dokter mengatakan bahwa ia hanya mengalami luka ringan akibat kecelakaan itu. Namun dengan hati-hati dokter juga menjelaskan bahwa di kepala Pak Anto ternyata ditemukan benjolan akibat benturan yang kemungkinan terjadi beberapa tahun yang lau. Benjolan tersebut saat ini telah menjadi tumor yang harus secepatnya disembuhkan. Penjelasan tersebut membuat Pak Anto kaget. Akan tetapi ia masih bisa bersyukur karena ternyata di balik kecelakaan ringan yang dialaminya, ia masih bisa mendapatkan satu berkat, yaitu mengatahui penyakit berat yang sudah sejak lama dialaminya. Setelah mengetahui hal tersebut, ia kemudian berdoa dan berterimakasih kepada Tuhan atas kesialan yang baru dialaminya karena di situ Tuhan ternyata tampil dan menunjukkan yang terbaik bagi dirinya.
Pengalaman sial yang dialami oleh pak Anto hampir selaras dengan apa yang terjadi pada para rasul Yesus. Mereka memang tidak mengalami kecelakaan sepeda motor. Yang dialami itulah bahwa mereka tidak mendapatkan ikan setelah berjam-jam melaut. Boleh dikatakan bahwa malam itu mereka mengalami peristiwa sial. Berhadapan dengan peristiwa tersebut, mereka ternyata tidak putus asa. Ada usaha untuk terus menerus mencari bahkan sampai hari mulai siang. Pencarian mereka akhirnya mendapatkan hasilnya. Mereka mendapatkan ikan dalam jumlah yang sangat besar. Namun perolehan hasil besar tersebut tidak terjadi atas usaha mereka sendiri. Keterbatasan kemanusiaan mereka telah membuat mereka berdiam diri sejenak untuk mencari petunjuk Tuhan. Saat itulah mereka memperoleh tangkapan ikan dalam jumlah yang sangat besar. “Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka akan kamu peroleh.”
Peristiwa yang menimpa Pak Anto dan pengalaman para murid Yesus boleh menjadi cerminan semua manusia yang hidup saat ini. Semua pengalaman hidup manusia sebenarnya menjadi manis dan indah kalau ia menaru berbagai peristiwa hidupnya dalam nama Tuhan. Para rasul Yesus sudah menunjukkan hal tersebut. Mereka menyediakan waktu sejenak untuk melihat dan mendengar kata-kata Tuhan. Pendengaran dan penglihatan akan Tuhan itulah yang mendatangkan berkat. Ajakan untuk sejenak menyediakan waktu untuk melihat dan berbicara bersama Tuhan dalam segala kesibukan hidup harian dan dalam segala peristiwa pahit yang dirasakan. Doa menjadi sarana perjumpaan manusia dengan Tuhan, sehingga dengannya manusia memperoleh rahmat dan sukacita yang tetap atas seluruh hidupnya.
BERANI BERSAKSI
BERANI BERSAKSI
(Kis 4:13-21; Mrk 16:9-15)
Yono diam saja ketika polisi mencari tahu siapa pelaku pembunuhan di samping rumahnya, padahal ia sendiri melihat dengan jelas bahwa pembunuhnya adalah saudaranya sendiri. Ini memberi petunjuk bahwa kebenaran kadangkala lebih dikaitkan dengan keluarga dan kelompok. Orang tidak bisa melihat mana sebenarnya kebenaran obyektif. Faktor keluarga dan kelompok kadangkala membuat orang lebih memberikan pembelaan subyektif daripada memberikan penjelasan yang sesungguhnya atas suatu peristiwa. Hal ini kurang lebih menyerupai pengalaman Petrus dan Yohanes ketika mereka menyembuhkan orang yang sakit. Peyembuhan itu dilakukan dalam nama Yesus. Akan tetapi banyak pasang mata yang menyaksikan peristiwa tersebut justru menyembunyikan mukjizat penyembuhan itu. Mereka berunding untuk merahasiakan bahwa tindakan kedua rasul tersebut terjadi dalam nama Yesus. Pengalaman Petrus dan Yohanes kurang lebih menunjukkan bahwa keberanian dalam menyampaikan suatu kebenaran akan berbuah manis. Mereka memberi kesaksian tentang Yesus yang bangkit lewat pengalaman mereka bersama-Nya. Itu berarti bahwa keberanian dibutuhkan jika orang ingin menjadi pewarta kebangkitan Kristus.
Petrus dan Yohanes mendapat ancaman, namun dengan lantang menyatakan bahwa tidak mungkin bagi mereka untuk tidak mengatakan apa yang telah mereka lihat dan dengar. Satu contoh yang baik untuk orang yang hidup pada zaman ini. Dunia saat ini memang menghadirkan serbagai wajah pengecut. Ada penegak kebenaran yang barmain-main dengan kebenaran. Ada penegak hukum yang sendiri melanggar aturan dengan sengaja, dan tak sedikit orang yang takut dan gemetar untuk mengatakan kepada dunia bahwa banyak pejabat yang korup, bahwa orang ini adalah pembunuh, bahwa ia adalah pencuri, dan banyak hal lagi yang membuat orang diberi label pengecut karena takut mengungkap kebenaran. Apakah anda juga masuk dalam kalangan pengecut?
Hari-hari ini ingatan dan kenangan akan kebangkitan Yesus masih begitu jelas terasa. Banyak orang yang saat ini kemungkinan tidur dari kebenaran. Kinilah saatnya untuk bangkit memberikan kesaksian bahwa Kristus sang kebenaran telah bangkit. Bahwa ia telah membenarkan semua orang lewat kebangkitan-Nya, dan bahwa saat inilah waktu yang tepat untuk menjalankan perintah-Nya: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala mahkluk.”
RIGHT MAN ON THE RIGHT PLACE
RIGHT MAN ON THE RIGHT PLACE
(Pesta St. Matias Rasul)
Kis 1:15-17,20-26;Yoh 15:9-17
Penempatan orang pada suatu jabatan bisa dilakukan lewat penunjukkan langsung, lewat pemilihan, atau juga lewat aklamasi. Ungkapan yang sering muncul adalah “Right man on the right place.” Muncul kemudian bupati, gubernur dan presiden sebagai hasil pemilihan umum, atau juga gembala umat di suatu paroki setelah ditempatkan oleh uskup, atau juga terpilihnya ketua KMK setelah diadakan aklamasi oleh para anggota. Namun ternyata ada cara lain lagi untuk menempatkan orang dalam jabatan atau tugas tertentu, yaitu lewat pengundian. Semacam lotre untuk memilih siapa yang menjadi pemenang. Santo Matias adalah satu dari sekian orang yang mendapatkan posisi lewat system pengundian. Orang bisa saja menyerukan: “Vox populi vox Dei”, tapi jelas pula bahwa pengundian seseorang untuk jabatan tertentu merupakan pula suara Tuhan yang disampaikan kepada manusia. Matias merupakan rasul yang terpilih lewat pengundian. Pemilihan dirinya sebagai rasul untuk menggenapi posisi yang ditinggal oleh Yudas boleh dilihat juga sebagai cara Tuhan untuk melengkapi Gereja-Nya dengan orang-orang yang memiliki kompetensi untuk pengembangan umat-Nya. Ia terpilih dalam bilangan para rasul setelah semua yang terlibat dalam pemilihan tersebut berdoa meminta petunjuk Tuhan mengenai siapa yang paling layak itu. Syaratnya terpenuhi yaitu bahwa Matias senantiasa berkumpul bersama para rasul selama Tuhan Yesus ada bersama dengan mereka, ia pasti juga sudah tahu ajaran Yesus, yaitu cinta-kasih. Ini berbanding terbalik dengan pengalaman Yudas yang justru tampil sebagai penghianat.
Masuk dalam bilangan para rasul sebetulnya tidak lain dari memasuki kasih dan kesetiaan tuhan. Yesus dalam Injil hari ini memberi penegasan tentang kasih. “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seseorang yang menyerahkan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” Pernyataan Yesus ini memberi landasan kepada para rasul bahwa ada nersama-nya mengandaikan keberadaan orang dalam kasih. Allah adalah kasih. Terpilihnya Matias dalam lingkup bilangan para rasul merupakan petunjuk Tuhan agar orang menyatu dengan-Nya sebagai sumber segala kasih. Namun bukan sebatas itu saja. Ia juga ingin agar kasih itu terarah kepada orang lain: “Kasihilah seorang akan yang lain.” Dengan demikian, terpilihnya orang dalam suatu jabatan Gereja sebenarnya merupakan panggilan untuk mengasihi dan melayani satu sama lain. Tak perlu ada penolakan untuk jabatan yang diberikan karena di balik itu ada rencana Tuhan bagi orang yang dipilih-Nya. Pengundian Matias sebagai rasul Yesus merupakan sapaan juga kepada semua orang bahwa Allah senantiasa menunjukkan cinta-Nya lewat cara yang berbeda. Yang pasti itulah bahwa Allah tak pernah kekurangan cara untuk menolong manusia dan melengkapi manusia dengan kasih-Nya.
Langganan:
Postingan (Atom)