Kamis, 06 Oktober 2011

YOHANES PEMBAPTIS (John the Baptist); Analisa Naratif atas Markus 1:2-9

BAB I
ANALISA NARATIF ATAS INJIL MARKUS 1:2-9

Pengantar
Yohanes Pembaptis adalah tokoh penting dalam Mrk. Markus bahkan  mengawali Injilnya langsung dengan penjelasan singkat karya Yohanes Pembaptis (1:2-9). Mrk. 1:2-9 inilah yang menjadi bahan analisa ilmiah penulis. Ini karena teks tersebut merupakan cerita utama pengenalan Yohanes Pembaptis sebagai perintis jalan bagi Tuhan. Sehubungan dengan keberadaan teks tersebut sebagai suatu narasi, maka proses analisanya menggunakan kritik naratif dengan berpegang pada pernyataan Suhartono:[1]
Yang umum dilakukan dalam penerapan kritik naratif pada teks Kitab Suci adalah menggunakan kategori-kategori kritik naratif sebagai titik tolak tafsir narasi Kitab Suci tanpa peduli akan asal mula teoritis maupun ideologis kategori-kategori tersebut.
           
Anallisa naratif dimaksudkan sebagai suatu metode untuk memahami dan mengkomunikasikan pesan Alkitabiah yang sesuai dengan bentuk kisah dan kesaksian personal, sesuatu yang merupakan ciri khas Kitab Suci, dan suatu model fundamental dari komunikasi antar manusia.[2] Dalam kritik naratif pembaca masuk dalam dunia cerita seperti yang ditampilkan oleh Kitab Suci serta dibimbing oleh apa yang diceritakan. Di sini Kitab Suci didekati sebagai suatu “kaca cermin”, yaitu memperhatikan apa yang dilihat di dalamnya dan perhatian terpusat pada hasil usaha penyusun kisah sebagai sebuah cerita atau narasi.
            Dalam rangka kritik naratif[3] ini, ada beberapa langka yang akan dilalui, yaitu: pembatasan teks (delimitasi), penempatan teks dalam konteks, isi narasi (cerita),[4] cara isi diceritakan (penuturan),[5] dan divisi teks.
I.1 Delimitasi 
Pembatasan teks penting untuk memahami dinamika kisah. Karena itu sebelum menganalisa teks ini, pertama-tama akan ditentukan terlebih dahulu unit-unit pokok kisahnya. Hal itu dilakukan dengan memperhatikan beberapa kriteria utama dalam pembatasan, yaitu perubahan waktu, perubahan tempat, dan perubahan tokoh.[6] Tetapi juga dengan melihat jenis sastranya.

I.1.1. Jenis sastra
            Markus mengawali Injilnya dengan pernyataan: “Inilah permulaan Injil Yesus Kristus, Anak Allah” (1:1). Istilah “Injil” dalam pernyataan tersebut berarti kabar atau berita tentang Allah yang menegakkan pemerintahan-Nya dan menyelamatkan manusia. Dalam arti itu, “Injil” dikaitkan dengan Yesus sebagai Anak Allah yang meraja, sehingga orientasinya terarah pada pewartaan dari dan mengenai Yesus Kristus dan keselamatan dari Allah yang terwujud dalam Yesus Kristus.[7] Namun dalam perkembangan kemudian, khususnya setelah istilah “Injil” tersebut dikaitkan dengan satu buku atau kitab, maka oleh para ahli tafsir Kitab Suci, “Injil” dimengerti pula sebagai suatu jenis sastra, yaitu sastra Injil. Kekhasan sastra Injil ini adalah penulisannya sebagai biografi Yesus.[8] Namun biografi tersebut dipahami berbeda dengan biografi modern di mana riwayat hidup tokoh dipaparkan lewat urutan peristiwa yang tepat secara historis. Dalam sastra Injil, konsentrasi justru pada penekanan menurut pokok; bukan menurut urutan waktu. Penekanan pada pokok dikaitkan dengan kabar keselamatan. Itu sesuai dengan arti “Injil” yang sebenarnya, yaitu “kabar baik” yang kekhasannya terungkap pada penceritaan mengenai riwayat hidup Yesus. Yesus Kristuslah yang merupakan inti dari narasi Injil, sementara tokoh lain ditampilkan dalam rangka penonjolan Yesus Kristus, Anak Allah.[9]
            Mrk. 1:2-9 memang berbicara mengenai Yohanes Pembaptis. Tetapi tokoh ini sebetulnya diceritakan pada permulaan kisah tentang Yesus Kristus sebagai tokoh utama keseluruhan Mrk. Karena itu teks 1:2-9 merupakan bagian dari narasi yang berjenis sastra Injil ini. Markus sendiri menghadirkan Yohanes Pembaptis pada bagian introduksi. Hal itu mencakup permulaan dan persiapan karya publik Yesus. Ia disebut sebagai tokoh yang mempersiapkan kedatangan Yesus. Penghadiran tokoh ini terjadi dengan dua cara, yaitu lewat maklumat dan laporan karyanya. Markus mula-mula mengangkat kembali maklumat yang digemakan oleh nabi Yesaya akan utusan yang mendahului serta mempersiapkan kehadiran Tuhan (I:2-3). Penghadiran maklumat nabi Yesaya tersebut menyerupai suatu “kilas balik”, yaitu ingatan tentang sesuatu yang sudah pernah ada atau sudah pernah diungkapkan lalu dinyatakan kembali. Intinya adalah janji Allah Bapa akan utusan yang akan merintis jalan Tuhan di dunia. Utusan itu adalah Yohanes Pembaptis. Sehingga ia disebut sebagai kepenuhan kenabian PL[10]. Yang menarik adalah bahwa tokoh ini sejak awal ternyata sudah ada dalam komunikasi Ilahi.
            Ay. 4-9 langsung menghadirkan Yohanes Pembaptis. Penceritaan kehadirannya dibuat dalam bentuk laporan yaitu pemberitaan langsung penampilan dan karyanya. Hal itu kena-mengena dengan arti Injil sebagai kabar baik, bahwa sebelum Yesus tampil sebagai Kabar Baik, Yohanes Pembaptis sebenarnya sudah mengawalinya dengan pemberitaan kabar baik kepada orang banyak bahwa Mesias sudah di ambang pintu.
            Pengisahan tokoh ini diartikulasikan dengan bahasa yang biasa, yaitu prosa sebagaimana keseluruhan Mrk. Itu sekaligus menunjuk pada ciri khusus sastra Mrk. sebagai prosa di samping ciri istimewanya sebagai pengisahan riwayat hidup Yesus Kristus, Anak Allah.[11] Dengan demikian jenis sastra teks ini jelas, yaitu sastra Injil sesuai dengan keseluruhan Mrk. Pengisahannya dibuat dalam bentuk pemberitaan sesuai dengan ciri khas Injil sebagai pewartaan berupa berita mengenai apa yang dialami, dibuat dan dikatakan Yesus. Perjumpaan Yesus dengan Yohanes Pembaptis di padang gurun menunjuk pada peristiwa pengalaman Yesus, sehingga pengisahan mengenai Yohanes Pembaptis berkaitan erat dengan berita tentang Yesus.

I.1.2. Beberapa indikasi perubahan
            Jenis sastra Mrk. 1:2-9[12] sebenarnya sudah sedikit memberikan batasan. Namun dalam rangka melihat batasannya secara lebih jelas, maka beberapa petunjuk pengkhususan teks ini sebagai teks yang mengetengahkan Yohanes Pembaptis disebut berikut ini:

I.1.2.1. Presentasi teks ditandai oleh perubahan tokoh
            Seperti terungkap di atas, salah satu kriteria dalam pembatasan teks adalah perubahan tokoh. Mrk. 1:2-3 jelas menghadirkan tokoh yang baru, yaitu Yohanes Pembaptis. Kalau dalam Mrk. 1:1 yang menjadi tokoh utama adalah Yesus Kristus, Anak Allah, maka dalam Mrk. 1:2-3 terjadi peralihan ke Yohanes Pembaptis. Di sini Yohanes Pembaptis ditampilkan sebagai perintis kedatangan Tuhan. Istilah “utusan” yang diungkapkan dalam ay. 2 dikenakkan pada Yohanes Pembaptis demikian juga “suara yang berseru-seru” dalam ay. 3 merupakan gelar khusus yang dialamatkan kepadanya.
            Memang nama Yohanes Pembaptis baru muncul pada ay. 4. Namun keseluruhan Mrk. 1:2-9 sebenarnya merupakan pengenalan utama hidup dan karya Yohanes Pembaptis. Markus bahkan menghadirkan tokoh ini mendahului tokoh-tokoh lain dalam Injilnya. Ay. 1 berbicara tentang Yesus Kristus, Anak Allah. Namun kehadiran Yesus seperti terungkap dalam ay. 2 sebenarnya nanti muncul setelah masa persiapan oleh Yohanes Pembaptis. Dengan demikian Yohanes Pembaptis sebetulnya hadir mendahului tokoh-tokoh lainnya. Hal itu dipertegas oleh istilah “permulaan” dalam ay. 1. “Permulaan” itu menunjuk pada awal kehadiran Yesus yang didahului dan dipersiapkan oleh Yohanes Pembaptis.

I.1.2.2. Padang gurun sebagai keterangan tempat pertama dalam Mrk.
            Introduksi Mrk. (1:1-13) didominasi oleh padang gurun sebagai petunjuk tempat. Padang gurun merupakan istilah kunci di mana orang-orang dari daerah lain mengarahkan diri ke tempat tersebut, bahkan Yerusalem. Itu terlihat jelas dengan suatu gerakan dari luar masuk ke dalam padang gurun. Hal itu dikaitkan pula dengan aspek topologis,[13] bahwa padang gurun adalah satu konsep kunci dalam Mrk.
            Masuknya orang-orang dari tempat lain ke padang gurun menandakan bahwa konsentrasi orang terarah ke situ. Ini berarti perubahan tempat sementara berlangsung di mana para penduduk kota Yerusalem dan semua orang Yudea rela meninggalkan tempat asalnya untuk datang melihat serta mendengar suara yang berseru-seru di padang gurun. Padang gurun dalam Mrk. merupakan keterangan tempat yang pertama disebut mendahului penyebutan daerah-daerah lain. Namun tempat ini ternyata penting bagi Markus, sehingga ia mengawali Injilnya dengan gerakan orang yang berbondong-bondong ke tempat yang sunyi tersebut. Dari padang gurunlah perziarahan dimulai. Seperti Israel terbentuk sebagai suatu bangsa di padang gurun, demikian juga pencetusan awal keselamatan dalam diri Yesus dimulai dengan persiapan di tempat itu. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa teks 1:2-9 menjadi sangat jelas juga dengan memperhatikan perubahan tempat yang ada. Dengan cara itu batasan teks menjadi lebih jelas dan tepat.


I.2. Tempat teks dalam konteks
I.2.1 Konteks umum
            Mrk. adalah satu karangan teologis yang sistematis. Sistematisasi karangan ini disusun sedemikian rupa sehingga menjadi suatu karangan yang teratur. Keteraturan itu salah satunya nampak pada pembagian kisahnya. Pembagian tersebut dibuat untuk lebih memahami seluruh kisah dengan bagian-bagiannya. Namun untuk memahami dengan tepat satu bagian dari kisah, baik kalau pertama-tama dipahami letak kisah tersebut dalam konteks umum. Dengan konteks umum dimaksudkan agar arti dari suatu teks atau suatu kisah makin diperjelas dan terang, yaitu dengan melihatnya pada konteks umum seluruh buku. Itu berarti bahwa suatu teks perlu ditempatkan dalam karangan secara menyeluruh.[14]
            Mrk. sendiri dibagi dalam dua bagian besar, yaitu 1:14-8:26 dengan tema Rahasia Mesias dan kedua 8:31-16:20 tentang Rahasia Anak Manusia. Kedua tema tersebut memiliki titik konsentris, yaitu pengakuan Petrus (8:27-30). Dua bagian tersebut didahului oleh pendahuluan kisah, yaitu 1:1-13 sebagai introduksi.[15] Pembagian tersebut memberi petunjuk bahwa Mrk. 1:2-9 tentang tokoh Yohanes Pembaptis diceritakan pada pendahuluan kisah. Penceritaan tokoh ini dalam bagian pendahuluan lebih dikaitkan dengan persiapan Yesus sebelum memulai karya publik-Nya. Teks ini secara bagus mendeskripsikan Yohanes Pembaptis sebagai tokoh yang tampil mendahului dan mempersiapkan jalan bagi “Dia yang lebih berkuasa” dari padanya. Jadi dapat disimpulkan bahwa dalam konteks umum, posisi Mrk. 1:2-9 diletakkan pada pendahuluan kisah yang mendahului pembagian seluruh kisah dalam dua bagian besar.
            Kalau penempatan Mrk. 1:2-9 dikaitkan dengan segi topologis, maka orientasi teks ini berkisar di padang gurun. Dalam pembagian secara topologis ini, terdapat lima tempat yang dikemukakan, dan sekaligus menjadi kata kunci dalam Mrk., yaitu 1) Padang gurun (1:2-13),  2) Galilea (1:14-8:26), 3) Jalan (8:27-10:52), 4) Yerusalem (11:1-5:41), dan 5) Kubur (15:42-16:8).[16] Jalan merupakan titik konsentris dan itu sesuai dengan pembagian di atas di mana pengakuan Petrus tetap menjadi pusat. Singkatnya, Mrk. 1:2-9 dalam konteks keseluruhan kisah ditempatkan pada bagian pendahuluan Injil dan berkisar pada konsep padang gurun jika dilihat dari segi topologis.
            Kendati konsentrasi studi ada pada Mrk. 1:2-9, namun ada pula teks-teks lain yang dimasukkan sejauh tidak melebar dari teks yang dibahas. Teks-teks tersebut diangkat untuk memperjelas seluruh penelusuran ilmiah mengenai Yohanes Pembaptis, entah pribadinya, atau juga karyanya. Hal ini sesuai dengan pengungkapan dalam bagian pendahuluan (fokus penulisan) bahwa teks-teks lain mencakup Yohanes Pembaptis diangkat seperlunya sebagai referensi pendukung untuk memusatkan pembahasan. Dengan demikian, pembahasan ilmiah atas Mrk. 1:2-9 dibuat dengan tidak mengabaikan relasinya dengan keseleruhan Kitab Suci sebagai sumber utama iman Kristen. Berkaitan dengan hal tersebut, ada beberapa pokok pewartaan Yohanes Pembaptis yang akan dirujuk dari bagian-bagian lain, baik itu dari Mrk. sendiri atau juga dari Injil-injil lain, surat Paulus, dan dari kitab-kitab PL seperti konsep pertobatan, pembaptisan, atau juga pewartaan tentang kedatangan “Dia” yang bagi Yohanes Pembaptis dikatakan “lebih berkuasa” dari dirinya.

I.2.2 Konteks khusus
            Dengan konteks khusus dimaksudkan agar batas-batas teks yang akan ditafsirkan  betul-betul tepat. Karena itu di samping penempatan teks dalam konteks umum, perlu juga teks ditempatkan dalam konteks khusus, yaitu memperhatikan secara teliti teks yang mendahului dan teks yang mengikuti.[17] Teks 1:2-9 mengenai Yohanes Pembaptis dihadirkan di antara 1:1 dan 1:10-13. Teks 1:1 adalah yang mendahului, sementara 1:10-13 adalah teks yang mengikuti.

I.2.2.1. Teks yang mendahului
            Mrk. 1:1 adalah judul Injil: “Inilah Permulaan Injil Yesus Kristus, Anak Allah.” Teks Judul ini langsung diikuti oleh 1:2-9 tentang Yohanes Pembaptis sebagai utusan yang tampil mempersiapkan kedatangan Kristus.
            Hubungan antara 1:1 yang mendahului dan 1:2-9 jelas. Pertama dinyatakan tentang permulaan Injil Yesus Kristus. Istilah “permulaan” yang dipakai menunjuk pada permulaan sebelum karya publik Yesus. Permulaan itu sudah termasuk persiapan, dan teks 1:2-9 tentang Yohanes Pembaptis merupakan tokoh yang mempersiapkan. Ay. 2-3 perlu dimengerti sebagai ayat penghubung, bahwa ramalan PL sudah menjadi terang, yaitu dengan tampilnya utusan yang mempersiapkan Yesus. Utusan tersebut sangat jelas dalam ay. 4-9.
            Dengan demikian, 1:2-9 bukan teks yang berdiri sendiri, melainkan memiliki relasi dan kontinuitas dengan 1:1 yang mendahului teks tersebut.
I.2.2.2. Teks yang mengikuti
            Teks yang mengikuti 1:2-9 adalah 1:10-13. Teks terakhir ini mempertontonkan satu peristiwa Ilahi setelah pembaptisan Yesus. Itu ditandai dengan gejala alam, seperti langit terkoyak dan Roh seperti burung merpati turun sebagai simbol kehadiran Allah. Di sini tersirat satu pengakuan identitas Yesus sebagai Anak Allah. “Inilah Anak yang Kukasihi....” menyusul kemudian masa persiapan dan pencobaan Yesus di padang gurun.
            Kaitan antara 1:2-9 dan 1:10-13 jelas. Yesus hadir setelah Yohanes Pembaptis. Ia menjalani baptisan Yohanes seperti terungkap dalam ay. 9, sementara ay. 10-13 terlihat menyambung dengan rapi ay. 9.

I.3. Isi narasi 
I.3.1. Tokoh-tokoh
            Membaca sebuah kisah membuat pembaca bertemu dengan para tokoh yang menjadi bagian kisah tersebut. Tokoh-tokoh itu hadir dengan kekhasannya masing-masing. Mengenai tokoh ini, Drewes mengemukakan definisinya: “Tokoh adalah subyek (pelaku) yang melakukan kegiatan yang mengubah situasi dalam suatu cerita atau adalah obyek (pelengkap penderita) dari suatu kegiatan yang pada prinsipnya juga dapat bertindak sebagai pelaku.”[18] Pemahaman itu untuk mengatakan bahwa tokoh adalah elemen pusat suatu dunia cerita.[19] Tokoh secara integral dikaitkan dengan alur cerita, sehingga tokoh-tokoh tersebut tidak berdiri sendiri melainkan ada dalam satu keterkaitan.
            Tokoh-tokoh seperti dimengerti di atas mencakup subyek satu atau kelompok orang. Akan tetapi suatu benda dapat juga berperan sebagai tokoh, misalnya bintang dalam Mat. 2:9 atau taufan dalam Luk. 8:22-25. Adanya penokohan dimaksudkan sebagai suatu cara dengan mana tokoh tersebut digambarkan. Kingsburry[20] menyebut bahwa tokoh-tokoh merupakan orang-orang yang hadir dalam suatu narasi. Para tokoh itu dapat dihidupkan dengan dua cara, yaitu dengan “menunjukkan” para tokoh kepada pembaca dan membiarkan para tokoh itu berbicara dan bertindak, tetapi ternyata pengarang bisa juga menciptakan narator yang secara sederhana menyatakan tokoh-tokoh itu kepada pembaca.
            Mrk. 1:2-9 menghadirkan beberapa tokoh, yaitu: Yesaya, Yohanes Pembaptis, Orang-orang dari seluruh Yudea, penduduk Yerusalem dan Yesus. Yohanes Pembaptis adalah tokoh kunci. Namun sebelum Yohanes Pembaptis dihadirkan secara langsung, Markus terlebih dahulu mengangkat tokoh Yesaya. Yesaya dalam hal ini dihadirkan secara dramatis.[21] Ia yang sebetulnya adalah nabi PL hadir seakan-akan berbicara secara langsung: “Persiapkanlah jalan untuk Tuhan...” (ay. 2-3). Yesaya dan nubuatnya terkesan dihadirkan Markus untuk melegitimasi tampilnya Yohanes Pembaptis.
            Yohanes Pembaptis kemudian tampil: “Akan datang Dia yang lebih berkuasa....” Itulah yang diberitakannya kepada seluruh  penduduk daerah Yudea dan semua penduduk Yerusalem. Dua kelompok orang terakhir adalah juga para tokoh yang hadir dalam narasi dan mempertegas keberadaan Yohanes Pembaptis sebagai tokoh utama dalam cerita tersebut, bahkan Yesus datang kepadanya untuk dibaptis. Kehadiran Yesus tersebut lebih memperkuat posisi Yohanes Pembaptis dalam teks sebagai tokoh utama perintis kehadiran-Nya.
            Penampilan para tokoh di atas akan lebih terang dalam pengkategorian berikut[22]

I.3.1.1. Tokoh dinamis dan tokoh statis
            Tokoh dinamis maksudnya tokoh yang berkembang secara batin. Secara batin berarti menunjuk adanya perubahan sikap. Sementara tokoh statis[23] adalah yang secara batin tidak berkembang.
            Mrk. 1:2-9 sebenarnya tidak menghadirkan tokoh statis. Yang ada hanyalah tokoh dinamis. Hal itu nyata pada orang-orang dari seluruh daerah Yudea dan semua penduduk Yerusalem. Mereka inilah orang-orang yang secara batin berkembang. Itu jelas pada kedatangan mereka kepada Yohanes Pembaptis untuk mengaku dosa, dibaptis dan mendengar pemberitaannya. Yesus juga datang kepada Yohanes Pembaptis, tetapi motif-Nya tentu saja tidak sama dengan semua orang lain yang disebut sebelumnya. Kedatangan-Nya kepada Yohanes adalah pertanda akan sengsara dan kematian yang harus ditanggung dan diderita-Nya. Tokoh Yesus ini juga dinamis karena terarah ke depan; secara batin berkembang.
            Yohanes Pembaptis sendiri sebagai tokoh kunci dalam cerita ini memberikan petunjuk jelas akan suatu perkembangan secara batinia. Ia sudah dinubuatkan oleh Yesaya (ay.2-3). Nubuat tersebut terungkap dalam diri Yohanes Pembaptis sebagai perintis (ay. 4). Ia tampil dengan seruan pertobatan serta pemberitaan mengenai “Dia” yang bagi Yohanes Pembaptis “lebih berkuasa” dari dirinya. “Dia” itulah Yesus yang datang dan dibaptis oleh Yohanes sehingga seluruh hidup Yohanes memang terarah pada Yesus.



I.3.1.2. Tokoh flat, round, dan agen
            Tokoh dalam arti flat dimaksudkan bagi mereka yang hanya diperkenalkan secara singkat sehingga pembaca dibiarkan mengetahui permukaan pribadinya saja. Mereka ini tampil secara konsisten, misalnya kaum Farisi dengan kemunafikan mereka. Selain tokoh flat, ada juga yang disebut agen, yaitu tokoh tak penting yang hanya dipakai untuk lebih menampilkan tokoh-tokoh utama.[24]
            Analisa yang cermat  atas Mrk. 1:2-8 menunjukkan juga kategori tokoh seperti disebut di atas. Orang-orang dari seluruh Yudea dan semua penduduk Yerusalem menjadi agen, yaitu diceritakan dalam rangka penonjolan Yohanes Pembaptis sebagai tokoh utama. Ada kesan bahwa mereka juga adalah tokoh yang flat, tetapi sebenarnya tidak. Tokoh yang flat selalu konsisten, sedangkan orang-orang tersebut ditampilkan secara berbeda. Kepada Yohanes mereka datang dengan motif perubahan batin, bertobat dan dipermandikan. Namun dalam perkembangan, terutama dalam karya publik Yesus kemudian,  penolakan kepada-Nya justru datang dari orang-orang tersebut. Karya Yesus menurut pengisahan Mrk. justru berhasil di Galilea,[25] bukan di Yudea atau di Yerusalem.
            Tokoh round dalam Mrk. 1:2-9 adalah Yohanes Pembaptis. Ia dihadirkan sebagai tokoh yang memiliki kedalaman tertentu dalam mempersiapkan kehadiran Kristus. Ia hidup dalam suasana asing, jauh dari keramaian di padang gurun, namun kepadanya banyak orang datang mendengar. Yesus bahkan sama seperti orang lain datang kepadanya. Rupanya Yesus juga ikut serta mendengarkan pemberitaan Yohanes.[26]

I.3.1.3. Fungsi tokoh
            Fungsi dimengerti sebagai suatu jabatan yang dilakukan atau pekerjaan yang dilakukan. Orang yang memiliki suatu jabatan memiliki tugas untuk bekerja sesuai jabatannya.
            Dalam Kitab Suci ditemukan juga rupa-rupa tokoh dengan fungsinya masing-masing. Yohanes Pembaptis dalam Mrk. 1:2-9 berfungsi sebagai tokoh yang mempersiapkan kedatangan Kristus. Di sekitar tokoh tersebut, ada juga tokoh lain, yaitu Yesaya yang dihadirkan mendahului Yohanes Pembaptis dengan fungsinya sebagai nabi yang menubuatkan kehadiran seorang utusan yang mempersiapkan jalan bagi kedatangan Tuhan. Setelah Yohanes Pembaptis tampil, kepadanya juga datang banyak orang dari Yudea dan Yerusalem dengan fungsi utama mereka untuk meneguhkan pewartaan Yohanes, yaitu suatu gerakan pertobatan. Begitu juga dengan kehadiran Yesus dalam rangka menjaga kontinuitas karya Yohanes Pembaptis yang terarah kepada-Nya.

I.3.1.4. Cara tokoh ditampilkan
            Para tokoh dalam cerita hadir dengan dua cara, yaitu secara langsung dan tidak langsung. Yang hadir secara langsung terungkap lewat pelukisan tindakan dan kata. Ay. 2-3 adalah penghadiran tokoh secara tak langsung. Nama Yesaya muncul, tetapi itu disandingkan dengan nama kitabnya. Seperti itu, kehadiran Yesaya adalah tak langsung dan hanya bisa dimengerti dari kata-kata yang pernah diucapkannya.
            Berbeda dengan tokoh Yesaya, para tokoh lain dalam Mrk. 1:2-9 hadir secara langsung. Orang dari seluruh daerah Yudea dan semua penduduk Yerusalem dengan tindakan mereka untuk datang, mendengar dan dibaptis merupakan petunjuk kehadiran tokoh secara langsung. Yesus yang datang menerima baptisan Yohanes menunjuk juga kehadiran tokoh secara langsung. Demikian juga Yohanes Pembaptis dengan tindakan pewartaannya merupakan penghadiran tokoh secara langsung.

I.3.2. Latar
            Latar dimaksudkan sebagai panggung kejadian di mana para tokoh bertindak. Latar penting dalam pemahaman kisah, yaitu mengenal bagaimana narator menghadirkan suatu latar untuk mendeskripsikan kisah. Adanya latar ini memungkinkan pembaca untuk lebih memahami dan menilai suatu kejadian atau tokoh dari sudut pandang tertentu. Lebih lagi karena keberadaan latar dalam Kitab Suci selalu dikaitkan dengan makna tipologis. Ada tiga hal yang akan dikemukakan berkaitan dengan latar dalam Mrk. 1:2-9, yaitu latar waktu, latar tempat dan latar sosial.

I.3.2.1. Latar waktu
            Hal pertama dalam melihat suatu latar adalah waktu, yaitu pemahaman mengenai waktu terjadinya suatu kisah. Latar waktu memberi penjelasan mengenai waktu suatu peristiwa atau suatu rentetan peristiwa terjadi,[27] baik itu secara kronologis, tipologis, atau gabungan antara keduanya. Secara kronologis berarti terarah pada waktu tertentu dan secara tipologis menunjuk pada macam waktu tertentu.
            Mrk. 1:2-9 mencuatkan suatu durasi waktu penceritaan yang begitu panjang. Kutipan dalam Mrk. 1:2-3 membawa pembaca ke masa lampau saat tokoh Yesaya ditampilkan kembali (bdk., Yes. 40:3).[28] Istilah “demikianlah” dalam ay. 4 mengalihkan pandangan pembaca pada waktu yang baru. Ayat ini adalah ayat transisi dari PL ke PB dengan tampilnya utusan yang secara samar-samar sudah ada dalam ay. 2-3. Ada juga istilah “lalu” dalam ay. 5 yang menjadi keterangan waktu ketika banyak orang datang kepada Yohanes Pembaptis, serta penunjuk waktu “pada waktu itu” saat Yesus datang untuk menerima baptisan.
Dengan memperhatikan keseluruhan teks, maka dapat disimpulkan bahwa pengisahan teks tersebut mempresentasikan suatu durasi waktu yang panjang. Namun adanya perubahan waktu yang disajikan mengalihkan perhatian pembaca bahwa kisah itu begitu singkat dan seperti hanya dalam tempo yang tidak lama. Kendati demikian, ulasan di atas sebenarnya belum menunjuk pada waktu sebagai latar. Yang ada hanyalah cara pengisahan narasinya. Memang pemakaian kata-kata penghubung seperti: “demikian”, “lalu”, atau “pada waktu itu” bisa saja dipahami secara kronologis, yaitu menunjuk urutan waktu. Akan tetapi hal tersebut sebetulnya lebih menunjukkan irama waktu yang terjadi dalam teks. Yang sebenarnya merupakan latar waktu dari Mrk. 1:2-9 adalah waktu pertobatan dan waktu pengharapan. Kehadiran Yohanes Pembaptis dengan warta pertobatannya merupakan pertanda bahwa waktu untuk bertobat telah tiba. Begitu juga pemberitaannya tentang Mesias yang akan datang merupakan petunjuk bahwa waktu pengharapan mendapat penonjolan. Jadi latar waktu yang mengemuka dalam Mrk. 1:2-9 lebih pada segi tipologis.

I.3.2.2. Latar tempat
            Ada lima penunjuk tempat dalam Mrk. 1:2-9, yaitu padang gurun, sungai Yordan, Yudea, Yerusalem dan Galilea. Yang paling menonjol adalah padang gurun, sementara tempat-tempat lain ditunjuk sebagai keterangan tempat dari gerakan orang yang menuju kepada Yohanes Pembaptis di padang gurun. Padang gurun dalam pemahaman yang biasa merupakan tempat di mana pewartaan Yohanes Pembaptis terjadi dan secara tipologis mengingatkan orang akan perjalanan bangsa Israel selama 40 tahun. Gurun adalah tempat perjumpaan dengan yang Ilahi.[29]
            Orang yang datang di padang gurun dan mendengar pewartaan Yohanes Pembaptis kemudian dibaptis di sungai Yordan. Sungai Yordan juga adalah latar tempat dalam teks ini, yaitu tempat di mana orang dibaptis setelah mendengar pewartaan Yohanes Pembaptis. Tidak dijelaskan secara detail mengenai sungai Yordan, namun sungai tersebut letaknya tidak jauh dari padang gurun. Dalam Injil lain dikatakan bahwa Yohanes Pembaptis mencari tempat yang banyak airnya (bdk., Yoh 3:23). Sungai Yordan ini memiliki arti tipologis juga, yaitu sebagai “batas” atau ambang bagi mereka yang ada di luar dan di dalam Tanah Terjanji. Yang ada di dalam Tanah Terjanji adalah Israel, sementara yang ada di luar, yaitu di daerah di sebelah kanan sungai berpenduduk orang-orang asing, bahkan orang-orang yang bermusuhan dengan Israel.[30]
            Di samping padang gurun dan sungai Yordan, beberapa tempat lain disebut, yaitu Yerusalem, Yudea dan Galilea. Penyebutan ketiga tempat terakhir ini lebih pada pengenalan identitas gerakan orang yang datang ke padang gurun untuk melihat Yohanes Pembaptis. Bahwa Yudea, Yerusalem, dan Galilea disebut, hal itu sebenarnya sudah merupakan singgungan awal kehadiran Yesus Kristus yang dipersiapkan di padang gurun untuk karya publik-Nya. Galilea adalah tempat di mana karya Yesus menuai sukses, sementara Yudea dan Yerusalem mewakili daerah di mana Yesus akan mengalami penolakan, sengsara dan wafat.

I.3.2.3. Latar sosial
            Latar Sosial dalam Mrk. 1:2-9 tampak pada gerakan orang dari Yudea dan Yerusalem yang berziarah ke padang gurun. Tidak dikatakan siapa orang-orang tersebut. Namun beberapa hal bisa disebut. Pertama tentang orang-orang Yudea. Orang Yudea pada zaman Yesus mencakup semua orang yang membentuk dan menjadi bagian dari masyarakat yang selalu bergerak. Ada rakyat biasa yang polos, yang bekerja, beriman, menangis, menyanyi, hidup dan mati. Di tengah-tengah masyarakat biasa tersebut, hidup juga orang-orang yang ada dalam kelompok-kelompok, seperti golongan Farisi, Saduki dan Herodian dengan penonjolan pandangan mereka masing-masing kepada banyak orang. Yudea sendiri saat itu bersama dengan Samaria diperintah oleh Arkhelaus (Mat. 2:22). Ini terjadi setelah Herodes Agung meninggal dan membagi tanah Palestina kepada anak-anak-nya. Bersamaan dengan itu, Herodes Antipas memerintah Galilea, dan anak yang satunya lagi, yaitu Filipus memerintah atas Trakhonitis.
            Yang kedua adalah penduduk Yerusalem. Di Yerusalem terdapatlah dua dunia yang berdampingan, yaitu kebudayaan Yunani dengan panggung sandiwara dan gelanggang olahraganya; ada orang-orang asing dengan cara hidup yang asing. Di pihak lain, terdapatlah dunia Yahudi yang kolot yang berkisar pada Bait Allah dan Sinagoga. Yerusalem dalam hal ini menjadi perpaduan aneh dari dunia yang berbeda, yaitu dunia kesalehan (Yahudi) dan dunia hura-hura.[31] Jadi penyebutan tentang massa Yudea dan Yerusalem adalah aspek sosial yang memberi latar  pada cerita tersebut.

I.3.3. Plot
            Setiap kisah pasti tersusun dengan alur tertentu. Alur atau plot adalah sebuah cerita yang terdiri atas awal, pertengahan dan akhir.[32] Lebih tegas, Sitompul dan Beyer[33] menyebut: “Plot meliputi satuan urutan tentang peristiwa-peristiwa yang mengikuti tatanan sebab akibat. Hal ini membentuk kepada suatu klimaks dan melibatkan pembaca dalam dunia naratif suatu cerita”.
            Tinjauan atas Mrk. 1:2-9 dalam rangka alur kisahnya menghadirkan beberapa hal. Menurut urutan waktu, kisah ini ditempatkan pada bagian pendahuluan Injil. Ini ditempatkan dalam kesatuan dengan 1:1 dan 1:10-13. Pokok-pokok yang dikemukakan adalah Yohanes Pembaptis sudah diramalkan sebagai perintis jalan bagi kedatangan Tuhan, ia tampil di padang gurun, mewartakan pertobatan, memberitakan “Dia yang lebih berkuasa” dari dirinya dan terakhir adalah kedatangan Yesus serta pembaptisan-Nya oleh Yohanes Pembaptis.
            Urutan alur sedemikian memberi arti bahwa tipe plot kisah ini adalah kesatuan, sekaligus memperlihatkan struktur formal plot. Kesatuan kisahnya nampak dari adanya perubahan yang memperjelas kesatuan tersebut. Mula-mula utusan yang dimaksud masih samar-samar dalam ay. 2-3. Yang samar-samar dan masih kabur dalam dua ayat tersebut menjadi terang pada ay. 4-9 saat Yohanes tampil di padang gurun.
            Pemberitaan tentang “Dia yang lebih berkuasa” dari dirinya dan yang akan membaptis dengan Roh Kudus (ay. 7-8) yang disampaikan dengan gaya perbandingan menjadi jelas saat Yesus datang dan menjalani baptisan Yohanes (ay. 9). Di sini mencuat suatu perubahan pengetahuan dalam mana pengisahan tersebut membawa pembaca untuk makin lama makin mengetahui apa yang akan terjadi. Kelihatan bahwa seluruh rentetan episode mempunyai arti bagi narasi dan menentukan hasil akhir cerita. Episode yang satu mengandaikan yang sebelumnya dan mempersiapkan yang berikutnya. Di samping terjadi perubahan pengetahuan, terjadi pula perubahan nilai. Itu terungkap pada cara Yohanes Pembaptis melihat dirinya lebih rendah dari “Dia” yang tentang-Nya Yohanes merintis jalan, bahwa ada yang lebih berkuasa dari Yohanes Pembaptis yang akan membaptis orang bukan dengan air melainkan dengan Roh Kudus.
            Dalam rangka alur cerita, maka Mrk. 1:2-9 ini sebetulnya semakin jelas jika dikaitkan dengan keseluruhan pendahuluan Mrk. Jadi Mrk. 1:2-9 dilihat dalam kaitan dengan 1:1 dan 1:10-13 sebagai pendahuluan. Markus pertama-tama memperkenalkan Injilnya sebagai Injil Yesus Kristus Anak Allah. Pengenalan itu diawali dengan kata “Inilah permulaan….”(ay. 1). Kata “permulaan” tersebut sebetulnya menunjuk pada pembaptisan Yesus oleh Yohanes dan suara dari surga yang menunjuk kepada Yesus sebagai Anak Allah. Pengenalan tersebut langsung disusul dengan persiapan karya publik Yesus di padang gurun (ay. 2-13). Dalam persiapan itulah Yohanes Pembaptis hadir (ay. 2-9).
            Nubuat pada ay. 2-3 menunjukkan bahwa rujukan ke kitab para nabi mendapat tekanan besar. Dua ayat itu sebenarnya secara tersirat sudah memperkenalkan Yohanes Pembaptis sebagai utusan dan Yesus yang dipersiapkannya. Kehadiran Yesus akan didahului oleh Yohanes. Namun nama Yohanes dan Yesus dalam kedua ayat tersebut belum terungkap secara obyektif kendati hubungan dua ayat pertama ini dengan ay. 4-13 sudah jelas, yaitu penceritaan tentang bunyi suara yang memberitakan kedatangan Tuhan (ay. 4-8), lalu disusul tindakan Allah yang menunjukkan dan mengutus utusan yang bagi umat akan membuka jalan menuju kepada Allah (ay. 9-13).
            Ay. 4 memperjelas apa yang ada dalam ay. 2-3, yaitu Yohanes Pembaptis sebagai utusan sudah hadir dengan warta pertobatannya: “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis, dan Allah akan mengampuni dosamu.” Pewartaannya tersebut berhasil baik. Tidak heran terjadi gerakan massa dalam jumlah yang besar ke padang gurun (ay. 6). Cerita memuncak pada ay. 7-8, yaitu kedatangan sosok yang lebih berkuasa dari Yohanes. Di sinilah bagian inti dan puncak pewartaan Yohanes Pembaptis. Kemudian disusul dengan pembaptisan Yesus. Baptisan Yesus tersebut tentu bukan sepotong kisah setelah Yohanes Pembaptis. Jelas bahwa ada kesepadanan. Dalam 1:8 dan 1:10 disebut tentang Roh Kudus. Dinyatakan pula bahwa yang akan datang adalah Anak Allah (1:7 dan 1:13) dan kisahnya berlangsung di padang gurun (1:4 dan 1:12-13).
            Akan tetapi, berkaitan dengan penceritaan mengenai Yohanes Pembaptis, boleh disebut bahwa puncak pewartaannya ada pada ay. 7-8. Ayat ini memperjelas pewartaan Yohanes Pembaptis, walaupun kisah pendahuluan memang masih berlanjut sampai ay. 13, yaitu saat Yesus diurapi dan diperkenalkan sebagai Anak Allah, serta percobaan-Nya selama 40 hari di padang gurun.
            Yohanes Pembaptis sebagai utusan disebut sampai pada ay. 9 dalam bagian pendahuluan. Karena itu, kisah Yohanes Pembaptis pada introduksi Mrk. ini sebetulnya menyisahkan suatu akhir terbuka. Yohanes Pembaptis ada di mana? Yohanes Pembaptis nanti muncul lagi pada Mrk. 1:14, yaitu penceritaan tentang penangkapannya serta penyingkiran Yesus ke Galilea.

I.4. Cara isi diceritakan
I.4.1. Gaya penceritaan
            Gaya penceritaan dimaksudkan sebagai pemakaian bahasa secara beragam yang hendak memperoleh dampak tertentu. Gaya menyatakan diri dengan bermacam-macam cara, seperti ironi, atau lewat cepat tidaknya irama waktu suatu narasi, tetapi bisa juga lewat pola-pola, seperti pengulangan dan perangkuman.[34] Dalam Mrk. terdapat beberapa gaya penceritaan yang menonjol, yaitu pengulangan kata, gerak maju dua langkah, pertanyaan-pertanyaan dalam dialog, pembingkaian sebuah episode oleh episode lainnya, penyusunan episode dalam pola konsentris, kutipan dari tulisan-tulisan, ironi dan nubuat.[35] Mrk. 1:2-9 sebagai bagian dari Mrk. terdiri atas beberapa gaya dalam pengisahannya. Beberapa hal yang mencuat disebutkan berikut ini

I.4.1.1. Ditampilkan secara cepat, ringkas, dan hidup
            Mrk. 1:2-9 secara khusus menceritakan Yohanes Pembaptis. Penonjolan tokoh tersebut pada bagian pendahuluan kisah memperlihatkan penyajian kisah yang ringkas, cepat, dan hidup. Pertama, penyajian kisah ini secara ringkas sebetulnya berkaitan dengan komentar para ahli tentang Mrk. sendiri sebagai ringkasan karya Yesus. Ada yang mengatakan bahwa Mrk. merupakan ringkasan dari Mat.[36] Namun pengisahan secara ringkas sebenarnya lebih mengesahkan Mrk. sebagai cerita dengan gaya dan kekhasannya sendiri. Berawal dari kutipan atas nubuat nabi Yesaya (ay 2-3) dengan pekik yang bersemangat dalam bahasa kiasan yang indah akan utusan yang mempersiapkan jalan untuk Tuhan, utusan yang dimaksud langsung dihadirkan; Yohanes Pembaptis tampil langsung dengan pewartaan dan pemberitaannya (ay. 4-9). Kendati singkat dan cepat, namun kesan yang muncul adalah hidup karena pembaca langsung masuk dalam dunia ceritanya sambil membayangkan bahwa sesuatu sementara terjadi.
            Kedua, penceritaan kisah secara cepat dan singkat menjadi lebih jelas dalam perbandingan dengan Mat. dan Luk.  Markus sendiri  menghadirkan Yohanes Pembaptis langsung pada karya publiknya. Hal itu sesuai dengan  Mat. 3:1-15. Namun dalam Mat. masih ditambahkan beberapa pokok tentang Yohanes Pembaptis, yaitu penghadiran serta teguran orang Farisi dan Saduki (3:7-10), baptisan dengan Roh Kudus dan dengan api, serta penjelasan tambahan dalam ay. 12. Ada juga usaha pencegahan dari pihak Yohanes untuk membaptis Yesus. Sementara itu, Lukas tidak langsung masuk pada karya publik Yohanes Pembaptis, melainkan pertama-tama mengisahkan masa kanak-kanak Yohanes (Luk. 1:5-25; 1:39-56; 1:57-80). Nanti dalam Luk. 3:7-21 diceritakan secara detail tentang karya publik Yohanes, baik ramalan tentang tokoh tersebut (3:4-5), pewartaannya (3:3,7-9,16-17), percakapan dengan banyak orang (3:10-15) dan pembaptisan Yesus oleh Yohanes (3:21-22).
            Dengan membandingkan pengisahan Mrk. atas tokoh Yohanes Pembaptis terhadap Mat. dan Luk. dapat disimpulkan bahwa penceritaan Yohanes Pembaptis dalam Mrk. 1:2-9 merupakan kisah yang singkat, cepat dan padat. Tetapi dengan cara itu tidak berarti bahwa kisah tersebut begitu miskin. Singkat dan cepatnya penceritaan dalam Mrk. 1:2-9 sebetulnya berkaitan erat dengan penghadiran tokoh utama Mrk., yaitu Yesus Kristus dengan penekanan pada Mesias sebagai Hamba. Penekanan pada kehambaan Yesus mensyaratkan bahwa riwayat hidupnya tidak diceritakan. Orang jarang berpikir untuk menceritakan riwayat hidup seorang hamba. Begitu juga bangsa Yahudi tidak membuat riwayat hidup seorang hamba.[37] Hal yang sama ditujukan pada Yohanes Pembaptis yang seluruh hidupnya berkisar pada Yesus.
            Ketiga, penceritaan kisah secara cepat dikaitkan dengan irama waktu yang ada. Kata “demikianlah”  (1:4), “lalu” (1:5), “sesudah” (1:8), serta “pada waktu itu” merupakan kata-kata penghubung yang menunjuk pada pengisahan kisah secara cepat. Kata-kata tersebut merupakan kekhasan penggunaan kata dalam Mrk. untuk memberi arti pada istilah euthios sebagai penghubung kisah.[38]

I.4.1.2. Kutipan dan Nubuat
            Kutipan dan nubuat merupakan bagian dari gaya penceritaan dalam Mrk. 1:2-9. Nuansa kutipan dan nubuat begitu kelihatan dalam ay. 2-3. Dua ayat tersebut membawa pembaca pada tokoh Yesaya dengan nubuatnya: “Lihatlah, Aku mengutus utusan-Ku….” Kutipan ini didahului oleh rumus tetap dalam Mrk.: “Seperti ada tertulis dalam kitab para nabi.” Yang dimaksudkan adalah amanat yang telah disampaikan oleh para nabi. Kutipan itu sendiri sebetulnya merupakan penggabungan, yaitu ay. 2b yang mengutip Kel. 23:20 dan Mal. 3:1. Sementara nubuat Yesaya ada pada Yes. 40:3.
Kutipan dalam ay. 2-3 sebenarnya terkesan rusak. Namun itu diterima dengan alasan bahwa kutipan-kutipan atas nubuat para nabi tentang utusan yang datang mendahului Mesias memang kerapkali dipakai oleh Gereja Purba.[39] Pengutipan ganda tersebut sebenarnya merupakan penegasan bahwa hal itu mendapat tekanan besar.[40]

I.4.1.3. Repetisi
            Gaya penceritaan lain dari Mrk. 1:2-9 adalah repetisi. Di sini, kata-kata atau frase diulang dengan jelas. Pengulangan tersebut terlihat pada istilah atau kalimat yang dicatat berulangkali oleh pengarang dalam rangka menitikberatkan pengertian atau pokok tertentu.[41] Padang gurun sebagai petunjuk tempat dalam teks diulang dua kali untuk menegaskan bahwa istilah tersebut adalah konsep kunci kisah, bukan hanya menunjuk pada daerah yang jarang dihuni manusia, tetapi lebih tegas sebagai petunjuk tipologis.
            Di samping istilah padang gurun, ada juga kata lain yang mendapat pengulangan, yaitu: “berseru-seru” dan “menyerukan”. Berseru-seru dalam ay. 3 sudah merupakan pengulangan. Namun hal itu dipertegas lagi dengan kata “menyerukan” dalam ay. 4. Hal itu dikaitkan dengan suara, yaitu dia yang bersuara atau berseru. Dengan pengulangan dimaksudkan sebenarnya untuk lebih memperjelas tokoh Yohanes Pembaptis sebagai suara yang berseru-seru di padang gurun. Itu semacam gelar yang dialamatkan kepada tokoh tersebut.[42]



I.4.2. Narator
            Narator adalah istilah sastra yang dikhususkan bagi pengisah naratif. Ia bukan penulis, tetapi suatu perlengkapan retoris yang penulis gunakan untuk mengatakan suatu cerita dan menceritakannya atas cara yang khusus.[43]
            Mrk. 1:2-9 adalah kisah yang berbentuk reportase, yaitu suatu pemberitaan. Pemberitaan itu mengandaikan bahwa ada pengisah yang memberitakan. Pengisah dalam teks ini tepat disebut sebagai omniscient narrator (pengisah yang mahatahu). Ia berada di luar tetapi ia mengerti dengan baik dunia batin tokoh-tokoh dan mengajukan pandangan dari dalam tentang tokoh-tokoh yang ditampilkan. Dalam ay. 2-3, ia mengangkat tokoh Yesaya yang bernubuat tentang kedatangan Tuhan serta utusan yang mendahului-Nya. Ia mengerti siapa Yesaya itu, sehingga bisa menyajikan satu pandangan dari dalam tokoh tersebut. Demikian juga Yohanes Pembaptis sebagai tokoh utama kisah ini diceritakan secara dalam sedemikian rupa sehingga Yohanes terkesan berbicara secara langsung mengenai pertobatan, pembaptisan dan “Dia yang lebih berkuasa” dari dirinya.
            Sebagai omniscient narrator, narator tidak hadir sebagai yang ditokohkan. Ia tidak hadir sebagai tokoh dalam cerita, sehingga menjadi benar sebutan bahwa narator yang ditokohkan adalah bukan narator mahatahu. Sementara narator dalam kisah ini tentu merupakan narator mahatahu[44] karena ia tidak ditokohkan.[45]Kendati narator dalam kisah ini tidak tampil sebagai tokoh cerita, namun keberadaannya jelas terlihat dari cara penyampaian kisah tersebut. Ungkapan “seperti ada tertulis dalam kitab nabi Yesaya” merupakan kalimat pembuka kisah yang ditampilkan narator. Dalam hal ini narator berperan sebagai yang mengetahui nubuat nabi. Demikian juga dengan kata-kata penghubung seperti “demikianlah”, “sesudah”, “lalu” merupakan petunjuk keberadaan narator bagi penceritaan kontinuitas serta pengkalimatan kisah. Naratorlah yang mengarahkan dan menghubungkan suatu kisah, sehingga pemahaman yang komprehensif dan utuh diperoleh.
            Dalam 1:6 keberadaan narator begitu terang. Ia hadir  dengan komentarnya: “Yohanes memakai jubah bulu untah dan ikat pinggang kulit, dan makanannya belalang dan madu hutan,” disusul kalimat pendahuluan dalam ay. 7: “Inilah yang diberitakannya…” Kalimat terakhir ini serupa dengan 1:1. Hal itu menunjuk pada narator yang berbicara kendati tidak hadir sebagai orang pertama tunggal, “aku”. Ia membimbing pembaca dengan menyatakan bahwa berita tersebut adalah perkataan Yohanes Pembaptis.
            Penghadiran para tokoh dalam Mrk. 1:2-9 merupakan suatu pemberitaan dalam mana narator sungguh memahami identitas dan kedalaman batin para tokoh. Secara khusus, tokoh kunci Yohanes Pembaptis diberitakan secara jelas, baik tokohnya maupun pemberitaan dan ciri khas tokoh tersebut. Sementara itu, narator lebih masuk dalam latar belakang kisah, pemberitaan para tokoh dan lanjutan kisah para tokoh yang tersaji.


I.4.3. Pembaca tersirat
            Pembaca tersirat dimaksudkan sebagai pembaca ideal seperti dibayangkan oleh pengarang tersirat. Dia memberi reaksi terhadap cerita seperti diharapkan oleh pengarang tersirat.[46] Gambaran pembaca tersirat ini dapat direkonstruksi berdasarkan teks yang disajikan, yaitu dengan bertanya: Apakah yang diharapkan oleh teks itu sendiri? Misalnya pengetahuan apakah yang yang diandaikan dimiliki atau tidak dimiliki oleh pembaca tersebut, reaksi apakah yang diharapkan akan timbul dari pembaca?[47]
            Pencermatan atas Mrk. 1:2-9 memberi penegasan bahwa pembaca tersirat diandaikan sebagai pembaca yang sudah mengetahui banyak hal mengenai Yohanes Pembaptis. Indikasinya itulah riwayat hidup Yohanes Pembaptis tidak diperkenalkan. Narator beranggapan bahwa tokoh tersebut sudah dikenal oleh para pembaca, sehingga penyajian kisah sejatinya tidak bermaksud untuk menggambarkan riwayat tokoh tersebut. Ay. 2-3 lebih menyoroti kekhasannya sebagai suara yang berseru di padang gurun, sementara ay. 6 juga lebih menekankan ciri khas penampilannya sebagai pribadi sederhana dengan pakaian dan makan-minum seadanya. Jadi bukan gambaran tentang figurnya. Demikian halnya dengan penyebutan pembaptisan pada ay. 4. Kata yang digunakan adalah “membaptis di padang gurun” dan istilah khas Kristen “baptisan.” Jelas bahwa pembaca diharapkan sudah mengenal baptisan Kristen, sehingga narator tidak memberi penjelasan lebih mengenai hal itu.
            Penyebutan tentang orang-orang dari seluruh daerah Yudea dan semua penduduk Yerusalem yang ke luar berbondong-bondong (ay. 5) juga tidak disertai dengan keterangan apa-apa mengenai isi pemberitaan kepada orang banyak. Namun yang jelas, gerakan orang yang berbondong-bondong tersebut adalah untuk mendengar seruan pertobatan dari mulut Yohanes dan bertobat. Mengapa? Jawabannya ada pada ay. 7-8. Dalam ay. 7-8 disebut bahwa pertobatan itu penting karena akan datang “Dia yang lebih berkuasa” dari Yohanes. “Dia yang lebih berkuasa” itu adalah Yesus yang terang dalam ay. 9. Yesus dibaptis oleh Yohanes.

I.4.4. Sudut pandang
            Sudut pandang adalah unsur penting dalam suatu narasi. Adanya sudut pandang menentukan makna narasi. Yang dimaksudkan tentu saja sudut pandang dari pengisah.[48] Dari perspektif mana narasi tersebut dikisahkan? Powell[49] mengatakan bahwa sudut pandang merupakan sesuatu yang meresap dalam narasi dan mengaturnya. Sifatnya evaluatif, yaitu menunjuk pada standart-standart penilaian dari pengarang tersirat dengan mana pembaca juga dituntun untuk mengevaluasi kategori-kategori yang ada, seperti tokoh-tokoh atau latar.
            Teks Mrk. 1:2-9 secara jelas menunjukkan sifat evaluatif kisah, yaitu penilaian mengenai para tokoh, tempat dan peristiwanya. Kehadiran Yohanes Pembaptis sebagai utusan dilihat sebagai kegenapan nubuat nabi Yesaya, bahwa utusan itu akan datang mendahului Tuhan. Di sini kedalaman pengisah dalam memandang begitu terlihat. Ia hadir sebagai orang yang memakai kamera bersudut pandang luas. Ia memberi pandangan lebih daripada apa yang diketahui oleh para tokoh yang tampil dalam narasi. Ketika ia menyebut tentang Yohanes Pembaptis, pengisahannya lebih pada pernyataan, yaitu tampilnya Yohanes di padang gurun dengan seruan, pemberitaan,  kedatangan banyak orang kepadanya, dan Yesus juga datang untuk dibaptis. Namun pengisah juga tetap mengedepankan pandangan tokoh dalam kisah, yaitu Yohanes Pembaptis yang mewujud dalam kalimat langsung: “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu” (ay.4). Selanjutnya: “Sesudah aku akan datang Dia yang lebih berkuasa dari padaku; membungkuk dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. Aku membaptis kamu dengan air, tapi Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus” (ay.7-8).
            Pandangan tokoh yang ditokohkan dalam suatu kisah menunjukkan bahwa tokoh tersebut memegang peranan penting di dalamnya. Jadi tokoh penting dalam kisah ini adalah Yohanes Pembaptis. Tetapi lebih penting sebenarnya adalah sudut pandang dari pencerita narasi. Pencerita narasi itulah yang mengarahkan narasi secara komprehensif serta membawa pembaca pada pemahaman yang menyeluruh atas seluruh kisah.

I.5. Divisi teks
            Divisi teks dimaksudkan untuk membuat rincian dari teks yang dikaji. Di sini penulis merekonstruksi kembali teks dengan tujuan untuk memudahkan pembahasan selanjutnya (dalam bab 2). Perincian teks ini tentu  saja dibuat dengan memperhatikan kelurusan logika, yaitu agar teks yang dibahas bisa dipahami lebih baik.
            Pembagiannya adalah sebagai berikut:
a. Pengenalan identitas Yohanes Pembaptis
·         Yohanes Pembaptis adalah utusan (Mrk 1:2)
·         Yohanes Pembaptis adalah suara yang berseru-seru (Mrk 1:3)
·         Yohanes Pembaptis adalah nabi padang gurun
o   Pakaian Yohanes Pembaptis (Mrk 1:6)
o   Makanan Yohanes Pembaptis (Mrk 1:6)
b. Isi pewartaan Yohanes Pembaptis (Mrk 1:4)
·         Pertobatan (Mrk. 1:4)
·         Allah akan mengampuni dosa (Mrk. 1:4)
o   Seluruh daerah Yudea (Mrk 1:5)
o   Semua penduduk Yerusalem (Mrk 1:5)
·         Baptisan sebagai lambang pertobatan (Mrk. 1:4)
c. Pemberitaan tentang “Dia yang lebih berkuasa” dari Yohanes Pembaptis (Mrk 1:7-8)
·         Ia akan datang mengikuti Yohanes Pembaptis
·         Lebih berkuasa dari Yohanes Pembaptis
·         Ia akan membaptis dengan Roh Kudus
d. Yohanes Pembaptis membaptis Yesus (Mrk. 1:9)
·         Yesus datang dari Nazaret di tanah Galilea
·         Yesus dibaptis oleh Yohanes Pembaptis

I.6. Kesimpulan
            Mrk. 1:2-9 adalah suatu narasi. Sebagai kisah naratif, teks tersebut berbicara tentang Yohanes Pembaptis. Tokoh inilah yang merupakan pusat cerita teks tersebut. Semua unsur naratif dalam teks mengarah pada Yohanes Pembaptis. Karena itu Mrk. 1:2-9 boleh disebut sebagai tempatnya Yohanes Pembaptis dalam Mrk.
Markus sendiri menghadirkan Yohanes Pembaptis pada sangat permulaan. Ia dipresentasikan langsung pada karya publiknya. Pengenalan tokoh ini diawali dengan maklumat penggenapan seperti disebut dalam Mrk. 1:2-3, bahwa nubuat yang pernah dinyatakan oleh Yesaya terungkap saat tampilnya Yohanes Pembaptis. Kehadirannya langsung diiringi dengan warta pertobatan, pembaptisan, serta pemberitaan tentang “Yang lebih berkuasa” darinya. Karena itu, pengisahan Markus tentang Yohanes Pembaptis memang terkesan singkat dan padat. Namun dengan cara itu, Markus sebetulnya memiliki maksud lain, yaitu penekanannya pada Mesias sebagai Hamba. Jarang sekali orang berbicara mengenai riwayat hidup seorang hamba. Demikian juga, Yohanes pembaptis sebagai perintis Mesias tidak diceritakan riwayat hidupnya sesuai dengan karakter keseluruhan Mrk. Secara singkat dapat dikatakan bahwa Mrk.1:2-9 merupakan teks utama yang memberikan pengenalan tentang Yohanes Pembaptis. Tokoh ini sangat penting sehingga ia langsung dibicarakan pada awal Injil mendahului tokoh-tokoh lainnya. Ia tampil sebagai utusan yang memberitahukan kepada dunia bahwa Tuhan sudah akan datang.
            Kejelasan pemahaman dan pengenalan tentang Yohanes Pembaptis dibicarakan secara memadai pada bab berikut, yaitu dengan memahami identitas dan isi pewartaan tokoh tersebut.



[1] Bdk. Martin Suhartono, Kasih Dalam Kisah dan Kisah Dalam Kasih (Yogyakarta: Lembaga Pengembangan Kataketik Puskat, 1999), hlm. 7.
[2] Komisi Kitab Suci Kepausan, Penafsiran Alkitab Dalam Gereja (Yogyakarta: Kanisius, 2007), hlm. 57.
[3] Narasi biasanya langsung diidentikkan dengan cerita. Padahal narasi sebenarnya menunjuk pada dua hal, yaitu cerita dan penuturan. Cerita hanya merupakan satu unsur dari narasi.  Bdk. B. E. Drewes, Satu Injil Tiga Pekabar (Jakarta: PT BPK Gunung Mulia), hlm. 339. Lih. juga Christopher D.  Marshall, Faith As A Theme In Mark’s Narrative (Melbourne: Cambridge University Press, 1989), hlm. 15-16.
[4] Isi narasi (cerita) ini dibagi atas beberapa bagian, yaitu: tokoh-tokoh, latar waktu, latar tempat, latar sosial dan plot.
[5] Cara isi diceritakan (penuturan) dibagi atas beberapa bagian, yaitu: gaya penuturan, sudut pandang, pengarang tersirat, dan pembaca tersirat.
[6] Bdk. Martin Suhartono, Kasih Dalam Kisah dan Kisah Dalam Kasih, hlm. 4.
[7] C. Groenen, Pengantar Ke Dalam Perjanjian Baru (Yogyakarta: Kanisius, 1984), hlm. 73.
[8] Bdk. I Suharyo, Mengenal Tulisan Perjanjian Baru (Yogyakarta: Kanisius, 1991), hlm. 16.
[9] B. E. Drewes, Satu Injil Tiga Pekabar, hlm. 6.
[10] Raymond E. Brown, dkk., The Jerome Biblical Commentary (London: Geoffrey Chapmen, 1968), hlm. 24.
[11] C. Groenen, Pengantar Ke Dalam Perjanjian Baru, hlm, 76.
[12] Mrk. 1:2-3 ini merupakan kutipan yang diatasnamakan berasal dari Yes. Jelasnya yang asli Yes. sebenarnya ada pada ay. 3. Jemaat mula-mula kemudian menerapkan teks tersebut kepada Yohanes Pembaptis sebagai pendahulu Yesus, sementara Tuhan itu menunjuk pada Yesus. Tetapi kutipan bagian pertama (Mrk. 1:2b) sebetulnya merupakan kombinasi dari Kel. 23:20 dan Mal. 3:1. Kel. 23:20 berbunyi: “Sesungguhnya Aku mengutus seorang utusan mendahului engkau untuk melindungi engkau di jalan”. Sementara Mal. 3:1: “Lihat, Aku menyuruh utusan-Ku dan ia akan mempersiapkan jalan di hadapan-Ku”. Mrk. 1:2 menggunakan Kel. 23:20 pada bagian pertama sedangkan pada bagian kedua menggunakan Mal. 3:1. Martin Harun, “Penelitian Sumber”, dalam LAI, Metode Tafsir Alkitab (Forum Biblika/no.8/1998), hlm. 16-17. Bahwa Mrk. 1:2-3 dianggap sebagai kutipan dari Yes., hal itu sebenarnya terjadi karena Yesaya adalah nabi besar dan para penulis menggunakan wibawa nabi tersebut untuk memperkenalkan tulisannya, juga karena jemaat sezaman memang sering menaruh ramalan para nabi atas pengaruh Yesaya.
[13] Aspek topologis menunjuk pada satu pembagian Mrk. berdasarkan tempat. Berdasarkan pembagian tempat ini ada satu argumentasi yang dikemukakan, yaitu Mrk. secara topologis bisa dibagi menjadi lima bagian, yaitu: a) Padang gurun (1:2-13), b) Galilea (1:14-8:26), c) Jalan (8:27-10:52), d) Yerusalem (11:1-15:41), dan e) Kubur (15:42-16:8). Bdk. Augustine Stock, “The Structure of Mark”, dalam The Bible Today (September 1985), hlm. 294.
[14] Bdk. A. A. Sitompul dan U. Beyer, Metode Penafsiran Alikitab (Jakarta: PT BPK Gunung Mulia, 1985), hlm. 134.
[15] J. B. Banawiratma, Membaca Kitab Suci (Yogyakarta: Kanisius, 1986), hlm. 81-83.
[16] Pembagian secara topologis ini dikaitkan juga dengan kiasmus: A=Padang gurun, B=Galilea, C=Jalan, B¹=Yerusalem, A¹=Kubur. A B C B¹ A¹. C adalah titik konsentris, sementara A dan A¹ adalah parallel, begitu juga dengan B dan B¹. Kiasmus adalah susunan kata dalam suatu kalimat atau unsur-unsur suatu perikop atau karangan yang dibuat sedemikian rupa sehingga pasangan masing-masing setelah dikelompokkan pada suatu pusat saling berhubungan. Xavier Leon-Dufour, “Kiasmus”, Ensiklopedi Perjanjian Baru (Yogyakarta: Kanisius, 1990).
[17] A. A. Sitompul dan U. Beyer, Metode Penafsiran Alikitab, hlm. 134.
[18] B. E. Drewes, Satu Injil Tiga Pekabar, hlm. 342-342.
[19] Bdk. David Rhoads and Donald Michie, Mark as Story: An Introduction to the Narrative of  a Gospel (Philadelphia: Protress Press, 1982), hlm.101.
[20] J. D. Kingsburry, Matthew  As Story (Philadelphia: Fortress Press, 1988), hlm. 9-10.
[21] Kisah Mrk. menurut para ahli memiliki ciri-ciri dramatis. Itu karena Markus familiar dengan seni drama pada zamannya. Dikatakan bahwa teori kebijaksanaan tentang struktur dramatis telah berkembang di dunia Yunani-Romawi pada waktu Markus menyusun tulisannya. Saat itu Aristoteles memberikan dasar bagi perkembangan teori dramatis ketika ia menulis dalam bukunya “Poetis” bahwa suatu peristiwa harus menjadi sesuatu yang lengkap dan harus digambarkan sebagai sesuatu yang menarik. Bdk. Theresa Moser, “Marks’s Gospel: A Drama?” The Bible Today (November 1975), hlm. 529.
[22] Bdk. Martin Suhartono, Kasih Dalam Kisah dan Kisah Dalam Kasih, hlm.11-12.
[23] Tokoh statis misalnya nampak pada kaum Farisi dan kaum Saduki dalam Injil.
[24] Bdk. Martin Suhartono, Kasih Dalam Kisah dan Kisah Dalam Kasih, hlm.11.
[25] Yesus kelak akan datang  di Yudea dan Yerusalem seakan-akan hanya untuk menempuh sengsara dan hukuman mati. Bdk. J. Sutopo, Mysterium Christi (Jokjakarta: Penerbitan Jajasan Kanisius, 1970), hlm. 50.
[26] Ibid., hlm.52.
[27] B. E. Drewes, Satu Injil Tiga Pekabar, hlm. 343-344.
[28] Yesaya yang dimaksudkan adalah Deutero-Yesaya atau Yesaya yang kedua. Ia hidup sekitar abad VI SM saat kerajaan Yehuda hancur dan terjadi pembuangan di Babel. Satu perubahan terjadi saat raja Koresy masuk ke Babel dan memerintahkan orang Yahudi kembali ke negerinya. Kepada orang Yahudi, Koresy mengatakan bahwa Tuhan memerintahkan dia untuk membangun kembali kenisah Yerusalem. Yesaya kedua terkesan dengan hal tersebut dan menyatakan bahwa Koresy adalah yang terurapi dari Yahwe (Yes. 45:1). Nubuat Yesaya yang dikutip oleh Mrk. 1:2 ditemukan juga dalam Hos. 2 pada abad VIII.  LBI, Tafsir Alkitab Perjanjian Lama (Yogyakarta: Kanisius, 2002), hlm. 512-513.
[29] Xavier Leon-Dufour, “Sungai Yordan”, Ensiklopedi Perjanjian Baru.
[30] Ibid.
[31] Bdk. Sidlow Baxter, Mengenali Isi Alkitab 3 (Jakarta: Yayasan Komunikasi Binah Kasih/OMF, 2003), hlm.82-88.
[32] Bdk. B. E. Drewes, Satu Injil Tiga Pekabar, hlm. 345.
[33] A. A. Sitompul dan U. Beyer, Metode Penafsiran Alkitab, hlm. 311.
[34] Bdk. B. E. Drewes, Satu Injil Tiga Pekabar, hlm. 348.
[35] David Rhoads and Donald Michie, Mark As Story: An Introduction to the Narrative of  a Gospel, hlm. 44-56.
[36] I Suharyo, Pengantar Injil Sinoptik, hlm. 49.
[37] Bdk. Sidlow Baxter, Mengenali Isi Alkitab, hlm.156.
[38] Ibid, hlm. 158.
[39] J. Sutopo, Mysterium Christi, hlm.49.
[40] Rumusan: “Seperti ada tertulis dalam kitab nabi Yesaya” dianggap sebagai penggubahan dari seorang redaktur. Rumusan asli sebenarnya adalah: “Seperti ada tertulis dalam kitab-kitab para nabi.” Namun dipandang bahwa teks Yesaya adalah yang paling penting di antara kedua teks yang dikutip di sini. Bdk. Jakob van Bruggen, Markus: Injil Menurut Petrus (Jakarta: PT BPK Gunung Mulia, 2006), hlm.33-34.
[41] Bdk. B. E. Drewes, Satu Injil Tiga Pekabar, hlm. 349.
[42] Bdk. Stefan Leks, Tafsir Injil Markus (Yogyakarta: Kanisius, 2003), hlm.30.
[43] Bdk. David Rhoads and Donald Michie, Mark As Story: An Introduction to the Narrative of  a Gospel, hlm.35-36.
[44] Berkaitan dengan Mrk. diungkapkan bahwa Markus adalah penulis dan pengisah yang mahatahu.  David Rhoads and Donald Michie,  Ibid., hlm.36.
[45] Bdk. Martin Suhartono, Kasih Dalam Kisah dan Kisah Dalam Kasih, hlm.9.
[46] Bdk. B. E. Drewes, Satu Injil Tiga Pekabar, hlm. 356.
[47] Martin Suhartono, Kasih Dalam Kisah dan Kisah Dalam Kasih, hlm.13.
[48] Bdk. B. E. Drewes, Satu Injil Tiga Pekabar, hlm. 350.
[49] Bdk. M. A. Powell, What Is Narrative Criticism? (Mineapolis: Forteress Press, 1994), hlm. 24.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar