Rabu, 25 Januari 2012

5 Februari: Santa Agata, Perawan dan Martir; Yakub, Bapa Bangsa

Santa Agata, Perawan dan Martir 
Agata lahir di Kantania, pulau Sisilia, pada pertengahan abad ketiga. Riwayatnya dan kisah kesengsaraannya karena iman akan Kristus tidak diketahui secara pasti. Semuanya baru muncul bertahun-tahun sepeninggal perawan suci ini.
Tradisi lama menurunkan satu-dua riwayat seperti berikut: Agata adalah puteri seorang bangsawan kaya yang berkuasa di Palermo atau Kantania, Sisilia. Penderitaannya sebagai seorang Martir berawal pada masa pemerintahan kaisar Decius (249 - 251). Penderitaan itu berawal dari peristiwa penolakannya terhadap lamaran Quintianus, seorang pegawai tinggi kerjaan Romawi. Ia menolak lamaran itu karena ia telah berjanji untuk tetap hidup suci di hadapan Tuhan.
Akibatnya ia di tangkap dan dipenjarakan dengan maksud untuk mencemari kesuciannya. Semua usaha picik itu sia-sia belaka. Dengan bantuan rahmat Tuhan, Agata tetap menunjukkan dirinya sebagai mempelai Kristus yang teguh dan suci murni.
Quintianus semakin berang dan terus menyiksa Agata hingga mati. Agata menghadapi ajalnya dengan perkasa dan menerima mahkota keperawanan dan kemartirannya pada tahun 250.
Karena dipercaya bahwa Agata mempunyai kekuatan untuk mencegah dan mengendalikan letusan-letusan gunung api Etna di Sisilia, ia dimuliakan dan dihormati sebagai pelindung manusia dari ancaman-ancaman api.

Yakub, Bapa Bangsa 
 Iakob (Yunani), Yaqob (ibr singkatan dari ya`qob-el) yang berarti Allah Melindungi (Kej27:36 ; Yer9:3). Yakub adalah cucu Abraham, putera Ishak dari perkawinannya dengan Rebeka (Kej25:20 [[Kej 28]]; [[Kej 27]]). Ia lebih disenangi daripada Esau, kakaknya. Yahweh mengaruniakan kepadanya keduabelas anak laki- laki, yang menjadi tumpuan ke 12 suku Israel. Dengan demikian Yakub adalah Bapa asal bangsa Israel. Cerita-cerita mengenai Yakub dibagi menjadi dua: cerita mengenai dusta, dan cerita mengenai penerimaan berkat. Dusta yang diceritakan ialah Yakub yang membeli (Kej25:27-34) atau merebut secara licik hak kesulungan dari Esau (ay 27). Ia sendiri dibohongi oleh Laban (Kej29:23-30). Cerita tentang perkelahian di waktu malam dekat sungai Yabok (ay. 32) membuat Yakub memperoleh rahmat Tuhan dan memperoleh nama baru Israel. Dari namanya yang baru ini, seluruh keturunannya yang kemudian menjadi bangsa terpilih Yahweh dinamakan Israel.
 Pada cerita itu dimulailah cerita-cerita pemberkatan. Disitu banyak tempat geografis yang dihubungkan dengan keadaan Yakub waktu itu. Hal itu memberi suatu petunjuk, bahwa legenda-legenda sebagian bercorak etiologis, seperti misalnya:
1) cerita tentang Betel yang mengisahkan penampakan dengan tangga surgawi, pendirian altar dan penempatan sebuah batu.
2) cerita tentang Haran mengisahkan hubungan dengan Laban.
3) cerita Gilead tentang perjanjian perbatasan dengan Laban.
4) cerita Mahanin tentang kerukunan kembali Yakub dengan Esau.
5) cerita tentang Sukot mengisahkan pembuatan rumah pondok.
6) cerita di Pniel mengisahkan pergumulan di waktu malam.
7) cerita tentang kejadian di Sikhem mengisahkan pembelian sebidang tanah dan pembuatan altar. Tekanan diletakkan pada tempat-tempat itu dan bukan pada peristiwanya.
 8) Kemudian masih ada cerita-cerita perpindahan Yakub ke Mesir yang menempatkan Habron sebagai tempat kediaman sementara (Kej37:14).
Dalam Kej49:29-33 dikisahkan, bahwa Yakub meninggal di Mesir. Kemudian Kej50:12-14 mengisahkan bahwa ia dikubur di Makhpela. Dari kesemuanya itu dapat ditarik kesimpulan adanya suatu garis tradisi ganda: Yang satu lebih bersifat kultis di daerah barat Yordan, dan yang lain lebih berhubungan dengan sejarah daerah yang ditempatkan di daerah Timur Yordan. Di dalam tulisan di luar Pentateukh, Yakub hampir tidak pernah disebutkan. Di dalam perjanjian baru ia muncul pada ungkapan “Abraham, Ishak dan Yakub (Mat8:11; Luk13:28).
http://www.imankatolik.or.id/kalender/5Feb.html

4 Februari: Santo Yohanes de Britto, Martir; Santo Isodorus dari Mesir, Pengaku Iman; Santa Katarina Dei Ricci, Perawan; Santa Yoana Valois, Pengaku Iman

Santo Yohanes de Britto, Martir 
Yohanes de Britto adalah anak seorang perwira tinggi. Ketika masih kanak-kanak, ia bersahabat baik dengan Don Pedro, yang kemudian menjadi Raja Portugal. Ketika menanjak remaja, ia tidak suka bergaul dengan kawan-kawannya yang lebih tertarik pada gaya hidup istana yang serba germelap. Suatu ketika ia jatuh sakit, tetapi segera sembuh lagi berkat doa ibunya lewat perantaraan Santo Fransiskus Xaverius. Ia bercita – cita menjadi misionaris seperti Santo Fransiskus Xaverius.
 Pada hari raya natal tahun 1662, ia masuk novisiat Serikat Yesus di Lisabon. Di hadapan kanak-kanak Yesus yang terbaring di kandang Natal biaranya, ia berdoa dan memohon kiranya ia diutus ke Jepang sebagai misionaris. Pada waktu itu, Jepang sudah menjadi sebuah wilayah misi di Asia. Tetapi Tuhan mempunyai suatu rencana lain atas dirinya. Oleh pimpinannya, ia ditempatkan sebagai misionaris di India, sebuah wilayah misi yang sangat sulit. Ketika mendengar berita itu, ibunya segera menghubungi Duta Sri Paus dan pembesar lainnya untuk membatalkan kembali keputusan atas diri anaknya. Bagi dia, penempatan itu sangat berbahaya bagi anaknya.
Tetapi Yohanes dengan tenang menjelaskan segala sesuatu kepada ibunya, Tuhanlah yang memanggil aku. Aku tak mampu berbuat sesuatu selain menerima keputusan itu dengan iman sambil menyerahkan diri pada kebaikan Allah. Tidak mendengarkan panggilan Tuhan sama saja dengan membangkitkan amarah Tuhan atas kita. Dalam nama Tuhan, aku bersedia berangkat ke India untuk mewartakan Injil Kristus, demikian katanya kepada ibunya. Karena keteguhan imannya akan rencana Allah, ia sanggup mengatasi semua rintangan yang menghadang. Ibunya sendiri akhirnya merelakan dia pergi ke India, demi Injil Yesus Kristus. Wilayah misi India masa itu sangat rawan. Yohanes dengan penuh semangat berkarya demi penyebaran Injil Kristus selama 20 tahun di tengah-tengah aneka rintangan dan hadangan, penderitaan dan kekurangan. Keberhasilannya mempertobatkan orang-orang India membawa dia kepada kematian yang mengerikan. Ia ditangkap, dianiaya dan dipenjarakan, kemudian mati di penggal kepalanya pada tanggal 4 Februari 1693.

Santo Isodorus dari Mesir, Pengaku Iman 
 Semenjak masa mudanya, Isodorus menjalani suatu cara hidup tapa yang keras di gurun pasir Mesir. Dimata rekan-rekannya, ia dikenal sebagai pertapa yang saleh dan ramah kepada siapa saja yang datang kepadanya meminta bimbingannya. Ia rajin berdoa dan bekerja. Doa-doa Mazmur senantiasa didengungkan sepanjang ia bekerja. Apabila rekan-rekannya menyuruh dia beristirahat, ia menjawab: Hidup Yesus penuh dengan kerja keras dan doa. Karena itupun kita hendaknya berbuat yang sama seperti Yesus. Sekalipun saya dibunuh, dibakar dan abu jenazahku di tebarkan di udara, semuanya itu belumlah cukup sebagai balasan kepada Yesus, Guruku.
Suatu ketika, tatkala ia kembali dari kunjungannya kepada Uskup Theofilus di kota Aleksandria, rekan-rekannya menanyai dia tentang segala sesuatu yang dilihatnya di kota. Pertanyaan itu dijawabnya dengan mengatakan: Saya tidak melihat apa-apa selain Uskup Theofilus. Maksudnya dengan jawaban ini ialah untuk menyadarkan rekan-rekannya akan pentingnya hal pengendalian diri bagi seorang pertapa di tengah-tengah kegermelapan dunia dan berbagai kesenangan duniawi, agar tidak mengganggu persatuannya dengan Kristus. Ia meninggal dunia pada tahun 390.

 Santa Katarina Dei Ricci, Perawan 
Katarina lahir di Florence, Italia pada tanggal 23 April 1322. Ia dipermandikan dengan nama Aleksandrina Dei Ricci. Semenjak kecil, ia sudah menunjukkan minta besar terhadap hal-hal kerohanian seperti berdoa dan kewajiban agama lainnya. Cita-citanya hanya satu, yakni menjadi seorang biarawati. Ketika berusia 13 tahun, ia menjadi anggota Ordo ketiga Santo Dominikus di desa Prato dengan nama baru: Katarina Dei Ricci. Di dalam ordo ini, Katarina mengalami perkembangan hidup rohani yang sangat mendalam. Ia mengalami banyak penglihatan Ilahi. Pada masa puasa 1542, ia mengalami penglihatan ajaib yang menggambarkan Kristus yang disalibkan. Penglihatan itu sungguh mengharukan hatinya hingga menyebabkan ia sakit selama 3 minggu. Ia sembuh kembali ketika mengalami penglihatan kedua pada malam Paskah tentang Yesus yang bangkit dan menampakkan diri kepada Maria Magdalena.
Penglihat-penglihatannya yang dialaminya setiap hari Jumat berlangsung terus selama 12 tahun. Kecuali itu, Katarina pun dianugerahi lima lukaYesus pada kedua tangan dan kakinya serta lambungnya. Stigmata itu menjadi tanda Ilahi yang terus menggerakkan dia untuk selalu merenungkan makna penderitaan Yesus bagi keselamatan umat manusia. Renungan-renungan ini menjadikan dia seorang pencinta dan pendoa bagi jiwa-jiwa di api penyucian. Meskipun kehidupan Katarina diliputi berbagai peristiwa ajaib dan pengalaman rohani, ia selalu menampilkan diri sebagai seorang suster yang rendah hati dan penuh kasih sayang kepada sesamanya di dalam biara. Ia meninggal dunia pada tanggal 2 Februari 1590 di Prato, dekat Florence.

Santa Yoana Valois, Pengaku Iman 
 Yoana Valois, puteri raja Louis XI (1461 - 1483) lahir pada tahun 1464. Ketika menanjak remaja, ia dipaksa ayahnya menikah dengan seorang pangeran dari Orleans. Ketika suaminya naik Tahta menggantikan ayahnya raja Louis XI pada tahun 1498, Yoana meminta agar perkawinan mereka di batalkan saja. Alasannya adalah bahwa perkawinan ini hasil paksaan ayahnya bukan keputusan kehendaknya pribadi. Sri Paus pun mengabulkan permohonan Yoana.
Setelah itu, Yoana tinggal di Bourges. Disana pada tahun 1501 ia mendirikan Ordo Annonciades, sebuah ordo kontemplatif bagi penghormatan abadi kepada Bunda Maria. Istananya kemudian diubahnya menjadi biara induk untuk ordonya. Sebagai seorang biarawati, Yoana dikenal sebagai seorang yang sabar, baik hati dan saleh. Ia ditetapkan Kudus oleh Sri Paus Pius XII (1939 - 1958) pada tahun 1950.
http://www.imankatolik.or.id/kalender/4Feb.html

3 Februari: Santo Blasius, Uskup dan Martir; Santo Ansgarius, Uskup; Santo Gilbertus

Santo Blasius, Uskup dan Martir 
Blasius adalah seorang Uskup di Sebaste, di wilayah Armenia, Asia Kecil. Ia dikenal sebagai seorang ahli Fisika dan seorang gembala yang baik hati. Pada masa pemerintahan Kaisar Licinius, ia ditangkap dan dipenjarakan. Kemudian pada tahun 316, ia dihukum mati.
Menurut cerita rakyat, ia berhasil menyelamatkan seorang anak laki-laki dari kematian karena tulang ikan yang tersangkut pada tenggorokannya. Doa dan berkat Santo Blasius melepaskan anak itu dari bahaya kematian. Doa dan berkat Santo Blasius ini terus dilestarikan oleh Gereja hingga dewasa ini. Pada setiap tanggal 3 Februari , Pesta Santo Blasius, umat Katolik menghadiri misa Kudus untuk menerima berkat santo Blasius dari imam-imamnya.
Berkat yang diberikan imam-imam disertai doa berikut: Moga-moga Allah karena perantaraan Santo Blasius, Uskup dan Martir, membebaskan dikau dari penderitaan tenggorok dan dari kemalangan lainnya. Atas nama Bapa, dan Putera dan Roh Kudus. Amin.

Santo Ansgarius, Uskup 
Ansgarius lahir pada tahun 801 di daerah Amiens, Prancis. Ia dikenal sebagai seorang Uskup dan pewarta Injil di daerah Skandinavia. Sebagian besar masa hidupnya ia manfaatkan untuk mewartakan Injil Kristus kepada kaum kafir Norsemen yang bengis dan liar.
Semasa mudanya, Ansgerius menghayati suatu cara hidup yang baik seturut kebiasaan-kebiasaan Kristen yang berlaku pada masa itu. Kemudian ia memutuskan untuk menjadi seorang rahib Benediktin. Untuk itu, ia masuk biara Benediktin di Corbie dan menjadi asuhan Paschasius Radbertus. Segera setelah itulah, ia mengucapkan kaulnya, ia bersama beberapa orang rekannya diutus ke Wesphalia untuk mendirikan sebuah biara baru diantara orang-orang Saxon di Jerman Utara. Biara baru ini dinamakan biara Corvey atau Corbie Baru. Dari sinilah, Ansgarius diutus untuk mewartakan Injil ke berbagai wilayah wilayah yang masih kafir.
Ia pernah tinggal di Istana kaisar Loius, putera Karel Agung. Disini ia berhasil mengajak raja Harold dari Denmark untuk memeluk agama Kristen. Ajakan ini disambut dengan baik oleh Raja Harold. Setelah kembali ke negerinya, Harold mengundang Ansgarius untuk memulai karya misinya diantara kaum Danes yang masih kafir. Di Denmark, Ansgarius mewartakan Injil dan berhasil mendirikan sebuah sekolah.
Dari Denmark, ia berlayar ke Swedia dan tiba di Birka, ibukota Swedia yang lama. Ia diterima dengan baik oleh raja Bjorn dan para dewan kota. Herigar, salah satu anggota dewan mendirikan sebuah gereja di wilayahnya. Itulah gereja pertama di Swedia.
Sekembalinya ke Jerman, Ansgarius ditabhiskan menjadi Uskup kota Hamburg dan diangkat menjadi utusan Paus Gregorius IV untuk menjalankan misi Gereja di wilayah Jerman bagian Utara. Sebagai seorang Uskup, Ansgarius menghadapi banyak masalah, terutama dari kaum Norsemen yang kembali kepada praktek-praktek kekafiran: menyembah dewa Odin dan Thor. Meskipun demikian, Ansgarius tetap teguh dalam karyanya mewartakan Injil. Ia mendirikan beberapa Gereja di Swedia dan menempatkan seorang imam disana untuk menggembalakan orang-orang yang telah menjadi Kristen.
Ansgarius adalah salah satu perintis pewartaan Injil di antara suku Skandinavia, Swedia dan Denmark. Ia membuka jalan bagi para misionaris di kemudian hari, seperti Santo Sigfridus, yang membawa orang-orang itu ke dalam ke Kristenan pada abad ke 11. Ansgarius meninggal sebagai seorang Uskup pada tahan 865 di Bremen, Jerman.

Santo Gilbertus 
Gilbertus lahir di Sempringham, Lincolnshire, Inggris pada tahun 1083. Setelah ditabhiskan menjadi imam, ia ditempatkan sebagai pastor paroki di Sempringham. Disamping tugas-tugas lainnya, ia mengajar sebagai seorang guru selama beberapa tahun. Perhatiannya pada nasib orang-orang miskin sangat besar. Sebagian besar penghasilannya dibagikan kepada orang-orang yang malang itu, sedang dia sendiri mencukupkan dirinya dengan sejumlah kecil uang yang masih tersisa di kantongnya.
Di kalangan umatnya di Sempringham, Gilbertus dikenal sebagai seorang imam yang saleh. Di bawah bimbingannya, beberapa orang wanita membentuk satu komunitas. Kelompok ini terus berkembang dan bertambah anggotanya, termasuk kaum pria. Gilbert dengan tekun membimbing komunitas ini menjadi sebuah komunitas yang tetap dan kokoh menurut aturan hidup Santo Benediktus dan Kanon Santo Agustinus.
Kemudian komunitas ini dijadikan sebuah ordo baru dengan nama Ordo Gilbertin. Gilbert adalah pemimpinnya. Ordo ini dibagi dalam tiga kelompok yakni, kelompok suster, bruder dan imam. Mereka tinggal di biara masing-masing tetapi tetap bersatu dalam karya pelayanan di bidang kesehatan, penampungan dan pendidikan anak- anak yatim piatu dan pelayanan orang-orang miskin dan para tawanan.
Pada umur 90 tahun, Gilbert ditangkap dan dipenjarakan karena dituduh mengungsikan Thomas dari Canterbury. Tuduhan ini tidak pernah disanggahnya sedikitpun meskipun ia tidak pernah terlibat di dalam peristiwa yang dituduhkan padanya. Ia meninggal dunia pada tahun 1189 dan di gelari Kudus pada tahun 1202.
http://www.imankatolik.or.id/kalender/3Feb.html

2 Februari: Pesta Yesus dipersembahkan di Kenizah; Beata Eugenia de Smet, Perawan; Santa Yoana Lestonac, Janda; Beato Theofanus Venard, Martir

Pesta Yesus dipersembahkan di Kenizah  Empat puluh hari yang lalu, kita merayakan pesta kelahiran Yesus, Juruselamat Dunia. Dan hari ini kita memperingati peristiwa Yesus dipersembahkan kepada Allah di Kenizah Yerusalem. Peristiwa ini terjadi sesuai dengan tuntutan Hukum Taurat Musa: Setiap anak laki- laki sulung harus dikuduskan bagi Allah pada hari yang ke 40. Yusuf dan Maria menepati hukum itu. Mereka datang dengan membawa serta sepasang burung merpati sebagai persembahan suturut adat Yahudi. Dengan bertindak demikian mereka tidak saja memenuhi hukum Tuhan, tetapi juga mau memberi teladan bagi kita dalam hal ketaatan pada hukum: Hukum Tuhan, Hukum Gereja dan Hukum Negara.
Sesuai dengan kebiasaan, Maria menyerahkan anaknya Yesus kepada Imam yang bertugas yang nantinya akan meletakkan Yesus di altar Tuhan sebagai persembahan kepada Allah. Sedangkan Yusuf membawa dua ekor merpati itu dan memberikannya kepada imam untuk dikurbankan menggantikan Yesus. Setelah merpati itu dikurbankan, Yesus diserahkan kembali kepada orang tuanya. Persembahan anak laki-laki sulung kepada Tuhan merupakan suatu tindakan iman untuk menyatakan bahwa anak itu sesungguhnya adalah karunia Tuhan. Maka tindakan Maria dan Yusuf tidak hanya menunjukkan bahwa mereka mau menaati Hukum Taurat Musa tetapi juga mau menunjukkan imannya kepada Allah sebagai pemberi Yesus.
Peristiwa persembahan Yesus di kenizah bukanlah peristiwa biasa seperti yang terjadi atas semua anak sulung orang Israel. Peristiwa itu adalah suatu peristiwa keselamatan karena terjadi atas Pribadi Putera Allah sendiri yang menentukan sejarah dunia. Kedatangan Simeon dan Hana ke Kenizah Allah atas dorongan Roh Kudus membuktikan secara lebih tandas lagi makna peristiwa itu. Mereka datang untuk bertemu dan menyaksikan sendiri sang Mesias yang dijanjikan Allah sebagai penebus umat manusia.
Pada hari itupun kita diundang dan dikumpulkan oleh Roh Kudus di dalam gereja untuk bertemu dengan Kristus dalam perjamuan Kudus. Di dalamnya kita menjumpai dan mengenal Dia sampai pada hari Ia datang dalam semarak kemulian-Nya.

Beata Eugenia de Smet, Perawan 
Puteri kebangsaan Perancis ini lahir pada tahun 1825 dan dikenal sebagai pembina tarekat suster-suster Pembantu jiwa-jiwa di api penyucian. Sejak berusia 17 tahun, ia sudah berniat mengabdikan dirinya bagi kemuliaan Tuhan. Ia bersedia dan rela menerima penyelenggaraan Ilahi atas dirinya dengan melaksanakan apa yang diperintahkan Allah, kendatipun kehendak Allah berat baginya.
Sesudah menerima Komuni Kudus pada hari peringatan jiwa-jiwa di Api Penyucian tahun 1853, ia merasakan dalam hatinya suatu gejolak batin yang luar biasa kuatnya: Ia merasa mendapat panggilan Allah untuk membina suatu tarekat baru bagi suster-suster yang khusus mengabdikan diri bagi kepentingan jiwa-jiwa yang masih bergulat dengan penderitaan di api penyucian dengan doa dan tapa serta pekerjaan amal kasih. Gejolak hati itu tak tertahankan. Namun ia masih juga merasa ragu-ragu akan panggilan Ilahi itu. Guna mendapatkan kepastian akan pentingnya mendirikan tarekat itu dan agar tarekat itu tidak didirikan atas dorongan emosional perorangan belaka, ia meminta kepada Tuhan lima buah tanda sebagai petunjuk perihal apa yang dikehendaki-Nya dari padanya. Tuhan mengabulkan permohonannya itu selama 2 tahun awal karyanya.
Kecuali itupun, ia meminta petunjuk dari Santo Maria Vianney, Pastor Ars yang pada waktu itu sudah masyur namnya karena berbagai karunia yang luar biasa yang diberi Allah kepadanya. Kepada Eugenia, Pastor Ars yang Kudus itu mengatakan bahwa pendirian tarekat baru yang diusulkan berkenan kepada Allah dan sangat berguna bagi pembebasan jiwa-jiwa di api penyucian. Kata- kata Yohanes memberinya peneguhan untuk memulai karya agung itu.
Dengan ijin Uskup Agung Paris, rumah biara pertama tarekat itu dibangunnya di Paris pada tahun 1856. Sejak itu ia mengganti namanya dengan nama baru: Maria, Puteri Penyelenggara Ilahi, karena segala yang terjadi atas dirinya adalah atas penyelenggaraan Ilahi Allah. Kepercayaannya akan Penyelenggaraan Ilahi tak pernah mengecewakan dia. Dalam beberapa tahun, tarekat Pembantu jiwa- jiwa di Api Penyucian tersebar ke seluruh dunia: Eropa, Amerika dan Asia. Akan tetapi kemajuan ini tidak tercapai tanpa mengarungi sengsara. Banyak salib penderitaan yang ditanggungnya: ia terserang penyakit kanker, fitnahan dan olokan. Meskipun demikian, semuanya itu ditanggungnya dengan sabar penuh iman sambil tetap bersemangat melaksanakan tugasnya. Bapa pengakuannya sendiri bersusah payah mengendalikan dia agar tidak terlalu giat sementara ia dalam keadaan sakit. Namun ibu Maria toh tidak dikekang semangat pengabdiannya, karena ia yakin bahwa Tuhan menyertainya.
Setelah menerima Sakramen sakramen terakhir dari tangan Pater Petrus Olivaint, yang beberapa bulan kemudian mati sebagai martir di Tiongkok, Ibu Maria wafat dengan tenang pada tanggal 7 Februari 1872. Kata terakhir yang ditinggalkannya kepada suster-susternya ialah Cinta Kasih. Ia digelari Beata oleh Paus Pius XII (1939 - 1958) pada tanggal 26 Mei 1957.

Santa Yoana Lestonac, Janda 
Yoana lahir pada tahun 1556. Beliau adalah seorang janda dan ibu dari 4 orang anak. Sepeninggal suaminya ia menjalani cara hidup membiara. Tetapi karena di fitnah ia terpaksa keluar dari biara itu. Akhirnya ia mendirikan kongregasi suster yang mengabdikan diri di bidang pendidikan anak-anak puteri. Ia meninggal dunia pada tahun 1640.

Beato Theofanus Venard, Martir 
Misionaris muda ini dijuluki Martir Gembira sebab sepanjang kariernya yang penuh dengan bahaya, bahkan sampai akhir hidupnya sebagai seorang martir, ia tetap menghadapi semuanya dengan gembira dan lapang dada. Theofan lahir pada tahun 1829 di Perancis, disebuah keluarga Katolik yang saleh. Semenjak muda ia suka membaca majalah misi yang dikeluarkan oleh Serikat KePausan untuk Penyebaran Iman. Ia kagum akan keberanian dan semangat pengorbanan para misionaris tanah-tanah misi, terutama tanah misi di Tiongkok, sebagaimana yang dikisahkan pada majalah itu. Sejak itu, hasrat hatinya untuk menjadi misionaris mulai bersemi.
Suatu hari ia berkata kepada orang tuanya: Saya juga ingin menjadi misionaris di Tonkin dan menjadi martir Kristus disana. Tetapi siapakah yang mau menyekolahkannya hingga menjadi seorang imam? Orang tuanya miskin dan tak mampu menyekolahkannya. Tetapi rahmat Tuhan menyertainya. Partor parokinya rela membantu menyekolahkan dia. Mula-mula ia belajar di Pastoran dan kemudian pindah ke seminari. Akhirnya pada tahun 1852 dalam usianya yang 23 tahun, ia ditabhiskan menjadi imam.
Tiga hari sesudah di tabhiskan, ia bersiap-siap untuk berangkat ke Tonkin (sekarang Vietnam), Cina sebagai misionaris. Ia tidak sempat lagi bertemu dengan semua orang yang dikasihinya: orangtua, sanak saudara dan sahabat kenalannya. Oleh kerena itu ia menulis surat perpisahan kepada mereka dari Paris. Lebih dari setahun ia berada di Hongkong untukmempelajari bahasa setempat. Dari Hongkong ia secara gelap menyusup ke Tonkin, karena penguasa setempat tidak memperkenankan orang-orang asing termasuk para misionaris berkarya disana, meskipun jumlah umat Katolik sudah cukup banyak. Dalam keadaan itu, tindakan nekad Teofan sungguh berbahaya bagi dirinya.
 Namun ia sendiri merasa tidak ada masalah dan tetap bergembira. Kepada seorang sahabat ia menulis: Hiduplah kegembiraan! Tentu engkau tahu semboyan Santa Theresia: Apa saja yang terjadi atas dirimu janganlah bersusah hati, janganlah takut dan gelisah; pada akhirnya segala sesuatu akan lenyap, dan hanya Tuhan lah yang tetap.
Tujuh tahun lamanya Theofan bekerja di Tonkin secara sembunyi-sembunyi. Ia melayani umat dengan sakramen-sakramen, mengajarkan agama, dan meneguhkan hati mereka. Waktu-waktu luangnya ia manfaatkan untuk menyalin seluruh perjanjian baru kedalam bahasa Annam. Lama kelamaan kehadirannya disana diketahui juga. Oleh laporan seorang yang mengetahui dengan baik kegiatan - kegiatannya ia ditangkap dan dipenjarakan pada tanggal 30 November 1860. Kepada seorang adiknya di Perancis ia masih sempat menulis beberaa surat. Surat-surat itu diawalinya dengan kata-kata: Dari kurungan saja saya menulis surat kepadamu, karena memang ia dipenjarakan di dalam sebuah sel yang bertelali besi dan di jaga ketat siang dan malam. Dari surat-suratnya terbaca jelas wataknya yang tetap riang gembira.Dua bulan lebih ia tinggal di dalam sel itu. Katanya dalam sebuah surat:Mungkin kepalaku akan dipenggal oleh penguasa kafir yang lalim dan dengan demikian tamatlah riwayat hidupku. Namun kematian itu sungguh merupakan suatu peristiwa iman yang membahagiakan sekali hatiku. Kematian yang kurindukan sejak dahulu karena olehnya aku akan pindah kedalam kehidupan abadi bersama Tuhan.
Pada tanggal 2 Februari 1861 ia dipenggal kepalanya karena iman akan Kristus dan kecintaannya yang luar biasa pada umatnya. Sewaktu dihantarkan ke panggung tempat ia disiksa, ia menyanyikan Mazmur-mazmur dan lagu-lagu rohani.
http://www.imankatolik.or.id/kalender/2Feb.html

1 Februari: Santa Brigida, Biarawati ; Santo Severus, Uskup

Santa Brigida, Biarawati 
Brigida lahir di Umeras, Kildare, Irlandia pada tahun 453. Ayahnya, Dubthach adalah seorang pangeran yang masih kafir. Sedangkan ibunya, Borcessa adalah seorang budak belian yang sudah menganut agama Kristen. Brigida dibesarkan dan dididik menjadi seorang Kristen. Setelah dewasa, ia bercita-cita menjadi seorang biarawati. Namun keinginannya ini mendapat banyak rintangan. Pertama-tama karena pada waktu itu belum ada biara khusus untuk wanita. Lagi pula wanita budak belian dan anak-anaknya tidak mempunyai hak apapun bahkan seringkali mereka tidak diperkenankan mengikuti ibadat.
Meskipun demikian, keinginannya tidak terpatahkan oleh rintangan- rintangan tersebut. ia berusaha mendirikan sebuah biara khusus untuk para wanita di Kildare. Ia berhasil membujuk ayahnya untuk memberikannya status sebagai wanita bebas (bukan budak lagi). Ternyata ia menjadi seorang biarawati yang luar biasa. Ia bersemangat tinggi dan rajin dalam karyanya, kuat ingatannya, ramah dan terampil. Ia dapat bergaul dengan siapa saja dan siap menolong orang-orang yang datang kepadanya., bahkan menerima mereka dalam biaranya. Ia memusatkan perhatiannya pada para penderita kusta dan budak belian.
Kecuali itu, ia juga memulai usahanya di bidang pendidikan. Conleth, seorang imam, dipercayakan memimpin sekolah Kildare. Sekolah ini semenjak awal terkenal sebagai sekolah ketrampilan. Dikemudian hari, setelah Brigida wafat pada tahun 523, sekolah itu dibagi menjadi dua, satu untuk pria dan yang lain untuk wanita. Hal ini menampakkan suatu keistimewaan pada saat itu.
Penghormatan kepada santa Brigida masih berlangsung hingga kini. Di Irlandia, Brigida dikenal sebagai salah satu orang kudus terkenal selain Santo Patrik dan Columba. Ia dihormati sebagai pelindung negara Irlandia dan tokoh teladan bagi para petani, artis dan pelajar.

Santo Severus, Uskup 
Severus dikenal sebagai seorang penenun kain di Ravenna, Italia pada abad ke 4. Ia beranak isteri dan menjabat sebagai diakon. Sewaktu ia menghadiri pemilihan uskup baru, sekonyong-konyong seekor merpati hingga diatas kepalanya. Dan secara aklamasi umat memilihnya menjadi Uskup. Mayatnya dan mayat isterinya Santa Vinsensia dan anaknya Santo Inosensius dicuri pada tahun 836 dan dibawa ke Mainz, Jerman.
http://www.imankatolik.or.id/kalender/1Feb.html

Selasa, 24 Januari 2012

31 Januari: Santa Marcella, Martir; Santo Yohanes Bosko, Imam; Santo Aidan, Uskup dan Pengaku Iman

Santa Marcella, Martir 
 Marcella dikenal sebagai putri bangsawan Romawi yang beragama Kristen. Ia menikah dengan seorang Pangeran Roma. Pernikahan ini tidak berlangsung lama karena suaminya meninggal dunia beberapa bulan kemudian. Pengalaman pahit ini membukakan baginya pintu masuk menuju suatu cara hidup baru yakni cara hidup religius asketis. Dengan cara hidup ini, Marcella bermaksud mengabdikan hidupnya kepada Tuhan semata mata dengan doa, puasa dan tapa sambil melakukan perbuatan perbuatan baik kepada para miskin dan melarat di kota Roma.
Cara hidup religius asketis yang dijalaninya mengikuti pola yang dipraktekkan oleh para rahib di dunia Timur. Dalam menjalani cara hidup tersebut, Marcella di bimbing oleh Santo Yerome. Banyak wanita Roma yang mengikuti Marcella. Mereka berdoa dan berpuasa serta mengenakan mode pakaian yang sama dengan yang dikenakan oleh Marcella. Bersama Marcella, mereka mengabdikan diri pada perlayanan orang orang miskin dan terlantar. Perkumpulan religius asketis ini terus berkembang pesat. Pengikut pengikutnya semakin bertambah banyak. Karena itu Marcella membangun beberapa biara di seluruh kota Roma. Karena komunitas ini berpengaruh luas di seluruh kota, Marcella kemudian di tangkap dan dianiaya oleh orang orang Goth (Jerman) yang pada waktu itu menguasai Roma. Marcella meninggal sebagai Martir Kristus kira kira pada akhir Agustus 410.
 Santo Yohanes Bosko, Imam 
 Yohanes Melkior Bosko lahir pada tanggal 16 Agustus 1815 di Becchi, sebuah desa dekat dengan kota Torino, Italia. Ketika menanjak remaja, anak petani yang sederhana ini tidak diperkenankan masuk sekolah oleh orang tuanya karena diharuskan bekerja di ladang. Dalam situasi ini ia diajar oleh seorang imam yang baik hati. Jerih payah imam tua itu menyadarkan orang tua Bosko akan pentingnya nilai pendidikan. Oleh karena itu sepeninggal imam tua itu, ibunya menyekolahkannya ke Castelnuovo. Pendidikan di Castelnuovo ini diselesaikannya dalam waktu satu setengah tahun. Kemudian ia mengikuti pendidikan imam di seminari Chieri dan ditabhiskan menjadi imam pada tahun 1841. Karyanya sebagai imam diabdikan seluruhnya pada pendidikan kaum muda. Ia membuka sebuah perkumpulan untuk menampung anak anak muda yang terlantar, buta huruf dan miskin. Cita citanya ialah mendidik para kawula muda itu menjadi manusia manusia yang berguna dan mandiri. Ia berhasil mengumpulkan 1000 orang pemuda dari keluarga keluarga miskin. Dengan penuh kesabaran, pengertian dan kasih sayang, ia mendidik mereka hingga mereka menjadi manusia yang baik dan bertanggung jawab. Salah seorang muridnya yang terkenal adalah Dominikus Savio, yang kemudian hari menjadi orang kudus.
 Keberhasilannya ini terus membakar semangat untuk memperluas karyanya. Untuk itu ia mendirikan sebuah rumah yatim piatu dan asrama. Dengan demikian para pemuda itu dapat tinggal bersama dalam satu rumah untuk belajar dan melatih diri dalam ketrampilan ketrampilan yang berguna untuk hidupnya. Untuk pendidikan ketrampilan, Bosko merubah dapur di rumah ibunya menjadi sebuah bengkel sepatu dan bengkel kayu. Bengkel inilah merupakan Sekolah Teknik Katolik yang pertama. Sekolah ini tidak hanya menghindarkan pemuda pemuda dari kenakalan remaja, tetapi juga menciptakan pemimpin pemimpin di bidang industri dan teknik. Lebih dari itu, cara hidup Bosko sendiri berhasil membentuk kepribadian pemuda pemuda itu menjadi orang orang Kristen yang taat beragama bahkan saleh. Pada tahun 1859 atas restu Paus Pius IX (1846 - 1878), Bosko mendirikan sebuah tarekat religius untuk para imam dan bruder, yang dinamakan Kongregasi Salesian. Kemudian pada tahun 1872, bersama Santa Maria Mazzarello, Bosko mendirikan Serikat Puteri puteri Maria yang mengabdikan diri dalam bidang pendidikan kaum puteri. Bosko mendirikan banyak perkumpulan di sekolah. Ia dikenal sebagai perintis penerbitan Katolik dan rajin menulis buku buku dan pamflet. Ia pun mendirikan banyak gereja dan membantu meredakan pertentangan antara tahta Suci dengan para penguasa Eropa. Dalam karyanya yang besar ini, Bosko selalu menampilkan diri sebagai seorang imam yang saleh, penuh disiplin dan rajin berdoa. Ia menjadi seorang Bapa Pengakuan yang terpercaya di kalangan kaum remaja. Pada saat saat terakhir hidupnya, ia menyampaikan pesan indah ini: Katakanlah kepada anak anakku, Aku menanti mereka di surga. Ia meninggal dunia pada tahun 1888 dalam usia 72 tahun. Pada tanggal 2 Juni 1929, Yohanes Melkior Bosko dinyatakan sebagai Beato dan pada tanggal 1 April 1934 ia digelari Santo oleh teman dekatnya Paus Pius XI (1922 - 1939).
Santo Aidan, Uskup dan Pengaku Iman 
Aidan tinggal di sebuah biara di pulau Iona yang didirikan oleh Santo Kolumbanus. Biara inilah yang menghasilkan banyak imam misionaris untuk Skotlandia dan Inggris Utara. Aidan terkenal ketika pada tahun 634 ia diutus sebagai misionaris di Kerajaan Umbria Utara atas permintaan Santo Oswaldus, raja Umbria Utara.
Sebelumnya pernah seorang imam berkarya didaerah ini, namun ia kurang berhasil. Kepada Aidan ia mengutarkan alasan kegagalannya: Orang Umbria belum beradab, kepala batu bahkan masih liar. Sangat sulit kita mempertobatkan mereka. Aidan menjawab: Menghadapi orang orang kafir kita hendaknya terlebih dahulu memberikan kesaksian tentang seluruh iman ajaran Kristen dengan tingkah laku dan tutur kata kita yang sesuai dengan ajaran iman itu. Mungkin anda terlalu tegas terhadap mereka dan menyajikan ajaran ajaran iman dengan cara yang sulit dipahami. Suturut nasehat para Rasul, seharusnya anda lebih dahulu menyajikan kepada mereka ajaran ajaran yang mudah dicerna kemudian apabila mereka sudah dikuatkan oleh Sabda Allah, barulah ajaran ajaran yang lebih berat untuk dipahami dan dilaksanakan disajikan kepada mereka.
Aidan kemudian diutus ke kerajaan Umbria. Dengan cara hidupnya dan tutur katanya yang lemah lembut, ia bersama Raja Oswaldus berhasil mengkristenkan rakyat Umbria. Ia menjadi gembala yang disenangi karena contoh dan teladan hidup. Ia pun tidak segan segan menegur para petinggi kerajaan jika tingkah laku mereka tidak sesuai dengan tuntutan ajaran Kristen. Oswaldus bersama seluruh rakyat sangat senang kepada Aidan. Setelah ditabhiskan menjadi Uskup, Aidan menetap di pulau Lindisfarne yang kelak disebut Pulau Suci karena biara yang didirikannya disana menghasilkan banyak imam misionaris yang saleh. Aidan meninggal dunia pada tahun 651 dan hingga kini dihormati sebagai rasul bangsa Inggris Utara, sebagaimana Santo Agustinus dari Canterburry untuk Inggris Selatan.
http://www.imankatolik.or.id/kalender/31Jan.html

30 Januari: Santo Gerardus, Pengaku Iman; Santa Batildis, Pengaku Iman; Santa Maria Ward, Pangaku Iman; Beato Sebastianus, Imam

Santo Gerardus, Pengaku Iman 
 Gerardus adalah kakak Santo Bernadus. Ia mula – mula tidak mau masuk biara. Tetapi setelah terluka dalam perang, ditawan dan secara ajaib dibebaskan, ia mengikuti adiknya dalam kehidupan membiara dalam pertapaan yang menganut aturan keras. Ia meninggal dunia pada tahun 1138.
Santa Batildis, Pengaku Iman 
 Ketika masih gadis, ia dijual kepada seorang pejabat istana, tetapi kemudian ia dinikahi oleh Raja. Sepeninggal suaminya ia memerintah sampai puteranya dewasa dan menggantikannya sebagai raja. Batildis kemudian menjadi suster biasa di Chelles, Perancis. Ia meninggal dunia pada tahun 680.
Santa Maria Ward, Pangaku Iman
 Maria Ward hidup antara tahun 1585-1645. Puteri bangsawan Inggris ini berkali kali terpaksa mengungsi karena ingin mengikuti misa Kudus. Sebab perayaan Ekaristi dilarang oleh Ratu Elisabeth. Pada umur 20 tahun ia melarikan diri ke Belgia untuk masuk biara Klaris. Ia mencoba dua kali, tetapi selalu gagal walaupun sudah berusaha setaat mungkin pada aturan biara. Akhirnya ia mendirikan kumpulan wanita yang hidup bersama tanpa klausura atau pakaian biara. Sebab, mereka mau kembali ke Inggris untuk memperkuat iman umat yang dianiaya. Beberapa kali pulang, di kejar kejar, dipenjarakan dan dihukum, namun ia dibebaskan lagi. Ia kemudian kembali ke Belgia, memimpin Puteri puteri Inggris dan berusaha mendapatkan pengakuan dari Sri Paus di Roma. Di Munchen ia dipenjarakan sebagai seorang bidaah, dan pada tahun 1631 Suster suster Jesuit-nya dilarang oleh Paus. Namun akhirnya ia rehabilitir dan perjuangannya supaya kaum wanita boleh merasul seperti kaum pria diterima oleh pejabat Gereja yang masih berpikiran kolot.
Beato Sebastianus, Imam 
Sebastianus berasal dari keluarga miskin. Keluarganya sangat mengharapkan agar ia membantu menghidupi keluarganya. Tetapi cita citanya untuk menjadi seorang imam lebih menggugah dan menarik hatinya daripada keadaan keluarganya yang serba kekurangan itu. Ia masuk seminari dan mengikuti pendidikan imamat. Banyak sekali tantangan yang ia hadapi selama masa pendidikan itu, terutama karena ia kurang pandai untuk menangkap semua mata pelajaran yang diajarkan. Ia sendiri sungguh sungguh insyaf akan kelemahannya. Satu satunya jalan keluar baginya adalah dengan melipatgandakan usaha belajarnya.
Perjuangannya yang gigih itu akhirnya memberikan kepadanya hasil akhir yang menyenangkan. Ia mencapai cita citanya menjadi imam. Karyanya sebagai imam dimulainya di Torino. Sebagaimana biasa, ia selalu melakukan tugasnya dengan rajin, sabar, bijaksana dan penuh cinta kepada umatnya. Tarekatnya sungguh senang karena mendapatkan seorang anggota yang sungguh sungguh menampilkan diri sebagai tokoh teladan dalam perbuatan perbuatan baik. Selama 60 tahun ia mengabdikan hidupnya pada Tuhan, Gereja dan umatnya.
Tuhan berkenan mengaruniakan kepadanya rahmat yang luar biasa yaitu kemampuan membuat mukzijat. Jabatan Uskup Torino yang ditawarkan kepadanya ditolaknya dengan rendah hati. Ia lebih suka menjadi seorang imam biasa diantara para umatnya. Tentang hal ini Sebastianus berkata: Apa artinya menjadi Abdi abdi Tuhan? Artinya, mengutamakan kepentingan Tuhan daripada kepentingan pribadi; memanjukan karya penyelamatan Allah dan Kerajaan-Nya kepada manusia. Semuanya itu harus dilakukan di tengah tengah umat.
Imannya yang kokoh kepada Allah dan kesetiannya kepada panggilan imamatnya, membuat dirinya menjadi satu terang dan kekuatan kepada sesama manusia, terlebih rekan rekan imamnya se tarekat. Ia meninggal dunia pada tahun 1740.
http://www.imankatolik.or.id/kalender/30Jan.html