Kamis, 06 Oktober 2011

Yohanes Pembaptis; Markus 1:2-9 (John the Baptist)


PENUTUP

            Mrk. 1:2-9 merupakan pemberitaan tentang hidup dan karya Yohanes Pembaptis. Ia hadir sebagai perintis kedatangan Tuhan. Ia mempersiapkan kedatangan Tuhan yang sudah di ambang pintu. Persiapan yang dilakukannya mencakup pewartaan tentang tobat dan pemberitaan tentang kedatangan Tuhan. Pewartaannya tentang tobat ditandai dengan seruannya kepada orang banyak untuk bertobat dan memberikan diri dibaptis. Dengan cara itu, Allah akan mengampuni dosa mereka. Hal itu penting karena Tuhan akan datang sebagai manusia. Kedatangan-Nya tersebut harus disambut secara layak dan pantas. Tidak mengherankan jika Yohanes Pembaptis melihat dirinya sangat rendah dibandingkan dengan “Yang lebih berkuasa” itu. Ia bahkan menyatakan bahwa membungkuk dan membuka tali kasut-Nya pun ia tidak layak. Kalau begitu tepatlah kata-kata Yohanes Pembaptis ini: “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil”.
            Yohanes Pembaptis memang tampil sebagai utusan Allah, sehingga sikap kerendahan hati di hadapan Allah memang menjadi spiritualitas hidupnya. Ia hadir agar orang lain bisa mengenal Allah. Kehadirannya sebagai utusan yang menyuarakan kebesaran Allah menandai kehadiran Allah sebagai manusia di bumi. Ia menggerakkan hati umat untuk bertobat dan menantikan kedatangan Tuhan dengan cara membelokkan pandangan orang banyak yang datang kepadanya kepada sosok yang melebihinya. Dengan cara itu ia sebetulnya telah memberi penegasan bahwa orientasi hidupnya mengarah pada Yesus sebagai Mesias yang nanti hadir sebagai Penyelamat dunia. Yesus kelak hadir sebagai Mesias yang menderita. Ia tampil sebagai hamba yang melayani. Karena itu cara hidup yang tercermin dari Yohanes Pembaptis sebagai pendahulu Mesias menunjukkan pula semangat kehambaan, yaitu tampil untuk melayani Tuhan yang akan datang.
            Selain dalam Mrk., Yohanes Pembaptis sebenarnya dibicarakan pula dalam Injil lainnya. Semua penginjil menyebut Yohanes Pembaptis sebagai perintis kedatangan Tuhan. Namun ada pula perbedaan penekanan mengenai tokoh tersebut. Dalam Mat., Yohanes diperkenalkan sebagai Elia. Matiuslah yang memuat sabda Yesus tentang Yohanes Pembaptis yang berbunyi: “Jika kamu mau menerimanya, ialah Elia yang akan datang itu” (Mat. 11:14). Dikatakan juga bahwa: “Pada waktu itu mengertilah murid-murid Yesus bahwa Ia berbicara kepada mereka tentang Yohanes Pembaptis” (Mat. 17:13). Jadi dalam Mat. ditekankan secara kuat bahwa Yohanes adalah Elia, yaitu perintis sang Mesias. Matius menekankan pula secara kuat kesejajaran antara Yohanes Pembaptis dan Yesus. Dalam Mat. baik Yohanes maupun Yesus menyatakan kesamaan ini: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat” (3:1; 4:17). Persamaan lain nampak dalam Mat. 3:7b: “Hai kamu keturunan ular beludak. Siapakah yang mengatakan kepada kamu, bahwa kamu dapat melarikan diri dari murka yang akan datang?” Perkataan yang sama keluar dari mulut Yesus: “Hai kamu ular-ular, hai kamu keturanan ular beludak! Bagaimanakah mungkin kamu dapat meluputkan diri dari hukuman neraka?” (Mat. 23:33). Ada pula persamaan lain yang nyata dalam perbandingan ayat-ayat berikut, yaitu Mat. 3:1 dengan Mat. 7:19. Baik Yohanes maupun Yesus juga melakukan kebenaran dan keadilan, yaitu melakukan kehendak Allah dan hidup dalam ketaatan kepada pemerintahan Allah (bdk. Mat. 3:14,15 dan 21:32). Dua-duanya juga berbicara secara tegas dan keras kepada orang Farisi dan Saduki (Mat. 3:7; 16:1-12), dan keduanya dianggap nabi oleh banyak orang (Mat. 14:5: 21:46). Dalam Mat. pula pengancaman dan bahaya terhadap Yohanes berhubungan langsung dengan reaksi Yesus atas peristiwa tersebut, semacam ancaman juga terhadap Yesus (bdk. Mat. 4:12 dan 14:13). Matius memahami bahwa kehadiran Yohanes merupakan permulaan periode penggenapan (Mat. 11:13). Dan kegenapan yang sepenuhnya akan datang saat Yesus tampil. Yesus lebih besar dari Yohanes karena Dia akan membaptis dengan Roh Kudus dan dengan api (Mat. 3:11), dan Ia berkuasa untuk mengampuni dosa di dunia (Mat 9:6). Dengan demikain dapat dikatakan bahwa dalam Mat. penekanan Yohanes Pembaptis sebagai Elia sangat jelas, begitu juga dengan kesejajaran karya dan hidup Yohanes dengan Yesus mendapat tekanan yang kuat. Namun jelas pula bahwa Yesus lebih tinggi dari Yohanes Pembaptis.
            Kalau dalam Mat. terdapat identifikasi yang kuat antara Yohanes Pembaptis dan Elia, maka dalam Luk. tidak demikian. Pakaian Yohanes dalam Mat. 3:4 tidak ada dalam Luk. Demikian juga perkataan Yesus dalam Mat. 17:12,13 bahwa Elia sudah datang tidak terdapat dalam Luk. Memang Lukas menekankan pula bahwa ada persamaan antara Yohanes Pembaptis dengan Elia (Luk. 1:17), namun Yohanes tidak langsung dilihat sebagai Elia. Ini karena beberapa alasan, yaitu Lukas tidak menitikberatkan peranan Yohanes sebagai Elia sebab peranannya sebagai Elia dapat dimengerti seakan-akan dalam diri Yesus hari Tuhan telah sampai, sedangkan Lukas sadar bahwa sesudah Yesus masih ada periode sejarah keselamatan. Selain itu, dipahami bahwa jemaat Lukas menghadapi murid-murid Yohanes yang percaya bahwa Yohaneslah tokoh utama dalam sejarah keselamatan Allah (Kis. 19:1-7). Untuk meyakinkan mereka bahwa dalam Yesuslah sang Mesias datang, digambarkan kemudian peranan Yohanes, bahwa ia merupakan tokoh yang hanya menyiapkan jalan bagi Mesias. Jadi Lukas berupaya menetralisir persamaan antara Yohanes Pembaptis dengan Yesus. Karena alasan itu juga, ia tidak menceritakan tentang pembunuhan Yohanes pembaptis. Dengan demikian, dalam Luk. ditemukan bahwa penyamaan Yohanes Pembaptis dengan Elia, serta identifikasi Yohanes Pembaptis dengan Yesus tidak mendapat tekanan. Yang mendapat  penekanan justru pada perbedaannya. Namun hanya dalam Luk. pengandungan, masa kanak-kanak, dan pertumbuhan Yohanes Pembaptis diuraikan. Hal itu sekaligus menunjukkan kekhasan Luk. Sementara itu, di luar para sinoptisi, Yohanes Penginjil dengan jelas menyatakan bahwa Yohanes Pembaptis bukanlah Elia. Dalam Yoh. Yohanes Pembaptis memang lebih dilihat sebagai saksi. Ia adalah saksi yang diutus oleh Allah untuk memberikan kesaksian tentang Sabda yang menjadi manusia. Ia menyatakan bahwa Mesias, Anak domba Allah yang menghapus dosa dunia sudah datang.  Ia menyatakan bahwa ia bukan Mesias, melainkan ialah suara orang yang berseru-seru di padang gurun dan memberikan kesaksian tentang Yesus (Yoh. 3:22-36).
            Penguraian tentang kekhasan penceritaan Yohanes Pembaptis oleh para penginjil lain pada akhirnya menempatkan Mrk. pula sebagai sesuatu yang unik dan khas dalam pemaparan tentang Yohanes Pembaptis. Markus langsung menghadirkan Yohanes Pembaptis pada permulaan Injilnya. Yohanes langsung tampil dengan karyanya tanpa penceritaan terlebih dahulu tentang riwayat hidupnya, baik pengandungan maupun masa kecilnya. Kendati demikian, Markus tentu saja memiliki alasannya. Ia menekankan bahwa Yesus Kristus sebagai tokoh utama ditampilkan sebagai Mesias hamba. Kehambaan itu mensyaratkan bahwa riwayat hidup-Nya tidak diceritakan. Orang jarang menceritakan riwayat hidup seorang hamba. Demikian juga dengan Yohanes Pembaptis sebagai hamba Tuhan mengartikan bahwa sama seperti Tuhan yang dipersiapkan olehnya, riwayat hidupnya juga tidak diceritakan. Selain itu, sama seperti dalam Mat. Markus sebetulnya melihat pula persamaan antara Yohanes Pembaptis dengan Elia. Pakaiannya sama dengan pakaian Elia, dan dialah Elia yang akan datang ((Mrk. 9:11-13). Namun penyamaan itu bersifat tidak langsung. Hal itu berbeda dengan Matius yang mengabarkan penyamaan itu secara langsung dan kuat. Boleh dikatakan bahwa dalam Mrk. ada banyak hal yang ditampilkan secara samar-samar, semacam suasana rahasia dan ketersembunyian. Itu menjadi kekhasan dalam Mrk., sehingga tidak mengherankan kalau persamaan antara Yohanes dengan Elia tidak disebut secara langsung. Hal yang sama terungkap dalam pembunuhan Yohanes Pembaptis. Disebut dalam Mat. bahwa keinginginan untuk membunuh Yohanes Pembaptis berasal dari Herodes (Mat. 14:5), sementara Markus menyatakan bahwa keinginan pembunuhan itu berasal dari Herodias (Mrk. 6:19, 20). Jadi kalau dalam Mat. Herodes menjadi musuh Yohanes secara terang-terangan, tidak demikian dalam Mrk.  Selebihnya boleh dikatakan bahwa kehadiran Yesus di dunia setelah persiapan oleh Yohanes Pembaptis seakan-akan mengefektifkan kembali apa yang telah dilakukan oleh Yohanes Pembaptis. Ia mewartakan tobat, dan pewartaannya pun menimbulkan tanggapan yang luar biasa. Demikian juga dengan seluruh perjalanan hidup Yesus seperti mengingatkan orang akan Yohanes Pembaptis yang mendahului-Nya. Sama seperti Yohanes Pembaptis, Yesus ditangkap kendati tidak bersalah, dihukum secara tak adil, mati, dan dikuburkan. Karena itu dapat ditegaskan bahwa Yohanes Pembaptis sebetulnya merupakan satu paradigma untuk mengenal Yesus Kristus. Yesus sendiri menegaskan hal tersebut ketika imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat dan tua-tua bertanya kepada-Nya: “Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu?” Yesus menjawab, “Aku akan mengajukan suatu pertanyaan kepadamu. Berikanlah Aku jawabnya, maka aku akan mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu. Baptisan dari Yohanes itu dari sorga atau dari manusia? Berikan Aku jawabnya!” (Mrk. 11:29-30). Kutipan terakhir ini menegaskan bahwa ternyata pendirian terhadap Yohanes Pembaptis mempengaruhi dan menentukan pandangan orang terhadap Yesus dan sebaliknya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Yohanes Pembaptis sungguh tampil sebagai pendahulu Mesias.
            Posisi Yohanes Pembaptis sebagai pendahulu Yesus merupakan realisasi wahyu Allah yang pernah digemakan oleh nabi Yesaya, bahwa Yohanes Pembaptis akan mendahului kedatangan Tuhan sebagai manusia di dunia. Karena itu, Yohanes Pembaptis sungguh hadir untuk menyatakan bahwa wahyu Allah adalah kebenaran. Ia tampil sebagai tanda janji bahwa Allah itu selalu menepati janji-Nya. Dengan demikian tidaklah salah kalau dikatakan bahwa penyelamatan secara baru dalam diri Yesus Kristus diawali dan dipersiapkan oleh seorang utusan yang tampil dan berseru seru di padang gurun sebagai seorang nabi: “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu.” Selebihnya ia menyatakan: “Sesudah aku akan datang Dia yang lebih berkuasa; membungkuk dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus.” Utusan itulah Yohanes Pembaptis.


Yohanes Pembaptis (John the baptist); Pemenuhan janji Allah


BAB III
YOHANES PEMBAPTIS DAN PEMENUHAN JANJI ALLAH

Pengantar
 Allah menyelamatkan manusia dengan banyak cara. Ia bersabda maka segala hal tercipta menjadi ada. Hal-hal tercipta itu memperkenalkan Allah sebagai Allah Pencipta. Namun dipahami bahwa penciptaan Allah itu merupakan juga pencetusan awal keselamatan. Ia mencipta dalam rangka keselamatan. Keselamatan itulah yang terus terungkap dalam sejarah hidup manusia. Allah menginginkan keselamatan manusia, sehingga dengan pelbagai cara Ia datang menjumpai manusia. Ia berbicara lewat para nabi agar manusia selamat dan terakhir Ia hadir sendiri di bumi. Kehadiran-Nya di bumi dalam rangka keselamatan manusia didahului oleh persiapan dan persiapan itu dilaksanakan oleh Yohanes Pembaptis sebagai utusan-Nya.
Yohanes Pembaptis dikaitkan dengan karya penyelamatan karena tokoh inilah yang mula-mula menyatakan bahwa Mesias sudah di ambang pintu. Ia mewartakan pertobatan agar Mesias disambut secara pantas. Pewartaannya itu merupakan pemakluman diri Yesus Kristus, Anak Allah dalam taraf permulaan. Karena itu posisi Yohanes Pembaptis sejatinya sangat berarti dalam kerangka penyelamatan Allah. Ia hadir sebagai sosok yang penting dalam rencana Allah.
Posisi Yohanes Pembaptis dalam kerangka penyelamatan Allah inilah yang akan menjadi konsentrasi pembahasan bab ketiga ini. Artinya bab ketiga ini akan melihat posisi teologis dari kehadiran Yohanes Pembaptis sebagai utusan Allah, bahwa kehadirannya kena-mengena dengan gema penyelamatan yang dicetuskan Allah. Hal itu ditelusuri dengan mengangkat beberapa pokok, yaitu: Yohanes Pembaptis sebagai pendahulu Tuhan, Yohanes Pembaptis sebagai proklamator pertobatan dan pembaptisan, Yohanes Pembaptis sebagai bentara Mesias, dan Yohanes Pembaptis dalam kaitan dengan pemenuhan janji Allah.



III.1. Yohanes Pembaptis sebagai pendahulu Tuhan
            Kehadiran Tuhan adalah kehadiran keselamatan. Keselamatan adalah relasi bahagia bersama dengan Tuhan. Kebahagiaan bersama Tuhan terwujud bila manusia sebagai ciptaan sadar bahwa seluruh hidupnya merupakan karunia dari Pencipta. Namun, kenyataannya manusia justru berbelok arah. Manusia memutuskan relasi dengan Allah. Konsekuensinya, manusia menjadi berdosa karena terpisah dari Allah.
            Dalam keterputusan relasi Allah dan manusia tersebut, Allah tetap menghendaki keselamatan ciptaan. Karena itu, Ia turun ke dunia lewat Putera-Nya agar manusia berdamai kembali dengan-Nya. Hal itu terungkap pada kedatangan Yesus Kristus sebagai penyelamat. Kedatangan Kristus ini bukan merupakan suatu dongeng. Ia tidak jatuh dari langit. Tetapi Ia datang setelah jalan untuk Dia sudah dipersiapkan. Persiapan itu digemakan oleh para nabi sampai pada nabi terakhir, yaitu Yohanes Pembaptis. Dalam Luk. disebut: “Hukum Taurat dan kitab para nabi berlaku sampai kepada zaman Yohanes” (Luk. 16:16b). Tidak mengherankan, Markus bahkan mengawali Injilnya dengan suatu maklumat pemenuhan, bahwa janji Allah yang diproklamasikan oleh para nabi terpenuhi dengan kehadiran Yohanes Pembaptis sebagai utusan.[1]
            Penyebutan “utusan” dalam Mrk. 1:2 sebagai perintis kedatangan Tuhan yang dialamatkan kepada Yohanes Pembaptis memberikan penegasan lain tentang tokoh tersebut. Dialah tokoh satu-satunya yang pernah hadir dalam Sabda Allah. Ia dihadirkan bersamaan dengan penegasan akan kedatangan Tuhan. Ia akan tampil sebagai perintis. Namun, ia juga disebut sebagai Elia yang akan datang (Mrk. 1:6). Sebagai utusan, ia memiliki relasi akrab dengan Allah yang mengutusnya. Ia juga adalah tokoh dalam komunikasi antara Allah Bapa dan Putera, dan ia juga yang mengulang kembali apa yang disabdakan Allah.

III.1.1. Yohanes Pembaptis dalam Komunikasi Ilahi
            Mrk. 1:2 mencuatkan pemahaman bahwa Allah adalah relasi. Relasi itu mengemuka pada pemberitaan tentang “utusan” yang akan mendahului “Dia” yang disapa “Engkau”. Kata “Engkau” menunjuk pada Yesus, Anak Allah (bdk. Mrk. 1:1), sementara “utusan” menunjuk pada Yohanes Pembaptis (Mrk. 1:4). Dengan demikian kehadiran Yohanes Pembaptis sudah didahului oleh komunikasi antara Allah sebagai Bapa, dan Anak-Nya, yaitu Yesus Kristus. Yesus Kristus sudah ada sebelum tampilnya Yohanes Pembaptis. Hal ini dipahami sebagai pra-eksistensi Yesus Kristus.[2] Hanya dalam rangka memberi penekanan pada segi kemanusiaan Yesus dalam sejarah, maka Yohanes sebagai utusan yang mendahului kehadiran Tuhan sebagai manusia tersebut mendapat tekanan.
            Pernyataan dari Allah: “Aku menyuru utusan-Ku mendahului Engkau” merupakan petunjuk jelas relasi antara Bapa dan Anak-Nya. Relasi itu dimungkinkan karena Yesus Kristus sebagai Anak Allah memang sudah ada sejak semula. Ia sudah ada sejak kekal,[3] walaupun wujud-Nya sebagai manusia baru nampak dalam perjalanan sejarah hidup-Nya lewat pengandungan dalam rahim Maria dan karya hidup-Nya sebagai Anak Manusia. Dalam Yoh. disebutkan dengan jelas: “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah” (Yoh. 1:1-2). Jadi Yesus Kristus sudah ada sejak kekal. Karena itu kehadiran Yohanes sejak awal memang sudah diketahui oleh Yesus. Ia sudah ada dalam komunikasi langsung antara Allah Bapa dan Anak-Nya.
            Maksud Markus dalam menempatkan kembali nubuat nabi Yesaya salah satunya sebenarnya untuk menegaskan keistimewaan Yohanes Pembaptis sebagai utusan yang dimaksud. Ia adalah tokoh yang istimewa dalam relasi Allah Bapa dan Putera. Keistimewaannya bahkan mencuat lewat tindakan Allah yang mengutus malaikat-Nya untuk mengabarkan kepada Zakharia dan Elisabeth bahwa mereka akan memiliki anak yang harus diberi nama Yohanes. Yohanes akan menjadi orang yang besar di hadapan Tuhan. Zakharia, ayahnya sempat menjadi bisu karena keraguan akan kehadiran Yohanes yang sulit dipahami akal sehat (bdk. Luk. 1:5-25). Namun, kehadiran Yohanes ternyata menggembirakan banyak orang. Zakharia langsung sembuh dari kebisuannya dan memuji Allah saat si utusan itu lahir (Luk. 1:64). Dengan demikian, keberadaan Yohanes Pembaptis atas salah satu cara telah membuka pemahaman bahwa Allah itu adalah suatu komunikasi. Kehadirannya merupakan bukti dari komunikasi langsung Allah. Ia hadir sebagai penggenapan janji Allah Bapa kepada Anak-Nya bahwa kehadiran-Nya akan didahului oleh Yohanes sebagai utusan. Janji Allah kepada Yesus Kristus, Anak-Nya disuarakan kembali oleh malaikat kepada orang tua Yohanes Pembaptis, sehingga Yohanes Pembaptis boleh dipahami sebagai tanda janji. Hal itu juga mengingatkan janji Allah kepada Abraham bahwa Sarah istrinya akan mengandung juga pada saat-saat yang serupa dengan Elizabeth (bdk. Kej. 15:1-6). Karena itu posisi Yohanes sebagai pendahulu Yesus Kristus sebenarnya memiliki landasan yang kuat. Ia tampil dengan membawa otoritas Allah yang menempatkannya sebagai pendahulu kedatangan Tuhan di dunia. Ia tampil sebagai bukti bahwa janji Allah adalah kebenaran.

III.1.2. Yohanes Pembaptis mereartikulasi Sabda Allah
            Gelar utusan yang diberikan kepada Yohanes Pembaptis memiliki konsekuensi lain. Ia tidak saja mewartakan pertobatan dan pemberitaan tentang kehadiran Mesias, tetapi lewat pemberitaannya itu, ia sebetulnya mengulang kembali Sabda Allah. Apa yang dikatakan oleh Allah tentang kedatangan Anak-Nya (Mrk. 1:2-3) diulang kembali oleh Yohanes Pembaptis (Mrk. 1:7). Pada mulanya Allah-lah yang berbicara. Allah dengan cara itu keluar dari keadaan-Nya yang tersembunyi dan menyatakan diri secara aktif. Ia memberikan kesaksian tentang kehendak-Nya dan membuat diri-Nya dikenal dan diakui.[4] Sabda Allah itu yang kembali disuarakan oleh Yohanes. Ia memberitakan bahwa akan datang “Ia yang lebih berkuasa” dari dirinya sendiri, yaitu Yesus Kristus. Pernyataan Yohanes tersebut merupakan hasil refleksi atas perjumpaannya dengan Allah. Karena itu ia mampu memberikan kesaksian tentang relasi yang terjalin tersebut. Tidak disebut bagaimana relasi itu secara jelas. Namun nubuatnya tentang “Yang lebih berkuasa” merupakan reartikulasi dari Sabda Allah sendiri. Allah menggerakkan dia untuk berbicara. Hal itu serupa dengan pengakuan Petrus bahwa Yesus adalah Mesias. Yesus berkata kepada Petrus: “Berbahagialah engkau, Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang mengatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di surga” (Mat. 16:17). Demikian pula apa yang ke luar dari mulut Yohanes sebenarnya merupakan Sabda Allah sendiri. Jadi ketika orang banyak berbondong-bondong datang kepadanya, ia memalingkan pandangan mereka kepada sosok Mesias yang akan menyusul.    Dengan mengulang kembali Sabda Allah, Yohanes sebenarnya mengarahkan pandangan orang kepada Kristus, bahwa kemudian Allah tidak akan lagi berbicara lewat para nabi, tetapi Ia akan hadir dan menyampaikan Sabda-Nya secara langsung. Allah sendirilah yang kemudian akan tampil ke dalam dunia dengan sabda dan karya-Nya.[5] “Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan para nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya” (Ibr. 1:1-21).
            Allah menyingkapkan diri-Nya agar dikenal oleh manusia lewat Sabda-Nya. Kini Ia tidak lagi hadir hanya sebagai Sabda, tetapi hadir sebagai manusia. Namun pada titik ini peranan Yohanes begitu signifikan. Ia memperkenalkan kembali Allah dengan karya dan pewartaannya sehingga kehadiran tokoh ini merupakan ingatan akan karya Allah yang berbicara lewat utusan-Nya. Yohanes sungguh memiliki posisi strategis dalam rangka pelaksanaan karya penyelamatan Allah di dunia yang terwujud secara penuh dalam diri Kristus.

III.1.3. Yohanes Pembaptis memasukkan Yesus dalam lingkup sosial budaya
            Yesus adalah Tuhan. Itulah sebenarnya inti pewartaan Yohanes. Namun masih muncul pertanyaan: “Kalau Yesus adalah Tuhan, mengapa Ia sendiri harus hadir ke dalam dunia lewat suatu persiapan oleh Yohanes Pembaptis. Sebagai Anak Allah, Yesus itu sebenarnya bisa melakukan apa saja, termasuk langsung memperkenalkan diri-Nya sendiri. Akan tetapi mengapa Allah harus mengawali kedatangan Yesus ke dunia lewat persiapan oleh orang lain?
            Persiapan yang dilakukan oleh Yohanes Pembaptis dalam rangka kedatangan Tuhan ke dunia sebenarnya memiliki maksud, yaitu memasukkan Yesus dalam lingkup sosial dan budaya masyarakat. Ia membaptis Yesus. Pembaptisan tersebut merupakan tanda bahwa Yesus juga menyatukan diri dengan masyarakat yang menerima baptisan oleh Yohanes Pembaptis. Jadi dengan membaptis Yesus, Yohanes Pembaptis sebenarnya telah memasukkan Yesus di kalangan masyarakat dengan rupa-rupa persoalan dan kebiasaan mereka. Dan dengan cara itu pula, Yohanes Pembaptis membawa orang lain, yaitu masyarakat yang ada pada perjumpaan baru dengan Yesus Kristus.

III.2. Yohanes Pembaptis sebagai proklamator pertobatan dan pembaptisan
            Peran Yohanes Pembaptis dalam sejarah keselamatan terungkap lewat pewartaan dan pemberitaannya. Orientasi pewartaan Yohanes adalah pertobatan. Wartanya tentang tobat dan baptis didukung oleh penampilan lahirianya. Ia mengenakkan pakaian yang tak lazim, seperti memakai jubah bulu untah dan ikat pinggang kulit. Penampilannya tersebut dipahami sebagai tanda tobat. Pertobatan yang diwartakannya dimaksudkan sebagai jalan untuk menyambut Mesias yang akan datang. Sebagai bukti dari pertobatan itu, orang harus memberi diri dibaptis, dan akan ada pengampunan dari Allah.

III.2.1. Pertobatan untuk menyambut Tuhan
            Gerakan orang-orang dari seluruh daerah Yudea dan semua penduduk Yerusalem ke padang gurun untuk mendengar pewartaan Yohanes (Mrk. 1:5) merupakan gerakan pertobatan. Mereka bertobat dan dibaptis. Pertobatan itu memiliki dua maksud sekaligus, yaitu mendapatkan pengampunan dari Allah dan kesiapan untuk menyambut Mesias. Jadi tobat itu memiliki alasannya. Kalau dahulu kala para nabi mewartakan tobat agar orang berbalik dari penyelewengan dan dosa, lalu kembali kepada Allah sambil meluruskan jalan hidup seperti tertulis dalam Hukum Allah (Taurat), maka Yohanes Pembaptis tidak demikian. Ia tidak mengajak orang untuk kembali ke Taurat (bdk. Luk. 3:8, 10-14), tetapi ia mewartakan bahwa tobat itu penting karena penghakiman Allah sudah dekat (bdk. Luk. 3:7). Dengan bertobat orang memperoleh pengampunan atas dosa-dosanya, terluput dari murka Allah, dan selamat. Terkesan bahwa pertobatan itu terjadi karena ketakutan orang akan hukuman.[6] Namun, pada intinya dapat dikatakan bahwa konsekuensi dari tobat adalah pengampunan dosa dari Allah (Mrk. 1:4).
            Warta pertobatan dari Yohanes sekaligus menyingkapkan kerahiman Allah, bahwa Allah itu maharahim. Kerahiman Allah mewujud pada belaskasih-Nya kepada orang yang menyesal dan bertobat. Hal itu secara nyata nampak pada Yesus Kristus Putera-Nya. Yesus menyatakan: “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percaya kepada Injil” (Mrk. 1:15). Ayat ini merupakan pernyataan awal Yesus saat memulai karya publik-Nya setelah penangkapan Yohanes Pembaptis. Dengan mewartakan pertobatan itu, Yesus sebenarnya menyatakan pula bahwa Allah tetap mengampuni manusia yang bertobat. Kalau pada zaman Yohanes, pengampunan adalah kemungkinan masa depan yang tergantung pada baptis, pada zaman Yesus pengampunan itu merupakan realitas yang sudah ada sekarang dan baptisan di sungai Yordan tidak diperlukan lagi.[7] Ia mewartakan pertobatan agar orang percaya kepada Injil Kerajaan Allah yang diberitakan-Nya.
            Secara singkat bisa dikatakan bahwa warta pertobatan dari Yohanes Pembaptis mengarah ke perkara lain, yaitu pengampunan dosa. Namun kalau pertobatan dalam pemberitaan Yohanes lebih dipahami sebagai upaya untuk menghindari hukuman yang akan datang, tidak demikian dalam pemberitaan Yesus kemudian. Yesus lebih meluruskan arti pertobatan itu sebagai kemungkinan untuk menjadi warga dalam Kerajaan Allah, sebab Allah adalah maharahim dan mahapengasih. Nampak jelas bahwa pertobatan itu memperoleh warna baru dalam Yesus Kristus, walaupun berita Yohanes tentang pertobatan juga tetap sesuai dengan situasi semasa. Yohanes menyerukan agar orang bersedia dibaptis sebagai tanda tobat. Pewartaan Yohanes tersebut digenapi dalam diri Kristus, karena dalam Dia kepenuhan keselamatan telah tiba. Yesus menyatakan hal penting tentang diri-Nya: “Di dunia ini Anak Manusia mempunyai kuasa mengampuni dosa (Mrk. 2:16). Ia melaksanakan kuasa Ilahi: “Dosamu telah diampuni” (Mrk. 2:5).

III.2.2. Baptisan Yohanes Pembaptis dan maknanya
            Baptisan Yohanes merupakan tanda pertobatan. Orang bertobat dan memberi diri dibaptis sebagai meterainya. Namun baptisan Yohanes juga terarah pada perkara lain, yaitu kesiapan untuk menyambut Mesias. Baptisan tersebut pasti sangat penting, sehingga gerakan yang dimotori oleh Yohanes ini membangkitkan kebangunan rohani umat lewat perziarahan ke padang gurun dan pemberian diri untuk dibaptis. Ada kerumunan masyarakat banyak yang tergerak untuk pembaptisan itu. Hal tersebut sebenarnya mengingatkan kembali bangsa ini akan karya Allah dalam sejarah keselamatan, bahwa Allah menyelamatkan bangsa-Nya salah satunya lewat pemanfaatan air sebagai ciptaan.[8] Tapi juga baptisan yang diadakan oleh Yohanes ini mengarahkan pandangan orang ke depan bahwa akan ada pembaptisan dalam Roh Kudus oleh Mesias.

III.2.2.1. Ingatan akan karya Allah dalam sejarah keselamatan
            Air yang digunakan dalam pembaptisan oleh Yohanes merupakan ingatan akan karya Allah dalam sejarah penyelamatan. Air sudah ada mendahului ciptaan-ciptaan lainnya. Dalam Kej. dikisahkan bagaimana Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air (Kej. 1:2). Nampak bahwa air seakan-akan dinaungi oleh Roh Kudus.[9] Dengan air juga Allah menghukum kejahatan manusia. Manusia tidak mau bertobat. Mereka berkeras hati dan makin lama makin banyak berbuat dosa. Allah bahkan menyesal karena telah menciptakan manusia (Kej. 6:6). Ia berdukacita karena dosa manusia dan karena manusia tidak mau bertobat, sehingga Ia menghukum manusia dengan air bah.[10] Hujan lebat turun selama 40 hari dan 40 malam, sehingga mengakibatkan banjir besar. Banjir tersebut berlangsung selama 150 hari, dan yang selamat hanya Nuh dan keluarganya karena merekalah orang yang benar serta tak bercela di antara orang-orang sezaman. Kepada Nuh dan keluarganya Allah berjanji bahwa setelah peristiwa tersebut tidak akan ada lagi air bah. Allah menyatakan bahwa tidak ada lagi yang hidup akan dilenyapkan oleh air bah, dan tidak ada lagi air bah untuk memusnahkan bumi (bdk. Kej. 9:11).
            Kendati demikian, Allah menggunakan air pula untuk pembebasan bangsa Israel dari perbudakan Mesir. Pembebasan di bawah pimpinan Musa tersebut mendatangkan perlawanan dan pengejaran dari Firaun serta para tentaranya. Namun, Allah ada di pihak Israel. Ia membebaskan mereka dengan perintah kepada Musa untuk mengulurkan tangan di atas laut yang mengakibatkan air laut terbelah menjadi dua (Kel. 14:16). Israel berjalan di tengah-tengah laut di tempat yang kering, dan tiang awan,[11] yakni malaikat Tuhan yang biasanya ada di depan barisan Israel, sekarang pindah ke belakang barisan sehingga ada di antara bangsa Israel dan tentara Mesir. Tiang awan itulah yang menerangi orang Israel di malam hari sehingga mereka dapat melihat jalan, sementara orang Mesir mati di laut.
            Peristiwa penyeberangan laut Teberau ini menempatkan Allah sebagai Penyelamat bagi Israel bangsa-Nya. Dengan banyak cara Allah menghendaki agar Israel benar-benar menjadi bangsa yang kudus. Dengan demikian penyeberangan Israel di laut merah ini merupakan tanda keterlibatan Allah dalam sejarah Israel. Peristiwa itu dimengerti sebagai pernyataan pembebasan Allah kepada Israel lewat pembaptisan.[12] Sementara itu, sungai Yordan yang merupakan tempat pembaptisan Yohanes mengingatkan juga penyeberangan Israel melalui sungai Yordan di mana lewat penyeberangan tersebut umat Allah menerima hadiah tanah yang dijanjikan kepada keturunan Abraham. Hal itu merupakan pratanda kehidupan abadi yang mendatangkan kebahagiaan dan yang akan terpenuhi dalam diri Yesus Kristus.

III.2.2.2. Inspirasi bagi baptisan Kristen
            Yesus Kristus menyempurnakan semua pratanda PL. Ia mengawali penampilan-Nya di depan umum setelah pembaptisan di sungai Yordan oleh Yohanes Pembaptis. Baptisan Yesus oleh Yohanes itu berkaitan erat dengan baptisan Kristen karena baptisan Yohanes merupakan pra-figurasi baptisan Kristiani.[13]
            Penelusuran tentang inspirasi baptisan Yohanes bagi baptisan Kristen disoroti dengan mengangkat beberapa hal: Mengapa Yesus memberi diri untuk dibaptis oleh Yohanes dan apa maknanya? Apakah Yesus memerintahkan para murid untuk membaptis orang? Apa hubungan antara baptisan Kristiani dengan baptisan Yohanes?  Bagaimana cara pembaptisan?


III.2.2.2.1. Baptisan Yesus oleh Yohanes Pembaptis sebagai dasar
            Markus tidak memberikan penjelasan apa pun tentang baptisan Yesus oleh Yohanes. Ia langsung menyebut bahwa Yesus dibaptis oleh Yohanes. Namun dipahami bahwa kerelaan Yesus untuk dibaptis sebetulnya untuk menggenapkan seluruh kehendak Allah. Ia dengan sukarela menerima baptisan oleh Yohanes, suatu baptisan yang sebenarnya diperuntukkan bagi para pendosa (baptisan pertobatan). Tindakan Yesus ini sebenarnya mengangkat ide tentang pengosongan diri (kenosis). Lewat tindakan-Nya itu, Yesus seakan-akan mengangkat kembali ide penciptaan akan Roh Kudus yang melayang-layang di atas air (Kej. 1:2), turun ke atas Kristus dalam rangka penciptaan baru. Hal itu diteguhkan oleh suara dari Sorga: “Engkaulah Anak-Ku yang Ku-kasihi, kepada-Mulah Aku berkenan (Mrk. 1:11).
            Pemberian diri Yesus untuk dibaptis oleh Yohanes merupakan juga pertanda akan kematian dan kebangkitan-Nya. Dengan masuk ke dalam air, Ia membebaskan manusia dari dosa. Dengan kebangkitan-Nya, Ia membuka sumber-sumber pembaptisan bagi semua manusia. Kesengsaraan-Nya adalah suatu pembaptisan di mana Ia dibaptis dengan cara demikian (Mrk. 10:38). Sementara darah dan air yang mengalir dari lambung-Nya merupakan gambaran asli pembaptisan yang memungkinkan manusia untuk dilahirkan dari air dan Roh agar masuk dalam kebahagiaan Kerajaan Allah.[14]
            Baptisan Yesus oleh Yohanes itulah yang sebenarnya dilanjutkan oleh umat Kristen. Dalam arti ini baptisan Yohanes diinterpretasi kembali, yaitu baptisan tersebut diciptakan kembali oleh peristiwa wafat dan kebangkitan Yesus. Dalam Kis. 19:2-4 ditemukan pemahaman bahwa baptisan Yohanes mengritualkan penghakiman Allah yang nanti membuka zaman keselamatan. Yang menjalani ritus ini secara antisipatif dimasukkan ke dalam jemaat keselamatan nanti. Namun menurut keyakinan Kristen, dengan peristiwa Yesus, zaman keselamatan sudah dimulai. Konsekuensinya, orang-orang yang masuk dalam jemaat keselamatan Yohanes sudah dimasukkan dalam Yesus. Dengan demikian ritus yang sama bukan saja mengritualkan penghakiman, melainkan juga keselamatan, yaitu suatu kehidupan eskatologis yang sudah ditempuh dan dinikmati oleh mereka yang menjalaninya. Artinya bahwa zaman kehidupan baru tersebut telah dibuka oleh kebangkitan Yesus sebagai wujud kedatangan zaman keselamatan dan kehidupan.[15] Di sini orang dibaptis dengan Roh Kudus, seperti nubuat Yohanes bahwa akan datang Ia yang lebih berkuasa dan akan membaptis dengan Roh Kudus (Mrk. 1:7-8).

III.2.2.2.2. Perintah Yesus untuk membaptis
            Apakah Yesus dahulu membaptis orang atau apakah Yesus memerintahkan kepada kita untuk membaptis orang?
            Yohanes Pembaptis dengan jelas menyatakan bahwa Yesus akan membaptis dengan Roh Kudus (Mrk. 1:8). Hal itu tentu saja berbeda dengan baptisan dengan air yang diberikan oleh Yohanes sebagai lambang bagi baptisan yang akan dilakukan Yesus, yaitu suatu baptisan yang menentukan dalam Roh Kudus.[16] Kalau benar bahwa Yesus akan membaptis dengan Roh Kudus, lalu kenapa tidak ada teks Kitab Suci yang berbicara tentang praksis pembaptisan-Nya? Satu-satunya hanya ada dalam Yoh. 3:22, tetapi teks itu pun disangkal, khususnya dengan membandingkan pada teks yang menyusul, yaitu Yoh. 4:2, bahwa yang membaptis sebenarnya bukan Yesus, melainkan murid-murid-Nya. Disebutkan bahwa pernyataan praksis pembaptisan oleh Yesus dalam Yoh. 3:22 sebetulnya dikembangkan dan diuraikan Yohanes Penginjil dari kata-kata dan karya Yesus dan juga dari terang kebangkitan Tuhan.[17] Jadi seruan pembaptisan Yesus sebetulnya terjadi setelah kebangkitan-Nya. Saat itulah ia memerintahkan para murid untuk membaptis.
            Mrk. 16:15-16 dengan jelas menyebutkan bahwa setelah kebangkitan-Nya, Yesus memerintahkan para rasul-Nya untuk membaptis: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum”. Teks itu menunjukkan bahwa ada perintah dari Yesus untuk membaptis orang setelah kebangkitan-Nya, walaupun Ia sendiri memang tidak membaptis.
            Pembaptisan Kristen sebetulnya bukan berdasar pada Yesus yang membaptis, melainkan berakar pada seluruh pengalaman iman Kristiani akan Tuhan Yesus Kristus. Baptisan Kristen sebenarnya dilaksanakan dengan berpegang pada tindakan Yesus sendiri, yaitu membiarkan diri-Nya dibaptis oleh Yohanes. Itulah yang menjadi dasar seluruh baptisan Kristiani. Lalu apa sebenarnya baptisan Kristen itu?

III.2.2.2.3. Baptisan Kristen
            Baptisan Yesus oleh Yohanes merupakan dasar bagi baptisan Kristen. Baptisan Kristen adalah baptisan yang dilaksanakan atas dasar iman kepercayaan kepada Yesus Kristus. Iman kepercayaan bahwa Allah dalam Yesus Kristus menyelamatkan orang yang dibaptis. Di satu pihak, dengan dibaptis orang masuk dalam persekutuan keselamatan, dan lewat pembaptisan itu, Allah dalam Yesus membebaskan manusia dari situasi malang akibat dosa manusia yang menolak kasih Allah. Manusia dibebaskan dari dosa asal dan dari tindakan pribadi dosa. Di lain pihak, lewat pembaptisan manusia menjadi peserta dalam kekudusan Allah, yaitu hidup Ilahi dan kekal.[18] Dengan demikian baptisan Kristen sebenarnya adalah perkembangan kemudian yang berdasar pada pembaptisan Yesus oleh Yohanes. Jelaslah bahwa baptisan Kristen berbeda dan bahkan lebih tinggi dari baptisan Yohanes karena rumusan pengakuan iman yang menggunakan nama Yesus Kristus.[19]
            Pengungkapan tentang baptisan Kristen ini menimbulkan masalah baru. Apakah ada beberapa baptisan yang dipakai umat? Kis. 1:5 secara jelas berbicara tentang: “Baptisan dengan Roh Kudus”. Dengan cara itu dipahami bahwa itulah yang dinubuatkan oleh Yohanes mengenai Ia yang akan membaptis dengan Roh Kudus (Mrk. 1:8). Namun baptisan Yesus seperti disebut oleh Yohanes sebagai baptisan dengan Roh Kudus sebenarnya menunjuk pada penghakiman Allah menjelang akhir zaman. Di sini kata “Roh Kudus” dikaitkan dengan lambang penghakiman (=angin ribut, taufan). Terdapat pula sebutan baptisan dengan air dan Roh Kudus (Yoh. 3:5). Namun, pada prinsipnya hanya ada satu baptisan saja (Ef. 4:4), yaitu baptisan yang dilakukan dalam nama Yesus Kristus (Kis. 8:16).
            Apabila baptisan Yohanes terarah pada pertobatan demi pengampunan dosa, maka baptisan Kristen seperti terungkap dalam PB memiliki makna teologis berikut[20]
  1. Baptisan sebagai tanda iman. Artinya di samping baptisan itu mengandaikan iman orang yang dibaptis, baptisan itu pula harus dihidupi dan dikembangkan dalam seluruh hidupnya (Mrk. 16:16; Mat. 28:19).
  2. Baptisan sebagai penyerupaan pada Yesus Kristus. Artinya orang menjadi serupa dengan Yesus Kristus, yaitu dalam seluruh hidup-Nya. Orang masuk dalam misteri hidup-Nya dan berpartisipasi dalam wafat dan kebangkitan-Nya. Disebut baptisan dalam nama Yesus (Kis. 2:38;10:48; Rm. 6:1-14).
  3. Baptisan sebagai pengampunan dosa. St. Petrus menyebut: “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu” (Kis. 2:38)
  4. Baptisan mengaruniakan Roh Kudus (Kis. 2:38) dan memungkinkan orang mengalami Tuhan yang bangkit, serta memampukan para rasul berbicara dengan macam-macam bahasa, dan membuat orang-orang bisa mengerti Injil, memberi diri dibaptis, mendapat pengampunan dosa, dan mendapat karunia Roh Kudus.
  5. Baptisan mempersatukan kita ke dalam satu tubuh, di mana Gereja dibangun dan tumbuh atas dasar suatu relasi orang-orang kristiani yang dipersatukan, dan memiliki solidaritas serta martabat yang sama ( Kis. 2:41-47;1 Kor. 12:13).
  6. Baptisan sebagai karunia hidup baru. Artinya seseorang  dilahirkan kembali dalam Roh lewat pembaptisan (Yoh. 3:5.7), dan perwujudannya dalam hidup konkrit harian.

III.2.2.2.4. Cara pembaptisan
            Mrk. 1:5 menyebut tentang baptisan. Baptisan tersebut terjadi di sungai Yordan (Mrk. 1:9). Artinya orang pergi ke sungai Yordan untuk dibaptis. Di situ ada dua hal yang terjadi, yaitu orang turun ke dalam sungai Yordan dan Yohanes bertindak sebagai penyelenggara baptisan.[21] Namun, tidak dijelaskan secara detail bagaimana caranya orang dibaptis: Apakah orang ditenggelamkan, disiram, atau hanya dipercik dengan air? Tidak jelas. Akan tetapi satu hal yang jelas adalah orang dibaptis dengan air dan dilakukan oleh Yohanes (atau murid-muridnya). Yesus juga memerintahkan para murid untuk membaptis, tetapi Ia tidak menunjukkan caranya (Mrk. 16:15-16).
            Kendati demikian, dari ungkapan Yesus bisa dipikirkan satu hal, yaitu jika orang menanggapi Injil dengan kepercayaan, lalu memberi diri dibaptis, maka ia selamat. Pernyataan Yesus tersebut merupakan dasar pengakuan iman dalam pembaptisan. Menanggapi Injil sama artinya dengan menanggapi Yesus Kristus karena Ia disebut sebagai Injil. Jelaslah bahwa orang yang dibaptis ternyata hanya terlaksana secara sederhana. Mula-mula ada pewartaan Injil mengenai Yesus Kristus. Pewartaan itu kemudian ditanggapi dengan iman[22], disusul pengakuan iman (Yesus Kristus adalah Anak Allah), lalu orang segera dibaptis oleh orang lain dengan air.[23] Caranya adalah dengan membenamkan orang ke dalam air hidup atau juga dengan menuangkan air hidup itu.
            Dalam Mat. 28:19 dikatakan bahwa orang harus dibaptis menuju nama Bapa. Putera, dan Roh Kudus. Ini merupakan rumusan pengakuan iman jemaat dan orang yang dibaptis dalam rangka keselamatan. Keselamatan itu bersifat dinamis. Disebut dinamis karena berpangkal, dipercayakan dan ditempatkan di bawa naungan dinamis Bapa, Putera, dan Roh Kudus. Dengan demikian sudah sejak awal baptisan itu dilaksanakan dengan menggunakan air. Bahwa orang bisa saja dibaptis dengan cara dibenamkan, atau pun dituangi air. Serentak dengan itu diungkapkan rumusan pengakuan yang terarah pada Bapa, Putera, dan Roh Kudus.

III.3. Yohanes Pembaptis sebagai bentara Yesus Kristus
            Seperti seorang bentara yang menyiapkan kedatangan raja, demikian pun Yohanes melaksanakan tugasnya sebagai bentara Mesias. Ia mempersiapkan hati rakyat untuk menerima pemerintahan Allah dalam Yesus dengan mengajak orang untuk bertobat, membalikkan pendirian hati, dan memperbaiki segala perbuatan mereka. Sesudah itu ia menunjuk pada Yesus dengan pelukisan sosok perkasa yang akan datang. Pemberitaannya itu merupakan pengenalan awal akan Yesus sebagai Mesias. Pengenalannya mengenai Mesias disertai dengan sikap pengabdian sebagai hamba, bahwa di hadapan Yesus ia memberikan seluruh diri dan karyanya kepada-Nya, sehingga seluruh hidup dan misinya memang menunjuk pada Yesus. Karena itu dengan mengerti pemberitaan Yohanes, orang sebenarnya sudah bisa mendapatkan pemahaman siapa Yesus itu.

III.3.1. Sebutan Yesus sebagai Mesias secara tersembunyi
            Pengenalan awal tentang Yesus sebagai Mesias sebenarnya bermula dari Yohanes Pembaptis. Ia memang tidak menyebut langsung gelar Yesus tersebut. Namun dengan menyatakan kedatangan “Dia yang lebih berkuasa”, Yohanes sebetulnya telah memproklamasikan bahwa yang akan datang itu adalah Mesias. Kedatangan Mesias yang sudah dekat itulah yang merupakan pokok penting dan utama dari kotbahnya.[24] Ia secara rendah hati mengakui kekuasaan-Nya. Sebutan “lebih berkuasa” mengaitkan Yesus dengan Mesias yang meraja. Ia adalah Raja dalam Kerajaan Allah.[25] Sebagai Raja, Yesus memiliki kekuasaan, sehingga konsep Allah Mahakuasa[26] sebenarnya diwujudkan dalam diri Yesus. Yesus adalah Anak Allah (Mrk. 1:11) seperti terungkap dalam pelantikan-Nya, serta penegasan dalam Mrk 1:1, bahwa Yesus adalah Kristus, Anak Allah. Karena itu kekuasaan Allah juga ada pada-Nya. Hal itu sekaligus menjadi alasan mengapa Yohanes menempatkan diri sangat rendah di hadapan Mesias. Namun kerendahan hati Yohanes dalam mengungkap superioritas kekuasaan Yesus sebenarnya mengarah pada Yesus sendiri seperti ditampilkan Markus bahwa Yesus tampil sebagai Mesias yang melayani. Dalam arti ini Yesus juga akan tampil sebagai hamba.[27]
            Yang menjadi pertanyaan adalah kalau Yesus adalah Tuhan seperti terungkap dalam Mrk. 1:3, kalau Yesus adalah Mesias, lalu mengapa Yohanes Pembaptis tidak menyebutnya secara terang-terangan? Ia justru hanya memberikan pelukisan bahwa yang akan datang itu lebih besar dan akan membaptis dengan Roh Kudus?
            Memang benar bahwa Yohanes Pembaptis tidak langsung menyebut bahwa yang akan datang itu adalah Tuhan, bahwa yang akan datang itu adalah Mesias. Namun dengan tidak langsung menyebut nama Tuhan, Yohanes Pembaptis sebenarnya mengangkat kembali gagasan penyebutan Tuhan secara tidak langsung. Hal ini berkaitan dengan cara orang Yahudi yang takut menyebut nama Tuhan secara langsung karena nama tersebut dianggab suci dan tidak bisa disebut secara sembarangan. Ini bisa dirujuk dari PL, khususnya penggunaan nama Tuhan sebagai Yahwe. Istilah “Yahwe” sebagai penyebutan nama Tuhan didasarkan pada keempat huruf suci yang menunjuk pada Allah, yaitu “YHWH”. Nama Yahwe pertama kali dinyatakan kepada Musa (Kel. 6:1). Allah menyatakan diri diri kepada Musa dalam nyala api yang keluar dari semak duri, dan Allah mengutusnya menghadap kepada Firaun untuk membawa umat Israel ke luar dari Mesir. Saat itu Musa bertanya: “Bagaimana tentang-Nya? Apakah yang harus kujawab kepada mereka? (Kel. 3:13). Allah kemudian menjawab dalam bahasa Ibrani: Ehyeh asyer ehyeh (Aku adalah Aku=Kel. 3:14). Secara gramatikal, apabila Allah sendiri yang menucapkan nama-Nya, maka yang dijumpai adalah bentuk kata ehyeh (Aku Ada), sedangkan apabila umat Allah yang mengucapkan, maka yang digunakan adalah kata ganti bentuk ketiga, yaitu Yahwe (Dia Ada). PB lebih mengacu kepada kepada makna Teologi dibalik nama tersebut, yaitu kuasa-Nya yang hidup dan bukan mempertahankan secara harafiah huruf-huruf mati tersebut.[28] Dalam arti inilah bisa dipahami bahwa Yohanes lebih menunjuk pada segi teologis dari Tuhan yang akan datang setelah dia, sehingga ia hanya memberikan pelukisan tentang Tuhan sebagai sosok yang lebih berkuasa tanpa menyebut langsung nama-Nya. Seperti terungkap di atas, “Dia” yang akan datang itu adalah Mesias, yaitu Mesias yang melayani dan menderita karena pelayanan-Nya tersebut. Itulah yang merupakan tekanan dalam Mrk.

III.3.1.1.Yesus Mesias yang menderita
            Konsep Mesias sepertinya tidak cocok dipadankan dengan penderitaan. Alasannya Mesias selalu berkaitan dengan kemegahan, kemakmuran, dan kemuliaan. Namun, Yesus ternyata tampil dalam pengertian yang berbeda. Ia justru tampil sebagai Mesias yang menderita. Pengakuan-Nya di hadapan imam agung bahwa Ia adalah Mesias (Mrk. 14:61-62) mengakibatkan pembunuhan terhadap diri-Nya. Ia wafat sebagai Mesias dan semua peristiwa sebelumnya menjurus ke situ.[29] Namun dengan pengakuan-Nya tersebut Ia sebenarnya memberi arti baru pada pemahaman orang tentang Mesias. Ini sudah nampak pada Mrk. 8:29-33. Petrus mengakui Yesus sebagai Mesias. Tetapi Yesus melarangnya untuk tidak memberitahukan hal tersebut kepada siapa pun. Alasannya Mesias Yesus adalah Mesias yang menderita. Ia bahkan menegur Petrus karena alasan itu. Petrus tidak memahami bahwa Mesias memang harus menderita. Penderitaan-Nya tersebut berkaitan dengan tugas-Nya sebagai Mesias, yakni dengan jalan penghambaan sampai mati.[30]
            Salah satu tanda yang menunjuk pada penderitaan Mesias sebenarnya sudah tersirat pada Yohanes Pembaptis. Yohanes ditangkap dan dipenjarakan karena tegurannya atas kehidupan moral penghuni istana, yaitu Herodes yang memperistri Herodias sebagai tindakan haram. Namun, penangkapan Yohanes karena alasan tersebut barangkali hanya merupakan alasan yang menyusul, karena Yohanes sendiri adalah orang besar. Ia disebut Herodes sebagai orang yang benar dan saleh. Tidak mengherankan jika pewartaannya mendapat respon positif dari rakyat. Banyak mata mengarah ke tokoh ini dan berarak menuju kepadanya. Arakan ke padang gurun dalam rangka mendekati suara yang berseru-seru tersebut sepertinya membangkitkan juga kerisauan pemerintah di bawah pimpinan Herodes. Tidak mengherankan kalau kemudian muncul prasangka akan terjadinya pemberontakan. Bahkan ada para serdadu yang menyaksikan dan menjadi sasaran pewartaan Yohanes. Lebih lagi kebangkitan rohani umat yang datang ke Yohanes kemudian diarahkan ke hal lain, yaitu nubuat Yohanes bahwa Mesias sudah diambang pintu. Yohanes kemudian ditangkap (Mrk. 1:14). Namun hal yang agak ganjil adalah alasan penangkapannya justru nanti jelas pada Mrk. 6:14-27. Keganjilan ini menimbulkan spekulasi bahwa penangkapannya sebetulnya bukan pertama-tama karena teguran kepada Herodes, tetapi karena pemberitaan-Nya tentang Mesias. Ia mati secara tidak adil di tangan Herodes. Kematiannya itu menjadi pertanda bahwa Yesus yang dipersiapkan jalan-Nya oleh Yohanes akan mengalami hal yang sama. Sama seperti Yesus yang mati sebagai hamba yang menderita, demikian juga Yohanes dengan kata-katanya menunjuk pada keberadaannya sebagai hamba di hadapan Mesias.

III.3.1.2. Sikap sebagai hamba
            Yesus mati di kayu salib sebagai Mesias yang menderita. Penderitaan-Nya tersebut mengangkat kembali pengungkapan Yohanes bahwa di hadapan Ia yang berkuasa tersebut, Yohanes sepantasnya menunjukkan sikap subordinat. Berlaku sebagai hamba saja ia merasa tidak layak. Mengapa? Penderitaan Yesus memperjelas sikap Yohanes tersebut. Yesus sebagai Mesias yaitu Raja dalam Kerajaan Allah saja menampilkan diri sebagai hamba yang menderita, apalagi Yohanes. Yohanes hanyalah hamba sebagaimana tersirat dalam kata-katanya sendiri (Mrk. 1:7-8). Ia adalah hamba dari Hamba Tuhan yang sengsara (Yes. 52:13-53:12). Hal ini mempertegas kekecilannya di hadapan Allah yang kedatangan-Nya dipersiapkannya sendiri. Kata-kata Yohanes Pembaptis dalam Yoh. 3:30 mendapatkan maknanya: “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil”.
            Dengan menempatkan diri sebagai hamba: “...membungkuk dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak” (Mrk. 1:7), Yohanes Pembaptis sebenarnya membuka pemahaman tentang Mesias yang akan datang, yaitu Mesias akan datang sebagai Hamba yang akan melayani, bahkan sampai menderita. Dengan kehadiran-Nya sebagai hamba juga, Yesus mengarahkan pandangan orang pada pelayanan, bahwa orang perlu menjalani penderitaan (Mrk. 8:31-10:45). Semua yang menderita dengan kepercayaan dalam mengikuti Kristus juga meletakkan harapan pada kedatangan-Nya yang diharapkan (Mrk. 13:1-37).

III.3.2. Orientasi hidup dan misi Yohanes Pembaptis kepada Yesus
            Keseluruhan penginjil menempatkan Yesus sebagai tokoh utama. Begitu juga dengan Markus. Ia menempatkan Yesus sebagai pusat Injilnya, sementara para tokoh lain tampil dalam rangka penonjolan Yesus sebagai pribadi yang mewartakan kabar keselamatan. Yohanes Pembaptis juga tampil dalam rangka penonjolan Yesus sebagai Mesias. Ia hadir mendahului tampilnya Yesus di muka bumi untuk menyatakan bahwa keselamatan sudah dekat, bertobatlah, berilah dirimu dibaptis, dan Allah akan memberikan pengampunan dosa.
            Markus menghadirkan Yohanes Pembaptis pada introduksi Injilnya, mengikuti judul Injil: “Inilah permulaan….” Sebutan Injil Yesus Kristus mengartikan bahwa Yohanes Pembaptis yang dipresentasikan pada permulaan Injil tidak lepas dari perhatian Kristologis Markus. Jadi adanya Yohanes ini memungkinkan penulurusan konteks teologis yang berorientasi pada Yesus Kristus. Ia dalam hal ini menjadi satu horizon untuk mengenal Yesus Kristus. Hal ini sudah terungkap pada pemberitaannya bahwa Mesias akan datang (Mrk. 1:7). Dengan cara itu ia telah memperkenalkan Yesus. Namun, pengenalannya akan Yesus sebagai Mesias sebetulnya lebih nyata pada seluruh hidup dan misinya yang terarah pada Yesus. Seluruh hidupnya berkisar pada Yesus. Ini mewujud dalam beberapa hal:[31]
  1. Seperti Yohanes yang berkotbah, demikian juga Yesus berkotbah. Obyek dari khotbah Yohanes dan Yesus jelas. Sementara Yohanes menyatakan suatu baptisan pertobatan yang menghantar pada pengampunan dosa (Mrk. 1:4), demikian juga Yesus menyatakan “Kabar Baik dari Allah” (Mrk. 1:14;1:7-8,15).
  2. Proklamasi Yohanes mendapatkan tanggapan yang luar biasa: “Lalu datanglah orang-orang dari seluruh daerah Yudea dan semua penduduk Yerusalem....” demikian juga kotbah-kotbah dan mukjizat-mukjizat Yesus mendapatkan tanggapan luar biasa: “Lalu tersebarlah dengan cepat kabar tentang Dia ke segala penjuru di seluruh Galilea” (Mrk. 1:28). “Maka berkumpullah seluruh penduduk kota di depan pintu” (Mrk. 1:33). “...Yesus tinggal di luar di tempat-tempat yang sepi; namun orang terus juga datang kepada-Nya dari segala penjuru” (Mrk. 1:45). Jelaslah bahwa terdapat kemiripan antara reputasi Yohanes dengan Yesus. Respon masyarakat terhadap pewartaan Yohanes terarah pada Yesus. Artinya pewartaan Yesus juga menghasilkan tanggapan banyak orang.
  3. Reputasi Yohanes terungkap juga saat pengenalan tentang Yesus. Dalam Mrk. 6:14-19 disebutkan bagaimana Herodes menanggapi Yesus yang reputasi-Nya sudah tersebar. Pengenalan Herodes akan Yesus tersebut memperkenalkan kembali Yohanes Pembaptis. Yesus dipahami oleh penduduk sebagai Yohanes yang telah bangkit dari antara orang mati. Jadi ada identifikasi antara Yesus dan Yohanes. Namun dimengerti bahwa bahasa kebangkitan yang digunakan, khususnya isu kebangkitan Yohanes sebenarnya merupakan penegasan bahwa Yohanes adalah figur kebangkitan Yesus. Apa yang tidak dinyatakan dalam Yohanes akan diefektifkan dalam Yesus.
  4. Sebagaimana Yohanes akan ditangkap, demikian juga dengan Yesus (Mrk. 1:14; 6:17). Sebagaimana Yohanes dieksekusi kendati tidak bersalah (6:25-29), seperti itu juga Yesus akan mati sebagai orang yang tidak bersalah. Sebagaimana murid-murid Yohanes datang dan membawa tubuhnya yang sudah mati dan menempatkannya dalam kuburan (6:29), demikian juga Yesus akan diletakkan di makam.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa seluruh hidup dan misi Yohanes memang terarah pada Yesus. Yohanes Pembaptis dalam arti ini menjadi bentara Yesus bukan hanya dalam pewartaannya, tetapi juga dalam keterbukaan hidupnya. Dan dalam arti tertentu bisa dipahami bahwa Yohanes hidup kembali ketika Yesus menjalankan pelayanan publik-Nya. Hal itu yang barangkali mengakibatkan keluarnya pendapat aneh Herodes bahwa Yesus adalah Yohanes yang telah bangkit. Namun hal ini tentu saja tidak tepat dan tidak mendasar. Yesus bukan Yohanes. Karya publik mereka saja dipisahkan. Yesus baru memulai karya-Nya setelah penangkapan Yohanes (1:14) dan bahwa Yohaneslah yang mempersiapkan kedatangan Yesus sebelum Ia memulai karya publik-Nya.
Adanya penyamaan dan karya yang paralel antara Yohanes dan Yesus sebetulnya meneguhkan Yohanes sebagai bentara bagi Yesus sebagai Mesias. Ia mendahului Yesus, dan seluruh hidupnya terarah pada Yesus. Dengan memahami Yohanes Pembaptis sebagai pendahulu Mesias, kita sebenarnya mendapatkan penegasan bahwa Yohanes Pembaptis merupakan paradigma untuk memahami Yesus sebagai Mesias.
           
III. 4. Yohanes Pembaptis dan pemenuhan janji Allah
            Markus mengawali Injil tentang Yesus Kristus Anak Allah dengan suatu permulaan. Permulaan itu menghadirkan Yohanes sebagai tokoh yang mempersiapkan kedatangan Tuhan. Persiapan yang dilakukan oleh Yohanes merupakan pemenuhan janji Allah kepada Putera-Nya, yaitu Yesus. Dalam Mrk 1:2 hal tersebut terlihat jelas. Allah yang disapa “Aku” menyatakan kepada Anak-Nya yang disapa sebagai “Engkau”, bahwa akan ada pendahulu yang mengawali kehadiran Anak-Nya tersebut. Dalam konteks inilah Yohanes disebut sebagai utusan.
            Utusan tersebut sungguh hadir sebagai perintis Tuhan. Ia memproklamasikan pertobatan sebagai jalan untuk menyambut Tuhan yang kedatangan-Nya sudah dekat. Tindakannya itu membangkitkan kebangunan rohani umat yang berbondong-bondong datang untuk menyaksikan pewartaannya dan bertindak melakukan apa yang diwartakan. Namun Yohanes tidak membatasi misinya sampai di situ. Ia memalingkan perhatian orang banyak yang datang kepadanya pada sosok yang lebih besar darinya, yaitu Mesias. Kedatangan masyarakat dalam jumlah besar tersebut sekaligus merupakan tanda janji, yaitu melalui pewartaan Yohanes Pembaptis di padang gurun, Allah mengumpulkan orang dalam mana pewartaan Yesus kemudian mengenai kabar keselamatan terarah kepada mereka dan dari mereka juga komunitas-Nya terbentuk.[32] Seruan Yohanes tersebut otomatis menegaskan dirinya sebagai bentara Mesias. Lebih dari itu tindakannya sebagai hamba kaisar dirasa belum cukup untuk menyentuh pakaian luar dari Dia yang lebih berkuasa itu.
            Kenyataan tampilnya Yohanes Pembaptis sekaligus merupakan pemenuhan janji Allah kepada Anak-Nya. Kenyataan itu menghantar pada pra-eksistensi Yesus bahwa Ia sejak kekal sudah ada dan bahwa relasi Ilahi mendapat penonjolan. Keselamatan merupakan kehendak Allah yang secara historis mewujud pada kehadiran Yesus historis di muka bumi. Hal tersebut diawali dengan persiapan-Nya oleh Yohanes, bahwa dengan pencetusan penyelamatan secara baru dalam Yesus Kristus, Allah juga melibatkan manusia yang dengannya Allah menyelamatkan. Yohanes tampil sebagai orang-Nya Allah untuk menyatakan kepada dunia bahwa Allah yang mahatinggi rela turun ke dunia. Ia mendahului Tuhan dan mempersiapkan jalan-Nya. Persiapan itu mencakup penyiapan umat dengan tobat dan baptis. Yesus kemudian tampil dan diurapi sebagai Anak Allah setelah menjalani baptisan yang sejatinya diperuntukkan bagi para pendosa. Ini menjadi tanda bahwa kedatangan-Nya berorientasi pada para pendosa. Ia bergaul dengan para pendosa untuk mengangkat mereka kepada keilahian. Dan benarlah bahwa keselamatan manusia terlaksana dengan penampilan Allah secara manusiawi dalam diri Yesus, Penyelamat dunia yang dihantar masuk oleh Yohanes Pembaptis.
            Dengan demikian lewat Yohanes Pembaptis, janji Allah kepada Anak-Nya mendapatkan pemenuhan. Yohanes sungguh tampil sebagai utusan. Apa yang diwahyukan Allah kini terlaksana. Utusan tersebut hadir dan menyiapkan umat untuk menyambut kepenuhan keselamatan dalam diri Yesus Kristus. Kendati kepenuhan keselamatan terwujud dalam diri Yesus, namun kehadiran Yohanes merupakan juga pemenuhan janji Allah kepada Anak-Nya bahwa Yohanes akan tampil sebagai perintis kehadiran-Nya tersebut. Hal itu sekaligus mengangkat pemahaman tentang Allah sebagai Allah Perjanjian,[33] dan kehadiran Yohanes merupakan perwujudan janji Allah itu. Sama seperti janji Allah kepada Abraham akan tanah yang menghasilkan susu dan madu, demikian juga kehadiran Yohanes Pembaptis merupakan realisasi janji Allah akan bentara yang mendahului Mesias.

 III.5. Kesimpulan
            Dengan berbagai cara Allah berusaha menjumpai manusia. Ia menghendaki keselamatan manusia sebagai ciptaan termulia. Perjumpaan-Nya dengan manusia antara lain terjadi dengan menyatakan Sabda-Nya lewat para nabi. Yohanes adalah nabi. Sebagai nabi, ia mewartakan dan memberitakan kehendak Allah kepada manusia. Karena itu tidak keliru jika dikatakan bahwa Yohanes Pembaptis turut ambil bagian dalam sejarah penyelamatan Allah. Ia bukan saja hadir sebagai tokoh historis dalam persiapan kedatangan Mesias, tetapi kehadirannya memang sejak kekal sudah dikehendaki oleh Allah.
            Kehendak Allah akan hadirnya Yohanes sebagai utusan terungkap dalam komunikasi-Nya dengan Anak-Nya. Ia memberitahukan kepada Anak-Nya bahwa Yohanes Pembaptis akan mendahului-Nya (Mrk.1:2). Dengan cara itu Allah sebenarnya menunjukkan posisi istimewa Yohanes. Ia bahkan sudah sejak awal ada dalam komunikasi Allah dan Anak-Nya. Keistimewaan tokoh ini selanjutnya terlihat dari pewartaannya akan tobat dan baptisan. Pewartaannya tersebut membangkitkan respon yang positif. Banyak orang datang kepadanya karena kebesarannya. Namun ia tidak bermegah diri. Dengan penuh kerendahan hati ia memberitakan bahwa “yang lebih berkuasa” akan datang. Pemberitaannya menjadi jelas ketika “yang berkuasa” itu, yaitu Yesus Kristus sungguh hadir. Karena itu bisa dikatakan bahwa orientasi karya dan hidup Yohanes memang terarah kepada Allah. Ia datang dari Allah sebagai utusan, dan sebagai utusan ia juga mempersiapkan kedatangan Allah secara historis dengan kehadiran Yesus Kristus.
            Pewartaannya tentang tobat merupakan kontinuitas maklumat kenabian yang berulangkali terungkap. Ini sama dengan pewartaan para nabi yang mendahuluinya. Baginya tobat adalah jalan masuk pada keilahian. Tobat itu perlu ditanamkan dalam hati umat karena ternyata bahwa kehadiran Allah di dunia adalah juga untuk menyatakan pesan pertobatan. Tobat itulah yang memasukkan orang pada keselamatan dalam Yesus. Bahwa orang yang bertobat sebenarnya sudah masuk dalam jemaat eskatologis. Ini ditandai dengan pemberian diri mereka untuk dibaptis. Dengan dibaptis orang mendapat meterai sebagai anggota dari jemaat keselamatan. Jemaat keselamatan itu terungkap secara jelas dalam Yesus Kristus. Kehadiran-Nya adalah kehadiran Kerajaan Allah. Allah meraja dalam diri Yesus dan orang yang telah bertobat dalam pewartaan Yohanes dimasukkan ke dalam Kerajaan Allah yang merupakan inti pewartaan Yesus.
            Pewartaan dan karya Yesus kemudian seakan-akan mengefektifkan kembali apa yang telah diperdengarkan Yohanes Pembaptis, bukan saja dari pewartaan, tetapi juga dalam hidup-Nya. Kehadiran Yesus seakan-akan memperkenalkan kembali Yohanes. Tidak heran kalau Herodes kemudian menyatakan bahwa Yesus adalah Yohanes yang telah bangkit. Mengapa? Hal itu terjadi karena keseluruhan hidup dan misi Yohanes Pembaptis memang terarah kepada Yesus. Ia mewartakan Yesus sebagai Mesias, tetapi juga penceritaan tentang lika-liku hidupnya merupakan pertanda awal apa yang akan terjadi pada Yesus. Karena itu, lewat tokoh Yohanes Pembaptis, kita sebenarnya bisa mengenal Allah, mengenal Yesus Kristus, Anak Allah dengan lebih baik. Yohanes Pembaptis sungguh merupakan satu paradigma untuk memahami Yesus.


[1] Howard Clark Kee, Understanding The New Testament, hlm. 100.
[2] Bdk. Oscar Cullmann, The Christology of  The New Testament (London: SCM Press LTD, 1955), hlm. 28.
[3] Dalam Yoh. ada kesaksian dari Yohanes Pembaptis tentang Yesus: “Inilah Dia yang kumaksudkan ketika aku berkata: Kemudian dari padaku akan datang Dia yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku” (Yoh. 1:15).
[4] Bdk. Nico Syukur Dister, Teologi Sistematika 1, hlm. 41.
[5] I Suharyo, Pengantar Injil Sinoptik, hlm. 63
[6] Bdk. C. Groenen, Panggilan Kristen, hlm. 44.
[7]  Bdk. Albert Nolan, Yesus Sebelum Agama Kristen, hlm. 108.
[8] Bdk. St. Darmawijaya, Pengantar Ke Dalam Misteri Yesus Kristus (Yogyakarta: Kanisius, 1991), hlm. 109.
[9] Bdk. Herman Embuiru, Katekismus Gereja Katolik, hlm. 342.
[10] Bdk. F. L. Bakker, Sedjarah Keradjaan Allah, hlm. 41-42.
[11] Dengan tiang awan, Allah hendak menyatakan bahwa Allah sendiri yang membawa umatnya ke luar dari Mesir. Ia berjalan di depan umat-Nya. Tiang awan itu juga disebut sebagai malaikat Tuhan (Kel. 14:19), yaitu cara Tuhan Yesus menyatakan diri pada masa PL.  Bdk. Ibid, hlm. 177.
[12] Herman Embuiru, Katekismus Gereja Katolik, hlm. 343.
[13] Bdk. Rudolf Schanackenburg, The Gospel According To St. Mark, hlm. 5.
[14] Bdk. Herman Embuiru, Katekismus Gereja Katolik, hlm. 344.
[15] Bdk. J. B. Banawiratma, Baptis, Krisma, Ekaristi (Yogyakarta: Kanisius, 1989), hlm. 82.
[16] Bdk. St. Darmawijaya, Pengantar Ke Dalam Misteri Yesus Kristus (Yogyakarta: Kanisius, 1991), hlm. 109.
[17] Bdk. E. Martasudjita, Sakramen-Sakramen Gereja, hlm. 219-220.
[18] Bdk. J. B. Banawiratma, Baptis, Krisma, Ekaristi, hlm. 89.
[19] Louis F. Hartman, “Baptism”, EncyclopedicDictionary of The Bible, (New York: McGraw-Hill Book Company, inc., 1963), hlm. 200.
[20] Bdk. E. Martasudjita, Sakramen-Sakramen Gereja, hlm. 221-223
[21] Stefan Leks, Tafsir Injil Markus, hlm. 35.
[22] Iman sebagaimana diilustrasikan dalam Mrk. bisa didefinisikan sebagai usaha yang sungguh-sungguh dan terarah untuk mendapatkan berkat baik secara materil maupun spirituil bagi seseorang atau orang lain, diinspirasikan oleh kepercayaan penuh bahwa Allah dalam Yesus dapat menyediakan semua kebutuhan manusia.  Christopher D.  Marshall, Faith As A Theme In Mark’s Narrative,  hlm. 236.
[23] Bdk. J. B. Banawiratma, Baptis, Krisma, Ekaristi, hlm. 82.
[24] Louis F. Hartman, “John The Baptist”, Encyclopedic Dictionary of The Bible, hlm. 1180.
[25] Kerajaan Allah merupakan inti pewartaan Yesus. Ini sama dengan para penginjil lain. “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil” (Mrk. 1:15). Yang terpenting dalam Kerajaan Allah adalah pengakuan akan kuasa dan pemerintahan Allah. Kerajaan Allah itu sudah tampil dalam diri Yesus. Hal itu merupakan karunia yang diterima oleh orang-orang kecil dan rendah hati (Mrk. 10:5), tetapi sekaligus suatu tantangan bahwa orang harus meninggalkan semuanya demi Kerajaan itu (Mrk. 9:47; 10:23-25.28-31). Markus menyebut bahwa Kerajaan Allah itu adalah Injil Allah (Mrk. 1:14) atau Injil Yesus Kristus (1:1). Hal itu terungkap jelas dalam Mrk. 8:35 dan 10:29 di mana terdapat semacam kesamaan antara Kristus dan Injil: “Barangsiapa mau kehilangan nyawanya karena Aku dan Injil, ia akan menyelamatkannya”. Jadi kehadiran Yesus sebenarnya adalah kehadiran Kerajaan Allah. Yesus mewartakan Injil berarti Ia mewartakan Kerajaan Allah yang sudah dekat dalam diri-Nya. Semua tuntutan yang diajukan agar orang masuk dalam Kerajaan Allah merupakan juga tuntutan bagi mereka yang ingin mengikuti Yesus. Bdk. I Suharyo, Pengantar Injil Sinoptik, hlm. 61-63.
[26] Sebutan Allah mahakuasa sebenarnya menegaskan supremasi Allah. Ia menciptakan langit dan bumi beserta segala isinya termasuk manusia. Ia mahakuasa atas segala sesuatu (Kel 6:2), tetap sekaligus Ia mahapengasih sehingga Ia mengasihi semua ciptaan-Nya, teristimewa manusia. Ia menciptakan manusia seturut gambar dan citra-Nya (Kej. 1:26-27) agar dapat menjalin hubungan baik dengan manusia (Kej 6:9; 18:17). Kasih Allah itu terwujud dalam pengungkapan diri Allah sebagai Bapa (Mrk. 14:36). Jadi kendati pun Allah adalah mahakuasa, namun Ia tetap dekat dengan manusia karena kasih-Nya. Bdk. Hendrik Njiolah, Syahadat Para Rasul Dalam Perspektif Kitab Suci, hlm.13.
[27] Bdk. Sidlow Baxter, Mengenali Isi Alkitab, 3 hlm. 153.
[28]  Bdk. Bambang Noorseno, Nama Yahwe: Harus dipertahankan atau boleh diterjemahkan dalam bahasa lain? Diambil dari:
   http://www,Iscs,id/do/index.php?option=com-content&task=view&id=47&itemid=2
[29] Bdk. Tom Jakobs, Imanuel, hlm. 76.
[30] Nico Syukur Dister, Kristologi, hlm. 186.
[31] Robert P. Rousseau, “John The Baptist: Jesus’ Forerunner in Mark’s Christology”, hlm. 318-321.
[32] Rudolf Schanackenburg, The Gospel According To St. Mark, hlm. 5.
[33] Bdk. Jurgen Moltmann, The Experience of Hope (London: SCM Press LTD, 1975), hlm. 46-48.