Rabu, 06 Oktober 2010

Gelar-gelar Maria


Bulan Mei dan Oktober senantiasa identik dengan Maria, Bunda Yesus Kristus yang terberkati, dikandung tanpa dosa dan diangkat ke surga dengan raganya yang tetap murni. Di awal bulan Mei ini, kami mengangkat sebuah topik yang semoga membuka wawasan kita bersama, betapa Bunda Maria sedemikian dihormati oleh Gereja sehingga sangat banyak gelar-gelar dan sebutan-sebutan yang diberikan bagi Bunda Maria untuk menghormati peranannya dalam Gereja sebagai persekutuan umat beriman.  


Kenapa Maria diberikan gelar-gelar tertentu?

Tentu saja karena peranan Bunda Maria sendiri dalam Gereja. Pertama, Maria dipilih Tuhan secara istimewa untuk menjadi Bunda Tuhan Yesus Kristus juru selamat manusia. Pemilihan yang istimewa ini sangat dirasakan akibatnya yang membahagiakan oleh Gereja sepanjang masa.                 Kedua, seperti yang dijelaskan oleh Lumen Gentium No.62, keibuan Maria dalam tata rahmat berlangsung terus tanpa putus, mulai dari persetujuan yang diberikannya dengan setia pada saat menerima kabar gembira dari malaikat Gabriel dan yang dipertahankannya tanpa ragu sampai di kaki salib sampai kepada kesempurnaan abadi semua orang beriman. Karena setelah diangkat ke surga, Maria tidak meninggalkan tugas ini, melainkan melanjutkannya melalui peraantaraan limpah dengan memberikan kita anugerah keselamatan abadi. Hal itu menunjukkan bahwa peran Maria dalam tata penyelamatan tetap aktual sepanjang sejarah Gereja tanpa terhenti oleh hilangnya Maria secara fisik dari panggung sejarah dunia. Karena itu Maria sungguh melebihi segala makluk di surga maupun di bumi, dan keunggulan ini sekaligus menjadi alasan bagi umat beriman untuk memuji, mencinta khusus, mengagumi dan menghormati Maria sambil meneladani dan memohon bantuan pengantaraan doanya pada Allah.

Kita tentu saja familiar dengan gelar-gelar yang umum, seperti Perawan yang Terberkati dan Bunda Allah, ada berapa banyak sebetulnya gelar-gelar Maria?

Sebuah sumber menyebut ada 117 gelar-gelar Maria, tetapi tentu saja kita tidak dapat membahasnya satu-per-satu pada kesempatan ini. Kita akan mambahas gelar-gelar yang utama, dan bagaimana gelar-gelar Maria dilihat dalam beberapa pengelompokkan.

Bagaimana mengelompokkannya?

Katekismus Gereja Katolik artikel 969 dan Konstitusi Dogmatis tentang Gereja (Lumen Gentium) mengajarkan ada 4 gelar utama Maria dalam kedudukannya sebagai pengacara (advocata), pembantu (ajutrix), penolong (auxiliatrix), dan perantara (mediatrix) (LG 62). Tapi kita akan membahasnya dalam pengelompokkan berdasarkan sifat gelarnya sendiri, yaitu:
  1. Gelar yang bersifat doktrinal
  2. Gelar yang bersifat devosi
  3. Gelar karena penampakan atau pengaruh geografis.

Gelar Maria yang bersifat doktrinal adalah gelar-gelar Maria yang secara dogmatis penting bagi Gereja. Gelar-gelar Maria yang bersifat doktrinal ini misalnya Maria Bunda Allah, Maria Perawan Yang Terberkati, Maria Yang Dikandung Tanpa Dosa atau Bunda Gereja adalah contohnya.

Gelar Maria yang bersifat devosi adalah gelar-gelar yang bersifat puitis atau alegori. Banyak dari gelar-gelar ini yang berasal dari Kitab Suci, seperti Tabut Perjanjian, Menara Gading, Benteng Daud, Bintang Timur, Bintang Samudera dan lain-lain.

Sementara gelar karena penampakan atau geografis adalah gelar yang diberikan kepada Maria karena kehadirannya di tempat-tempat tertentu, dan juga penghormatan daerah tertentu kepada Maria yang khusus daerah tersebut, bukan Gereja Katolik seluruhnya, misalnya Bunda Lourdes, Bunda Karmel, Bunda La Salette. Di sebuah paroki di Pakem, Yogyakarta ada gelar ’Kitiran Kencana’ bagi Bunda Maria.

Baiklah, apa saja gelar-gelar Maria karena dogma Gereja?
Ada beberapa gelar Maria yang bersifat dogma karena berasal dari ajaran resmi Gereja. Ada yang universal, berasal dari konsili ekumenis sekitar abad keempat sehingga diterima baik oleh Gereja Katolik Roma dan juga Gereja Ortodoks Timur seperti gelar Maria Bunda Allah dan ada juga yang lebih baru yang hanya diterima oleh Gereja Katolik seperti gelar Yang Dikandung Tanpa Noda (Imaculata) dan Yang Diangkat Ke Surga (Assumption).

Maria Bunda Allah dalam bahasa Yunani disebut Theotokos adalah gelar Maria yang sangat penting bagi Gereja. Gelar ini didasarkan pada panggilan Elizabeth kepada Maria dalam Injil Lukas 1:43. Gelar ini resmi disandangkan pada tahun pada Konsili Efesus tahun 431. Pada tahun-tahun tersebut berkembang ajaran oleh Nestorius dari Konstantinopel yang memandang bahwa Maria hanya membawa tubuh Yesus sebagai manusia, dan bukan sekaligus keilahianNya. Gelar Maria Bunda Allah membawa implikasi teologis bahwa Yesus adalah sungguh-sungguh manusia dan sungguh-sungguh Allah sejak pertama Ia dikandung oleh Maria dan dengan demikian gelar itu sekaligus mematahkan ajaran Nestorius dan menyatakan bahwa Nestorianisme adalah sesat.Maria Bunda Allah dirayakan Gereja Katolik dalam pesta setiap setiap tanggal 1 Januari.

Selanjutnya kita juga terbiasa dengan sebutan ”Perawan Maria”. Walaupun sangat biasa kita dengar, gelar ini juga memiliki dasar dogmatis yang berasal dari Gereja awal, bahwa Maria tetap perawan sebelum, saat dan sesudah melahirkan Yesus. Hal ini juga berasal dari kutipan ucapan Maria seperti tercatat dalam Injil Lukas 1:34. Ajaran ini berasal dari ajaran Ignatius dari Antiokia, Ambrosius dari Milan dan Agustinus dari Hippo dan akhirnya menjadi ajaran resmi Gereja sejak Sinode Lateran tahun 649.

Selain itu ada sebuah gelar Maria Yang Dikandung Tanpa Dosa atau Immaculata. Gelar ini diberikan bahwa karena kesuciannya untuk mengandung Tuhan, Maria dikecualikan dari dosa asal sejak Maria berada dalam kandungan ibunya. Gereja percaya dan mengajarkan bahwa sejak dikandung karena perkawinan orang tuanya, yaitu St Joachim dan St Anna, Maria diberikan rahmat ilahi oleh Allah, dikecualikan dari dosa dan mengalami kepenuhan rahmat untuk hidup tanpa dosa. Ini  tampak jelas dari salam sukacita dari malaikat Gabriel kepada Maria yang menyebutnya ”penuh rahmat”. Kepercayaan bahwa Maria Dikandung Tanpa Dosa menjadi ajaran resmi Gereja tahun 1854, tetapi sebetulnya kepercayaan bahwa Maria sendiri bebas dari dosa sudah ada sejak lama, bahkan pesta perayaannya pada setiap tanggal 8 Desember sudah dirayakan sejak 1476, sebelum menjadi ajaran resmi Gereja.

Akhirnya, sebuah gelar dogmatis terpenting adalah Yang Diangkat Ke Surga atau Maria Assumpta. Gelar ini mengikuti gelar Yang Dikandung Tanpa Dosa dan kepercayaan turun temurun bahwa Maria sungguh-sungguh dikecualikan dari manusia biasa oleh Allah. Kepadanya telah diberikan kepenuhan rahmat hidup tanpa dosa dan pada akhirnya saat paripurna hidupnya ia diberi rahmat terakhir yaitu jiwa dan raganya diangkat ke surga. Gelar dogmatis ini tergolong baru, menjadi ajaran resmi Gereja pada tahun 1950 dari Paus Pius XII dalam konstitusi apostoliknya. Walaupun demikian, kepercayaan bahwa Maria diangkat ke surga dengan tubuh dan jiwanya sudah ada dalam tulisan-tulisan sejak abad ke-5.

Baiklah, apa saja gelar-gelar Maria yang bersifat devosi?
Ada banyak gelar-gelar Maria yang bersifat devosi, seperti “Benteng Daud”, “Benteng Gading/Turris Eburnus”, “Tabut Perjanjian”, “Cermin keadilan/Speculum Justitiae”, “Takhta Kebijaksanaan/Sedes Sapientiae”, “Bintang Timur/Bintang Fajar/Stella Matutina”, “Pintu Surga/Caeli Porta”, “Bintang Samudera/Stella Maris”, “Mawar yang Gaib/Rosa Mystica”, “Hamba Tuhan/Ancilla Domini”, “Ratu Bidadari/Regina Angelorum”, “Ratu Damai/Regina Pacis”,

Sebagian besar gelar di atas berhubungan dengan nubuat dan perlambang dalam Perjanjian Lama yang menubuatkan peran Bunda Maria dalam misteri keselamatan. Beberapa di antaranya berfokus pada kesucian dan peran keibuannya. Selain itu ada pula yang berasal dari kitab Wahyu.

“Benteng Daud” adalah benteng yang berdiri menyolok dan kokoh di puncak tertinggi pegunungan yang mengelilingi Yerusalem. Benteng yang demikian merupakan sarana pertahanan kota. Dengan benteng itu, peringatan akan dapat segera disampaikan apabila musuh datang menyerang. Maria diperbandingkan dengan Benteng Daud karena kesuciannya, karena ia dikenal sebagai yang penuh rahmat dan karena ia dikandung tanpa dosa. Dengan doa-doa dan teladannya, Maria merupakan bagian dari “sarana pertahanan” Tuhan dengan mana Kerajaan Allah akan berdiri tegak tak terkalahkan dan dosa akan senantiasa dikalahkan (bdk Kid 4:4).

Maria disebut “Benteng Gading”. Gelar ini juga digunakan dalam Kidung Agung (Kid 7:4) yang menggambarkan pengantin terkasih. (Ungkapan serupa, “Istana Gading” digunakan dalam Mazmur 45:9, untuk alasan yang sama). Kedua ilustrasi tersebut menubuatkan hubungan perkawinan antara Kristus dan pengantin-Nya, Gereja, seperti disampaikan dalan Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Efesus. Di sini patut kita ingat, seperti diajarkan dalam Vatikan II, bahwa Maria adalah “serupa Gereja”: Ia mengandung dari kuasa Roh Kudus dan melalui dia, Juruselamat kita masuk ke dalam dunia ini. Gereja, “oleh menerima Sabda Allah dengan setia pula – menjadi ibu juga. Dan sambil mencontoh Bunda Tuhannya, Gereja dengan kekuatan Roh Kudus secara perawan mempertahankan imannya, keteguhan harapannya, dan ketulusan cinta kasihnya” (Lumen Gentium no. 64).

Gelar “Tabut Perjanjian” mengangkat peran keibuan Maria. Perlu diingat bahwa dalam Perjanjian Lama, Tabut Perjanjian adalah rumah bagi Sepuluh Perintah Allah, Hukum Tuhan. Sementara bangsa Israel dalam pengembaraan menuju tanah terjanji, suatu tiang awan, yang melambangkan kehadiran Allah, akan turun atas atau “menaungi” kemah di mana Tabut disimpan. Yesus datang untuk menggenapi perjanjian dan hukum. Dalam kisah Kabar Sukacita, perkataan Malaikat Agung Gabriel kepada Maria, “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau,” (Luk 1:35) menyatakan gagasan yang sama. Karena itu, Maria yang memberi “rumah” Yesus dalam rahimnya; adalah “Tabut” baru, dan bunda dari pelaksana perjanjian yang sempurna dan kekal.

Atas dasar ini bermunculan gelar-gelar yang lain: Yeremia menubuatkan bahwa Mesias akan disebut, “TUHAN -  keadilan kita.” (Yer 23:6); sehingga Maria disebut “Cermin keadilan” karena tak seorang pun dapat mencerminkan kasih dan penghormatan kepada Kristus dalam hidupnya lebih baik dari Maria. Karena kemurniannya, kelimpahan kasihnya dan karena ia menjadi “rumah” bagi Yesus, Maria disebut “Rumah Kencana”. Yesus adalah Kebijaksanaan Tuhan, “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita” (Yoh 1:14); karenanya, Maria, yang mengandung Kristus, digelari “Takhta Kebijaksanaan”.  

Bagi kita, Bunda Maria juga melambangkan pengharapan yang besar. Vatikan II menyatakan, “Sementara itu Bunda Yesus telah dimuliakan di surga dengan badan dan jiwanya, dan menjadi citra serta awal Gereja yang harus mencapai kepenuhannya di masa yang akan datang. Begitu pula di dunia ini ia menyinari Umat Allah yang sedang mengembara sebagai tanda harapan yang pasti dan penghiburan, sampai tibalah hari Tuhan.” (Lumen Gentium no. 68). Karena alasan ini Bunda Maria digelari “Bintang Timur”, karena ia melambangkan orang-orang Kristen yang menang, yaitu mereka yang bertekun dalam iman dan beroleh bagian dalam kuasa Mesianis Kristus dan menang atas kuasa kegelapan yaitu dosa dan maut. Istilah ini dapat ditemukan dalam Kitab Wahyu (Why 2:26-28): “Dan barangsiapa menang dan melakukan pekerjaan-Ku sampai kesudahannya, kepadanya akan Kukaruniakan kuasa atas bangsa-bangsa; dan ia akan memerintah mereka dengan tongkat besi; mereka akan diremukkan seperti tembikar tukang periuk – sama seperti yang Kuterima dari Bapa-Ku – dan kepadanya akan Kukaruniakan bintang timur.” Juga dalam Kidung Agung (Kid 6:10) kita temukan, “Siapakah dia yang muncul laksana fajar merekah, indah bagaikan bulan purnama, bercahaya bagaikan surya…”; sama seperti cemerlangnya terang menghalau kegelapan fajar, Maria memaklumkan kedatangan Putranya, yang adalah Terang Dunia (bdk Yoh 1:5-10, 3:19).

Maria juga adalah “Pintu Surga”. Maria adalah sarana yang dipergunakan Kristus untuk datang dari surga demi membebaskan kita dari dosa. Di akhir hidupnya, kita percaya bahwa Bunda Maria diangkat jiwa dan badannya ke surga, suatu kepenuhan janji akan kehidupan kekal dan kebangkitan badan yang dijanjikan Yesus. Sebab itu, Maria adalah pintu melalui mana Yesus masuk ke dalam dunia ini dan pintu kepada kepenuhan janji di mana kita akan beroleh bagian dalam kehidupan kekal.

Karena itu, kita memandang Maria sebagai “Bintang Samudera”. Bagaikan bintang samudera membimbing para nahkoda mengarungi lautan berbadai menuju pelabuhan yang aman, demikian juga Maria, melalui segala doa dan teladannya, membimbing kita sepanjang perjalanan hidup kita, kadang melalui samudera yang bergolak, menuju pelabuhan surgawi.

Secara keseluruhan, Maria adalah “Mawar yang Gaib”. Mawar dianggap sebagai bunga yang terindah, bunga kerajaan yang harumnya melampaui segala bunga lainnya. Bunda Maria memiliki kekudusan yang manis dan keutamaan yang cantik. Singkatnya, segala gelar ini mengingatkan kita akan pentingnya peran Bunda Maria dalam spiritualitas Katolik, sebagai teladan keutamaan dan kekudusan dalam peran keibuannya, dan sebagai tanda akan kehidupan yang akan datang.

Pada akhirnya kita merangkum pujian dan kepada Maria dan menyatakan gelar-gelarnya dalam sebuah litani yang bernama Litani Santa Maria. Kita mendapati gelar-gelar tersebut dalam Litani Santa Perawan Maria (terutama versi Loreto), yang disusun sekitar pertengahan abad ke-16. St. Petrus Kanisius mempopulerkan Litani Santa Perawan pada tahun 1558 saat ia mempublikasikannya guna menggairahkan devosi kepada Bunda Maria sebagai tanggapan atas “Reformasi” Protestan yang menyerang devosi-devosi sejenis. Litani ini merupakan seruan gelar pujian kepada Santa Perawan yang digunakan dalam perayaan-perayaan di Gereja Loreto, Italia sejak abad ketigabelas. Litani ini disetujui oleh Paus Sixtus V tahun 1587.

Senin, 04 Oktober 2010

ROSARIUM MARIAE VIRGINIS



Rosarium Virginis Mariae adalah nama sebuah surat apostolik Paus Yohanes Paulus II yang diterbitkan pada tanggal 16 Oktober 2002. Surat ini di samping untuk merayakan ulang tahun ke 122 ensiklik Supreme Apostolatus Offisio Paus Leo XIII, juga sebagai peringatan HUT ke-40 pembukaan KV II, juga untuk memberi warna baru bagi warisan Paus Paulus VI, Marialis Cultus yang membahas juga tentang Rosario Suci dan memandangnya sebagai ringkasan dari pesan Injil:
Rosario, walau jelas-jelas bersifat Bunda Maria, merupakan pusat dari sebuah doa Kristosentris atau yang berpusat pada Kristus. Dalam kesadaran unsur-unsurnya, Rosario memiliki semua kedalaman pesan Injil dalam keseluruhannya, hingga mana ia bisa dikatakan sebagai sebuah ringkasan darinya (no.1).
Surat ini menegaskan kembali kepercayaan Katolik Roma pada kekuatan Doa Rosario dan menyatakan:
Melalui Rosario para umat menerima rahmat yang melimpah, yang seakan-akan datang langsung dari tangan Sang Bunda Penebus.
Surat ini juga menekankan devosi total kepada Sang Perawan Maria, sebagaimana yang dikembangkan oleh Santo Louis de Montfort, yang mana dikutip oleh Sri Paus:
"Kesempurnaan penuh kita terbentuk dengan cara taat, bersatu dan dipersembahkan sepenuhnya kepada Yesus Kristus. Oleh karena itu devosi yang paling sempurna dari semua devosi tidak dapat dibantah adalah devosi yang menaati, mempersatukan dan menguduskan kita dengan cara yang paling sempurna pada Yesus Kristus.
Sekarang, semenjak Maria yang diantara semua makhluk merupakan yang paling taat pada Yesus Kristus, dapat dikatakan bahwa diantara semua devosi yang paling menguduskan dan mempersiapkan jiwa seseorang kapada Tuhan kita adalah devosi kepada Maria, Bunda-Nya yang Kudus, dan bahwa semakin sering suatu jiwa dikuduskan pada-Nya, semakin dikuduskan pula jiwa tersebut pada Yesus Kristus."[1]
Beberapa hal yang akan diungkap dalam ringkasan ini adalah:
PENGANTAR
Rosario atau “mahkota mawar” adalah doa merenungkan kehidupan Yesus, yang meliputi kontemplasi atas peristiwa-peristiwa tertentu dalam Injil, yaitu “misteri-misteri”, bersama Bunda Maria. “Mendaras rosario tidak lain adalah menatap wajah Kristus bersama Maria” (no.3). disebutkan bahwa Selama berabad-abad, “tak terbilang orang kudus mencintai doa ini dan Pimpinan Gereja senantiasa menganjurkannya” (no. 1). Banyak peristiwa sehubungan dengan Santa Perawan Maria di mana ia mendorong kita untuk mendaraskan rosario. Semua orang bebas untuk mengambil manfaat dari pesan-pesan yang disampaikan dalam peristiwa-peristiwa tersebut. Paus Yohanes Paulus II telah menyempurnakan dimensi Kristologis rosario dengan menambahkan “Peristiwa Cahaya”, yang disusun berdasarkan peristiwa-peristiwa tertentu dari pewartaan Kristus di depan publik. Sebab itulah, dapat dengan tepat dikatakan bahwa rosario adalah “ringkasan seluruh Injil.”
1.  Doa macam apakah Rosario itu?
Dalam Surat Apostolik ini,  Paus Yohanes Paulus II menulis bahwa “Rosario dimulai dengan pengalaman Maria sendiri. Justru karena ini, rosario merupakan doa kontemplatif yang sangat indah. Tanpa dimensi kontemplatif ini, doa rosario akan kehilangan maknanya; hal ini dengan jelas ditandaskan Paus Paulus VI: `Tanpa kontemplasi, doa rosario menjadi ibarat tubuh tanpa jiwa, dan ada bahaya bahwa pendarasannya akan menjadi pengulangan kata-kata secara mekanis'” (no.12). Rosario, yang didasarkan pada pengulangan, mensyaratkan suatu iman yang hidup dan kasih yang tulus mesra kepada Kristus sang Penebus dan kepada BundaNya, Santa Perawan Maria. “Sesungguhnya, doa rosario hanyalah suatu metode kontemplasi. Sebagai metode, doa rosario merupakan sarana untuk mencapai suatu tujuan, dan bukan tujuan itu sendiri. Bagaimanapun juga, belajar dari pengalaman berabad-abad, metode ini hendaknya tidak diremehkan. Untuk itu, kita dapat mengutip pengalaman orang-orang kudus yang tak terbilang jumlahnya” (no.28). Dalam artikel keenam disebut bahwa doa Rosario sebenarnya adalah doa untuk memohon damai.
2. Melihat Ibu lewat pendarasan Rosario (Lihat, inilah ibumu=Yoh 19:27)
            Yesus sebelum wafat mempercayakan semua putera-puteri Gereja kepada Maria. Inilah anakmu, dan kepada para murid, inilah ibumu. Itu berarti bahwa sampai saat ini Perawan Maria masih ingin menyatakan keperihatinannya (no. 7). Itu sunggu beralasan karena berbagai kebaikan yang dilamatkan kepada Ibu Perawan ini. Ia boleh disebut sebagai pribadi dengan wajah yang bercahaya bagaikan surya (no. 9). Hal ini sesuai dengan kata-kata Paulus bahwa kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak terselubung (lih 2 Kor 3:18). Dalam diri Maria juga terungkap satu model kontemplasi, bahwa dalam dirinya kontemplasi wajah Kristus mendapat model yang tak tertandingi. Wajah Sang Putera tercipta dalam diri Maria (no.10). itu terjadi karena Maria selalu ingat akan Yesus dan menyatu dengan Dia (10). Karena itu juga boleh dikatakan bahwa doa Rosario sebenarnya dimulai dengan pengalaman Maria sendiri. Justru karena itu maka doa Rosario menjadi doa kontemplatif yang sangat indah (no. 13). Saat orang mendaraskan Rosario, saat itu juga umat bersama dengan Maria mengenang Kristus, yaitu menghadirkan karya-karya yang dilaksanakan Allah dalam sejarah keselamatan, dan lewat Maria itu juga umat bisa belajar mengenal Kristus. Tak seorang pun mengenal Kristus lebih baik daripada maria. Karena itu dialah sebenarnya yang paling bisa memperkenalkan yesus pada semua orang (14). Dengan mengenal Kristus, maka orang akan menjadi serupa dengan Kristus, dan lewat doa Rosario yang bagaikan ziara batin yang didasarkan pada kontemplasi terus-menerus atas wajah Kristus, bersama Maria, umat dihantar pada keserupaan dengan Yesus Kristus. Perjumpaan itu terjadi karena persahabatan, yaitu persahabatan yang menghantar pada keserupaan bersama Kristus (15). Selain itu juga, lewat Rosario umat juga bisa berdoa dan memohon. Sama seperti ketika Maria meminta Yesus membantu tuan rumah yang kekurangan anggur. Di sini Gereja mengembangkan doa kepada Bunda Allah yang kudus sembari memusatkan doa itu pada pribadi Kristus yang terungkap dalam misteri-misterinya (16). Di situ pula terjadi pemakluman Kristus. Kristus dimaklumkan lewat pengulangan doa-doa dan di situ Maria ada bersama seluruh umat dalam memaklumkan kemuliaan Kristus (17).
3.  Manik-manik Rosario

“Sarana tradisional yang digunakan untuk pendarasan rosario adalah untaian biji-bijian. Pada tahap yang paling sederhana, biji-biji itu sering menjadi sekedar alat hitung untuk menandai alur Salam Maria” (no.36). “Tetapi, akan sangat berbeda, kalau doa rosario dipandang sebagai luapan kasih yang tanpa kenal lelah kepada orang yang sangat dikasihi; di sini ungkapan-ungkapan bisa tetap serupa tetapi isinya selalu baru karena perasaan-perasaan yang menyelimutinya” (no. 26). “Pertama-tama perlu dicamkan bagaimana biji-biji itu menyatu pada salib; dari sini alur doa dimulai dan diakhiri. Ini melambangkan kehidupan dan doa orang beriman yang terpusat pada Kristus” (no. 36).
4. Sejarah Rosario
Rosario merupakan bagian dari bentuk-bentuk baru devosi kepada Santa Perawan yang berkembang pesat dalam aspek-aspeknya yang lebih populer, yang menandai akhir abad keduabelas. Cistercian dan dari awal abad berikutnya, ordo-ordo pengemis yang hebat, dalam kegigihan mereka melawan bidaah, memberikan sumbangan yang tak sedikit dalam penyebarluasan rosario. Manik-manik rosario, yang telah dipergunakan untuk devosi-devosi serupa, dipakai guna menjamin pendarasan yang lebih mudah dan lebih penuh perhatian. Segera saja pemakluman misteri-misteri dari kehidupan Yesus dan Maria diperkenalkan dalam pendarasan rosario ini. St Dominikus dan para biarawannya, dalam misi pewartaan mereka kepada orang banyak, sungguh berperan besar dalam hal ini, namun demikian tidaklah mudah menentukan dengan tepat bentuk yang mereka gunakan dan sebarluaskan. Semacam persetujuan resmi diberikan ketika St Pius V menetapkan suatu rumusan yang baku dan seragam untuk doa Salam Maria.“Sangatlah terkenal kejadian-kejadian dalam abad ke-19 dan ke-20, di mana Bunda Kristus menampakkan diri dan memperdengarkan suara untuk mendorong umat Allah melaksanakan doa kontemplatif ini. Secara khusus  penampakan di Lourdes dan Fatima”(no.7). Sepanjang Milenium Kedua, banyak Paus menganjurkan devosi kepada Santa Perawan Maria, dan sejak masa Paus Leo XIII, “Paus Rosario”, semuanya telah merekomendasikan doa rosario serta memperkayanya dengan memberikan indulgensi-indulgensi bagi pendarasannya. Paus Yohanes Paulus II senantiasa memiliki devosi istimewa kepada Bunda Allah. Jubah kepausannya bersulamkan kata-kata pertama (Totus tuus) dari doa kepada Santa Perawan Maria. Ia senantiasa membawa rosario bersamanya dan terus-menerus mendaraskannya. Surat Apostolik tentang Rosario merupakan suatu kenangan abadi akan penghargaannya yang tinggi terhadap doa ini.
5. Bagaimana Berdoa Rosario?
“Dewasa ini, di berbagai wilayah Gereja, ada banyak cara untuk mengawali doa rosario” (no. 37). Salah satu caranya adalah sebagai berikut: Dimulai dengan membuat Tanda Salib, seraya mengatakan: Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus.
Ya Allah, datanglah menolongku;
Ya Tuhan, bersegeralah menolongku.
Kemuliaan kepada Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus,
seperti pada permulaan, sekarang, selalu, dan sepanjang segala abad. Amin.
Di awal setiap perpuluhan, kita memaklumkan “misteri” yang hendak direnungkan, misalnya, misteri pertama dari Peristiwa Gembira adalah “Maria menerima kabar gembira dari Malaikat Gabriel”. Setelah hening sejenak untuk berefleksi, kita mendaraskan “Bapa Kami”, sepuluh “Salam Maria”, dan “Kemuliaan”. Suatu doa permohonan dapat ditambahkan setelah setiap perpuluhan. Di akhir rosario, dapat dipanjatkan Litani Santa Perawan Maria atau doa lainnya kepada Bunda Maria.
6. Peristiwa-peristiwa Rosario
Rosario terdiri dari duapuluh “misteri” (peristiwa-peristiwa atau saat-saat penting dalam hidup Yesus dan Maria) yang, sesuai surat ini dikelompokkan ke dalam empat peristiwa. Yang pertama adalah Peristiwa Gembira (didaraskan pada hari Senin dan Sabtu); yang kedua adalah Peristiwa Cahaya (didaraskan pada hari Kamis); yang ketiga adalah Peristiwa Sedih (didaraskan pada hari Selasa dan Jumat); dan yang keempat adalah Peristiwa Mulia (didaraskan pada hari Rabu dan Minggu).  “Pengaturan ini tidak dimaksud untuk membatasi kebebasan sah dalam doa perorangan dan doa jemaat, di mana perlu dipertimbangkan kebutuhan spiritual dan pastoral jemaat dan adanya perayaan-perayaan liturgis khusus yang barangkali menuntut penyesuaian yang serasi” (no. 38).
7. Merenungkan peristiwa-peristiwa Rosario
            Ada empat peristiwa Rosario yang dikenangkan:
                Peristiwa gembira ditandai dengan sukacita yang memancar dari peristiwa inkarnasi. Merenungkan peristiwa gembira berarti menyelami sumber utama dan makna terdalam sukacita kristiani. Maria menuntun kita menemukan rahasia sukacita kristiani sambil mengingatkan kita bahwa agama kristiani pertama-tama dan utamanya adalah euangelion (no.20).
b. Peristiwa Terang
            Paus menyebut peristiwa terang sebagai pelengkap yang tepat. Pola misteri yang sebelumnya ada tiga ditambahkan dengan peristiwa-peristiwa pelayanan Yesus di muka umum antara pembaptisan dan sengsara-Nya. Dikatakan bahwa agar Rosario menjadi ringkasan Injil yang lebih utuh, tepatlah ditambahkan renungan tentang peristiwa-peristiwa amat penting dalam pelayanan Yesus di hadapan umum. Ini ditambahkan untuk memberi kesegaran dan untuk mengobarkan minat baru terhadap tempat doa Rosario dalam spiritualitas kristiani sebagai lorong lurus menuju lubuk Hati Yesus, samudera sukacita dan terang, sengsara dan kemuliaan (no.20).
            Injil sangat menonjolkan misteri sengsara Kristus. Dari awal kesalehan kristiani, khususnya dalam devosi jalan salib masa Prapaskah, telah dipusatkan pada aneka peristiwa dalam  sengsara Kristus, karena di sinilah ditemukan pewahyuan kasih Allah dan sumber keselamatan kita (22).
            Menatap wajah Yesus tidak boleh hanya berhenti pada tatapan wajahnya yang tersalib. Ia telah bangkit. Pengetahuan ini muncul dari iman. Doa Rosario mengundang kaum beriman melintasi kegelapan sengsara untuk memandangi kemuliaan Kristus dalam kebangkitan dan kenaikan-Nya ke surga bersama juga bunda Maria yang bersukacita atas kebangkitan Kristus. Begitu juga ketika Maria dimakotai di surge. Ia tampil sebagai ratu para malaikat dan para kudus dan kita diundang ke situ. Ini merupakan penyerupaan dengan Kristus yang naik ke surge dalam kemuliaan. Di pusat rangkaian kemuliaan Putera dan Bunda ini, doa Rosario menampilkan di hadapan kita peristiwa mulia yang ketiga, yaitu turunnya Roh Kudus atas para rasul. Ini menuntun umat kristiani untuk semakin menghargai kehidupan baru dalam Kristus. Pendeknya itulah bahwa peristiwa mulia menuntun umat beriman menuju kebahagiaan eskatologis dengan harapan yang makin besar (no. 23).
8. Doa Rosario adalah Jalan Maria
            Rangkaian renungan yang disarankan oleh Rosario suci memang tidak lengkap, tetapi sungguh menyadarkan kita akan apa yang esensial. Peristiwa-peristiwa Rosario membangkitkan dalam hati kerinduan untuk mengenal Kristus yang terus-menerus dipupuk oleh sumber murni Injil. Doa inilah yang dengan muda menghantar orang pada pengenalan akan Kristus, sehingga kita bisa menyebutnya sebagai Jalan Maria. Inilah contoh yang diberikan oleh Maria, seorang perempuan yang sungguh beriman, yang suka akan keheningan dan seorang pendengar yang penuh perhatian./Ini juga jalan devosi Maria yang diilhami oleh pengenalan tentang ikatan yang tak terpisahkan antara Kristus dan bunda-Nya yang kudus.

Penutup
            Gereja selalu meyakini kemanjuran doa Rosario. Maka Gereja mempercayakan masalah-masalah yang paling pelik kepada doa Rosario, kepada pendasaran bersama-sama dan tanpa henti. Lewat doa Rosario ini kedamaian akan dialami karena doa ini memang untuk perdamaian sambil juga mengingat bahwa akan sangat indah jika doa ini dipanjatkan oleh semua keluarga untuk menjamin keutuhan hidup berkeluarga dan membiasakan anak-anak untuk berdoa dan menumbuhkan serta mengembangkan mereka lewat pendarasan Rosario. Meningkatkan hidup rohani bersama Bunda Maria, Rosario Perawan Maria

Marialis Kultus

Marialis Cultus adalah nama sebuah surat apostolik Mariologi dari Paus Paulus VI yang dikeluarkan pada tanggal 2 Februari 1974. Penjelasan dala surat ini adalah Untuk Penataan dan Perkembangan yang Benar bagi Devosi kepada Sang Perawan Suci Maria. Dokumen ini tidak berfokus pada topik-topik khusus dalam Mariologi, namun memperjelas jalan bagaimana Gereja Katolik Roma merayakan liturgi yang memperingati Maria dan mengenai devosi kepada Maria. Surat apostolik ini memiliki tiga bagian:
·         Bagian 1 membahas devosi-devosi kepada Maria dan latar belakang pemikirannya.
·         Bagian 2 memfokuskan diri pada apa yang seharusnya ada di dalam devosi-devosi kepada Maria di masa depan.
·         Bagian 3 merujuk pada Angelus dan Rosario. Surat ini mendorong praktek doa Angelus dan melahirkan 14 artikel terpisah bagi Rosario.
Bagian pertama: Devosi kepada santa perawan suci dalam liturgi
1.      Perawan tersuci dalam liturgy Romawi yang dibarui
            Dalam bagian ini, kenangan akan Ibu Maria ditempatkan dalam daur tahunan misteri Sang Putera, yaitu sejak penjelmaan sampai kedatangan-Nya kembali (no. 2). Ini berawal pada liturgy masa Adven, yaitu 8 Desember saat Gereja memperingati misteri Maria dikandung tanpa noda yang juga menunjuk pada persiapan mendasar kedatangan Penebus. Itu terungkap pada hari Minggu sebelum natal di mana Gereja mengenang nubuat-nubuat kuno mengenai Ibu Perawan dan makin dekatnya kedatangan Mesias (no.3). Di sini umat beriman didorong untuk meneladan Maria dalam mempersiapkan diri untuk menyongsong Sang Juruselamat yang akan datang dengan bertekun dalam doa dan bersorak dengan puji-pujian (4).
            Pada masa Natal Gereja kemudian melihat peranan Maria sebagai perawan yang melahirkan Sang Juruselamat. Ibu dihormati seiring kelahiran Yesus ke dunia. Hal itu terungkap pula pada hari raya penampakkan Tuhan dan pada pesta keluarga kudus. Demikian juga ketika tanggal 1 Januari Gereja melihat peranan Maria sebagai Bunda Allah bersamaan dengan kelahiran Pangeran Perdamaian (5). Ia disebut sebagai ibu sang pembawa damai, yaitu hawa baru (25 Maret) yang menjadi Bunda Allah. Bunda Allah itu pula yang pada tanggal 15 Agustus dikenangkan pengangkatannya yang mulia ke surga (6). Selain hari raya-hari raya di atas, masi ada pesta lain lagi berkaitan dengan Bunda Maria yang ditempatkan dalam kalender liturgis, seperti pesta kelahiran Maria, kunjungan kepada Elisabeth (31 Mei), atau juga Bunda kedukaan (15 september). Pengenangan akan ibu penebus ini terungkap pula dalam doa syukur agung, yaitu dalam kalimat: …terutama santa perawan Maria, tetap perawan mulia,… Inti dari semua itu adalah orang boleh meneladan dan berdoa bersama bunda Maria, sambil mengubah penghormatan kepadanya menjadi kasih yang konkrit dan mendalam kepada Gereja (11). Penghormatan kepada Maria terungkap pula dalam buku laudes yang menunjukkan kesaksian penting devosi kepada Maria. Intinya itulah bahwa penghormatan kepada Maria berasal dan dilanjutkan serta dikembangkan terus menerus dari ibadat sepanjang masa dengan perhatian saksama terhadap kebenaran dan bentuk ungkapannya (15).
2./ Santa Perawan sebagai model Gereja dalam ibadat ilahi
            Penegasan penting di sini adalah bahwa Maria merupakan contoh sikap rohani. Ia pantas diteladani karena keteladannya memang nyata dalam hal bahwa ia diakui sebagai teladan termulia Gereja menurut iman, kasih dan kesatuan dengan Kristus, yakni sikap batin yang meresapi Gereja, mempelainya yang terkasih dalam kesatuan erat dengan Tuhan. (16). Hal itu terungkap dalam beberapa hal:
·         Maria adalah perawan yang mendengarkan, yaitu yang menyambut Sabda dalam iman, dengan iman yang baginya merupakan syarat dan jalan menuju keibuan ilahi (17)
·         Maria juga adalah perawan yang berdoa. Ini terungkap jelas dalam magnificat. Dirinya merupakaan ungkapan pujian kepada Allah, rendah hati, penuh iman dan harap.(18)
·         Ia juga adalah ibu perawan, yaitu dia yang karena iman dan ketaatannya melahirkan Putera Bapa di bumi. Inilah keibuan yang mengagumkan yang oleh Allah dipanggil menjadi pralambang dan teladan kesuburan gereja perawan yang juga menjadi ibu (19)
·         Pada akhirnya, ia jugalah perawan yang mempersembahkan diri yang terungkap saat ia mempersembahkan anaknya di bait Allah. Hidupnya merupakan persembahan utuh kepada Allah (20)
Dari semua itu boleh disebut bahwa Maria merupakan pengajar hidup rohani bagi setiap orang kristiani. Hidupnya menjadi ibadat dan pengabdiannya menjadi kewajiban untuk hidup (21). Karena itulah hidup Maria menjadi seperti mempelai yang dihiasi bagi mempelai pria, Yesus Kristus. Beralasanlah peringatan KV II kepada semua orang beriman, agar mereka dengan murah hati memajukan penghormatan, terutama dalam liturgy, kepada santa Perawan.
Bagian Kedua: Pembaharuan devosi kepada Maria
            Pembaruan ini mencakup penggantian unsure-unsur yang ketinggalan zaman, mengedepankan unsure-unsur yang abadi, dan mengangkat hasil ilmu yang dibuakan refleksi teologis dan diajukan Magisterium. Ada beberapa prinsip penting bagi tindakan ini:
1. Aspek-aspek Trinitaris, Kristologis dan eklesial devosi kepada Maria
            Yang penting adalah kebaktian kepada Maria harus mengungkapakan ciri trinitas dan kristologis, yaitu ibadat yang terarah kepada Bapa, Putera, dan Roh Kudus. Dalam kaitan dengan kristologi, bagus dikatakan supaya penghormatan kepada Maria harus mencerminkan rencana Allah dalam satu keputusan yang sama asal-usul Maria dan penjelmaan Kebijaksanaan ilahi. Ini penting agar devosi kepadanya sampai pada kesatuan iman dan pengakuan Anak Allah, kedewasaan penuh dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus (25). Di sini diungkap juga karya Roh Kudus yang menguduskan dalam diri Maria. Maria menjadi tempat kediaman Roh Allah, sehingga umat memohon pengantaraannya untuk mendapatkan dari Roh Kudus kemampuan membangkitkan Kristus dalam jiwa sendiri (26). Ibadat kesalehan umat kepada Maria ini juga perlu menempatkan kedudukannya yang wajar dalam Gereja. Dengan itu kaum beriman dimungkinkan untuk lebih mudah menghargai perutusan Maria dalam misteri Gereja dan kedudukannya yang menonjol dalam persekutuan para Kudus. Ini sesuai dengan KV II mengenai hakekat Gereja sebagai keluarga Allah, umat Allah dan Tubuh Mistik Kristus. Kasih kepada Gereja menjadi kasih kepada Maria dan sebaliknya. Gereja dikatakan tak dapat disebut Gereja tanpa mengikutsertakan Maria ibu Tuhan (28). Singkatnya adalah penghormatan kepada Maria harus menunjukkan isi hakiki (trinitas dan kristologis) dan eklesiologisnya agar bentuk-bentuk dan teksnya dapat dibarui dengan cara yang tepat.
2. Empat petunjuk devosi kepada Santa Perawan: aspek biblis, liturgis, ekumenis dan antropologis.
            Beberepa pedoman dari kitab suci, liturgy, ekumene, dan antropologi adalah penting untuk diperhatikan dalam setiap revisi atau penyusunan latihan rohani untuk menekankan dan mengedepankan ikatan yang mempersatukan umat kristiani dengan Ibu Kristus dan ibu kita dalam persekutuan para kudus. Dalam kaitan dengan segi biblis disebutkan bahwa kesalehan kepada Maria harus menimba dan mendapatkan kekuatan baru dan bantuan pasti dari Kitab Suci. Ini agar devosi kepada Maria sungguh diterangi cahaya sabda ilahi dan didorong untuk bertindak sesuai dengan perintah Kebijaksanaan yang menjelma. Selain aspek biblis, perlu diperhatikan pula amanat KV II, Sacrosanctum Consilium yang menyebut bahwa praktek devosi ini perlu pula memperhatikan masa liturgis dan harus sesuai dengan liturgy suci. Yang penting adalah penyesuaian bukan pencampuradukkan dengan liturgy resmi Gereja (31). Adanya sifat kegerejaan dalam devosi kepada Maria menjadi cerminan pula akan keperihatianan dan harapan gereja dewasa ini yang antara lain adalah kerinduan akan pemulihan kesatuan umat kristiani. Itu juga yang membuat praktek kesalehan umat ini menjadi sesuai dengan harapan dan tujuan gerakan ekumene, yaitu mendapatkan cirri ekumenis sama seperti penghormatan kepada maria oleh gereja ortodoks, atau juga kaum Anglikan yang sudah menunjukkan dasar biblis yang mantap untuk ibadat Bunda Tuhan, atau juga kaum reformis di mana cinta akan Kitab Suci amat hidup bila mereka memuliakan Allah dengan kata-kata Maria (33). Bagi umat Katolik sendiri, devosi kepada Maria juga menjadi kesempatan untuk memohon pengantaraannya pada Puteranya untuk memperoleh persatuan semua orang yang dibaptis menjadi satu Umat Allah.
            Di samping ketiga hal di atas, aspek antropologis dalam penghormatan kepada Maria juga perlu diungkap. Ini lebih dikaitkan dengan perlakuan terhadap perempuan dalam dunia dewasa ini dan pengarunya terhadap Maria sebagai perempuan. Ini lebih pada kesulitan yang sering muncul berhadapan dengan gambaran Maria dan gaya hidup yang ada. Makin mencuatnya peranan Maria membuat banyak orang berpikir bahwa cakrawala kehidupan Maria terlalu terbatas dan bertentangan dengan lingkup luas manusia dewasa ini. Karena itu beberapa penegasan pantas disampaikan: a) Perawan maria selalu dianjurkan oleh Gereja sebagai teladan,bagi kaum beriman, bukan karena cara hidupnya apalagi karena lingkungan sosiologis-kultural yang hamper ketinggalan zaman, melainkan selalu karena ia dalam keadaan konkrit mengikuti kehendak Allah tanpa syarat dan penuh tanggung-jawab, b) Gereja bergembira bila memandang sejarah panjang devosi kepada maria, serta kesinambungan kebaktian, tetapi ia tak mengikat dirinya pada ungkapan khusus zaman tertentu yang menyertainya, dan mengerti bahwa bagaimanapun bentuk-bentuk ungkapan tertentu yang sebetulnya legitim kurang cocok untuk manusia yang hidup di zaman dan peradaban lain. Maria perlu dilihat sebagai tipe keibuan utama dan teladan mulia hidup sesuai Injil dan mempersatukan dalam dirinya situasi paling karakteristik dalam kehidupan seorang perempuan, c) Penekanan bahwa zaman kita sebenarnya tak berbeda dengan zaman sebelumnya, yaitu dipanggil untuk meninjau kembali pengetahuan sendiri berpegang pada Sabda Allah sambil membandingkan masalah-masalah antropologis dengan sosok Santa Perawan.
            Hal-hal di atas dimaksudkan untuk mendukung perkembangan serasi penghormatan kepada Ibu Tuhan. Satu kalimat kunci terakhir itulah bahwa tujuan terakhir kebaktian kepada Santa Perawan ialah memuliakan Allah dan mengajak kaum beriman untuk hidup sesuai dengan kehendak-Nya (39).
Bagian Ketiga: Pengamatan terhadap dua contoh penghormatan kepada Maria; Malaikat Tuhan dan Doa rosario
            Ada dua bentuka kesalehan terhadap Maria yang sudah tersebar dan sering dibahasa Takhta Apostolik pada pelbagai taraf, yaitu Malaikat Tuhan dan Rosario Perawan Maria.
1. Malaikai Tuhan
            Inilah doa sederhana yang perlu terus didoakan di mana pun dan kapan pun. Strukturnya sederhana, sifatnya alkitabia, asal-usul historisnya, iramanya yang hamper liturgis yang menguduskan pelbagai hari dan menjadi ingatan akan Misteri Paskah adalah sebab mengapa kita seraya merayakan penjelmaan Putera Allah, memohon juga agar kita dibawa melalui sengsara dan salib-Nya kepada kemuliaan kebangkitan. Meskipun keadaan zaman berubah, namun ada saat-saat khas yang tak berubah, pagi, siang, petang yang mengundang orang berhenti sejenak dari tugas dan kerja untuk berdoa (41)
2. Rosario Kudus
 Corona atau Rosario Santa Perawan Maria merupakan ringkasan seluruh Injil (42). Disebutkan bahwa ini merupakan doa dengan orientasi kristologis yang jelas. Di sini ada pujian dan permohonan tapi juga ada unsure kontemplasi yang memberi jiwa pada ibadat ini. Ada beberapa unsure penting dalam doa ini, yaitu kontemplasi, doa Bapa kami, doa salam Maria dan doksologi. Ada juga permenungan untuk masing-masing misteri yang lebih merangkulnya dengan konteks alkitabia. Praktek kesalehan ini kemudian disarankan untuk didoakan dalam keluarga-kelurga kristiani (43-54). Tentang Rosario ini akan dibahas lebih lanjut dalam Rosarium Mariae Virginis
Bagian penutup dokumen ini menekankan nilai teologis dan pastoral akan devosi kepada Sang Perawan Suci Maria.
            Secara teologis devosi ini mengahantar orang pada misteri keselamatan dalam mana kehadiran Maria sebagai Ibu ditempatkan dalam kerangka teologis penyelamatan Allah yang terungkap dalam peristiwa konkrit penyelamatan oleh Yesus Kristus Putera-Nya. Ia adalah ibu Tuhan dan dirinya menjadi kesaksian hidup yang menghadirkan Allah. Ia bahkan menjadi kenisah Roh Kudus, ibu perantara. Kepadanya Allah melakukan hal-hal besar dan memberikannya pada semua orang. Dalam kaitan dengan Gereja dapat dikatakan bahwa keberadaan Maria yang di bawa penghormatan kepada Penebus ilahi dan berkaitan dengannya memiliki daya kekuatan pastoral yang besar dan merupakan kekuatan yang dapat membarui kehidupan kristiani.

Mengapa berdoa?

Fr. Lucky Singal
Sebelum melihat alasan mengapa orang berdoa, maka baik dikemukakan lebih dulu tentang arti doa. Menurut kamus besar bahasa Indonesia, doa adalah permohonan (harapan, permintaan, pujian) kepada Tuhan. Sedangkan berdoa artinya adalah mengucapkan (memanjatkan) doa kepada Tuhan. Berarti doa adalah suatu permohonan yang ditujukan kepada Allah yang didalamnya ada harapan,permintaan dan pujian.
Doa dalam bahasa Yunani
[1] mempunyai beberapa arti diantaranya adalah aiteo yang berarti meminta. Deomai (dengan menegaskan kebutuhan konkret), erotao: menghimbau” (dengan menegaskan kebebasan si pemberi): kata-kata ini dipakai baik di bidang profan maupun keagamaan, namun mengandung ide meminta dengan sangat,berdoa dan mengemis. Sedangkan menurut J.G.S.S Thomson[2], doa adalah kebaktian yang mencakup segala sikap roh manusia dalam pendekatannya kepada Allah. Orang Kristen berbakti kepada Allah jika ia memuja, mengakui dan memuji dan mengajukan permohonan kepada-Nya dalam doa. Doa sebagai perbuatan tertinggi yang dapat dilakukan oleh roh manusia, dapat juga dipandang sebagai persekutuan dengan Allah, selama penekanannya diberikan kepada prakasa ilahi. Seseorang berdoa karena Allah telah menyentuh rohnya. Dalam alkitab, doa bukanlah suatu”tanggapan wajar dari manusia” karena “apa yang dilahirkan dari daging adalah daging” Sebagai akibatnya, Tuhan tidak mengindahkan setiap doa. Ajaran alkitab mengenai doa menekankan sifat Allah, perlunya seseorang berada dalam hubungan penyelamatan atau dalam hubungan perjanjian dengan Allah, lalu secara penuh masuk ke dalam segala hak istimewa dan kewajiban dari hubungan dengan Allah. Melihat semua keterangan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa doa adalah suatu relasi antara manusia dengan Allah yang didalamnya roh manusia berkomunikasi, memohon, meminta, memuji dan mengakui keberadaan Allah yang transendental[3]. Boleh dikatakan bahwa permintaan, pujian, dan permohonan sebenarnya menjadi alasan mengapa orang berdoa. Akan tetapi kalau ditanya lebih dalam lagi mengapa orang berdoa, maka bagus diperhatikan beberapa hal ini:
  1. Roh Kudus yang menggerakkan
Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. Dan Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia sesuai dengan kehendak Allah, berdoa untuk orang-orang kudus." (Roma 8:26,27). Itu berarti bahwa sebelum orang berdoa sebenarnya sudah ada yang menggerakkannya. Semacam ada yang menegetuk pintu hatinya, dan ketika ia berdoa, maka saat itu ia mempersilahkan Allah memasuki hatinya. Dengan demikian berdoa berarti mempersilahkan Allah masuk dalam diri. Masuknya Allah dalam diri kita terjadi karena Ia sendirilah yang membantu kita untuk berdoa dan memohon.
  1. Doa sebagai ekspresi iman
Doa pertama-tama adalah pengungkapan iman. Dalam doa iman dibahasakan dengan segala kekhasan dan ciri-ciri bahasa. Sementara iman adalah hubungan timbal balik dengan Tuhan. Hubungan dengan Tuhan itu bersifat pribadi karena hubungan antara dua pribadi. Tetapi, karena Pribadi yang lain itu tidak dapat dikenal oleh manusia, maka mau tak mau Ia harus memperkenalkan diri. Proses kenal-mengenal itu disebut wahyu dari pihak Allah, dan dari pihak manusia disebut iman. Wahyu adalah anugerah dan rahmat. Di situ Allah menyatakan diri di dalam hati manusia, dan manusia menanggapinya dengan iman. Itulah inti pokok doa, yaitu ada Allah yang diimani, pengalaman iman itu terjadi secara personal, dan saat itu Allah menyelamatkan manusia yang berdoa kepada-Nya[4]. Dalam doa tersebut, manusia bertemu dengan Tuhan, bahwa Ia ada di sini bersama dengan si pendoa. Itu berarti juga bahwa keputusan untuk bertemu dengan Allah lewat doa menunjukkan keberanian manusia untuk berkomunikasi dengan-Nya, dan semua itu perlu disadari sebagai panggilan Allah kepada manusia. Singkatnya doa merupakan kesadaran diri di hadapan Allah dalam keadaan yang sesungguhnya.
  1. Doa sebagai pujian, permohonan, dan syukur kepada Trinitas
Hal ini jelas terungkap dalam pengakuan keagungan dan keluhuran Tuhan. Pengakuan itu diarahkan pada Trinitas, yaitu pada Allah yang diakui sebagai Bapa, Putera, dan Roh Kudus. Itulah kerangka iman kristiani. Dengan menyebut Allah Tritunggal, maka manusia mengarahkan diri dan hidupnya pada perlindungan Tuhan. Dalam arti itu, doa itu mendapatkan arti yang sesungguhnya. Manusia berdoa dalam bentuk syukur, permohonan, dan pujian. Itu menjadi alasan adanya doa, dan lewat itu relasi dengan Allah tetap terjaga dan terpelihara.
  1. Allah Pasti menjawab Doa kita
Apabila aku berseru, jawablah aku, ya Allah, yang membenarkan aku. Di dalam kesesakan Engkau memberi kelegaan kepadaku. Kasihanilah aku dan dengarkanlah doaku!” (Mazmur 4:2). “Doa Daud. Dengarkanlah, TUHAN, perkara yang benar, perhatikanlah seruanku; berilah telinga akan doaku, dari bibir yang tidak menipu” (Mazmur 17:1). “Dan bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu” (Mazmur 37:4). “Berserulah kepada-Ku, maka Aku akan menjawab engkau dan akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang besar dan yang tidak terpahami, yakni hal-hal yang tidak kauketahui” (Yeremia 33:3). “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu” (Matius 7:7). “Bapa manakah di antara kamu, jika anaknya minta ikan dari padanya, akan memberikan ular kepada anaknya itu ganti ikan? Atau, jika ia minta telur, akan memberikan kepadanya kalajengking?” (Lukas 11:11-12). “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya” (Yohanes 15:7). “Dan pada hari itu kamu tidak akan menanyakan apa-apa kepada-Ku. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikan-Nya kepadamu dalam nama-Ku. Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatupun dalam nama-Ku. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu” (Yohanes 16:23-24). Itu berarti bahwa semua doa yang disampaikan pasti ada jawabanya. Akan sia-sialah manusia berdoa jika tak ada jawaban dari pihak Allah. Namun Allah mau menegaskan bahwa ketika manusia datang, mengagungkan dan memohon kepada-Nya, maka jawaban akan doa-doa itu adalah kepastian.


[1] Xavier Leon – Dufour, Ensiklopedi Perjanjian Baru
[2] J.G.S.S Thomson, Ensiklopedia Aklkitab Masa Kini jilid I
[3] Definisi, Arti dan Makna Doa serta Mempersiapkan Doa (Selasa, 8 Desember 2009), dalam: http://buletin-narhasem.blogspot.com/2009/12/artikel-definisi-arti-dan-makna-doa.html

[4] T. Jacobus, Teologi Doa, Yogyakarta: Kanisius, 2007, hlm.  18-19